Anda di halaman 1dari 9

PERTEMUAN III

ATOM

1.1 Pengertian
Atom adalah suatu satuan dasar materi, yang terdiri atas inti atom dengan awan
elektron yang bermuatan negatif di sekelilingnya. Inti atom terdiri atas proton yang
bermuatan positif dan neutron yang bermuatan netral (kecuali pada inti atom Hidrogen, yang
tidak memiliki neutron).
Elektron pada atom terikat pada inti atom akibat gaya elektromagnetik. Sekumpulan
atom dapat berikatan satu sama lainnya dan membentuk sebuah molekul. Atom yang
mengandung jumlah proton dan elektron yang sama bersifat netral, sedangkan yang
mengandung jumlah proton dan elektron yang berbeda bersifat positif atau negatif dan
disebut sebagai ion. Atom dikelompokkan berdasarkan jumlah proton dan neutron yang
terdapat pada inti atom tersebut. Jumlah proton pada atom menentukan unsur kimia atom
tersebut, dan jumlah neutron menentukan isotop unsur tersebut.
Istilah atom berasal dari Bahasa Yunani (/tomos, -), yang berarti
tidak dapat dipotong atau pun sesuatu yang tidak dapat dibagi lagi. Konsep atom sebagai
komponen yang tak dapat dibagi lagi pertama kali diajukan oleh para filsuf India dan Yunani.
Pada abad XVII hingga abad XVIII, para kimiawan meletakkan pemikiran ini dengan
menunjukkan bahwa zat-zat tertentu tidak dapat dibagi lagi menggunakan metode kimia
sederhana yang diketahui pada masa itu. Pada akhir abad XIX hingga awal abad XX, para
fisikawan berhasil menemukan struktur dan komponen-komponen sub atom dalam atom
dengan metode mekanika kuantum, sehingga membuktikan bahwa atom masih dapat dibagi
lagi.
Dalam pengamatan sehari-hari, secara relatif atom dianggap sebuah objek yang
sangat kecil dan memiliki massa yang secara proporsional kecil pula. Atom hanya dapat
dipantau dengan menggunakan peralatan khusus, seperti mikroskop gaya atom. Lebih dari
99,9% massa atom berpusat pada inti atom, dengan proton dan neutron yang bermassa
hampir sama. Setiap unsur yang memiliki isotop dengan inti yang tidak stabil, dapat
mengalami peluruhan radioaktif. Hal ini dapat mengakibatkan transmutasi, yang mengubah
jumlah proton dan neutron pada inti atom. Elektron yang terikat pada atom mengandung
sejumlah energi pada bidang orbital tertentu yang bersifat stabil dan dapat mengalami transisi
di antara orbital tersebut, dengan menyerap atau pun memancarkan foton yang sesuai dengan

perbedaan energi antara orbitalnya. Elektron pada atom menentukan sifat-sifat kimiawi
sebuah unsur dan memengaruhi sifat-sifat magnetis atom tersebut.
1.2 Perkembangan Teori Atom
1.2.1 Teori Atom Kuno
Berdasarkan hal yang dipaparkan sebelumnya, akar kimia modern adalah teori atom
yang dikembangkan oleh para filsuf Yunani kuno. Filosofi atomik Yunani kuno sering
dihubungkan dengan Democritos, namun tidak ada tulisan Democritos yang ditemukan.
Sumber yang ditemukan hanya sebuah puisi yang berjudul De rerum natura yang ditulis
oleh seniman Romawi Lucretius (kira-kira 96 SM 55 SM).

