Anda di halaman 1dari 15

I.

Kategori dan Sumber Limbah di Rumah Sakit

Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan dari


kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat, cair dan gas. Berdasarkan
wujudnya, limbah dibedakan menjadi tiga bagian yaitu: (Deden
Abdurahman, 2006:103)
1. Limbah padat adalah limbah yang berwujud padat. Limbah padat
bersifat kering, tidak dapat berpindah kecuali ada yang memindahkan.
Limbah padat ini misalnya sisa makanan, sayuran, potongan kayu,
sobekan kertas, sampah plastik dan logam.
2. Limbah cair adalah gabungan atau campuran dari air dan bahan-bahan
pecemar yang terbawa oleh air, baik dalam keadaan terlarut maupun
tersuspensi yang terbuang dari sumber domestik (perkantoran,
perumahan dan perdagangan), sumber industri, dan pada saat tertentu
tercampur dengan air tanah, air permukaan, atau air hujan (Soeparman
dkk,2001:25). Contoh limbah cair adalah berasal dari dapur, laundry,
laboratorium dan rembesan tangki septic tank (Deden Abdurahman,
2006:103).
3. Limbah gas adalah limbah (zat buangan) yang berwujud gas. Limbah
gas dapat dilihat dalam bentuk asap limbah gas selalu bergerak,
sehingga penyebarannya sangat luas. Contoh limbah gas adalah asap
dari hasil pembakaran limbah di incinerator.
Limbah rumah sakit merupakan campuran yang heterogen sifatsifatnya. Seluruh jenis limbah ini dapat mengandung limbah berpotensi
infeksi. Kadangkala, limbah residu insenerasi dapat dikategorikan sebagai
limbah B3 bila insenerasi sebuah rumah sakit tidak sesuai dengan kriteria
atau tidak dioperasikan dengan sesuai. Berdasarkan bahaya atau tidaknya
limbah rumah sakit dapat digolongkan menjadi limbah medis padat dan
non medis padat (Menkes No 1204 Tahun 2004)
A. Limbah medis padat
Limbah medis padat adalah limbah padat yang terdiri dari limbah
infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah
citotoksis, limbah kimia, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan,
dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi.
Bentuk limbah klinis bermacam-macam dan berdasarkan potensi
yang terkandung di dalamnya dapat dikelompokkan sebagai berikut
(Depkes RI, 2002:71).

1. Limbah infeksius
Limbah infeksius adalah limbah yang berkaitan dengan pasien yang
memerlukan isolasi penyakit menular (perawatan intensif) atau limbah
laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari
poliklinik dan ruangan perawatan atau isolasi penyakit menular (Depkes
RI, 2002:73).
Limbah infeksius dapat mengandung berbagai macam
mikroorganisme patogen. Patogen tersebut dapat memasuki tubuh manusia
melalui beberapa jalur antara lain: (A. Puss, dkk, 2005:21).
a. Akibat tusukan, lecet atau luka di kulit
b. Melalui membran mukosa
c. Melalui pernafasan
d. Melalui ingesti
2. Limbah jaringan tubuh(patologis)
Limbah jaringan tubuh meliputi organ, anggota badan, placenta,
darah, cairan tubuh, janin manusia dan bangkai hewan(A. Puss, dkk,
2005:4)
Jaringan tubuh yang tampak nyata seperti anggota badan dan placenta
yang tidak memerlukan pengesahan penguburan hendaknya dikemas
secara khusus, diberi label dan dibuang ke incinerator di bawah
pengawasan petugas berwenang. Cairan tubuh, terutama darah dan cairan
yang terkontaminasi berat oleh darah harus diperlakukan dengan hatihati(Depkses,2002:73)
3. Limbah benda tajam
Limbah benda tajam adalah objek atau alat yang memiliki sudut
tajam, sisi, ujung atau bagian menonjol yang dapat memotong atau
menusuk kulit, seperti jarum hipodermik, perlengkapan intravena, pipet
pasteur, pecahan gelas dan pisau bedah. Limbah benda tajam mempunyai
potensi bahaya tambahan yang dapat menyebabkan infeksi atau cidera
karena mengandung bahan kimia beracun atau radioaktif. Potensi untuk
menularkan penyakit akan sangat besar bila benda tajam tadi digunakan
untuk pengobatan infeksi atau penyakit infeksi (Depkes RI, 20002:72)
4. Limbah farmasi
Limbah farmasi berasal dari :
a. Obat-obatan yang kadaluwarsa
b. Obat-obatan yang terbuang karena tidak memenuhi spesifikasi
atau kemasan yang terkontaminasi.

