Anda di halaman 1dari 6

BAHAN AJAR

GREGORIO ANTONNY BANI, S.SI., M.SI

UNIVERSITAS SAN PEDRO

MATERI II
HUKUM KIMIA

1.1 Pengertian
Hukum kimia merupakan hukum alam yang relevan untuk digunakan dalam bidang
kimia, yang berkembang seiring dengan perkembangan ilmu kimia tradisional hingga pada
masa kimia modern. Hukum ini merupakan salah satu aspek penting dalam kimia untuk
menjelaskan berbagai macam bentuk reaksi kimia secara kualitatif.
Konsep paling fundamental dalam kimia adalah hukum konversi massa, yang
menyatakan bahwa tidak terjadi perubahan kuantitas materi sewaktu reaksi kimia biasa
terjadi. Fisika modern menunjukkan bahwa sebenarnya yang terjadi adalah konversi energi,
karena energi dan massa saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan; hal ini merupakan
suatu konsep yang penting dalam kimia nuklir. Konversi energi menuntun ke konsep-konsep
penting mengenai kesetimbangan, termodinamika dan kinetika. Hukum tambahan dalam
kimia mengembangkan hukum konservasi massa. Hukum kimia modern lain menentukan
hubungan antara energi dan transformasi. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan
mengenai hukum kimia, antara lain:
1.

Dalam kesetimbangan, molekul yang ditemukan dalam campuran ditentukan oleh


transformasi yang mungkin terjadi dalam skala waktu kesetimbangan dan memiliki suatu
rasio yang ditentukan oleh energi intrinsik molekul. Semakin kecil energi intrinsik,
semakin banyak molekul.

2.

Mengubah satu struktur menjadi struktur lain membutuhkan asupan energi untuk
melampaui hambatan energi; hal ini dapat timbul karena energi intrinsik molekul itu
sendiri atau dari sumber luar yang secara umum akan mempercepat atau melambatkan
perubahan. Semakin besar hambatan energi, semakin lambat proses berlangsungnya
transformasi.

3.

Ada struktur antara atau transisi hipotetik, yang berhubungan dengan struktur di puncak
hambatan energi. Postulat Hammond-Leffer menyatakan bahwa struktur ini menyerupai
produk atau bahan asal yang memiliki energi intrinsik yang terdekat dengan hambatan
energi. Menstabilkan struktur antara hipotetik ini melalui interaksi kimiawi merupakan
salah satu salah satu cara untuk mencapai katalisis.

4.

Semua proses kimia adalah terbalikkan (reversible) dari hukum keterbalikkan


mikroskopis, walaupun beberapa proses memiliki bias energi mereka pada dasarnya tak
terbalikkan (irreversible).

UNIVERSITAS SAN PEDRO

BAHAN AJAR

GREGORIO ANTONNY BANI, S.SI., M.SI

UNIVERSITAS SAN PEDRO

1.2 Bentuk-Bentuk Hukum Kimia


1.2.1 Hukum Kekekalan Massa
Dikenal juga sebagai Hukum Lavoiser. Hukum kekekalan massa/hukum lavoiser
menyatakan jumlah massa zat-zat yang bereaksi tidak berubah. Jadi sebelum dan sesudah
reaksi jumlah massa zat-zat sama. Antoine Lavoiser (1743 1794) ahli kimia dari Perancis,
melakukan percobaan dengan mereaksikan zat-zat tersebut ditimbang dan sesudah reaksi pun
ditimbang lagi, ternyata massanya sama. Bunyi hukumnya: Massa sebelum reaksi dan
seaudah reaksi selalu sama. Contoh: 14 gram Besi dapat bereaksi dengan 8 gram belerang,
membentuk senyawa besi belerang dengan massa 22 gram.
Hukum yang diajukan oleh Lavoiser belum menjelaskan tentang senyawa yang
dibentuk dan komposisinya. Massalah ini selanjutnya diteliti dan diselesaikan oleh beberapa
ahli lainnya, yaitu Proust dan Dalton. Mereka mencoba menjelaskan bagaimana suatu
senyawa terbentuk dan bagaimana komposisinya. Komposisi atau perbandingan atom-atom
dalam suatu senyawa merupakan penciri yang khas untuk molekul tersebut.
1.2.2 Hukum Perbandingan Tetap
Dikenal juga sebagai Hukum Proust. Lavoiser mengamati massa dari sebuah
reaksi, sedangkan Proust mencoba mengamati komposisi massa dari sebuah senyawa. Pada
tahun 1807, Josep Louis Proust menemukan bahwa massa suatu unsur yang membentuk
senyawa selalu tetap. Proust menyatakan bahwa Perbandingan massa unsur-unsur penyusun
sebuah senyawa adalah Tetap. Dari hukum ini diperoleh informasi bahwa sebuah molekul
tidak berubah komposisinya di mana pun molekul atau zat itu berada.
Sebagai contoh adalah senyawa atau molekul amonia (NH3), dari rumus tersebut
tampak bahwa molekul amonia tersusun atas 1 atom N dan 3 atom H. Untuk mengetahui
perbandingan massa dari molekul tersebut, terlebih dahulu kita lihat massa atomnya. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut ini.
Tabel 2.1 Penjelasan Hukum Proust pada senyawa NH3
N H
Tidak memiliki indeks, cuma ada 1 atom N memiliki indeks 3, berarti ada 3 atom H
Massa N = 14 gram/mol Massa H = 1 gram/mol
1 x 14 = 14 3 x 1 = 3
Perbandingan massa
14:3
Perbandingan pada Tabel 2.1 di atas, berlaku ada setiap keadaan senyawa NH3, yaitu
perbandingannya akan tetap 14 : 3 di udara maupun di air ataupun di dalam tanah pada

