Anda di halaman 1dari 25

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan ridhoNya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Makalah yang berjudul
Hukum Islam dan Kontribusi Umat Islam Indonesia. Penulisan makalah ini
merupakan salah satu tugas yang diberikan pada semester II dalam mata kuliah
Pendidikan Agama Islam .
Dalam penulisan makalah ini, kami sangat berharap adanya kritik dan
saran yang membangun demi penyempurnaan penyusunan makalah ini. Serta
kami ucapkan terima kasih kepada Ibu Nurbuana, S.Ag., M.Pd. I selaku dosen
pengampu yang telah memberikan bimbingannya kepada kami.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa. Serta
dapat dijadikan sebagai pedoman sumber informasi yang bermanfaat bagi
pembaca.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Palembang, 11 Maret 2016

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI .. iii
1

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 3
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................... 4
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................................. 4
1.4 Metode Penulisan ............................................................................................ 4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sumber Hukum Islam ..................................................................................... 5
2.2 Fungsi Hukum Islam di dalam Kehidupan Bermasyarakat .............................15
2.3 Kontribusi Hukum Islam dalam Perundang-undangan di Indonesia ..............17
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .................................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesia,


tentu sangat berpengaruh terhadap pola hidup bangsa Indonesia. Perilaku
pemeluknya tidak lepas dari syari'at yang dikandung agamanya. Melaksanakan
syari'at agama yang berupa hukum-hukum menjadi salah satu parameter ketaatan
seseorang dalam menjalankan agamanya. Ada beberapa kata yang harus diberikan
penjelasan dari judul di atas, yaitu: kontribusi, hukum Islam, perkembangan,
hukum, dan nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa kata
"kontribusi" berarti sumbangan. Kamus bahasa Inggris (Oxford) menyebutnya
dengan contribution, yang berarti act of contributing, perbuatan memberikan
sumbangan. Menurut penulis, sumbangan yang dimaksud dengan kata tersebut
pada umumnya bersifat immaterial. Kata hukum yang dikenal dalam bahasa
Indonesia berasal dari bahasa Arab hukum yang berarti putusan (judgement) atau
ketetapan (Provision).
Dalam buku Ensiklopedi Hukum Islam, hukum berarti menetapkan
sesuatu atas sesuatu atau meniadakannya. Sementara dalam A Dictionary of Law
dijelaskan tentang pengertian hukum sebagai berikut "Law is "the enforceable
body of rules that govern any society or one of the rules making up the body of
law, such as Act of Parliament." "Hukum adalah suatu kumpulan aturan yang
dapat dilaksanakan untuk mengatur/memerintah masyarakat atau aturan apa pun
yang dibuat sebagai suatu aturan hukum seperti tindakan dari Parlemen. " Bagi
kalangan muslim, jelas yang dimaksudkan sebagai hukum adalah Islam, yaitu
keseluruhan aturan hukum yang bersumber pada AIquran, dan untuk kurun zaman
tertentu lebih dikonkretkan oleh Nabi Muhammad dalam tingkah laku Beliau,
yang lazim disebut Sunnah Rasul. Sementara itu Rifyal Ka'bah[3] mengemukakan
bahwa hukum Islam adalah terjemahan dari istilah Syari'at Islam (asy-syari'ah allslamiyyah) atau fiqh Islam (alfiqh al- Islami).
Syariat Islam dan fiqh Islam adalah dua buah istilah otentik Islam yang
berasal dari perbendaharaan kajian Islam sejak lama. Kedua istilah ini dipakai
secara bersama-sama atau silih berganti di Indonesia dari dahulu sampai sekarang
dengan pengertian yang kadangkadang berbeda, tetapi juga sering mirip. Hal ini
sering menimbulkan kerancuan-kerancuan di kalangan masyarakat bahkan di

antara para ahli. Kaidah-kaidah yang bersumber dari Allah SWT kemudian lebih
dikonkretkan diselaraskan dengan kebutuhan zamannya rnelalui ijtihad atau
penemuan hukum oleh para mujtahid dan pakar di bidangnya masing-masing,
baik secara perorangan maupun kolektif.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang ada maka dikemukakan
perumusan masalah sebagai berikut ini :
1. Apa saja Sumber Sumber Hukum Islam ?
2. Apakah Fungsi Hukum Islam dalam Kehidupan Masyarakat ?
3. Apa Kontribusi Umat Islam dalam Perumusan Sistem Hukum Nasional
di Indonesia ?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang ingin dicapai, adalah :
1. Untuk mengetahui sumber sumber Hukum Islam
2. Untuk mengetahui fungsi hukum islam dalam kehidupan masyarakat
3. Untuk menambah wawasan tentang kontribusi umat islam dalam
perumusan sistem hukum nasional
1.4 Metode Penulisan
Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif yaitu penulis menggunakan
informasi melalui studi pustaka/ literature seperti buku, internet, media elektronik,
dan lain-lain.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sumber Hukum Islam
4

Di dalam hukum Islam rujukan-rujukan dan dalil telah ditentukan


sedemikian rupa oleh syariat, mulai dari sumber yang pokok maupun yang
bersifat alternatif. Sumber tertib hukum Islam ini secara umumnya dapat dipahami
dalam firman Allah dalam QS. An-nisa: 59, wahai orang-orang yang beriman,
taatilah Allah dan taatilalh Rasul-Nya dan ulil amri di antara kamu. Jika kamu
berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia pada Allah (al quran)
dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik (akibatnya). Dari
ayat tersebut, dapat diperoleh pemahaman bahwa umat Islam dalam menjalankan
hukum agamanya harus didasarkan urutan:
1. Selalu menataati Allah dan mengindahkan seluruh ketentuan yang
berlaku dalam alquran.
2. Menaati Rasulullah dengan memahami seluruh sunnah-sunnahnya.
3. Menaati ulil amri (lembaga yang menguasai urusan umat islam.
4. Mengenbalikan kepada alquran dan sunah jika terjadi perbedaan dalam
menetapkan hukum,
Secara lebih teknis umat Islam dalam berhukum harus memperhatikan sumber
tertib hukum:
1. Al Quran
2. Sunah atau hadits Rasul
3. Ijtihad
1. Al-Quran Sebagai Sumber Hukum Utama
Al-Quran juga di definisikan ialah 'Kalam Allah Swt yang diwahyukan
kepada nabi yang terakhir Muhammad Saw, yang merupakan mukjizat yang
terbesar diberikan Allah Swt terhadap Rasul Saw dan membacanya merupakan
ibadah (pahala).
Dalam al-quran juga disebutkan ada beberapa nama lain Al-quran seperti :
1.