(a)
(b)
Gambar 2.1 Dunia atom Democritos. Sayang, kita tidak dapat menduga gambaran atom
seperti yang dibayangkan oleh Democritos. Kimiawan Jerman telah menyarankan gambaran
atom sebagaimana dibayangkan Democritos. (a) atom zat yang manis (b) zat yang pahit
(direproduksi dari: F. Berr, W. Pricha, Atommodelle, Deutsches Museum, 1987.)
Atom yang dipaparkan oleh Lucretius memiliki kemiripan dengan molekul modern,
dikatakan bahwa anggur (wine) dan minyak zaitun memiliki penyusunnya (atom) sendiri.
Atom adalah entitas abstrak. Atom memiliki bentuk yang khas dengan fungsi yang sesuai
dengan bentuknya. Atom anggur bulat dan mulus, sehingga dapat melewati kerongkongan
dengan mulus, sementara atom kina kasar dan akan sukar melalui kerongkongan. Teori
struktural modern molekul menyatakan bahwa terdapat hubungan yang sangat dekat antara
struktur molekul dan fungsinya. Walaupun filosofi yang terartikulasi oleh Lucretius tidak
didukung oleh bukti percobaan.
Dalam periode yang panjang sejak zaman kuno sampai zaman pertengahan, teori
atom tetap In heretikal/ditolak (berlawanan dengan teori yang umum diterima) oleh teori
empat unsur (air, tanah, udara dan api) yang diusulkan filsuf Yunani kuno Aristotoles. Ketika
otoritas Aristoteles mulai menurun, banyak filsuf dan ilmuwan kembali mengembangkan
teori atom yang dipengaruhi oleh teori atom Yunani. Gambaran materi tetap dipegang oleh
filsuf Perancis Rene Descartes (1596-1650), filsuf Jerman Gottfried Wilhelm Freiherr von

Leibniz (1646-1716) dan ilmuwan Inggris Sir Issac Newton (1642-1727) yang lebih kurang
dipengaruhi teori atom Yunani.
1.2.2 Teori Atom Dalton
Dalton menggambarkan atom sebagai bola pejal yang sangat kecil. Menurut Dalton:
1. Atom adalah partikel terkecil dari suatu unsur.
2. Atom-atom dari unsur yang sama, sifat dan massanya sama, sedangkan atom-atom dari
unsur yang berbeda, sifat dan massanya juga berbeda.
3. Dalam senyawa, atom-atom dari unsur yang berbeda melakukan ikatan kimia dengan
perbandingan numerik sederhana.
4. Dalam reaksi, atom-atom tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan.
Teori Dalton didasarkan pada hukum kekekalan massa dan hukum perbandingan
tetap, keduanya telah ditemukan sebelumnya dan hukum perbandingan berganda yang
dikembangkan oleh Dalton sendiri. Atom Democritus dapat dikatakan sebagai sejenis
miniatur materi. Jadi jumlah jenis atom akan sama dengan jumlah materi. Di pihak lain, atom
Dalton adalah penyusun materi dan banyak senyawa dapat dibentuk oleh sejumlah terbatas
atom. Jadi, akan terdapat sejumlah terbatas jenis atom. Teori atom Dalton mensyaratkan
proses dua atau lebih atom bergabung membentuk materi. Hal ini merupakan alasan mengapa
atom Dalton disebut atom kimia.

Gambar 2.2 Model atom Dalton


1.2.3 Teori Atom Thomson
Fisikawan Joseph John Thomson (1856-1940) adalah seorang ilmuwan yang lahir di
Cheetham Hill, dimana Thomson juga dinobatkan sebagai profesor fisika eksperimental
sejak tahun 1884 di tempat itu. Penelitian Thomson menghasilkan penemuan elektron. Ia
mengetahui bahwa gas adalah zat yang mampu menghantar listrik. Thomson juga menjadi
salah satu perintis ilmu fisika nuklir. Thomson berhasil meraih hadiah nobel fisika pada tahun
1906.
Berdasarkan penemuan tabung katode yang lebih baik oleh William Crookers, maka
J.J. Thomson meneliti lebih lanjut tentang sinar katode dan dapat dipastikan bahwa sinar
katode merupakan partikel, sebab dapat memutar baling-baling yang diletakkan di antara

katode dan anode. Dari hasil percobaan ini, Thomson menyatakan bahwa sinar katode
merupakan partikel penyusun atom (partikel sub atom) yang bermuatan negatif dan
selanjutnya disebut elektron. Atom merupakan partikel yang bersifat netral, oleh karena
elektron bermuatan negatif, maka harus ada partikel lain yang bermuatan positif untuk
menetralkan muatan negatif elektron tersebut. Dari penemuannya tersebut, Thomson
memperbaiki kelemahan dari teori atom Dalton dan mengemukakan teori atomnya yang
dikenal sebagai Teori Atom Thomson, yakni: Atom merupakan bola pejal yang bermuatan
positif dan di dalamya tersebar muatan negatif elektron.
Model atom ini dapat digambarkan sebagai jambu biji yang sudah dikelupas
kulitnya. Biji jambu menggambarkan elektron yang tersebar merata dalam bola daging jambu
yang pejal, yang pada model atom Thomson dianalogikan sebagai bola positif yang pejal.