UNIVERSITAS SAN PEDRO

BAHAN AJAR

GREGORIO ANTONNY BANI, S.SI., M.SI

UNIVERSITAS SAN PEDRO

keadaan normal (1 atm). Catatan: Hukum Lavoiser dan Hukum Proust Tidak dapat saling
dipisah-pisah dalam penggunaannya.
1.2.3 Hukum Perbandingan Berganda
Dikenal juga sebagai Hukum Dalton. Dalton juga mengamati molekul dan
difokuskan pada beberapa senyawa yang memiliki kesamaan pada atom-atom penyusunnya.
Dalton menyimpulkan, dapat terjadi dua macam unsur membentuk dua senyawa atau lebih,
jika unsur pertama memiliki massa yang sama, maka unsur kedua dalam senyawa-enyawa
tersebut memiliki perbandingan sebagai bilangan bulat dan sederhana.
Contohnya gas karbon monoksida (CO) dengan karbon dioksida (CO2), dan air
(H2O) dengan Hidrogen Peroksida (H2O2). Dalam senyawa CO terdapat 1 atom C dan 1 atom
O, sedangkan untuk CO2 terdapat 1 atom C dan 2 tom O. Massa atom C adalah 12 gram/mol
dan atom O adalah 16 gram/mol, karena kedua senyawa tersebut mmiliki 1 atom C dengan
massa 12 gram/mol, maka perbandingan massa atom oksigen pada senyawa pertama dan
kedua adalah 16 gram dan 32 gram atau 1 : 2. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel
2.3 berikut ini.
Tabel 2.3 Perbandingan komposisi massa atom C terhadap O pada senyawa CO dan CO2
CO
CO2
1 atom C
1 atom O 1 atom C
2 atom O
Massa atom C = 12 gram/mol; O = 16 gram/mol
Massa 1 atom O 16 gram/mol Massa 2 atom O = 32 gram/mol
16 : 32
1:2
Untuk lebih mudah memahaminya lagi, maka contoh yang lainnya seperti pada atom
nitrogen dapat membentuk senyawa N2O, NO, N2O3 dan N2O4, Massa atom nitrogen adalah
14 dan massa atom oksigen adalah 16. Senyawa N2O memiliki rasio sebesar 28 : 16, senyawa
NO, 14 : 16, N2O3 28 : 48 dan senyawa N2O4 memiliki rasio 28 : 64. Rasio ini harus
disederhanakan lagi sehingga sampai dengan rasio terkecilnya. Komposisi massa untuk
keempat senyawa tersebut disederhanakan dalam Tabel 2.4 berikut ini.
Tabel 2.4 Perbandingan N dan O dalam beberapa senyawa
Rumus Massa N Massa O Rasio N : O
N2O
28
16
7:4
NO
14
16
7:8
N2O3
28
48
7 : 12
N2O4
28
64
7 : 16
Dari Tabel 2.4 tampak bahwa rasio terkecil untuk senyawa N2O, NO, N2O3 dan
N2O4, berturut-turut adalah 7 : 4, 7 : 8, 7 : 12 dan 7 : 16. Dapat kita simpulkan rasio oksigen
UNIVERSITAS SAN PEDRO