Al-kitab

2.

Al-Syifa (obat)

3.

Al-Huda (petunjuk)

4. Al-Furqan (pembeda), dan


5. Al-Mauizhah (nasihat)
Artinya, Al-Quran adalah kitab yang berisikan petunjuk allah Swt untuk
menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan hambanya,
5

membedakan antara yang haq dan yang bathil, serta menjadi peringatan, obat dan
rahmat bagi orang-orang yang beriman. Sebagaimana yang telah diwahyukan oleh
Allah Swt dalam QS.Al-Isra 82: Dan kamiturunkan dari Al-quran suatu yang
menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-quran itu
tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.
Al-Quran adalah sumber hukum utama dan pertama dalam islam. Karena
setiap muslim wajib berpegang teguh kepada isi kandungan Al-Quran dan
menempatka Al-Quran sebagai rujukan utama dan pertama dalam menetapkan
suatu hukum Allah SWT berfirman:
Artinya: Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah,
Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. al-Maidah: 44).
Dalam ayat lain Allah berfirman:
Artinya: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi
perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu
ketetapan, Akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan
Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah dia telah sesat,
sesat yang nyata. (al- Ahjab: 36).
Kedua ayat ini menegaskan kepada kita untuk selalu berpegang teguh pada
al-quran dan hadis sebagai dasar dan sumber hukum-hukum islam dan melarang
kita untuk menetapkan suatu perkara yang tidak sesuai dengan al-quran dan hadis
serta dilarang untuk mendurhakai allah dan rasul-Nya.
Fungsi Al-Quran
1) Petunjuk bagi Manusia. Allah swt menurunkan Al-Quran sebagai petujuk
umar manusia, seperti yang dijelaskan dalam surat (Q.S AL-Baqarah 2:185), (QS
AL-Baqarah 2:2) dan (Q.S AL-Fusilat 41:44)
2) Sumber pokok ajaran Islam. Fungsi AL-Quran sebagai sumber ajaran Islam
sudah diyakini dan diakui kebenarannya oleh segenap hukum Islam. Adapun
ajarannya meliputi persoalan kemanusiaan secara umum seperti hukum,
ibadah, ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, ilmu pengetahuan dan
seni.
3) Peringatan dan pelajaran bagi manusia. Dalam AL Quran banyak diterangkan
tentang kisah para nabi dan umat terdahulu, baik umat yang taat melaksanakan

perintah Allah maupun mereka yang menentang dan mengingkari ajaran-Nya.


Bagi kita, umat yang akan datang kemudian tentu harus pandai mengambil
hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah yang diterangkan dalam Al-Quran.
4) Al Quran adalah pembeda atau pemisah antara yang haq dan yang bathil. (Q.S
Al Furqan:1 ; Al Imran:3-4 ; Al Baqarah:185)
5) Al Quran berfungsi sebagai peringatan bagi orang-orang yang bertakwa. ( Q.S
Al Haqqah:48 ; Al Hijr:9 ; Shad:1,29 ; Yasin:69 ; Al Anam:90)
6) Al Quran adalah obat atau penawar bagi penyakit kejiwaan. ( Q.S Yunus:57 ;
Al Isra:82 ; Fush-shilat:44)
7) Al Quran merupakan pengajaran/nasehat (Mauidhah) bagi manusia. (Q.S Ali
Imran:138 ; Yunus:57)
8) Al Quran adalah korektor bagi kitab-kitab suci yang turun sebelumnya, atau
korektor bagi penyelewengan yang dilakukan oleh manusia dan agama mereka.
(Q.S Al Baqarah:79 ; Al Imran:71 ; Al Maidah:72,116-117 ; At Taubah:30)
9) Al Quran merupakan bahan renungan atau pemikiran bagi orang-orang yang
mau berfikir untuk mendapat pelajaran yang berharga. (Q.S Shad:29 ; An
Nisa:82 ; Muhammad:24 ; Al Muminun:68)
Al-Quran sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalam hidup baik di
dunia dan akhirat, berisi hal-hal antara lain :
1) Petunjuk mengenai akidahyang harus diyakini oleh manusia. Petunjuk
akidah ini berintikan keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan
kepastian adanya hari kebangkitan, perhitungan serta pembalasan kelak.
2) Petunjuk mengenai syariahyaitu jalan yang harus diikuti manusia
dalam berhubungan dengan Allah dan dengan sesama insan demi
kebahagiaan hidup manusia di dunia ini dan di akhirat kelak.
3) Petunjuk tentang akhlak, mengenai yang baik dan buruk yang harus
diindahkan oleh manusia dalam kehidupan, baik kehidupan individual
maupun kehidupan sosial.
4) Kisah-kisah umat manusia di zaman lampau.Sebagai contoh kisah
kaum Saba yang tidak mensyukuri karunia yang diberikan Allah,
sehingga Allah menghukum mereka dengan mendatangkan banjir besar

serta mengganti kebun yang rusak itu dengan kebun lain yang
ditumbuhi pohon-pohon yang berbuah pahit rasanya.
5) Berita tentang zaman yang akan datang.Yakni zaman kehidupan akhir
manusia yang disebut kehidupan akhirat. Kehidupan akhirat dimulai
dengan peniupan sangkakala (terompet) oleh malaikat Israil. Apabila
sangkakala pertama ditiupkan, diangkatlah bumi dan gunung-gunung,
lalu keduanya dibenturkan sekali bentur. Pada hari itulah terjadilah
kiamat dan terbelahlah langit. (Qs al-Haqqah (69) : 13-16.
6) Benih dan Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan.
7) Hukum yang berlaku bagi alam semesta.Sebagai sumber hukum yang
utama, maka Al Quran memuat sisi-sisi hukum yang mencakup
berbagai bidang.
Secara garis besar Al Quran memuat tiga sisi pokok hukum yaitu:
1. Hukum Itiqadah. Yakni hukum-hukum yang berhubungan dengan akidah
dan kepercayaan meliputi keimanan kepada Allah, Malaikat-malaikat,
Kitab-kitab, Rasul-rasul, hari Qiyamat dan ketetapan Allah (qadha dan
qadar).
2. Hukum Moral/ akhlaq. Yaitu hukum-hukum yang berhubungan dengan
prilaku orang mukallaf guna menghiasi dirinya dengan sifat-sifat
keutamaan / fadail al amaldan menjauhkan diri dari segala sifat tercela
yang menyebabkan kehinaan.
3. Hukum Amaliyah, yakni segala aturan hukum yang berkaitan dengan
segala perbuatan, perjanjian dan muamalah sesama manusia. Segi hukum
inilah yang lazimnya disebut dengan fiqh Al Quran dan itulah yang
dicapai dan dikembangkan oleh ilmu ushul al-Fiqh.
2. Al-Hadits Sebagai Sumber Hukum Kedua
As-sunnah menurut istilah yang dirumuskan oleh Ulama Hadis adalah
Segala sesuatu yang diambil dari Nabi Muhammad Saw baik berupa
perkataan, perbuatan maupun taqrir (ketentuan), pengajaran, sifat, kelakuan
dan perjalanan hidup baik yang terjadi sebelum masa kenabian atau
sesudahnya. Sedangkan menurut ulama Fiqh : Segala sesuatu yang diambil