Gambar 2.3 Model atom Thomson


Teori atom Dalton cukup lama dianut oleh para ahli saat itu, hingga ditemukannya
elektron yang bermuatan negatif oleh J.J. Thomson pada tahun 1897. Penemuan elektron ini
akhirnya mematahkan teori Dalton, bahwa atom merupakan materi terkecil. Oleh karena
elektron bermuatan negatif, maka Thomson berpikir bahwa ada muatan positif sebagai
penyeimbang. Dengan demikian atom bersifat netral. Model atom Thomson menggambarkan
bahwa atom merupakan suatu bola yang bermuatan positif. Sementara itu elektron (bagian
atom yang bermuatan negatif) tersebar merata di permukaan bola tersebut. Muatan-muatan
negatif tersebut tersebar seperti kismis pada roti kismis. Jumlah muatan positif sama dengan
jumlah muatan negatif, sehingga atom bersifat netral. Jumlah muatan positif = Jumlah
muatan negatif
1.2.4 Teori Atom Rutherford
Menurut Rutherford atom terdiri atas inti atom yang bermuatan positif. Inti atom
dikelilingi elektron bermuatan negatif yang bergerak terus dengan lintasan yang yang disebut
kulit atom.

Gambar 2.4 Model atom Rhuterford


Rutherford bersama dua orang muridnya (Hans Geigerdan Erners Marseden)
melakukan percobaan yang dikenal dengan hamburan sinar alfa () terhadap lempeng tipis
emas. Sebelumya telah ditemukan adanya partikel alfa, yaitu partikel yang bermuatan positif
dan bergerak lurus, berdaya tembus besar sehingga dapat menembus lembaran tipis kertas.
Percobaan tersebut sebenarnya bertujuan untuk menguji pendapat Thomson, yakni apakah
atom itu betul-betul merupakan bola pejal positif, yang bila dikenai partikel alfa akan
dipantulkan atau dibelokkan. Dari pengamatan mereka, diperoleh fakta bahwa apabila
partikel alfa ditembakkan pada lempeng emas yang sangat tipis, maka sebagian besar partikel
alfa diteruskan (ada penyimpangan sudut kurang dari 1), tetapi dari pengamatan Marsden
diperoleh fakta bahwa satu diantara 20.000 partikel alfa akan membelok sudut 90 bahkan
lebih.

Gambar 2.4 Hasil percobaan Rutherford


Berdasarkan gejala-gejala yang terjadi, diperoleh beberapa kesipulan beberapa
berikut :
1. Atom bukan merupakan bola pejal, karena hampir semua partikel alfa diteruskan

