Anda di halaman 1dari 13

Pemisahan dengan Kromatografi Lapis Tipis

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat ini kromatografi merupakan salah satu teknik pemisahan yang
paling umum dan paling sering digunakan dalam kimia analis dan dapat
dimanfaatkan untuk melakukan analisis, baik analisis kualitatif, kuantitatif,
atau preparatif dalam berbagai bidang seperti bidang farmasi, lingkungan,
industri, dan sebagainya (Underwood, 2002).
Seorang

ahli

botani

Rusia

Michael

Tswett

pertama

kali

mengembangkan teknik kromatografi pada tahun 1903 untuk memisahkan


pigmen berwarna dalam tanaman dengan cara perkolasi ekstrak petroleum
eter dalam kolom gelas yang berisi kalsium karbonat (CaCO 3) (Pudjaatmaka,
2002).
Teknik kromatografi telah berkembang dan telah digunakan untuk
memisahkan dan mengkuantifikasi berbagai macam komponen kompleks,
baik komponen organik maupun komponen anorganik (Pudjaatmaka, 2002).
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan zat untuk analisis dan
preparative dengan melarutkan campuran dalam fase bergerak (cairan atu
gas), yang mengalir melalui fase diam atau stasioner dimana zat-zat yang
hendak dipisahkan harus berinteraksi dengan fase stasioner dengan kuat yang
berbeda-beda. Interaksi ini dapat bersifat adsorpsi, partisi, ion pengayakan
molekuler atau lainnya (Underwood, 2002).
Berdasarkan pada alat yang digunakan, kromatografi dibagi atas
kromatografi kertas, kromatografi lapis tipis, yang keduanya sering disebut
kromatografi planar. Berdasarkan macam fase bergerak, dikenal kromatografi
cair kinerja tinggi (KCKT), dan kromatografi gas (KG) . Bentuk kromatografi
yang paling awal adalah kromatografi kolom yang digunakan untuk
pemisahan sampel dan jumlah besar (Sudjadi, 2012).
Dalam praktikum kali ini, teknik yang kita lakukan adalah
kromatografi lapis tipis. Kromatografi lapis tipis adalah kromatografi yang
campuran bahan aktifnya ditempatkan pada selaput tipis pada lempeng,

NUR HAYANI
15020150122

SUMARNI HATTA

Pemisahan dengan Kromatografi Lapis Tipis


dikeringkan, dan kemudian kromatografi dilakukan dalam salah satu arah atau
lebih pada lempeng itu.
1.2 Maksud Praktikum
Mengetahui dan memahami cara-cara pemisahan dan identifikasi
kation dan anion dengan menggunakan kromatografi lapis tipis.
1.3 Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui dan memahami cara-cara pemisahan

dan

mengidentifikasi kation dan anion yang terdapat dalam suatu sampel dengan
metode kromatografi lapis tipis.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Teori Umum
Kromatografi

adalah

suatu

metode

pemisahan

fisik,

dimana

komponen-komponen yang dipisahkan didistribusikan diantara dua fasa, salah


satu fasa tersebut adalah suatu lapisan stasioner dengan permukaan yang luas,
yang lainnya sebagai fluida yang mengalir lembut di sepanjang landasan

NUR HAYANI
15020150122

SUMARNI HATTA

Pemisahan dengan Kromatografi Lapis Tipis


stasioner. Fase stasioner bisa berupa padatan maupun cairan, sedangkan fase
bergerak bisa berupa cairan maupun gas (Underwood, 2002).
Kromatografi merupakan teknik pemisahan zat untuk analisis dan
preparatif dengan melarutkan campuran dalam fase bergerak yang mengalir
melalui fase diam atau stasioner, dimana zat-zat yang hendak dipisahkan harus
berinteraksi dengan fase stasioner dengan kuat yang berbeda-beda. Interaksi
ini dapat bersifat adsorpsi, partisi, pertukaran ion, pengayakan molekuler, atau
lainnya. Dilihat dari macam fase bergerak, dikenal kroamtografi gas dan
kromatografi cairan, yang kedua ini dapat berupa kromatografi kolom,
kromatografi kertas, kromatografi lapis tipis, kromatografi penukaran ion, dan
sebagainya. Dulu cara ini digunakan untuk memisah-misahkan zat warna
sehingga diberi nama demikian (kromos warna), (chromatography)
(Pudjaatmaka, 2002).
Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh izmailoff dan
Schraiber pada tahun 1938. KLT merupakan bentuk kromatografi planar,
selain kromatografi kertas dan elektroforesis. Berbeda dengan kromatografi
kolom yang mana fase diamnya diisikan atau dikemas di dalamnya, pada
kromatografi lapis tipis, fase diamnya berupa lapisan yang seragam (uniform)
pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, pelat
aluminium, atau pelat plastik. Meskipun demikian, kromatografi planar ini
dapat