dari Nabi Muhammad Saw baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan(taqrir)


yang mempunyai kaitan dengan hukum
Berdasarkan pengertian di atas , dapat diklasifikasikan kepada 4 macam yaitu;
a. Hadis Qauliyah
Seluruh hadis yang bersumber dari perkataan Nabi Muhammad saw, baik
dalam bentuk perintah, larangan, anjuran atau nasehat , dan lain-lain. Yang
dapat dijadikan dalil untuk menetapkan hokum syara
b.

Hadis Filiyah
Seluruh hadis yang bersumber dari perilaku atau perbuatan yang
ditampilkan oleh Nabi Muhammad Saw agar diconthkan atau diteladani
oleh umatnya.Contohnya: tata cara wudu , shalat, haji, dan lain-lain yang
diperbua dan dicontohkan oleh Nabi.

c.

Hadis Taqririyah
Seluruh hadis yang berbentuk ketetapan atau persetujuan Nabi
Muhammad Saw terhadap suatu perkara yang dilakuakn sahabat atau
umatnya. Dalam hal ini, Nabi Muhammad Saw memberikan persetujuan
atau ketetapan terhadap hal-hal positif yang dilakukan sahabatnya.
Sebagai contoh, nabi Muhammad saw menyetujui kalimat-kalimat azan

d.

yang dikumandangkan oleh sahabat yang bernama Bilal Nin rabbah.


Hadis Hamiyah
Hadis nabi Muhammad Saw yang masih berbentuk harapan. Menurut ahli
hadis, bentuk hadis seperti ini sangat sedikit, bahkan ada yang
mengatakan tidak ada,. Hal ini dikarenakan Nabi Muhammad Saw adalah
sosok teladan yang tidak pernah meminta umatnya melakukan sesuatu
sebelum ia sendiri melakukannya. Begitupun, ada yang berpendapat
bahwa Nabi Muhammad saw pernah berniat untuk berpuasa pada
Muharram, tetapi sebelum ia menunaikannya, beliau telah dipanggil
Allah Swt inilah salah satunya sumber informasi tentang hadis
hammiyah.
Hadis merupakan salah satu sumber hukum Islam yang wajib kita taati.

Allah Swt telah mewajibkan agar kita mentaati hukum-hukum dan perbuatanperbuatan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw tersebut.
Firman Allah Swt :

. . . .

"Dan apa yang Rasul berikan untuk mu, maka terimalah ia, dan apa yang ia
larang bagimu, maka jauhilah." (Q.S. al-Hasyr : 7)
Dan taatilah Allah dan Rasul supaya kamu diberi rahmat. (Qs. Ali Imran [3]:
132)
Hadis sebagai sumber hukum islam yang kedua, juga ditetapkan oleh hadis itu
sendiri.sabda rasulullah : aku tinggalkan kepadamu sekalian dua perkara
apabila kamu berpegang teguh pada kedua perkara tersebut niscaya kau tidak
akan tersesat selama-lamanya,kedua perkara itu adalah kitab allah (Al-Quran)
dan sunnah Rasulullah(Hadits). (HR.Bukhari dan Muslim)
Hadits terdiri dari :
1. Matan, yaitu isi atau kandungan dari suatu hadis yang memuat berbagai
pengertian.
2. Sanad, yaitu jalan yang menyampaikan kepada matan hadis,yaitu namanama para perawinya yang berurutan menjadi sandaran dalam
periwayatan hadis menjadi perantara Nabi Muhammad Saw sampai
3.

kepada perawi atau orang yang meriwayatkan suatu hadis


Rawi yaitu orang-orang yang meriwayatkan hadist
Klasifikasi Hadits
a.
Hadis Shahih
Yaitu hadits yang dapat dipakai sebagai landasan hukum. Hadits yang
sahih para perawinya bersambung sampai kepada Nabi saw, perawinya
orang yang taat beragama, kuat hafalannya dan isinya tidak bertentangan
dengan Al-Quran.
b.
Hadits Hasan (baik)
Yaitu hadits yang memenuhi persyaratan seperti perawinya semuanya
bersambungan, perawinya taat beragama, agak kuat hafalannya, tidak
bertentangan dengan Al-Quran dan tidak cacat di dalamnya.
c.
Hadits Daif (lemah)
Yaitu hadits yang tidak memenuhi criteria persyaratan hadits hasan
apalagi shahih. Hadits daif tidak boleh dijadikan sebagai landasan
hukum.
Fungsi Hadits
1) Penjelasan terhadap hal-hal yang masih bersifat umum (bayanu/
mujmal). Misalnya hadits Nabi saw yang menjelaskan pelaksanaan
shalat, puasa, dan zakat secara detail dan sebagainyayang di dalam AlQuran keterangan hukumnya masih bersifat umum.

