Anda di halaman 1dari 66

KARYA SAINS DAN TEKNOLOGI

HASIL PENGEMBANGAN MODEL PENILAIAN

MODEL
SISTEM PENILAIAN EFEKTIF
BERBASIS KELAS

SEKOLAH LUAR BIASA


WIYATA GUNA
BANDUNG
1

KATA PENGANTAR

Pemberlakuan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2004


tentang Pemerintahan Daerah menuntut pelaksanaan otonomi daerah dan
wawasan demokrasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Pengelolaan
pendidikan yang semula bersifat sentralistik berubah menjadi desentralistik.
Desentralisasi pengelolaan pendidikan dengan diberikannya wewenang kepada
satuan pendidikan untuk menyusun kurikulumnya mengacu pada Undangundang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu pasal 3
tentang fungsi dan tujuan pendidikan nasional dan pasal 35, mengenai standar
nasional pendidikan.
Desentralisasi pengelolaan pendidikan yang diharapkan dapat memenuhi
kebutuhan dan kondisi daerah perlu segera dilaksanakan. Bentuk nyata dari
desentralisasi pengelolaan pendidikan ini adalah diberikannya kewenangan
kepada satuan pendidikan untuk mengambil keputusan berkenaan dengan
pengelolaan pendidikan, seperti dalam pengelolaan kurikulum, baik dalam
penyusunannya maupun pelaksanaannya di satuan pendidikan.
Sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan, Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) mengacu pada standar nasional pendidikan: standar isi,
proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana,
pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar
nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi
Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam
mengembangkan kurikulum.

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang

B. Tujuan

C. Ruang Lingkup

D. Sasaran Pengguna Pedoman

Bab II Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi


A. Pengertian Penilaian berbasis Kompetensi

B. Kerangka Berpikir

Diagram kerangka berpikir penilaian KBK untuk Pendidikan Khusus

C. Manfaat Penilaian KBK untuk Pendidikan Khusus

D. Fungsi Penilaian KBK Diksus

E. Kedudukan Penilaian dalam lingkup Standar Nasional Pendidikan

F. Prinsip Penilaian Berbasis Kompetensi pada Pendidikan Khusus

G. Catatan Penilaian Berbasis Kompetensi pada Pendidikan Khusus


(hal-hal yang harus diperhatikan)

10

H. Kharakteristik Pendidikan Khusus

11

I. Alur /prosedur penilaian

13

Bab III. Teknik Penilaian, Peolahan dan Pemanfaatannya


A. PP 19 thn 2005, psl 22 ayat 1,2, dan 3 tentang teknik penilaian

18

B. Pembobotan pada penilaian Pendidikan Khusus

18

C. Kriteria Ketuntasan Belajar Minimum

18

D. Teknik Penilaian yang digunakan, pengolahan dan Pemanfaatannya


1. Penilaian Unjuk Kerja

19

2.Penilaian Sikap

27

3.Penilaian Tertulis

35

4.Penilaian Proyek

38

5. Penilaian Produk

41

6. Penilaian Portofolio

48

7. Penilaian Diri

55
4

E. Proses Penentuan Nilai Akhir

53

Bab IV. Penutup

55

Lampiran
1)

Format Daftar Identitas Siswa

61

2)

Penilaian Kemajuan Belajar

62

3)

Model Rapot

63 65

BAB I.
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagaimana diketahui bahwa negara Indonesia mempunyai jumlah dan
variasi penduduk yang beragam baik dilihat dari segi sosial , ekonomi dan
budaya, sedangkan dari variasi penduduknya tidak dapat dipungkiri bahwa
banyak diantaranya mempunyai kemampuan baik secara fisik, emosional,
intelektual dan mental yang beragam pula. Undang-undang Pendidikan
Nasional No 20 tahun 2003, pasal 1 ayat 1. menyatakan bahwa
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri nya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri ,
kepribadian kecerdasan , akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pernyataan Undang-Undang diatas tentu memberikan konsekwensi logis
bagi terlaksananya sistem pendidikan yang adil, merata, dan memberikan
kesempatan belajar bagi semua anak bangsa tanpa kecuali. Pendidikan
Khusus yang merupakan bagian integral dari Sistem Pendidikan Nasional
yang secara spesifik tercantum dalam pasal 32 ayat 1:
Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang
memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran
karena kelainan fisik , emosional, mental, sosial, dan atau memiliki
potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
Pendidikan Khusus mempunyai peserta didik yang beragam baik dari segi
fisik, emosional, mental, dan sosial. Ke unikan siswa Pendidikan Khusus ini
tentu membawa konsekwensi baik pada kurikulum, silabus, pembelajaran,
penilaian dan implementasinya. Pada hal-hal tertentu keberagaman peserta
didik pada pendidikan khusus tidak memungkinkan terjadinya proses
pembelajaran dan penilaian yang bernuansa kelompok atau klasikal dalam
jumlah besar. Pada sekolah khusus walaupun jumlah siswa sedikit, siswanya
memiliki kemampuan mental, intelektual, sosial dan fisiknya beragam.
Contohnya pada beberapa sekolah, banyak siswa tunanetra atau tunarungu
yang memiliki hambatan intelektual dan atau emosi yang mungkin sebagai
dampak ikutan dari Kekhususannya. Keberagaman dan keunikan itu sering
membuat pola pelayanan yang kurang optimal dan berkeadilan ketika
kelompok belajar itu diperlakukan secara sama pada pembelajaran dan
penilaiannya antara siswa yang satu dengan lainnya baik secara lokal ,
regional maupun nasional. Padahal diantara siswa pada kelompok memiliki
keanekaragaman potensi dalam pencapaian target belajarnya. Menyamakan
pendekatan pembelajaran dan penilaian bagi sekelompok siswa yang
memiliki keanekaragaman potensi membuka peluang terjadinya pemaksaan
yang berakhir pada penderaan fisik ataupun mental pada peserta didik
pada umumnya.
6

Pernyataan inipun dikuatkan dalam undang-undang Sisdiknas nomor 20


tahun 2003, Bab V tentang peserta Didik pada pasal 12 ayat (1) butir f yang
berbunyi:
Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan
pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.

Keadaan keanekaragaman siswa seperti ini


tentunya menghendaki
pelayanan yang berbeda-beda dan target pencapaian yang berbeda pula.
Berkenaan dengan pelaksanaan kurikulum pada tingkat satuan
pendidikan (KTSP) dimana kurikulum dirancang, dilaksanakan dan dinilai
oleh sekolah sendiri, maka keberadaan pedoman penilaian pendidikan
khusus ini merpakan bagian dari KTSP yang berada pada tingkat satuan
sekolah.
Kondisi ini membuat Pendidikan Khusus cenderung mengarah pada
pelayanan yang lebih bersifat individual daripada kelompok. Pelayanan
individual ini sejalan dengan pendekatan kurikulum yang berbasis pada
kemampuan individual.
Jadi penilaian bagi siswa Pendidikan Khusus harus tidak dapat dibandingkan
dengan kelompok belajarnya, tetapi harus dibandingkan dengan kemajuan
yang dicapai oleh siswa itu sendiri. Kriteria dibangun berdasarkan acuan
kompetensi yang hendak dicapai setiap siswa dan bukan seluruh siswa.
Namun demikian berkenaan dengan keberagaman jumlah peserta didik pada
setiap sekolah maka program pendidikan pada Pendidikan Khusus juga
sudah seyogyanya mengakomodasi bagaimana proses penilaian harus
dilakukan pada sekelompok kecil maupun dalam jumlah (kelompok besar)
peserta didik yang lebih banyak. Dan penilaian berkelompok inipun tidak
lepas dari pengembangan kompetensi individu. Kelompok digunakan
sebagai bagian dari penilaian individual. Hal ini dapt terjadi khususnya dalam
mengembangkan kemampuan bersosial dari setiap individu peserta didik
pendidikan khusus. Kompetensi kerjasama, toleransi, diskusi dan
sebagainya.
Sebagaimana diketahui pula bahwa sejak awalnyapun Pendidikan Khusus
sudah mengacu pada kompetensi, hal itu ditunjukkan dengan di sekolahsekolah dalam kegiatan pembelajaran lebih ditujukan pada peningkatan
kemampuan siswa secara individu. Disamping itu pembelajaran yang
dilaksanakan bermuara pada peningkatan kemampuan mereka dalam
berinteraksi sosial, pengembangan pengetahuan dan kemampuan atau
keterampilan yang berkenaan dengan kehidupan.
Peningkatan kemampuan siswa dalam pembelajaran seyogyanya
diketahui oleh guru sebagai umpan balik maupun guna mengetahui sejauh
mana ketercapaian target yang telah dicapai oleh siswa, apakah telah
mencapai sesuai dengan apa yang ditargetkan atau tidak. Untuk itu
pemerintah telah menetapkan bahwa :
(1) Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
terdiri atas:
a. penilaian hasil belajar oleh pendidik;

b. penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan; dan


c. penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.
.
(Bab X Standar Penilaian Pendidikan, Bagian Kesatu Umum, Pasal 63)