c. Obat-obatan yang tidak diperlukan oleh institusi


bersangkutan
d. Limbah yang dihasilkan selama produksi obat-obatan.

yang

5. Limbah citotoksik
Limbah citotoksik adalah bahan yang terkontaminasi atau mungkin
terkontaminasi dengan obat citotoksik selama percikan, pengangkutan,
atau tindakan terapi citotoksik. Untuk menghapus tumpahan yang tidak
sengaja, perlu disediakan absorbe yang tepat. Bahan pembersih hendaknya
selalu tersedia dalam ruangan percikan terapi citotoksik.
6. Limbah kimia
Limbah kimia adalah limbah yang dihasilkan dari penggunaan kimia
dalam tindakan medis, veterinary, laboratorium, proses strerilisasi dan riset
(Depkes RI, 2002:75). Limah kimia mengandung zat kimia yang
berbentuk padat, cair maupun gas yang berasal dari aktifitas diagnosa dan
eksperimen. Limbah kimia yang tidak berbahaya antara lain gula, asam
amino dan garam-garam organik dan non organik. Sedangkan bahan kimia
berbahaya yang sering digunakan di rumah sakit dan berpotensi
menghasilkan limbah antara lain: (A.Prus, dkk, 2005:6).
a. Formaldehid
Formaldehid merupakan salah satu sumber penting limbah kimia
di rumah sakit. Zat ini digunakan membersihkan berbagai peralatan
(misalnya : peralatan bedah atau hemodialisa), untuk mengawetkan
spesimen, dan membersihkan limbah cair yang infeksius di bagian
patologis, otopsi, dialis, pembalseman mayat dan dibagian
keperawatan.
b. Zat kimia fotografis
Larutan pencucian foto (fixer dan developer) digunakan di bagian
rontgen. Larutan fixer biasanya mengandung 5-10% hidroquinon, 15% kalium hidroksida, 19 dan maksimal 1% perak. Larutan developer
mengandung sekitar 45% glutaraldehid. Asam asetat juga digunakan
baik dalam larutan pada bak maupun dalam larutan fixer.
c. Solven
Limbah yang mengandung solven (zat pelarut) dapat berasal dari
berbagai bagian di rumah sakit, termasuk bagian patologi dan
histology serta laboratorium dan bagain mesin. Solven yang

digunakan antara lain senyawa terhalogenasi seperti metilen klorida,


kloroform, dan pendingin (refrigerants) serta senyawa tidak
terhalogenasi seperti xylem, methanol, aseton, isopropanaol, toluene,
etil asetat dan asetonitril.
d. Zat kimia organik
Kimia organik yang dihasilkan dari ligkungan instalansi kesehatan
mencakup:
1) Larutan disinfektan dan pembersih seperti larutan yang
mengandung fenol digunakan untuk menggosok lantai,
perkloretilen di gunakan untuk pekerjaan gudang dan cuci.
2) Minyak seperti minyak pelumas untuk pompa vakum yang
mengandung minyak kendaraan (jika rumah sakit mempunyai
bengkel sendiri).
3) Insektisida dan rodentisida
e. Zat kimia anorganik
Limbah kimia anorganik terutama mengandung berbagai macam
asam dan basa (misalnya, sulfurat, hidroklorat, nitrit dan asam
kromat, natrium hidroksida dan larutan amonia) limbah ini juga
mencakup oksidan, seperti kalium, KMNO4) 20 dan kalium karbonat
juga agen pereduksi, seperti natrium bisulfit dan natrium sulfit.
f. Limbah radioaktif
Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan
radioisotop yang berasal dari penggunaan media atau riset
radionuclida. Limbah ini dapat berasal dari tindakan kedokteran
nuklir, radio immunoassay, dan bakteriologis dapat berbentuk padat,
cair atau gas.
B. Limbah non medis
Limbah non medis padat adalah limbah yang dihasilkan dari kegiatan
di rumah sakit di luar medis yang berasal dari dapur, perkantoran, taman
dan halaman yang dapat dimanfaatkan kembali apabila ada teknologinya.
Sekitar 75-90% limbah non medis padat merupakan limbah yang tidak
mengandung resiko dan 10-25% merupakan limbah medis padat yang
dipandang berbahaya dan dapat menimbulkan berbagai jenis dampak
kesehatan bagi petugas, pengunjung dan lingkungan (A. Pruss, dkk,
2005:3).