dikatakan

sebagai

bentuk

terbuka

dari

kromatografi

kolom

(Pudjaatmaka, 2002).
Fase gerak yang dikenal sebagai pelarut pengembang akan bergerak
sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler pada pengembangan secara
menaik (ascending), atau karena pengaruh gravitasi pada pengembangan
secara menurun (descending) (Pudjaatmaka, 2002)..
Kromatografi lapis tipis dalam pelaksanaanya lebih mudah dan lebih
murah dibandingkan dengan kromatografi kolom. Demikian pula peralatan
yang digunakan. Dalam kromatografi lapis tipis, peralatan yang digunakan
lebih sederhana dan dapat dikatakan bahwa hamper semua laboratorium dapat
melaksanakan setiap saat secara cepat (Sudjadi, 2012).
Pada teknik kromatografi, nilai Rf obat dihubungkan dengan koefisien
partisi secara matematika. Plat lapis tipis atau lembaran kertas diberi lapisan

NUR HAYANI
15020150122

SUMARNI HATTA

Pemisahan dengan Kromatografi Lapis Tipis


awal dengan fase organik (biasanya paraffin atau oktanol) dan dibiarkan
mengering. Sampel kemudian diletakkan pada plat dan plat dibiarkan
mengembang. Fase gerak yang digunakan, dapat berupa air atau campurannya
air dengan pelarut organik yang dapat bercampur (seperti aseton) untuk
meningkatkan kelarutan obat (Sudjadi, 2012).
Setelah plat mengembang, bercak-bercak yang terbentuk segera dilihat
(dengan menggunakan lampu ultra violet jika obat tersebut memiliki gugus
kromofor, atau dengan uap iodin jika obat tidak memiliki gugus kromofor),
dan Rf masing-masing bercak ditentukan. Rf adalah hasil pembagian antara
jarak perpindahan bercak dengan jarak pengembangan pelarut, dan dituliskan
dalam bentuk nilai desimal (Cairns, 2008).
Harga Rf cukup konstan asal semua variable dikendalikan baik-baik.
Namun dijumpai bahwa laju-laju relatif gerakan itu konstan meskipun kendali
itu kurang ketat, sehingga memungkinkan identifikasi satu pita pada sepotong
kertas berdasarkan posisi relative pita itu terhadap pita-pita yang diketahui.
Lagi pula dengan besarnya jumlah uji bercak yang tersedia untuk mendeteksi
ion-ion anorganik secara terpisah, keharusan mengetahui harga-harga Rf
secara cermat, telah berkurang. Jika kemurnian pelarut, temperature dan
penjenuhan atmosfernya benar-benar dijaga, maka harga Rf dipengaruhi
antara lain oleh faktor-faktor berikut : (Svehla, 1985).
a. Kehadiran ion lain, misalnya adanya klorida dalam pemisahan yang
dilakukan dengan larutan-larutan nitrat.
b. Keasaman larutan aslinya, ini dapat disebabkan oleh kebutuhan akan asam
dalam pembentukan kompleks yang dapat larut dalam pelarut organik,
untuk mencegah hidrolisis garam, dsb.
c. Waktu melakukan percobaan untuk sepotong kertas, kadang-kadang harga
Rf meningkat dengan bertambahnya waktu dan ini mungkin berpadanan
dengan berkurangnya laju gerak garis depan pelarut.
d. Adanya kation-kation lain dan konsentrasi mereka.
Beberapa keuntungan lain kromatografi planar adalah : (Sudjadi, 2012)
a. Kromatografi lapis tipis banyak digunakan untuk tujuan analisis.
b. Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna,
fluoresensi, atau dengan radiasi menggunakan sinar ultra violet.

NUR HAYANI
15020150122

SUMARNI HATTA

Pemisahan dengan Kromatografi Lapis Tipis


c. Dapat dilakukan elusi secara menaik (ascending), menurun (descending),
atau dengan cara elusi 2 dimensi.
d. Ketetapan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang akan
ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak.