Kemudian pada bagian ke dua berkenaan dengan Penilaian hasil belajar


oleh Pendidik pasal 64 ayat (1) sampai dengan ayat (7) dan pasal 65 ,
Bagian Ketiga tentang Penilaian hasil belajar oleh Satuan Pendidikan. Salah
satu dari ayat pada pasal tersebut menyebutkan:
(1)
Penilaian hasil belajar oleh pendidik sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 63 ayat 1 butir a dilakukan secara berkesinambungan untuk
memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan
harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan
kenaikan kelas. Pasal 64, ayat 1

Pada ayat-ayat dan ayat lain yang menyertainya yang disebutkan diatas
mengungkapkan Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik. Sehubungan dengan
pasal ini Pendidikan Khusus yang memiliki prinsip fleksibilitas materi, metoda
dan penilaian meletakkannya faktor kenaikan kelas dalam konteks
pendidkan reguler, khususnya dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif
dan tanpa meninggalkan karakteristik pendidikan khusus. Namun demikian
dalam pendidikan inklusif pun setiap satuan pendidikan yang
menyelenggarakannya
diharuskan
untuk
memenuhi
persyaratanpersayaratan tertentu sebagaimana disebutkan pada pasal 41 Peraturam
pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan yaitu:
Setiap satuan pendidikan yang melaksanakan pendidikan inklusif harus
memiliki
tenaga
kependidikan
yang
mempunyai
kompetensi
menyelenggarakan pembelajaran bagi peserta didik dengan kebutuhan
khusus.

Jadi tidak setiap satuan pendidikan atau sekolah secara serta merta dapat
menyelenggarakan pendidikan inklusif tanpa diikuti prasyarat-prasayarat
yang memadai bagi siswa berkebutuhan khusus.
B. Tujuan
Model Penilaian Efektif Berbasis Kelas ini bertujuan:
1. Memberikan pemahaman pada guru tentang bagaimana penilaian pada
pendidikan khusus sebaiknya dilakukan
2. Memberikan beberapa rambu-rambu, pola kerja dan prosedur penilaian
yang perlu dilakukan oleh guru
3. Memberikan beberapa contoh mengenai seluk beluk teknik-treknik
penilaian yang dapat diterapkan pada pendidikan khusus.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup yang dinilai
Pedoman ini mempunyai lingkup penilaian pada siswa Pendidikan khusus
pada sekolah TKLB, SDLB, SMPLB, dan SMALB yang mengacu pada
kurikulum sekolah yang dijabarkan dari Standar Nasional Pendidikan.
Sedangkan Jenis pendidikan khusus yang merupakan cakupan penilaian
8

pedoman ini ialah tunanetra, tunarungu, tunagrahita dan tunadaksa pada


jenjang TK, SD, SMP dan SMA.
Ruang lingkup model
Pedoman ini ditujukan untuk sekolah khusus dengan kategori formal mandiri,
yang masih menggunakan sistem semester dan kenaikan kelas secara
reguler berdasarkan kemampuan siswa atau berdasarkan usia siswa.
Sistem SKS jika ditinjau berdasarkan karakteristik pendidikan khusus sulit
dilakukan, karena sistem SKS menuntut adanya ketuntasan kurikulum yang
dapat dinyatakan dalam
persentase sebagai syarat mutlak untuk
melanjutkan materi berikutnya atau kenaikan kelas. Pada pendidikan khusus
ketuntasan kurikulum untuk masing-masing peserta didik tidak sama
tergantung pada kemampuan masing-masing anak, sehingga tidak dapat
ditentukan berapa minimal yang harus dikuasai seorang anak untuk suatu
materi tertentu. Sistem SKS ini pada pendidikan khusus dimungkinkan
hanya pada program keterampilan yang memang harus dikuasai peserta
didik agar dapat mandiri.
D. Sasaran Pengguna Model
1. Guru TKLB, SDLB, SMPLB, dan SMALB sebagai pelaksana /sebagai
penilai dari serangkaian pembelajaran yang sedang ataupun setelah
proses pendidikan berlangsung
2. Pengawas pada TKLB, SDLB, SMPLB, dan SMALB sebagai acuan daam
memahami apa yang sedang dan telah dilakukan oleh guru-guru pada
proses pembelajaran.
3. Orang tua siswa sebagai bahan pemahaman perkembangan kemampuan
anaknya

BAB II
SISTEM PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI

A. Pengertian Penilaian Berbasis Kompetensi


Sebelum memahami dengan apa yang dimaksud dengan penilaian berbasis
kompetensi maka beberapa acuan dalam pemaknaannya dapat dilihat dari
beberapa sumber. Dalam kamus encarta dinyatakan bahwa assessment
ialah
evaluation, Mengevaluasi, menilai atau memberi penilaian, perkiraan,
mengukur, mengadili, mengkaji ulang untuk mengetahui berhasil/baik
tidaknya, membuat pertimbangan, hasil pemikiran.
Microsoft Encarta Reference Library 2005. 1993-2004 Microsoft Corporation.
All rights reserved.

Dan dalam kamus lainnya menyatakan bahwa


Assess, Mengassess yaitu membuat perkiraan terhadap nilai,
menentukan jumlah.
Collins, Dictionaryand Thesaurus, HarperCollinsPublishers, 1992,England

lebih lanjut dalam kamus ini menyebutkan bahwa


evaluation:.Membuat perkiraan tentang sesuatu berdasarkan
pemahaman pada suatu situasi. Penilaian dari suatu kegiatan
hendaknya dilakukan secara yang adil
educational evaluation: a method of evaluating student performance
and attainment. Suatu cara guna mengetahui kemampuan siswa dan
pencapaiannya.
Pemahaman dalam kamus ini disebutkan
competence competence [kmptns]
competency [kmptnsee]
noun Ability: Suatu kebisaan melakukan sesuatu dengan baik atau
memenuhi standar.
Microsoft Encarta Reference Library 2005. 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights
reserved.

Kemudian Nurgiyanto
Penilaian pada dasarnya suatu proses pembuatan pertimbangan
terhadap sesuatu hal. Penilaian terdiri atas 3 komponen yaitu
pengumpulan informasi, pembuatan pertimbangan dan pembuatan
keputusan
(Sriven dalam Nurgiyanto)

Kompetensi merupakan kecakapan, kemampuan, kompetensi dan


ketangkasan yang ditampikan oleh siswa dalam bentuk perbuatan
dan kinerja.
(Echols dan Shadly, 1996)

Dari pernyataan diatas dapat diartikan bahwa penilaian pada suatu


kompetensi berkenaan dengan membuat perkiraan dalam mengukur,
membuat suatu pertimbangan dengan menggunakan intervensi pikiran/opini,
pertimbangan-pertimbangan berdasarkan kondisi-kondisi tertentu dari suatu
kemampuan yang telah dan akan dicapai oleh peserta didik, kemudian
dibuat suatu keputusan apakah kompetensi itu sudah tercapai atau tidak
10

dengan standar kompetensi yang telah ditentukan atau terstandarkan secara


nasional.
B. Kerangka berfikir
Sistem penilaian berbasis kompetensi dapat diartikan sebagai penilaian dan
pembelajaran berbasis kompetensi yang saling tergantung antara yang satu
dengan yang lain. Ketergantungan tersebut melibatkan siswa sebagai subyek
dan obyek yang berubah setiap saat. Oleh karena itu, hubungan antar unsur
siswa, pembelajaran dan teknik penilaian merupakan satu sistem penilaian
yang terpadu dan utuh.
Pada siswa pendidikan khusus, jenis Kekhususan, materi ajar, kompetensi
yang hendak dicapai, jenis metoda atau pendekatan pembelajaran serta
keberadaan dan pemakaian jenis sarana dan prasarana sangat
mempengaruhi bentuk teknik penilaian yang tentunya akan menentukan hasil
penilaian yang adil dan berkualitas juga . Penilaian berkualitas yang dimaksud
ialah terjaminnya hasil penilaian yang adil, terbuka dan berkualitas.