Dari sekian banyak jenis limbah medis padat dan non medis padat
maka yang membutuhkan perhatian khusus adalah limbah medis padat
yang dapat menyebabkan penyakit menular. Limbah ini biasanya hanya
10-15% dari selurauh limbah kegiatan pelayanan kesehatan.
Pengelolaan Limbah di Rumah Sakit
1. Pemisahan dan pengurangan
Limbah harus di identifikasi dan dipilah-pilah. Pengurangan jumlah
limbah hendaknya merupakan proses yang berkelanjutan. Pemilahan dan
reduksi jumlah limbah klinis dan sejenisnya merupakan persyaratan
keamanan penting untuk petugas pembuang limbah, petugas darurat dan
masyarakat.
Pemilahan
danpengurangan
limbah
hendaknya
mempertimbangkan kelancaran pengelolaan dan penampungan limbah
serta pengurangan jumlah limbah yang memerlukan perlakuan khusus.
Pemisahan limbah berbahaya dari semua limbah pada tempat penghasil
limbah adalah cara pembuangan yang baik. Limbah dimasukkan ke dalam
kantong atau kontainer penyimpanan, pengangkutan dan pembuangan
guna mengurangi kemungkinan kesalahan petugas dalam pengelolaan
limbah (Depkes RI,2002:78).
A. Karakteristik Bahan Berbahaya dan Beracun
Menurut peraturan pemerintah nomor 74 tahun 2001 karakteristik bahan
berbahaya dan beracun pasal 5 ayat 1 adalah sebagai berikut :
a. Mudah meledak (explosive)
Bahan mudah meledak (explosive) adalah bahan yang pada suhu dan
tekanan standar (250C, 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi
kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan
tinggi yang dengan cepat merusak lingkungan di sekitar.
b. Pengoksidasi (oxidizing)
Pengujian bahan padat yang termasuk dalam kriteria B3
pengoksidasi dapat dilakukan dengan metode uji pembakaran
menggunakan ammonium persulfat sebagai senyawa standar. Sedangkan
untuk bahan berupa cair senyawa standar yang digunakan adalah larutan
asam nitrat.

c. Sangat mudah sekali menyala (extremely flammable)


Bahan sangat mudah sekali menyala extremety flammable) adalah B3 baik
berupa padatan maupun cairan yang memiliki titik nyala di bawah 0 0C dan
titik didih lebih rendah atau sama dengan 350C.
d. Sangat mudah menyala (highly flammable)
Bahan sangat mudah menyala (highly flammable) adalah B3 baik berupa
padatan maupun cairan yang memiliki titik nyala 0-210C.
e. Mudah menyala flammable)
Mempunyai salah satu dari sifat berikut :
a) Berupa cairan
Bahan berupa cairan yang mengandung alkohol kurang dari 24% volume
dan atau pada titik nyala (flash point) tidak lebih dari 60 0C (1400F) akan
menyala apabila tidak terjadi kontak dengan api, percikan api atau sumber
nyala lain pada tekanan udara 760 mmHg.
b) Berupa padatan
B3 yang bukan berupa cairan, pada temperatur dan tekanan standar (25
0C, 760 mmHg) dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran
melalui gesekan, penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan
dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran yang terus-menerus
dalam 10 detik .
f. Amat sangat beracun (extremely toxic)
Apabila memiliki LD50(Lethal Dose Fifty) kurang atau sama dengan 1
mg/kg. Yang dimaksud dengan LD50 adalah perhitungan dosis (gram
pencemar per kilogram) yang dapat menyebabkan kematiaan 50%
populasi mahluk hidup yang dijadikan percobaan. Apabila LD50
lebih besar dari 15 gram per kilogram berat badan maka limbah tersebut
bukan limbah B3.
g. Sangat beracun (highly toxic)
Bahan yang dapat menyebabkan kerusakan kesehtan akut dan kronis
dan bahkan kematian pada konsentrasi sangat rendah jika masuk ke tubuh
melalui inhalasi atau kontak dengan kulit.