BAB 3 METODE KERJA


3.1 Alat Praktikum
Adapun alat yang digunakan diantaranya: aluminium foil, batang
pengaduk, camber, corong pisah, gelas kima 100 mL, gelas arloji, kertas
saring, lampu sinar UV 254 nm, pipet tetes, pipet skala, pinset, pipa kapiler,
dan statif.
3.2 Bahan Praktikum
Adapun bahan yang digunakan diantaranya: larutan Mg, larutan Ca,
larutan Mg standar, ditiazon, HNO3, dan silika gel G.
3.3 Cara Kerja
a. Sampel
1. Di masukkan sampel kedalam gelas ukur.
2. Ditambahkan dengan 1 ml Mg , 1 ml Ca dan 1 ml ditazon
3. Dilarutkan kemudian di kocok (Terbentuk 2 lapisan putih dan putih biru
4.
5.
6.
b.
1.

dibunang dan biru diambil)


Lapisan warna biru ditambahkan dengan 1 ml HNO3
Dipisahkan lagi, diambil larutan warna biru
Ditotol dan akan menghasilkan positif warna merah
Standar
Di masukkan sampel kedalam gelas ukur.

NUR HAYANI
15020150122

SUMARNI HATTA

Pemisahan dengan Kromatografi Lapis Tipis


2. Ditambahkan 1 ml Mg standard dan 1 ditazon (Terbentuk 2 lapisan orang,
biru
3. Lapisan warna biru ditambahkan dengan 1 ml HNO 3 dan berubah menjadi
warna merah.

NUR HAYANI
15020150122

SUMARNI HATTA

Pemisahan dengan Kromatografi Lapis Tipis


BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Lempen

Jarak zat

Jarak

Nilai

Warna noda

terlarut

pelarut

Rf

4,5 cm

5,5 cm

0,8

Merah muda

II

5 cm

5,5 cm

0,9

Merah muda

Perhitungan
Jarak yang ditempu h zat terlarut
Rf
=
jarak yang ditempu h pelarut
Rf I

4,5
5,5

= 0,8

Rf II

5
5,5

= 0,9

4.2 Pembahasan
Prinsip Kerja KLT yaitu pada proses pemisahan dengan kromatografi
lapis tipis, terjadi hubungan kesetimbangan antara fase diam dan fase gerak,
dimana ada interaksi antara permukaan fase diam dengan gugus fungsi
senyawa organik yang akan diidentifikasi yang telah berinteraksi dengan fasa
geraknya. Kesetimbangan ini dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu : kepolaran fase
diam, kepolaran fase gerak, serta kepolaran dan ukuran molekul.
Kromatografi lapis tipis terdiri dari dua fase yaitu fase diam dan fase
gerak. Fase diam untuk kromatografi ini berupa lempeng yang mengandung
silika gel. Sedangkan fase gerak yang digunakan yakni campuran metanol dan
etil asetat.
Pada Percobaan pertama, pada lempeng I yang telah dipotong diberi garis
atau batas pada ujung bawah 1 cm dan ujung atas 0,5 cm. Kemudian
ditotolkan larutansampel dan larutan standar yang telah dibuat pada garis
NUR HAYANI
15020150122

SUMARNI HATTA

Pemisahan dengan Kromatografi Lapis Tipis


batas bawah dari lempeng, tujuannya yaitu untuk melihat posisi awal hingga
akhir dari totolan. Kemudian lempeng yang telah ditotol dimasukkan kedalam
camber, lalu ditutup agar lempeng terjenuhkan oleh uap pelarut. Apabila noda
pada lempeng telah mencapai batas atas lempeng dikeluarkan lalu diamati
dibawah lampu sinar UV 254 nm untuk melihat dengan jelas noda pada
lempeng. Dari hasil percobaan di peroleh nilai Rf 0,8 dengan panjang noda
4,5 cm dan noda pada lempeng berwarna pink kemerahan.
Pada percobaan kedua, pada lempeng II yang telah dipotong diberi garis
atau batas pada ujung bawah 1 cm dan ujung atas 0,5 cm. Kemudian
ditotolkan larutan sampel dan larutan standar yang telah dibuat pada garis
batas bawah dari lempeng, tujuannya yaitu untuk melihat posisi awal hingga
akhir dari totolan. Kemudian lempeng yang telah ditotol dimasukkan kedalam
camber. Setelah lempeng dimasukkan, chamber ditutup kembali, agar
meyakinkan bahwa kondisi dalam chamber tersebut terjenuhkan oleh uap dari
pelarut. Kondisi jenuh dalam chamber dengan uap mencegah penguapan
pelarut.
Ketika pelarut mulai membasahi lempeng, pelarut pertama akan
melarutkan senyawa-senyawa dalam bercak yang telah ditempatkan pada garis
dasar. Senyawa-senyawa akan cenderung bergerak pada lempeng kromatografi
sebagaimana halnya pergerakan pelarut.
Setelah didiamkan beberapa menit, sampel diangkat dan di keringkan
lalu dilihat dibawah sinar UV 254 nm. Saat disinari akan muncul bercak dan
bercak itu ditandai menggunakan pensil dengan melingkarinya.
Setelah mendapatkan posisi dari bercak tersebut, maka dapat dihitung
nilai Rfnya dengan membagi jarak yang ditempuh zat terlarut dibagi dengan
jarak yang ditempuh pelarut dan didapatkan hasil yaitu 0,8 dengan panjang
noda 5 cm. Dengan nilai ini dapat pula ditentukan golongan sampel tersebut
yaitu golongan II A unsure Hg(II).
Rf merupakan nilai dari Jarak relative pada pelarut. Harga Rf dihitung
sebagai jarak yang ditempuh oleh komponen dibagi dengan jarak tempuh oleh
eluen (fase gerak) untuk setiap senyawa. Rf juga menyatakan derajat retensi
suatu komponen dalam fase diam. Karena itu Rf juga disebut factor referensi.

