Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Pendahuluan
Salah satu teori yang mendasari praktik keperawatan profesional
adalah memandang manusia secara holistik, yaitu meliputi dimensi fisiologis,
psikologis, sosiokultural dan spiritual sebagai suatu kesatuan yang utuh.
Apabila satu dimensi terganggu akan mempengaruhi dimensi lainnya. Sebagai
pemberi asuhan keperawatan, konsep holistik ini merupakan salah satu konsep
keperawatan yang harus di pahami oleh perawat agar dapat memberikan
asuhan keperawatan yang berkualitas kepada klien. Selain konsep holistik
salah satu teori model keperawatan yang menunjang perkembangan
keperawatan adalah teori model adaptasi Sister Callista Roy, yang juga
memandang manusia sebagai mahluk yang holistik. Teori adaptasi ini
menggunakan pendekatan yang dinamis, di mana peran perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan dengan memfasilitasi kemampuan klien
untuk melakukan adaptasi dalam menghadapi perubahan kebutuhan dasarnya.
Dalam proses adaptasi ini, Roy juga memandang manusia secara holistik yang
merupakan satu kesatuan. Melalui uraian di atas, penulis akan membahas
konsep holistik dalam keperawatan melalui pendekatan model adaptasi Sister
Calista Roy. Tujuan penulisan ini agar dapat dipahami konsep holistik yang
merupakan salah satu dasar ilmu keperawatan dan mengkaji lebih jauh
keterkaitan antara konsep holistik dengan model adaptasi dari Sister Calista
Roy.

B. Tujuan
Tujuan disusunnya makalah ini yaitu:

1. Memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Holistik 1


2. Belajar untuk mengaplikasikan caring dan
3. Belajar untuk mengaplikasikan hubungan interpersonal.

BAB II

TINJAUAN TEORI
A. Keperawatan Holistik
Betty Neuman (dalam, MarrinerTomey, 1994) mengubah istilah
holistik menjadi wholistik yang makna dan pengertiannya sama, yaitu
memandang manusia (klien) sebagai suatu keseluruhan yang bagianbagiannya

saling

mempengaruhi

dan

Bagianbagian tersebut meliputi fisiologis,

berinteraksi

secara

dinamis.

psikologis, sosiokultural dan

spiritual. Perubahan istilah tersebut untuk meningkatkan pemahaman terhadap


manusia secara keseluruhan.
Kozier (1995), mengemukakan bahwa dalam holistik, memandang
semua kehidupan organisme sebagai interaksi. Gangguan pada satu bagian
akan mengganggu sistem secara keseluruhan. Dengan kata lain adanya
gangguan pada salah satu bagian akan menimbulkan dampak pada
keseluruhan.
Erikson, Tomlin dan Swain (dalam Marriner-Tomey, 1994) juga
mengemukakan tentang holism, yang memandang bahwa manusia adalah
individu secara keseluruhan yang terdiri dari banyak subsistem yang saling
ketergantungan dan tidak dapat dipisahkan. Hal ini terkait dengan pembawaan
yang

berhubungan dengan keturunan dan pengendalian spiritual. Tubuh,

pikiran, emosi dan semangat merupakan unit keseluruhan yang sifatnya


dinamis. Bersifat saling mempengaruhi dan mengendalikan satu sama lain.
Interaksi dari berbagai subsistem ini tidak dapat dipisahkan, yang akhirnya
menghasilkan holism. Holistik berkaitan dengan kesejahteraan (wellness)
yang diyakini mempunyai dampak terhadap status kesehatan manusia.
Anspaugh (dalam Kozier, 1995)

menyatakan bahwa untuk mencapai

kesehatan dan kesejahteraan, ada lima dimensi yang saling terkait dan
ketergantungan dan dimiliki oleh tiap individu, yaitu:

1. Dimensi fisik Kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas seharihari, pencapaian kehehatan, memelihara nutrisi secara adekuat dan berat
badan ideal, terhindar dari ketergantungan obat dan alkohol atau rokok serta
secara umum melakukan kebiasan hidup positif.
2. Dimensi sosial Terkait dengan kemampuan seseorang berinteraksi secara
baik dengan orang lain dan lingkungan, membina dan memelihara keakraban
dengan orang lain serta menghargai dan toleransi terhadap kepercayaan yang
berbeda.
3. Dimensi emosional Menekankan bahwa individu memiliki kemampuan
untuk menghadapi stres dan mengekspresikan emosi dengan baik.
Kesejahteraan

emosional,

bila

dapat

mengenal,

menerima

dan

mengekspresikan perasaan dan kekurangan orang lain.


4. Dimensi intelektual Terkait dengan kemampuan seseorang untuk belajar
dan

menggunakan

karier.