h. Beracun (Moderate toxic)


B3 yang bersifat racun bagi manusia akan menyebabkan kematian
atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan,
kulit atau mulut.
i. Berbahaya (Harmful)
Berbahaya (Harmful) adalah bahan baik padatan, cairan ataupun gas
yang jika terjadi kontak atau melalui inhalasi ataupun oral dapat
menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai ke tingkat tertentu.
j. Korosif (corrosive)
B3 yang memiliki sifat korosif memiliki sifat antara lain:
1. Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit.
2. Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja SAE 1020
dengan laju korosi lebih besar dari 6, 35 mm/tahun dengan
temperatur pengujian 550C.
3. Mempunyai pH sama atau kurang dari 2 untuk B3 bersifat asam
dan sama atau lebih besar dari 11, 25 untuk yang bersifat basa.
Bahan kimia korosif antara lain adalah asam sulfat (H2SO4), asam
nitrat(HNO3), asam klorida (HCL) dan natrium hidrosida (NaOH)
(Achadi Budi Cahyono,2004:12).
k. Bersifat iritan (Iritant)
Bahan baik padatan maupun cairan yang jika terjadi kontak secara
langsung, dan apabila kontak tersebut terus menerus dengan kulit atau
selaput lendir dapat menyebabkan peradangan.
Menurut bentuk zat, bahan kimia iritan dapat dibagi dalam tiga
kelompok yaitu: (Achadi Budi Cahyono,2004:13).
1.
Bahan iritan padat, bahaya akan timbul apabila kontak dengan
kulit atau mata.
2.
Bahan iritan cair, bahaya akan timbul apabila kontak dengan kulit
atau mata yang menyebabkan proses pelarutan atau denaturasi
protein.
3.
Bahan iritan gas, bahaya karena terhirup dan merusak saluran
pernafasan.
l. Berbahaya bagi lingkungan (Dangerous to the anvironment)
Bahaya yang ditimbulkan oleh suatu bahan dapat merusak lapisan
ozon (misalnya CFC), persisten di lingkungan (misalnya PCBs), atau
bahan tersebut dapat merusak lingkungan.

m. Karsinogenik (carsinogenic)
Karsinogenik (carsinogenic) adalah bahan penyebab sel kanker, yaitu sel
liar yang dapat merusak jaringan tubuh.
n. Teratogenik (Teratogenic)
Teratogenik (Teratogenic) adalah sifat bahan yang dapat mempengarui
pertumbuhan dan perkembangan embrio.
o. Mutagenik (Mutagenic)
Mutagenik (Mutagenic) adalah sifat bahan yang dapat menyebabkan
perubahan kromosom yang dapat merusak genetika.
B. Identifikasi Limbah B3
a. Tujuan identifikasi limbah berbahaya dan beracun (B3) antara lain
(Imam Hendro A. Ismoyo, 2009:2)
1) Mengklasifikasi atau menggolongkan limbah tersebut apakah
termasuk limbah B3 atau limbah non B3.
2) Mengetahui sifat limbah B3 tersebut untuk mementukan metode
terbaik dalam penanganan, penyimpanan, pengumpulan,
pengangkutan, pengolahan, pemanfaatan dan atau
penimbunannya.
3) Mementukan sifat limbah B3 termasuk untuk menilai kecocokan
dengan limbah B3 lainnya dalam melakukan penyimpanan dan
pengumpulan limbah B3 tersebut.
4) Menilai dan menganalisis potensi bahaya limbah B3 tersebut
terhadap lingkungan dan atau dampak terhadap kesehatan
manusia dan mahluk hidup lainnya.
5) Dalam rangka delisting suatu limbah B3.
C. Identifikasi limbah B3 dapat dilakukan dengan cara: (Imam Hendro
A. Ismoyo, 2009:5)
a. Mencocockan limbah B3 dengan daftar jenis limbah B3. Apabila
cocok dengan daftar jenis limbah B3 maka limbah tersebut
limbah B3.
b. Apabila limbah tidak cocok dengan daftar jenis maka diperiksa
apakah limbah tersebut memiliki karakteristik: mudah meledak
atau mudah terbakar dan atau beracun dan atau bersifat reaktif
dan atau bersifat korosif.