DIAGRAM KERANGKA BERFIKIR PENILAIAN KBK


UNTUK PENDIDIKAN KHUSUS
BENTUK
TEKNIK
PENILAIAN (6)

SARANA
PRASARANA
(5)

JENIS
KEKHUSUSAN
(1)

HASIL
PENILAIAN
YANG ADIL &
BERKUALITAS
METODA/
PENDEKATAN
PEMBELAJARAN
(4)

MATA
PELAJARAN &
MATERI AJAR
(2)

KOMPETENSI (3)

11

Sistem penilaian berbasis kompetensi untuk pendidikan khusus diharapkan


akan dapat:
1. Mengetahui bagaimana siswa menerapkan kompetensi dan materi hasil
belajarnya pada suatu pekerjaan yang dapat memberi manfaat dalam
menghadapi permasalahan dalam kehidupan sehari-harinya.
2. Mendeskripsikan sesuai standar kompetensi yang tepat sesuai dengan
hasil belajar / pengalaman belajar yang diharapkan
3. Menghasilkan pola Penilaian performan yang langsung dengan
pendekatan pada keterampilan dan pengetahuan yang diharapkan dapat
dicapai oleh peserta didik Pendidikan Khusus.
4. Mengukur perbandingan hasil kompetensi dengan standar konpetensi
yang ditetapkan sehingga diketahui kesenjangan pencapaiannya untuk
dilakukan perbaikan.
5. Mengembangkan pola penilaian yang beragam sesuai dengan
keberagamana potensi dan keterbatasan siswa
C. Manfaat Penilaian Berbasis Kompetensi pada pendidikan khusus
Sebagaimana diketahui bahwa penilaian berbasis kompetensi pada
pendidikan khusus mencakup tunanetra, tunarungu, tunagrahita dan
tunadaksa.
1. Untuk memberikan umpan balik bagi sementara peserta didik agar
mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian
kompetensinya. Akan tetapi untuk jenis Kekhususan tertentu lainnya dapat
saja tidak memerlukannya, tetapi ni dapat ditunjukkan dengan perubahan
prilaku dalam ekspresi keseharian siswa..
2. Untuk memantau kemajuan dan perkembangan yang dialami peserta didik
sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remedial.
3. Umpan balik bagi guru dalam memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan,
dan sumber belajar yang digunakan.
4. Masukan bagi kepala sekolah dan guru guna merancang kegiatan belajar
sedemikian rupa sehingga para pesrta didik dapat mencapai kompetensi
dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda dalam suasana yng
kondusif menyenangkan.
5. Memberikan informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang
efektivitas pendidikan sehingga partisipasi oang tua dan komite sekolah
dapat ditingkatkan.
D. Fungsi Penilaian Berbasis Kompetensi
Penilaian berbasis kompetensi memiliki fungsi sebagai berikut:
1) Menggambarkan sejauhmana seorang siswa telah menguasai suatu
kompetensi.
2) Mengevaluasi hasil belajar siswa dalam rangka membantu siswa
memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya baik
untuk pemilihan program maupun pengembangan kepribadian.
3) Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa
dikembangkan siswa sebagai alat diagnosis yang membantu guru
menentukan apakah siswa perlu mengikuti remedial atau pengayaan atau
tidak .

12

E. Kedudukan Penilaian dalam Lingkup Standar Nasional Pendidikan


Kerangka berpikir yang dijelaskan di atas tidak dapat dilepaskan dari peran
standar-standar yang lain dari lingkup Standar Nasional Pendidikan.
Kedudukan Penilaian dalam ini standar penilaian ditentukan juga oleh
keberadaan standar-standar yang lain. Standar Penilaian yang baik dan
berkualitas ditentukan juga oleh keberhasilan satuan pendidikan dalam
melaksanakan standar-standar yang lain secara ajeg. Pemahaman ini
menganut cara berpikir yang logis, bahwa tidak mungkin penilaian yang
berkualitas dapat berhasil jika tidak ditunjang dengan unsur-unsur penunjang
lainnya yang merupakan bagian dari penilaian itu sendiri.
Sebagai contoh jika memberikan Materi tentang suhu harus tercermin
proses pembelajarannya , penyampaian konsepnya, penggunaan alatnya,
pengelolaan alatnya, biaya pembelian alat termometernya, kemampuan guru
menyampaikannya, kemampuan siswa yang hendak dicapai dalam
penggunaan termometer, proses penggunaan yang terstandar merupakan
suatu rangkaian yang saling mendukung satu dengan lainnya. Kegagalan dari
satu aspek saja dapat menggagalkan komponen-komponen standar secara
menyeluruh.

Standar
proses (2)

Standar
kompetensi
lulusan (3)

Standar Isi
(1)

STANDAR
PENILAIAN
PENDIDIKAN
(8)

Standar
Pembiayaan
(7)

Standar
Pengelolaan
(6)

Standar
Pendidik
dan Tenaga
Kependidika
n (4)

Standar
Sarana &
Prasarana
(5)

F. Prinsip Penilaian Berbasis Kompetensi


Agar penilaian berbasis kompetensi dapat berlangsung dengan semestinya maka
guru dan sekolah serta semua guru kelompok mata pelajaran menyusun sejumlah
kriteria penilaian yang sesuai dengan setiap jenis Kekhususan yang ada disekolah
yang bersangkutan
13

Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk


mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. (PPRI no 19 tahun 2005,
psl 1 ayat 17). Dalam kriteria penilaian hendaknya memenuhi kriteria
1. Validitas
Validitas berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dan alat penilaian
yang digunakan sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan isinya
mencakup semua kompetensi yang terwakili secara proporsional.
Dalam pelajaran IPA untuk tunanetra misalnya, guru menilai kompetensi
bereksperimen . Penilaian valid jika menggunakan peralatan yang
terstandar dan sesuai dengan kemampuan tunanetra tersebut. Jika tidak
menggunakan peralatan yang terstandar untuk tunanetra maka penilaian
tersebut tidak valid. Untuk menjaga validitas pengukuran maka prosedur
kalibrasi sebelum penggunaan alat harus dilakukan terlebih dahulu.
Prosedur kalibrasi ini ialah proses menstandarkan alat ukur agar sesuai
dengan ukuran standar dan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan
siswanya. Proses memperbaiki alat dengan mencocokan dengan
peralatan standar dan standar kemampuan siswa yang telah ditetapkan
sebelumnya bersama guru lainnya berdasarkan kesepakatan. Validitas isi
dalam materi pelajaran hendaknya disesuaikan jenis Kekhususan siswa,
misalnya siswa tunanetra diminta untuk menceritakan keindahan alam
pegunungan yang tidak pernah dilihatnya, memberi warna pada gambar,
maka materi pelajaran ini tidak valid dilihat dari segi isi untuk tunanetra
2. Reliabilitas
Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil penilaian.
Penilaian yang reliable (ajeg/ dapat dipercaya) memungkinkan
perbandingan yang reliable dan menjamin konsistensi. Misal, guru menilai
dengan proyek, penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu
cenderung sama bila proyek itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif
sama. Dalam contoh pembelajaran IPA bagi siswa tunanetra perlu
menggunakan alat bantu pembelajaran yang membantu pemahaman
konsep-konsep IPA , contoh meteran Braille yang sudah distandarkan.
Lebih lanjut ketika siswa tunanetra hendak dinilai kompetensi
mengukurnya, maka setiap guru harus menggunakan acuan yang sama
juga, misalnya yang dinilai ialah mengukur panjang dengan meteran,
membaca skala pada meteran. Untuk menjamin penilaian yang reliabel
petunjuk pelaksanaan pengukuran dan penskorannya harus jelas dan
terukur.
3. Terfokus pada kompetensi
Dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, penilaian harus
terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan), bukan
pada penguasaan materi (pengetahuan). Kompetensi kompetensi itu
diukur dengan membandingkan kemampuan siswa sebelum dan sesudah
pembelajaran/ pelatihan. Kemampuan mengembangkan kepekaan rasa
untuk mendeteksi , mensikapi suatu kondisi tertentu dengan kemampuan
merespon yang berkembang semakin baik dari waktu ke waktu. Dalam
hal-hal tertentu seperti kompetensi menggunakan alat peraga atau alat
praktek pada Kekhususan tertentu pada suatu eksperimen harus dapat
mengembangkan kemampuan-kemampuan dalam ketaatan mengikuti
14

prosedur penggunaan alat, larangan dan suruhan yang harus ditaati saat
mengoprasikan peralatan untuk bereksperimen serta aturan-aturan lain
yang menyertainya.
4. Keseluruhan/Komprehensif
Penilaian harus menyeluruh dengan menggunakan beragam cara dan alat
untuk menilai beragam kompetensi atau kemampuan peserta didik dalam
mengembangkan sikap yang tergambar dalam standar kompetensi
lulusan , sehingga tergambar profil kemampuan peserta didik. Aspek
kreatifitas siswa seperti mengembangkan alternatif pengukuran dengan
alat-alat lainnya termasuk dalam kriteria penilaian.
5. Objektivitas
Penilaian harus dilaksanakan secara obyektif dan adil. Pemahaman penilaian
harus adil. Yang dimaksud dengan adil disini adalah adil terhadap semua siswa
dengan tidak membedakan latar belakang sosial ekonomi, budaya, bahasa, dan
gender (kelamin). Untuk itu, disamping harus adil, juga menyesuaikan dengan
karakteristik Kekhususan , jenjang dan usia siswanya. Pada penilaian yang
menggunakan pola pengamatan hendaknya dilakukan dengan tegas , jujur ,
terukur , menerapkan kriteria yang jelas dalam pembuatan keputusan atau
pemberian angka (skor). Kriteria disusun berdasarkan kesepakatan para guru
mata pelajaran
6. Mendidik
Penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran bagi guru dan
meningkatkan kualitas belajar bagi peserta didik khususnya dalam mendidik
siswa berpikir, berbuat dan berprilaku ilmiah. Disamping itu penilaian harus
memberikan sumbangan yang positif terhadap pencapaian belajar siswa, artinya,
hasil penilaian harus dapat dirasakan sebgai penghargaan bagi siswa yang
berhasil atau sebagai pemberian motivasi bagi siswa yang kurang/belum berhasil