10

2) Pembatas hal-hal yang masih global dalam Al-Quran (Taqyidul


mutlaq).Misalnya hadist Nabi yang menjelaskan batasan hukum
potong tangan bagi pencuri yaitu sampai batas pergelangan
tangan.Hukum potong tangan dalam Al- Quran hanya menerangkan
perintah potong tangan saja tanpa menyebutkan batasan secara rinci.
3) Pengkhususan hal-hal yang masih bersifat umum hukumnya
didalam Al- Quran (takshisulaim). Misalnya hadits Nabi saw yang
menerapkan secara detail hukum tentang warisan (harta pusaka).
Dalam Al-Quran tidak ditegaskan mengenai perbedaan antara anak
dan orang tua yang sama-sama muslim.
4) Hadits menetapkan hukum-hukum yang tidak terdapat dalam AlQuran. Misalnya diharamkannya memakai cincin, emas dan
pakaian sutera bagi kaum laki-laki. Contoh lain hukum yang tidak di
dapati dalam al-quran tetapi ditetapkan dalam hadits adalah
kewajiban menyamak bejana yang dijilati anjing dengan cara
membasuhnya tujuh kali dengan air,dimana salah satunya harus air
yang dicampur dengan tanah.
5) Hadist memperkuat atau mengukuhkan hukum-hukum yang telah
ditetapkan oleh al-quran.
3. Al-Ijtihad Sebagai Sumber Hukum Pelengkap
Menurut bahasa Ijtihad artinya bersungguh-sungguh. Menurut istilah
Ijtihad ialah bersungguh-sungguh menggunakan akal pikiran untuk merumuskan
dan menetapkan hukum atau suatu perkara yang tidak ditemukan kepastian
hukumnya dalam Al-Quran maupun Hadits.
Hasil ijtihad dapat dijadikan sumber hukum yang ketiga atau pelengkap.
Hal itu di dasarkan kepada hadis yang diriwiyatkan oleh Imam Tirmizi dan Abu
Daud yang berisikan dialoq antara Nabi Muhammad Saw dengan Muaaz bin
Jabal, ketika diutus ke negeri Yaman waktu itu Nabi bertanya kepada Muaz
Bagaimana kamua akan menetapkan hukum kalau dihadapkan kepadamu sutu
persoalan yang memerlukan ketetapan hukum? Muaz menjawab, saya akan
menetapkan hukum dengan Al-Quran , Rasul bertanya lagi kalau seandainya
tidak ditemukan ketetapannya dengan Al-quran? Muaz menjawab, saya akan
berijtihad denan pendapat saya sendiri. Kemudian rasulullah menepuk-nepuk
11

bahu muaz bin jabal tanda setuju. Dan ini merupakan dasar hukum perlunya
ijtihad. Al-quran menjelaskan ada ULIL AMRIyang berarti mereka yang
berwenang menetapkan suatu maslahat bagi umat. Q.S An-Nisa ayat 59.
Persoalan apa sajakah yang boleh di ijtihadkan?
Para ulama sepakat bahwa semua masalah boleh diijtihadkan apabila kita
tidak menentukan penjelasan yang rinci tentang masalah tersebut, baik dalam alquran maupun hadist. Karenanya kita tidak diperkenankan lagi beijtihad dalam
masalah-masalah yang sudah jelas aturan dan dasar hukumnya, seperti shalat,
puasa, zakat dan haji.
Ijtihad semakin dirasakan penting ditengah-tengah kehidupan yang
semakin maju, maka semakin banyak pula permasalahan-permasalahan baru yang
belum pernah terjadi, baik pada masa rasul,sahabat maupun pada masa-masa
sebelunya.kini semakin, banyak masalah yang memerlukan ijtihad para ulama
menentukan status atau ketentuan hukumnya.
Diantara msalah-masalah tersebut misalnya:
1.
2.
3.

Bayi tabung
Ber-KB secara vasektomi dan tebektomi
Transpalantasi organ tubuh seperti jantung buatan, pemotongan hewan
dengan mesin,transfusi darah, dan sih banyak masalah lainnya.

Bentuk-bentuk Ijtihad
a.
Ijma
Menggunakan bahasa Ijma berarti menghimpun, mengumpulkan dan
menyatukan pendapat. Menurut istilah ijma adalah kesepakatan para
ulama tentang hukum suatu masalah yang tidak tercantum di dalam AlQuran dan Al-Hadits.
b.
Qiyas
Menurut bahasa Qiyas berarti mengukur sesuatu dengan contoh yang lain,
kemudian menyamakannya. Menurut istilah, Qiyas adalah menentukan
hukum suatu maslaah yang tidak ditentukan hukumnya dalam Al-Quran
dan Al-Hadits dengan cara menganalogikan suatu masalah dengan masalah
yang lain karena terdapat kesamaan illat (alasan).
c.
Istihsan
Menurut bahasa, Istihsan berarti menganggap/mengambil yang terbaik dari
suatu hal. Menurut istilah, Istihsan adalah meninggalkan qiyas yang jelas
(jali) untuk menjalankan qiyas yang tidak jelas (khafi), atau meninggalkan
12

hukum umum (universal/kulli) untuk menjalankan hukum khusus


(pengecualian/istitsna), karena adanya alasan yang menurut pertimbangan
logika menguatkannya. Contoh: menurut istihsan sisa minuman dari
burung-burung yang buas seperti elang, gagak, rajawali dan lain-lain itu
tetap suci berbeda dengan sisa minuman dari binatang-binatang buas
seperti harimau, singa, serigala dan lain-lain yang haram dagingnya karena
sisa makanan binatang-binatnag buas ini mengikuti hukum dagingnya,
maka sisa minumannya juga haram (najis). Alasan kesucian dari sisa
minuman burung-burung buas tadi : meskipun haram dagingnya, karena
burung-burung itu mengambil air minumnya dengan paruh yang berupa
tulang (dimanan hukum tulang itu sendiri suci) dan tidak dimungkinkan air
liur / ludah yang keluar dari perutnya (dagingnya) itu bercampur dengan
sisa minuman tadi. Sedangkan binatang-binatang buas mengambil air
minum dengan mulutnya yang sejenis daging sehingga dimungkinkan
sekali sisa minumannya bercampur dengan ludahnya.
d.
Masalihul Mursalah
Menurut bahasa, Masalihul Mursalah berarti pertimbangan untuk
mengambil kebaikan. Menurut istilah, Masalihul Mursalah yaitu
penetapan hukum yang didasarkan atas kemaslahatan umum atau
kepentingan bersama dimana hokum pasti dari maslah tersebut tidak
ditetapkan oleh oleh syarI (al Quran dan Hadits) dan tidak ada perintah
memperhatikan atau mengabaikannya. Contoh penggunaan masalihul
mursalah kebijaksanaan yang diambil sahabat Abu Bakar shiddiq
mengenai pengumpulan al Quran dalam suatu mush-haf, penggunaan
ijazah, surat-surat berharga dsb.
Dengan perkembangan zaman yang terus semakin maju, muncul berbagai
masalah baru yang belum dijumpai ketetapan hukumnya di dalam AlQuran dan Al-Hadits. Masalah-masalah baru tersebut membutuhkan
ijtihad, sehingga menjadi hukum bagi kaum muslimin. Hal ini menuntut
kita semua untuk selalu memperdalam ilmu pengetahuan dan wawasan
keagamaan kita, sehingga kita mampu menjadi para mujtahid yang
memiliki syarat-syarat ijtihad dengan benar. Pintu ijtihad masih terbuka
lebar bagi setiap umat muslim yang memiliki syarat-syarat ijtihad. Islam