c. Apabila kedua tahapan tersebut sudah dilakukan dan tidak


memenuhi limbah B3, maka dilakukan dan tidak memenuhi
ketentuan limbah B3, maka dilakukan uji toksikologi sifat akut
dan kronis.
D. Kriteria identifikasi karakteristik limbah B3 didasarkan pada sifat
limbah yang memperlihatkan sifat-sifat berikut: (Imam Hendro A.
Ismoyo, 2009:5)
a. Dapat menyebabkan atau memberikan pengaruh yang berarti
untuk terjadinya dan atau meningkatnya kematian dan atau sakit
yang serius.
b. Berpotensi menimbulkan bahaya terhadap kesehatan manusia
atau lingkungan apabila disimpan, diangkut, dimanfaatkan,
diolah, ditimbun dan dibuang dengan tidak benar atau tidak
dikelola.
2. Prinsip Pengolahan Limbah B3
Menurut Keputusan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
Nomor 01/Bapedal/09/1995 tentang tata cara persyaratan teknis
penyimpanan dan pengumpulan limbah B3. Pengelolaan limbah berbahaya
dan beracun (B3) meliputi kegiatan pengemasan, penyimpanan,
pengumpulan, pengolahan dan pengangkutan yang harus dilakukan dengan
cara yang aman bagi pekerja, masyarakat dan lingkungan.
A. Persyaratan pengemasan B3 (Keputusan Kepala Bapedal
No.01/1995)
a. Persyaratan umum Kemasaan:
1) Kemasan untuk limbah B3 harus dalam kondisi baik, tidak
rusak dan bebas dari pengkaratan serta kebocoran.
2) Bentuk, ukuran dan bahan disesuaikan dengan karakteristik
limbah yang akan dikemas dengan mempertimbangkan segi
keamanan dan kemudian dalam penanganan.
3) Kemasan dapat terbuat dari bahan plastik (HDPE, PP atau
PVC) atau bahan logam (teflon, baja karbon, SS334, SS316
atau SS440) dengan syarat bahan kemasan yang dipergunakan
tersebut tidak bereaksi dengan limbah B3 yang disimpan.
B. Prinsip pengemasan limbah B3
a. Limbah-limbah B3 yang tidak cocok, atau limbah dari bahan
yang saling tidak cocok disimpan secara bersama-sama dalam
satu kemasan.