G. Catatan Penilaian Berbasis Kompetensi Pada Pendidikan Khusus


Kurikulum berbasis kompetensi tidak semata-mata meningkatkan pengetahuan
siswa, tetapi kompetensi secara utuh yang merefleksikan pengetahuan,
keterampilan dan sikap sesuai karakteristik masing-masing mata pelajaran dan
Kekhususan siswa pada setiap jenjang. Dengan kata lain kurikulum tersebut
menuntut proses pembelajaran di sekolah dan berorientasi pada penguasaan
kompetensi-kompetensi yang telah ditentukan.
Standar kompetensi untuk setiap mata pelajaran pada setiap jenis Kekhususan
tentunya berbeda sesuai dengan kharakteristik Kekhususan yang dimiliki oleh
setiap siswa. Satu standar kompetensi terdiri dari beberapa kompetensi dasar.
Satu kompetensi dasar meliputi beberapa indikator, dan satu indikator memuat
bisa lebih dari satu pengalaman belajar. Penilaian dirancang mengacu pada
indikator dan pengalaman belajar yang hendak dilakukan.
Beberapa hal yang penting dan perlu diperhatikan yang membedakan antara
kurikulum pendidikan umum dan pendidikan khusus ialah sehubungan dengan
ciri pembelajaran dan penilaian pada pendidikan khusus dimana kharakter siswa
, kemampuan siswa , keterbatasan siswa baik secara emosional, intelektual,
15

fisikal dan etika yang begitu beragam dan berbeda-beda baik derajat kualitas
penguasaan maupun pengendaliannya. Kondisi yang demikian ini membuat
prinsip belajar pada pendidikan khusus menganut prinsip belajar yang
fleksibel/luwes baik dilihat dari segi waktu, materi dan penilaiannya. Gambaran
keluwesan itu dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

DIAGRAM PENGATURAN WAKTU, MATERI DAN


PENILAIAN YANG LUWES
PADA PENDIDIKAN KHUSUS
Lama

Sedang
Cepat
PENGATURAN WAKTU YANG LUWES

Rendah
Sedang
Tinggi
PENYAMPAIAN/PENYAJIAN MATERI YANG LUWES

Sederhana

Sedang
CARA PENILAIAN YANG LUWES

Kompleks

Penjelasan
Pengaturan waktu yang luwes yang dimaksud ialah penyediaan waktu belajar
yang menyesuaikan dengan kecepatan belajar dan kemampuan individu
siswa siswa yang beragam.
Penyampaian materi yang luwes yang dimaksud ialah penyampaian materi
yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan keterbatasan peserta didik
dan diatur secara proporsional.
Cara penilaian yang luwes yang dimaksud ialah melakukan pengukuran
perkembangan kemampuan siswa dengan mempertimbangkan karakteristik
siswa
H. Karakteristik Pendidikan Khusus
Pada pendidikan khusus ada beberapa kharakteristik yang dapat dijadikan
pertimbangan dalam penilaian:
1. Anak tunagrahita dikelompokkan sehomogen mungkin untuk kemudahan
dalam pembelajaran sehingga memudahkan dalam penilaian. (Strategi
Pembelajaran dan Penilaian)
2. Kenaikan kelas pada pendidikan khusus dimungkinkan berdasarkan:

16

Berdasarkan evaluasi kemampuan yang disesuaikan dengan tuntutan


kurikulum (anak dengan kecerdasan normal, Tuna A, B, dan D yang tidak
disertai dengan kelainan lainnya),
- Berdasarkan usia yang disebut dengan maju berkelanjutan (kenaikan
kelas secara otomatis) untuk anak yang mempunyai keterbatasan
kemampuan.
Pada sekolah-sekolah pendidikan khusus (SMPLB dan SMALB) kenaikan kelas
merupakan salah satu bentuk penghargaan untuk memotivasi peserta didik
untuk belajar di pendidikan khusus. Tidak ada persyaratan khusus bagi naik
atau tidaknya peserta didik.
3. Menerimaan peserta didik baru dapat dilakukan sepanjang tahun ajaran,
meskipun secara formal ditentukan batasan waktunya, tetapi di lapangan hal
ini tidak dapat dilakukan, karena pelayanan pendidikan khusus tidak dapat
dibatasi waktu jika ada anak berkebutuhan khusus yang memerlukan
pelayanannya. Selain itu penerimaan peserta didik baru tidak mensyaratkan
batasan usia tertentu pada peserta didik tersebut ketika memasuki
pendidikan khusus, asalkan masih dalam usia sekolah atau berdasarkan
ketentuan sekolah masing-masing.
4. Kurikulum untuk pendidikan khusus fleksibel dalam waktu, materi, dan
penilaiannya. Hal ini dikarenakan peserta didik memiliki kemampuan yang
berbeda-beda, dan kurikulum seyogyanya disesuaikan dengan kemampuan
dan kekhususan mereka.
5. Pelaporan hasil penilaian kemampuan belajar peserta didik dilaporkan dalam
bentuk kuantitatif dan kualitatif agar orang tua mengetahui dan memahami
kemampuan yang telah dicapai anaknya. Hal ini dilakukan karena bentuk
kuantitatif saja tidak cukup, misalnya nilai 7 buat si A akan berbeda dengan
nilai 7 buat si B karena kemampuan mereka berbeda, sehingga harus
dijelaskan dalam bentuk kualitatif. Pelaporan hasil belajar bagi SLB A belum
dicetak dalam dua versi yaitu huruf latin dan braile, sehingga peserta didik
tidak dapat mengetahui langsung kemampuan yang telah dicapainya. Hal ini
telah menyalahi salah satu prinsip penilaian, yaitu peserta didik mengetahui
penilaian yang diberikan kepadanya dan alasan kenapa nilai tersebut
diberikan.
6. Untuk anak yang kemampuan akademiknya kurang tidak diharuskan
mengikuti Ujian Akhir Nasional (UAN), cukup mengikuti Ujian Akhir Sekolah
(UAS) dan akan memperoleh Surat Keterangan Tamat Belajar (SKTB). Bagi
yang mampu mengikuti UAN dan lulus akan memperoleh Surat Tanda Tamat
Belajar (STTB).
7. Pada jalur formal katagori mandiri untuk institusi SMPLB dan SMALB secara
umum program penilaian harus menggunakan program SKS .
-

I. Alur Penilaian
Alur penilaian dibuat guna memudahkan guru khususnya didalam melakukan
pentahapan kerja yang lebih mudah. Setiap tahapan dapat tergambar dengan
jelas. Pentahapan alur kerja dan penjelasannya dapat dilihat pada halaman
berikutnya.