NUR HAYANI
15020150122

SUMARNI HATTA

Pemisahan dengan Kromatografi Lapis Tipis


Faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan noda dalam kromatografi lapisan
tipis yang juga mempengaruhi harga Rf adalah :
Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan.
Sifat dari penyerap dan derajat aktifitasnya.
Pelarut (dan derajat kemurniannya) fase bergerak..
Derajat kejenuhan dan uap dalam bejana pengembangan yang digunakan.
Jumlah cuplikan yang digunakan.
Suhu
Kesetimbangan.
Nilai RF dinyatakan hingga angka 1,0. Beberapa pustakawan
menyatakan nilai RF yang baik menunjukkan angka pemisahan berkisar antara
0,2 hingga 0,8.

NUR HAYANI
15020150122

SUMARNI HATTA

Pemisahan dengan Kromatografi Lapis Tipis


BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari pratikum pemisahan kromatografi lapis tipis dapat disimpulkan
bahwa nilai Rf I dan II yang didapatkan yaitu 0,8 cm dan 0,9 cm.
5.2 Saran
Adanya komunikasi yang baik antara praktikan dan asisten pendamping
dalam praktikum sehingga segala sesuatunya lebih terkoordinasi dan
janganlah bosan dalam mengawasi jalannya praktikum yang dilakukan
praktikan dalam laboratorium diharapkan agar dapat lebih baik untuk
mengurangi faktor kesalahan pada praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

NUR HAYANI
15020150122

SUMARNI HATTA

Pemisahan dengan Kromatografi Lapis Tipis


Anonim, 2016, Penuntun Praktikum Kimia Analisis Farmasi, Universitas Muslim
Indonesia : Makassar.
Cairns, D, 2008, Intisari Kimia Farmasi, EGC : Jakarta.
Underwood, 2002, Analisis Kimia Kualitatif, Erlangga : Jakarta.
Pudjaatmaka, A., 2002, Kamus Kimia, Balai Pustaka : Jakarta.
Sudjadi, 2012, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
Svehla, G., 1985, Vogel bagian 2 Edisi Kelima, PT Kalman Media Pustaka :
Jakarta.

SKEMA KERJA

NUR HAYANI
15020150122

SUMARNI HATTA

Pemisahan dengan Kromatografi Lapis Tipis


Larutan sampel
Sampel
+ 1 ml Mg
+ 1 ml Ca
+ 1 ml ditiazon
Larutkan kemudian dikocok
Terbentuk 2 lapisan; putih dan biru.
Laruan putih di buang dan larutan biru diambil
Lapisan warna biru di tambah HNO3 1 ml
Dipisahkan dan diambil larutan warna biru
Ditotol pada lempeng
Larutan standar
1 ml Mg standar
+ 1 ml ditiazon
Terbentuk 2 lapisan; putih dan biru

Lapisan warna biru ditambahkan HNO3 1 ml


Berubah warna menjadi merah

LAMPIRAN
NUR HAYANI
15020150122

SUMARNI HATTA

Pemisahan dengan Kromatografi Lapis Tipis

Setelah di masukkan pada camber (di elusi)

Hasil pada lampu sinar UV 254 nm

NUR HAYANI
15020150122

SUMARNI HATTA