b. Untuk mencegah resiko timbulnya bahaya selama penyimpanan,


jumlah pengisian limbah dalam kemasan harus
mempertimbangkan kemungkinan terjadinya pengembangan
volume limbah, pembentukan gas, atau terjadinya kenaikan
tekanan.
c. Jika kemasan yang berisi limbah B3 sudah dalam kondisi yang
tidak layak(misalnya terjadi pengkaratan, atau terjadi kerusakan
permanen) atau jika mulai bocor, maka limbah B3 tersebut harus
dipindahkan ke dalam kemasan lain yang memenuhi syarat
sebagai kemasan bagi limbah B3.
d. Kemasan yang telah berisi limbah diberi penandaan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku dan disimpan dengan memenuhi
ketentuan tentang tata cara dan persyaratan bagi penyimpanan
limbah B3.
e. Pada kemasan dilakukan pemeriksaan oleh penanggung jawab
pengelolaan limbah B3 (penghasil, pengumpul dan pengolah)
untuk memastikan tidak terjadinya kerusakan atau kebocoran
pada kemasan.
f. Kegiatan pengemasan, penyimpanan dan pengumpulan harus
dilaporkan sebagi bagian dari kegiatan pengelolaan limbah B3.
C. Persyaratan pengemasan limbah B3
a. Kemasan (drum, tong atau bak kontainer) yang digunakan harus
dalam kondisi baik, tidak bocor , terbuat dari bahan yang cocok
dengan karakteristik limbah B3 dan mampu mengamankan
limbah yang disimpan di dalamnya.
b. Kemasan yang digunakan untuk pengemasan dapat berupa
tong/drum dengan volume 50 liter, 100 liter atau 200 liter, atau
dapat pula berupa bak kontainer berpenutup dengan kapasitas 2
M3, 4 M3 atau 8 M3.
c. Limbah B3 yang disimpan dalam satu kemasan adalah limbah
yang sama, atau dapat pula disimpan bersama-sama dengan
limbah lain yang memiliki karakteristik yang sama, atau dengan
limbah lain yang karakteristiknya saling cocok.
d. Untuk mempermudah pengisian limbah ke dalam kemasan, serta
agar lebih aman, limbah B3 dapat terlebih dahulu dikemas dalam
kantong kemasan.
e. Pengisian limbah B3 dalam satu kemasan harus dengan
mempertimbangkan karakteristik dan jenis limbah, pengaruh

f.
g.

h.
i.
j.

pemuaian limbah, pembentukan gas dan kenaikan tekanan selama


penyimpanan.
Kemasan yang telah diisi atau terisi penuh dengan limbah B3
harus di tandai dengan simbol dan label dan dalam keadaan
tertutup.
Pada drum/tong atau bak kontainer yang telah berisi limbah B3
dan disimpan ditempat penyimpanan harus dilakukan
pemeriksaan kondisi kemasan sekurang-kurangnya satu minggu
satu kali.
Kemasan bekas mengemas limbah B3 dapat digunakan kembali
untuk mengemas limbah B3 dengan karakteristik limbah
sebelumnya.
Kemasan yang telah dikosongkan apabila akan digunakan
kembali untuk mengisi limbah B3 lain dengan karakteristik yang
sama, harus disimpan ditempat penyimpanan limbah B3.
Kemasan yang telah rusak (bocor atau berkarat) dan kemasan
yang tidak digunakan kembali sebagai kemasan limbah B3 harus
diperlakukan sebagai limbah B3.

D. Penyimpanan limbah B3(Keputusan Kepala Bapedal No.01/1995)


Penyimpana limbah B3 adalah suatu kegiatan menyimpan limbah B3
yang dilakukan oleh penghasil dan/atau pengumpul dan/atau pemanfaatan
atau penimbunan limbah B3 dengan maksud menyimpan sementara.
Kegiatan penyimpanan limbah B3 dimaksudkan untuk mencegah
terlepasnya limbah B3 ke lingkungan sehingga potensi bahaya terhadap
manusia dan lingkungan dapat terhindari.
3. Prinsip penyimpanan limbah B3:
a) Penyimpanan kemasan dibuat dengan sisten blok. Setiap blok terdiri
atau 2x2 kemasan sehingga dapat dilakukan pemeriksaan
menyeluruh terhadap kemasan.
b) Lebar gang antar blok harus memenuhi persyaratan peruntukannya,
minimal 60cm.
c) Penumpukan kemasan limbah B3 harus mempertimbangkan
kestabilan tumpukan kemasan. Jika kemasan berupa drum logam (isi
200 liter) maka tumpukan maksimum adalah tiga lapis dengan tiap
lapis dilapis palet. Jika tumpukan lebih dari tiga lapis atau kemasan
terbuat dari plastik maka harus dipergunakan rak.
d) Jarak tumpukan kemasan tertinggi dan jarak blok kemasan terluar
terluar terhadap atap dan dinding bangunan penyimpanan tidak
boleh kurang dari satu meter.