17

18

Standar Nasional
Pendidikan
(PP19 thn 2005)
(1)

ALUR PROSEDUR PENILAIAN KURIKULUM BERBASIS


KOMPETENSI PADA PENDIDIKAN KHUSUS OLEH GURU

Memutuskan
pilihan teknik
penilaian (7)

Penjabaran
dalam standar
kompetensi
lulusan (Permen
23)

Standar Isi
(Peraturan Menteri
no 22)

Membuat
alternatif format,
model model
teknik penilaian
dan raport (8)

(2)

Standar
Standar
Kompetensi
Standar
Kompetensi
mata pelajaran
Kompetensi
mata pelajaran
mata pelajaran
(PP,Psl 25)(3)

Kompetensi
DasarKompetensi
mata
DasarKompetensi
mata
pelajaran
Dasar mata
pelajaran
pelajaran (4)

Membuat
Perencanaan &
Penilaian Proses
Pembelajaran
,Sarana (PP
19,2005 ,Psl 19)

(6)

Penjabaran KD
kedalam
kurikulum
sekolah dalam
bentuk indikator
indikator mata
pelajaran (5)

19

Penilaian
proyek

Penilaian
tertulis

Penilaian
unjuk kerja

Penilaian
diri

Melakukan Penilaian pada Proses pembelajaran dan Hasil


pembelajaran dengan teknik penilaian yang sesuai dengan
keTuna an , jenjang dan mata pelajaran yang ditempuh siswa
(Implementasi PPRI No 19 thn 2005 Psl 19 ayt 1-3) (9)

Penilaian
produk

Penilaian
sikap

Penilaian
portofolio

Penilaian
lainnya

Implementasi PPRI No 19 thn 2005 Psl 22 ayt 1-3 (9)


Penjelasan:

Dilakukan Pusat

Dilakukan Sekolah

Aliran prosedur

Rapot
sebagai
penilaian akhir
dari
Guru
(10)

PENJELASAN ALUR /PROSEDUR PENILAIAN KBK


UNTUK PENDIDIKAN KHUSUS (LIHAT DIAGRAM DI ATAS)
Sebelum memulai melakukan perencanaan dalam penyusunan dokumen
penilaian, sekolah hendaknya menyiapkan terlebih dahulu dokumen-dokumen
yang telah disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sebagai
berikut:
a. Standar isi
b. Standar proses
c. Standar kompetensi lulusan
d. Standar Pendidik dan tenaga kependidikan
e. Standar sarana dan prasarana
f. Stndar pengelolaan
g. Standar pembiayaan dan
h. Standar penilaian pendidikan
Selanjutnya penyusunan dokumen implementasi penilaian untuk sekolah (seperti
penyusunan model-model penilaian, teknik-teknik penilaian dan format
pencatatan perkembangan kemampuan siswa dan rapot) dapat mengikuti
prosedur / pentahapan dibawah ini sesuai dengan diagram yang tergambar di
atas sebagai berikut:
1. Segala sesuatu sumber penilaian mengacu pada apa yang tersurat dalam
Standar Nasional Pendidikan (PPRI NO 19 tahun 2005).
2. Dalam konteks penilaian maka harus dilihat PPRI NO 19 thn 2005 pasal 25 ,
26 dan 27 BAB V tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL), apa , tujuan
dan cakupan apa saja yang perlu dinilai untuk dapat mencapai SKL yang
diharapkan perlu ada suatu .
3. Standar Kompetensi Lulusan pada setiap mata pelajaran diatur oleh pusat
yaitu oleh BSNP(Badan Standarisasi Nasional Pendidikan) dan sudah ada
dalam bentuk dokumen yang baku secara nasional. Dokumen ini sebagai
acuan untuk menjabarkan lebih lanjut lingkup materi dan tingkat kompetensi
untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang , dan jenis pendidikan
tertentu. (lihat Standar isi pasal 5 ayat 1 PPRI no 19 thn 2005)
4. Kompetensi Dasar Mata Pelajaran merupakan gambaran kemampuan siswa
yang hendak dicapai pada mata pelajaran tertentu. Kompetensi dasar ini
merupakan penurunan dari Standar Kompetensi Mata pelajaran yang telah
ditetapkan secara nasional atau sudah baku secara nasional. Kompetensi
dicapai dengan melalui pembelajaran dari suatu mata pelajaran tertentu.
5. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dijabarkan lebih lanjut kedalam
kurikulum. Perlu diketahui bahwa kurikulum disusun oleh satuan pendidikan
atau sekolah (TKLB, SDLB, SMPLB, SMALB dst). Penjabaran lebih lanjut itu
dapat berupa indikator-indikator yang berfungsi sebagai tanda atau ciri
keberhasilan siswa dalam pencapaian kompetnsi yang diharapkan dalam
Standar Kompetensi lulusan. Penjabaran dalam indikator tentunya harus
melalui analisis dan kajian yang luas dan mendalam agar sesuai dengan
20

tingkat kemampuan siswa yang beragam pada Pendidikan Khusus. Indikatorindikator ini dalam penilaian berfungsi sebagai alat ukur atau bahan uji atau
bahan test yang dapat dikembangkan variasi dan jenisnya. Sekali lagi
keterlibatan guru yang berpengalaman dan mampu secara substansial dan
psikologis dalam menangani setiap Kekhususan harus menjadi prasyarat
bagi siapa yang hendak terlibat dalam penyusunan kurikulum maupun pokok
uji tersebut. Penyusunan kurikulum dan pokok uji hendaknya mempunyai
keterkaitan yang kuat agar tidak melakukan test yang tidak terdapat dalam
kurikulum yang telah disusun. Keserentakan penyusunan kurikulum dan
pokok-pokok uji penilaian diharapkan dapat menjamin relevansi yang kuat
antara apa yang diajarkan dan apa yang diujikan.
6. Membuat perencanaan penilaian baik pada proses maupun hasil dari suatu
pembelajaran hendaknya melihat benar batas-batas kemampuan pada siswa
pendidikan khusus. Pada siswa pendidikan khusus, jenis Kekhususan, materi
ajar, kompetensi yang hendak dicapai, jenis metoda atau pendekatan
pembelajaran serta keberadaan dan pemakaian jenis sarana dan prasarana
sangat mempengaruhi bentuk teknik penilaian yang tentunya menentukan
hasil penilaiannya pula. Penstandaran penilaian pada tunanetra, tunarungu,
tunagrahita dan tunadaksa hendaknya pada hal-hal tertentu benar-benar
berimbang dan mungkin tidak dapat disamakan, sehingga terhindar dari
penilaian yang tidak adil diantara para siswa yang beragam kekhususannya
itu . Standar-standar lokal sekolah mungkin perlu dikembangkan untuk
pencapaian kompetensi-kompetensi tertentu khususnya pada siswa-siswa
yang memiliki kekhususan ganda.
7. Langkah ke tujuh ini sangat penting khususnya dalam membuat suatu
keputusan model ataupun teknik penilaian yang hendak dilakukan. Hal ini
sehubungan dengan keragaman kemampuan siswa dilihat dari sisi variasi
Kekhususan , tingkat kecerdasannya , kemampuan fisiknya, kemampuan
berkomunikasinya yang beragam pula. Oleh karena itu perlu ada
pertimbangan pola-pola penilaian dengan penanganan secara khusus bagi
siswa-siswa tersebut.Teknik penilaian tertentu mungkin tidak dapat
dipaksakan untuk digunakan bagi siswa siswa tertentu juga.
... tidak ada ketersediaan informasi apa yang diketahui dan apa yang
tidak diketahui pada siswa Pendidikan Khusus. ...Harus ada semacam
uji coba test bagi siswa apakah test tersebut sesuai untuk siswa
Pendidikan Khusus tersebut?
( Martha L Thurlow, Ph.D., 1997)

Pernyataan ini benar dan penting diketahui adanya, sehingga dalam


menyelenggarakan penilaian dapat dilakukan secara adil dan terbuka. Proses
pembelajaran dan penilaian hendaknya mengabaikan proses terjadinya
penderaan dan pelecehan baik secara fisik maupun mental bagi siswa
berkelainan sehingga hal-hal yang negatif tersebut dapat dihindari
semaksimal mungkin. Untuk mencegah terjadinya penderaan itu setiap teknik
penilaian hendaknya diujicobakan terlebih dahulu kelayakannya. Penilaian
yang tidak adil dapat mengakibatkan penderaan terhadap peserta didik.
Untuk itu dituntut kemampuan guru dalam mengidentifikasi ketidaktahuan,
ketidakmampuan siswa sehubungan dengan penilaian yang hendak
dilakukan.
21