13

sangat mendorong kaum muslimin untuk melakukan ijtihad. Hal ini


ditegaskan Rasulullah saw. dalam haditsnya yag diriwayatkan Muaz bin
Jabal :
Artinya : "Apabila seorang hakim memutuskan masalah dengan jalan
ijtihad kemudian benar, maka ia mendapat dua pahala, dan apabila dia
memutuskan dengan jalan ijtihad kemudian keliru, maka dia memperoleh
satu pahala. (HR. Bukhari Muslim).
e.
Istish-hab
Melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan telah diterapkan karena
adanya suatu dalil sampai datangnya dalil lain yang mengubah kedudukan
hukum tersebut. Misalnya apa yang diyakini ada, tidak akan hilang oleh
adanya keragu-raguan, contoh : orang yang telah berwudlu, lalu dia raguragu apakah sudah batal atau belum, maka yang dipakai adalah dia tetap
dalam keadaan wudlu dalam pengertian wudlunya tetap sah. Seperti itu
juga dalam hal menentukan suatu masalah yang hukum pokoknya mubah
(boleh), maka hukumnya tetap mubah sampai dating dalil yang
mnegharuskan meninggalkan hukum tersebut.
Syarat umum yang harus dimiliki setiap mujtahid:
1. Menguasai atau memahami secara mendalam tentang al-quran dan
ilmu-ilmu al-quran, terutama ayat-ayat hukum, asbabun nuzul dan
nasakh mansukhnya
2. Menguasai hadis dan ilmu-ilmu hadis.
3. Menguasai bahasa arab dan ilmu-ilmu yang berkenaan dengan
bahasa arab.
4. Menguasai ilmu ushul fiqh.
5. Memahami tujuan pokok syariat islam
6. Memahami Qawaid kulliyah atau Qawaid Fiqhiyah.
2.2 Fungsi Hukum Islam Dalam Kehidupan Bermasyarakat
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri manusia
membutuhkan pertolongan satu sama lain dan memerlukan organisasi dalam
memperoleh kemajuan dan dinamika kehidupannya. Setiap individu dan
kelompok sosial memiliki kepentingan. Namun demikan kepentingan itu tidak
selalu sama satu saama lain, bahkan mungkin bertentangan. Hal itu mengandung
potensi terjadinya benturaan daan konflik. Maka hal itu membutuhkan aturan

14

main. Agar kepentingan individu dapat dicapai secara adil, maka dibutuhkan
penegakkan aturan main tersebut. Aturan main itulah yang kemudian disebut
dengan hukum islam yang dan menjadi pedomaan setiap pemeluknya. Dalam hal
ini hukum Islam memiliki tiga orientasi, yaitu:
1. Mendidik indiividu (tahdzib al-fardi) untuk selalu menjadi sumber
kebaikan,
2. Menegakkan keadilan (iqamat al-adl),
3. Merealisasikan kemashlahatan (al-mashlahah).
Orientasi tersebut tidak hanya bermanfaat bagi manusia dalam jangka
pendek dalam kehidupan duniawi tetapi juga harus menjamin kebahagiaan
kehidupan di akherat yang kekal abadi, baik yang berupa hukum-hukum untuk
menggapai kebaikan dan kesempurnaan hidup (jalbu al manafi), maupun
pencegahan kejahatan dan kerusakan dalam kehidupan (daru al-mafasid).
Bbegitu juga yang berkaitan dengan kepentingan hubungan antara Allah dengan
makhluknya. Maupun kepentingan orientasi hukum itu sendiri.
Sedangkan fungsi hukum Islam dirumuskan dalam empat fungsi, yaitu:
1. Fungsi Ibadah. Dalam adz-Dzariyat: 56, Allah berfirman: Dan tidak aku
ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu. Maka
dengan dalil ini fungsi ibadah tampak palilng menonjol dibandingkan
dengan fungsi lainnya.
2. Fungsi amar makruf nahi munkar (perintah kebaikan dan peencegahan
kemungkaran). Maka setiap hukum Islam bahkan ritual dan spiritual pun
berorientasi membentuk mannusia yang yang dapat menjadi teladan
kebaikan dan pencegah kemungkaran.
3. Fungsi zawajir (penjeraan). Aadanya sanksi dalam hukum islam yang
bukan hanya sanksi hukuman dunia, tetapi juga dengan aancaman siksa
akhirat dimaksudkaan agar manusia dapat jera dan takut melakukan
kejahatan.
4. Fungsi tandzim wa ishlah al-ummah (organisasi dan rehabilitasi
masyarakat). Ketentuan hukum sanksi tersebut bukan sekedar sebagai

15

batas ancaman dan untuk menakut-nakuti masyarakat saja, akan tetapi juga
untuk rehaabilitasi dan pengorganisasian umat mrnjadi leboh baik. Dalam
literatur ilmu hukum hal ini dikenal dengan istilah fungsi engineering
social.
Keempat fungsi hukum tersebut tidak dapat dipilah-pilah begitu saja untuk bidang
hukum tertentu tetapi saatu deengan yang lain juga saling terkait.
2.3 Kontribusi Umat Islam Dalam Perumusan dan Penegakan Sistem
Hukum Indonesia
Hukum islam ada dua sifat, yaitu:
a.

Al- tsabat (stabil), hukum islam sebagai wahyu akan tetap dan tidak berubah
sepanjang masa

b.

At-tathawwur (berkembang),hukum islam tidak kaku dalam berbagai kondisi


dan situasi sosial.