Kesejahteraan

intelektual

meliputi

usaha

meneruskan pertumbuhan dan belajar menghadapi masalah baru secara


efektif.
5. Dimensi spiritual Terkait dengan keyakinan dalam beberapa hal seperti:
alam, ilmu, agama atau kekuatan yang lebih tinggi yang membantu manusia
mencapai tujuan kehidupan. Meliputi moral, nilai, dan etik yang dimiliki
seseorang.
Berdasarkan konsep di atas, dapat dijelaskan bahwa seorang perawat
dalam merawat pasien harus memandang sebagai satu kesatuan yang utuh.
Bagian-bagian atau dimensi saling berinteraksi dan apabila terjadi gangguan
pada salah satu bagian akan mempengaruhi keseimbangan dan keutuhan
kesatuan tersebut.

B. Caring
Caring secara umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
berdedikasi bagi orang lain, pengawasan dengan waspada, menunjukkan
perhatian, perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau
menyayangi yang merupakan kehendak keperawatan (Potter & Perry, 2005).

Selain itu, caring mempengaruhi cara berpikir seseorang, perasaan dan


perbuatan seseorang. Caring juga mempelajari berbagai macam philosofi dan
etis perspektif.
Caring adalah sentral untuk praktik keperawatan karena caring
merupakan suatu cara pendekatan yang dinamis, dimana perawat bekerja
untuk lebih meningkatkan kepeduliannya kepada klien (Sartika & Nanda,
2011). Dalam keperawatan, caring merupakan bagian inti yang penting
terutama dalam praktik keperawatan.
Ada beberapa definisi caring yang diungkapkan para ahli keperawatan:
Watson (1979) yang terkenal dengan Theory of Human Caring, mempertegas
bahwa caring sebagai jenis hubungan dan transaksi yang diperlukan antara
pemberi dan penerima asuhan untuk meningkatkan dan melindungi pasien
sebagai manusia, dengan demikian mempengaruhi kesanggupan pasien untuk
sembuh.
Marriner dan Tomey (1994) menyatakan bahwa caring merupakan
pengetahuan kemanusiaan, inti dari praktik keperawatan yang bersifat etik dan
filosofikal. Caring bukan semata-mata perilaku. Caring adalah cara yang
memiliki makna dan memotivasi tindakan. Caring juga didefinisikan sebagai
tindakan yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan memperhatikan emosi
sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien (Carruth et al., 1999).
Griffin (1983) membagi konsep caring ke dalam dua domain utama. Salah
satu konsep caring ini berkenaan dengan sikap dan emosi perawat, sementara
konsep caring yang lain terfokus pada aktivitas yang dilakukan perawat saat
melaksanakan fungsi keperawatannya. Griffin menggambarkan caring dalam
keperawatan sebagai sebuah proses interpersonal esensial yang mengharuskan
perawat melakukan aktivitas peran yang spesifik dalam sebuah cara dengan
menyampaikan ekspresi emosi-emosi tertentu kepada resepien. Aktivitas
tersebut menurut Griffin meliputi membantu, menolong, dan melayani orang
yang mempunyai kebutuhan khusus. Proses ini dipengaruhi oleh hubungan
antara perawat dengan pasien.
Hall (1969) mengemukakan perpaduan tiga aspek dalam teorinya. Sebagai
seorang perawat, kemampuan care, core, dan cure harus dipadukan secara

seimbang sehingga menghasilkan asuhan keperawatan yang optimal untuk


klien.
Care merupakan komponen penting yang berasal dari naluri seorang
ibu. Core merupakan dasar dari ilmu sosial yang terdiri dari kemampuan
terapeutik, dan kemampuan bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain.
Sedangkan cure merupakan dasar dari ilmu patologi dan terapeutik. Dalam
memberikan asuhan keperawatan secara total kepada klien, maka ketiga unsur
ini harus dipadukan (Julia, 1995).

BAB III

TINJAUAN KASUS
A. Deskripsi Klien
Klien yang penulis pilih untuk tugas ini ialah nenek berusia 78 tahun
yang bernama Nanik Supartin. Nenek ini hidup di sebuah desa di Kabupaten
Bantul, Yogyakarta bersama beberapa anggota keluarga. Walaupun usianya
sudah 78 tahun, namun beliau masih kuat untuk memasak dan mencuci
pakaian yang ringan. Setiap kali waktu sholat, beliau selalu menyempatkan
diri untuk berangkat ke masjid yang tidak jaur dari rumahnya. Jika tidak ada
kegiatan, beliau sering kali mendengarkan radio atau menonton televise.
Kadang kala juga berkunjung ke rumah tetangga untuk sekadar cerita dengan
sesama orang yang lanjut usia. Usia yang sudah tak muda lagi membuat
tubuhnya menjadi cukup bungkuk dan beliau sering mengeluhkan lututnya
yang sering kali sakit hingga membuat aktivitasnya menjadi terganggu.
Fungsi pengelihatan dan pendengarannya sudah mulai menurun. Giginya juga
sudah banyak yang tanggal dan rambutnya hamper seluruhnya berwarna
putih. Jika beliau terlalu lelah dalam melakukan kegiatan, sering kali beliau
jatuh sakit. Entah itu demam, atau tubuh maupun tulanngnya yang terasa
sangat sakit.