8. Membuat alternatif model, teknik penilaian, pembobotan dan raport


hendaknya juga mempertimbangkan apa yang telah menjadi keputusan pada
langkah ke tujuh di atas. Penyeragaman teknik penilaian pada semua siswa
berkelainan dan apalagi dengan pembobotan yang sama pada Kekhususan
yang beragam mungkin perlu dihindari jika tanpa ada alasan yang kuat yang
mendasarinya. Untuk itu perlu dikembangkan beberapa model teknik
penilaian yang adil dan sesuai dengan kondisi siswa berkelainan tersebut.
Telah diketahui betapa keragaman dan rentang kemampuan intelektual serta
fisik siswa di pendidikan khusus, oleh karena itu apa yang dicontohkan pada
pedoman Penilaian ini hanya merupakan salah satu contoh yang dapat saja
diubah, diganti, dimodifikasi untuk disesuaikan dengan kondisi sekolah dan
jenis Kekhususan siswanya. Dan satu hal yang penting ialah bahwa alat
penilaian dalam bentuk apapun hendaknya diuji cobakan terlebih dahulu. Hal
ini penting untuk mengetahui seefektif apa teknik penilaian ini dapat
mengukur perkembangan kemampuan siswa yang berlangsung ataupun
yang sudah berlangsung, dan yang lebih penting lagi ialah apakah teknik
penilaian ini tidak menyiksa atau menyakiti / mendera, men dzolimi siswa
secara mental maupun fisik siswa berkelainnan. Suatu instrumen penilaian
yang sekiranya diketahui tidak memadai hendaknya tidak diteruskan lagi.
Demikian juga jika suatu instrumen yang tidak cocok bisa saja cocok untuk
kasus siswa pendidikan khusus lainnya. Sudah diketahui bahwa siswa
Pendidikan Khusus lebih menekankan pelayanan khusus individual ketika
menjalani pendidikan dan pelatihan meskipun tidak tertutup kemungkinan
terhadap terjadinya pelayanan kelompok atau secara klasikal (ini yang paling
sering terjadi karena keterbatasan jumlah guru). Untuk itu perlu ada
semacam paket penilaian untuk anak yang dilayani harus secara individual
ataupun secara berkelompok atau klasikal. Teknik penilaian yang terdapat
pada diagram tidak harus semuanya diterapkan dalam penilaian, tetapi dicari,
dipilih yang sesuai dengan jenis kemampuan yang hendak dilatihkan serta
keterbatasan siswa. Sebagai contoh, misalnya mungkin pada satu siswa
tunanetra cocoknya dengan menggunakan penilaian unjuk kerja dan
penilaian produk, tetapi pada siswa tunanetra lainnya lebih cocok dengan
penilaian tertulis, karena kemampuannya memang pada kemampuan
menulisnya. Paket-paket penilaian ini dapat saja didesain untuk kelompok
atau individual tertentu.
9. Pada langkah ke sembilan ini (pada gambar kotak besar dengan garis
terputus-putus merupakan action sesungguhnya dari instrumen-instrumen
penilaian itu. Instrumen-istrumen test tersebut sudah tentu digunakan baik
dalam menilai proses maupun hasil belajar siswa. Proses disini yang dinilai
ialah seperti, keuletan, kejujuran, ketaatan pada prosedur, tertip selama
belejaratau berlatih, toleran, menghargai pendapat orang lain. Sedangkan
produk dapat dilihat dari hasil yang dibuatnya seperti jika menggambar
menghasilkan gambar yang komunikatif, bersih dan indah atau jika dalam
percobaan IPA dalam melakukan pengukuran sesuai dengan apa yang
dituliskan .Keutuhan penilaian yang mencakup segala segi perkembangan
kemampuan yang diajarkan hendaknya dapat diakomodasi dalam penilaian
ini. Kehati-hatian guru didalam menerapkan dan menggunakan teknik
penilaian yang tepat sangat diperlukan guna terjadi penilaian yang alami.
Tentu derajat kesulitan pada setiap siswa berKekhususan berbeda-beda
22

sesuai dengan jenis Kekhususannya. (lihat contoh Peta Penilaian pada


lampiran)
10. Raport sebagai penilaian akhir dari guru merupakan kumpulan penilaian yang
mencakup banyak aspek. Semua yang ditulis di raport hendaknya
berdasarkan catatan dari semua perkembangan siswa. Raport dalam
beberapa hal pada pendidikan khusus dapat diungkapkan secara deskriptif
kualitatif sehingga dapat menggambarkan kemajuan kemampuan yang telah
dicapainya.

23

BAB III
TEKNIK PENILAIAN, PENGOLAHAN, DAN PEMANFAATANNYA
A. PP 19 thn 2005,Psl 22 ayt 1,2,3 tentang Teknik Penilaian
(1)

(2)

(3)

Penilaian hasil pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat


(3) pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan berbagai
teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.
Teknik penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa tes
tertulis, observasi, tes praktek, dan penugasan perseorangan atau
kelompok.
Untuk mata pelajaran selain kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan
dan teknologi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, teknik
penilaian observasi secara individual sekurang-kurangnya dilaksanakan
satu kali dalam satu semester.

Teknik penilaian yang menjadi pembicaraan di pasal di atas menyiratkan perlu


adanya berbagai cara yang dimungkinkan untuk dapat digunakan oleh guru guna
mengetahui sejauh apa program yang diberikan kepada siswa memberi efek
kemajuan pada siswa Pendidikan Khusus.
Peraturan Pemerintah itu dijabarkan melalui beberapa teknik penilaian yang
dapat secara oprasional dapat dibuat antara lain melalui cara dan prosedur
sebagai berikut :
B. Pembobotan
Sebelum proses penilaian terlebih dahulu dirancang suatu proses penilaian yang
adil dan terbuka. Kesepakatan pembobotan pada suatu mata pelajaran yang
berkenaan dengan kemampuan yang hendak dikembangkan dilakukan secara
bersama diantara guru-guru mata pelajaran sama dalam kebutuhan khusus yang
sejenis juga.
Beberapa syarat dan kriteria pengembangan dalam teknik penilaian
mencakup:
Pertama, untuk melakukan penilaian terhadap subyek pendidikan hendaknya
guru dalam hal pemahaman terhadap setiap karakteristik Kekhususan sudah
tidak diragukan lagi. Jadi guru harus sudah memahami karakteristik khusus yang
dimiliki setiap siswa pada setiap jenis kebutuhan khusus.
Ke dua , pada teknik penilaian ini dikemukakan pola pembobotan. Pola ini
bertujuan agar guru dapat secara proporsional melakukan penilaian pada
siswanya secara adil dan benar sesuai dengan derajat kemampuan dan
keterbatasan yang dimiliki oleh siswanya di sekolahnya masing-masing.
Ke tiga, karena keragaman keterbatasan intelektual, mental, fisik dan emosional
peserta didik maka pembobotan dilakukan berdasarkan kriteria kemampuan
individual yang berlaku khusus di sekolah pendidikan khusus itu.
C. Kriteria Ketuntasan Belajar Minimum
Kriteria ketuntasan belajar minimum adalah merupakan penjabaran dari
kompetensi dasar menjadi beberapa indikator pencapaian belajar. Indikatorindikator itu digunakan sebagai acuan tercapainya ketuntasan belajar. Namun
demikian ketuntasan belajar minimum ditentukan oleh sekolah melalui
24

kesepakatan guru-guru matapelajaran-matapelajaran yang sama dan sejenis


dalam kebutuhan khususnya. Kriteria itu dibangun berdasarkan kondisi individu
setiap siswa dan disesuaikan dengan kemampuan minimal yang harus dicapai
berdasarkan skala maksimal yang memungkinkan untuk dikembangkan
berdasarkan kemampuan individu siswa tersebut . Untuk itu setiap siswa harus
diidentifikasi rentang kemampuan yang memungkinkan dikembangkan. Kriteria
ketuntasan belajar minimum bersifat spesifik sekolah, mata pelajaran dikaitkan
dengan jenis kebutuhan khusus siswanya. Ketuntasan belajar ditentukan oleh
pencapaian kompetensi dasar yang dicerminkan dengan pencapaian ketuntasan
pada setiap indikator. Jika ada salah satu atau lebih indikator yang belum
tercapai , maka ketuntasan belajar minimum itu belum tercapai, untuk itu perlu
ada remedial bagi indikator yang belum tercapai ketuntasannya. Tingkat
ketuntasan merupakan keputusan dan kesepakatan bersama yang ditentukan
para guru berdasarkan ketentuan diatas. Kriteria ketuntasan belajar mimimum
harus ditinjau kembali secara berkala berdasarkan evaluasi program .
D. Teknik Penilaian yang Digunakan, Pengolahan, dan Pemanfaatannya
1. Penilaian Unjuk Kerja
Sebelum membuat perangkat instrumen hendaknya guru melihat terlebih dahulu
isi kurikulum. Apa yang hendak dibelajarkan, kompetensi apa yang hendak
dilatihkan, pengetahuan apa yang hendak diterima didapat siswa.
Berikut adalah contoh bagaimana menurunkan suatu standar kompetensi
kedalam perencanaan dan pelaksanaan penilaian.
Pertama ialah menjabarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang
sudah ada dalam SNP (Standar Nasional Pendidikan) Mata Pelajaran kedalam
indikator dan materi pokok dengan cara seperti di bawah ini.
Kelas XI
Semester 1
Standar Kompetensi (SK)
2. Mendeskripsikan karakteristik unsur-unsur dan senyawa penting, keberadaan,
kegunaan dan bahayanya.
Kompetensi Dasar (KD)
2.1 Mengidentifikasi
keberadaan unsur dan
senyawa dan produk yang
mengandung unsur
tersebut

Indikator

Menunjukkan keberadaan unsur-unsur dan


senyawa dalam kehidupan sehari-hari.
Mengidentifikasi produk-produk yang
mengandung unsur atau senyawa tersebut.

Materi Pokok
Keberadaan
unsur dan
senyawa.