Hukum Islam memiliki prospek dan potensi yang sangat besar dalam
pembangunan hukum nasional. Ada beberapa pertimbangan yang menjadikan
hukum Islam layak menjadi rujukan dalam pembentukan hukum nasionalyaitu:
1. Undang-undang yang sudah ada dan berlaku saat ini seperti, UU Perkawinan,
UU Peradilan Agama, UU Penyelenggaraan Ibadah Haji, UU Pengelolaan
Zakat, dan UU Otonomi Khusus Nanggroe Aceh Darussalam serta beberapa
undangundang lainnya yang langsung maupun tidak langsung memuat hukum
Islam seperti UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan yang mengakui
keberadaan Bank Syari'ah dengan prinsip syari'ahnya., atau UU NO. 3 Tahun
2006 tentang Peradilan Agama yang semakin memperluas kewenangannya,
dan UU Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
2. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih kurang 90 persen beragama
Islam akan memberikan pertimbangan yang signifikan dalam mengakomodasi
kepentingannya.
3.

Kesadaran umat Islam dalam praktek kehidupan sehari-hari. Banyak aktifitas


keagamaan masyarakat yang terjadi selama ini merupakan cerminan
kesadaran mereka menjalankan Syari'at atau hukum Islam, seperti pembagian
zakat dan waris.

16

4.

Politik pemerintah atau political will dari pemerintah dalam hal ini sangat
menentukan. Tanpa adanya kemauan politik dari pemerintah maka cukup
berat bagi Hukum Islam untuk menjadi bagian dari tata hukum di Indonesia.
Untuk lebih mempertegas keberadaan hukum Islam dalam konstalasi

hukum nasional dapat dilihat dari Teori eksistensi tentang adanya hukum Islam di
dalam hukum nasional Indonesia. Teori ini mengungkapkan bahwa bentuk
eksistensi hukum Islam di dalam hukum nasionallndonesia itu ialah:
1. Ada dalam arti sebagai bagian integral dari hukum nasional lndonesia.
2. Ada dalam arti kemandirian, kekuatan dan wibawanya diakui adanya oleh
nasional dan diberi status sebagai hukum nasional.
3. Ada dalam hukum nasional dalam arti norma hukum Islam (agama) berfungsi
sebagai penyaring bahan-bahan hukum nasionallndonesia.
4. Ada dalam arti sebagai bahan utama dan unsur utama hukum nasional
Indonesia.
Bila dilihat dari realitas politik dan perundang-undangan di Indonesia nampaknya
eksistensi hukum Islam semakin patut diperhitungkan seperti terlihat dalam
beberapa peraturan perundangan yang kehadirannya semakin memperkokoh
Hukum Islam:
1.

Undang-Undang Perkawinan
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan disahkan dan
diundangkan di Jakarta Pada tanggal 2 Januari 1974 (Lembaran Negara Tahun
1974 No. Tambahan Lembaran Negara Nomer 3019).

2.

Undang-Undang Peradilan Agama


Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama disahkan dan
diundangkan di Jakarta pada tanggal 29 Desember 1989 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1989 No. 49, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia No. 3400). Kemudian pada tanggal 20 Maret 2006
disahkan UU Nomor 3 tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No. 7 Tahun
1989 tentang Peradilan Agarna. Yang melegakan' dari UU ini adalah semakin
luasnya kewenangan Pengadilan Agama khususnya kewenangan dalam
menyelesaikan perkara di bidang ekonomi syari'ah. Untuk menjelaskan

17

berbagai persoalan syari'ah di atas Dewan Syari'ah Nasional (DSN) telah


mengeluarkan sejumlah fatwa yang berkaitan dengan ekonomi syari'ah] yang
sampai saat ini jumlahnya sudah mencapai 53 fatwa. Fatwa tersebut dapat
menjadi bahan utama dalam penyusunan kompilasi tersebut.
Sehubungan dengan tambahan kewenangan yang cukup banyak kepada
pengadilan agama sebagaimana pada UU No. 3 tahun 2006 yaitu mengenai
ekonomi syari'ah, sementara hukum Islam mengenai ekonomi syari'ah masih
tersebar di dalam kitab-kitab fiqh dan fatwa Dewan Syari'ah Nasional,
kehadiran Kompilasi Hukum Ekonomi Syari'ah (KHES) yang didasarkan
pada PERMA Nomor 2 Tahun 2008, tanggal 10 September 2008 tentang
Kompilasi Hukum Ekonomi Syari'ah, menjadi pedoman dan pegangan kuat
bagi para Hakim Pengadilan Agama khususnya, agar tidak terjadi disparitas
putusan Hakim, dengan tidak mengabaikan penggalian hukum yang hidup
dan berkembang dalam masyarakat sebagaimana maksud Pasal 28 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman.
Kompilasi Hukum Ekonomi Syari'ah terdiri dari 4 Buku, 43 Bab, 796 Pasal.
3.

Undang-Undang Penyelenggaraan Ibadah Haji


Undang-Undang No. 17 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji
disahkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 3 Mei 1999 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 No. 53, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia No. 3832), yang digantikan oleh UU Nomor 13 Tahun
2008. UU pengganti ini memiliki 69 pasal dari sebelumnya 30 pasal. UU ini
mentikberatkan pada adanya pengawasari dengan dibentuknya Komisi
Pengawasan Haji Indonesia [KPHI]. Demikian juga dalam UU ini diiatur
secara terperinci tentang Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji [BPIH]. Aturan
baru tersebut diharapkan dapat menjadikan pelaksanaan ibadah haji lebih
tertib dan lebih baik.

4.

Undang-Undang Pengelolaan Zakat


Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat disahkan
dan diundangkan di Jakarta pada tanggaI 23 September 1999 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 No. 164, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia No. 3885).

18

5.

Undang-Undang Penyelenggaraan Keistimewaan Daerah Istimewa Aceh


Undang-Undang No. 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan
Daerah Istimewa Aceh disahkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 4
Oktober 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun1999 No.172,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No.3893).

6.

Undang-Undang Otonomi Khusus Aceh


Undang-Undang No. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Provinsi
Daerah Istimewa Aceh Sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
disahkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 9 Agustus 2001 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2001 No. 114, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia No. 4134).

7.