e) Kemasan-kemasan berisi limbah B3 yang tidak saling cocok harus


disimpan secara terpisah, tidak dalam satu blok dan tidak dalam
bagian penyimpanan yang sama.
4. Persyaratan bangunan penyimpanan kemasan limbah B3
a) Bangunan tempat penyimpanan kemasan limbah B3 harus
memiliki rancangan bangunan dan luas ruang penyimpanan yang
sesuai dengan jenis, karakteristik dan jumlah limbah B3 yang
dihasilkan, terlindungi dari masuknya air hujan baik secara
langsung maupun tidak langsung, dibuat dari plafon dan memiliki
sistem ventilasi.
b) Lantai bangunan penyimpanan harus kedap air, tidak
bergelombang, kuat dan tidak retak.
c) Tempat penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan lebih
dari satu karakteristik limbah B3, maka ruang penyimpanan harus
dirancang terdiri dari beberapa bagian penyimpanan dengan
ketentuan setiap penyimpanan hanya diperuntukkan menyimpan
satu karakteristik limbah B3.
E. Pengumpulan Limbah B3
1. Persyaratan lokasi pengumpulan:
a) Luas tanah termasuk untuk bangunan penyimpanan dan
fasilitas lainnya sekurang-kurangnya 1ha.
b) Area lokasi secara geologis merupakan daerah bebas banjir
tahunan
c) Lokasi harus cukup jauh dari fasilitas umum dan ekosistem
tertentu.
2. Persyaratan bangunan pengumpulan
a) Fasilitas pengumpulan merupakan fasilitas khusus yang harus
dilengkapi dengan berbagai sarana untuk penunjang dan tata
ruang yang tepat sehingga kegiatan pengumpulan dapat
berlangsung dengan baik dan aman bagi lingkungan.
b) Setiap bangunan pengumpulan limbah B3 dirancang khusus
hanya untuk menyimpan satu karakteristik limbah dan
dilengkapi dengan bak penampung tumpahan/ceceran limbah
yang dirancang sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam
pengangkatannya.
3. Fasilitas pengumpulan harus dilengkapi dengan :
a) Peralatan dan sistem pemadam kebakaran
b) Pembangkit listrik cadangan
c) Fasilitas pertolongan pertama
d) Peralatan komunikasi

e) Gudang tempat penyimpanan peralatan dan perlengkapan


f) Pintu darurat dan alarm
4. Pengolahan Limbah B3
Pengolahan limbah B3 adalah proses untuk mengubah jenis, jumlah
dan karakteristik limbah B3 menjadi tidak berbahaya dan atau tidak
beracun dan immobilisasi limbah B3 sebelum ditimbun dan atau
memungkinkan agar limbah B3 dimanfaatkan kembali (daur ulang).
a) Pengolahan limbah B3 secara fisika dan kimia
Proses pengolahan secar fisika dan kimia bertujuan untuk mengurangi
daya racun limbah B3 dan atau menghilangkan sifat atau karakteristik
limbah B3 dari bahaya menjadi tidak berbahaya. Perlakuan terhadap
limbah B3 dapat dilakukan dengan proses pengolahan sebagai berikut:
(Keputusan Kepala Bapedal No.03/1995 )
Proses pengolahan secara kimia
Pengolahan secara kimia pada dasarnya memanfaatkan reaksi-reaksi kimia
untuk mentransformasikan limbah B3 menjadi lebih tidak berbahaya.
Bentuk proses pengolahan secara kimia antara lain: Reduksi-oksidasi,
Elektrolisa, Presipitasi/ pengendapan, Solidifikasi/Stabilisasi, Absorbsi,
Penukaran Ion, dan Pirolisa.
Proses pengolahan secara fisika
Bila limbah mengandung bagian cair dan padatan, maka pengolahan
secara fisika perlu pertimbangan terlebih dahulu. Beberapa jenis proses
fisika antara lain :
o Pembersihan gas, meliputi Elektrostatik presipitataor, penyaringan
partikel, wet scrubbing, absorpsi dengan karbon aktif.
o Pemisahan cairan dan padatan, meliputi: Sentrifugasi, koagulasi,
filtrasi, flokulasi, flotasi, sedimentasi, dan thickening.
b) Pengolahan Stabilisasi/solidifikasi
Proses stabilisasi/solidifikasi adalah suatu tahapan proses pengolahan
limbah B3 untuk mengurangi potensi racun dan kandungan limbah B3
melalui upaya memperkecil/membatasi daya larut, pergerakan/penyebaran
dan daya racunnya sebelum limbah B3 tersebut dibuang ke tempat
penimbunan akhir (landfill). Prinsip kerja stabilisasi/solidifikasi adalah
pengubahan watak fisik dan kimiawi limbah B3 dengan cara penambahan
senyawa pengikat (aditif) sehingga pergerakan senyawa-senyawa B3 dapat