BAHAN AJAR

GREGORIO ANTONNY BANI, S.SI., M.SI

UNIVERSITAS SAN PEDRO

yang berikatan dengan nitrogen dalam keempat senyawa itu adalah 4 : 8 : 12 : 16 atau 1 : 2 :
3 : 4.
1.2.4 Hukum Penyatuan Volume, Untuk Reaksi Gas.
Dikenal juga sebagai Hukum Gay Lussac atau Hukum Perbandingan Volume.
Joseph Louis Gay Lussac (1802) mengadakan eksperimen pada reaksi antara zat yang
berwujud gas pada temperatur dan tekanan tertentu, ternyata perbandingan volume gas yang
bereaksi dan hasil reaksi sesuai dengan perbandingan molekulnya merupakan perbandingan
sederhana. Menurut Gay Lussac 2 volume gas H bereaksi dengan 1 volume gas O
membentuk 2 volume uap air (H2O). Reaksi pembentukan uap air berjalan sempurna,
memerlukan 2 volume gas hidrogen dan 1 volume gas oksigen, untuk menghasilkan 2 volume
uap air, lihat model percobaan pembentukan uap air pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Model percobaan Gay Lussac untuk pembentukan uap air dari gas H dan O
Dari hasil eksperimen dan pengamatannya disimpulkan bahwa volume gas yang
bereaksi dan volume gas hasil reaksi, jika diukur pada suhu dan tekanan yang sama, akan
berbanding sebagai bilangan bulat dan sederhana.
Dari percobaan ini ternyata diketahui bahwa 2 liter uap air (H2O) dapat terjadi, jika
direaksikan 2 liter gas H dengan 1 liter gas O. Reaksi ini ditulis :
2 liter gas H2 + 1 liter gas O2 2 liter uap H2O
Dari persamaan reaksi yang dituliskan diatas tampak bahwa perbandingan volume dari H2 :
O2 : H2O adalah 2 : 1 : 2.
Untuk lebih menyederhanakan pengertian dari konsep perbandingan volume yang
diajukan oleh Gay Lussac, perhatikan contoh kasus dibawah ini pengukuran dilakukan pada
ruang yang sama, artinya suhu dan tekanannya sama. Reaksi antara gas N sebanyak 2 liter
UNIVERSITAS SAN PEDRO

BAHAN AJAR

GREGORIO ANTONNY BANI, S.SI., M.SI

UNIVERSITAS SAN PEDRO

dengan gas H sebanyak 6 liter menghasilkan gas NH3 sebanyak 3 liter, sehingga
perbandingan dari ketiga gas tersebut adalah 2 : 6 : 3, masing-masing untuk gas N2, H2, dan
gas NH3. Perhatikan Tabel 2.5.
Tabel 2.5 Beberapa contoh reaksi gas yang menunjukan perbandingan volume yang tetap
Volume gas yang bereaksi Volume hasil reaksi Rasio Volume
N2 + H2
NH3
N2 : H2 : NH3
2L; 6L
3L
2:6:3
H2 + Cl2
HCl
H2 : Cl2 : HCl
1L; 1L
1L
1:1:1
C2H4 + H2
C2H6
C2H4 : H2 : C2H6
1L; 1L
1L
1:1:1
Dalam reaksi Gas berlaku: Perbandingan Koefisien reaksi = perbandingan Volume.
Pengukuran Volume Gas sangat tergantung Kondisi Suhu (T) dan Tekanan (P).
1.2.5 Hipotesis Avogadro.
Dikenal juga sebagai hukum Avogadro. Berdasarkan dari hasil percobaan yang
dilakukan Amedeo Carlo Avogadro ahli fisika dari Italia (1811). Ditemukan bahwa ternyata
dalam volume yang sama terdapat jumlah molekul yang sama pula. Akhirnya teori Avogadro
baru dikemukakan 500 tahun kemudian untuk dijadikan suatu hukum yang dikenal sebagai
hukum Avogadro yang berbunyi: Pada kondisi Suhu (T) dan Tekanan (P) sama, Gas gas
yang Volumenya sama akan mengandung jumlah molekul yang sama pula.
Contoh: Jika 40 ml gas Amoniak ( NH3 ) mengandung 400 butir molekul (T, P) maka pada
kondisi yang sama, gas lain yang volumenya 40 ml juga akan mengandung 400 butir
molekul. Kesimpulan dari Hukum Avogadro adalah:
Pada (T, P) sama, untuk Gas berlaku : n1 / V1 = n2 / V2
Dimana :
n1 = jumlah x Molekul gas 1
V1 = volume gas 1
n2 = jumlah x Molekul gas 2
V2 = volume gas 2
Menurut Avogadro, suatu unsur dapat merupakan gabungan dari beberapa atom
yang disebut molekul. Molekul adalah bagian terkecil dari suatu zat yang dapat berdiri sendiri
dan masih mempunyai sifat yang sama dengan zat molekul umsur terdiri dari unsur dan
molekul senyawa. Jika hukum Gay dan hipotetisnya Avogadro disatukan yang disebut
Hukum Gay Lussac-Avogadro yang menyatakan bahwa untuk reaksi gas pada suhu dan
tekanan yang sama beelaku : Perbandingan volume = perbandingan koefisien =
perbandingan jumlah molekul.
UNIVERSITAS SAN PEDRO

BAHAN AJAR

GREGORIO ANTONNY BANI, S.SI., M.SI

UNIVERSITAS SAN PEDRO

Pada keadaan Suhu dan tekanan tertentu (T,P) Rumus Gas Ideal: P.V = n. R. T
Keterangan:
P : Tekanan Gas = 1 Atm = 76 CmHg = 760 mmHg
V : Volume Gas = Liter
n : mol Gas
R : Tetapan Gas = 0,08205 Liter.Atm.mol-1.K-1
T : Suhu Kelvin.
Ternyata pada keadaan standar suhu 0 oC dan tekanan 1 atm (STP), setiap 1 mol gas
sembarang akan mempunyai volume sebesar 22,4 L

UNIVERSITAS SAN PEDRO