Kompilasi Hukum Islam


Perwujudan hukum bagi umat Islam di Indonesia terkadang menimbulkan
pemahaman yang berbeda. Akibatnya, hukum yang dijatuhkan sering terjadi
perdebatan di kalangan para ulama. Karena itu diperlukan upaya
penyeragaman pemahaman dan kejelasan bagi kesatuan hukum Islam.
Keinginan itu akhirnya memunculkan Kompilasi Hukum Islam (KHI), yang
saat ini telah menjadi salah satu pegangan utama para hakim di lingkungan
Peradilan Agama. Sebab selama ini Peradilan Agama tidak mempunyai buku
standar yang bisa dijadikan pegangan sebagaimana halnya KUH Perdata. Dan
pada tanggal 10 Juni 1991 Presiden menandatangani Inpress No.1 Tahun
1991 yang merupakan instruksi untuk memasyarakatkan KHI.

8.

Undang-undang tentang Wakaf


Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf disahkan dan
diundangkan di Jakarta pada tanggal 27 Oktober 2004 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 No. 159, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia No. 4459). Kemudian pada tanggal 15 Desember 2006
ditetapkanlah peraturan pemerintah Republik. Indonesia Nomor 42 Tahun
2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang
wakaf. Maksud penyusunan peraturan pelaksanaan PP ini adalah untuk
menyederhanakan pengaturan yang mudah dipahami masyarakat, organisasi
dan badan hukum, serta pejabat pemerintahan yang mengurus perwakafan,

19

BWI, dan LKS, sekaligus menghindari berbagai kemungkinan perbedaan


penafsiran terhadap ketentuan yang berlaku.
9.

Undang-Undang Tentang Pemerintahan Aceh


Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, semakin
menegaskan legalitas penerapan syariat Islam di Aceh. Syariat Islam yang
dimaksud dalam undang-undang ini meliputi ibadah, al-ahwal alsyakhshiyah
(hukum keluarga), muamalah (hukum perdata), jinayah (hukum pidana),
qadha (peradilan), tarbiyah (pendidikan), dakwah, syi'ar, dan pembelaan
Islam. Di samping itu keberadaan Mahkamah Syar'iyah yang memiliki
kewenangan yang sangat luas semakin memperkuat penerapan hukum Islam
di Aceh. Mahkamah Syar'iyah merupakan pengadilan bagi setiap orang yang
beragama Islam dan berada di Aceh. Mahkamah ini berwenang memeriksa,
mengadili, memutus dan menyelesaikan perkara yang meliputi bidang alahwal al-syakhshiyah (hukum keluarga), muamalah (hukum perdata) tertentu,
jinayah (hukum pidana) tertentu, yang didasarkan atas syari'at Islam.

10. Undang-undang Tentang Perbankan Syari'ah


Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang- Undang
Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang diundangkan pada tanggal 10
November 1998, menandai sejarah baru di bidang perbankan yang mulai
memberlakukan sistem ganda duel system banking di Indonesia, yaitu sistem
perbankan konvensional dengan piranti bunga, dan sistem perbankan dengan
peranti akad-akad yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Sejarah
perbankan secara faktual telah mencatat bahwa dalam kurun waktu antara
tahun 1992 hingga Mei 2004 telah berkembang pesat perbankan syariah.
Secara kuantitatif jumlah bank syariah pada tahun 1992 hanya ada satu Bank
Umum Syariah, yaitu Bank Mu'amalat Indonesia, dan BPRS, tetapi saat ini
telah ada dua Bank Umum Syariah dengan 114 kantor cabang dan pembantu
Bank Syariah.
Di samping beberapa undang-undang di atas ada tiga faktor yang
menyebabkan hukum Islam masih memiliki peran besar dalam kehidupan bangsa
kita. Pertama, hukum Islam telah turut serta menciptakan tata nilai yang mengatur

20

kehidupan umat Islam, minimal dengan menetapkan apa yang harus dianggap baik
dan buruk, apa yang menjadi perintah, anjuran, perkenan, dan larangan agama.
Kedua, banyak keputusan hukum dan unsur yurisprudensial dari hukum Islam
telah diserap menjadi bagian dari hukum positif yang berlaku. Ketiga, adanya
golongan yang masih memiliki aspirasi teokratis di kalangan umat Islam dari
berbagai negeri sehingga penerapan hukum Islam secara penuh masih menjadi
slogan perjuangan yang masih mempunyai appeal cukup besar.Terkait dengan
upaya tersebut dalam tulisan ini penulis ingin lebih fokus melihat sumbangan
tradisi hukum Islam atau hukum fiqh dalam rangka pembangunan hukum
nasional. Karena, hukum Islam (hukum fiqh) itu sendiri secara umum memang
diakui sebagai salah satu sumber dalam rangka pembaruan hukum di Indonesia,
selain hukum adat dan hukum barat. Bagaimana pun, hukum barat, hukum adat,
maupun hukum Islam itu, mempunyai kedudukan yang sama sebagai sumber
norma bagi upaya pembentukan hukum nasional.
Selain itu, secara sosiologis, kedudukan hukum Islam (hukum fiqh) itu
sendiri di Indonesia, melibatkan kesadaran keagamaan mayoritas penduduk yang
sedikit banyak berkaitan pula dengan masalah kesadaran hukum. Baik norma
agama maupun norma hukum selalu sama-sama menuntut ketaatan. Apalagi, jika
norma hukum itu disebandingkan dengan aspek hukum dari norma agama itu,
akan semakin jelaslah keeratan hubungan antara keduanya. Keduanya sama-sama
menuntut ketaatan dan kepatuhan dari warga masyarakatnya.
Tahir Azhari mengatakan bahwa hukum Islam mengikat setiap individu
yang beragama Islam untuk melaksanakannya, yang implementasinya terbagi
dalam 2 perspektif, yaitu : ibadah mahdlah, dan tanpa campur tangan penguasa
kecuali untuk fasilitasnya muamalah, baik yang bersifat perdata maupun publik,
yang melibatkan kekuasaan negara. Kontribusi baru dari hukum Islam terhadap
hukum nasional adalah berupa kehadiran Kompilasi Hukum Ekonomi Syari'ah
melalui PERMA Nomor 02 Tahun 2008. Pasal 1 Perma tersebut menyatakan
bahwa Kitab ini menjadi pedoman prinsip syari'ah bagi para Hakim dengan tidak
mengurangi tanggung jawab Hakim untuk menggali dan menemukan hukum
untuk menjamin putusan yang adil dan benar.