B. Waktu Kegiatan
Jumat, 11 November 2016 sampai Minggu, 13 November 2016.

C. Caring Relationship

Mendengarkan cerita saat beliau bercerita ketika muda.


Sharing tentang kehidupan yang penulis alami.
Membantu membelikan bahan makanan untuk memasak dan

kebutuhan sehari hari.


Membantu membelikan obat atau alat penunjang kesehatan.

Membantunya dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

D. Uraian
Saat bertemu dengan nenek, penulis mencium tangannya dan
memberikan salam dengan ramah. Kemudian penulis dengan nenek
berbincang sebentar sebelum nenek tersebut menyuruh penulis untuk
beristirahat karena baru saja sampai di desa tersebut pada malam hari dari
Semarang. Sementara nenek masih menonton televisi dengan bensantai di
kursi.
Keesokan harinya, penulis membantu membelikan bahan makanan di
pasar yang letaknya cukup jauh dari rumah nenek. Cukup banyak bahan sayur
dan bumbu dapur yang dibeli dan bebannya cukup berat terutama bagi
seorang nenek yang sudah cukup lanjut usia.
Setelah membantu membelikan bahan makanan, penulis duduk
bersama dengan nenek dan kemudian nenek bertanya dengan penulis yang
tidak lain adalah cucunya sendiri mengapa lama tidak pulang. Penulispun
menceritakan kegiatannya selama di perkuliahan. Perbincangan ini terjadi
dengan terbuka dan mengalir, namun tidak terlalu lama karena penulis
memiliki kegiatan lain.
Saat penulis akan berangkat, ayah dari penulis berpesan untuk
membelikan WWZ (warm water zack) di sebuah apotek di kota karena WWZ
yang nenek miliki sudah rusak. Akhirnya penulis pun mendapatkan WWZ
tersebut dengan harga yang cukup murah. Biasanya, penulis juga membelikan
suplemen untuk menguatkan sendi dan tulang maupun salep untuk
mengurangi rasa nyeri yang biasanya dialami nenek di lututnya. Jika sang
nenek ingin bepergian cukup jauh, penulis juga biasa mengantarkannya,
misalnya pergi ke bank.
Penulis juga sering membantu dalam melakukan aktivitas sehari-hari
misalnya menjemur kasur, membersihkan penutup tempat tidur. Selain itu
juga ketika nenek sedang di masjid dan sedang hujan, penulis biasanya juga
menjemputnya. Walaupun jarak rumah dengan masjid cukup dekat, namun

jalanan yang dilewati cukup licin sehingga harus berpegangan ketika berjalan
melewati daerah yang cukup licin.
Pada hari Minggu, penulis menyudahi kunjungan di rumah nenek dan
harus kembali ke Semarang untuk melanjutkan kuliah esok harinya. Nenek
berpesan untuk belajar dengan sungguh-sungguh, jangan terlalu asik bermain
dan jangan sampai melupakan ibadah. Beliau juga berpesan agar bisa
membanggakan orang tua dan menjadi apa yang selama ini dicita-citakan.

BAB IV

KESIMPULAN

Sebagai mahasiswa ilmu keperawatan, kita harus bisa menerapkan sifat caring
dan keperawatan holistic terutama hubungan interpersonal. Melalui project ini,
penulis jadi bisa mengetahui bagaimana kehidupan orang lain yang membutuhkan
bantuan orang lain serta bisa menggerakkan hati untuk menolong orang lain yang
memang membutuhkan bantuan. Project ini juga memberi gambaran bagaimana cara
kita untuk menjadi perawat yang bisa melihat masalah seseorang dari berbagai aspek
dan membuktikan bahwa caring dan hubungan interpersonal sangat penting untuk
diterapkan dalam menjalankann tugas keperawatan.

Daftar Pustaka
Salbiah. 2006. Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2 Nomor 1. Diakses
pada Minggu, 13 November 2016 pukul 22.13 dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21166/1/ruf-mei2006-2%20(7).pdf

USU. Chapter II. pdf. Diakses pada minggu 13 november 2016 pukul 22.15 dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/40425/3/Chapter%20II.pdf