Kedua ialah menganalisis SK, KD dan Materi Pokok , kemudian memperkirakan

kemampuan serta materi pokok apa yang hendak dikembangkan dalam


pembelajaran sehubungan dengan keterbatasan mental, intelektual maupun
fisik siswa. Analisis SK, KD dan Materi Pokok lebih mendalam pada indikator
diperlukan guna menentukan unit-unit penilaian yang lebih terukur dan mudah
diamati. Contohnya seperti Kompetensi Dasar mengidentifikasi , kompetensi
25

ini harus dijelaskan sejauh apa kegiatan mengidentifikasi untuk siswa


tunanetra, tunarungu, tunagrahita dan tunadaksa harus dilakukan secara
memadai
Contoh untuk mata pelajaran IPA yaitu kompetensi mengidentifikasi
Kompetensi
mengidentifik
asi yang
dikembangkan
1. Menyebutkan
persamaan dari
dua benda
yang diamati

2. Membandingka
n
logam
dengan bukan
logam

Aspek yang dinilai yang berhubungan dengan Keterlibatan indra, potensi tubuh
ketika memahami Kompetensi mengidentifikasi dalam aksi pembelajaran sesuai
dengan Jenis Kekhususannya
C. (tunagrahi
A. (tunanetra)
B. (tunarungu)
D. (tunadaksa)
ta)
Setelah melakukan
Setelah melakukan
Dengan bantuan
Dengan bantuan guru
perabaan, mencium
perabaan, melihat warna,
guru setelah
Setelah melakukan
dua benda yang
dan mencium ciri kedua
melakukan
perabaan, melihat
diamati siswa
benda siswa tunarungu
perabaan ,
warna, mendengarkan
tunanetra dapat
dapat menyebutkan
mencium bau
bunyi dan mencium ciri
menyebutkan
persamaan dua benda yang
benda, melihat
bau kedua benda siswa
persamaan dua
diamati dengan bahasa yang warna dua benda
tunadaksa dapat
benda yang telah
komunikatif
siswa tunagrahita
menyebutkan
diamati
dapat
persamaan dua benda
menyebutkan apa
yang diamati
yang diamatinya
Perabaan
untuk Setelah
melakukan Dengan bantuan Dengan bantuan guru
membandingkan
perabaan
untuk guru
setelah setelah
melakukan
logam dan bukan membandingkan logam dan melakukan
perabaan, penciuman
logam dilihat dari bukan logam dilihat dari perabaan,
untuk membandingkan
unsur
unsur
berat/ringannya penciuman untuk logam dan bukan logam
berat/ringannya
kedua benda .
membandingkan
siswa
dapat
kedua benda .
Mencium
untuk
, logam dan bukan menunjukkan
logam
Mencium untuk , membandingkan antara bau logam
siswa dan bukan logam.
membandingkan
logam dan bukan logam.
dapat
Melalui pendengaran
antara bau logam Melalui
pengamatannya menunjukkan
siswa
tunadaksa
dan bukan logam.
siswa tunarungu dapat logam dan bukan membandingkan bunyi
Melalui pendengaran membandingkan ciri warna logam.
logam dan bukan logam
siswa
tunanetra benda logam dan bukan
ketika
diketuk-ketuk.
membandingkan
logam
Melalui pengamatannya
bunyi logam dan Pencecapan* tidak boleh
siswa tunadaksa dapat
bukan logam ketika dilakukan
karena
membandingkan
ciri
diketuk-ketuk
dikhawatirkan
bendanya
warna benda logam dan
Pencecapan* tidak beracun.
bukan logam
boleh dilakukan krn
Pencecapan*
tidak
dikhawatirkan
boleh dilakukan krn
bendanya beracun.
dikhawatirkan
bendanya beracun

3. Menyebutkan
contoh unsur .

................

................

................

................

4. Menyebutkan
contoh
senyawa

................

................

................

................

5. Menguraikan
kedalam
kelompok
unsur
dan
senyawa dalam
satu
produk

................

................

................

................

26

Kompetensi
mengidentifik
asi yang
dikembangkan

Aspek yang dinilai yang berhubungan dengan Keterlibatan indra, potensi tubuh
ketika memahami Kompetensi mengidentifikasi dalam aksi pembelajaran sesuai
dengan Jenis Kekhususannya
C. (tunagrahi
A. (tunanetra)
B. (tunarungu)
D. (tunadaksa)
ta)

(kursi)
6. Menyebutkan
contoh benda
yang dibuat
dari plastik

................

................

................

................

7. Menunjukkan
bendanya
langsung mana
yang terbuat
dari plastik
dengan tepat

................

................

................

................

8. Membuat
pelaporan hasil
identifikasi

................

................

................

................

Analisis:
Menganalisis Standar Kompetensi 3 (SK3) menjadi Kompetensi Dasar
(KD3.1)
Karakteristik yang dimaksudkan disini adalah sifat-sifat yang dapat diamati oleh
siswa tunanetra misalnya melalui perabaan . Deskripsi yang dilakukan siswa
yakni menguraikan secara tertulis sesuai dengan hasil pengamatannya. Unsur
atau senyawa yang dapat diamati siswa bisa bermacam-macam yang semuanya
terdapat di lingkungan siswa misalnya emas, besi, aluminium, perak, gula,
garam, plastic, kaca, cat dan sebagainya. Siswa tidak perlu membedakan unsur
dengan senyawa.
Menganalisis Kompetensi Dasar 3.1. (KD3.1) menjadi Indikator Butir 1 (IB.1)
Unsur dan senyawa bisa terdapat di lingkungan siswa. Siswa tidak harus
membedakan unsur dengan senyawa karena yang perlu diketahui siswa adalah
bahwa benda-benda di sekitar siswa merupakan bahan kimia. Identifikasi yang
dilakukan siswa adalah berupa menyebutkan nama unsur atau senyawa dan
menjelaskan cirri-ciri yang dapat diamatinya.
Menganalisis Indikator Butir 1 (IB1) menjadi materi pokok
Keberadaan unsur misalnya emas ada di cincin atau di kalung, besi ada di tiang
bendera, aluminium ada di panci aluminium, cat ada di berbagai benda di sekitar
siswa, plastic pada gelas atau sikat gigi dan sebagainya. Siswa diminta untuk
menyebutkan sambil menunjukkan unsure atau senyawa tersebut.

Ketiga, ialah mensintesakan


Mensintesakan SK 3, KD 3.1 dan indikator butir 1
Sintesa ini menghasilkan Pengalaman belajar sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi; Melihat persamaan dan perbedaan dengan
menyebutkannya.
27

2. Membedakan logam dan bukan logam dari baunya, suara dentingannya dan
perbedaan berat dengan benda lainnya.
3. Menunjukkan gelas, plastik
4. Mencontohkan aplikasi material dalam kehidupan sehari-hari
5. Menunjukkan unsur dan senyawa
Analisis Indikator Butir 2. (IB2)
Siswa diminta untuk menunjukkan suatu benda atau produk dan menyebutkan
nama unsure atau senyawa apa saja yang terdapat di dalam produk tersebut,
misalnya pada sebuah kursi terdapat besi pada pakunya, plastic pada joknya,
dan cat.
Mensintesakan SK 3, KD 3.1 dan indikator butir 2
Sintesa ini menghasilkan pengalaman belajar :
1.
2.
3.

Mengidentifikasi dengan mengurai nama benda atau material dalam suatu produk
Membendakan dengan menunjuk mana logam , mana plastik, mana yang gelas.
Menunjukkan benda yang unsur dan yang bukan.

Keempat, ialah meramu ke dua hasil sintesa itu menjadi pokok-pokok proses pembelajaran yang berujung pada
pokok-pokok penilaian.

Contoh checklists yaitu dengan cara menggunakan siswa yang sama (untuk kemudahan pemahaman bagi pembaca
dalam hal ini guru)

Format Penilaian Pembelajaran IPA


(Menggunakan Daftar Tanda Cek untuk Penilaian Unjuk Kerja)

Nama peserta didik:

Akhmad

Kelas: XII SMALB Tunanetra


Mata pelajaran IPA (Fisika)
Standar Kompetensi

4. Menerapkan konsep kelistrikan dan kemagnetan untuk memahami


keterkaitannya dengan pemanfaatan teknologi dalam kehidupan sehari-hari
Kompetensi Dasar

4.2

Mengidentifikasi listrik dinamis dalam rangkaian


Skala

N
o
.

Indikator

B
ob
ot
pe
r
in
di
ka
to
r

1.

2.

28

3.

4.

5.

r
e
a
l
s
k
o
r
s
i
s
w
a

Ketuntasan 60%
S
k
o
r
M
a
k
s

T
u
n
t
a
s

Tidak
tuntas/re
medial

Skala

N
o
.

B
ob
ot
pe
r
in
di
ka
to
r

Indikator

1
.