2. Jika lempeng emas tersebut dianggap sebagai satu lapisan atom-atom emas, maka di
dalam atom emas terdapat partikel yang sangat kecil yang bermuatan positif.
3. Partikel tersebut merupakan partikelyang menyusun suatu inti atom, berdasarkan fakta
bahwa 1 dari 20.000 partikel alfa akan dibelokkan. Bila perbandingan 1 : 20.000
merupakan perbandingan diameter, maka didapatkan ukuran inti atom kira-kira 10.000
lebih kecil daripada ukuran atom keseluruhan.
Berdasarkan fakta-fakta yang didapatkan dari percobaan tersebut, Rutherford
mengusulkan model atom yang dikenal dengan model atom Rutherford yang menyatakan
bahwa atom terdiri dari inti atom yang sangat kecil dan bermuatan positif, dikelilingi oleh
elektron yang bermuatan negatif. Rutherford menduga bahwa di dalam inti atom terdapat
partikel netral yang berfungsi mengikat partikel-partikel positif agar tidak saling tolak
menolak.
Kelebihan Model atom Rutherford adalah mampu membuat hipotesa bahwa atom
tersusun dari inti atom dan elektron yang mengelilingi inti, sedangkan Kelemahannya adalah
tidak dapat menjelaskan mengapa elektron tidak jatuh ke dalam inti atom. Berdasarkan teori
fisika, gerakan elektron mengitari inti ini disertai pemancaran energi, sehingga lamakelamaan energi elektron akan berkurang dan lintasannya makin lama akan mendekati inti
dan jatuh ke dalam inti. Karena Rutherford adalah telah dikenalkan lintasan/kedudukan
elektron yang nanti disebut dengan kulit.
1.2.5 Teori Atom Bohr
Pada tahun 1913 pakar fisika Denmark bernama Neils Bohr memperbaiki kegagalan
atom Rutherford melalui percobaannya tentang spektrum atom hidrogen. Percobaannya ini
berhasil memberikan gambaran keadaan elektron dalam menempati daerah di sekitar inti
atom. Penjelasan Bohr tentang atom hidrogen melibatkan gabungan antara teori klasik dari
Rutherford dan teori kuantum dari Planck, diungkapkan dengan empat postulat, sebagai
berikut:
1. Hanya ada seperangkat orbit tertentu yang diperbolehkan bagi satu elektron dalam atom
hidrogen. Orbit ini dikenal sebagai keadaan gerak stasioner (menetap) elektron dan
merupakan lintasan melingkar di sekeliling inti.
2. Selama elektron berada dalam lintasan stasioner, energi elektron tetap, sehingga tidak ada
energi dalam bentuk radiasi yang dipancarkan maupun diserap.

3. Elektron hanya dapat berpindah dari satu lintasan stasioner ke lintasan stasioner lain.
Pada peralihan ini, sejumlah energi tertentu terlibat, besarnya sesuai dengan persamaan
Planck, E2 E1 = hf
Keterangan:
E = energi foton (J);
h = tetapan Planck (6,63 x 10-34 Js);
f = frekuensi cahaya (Hz);
4. Lintasan stasioner yang dibolehkan memilki besaran dengan sifat-sifat tertentu, terutama
sifat yang disebut momentum sudut. Besarnya momentum sudut merupakan kelipatan
dari h/2p atau nh/2p, dengan n adalah bilangan bulat dan h tetapan planck.
Menurut model atom bohr, elektron-elektron mengelilingi inti pada lintasan-lintasan
tertentu yang disebut kulit elektron atau tingkat energi. Tingkat energi paling rendah adalah
kulit elektron yang terletak paling dalam, semakin keluar semakin besar nomor kulitnya dan
semakin tinggi tingkat energinya.

Gambar 2.7 Model Atom Bohr


Kelebihan model atom Bohr adalah menjelaskan bahwa atom terdiri dari beberapa
kulit untuk tempat berpindahnya elektron, sedangkan kelemahannya adalah model atom ini
adalah tidak dapat menjelaskan efek Zeeman dan efek Strack.
1.2.6 Teori Atom Modern
Model atom mekanika kuantum dikembangkan oleh Erwin Schrodinger (1926).
Sebelum

Schrodinger,

seorang

ahli

dari

Jerman

bernama

Werner

Heisenberg

mengembangkan teori mekanika kuantum yang dikenal dengan prinsip ketidakpastian, yaitu
Tidak mungkin dapat ditentukan kedudukan dan momentum suatu benda secara seksama
pada saat bersamaan, yang dapat ditentukan adalah kebolehjadian menemukan elektron pada
jarak tertentu dari inti atom. Daerah ruang di sekitar inti dengan kebolehjadian untuk
mendapatkan elektron disebut orbital.

Bentuk dan tingkat energi orbital dirumuskan oleh Erwin Schrodinger. Erwin
Schrodinger memecahkan suatu persamaan untuk mendapatkan fungsi gelombang untuk
menggambarkan batas kemungkinan ditemukannya elektron dalam tiga dimensi. Model atom
dengan orbital lintasan elektron ini disebut model atom modern atau model atom mekanika
kuantum yang berlaku sampai saat ini, seperti terlihat pada gambar berikut ini. Model atom
dengan orbital lintasan elektron ini disebut model atom modern atau model atom mekanika
kuantum yang berlaku sampai saat ini, seperti terlihat pada gambar berikut ini.