21

Selain karena alasan sosiologis dan alasan praktis-pragmatis di atas,


keeratan hubungan antara ulama dan umara serta agama dan hukum, termasuk
dalam dan untuk Hukum Pidana yang hendak diperbaharui itu, dapat pula dilihat
secara filosofis-politis dan yuridis. Secara filosofis-politis, keeratan hubungan
keduanya dapat dilihat dari perspektif Pancasila yang menurut doktrin ilmu
hukum di Indonesia merupakan sumber dari segala sumber hukum. Di dalam
Pancasila itu sendiri, agama mempunyai posisi yang sentral. Di dalamnya,
terkandung prinsip yang menempatkan agama dan ke-Tuhanan Yang Maha Esa
dalam posisi yang pertama dan utama. Demikian juga dengan tinjauan juridis,
kedudukan agama dalam konteks hukum dan keeratan hubungan antara keduanya
dijamin menurut Pembukaan UUD 1945 dan Pasal 29 UUD 1945 yang
menyatakan:
1.

Atas berkat Rahmat Allah Yang Mahakuasa dan dengan didorong oleh
keinginanluhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat
Indonesia,menyatakan dengan ini kemerdekaannya."

2.

Negara berdasar atas ke-Tuhanan Yang Maha Esa."

3.

Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya


masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu."
Dilihat dari sketsa historis, hukumislam masuk ke indonesia bersama

masuknya islam ke Indonesia pada abad ke 1 hijriyah atau 7/8 masehi. Sedangkan
hukum barat bary diperkenalkan VOC awal abad 17 masehi. Sebalum islam
masuk indonesia, rakyat indonesia menganut hukum adat yang bermacam-macam
sistemnya dan sangat majemuk sifatnya. Namun setelah islam datang dan menjadi
agama resmi di berbagai kerajaan nusantara, maka hukum islam pun munjadi
hukum resmi kerajaan-kerajaan tersebut dan tersebar manjadi hukum yang
berlaku dalam masyarakat.
Dalam pembentukan hukum islam di indonesia, kesadarn berhukum islam
untuk pertama kali pada zaman kemeerdekaan adalah di dalam Piagam Jakarta 22
juni 1945 , yang di dalam dasar ketuhanan diikuti dengan pernyataan dengan
kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya. Tetapi dengan
pertimbangan untuk persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia akhirnya
mengalami perubahan pada tanggal 18 Agustus 1945 yang rumusan sila

22

pertamanya menjadi ketuhanan yang maha esa. Meskipun demikian, dalam


berbagai macam peraturan perundang-undangan, hukumislam telah benar-benar
memperoleh tempat yang wajar secara kontitusional yuridik.
Untuk mewujudkan Hukum Islam dapat menjadi lebih prospektif dalam
kodifikasi hukum nasional pada masa datang political will para legislator di
tingkat pusat dan daerah rnerupakan prasyarat utama. Putusan-putusan
Pengadilan/Hakim yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat yang
islami turut berperan pula.
Demikian pula halnya dengan peran akademisi dalam pengembangan dan
penelitian yang dapat menunjang perkembangan hukum Islam di Indonesia. Dan
yang juga tidak kalah pentingnya adalah peran para ulama, kyai yang
mengajarkan dan tetap menyiarkan materi-materi hukum Islam kepada para santri
serta jamaahnya yang tersebar di berbagai pelosok tanah air. Dalam buku-buku
Tafsir disebutkan bahwa para legislator, yuris, pemerintah, dan ulama/akademisi,
termasuk dalam makna uli al-amr, yang termasuk untuk ditaati sebagaimana
perintah Allah dalam surat al-Nisa, ayat : 59.
Demikian beberapa argumen yang memberikan peluang kepada hukum
Islam untuk berkembang dan layak dijadikan bahan pertimbangan dalam
pcmbangunan. Hukum nasional, karena bangsa Indonesia perlu menformulasikan
hukum sesuai dengan filsafat hukum Indonesia, sebab aturan hukum yang ada
sekarang ini masih banyak yang merupakan warisan bangsa Belanda. Contohnya
sistem Hukurn Pidana yang kita berlakukan sampai saat ini merupakan warlsan
Belanda yang diperuntukkan berlakunya terutama bagi bangsa Indonesia sebagai
bangsa yang terjajah. Pada waktu itu sistem hukum demikian sesuai dengan
keadilan menurut versi penjajah. Setelah Indonesia merdeka tentu perlu ditinjau
kembali dan kalau tidak sesuai dengan kebutuhan bangsa serta rasa keadilan
kiranya tidak perlu dan tidak akan dipertahankan.
Dengan demikian kontribusi umat islam dalam petrumusan dan penegakan
hukum sangat besar. Ada pun upaya yang harus dilakukan untuk penegakan
hukum dalam praktek bermasyarakat dan bernegara yaitu melalui proses kultural
dan dakwah. Apabila islam telah menjadikan suatu keebijakan sebagai kultur
dalam masyarakat, maka sebagai konsekuensinyahukum harus ditegakkan. Bila

23

perlu law inforcement dalam penegakkan hukum islam dengan hukum positif
yaitu melalui perjuangan legislasi. Sehingga dalam perjaalananya suatu ketentuan
yang wajib menurut islam menjadi wajib pula menurut perundangan.

BAB III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Al-Quran juga di definisikan ialah 'Kalam Allah Swt yang diwahyukan
kepada nabi yang terakhir Muhammad Saw, yang merupakan mukjizat yang
terbesar diberikan Allah Swt terhadap Rasul Saw dan membacanya merupakan
ibadah (pahala).
Hadis merupakan salah satu sumber hukum islam yang wajib kita taati.
Allah Swt telah mewajibkan agar kita mentaati hukum-hukum dan perbuatanperbuatan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw tersebut.
Ijtihad ialah bersungguh-sungguh menggunakan akal pikiran untuk
merumuskan dan menetapkan hukum atau suatu perkara yang tidak ditemukan
kepastian hukumnya dalam Al-Quran maupun Hadits.
Fungsi hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat yaitu fungsi ibadah,
fungsi amar maruf nahi munkar, fungsi zawazir dan fungsi tanzim wa Islah al
Ummah. Serta, kontribusi hokum Islam yang sudah menjadi hokum nasional
antara lain hokum perkawinan, hokum tentang pelaksanaan haji, bagi hasil, infaq
dan wakaf.

24

25