dihambat atau terbatasi dan membentuk ikatan massa monolit dengan


struktur yang kekar (massiv). Bahan-bahan yang bisa digunakan untuk
proses stabilisasi/solidifikasi antara lain :
Bahan pencampur : gipsum, pasir lempung, abu terbang
Bahan perekat/ pengikat : semen, kapur, tanah liat, dll
c) Pengolahan dengan incinerator (Thermal Treatment)
Incinerator adalah sebuah prose yang memungkinkan materi combustible
(bahan bakar) seperti limbah organik mengalami pembakaran. Kemudian
dihasilkan gas/partikulat, residu non combustible dan abu. Gas/ partikulat
tersebut dikeluarkan melalui cerobong setelah melalui sarana pengolahan
pencemaran udara yang sesuai. Residu yang bercampur debu dikeluarkan
dari incinerator dan disingkirkan pada lahan urug. Disamping pengurangan
massa dan volume, sasaran utama incinerator bagi limbah medis padat
berbahaya dan beracun adalah mengurangi sifat dari limbah, misalnya
proses detoksifikasi. Oleh karenanya peranan temperatur serta waktu
tinggal yang sesuai akan memegang peranan penting dalam incinerator
limbah B3.
Teknologi incinerator merupakan cara pengolahan yang baik bagi materi
combustible yang mempunyai nilai kalor memadai untuk itu, misalnya
limbah hidrokarbon (cair/padat). Limbah medis padat berbahaya dan
beracun yang patogen seperti dari rumah sakit sangat ampuh ditangani
dengan incinerator.
Proses pembakaran (insenerasi) limbah medis padat berbahaya dan
beracun di rumah sakit antara lain:
Buka pintu Incinerator dan masukkan limbah bahan berbahaya dan
beracun(B3).
Nyalakan aliran listrik (power) pada panel control
Atur thermocontrol pada primary chamber samapi 8000C
Atur timer proses sesuai dengan lama pembakaran yang diinginkan
(60 menit)
Nyalakan excess air blower
Nyalakan secondary burner (burner atas)
Setelah 15 menit, nyalakan primary burner bawah
Setting waktu pembakaran pada timer pada waktu 1 jam tergantung
dari jenis limbah yang dibakar.
Proses incenerasi berlangsung.

Setelah proses incinerasi selesai pastikan kedua burner dalam


keadaan mati.
Buka pintu incinerasi untuk mengeluarkan abu dan isi dengan
limbah bahan berbahaya dan beracun yang baru.
F. Pengangkutan limbah B3
Dalam strategi pembuangan limbah rumah sakit hendaknya memasukkan
prosedur pengangkutan limbah internal dan eksternal bila memungkinkan.
Pengangkutan internal biasanya berasal dari titik penampungan awal ke
tempat pembuangan di dalam (onsite incinerator) dengan menggunakan
kereta dorong. Peralatan-peralatan tersebut harus jelas dan diberi label,
dibersihkan secara reguler dan hanya digunakan untuk mengakut limbah.
Setiap petugas hendaknya dilengkapi dengan alat proteksi dan pakaian
kerja khusus. Beberapa rumah sakit menggunakan chute (pipa plosotan)
untuk pengakutan limbah internal, tetapi pipa plosotan tidak disarankan
karena alasan keamanan, teknis dan hygienis, terutama untuk
pengangkutan limbah benda tajam, jaringan tubuh, infeksius, citotoksik,
dan radioaktif. Pengangkutan limbah B3 ke tempat pembuangan luar
memerlukan prosedur pelaksanaan yang tepat dan harus diikuti oleh semua
petugas yang terlibat (Depkes RI, 2002:80).