Gambar 2.8 Model atom Modern


Awan elektron disekitar inti menunjukan tempat kebolehjadian elektron. Orbital
menggambarkan tingkat energi elektron. Orbital-orbital dengan tingkat energi yang sama atau
hampir sama akan membentuk sub kulit. Beberapa sub kulit bergabung membentuk
kulit.Dengan demikian kulit terdiri dari beberapa sub kulit dan sub kulit terdiri dari beberapa
orbital. Walaupun posisi kulitnya sama tetapi posisi orbitalnya belum tentu sama.
Posisi dan momentum elektron dalam atom tidak dapat ditentukan/diketahui dengan
pasti (asas ketidakpastian Heisenberg). Hanya dapat ditentukan kebolehjadian (kemungkinan)
ditemukannya elektron pada orbital. Di sekeliling inti atom terdapat beberapa tingkat energi
(kulit). Setiap tingkat energi terdiri dari satu atau beberapa subtingkat energi (sub kulit).
Setiap subtingkat energi terdiri dari satu atau beberapa orbital. Setiap orbital kemungkinan
terdapat paling banyak dua elektron. Kedudukan elektron dalam atom dapat diterangkan
dengan persamaan fungsi gelombang Schrdinger (Y). Persamaan deferensial order-kedua
yang menyatakan energi total (E), energi potensial (V), dan massa (m) sebagai fungsi posisi
elektron dalam tiga dimensi X, Y, dan Z adalah:
2 2 2 8 2
+
+
+
( ) = 0
2 2 2
2
Penyelesaian dari persamaan fungsi gelombang Schrdinger diperoleh tiga macam
bilangan, yaitu bilangan kuantum utama (n), azimut (l), dan magnetik (m). Kemudian untuk
membedakan dua elektron dalam sebuah orbital dibuat bilangan kuantum spin (s). Posisi
elektron dalam atom ditentukan dari bilangan kuantumnya.
1. Bilangan Kuantum Utama (n) menunjukkan tingkat energi (kulit atom).

= 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7,

Kulit

= K, L, M, N, O, P, Q,

2. Bilangan Kuantum Azimut (l) menunjukkan subtingkat energi (sub kulit). Harga l
tergantung dari harga n, yaitu l = 0, 1, , 2(2l+1)
l

= 0, 1, 2, 3,

Sub kulit = s, p, d, f,
3. Bilangan Kuantum Magnetik (m) menunjukkan orbital. Harga m tergantung dari harga l,
yaitu m = (-l, , +l). Jadi sub kulit s terdiri dari 1 orbital s, sub kulit p terdiri dari 3
orbital p, sub kulit d terdiri dari 5 orbital d, sub kulit f terdiri dari 7 orbital f.
4. Bilangan Kuantum Spin (s) untuk membedakan dua elektron dalam sebuah orbital.
Elektron yang satu s = + (atau = ) dan satunya lagi s = - (atau = ).
1.3 Bagian-bagian Sub Atomik
1. Elektron (-1e0), merupakan partikel yang bermuatan negatif. Menurut J.J. Thomson
perbandingan muatan permassa elektron (e/m) = 1,759 x 108 C/g. Menurut R.A.
Millikan muatan elektron = 1,6022 x 10-19 C. Jadi massa elektron = 9,110 x 10-28 g.
Dalam satuan atomik, elektron muatannya 1 dan massanya 0,00055 sma (= 0 sma).
2. Proton (+1p1), merupakan partikel yang bermuatan positif. Menurut Eugene Goldstein
muatan proton = + 1,6022 x 10-19 C. Menurut J.J. Thomson massa proton = 1,670 x 10-24
g. Dalam satuan atomik, proton muatannya +1 dan massanya 1,0073 sma (= 1 sma).
3. Neutron (0n1), merupakan partikel netral. Menurut James Chadwick massa neutron =
1,674 x 10-24 g. Dalam satuan atomik, neutron muatannya 0 (netral) dan massanya 1,0087
sma (= 1 sma).