Menyebutkan
persamaan listrik
dinamis dan
listrik statis

2
.

Membandingkan
cara kerja listrik
dinamis dan
listrik statis

3
.

Menguraikan
komponen
komponen listrik
dinamis

4
.

Menyebutkan
contoh yang
menyebabkan
listrik dinamis

5
.

Menunjukkan
beberapa contoh
langsung
peralatan listrik
dinamis dalam
keseharian

1.

2.

3.

4.

r
e
a
l
s
k
o
r
s
i
s
w
a

5.

Skor yang dicapai siswa

Ketuntasan 60%
S
k
o
r
M
a
k
s

T
u
n
t
a
s

1
0

T
u
n
t
a
s

T
u
n
t
a
s

1
0

1
0

T
u
n
t
a
s

1
0

2
8

4
0

Tidak
tuntas/re
medial

Tidak
Tuntas

T
u
n
t
a
s

Skala yang terdapat pada tabel diatas digunakan oleh guru sebagai alat
pertimbangan dalam menentukan tingkat ketuntasan berdasarkan pertimbangan
subyektif guru berdasarkan kriteria . Misalnya nilai
skala 1 artinya atau kriterianya siswa tidak tahu atau tidak melaksanakan/
mengerjakan sesuatu apapun,

29

skala 2 guru dapat mengembangkan kriteria pemahaman bahwa siswanya


tahu tapi tidak dapat melaksanakannya/menjelaskannya,
skala 3 dapat dikembangkan pemahaman kriterianya bahwa siswa tahu dan
dapat melaksanakan tetapi tidak dapat mengembangkan,
skala 4 guru dapat mengembangkan bahwa siswanya tahu, dapat
melaksanakan serta dapat mengembangkan contohnya lebih dari satu
aplikasi,
skala 5 guru dapat mengembangkan kriterianya bahwa siswa tahu banyak
dan dapat mengembangkannya dengan memberikan banyak contoh lebih
dari 2 atau 3 aplikasi dengan penjelasan yang lebih komprihensif.

Catatan:
a. Bobot dibakukan atas kesepakatan guru berdasarkan pertimbangan
kemampuan dan keterbatasan siswa tunanetra dan dapat dipertanggung
jawabkan secara edukatif. Tidak menyakiti dan mendera siswa
b. Penentuan skala diputuskan oleh guru dengan pertimbangan teknis yang
kuat
c. Setiap indikator tidak boleh mempunyai skor dibawah 60% (misalnya) dari
skor maksimalnya, skor ini ditentukan secara bersama antar para guru
sesuai dengan karakteristik Kekhususan siswanya.
d. Cara menghitung jumlah real skor siswa yaitu

Bobot indikator untuk tunanetra dikalikan dengan skala


nilai = Jumlah real skor siswa
e. Jika siswa dapat mencapai skor 36 maka tingkat ketuntasan siswa ialah
lebih dari 60% atau 65% lebih , tetapi indikator no 3 dan nomor 6 kurang
dari 60%, maka siswa ini tidak tuntas, ia harus mendapat remedial sampai
skor minimalnya tercapai dengan memperbaiki kinerja indikator nomor 3
dan nomor 6. (cara mengukur ketuntasan ini dapat digunakan untuk
model-penilaian lainnya)
f. Format penilaian ini dapat dikembangkan utnuk jenis Kekhususan yang
lain.

Contoh: Format Penilaian Pendidikan Jasmani


Nama
Jenjang
Kelas
Jenis Kebutuhan Khusus

No.
a
1
2
3

Indikator
b
Bertepuk
tangan
Berjalan di
tempat
Melangkah

: ..............
: TKLB
: Persiapan 1
: Tunanetra
Skala
1-10

Bobot
Skor
untuk
nyata
tunanetra
d
e
1
.

Skor
maksimal
f
10

10

20

30

No.

Indikator

Skala
1-10

Bobot
untuk
tunanetra

Skor
nyata

Skor
maksimal

3
.
30
.
5
Berjalan ke

2
.
20
depan
.
6
Berjalan

4
.
40
mundur
.
7
Berjalan jinjit

4
.
40
.
Total Skor siswa (yang nyata)
.
170
Catatan;
Proses penilaian sama sebagaimana yang dicontohkan di atas
Kompetensi Dasar: Melakukan senam lantai dengan benar
Nama
: ............
Jenjang
:SMALB
Kelas
:X
Jenis Kebutuhan Khusus Tunanetra
4

No.
a
1
2
3
4
5
6
7

Mundur

Indikator

Skala
1-10

b
c
Berguling
.
Kayang
.
Sikap lilin
.
Guling lenting (neckspring)
.
Berdiri dengan kepala
.
Berdiri dengan kedua
.
telapak tangan
Melakukan rangkaian
.
gerakan senam
Total Skor siswa (yang nyata)

Bobot
untuk
siswa
tunanetra
d
1
4
2
4
3
4

Skor
nyata

Skor
maksima
l

e
.
.
.
.
.
.

f
10
40
20
40
30
40

40

190

Catatan
a. Pilihan Skala 1-10 diputuskan guru olah raga (apakah diberi angka 1, 2, 3, ....dst) yang
bersangkutan berdasarkan pertimbangannya ketika melakukan pengamatan pada saat siswa
berguling, kayang sikap lilin dan sebagainya.
b. Skor nyata diperoleh dari hasil perkalian antara angka skala yang telah ditetapkan oleh guru
berdasarkan pengamatannya, misalnya siswa tunanetra berguling menurut pengamatan
guru patut diberi angka 4 dari skala 10, maka 4 X 1( bobot berguling untuk siswa tunanetra
ialah 1 satu) = 4, jika siswa yang bersangkutan melakukan sikap kayang dan dinilai 4 pada
skala 10 menurut pengamatan guru maka 4 X 4 = 16.
c. Ketetapan Ketuntasan dapat ditetapkan oleh kelompok guru mata pelajaran, dalam hal ini
guru olah raga, misalnya tingkat ketuntasan indikator kompetensi dasar berguling ialah 50%

31

, maka siswa minimal mendapat skor nyata ialah 5, kurang dari 5 maka siswa tersebut tidak
tuntas atau lulus, untuk itu perlu ada perbaikan.
d. Ketuntasan belajar atau kelulusan hanya terjadi jika setiap indikatornya memiliki skor tidak
kurang dari 50% dan skor totalnya tidak kurang dari 50% juga.
e. Total skor nyata pun tidak boleh kurang dari 50 % dari 190 atau kurang dari 85 .Jadi
meskipun total skor nyatanya lebih dari 50% atau lebih dari 85 tetapi masih ada salah satu
indikator mempunyai skor nyata dibawah 50% maka siswa tersebut tidak tuntas atau lulus.
f. Format penilaian ini dapat dikembangkan utnuk jenis Kekhususan yang lain.
Nama
Jenjang
Kelas
Jenis Kebutuhan Khusus
No.

Indikator

: ..........
: SMALB
:X
: Tunarungu
Skala
1-10
.

Bobot

Skor
nyata
.

Menerapkan konsep dasar


4
senam lantai
2
Melakukan guling
.
1
.
3
Hand-spring
.
3
.
4
Neck-spring
.
4
.
5
Head-spring
.
3
.
6
Meroda
.
4
.
7
Melakukan gerakan
.
3
.
rangkaian senam
Total Skor siswa (yang nyata)
.
Catatan;
Proses penilaian sama sebagaimana yang dicontohkan di atas
Nama
Jenjang
Kelas
Jenis Kebutuhan Khusus
No.
1
2
3
4
5
6
7

Deskripsi

Skor
maksimal
40
10
30
40
30
40
30
220

: ..............
: SMALB
:X
: Tunagrahita Ringan
Skala
1-3
.
.
.
.
.
.

Berguling
Kayang
Sikap lilin
Guling lenting (neckspring)
Berdiri dengan kepala
Berdiri dengan kedua
telapak tangan
Melakukan rangkaian
.
gerakan senam
Total Skor siswa (yang nyata)

2
4
4
4
4
4

Skor
nyata
.
.
.
.
.
.

Skor
maksimal
.
.
40
40
40
40

40

200

Bobot

Catatan;
Proses penilaian sama sebagaimana yang dicontohkan di atas
32

Untuk Tunadaksa SMALB kelas X:


Penentuan kompetensi, deskripsi olah raga harus ditentukan oleh guru yang
bersangkutan sesuai dengan kondisi siswa.
Proses penilaian sama sebagaimana yang dicontohkan untuk jenis
Kekhususan lainnya.
Skala dan pembobotan diisikan sesuai dengan pertimbangan antar guru
oleh raga yang ketika hendak melakukan penilaian, namun demikian perlu
juga penetapan kriteria yang disepakati bersama juga dan juga kapan
memberi penilaian skala 1, skala 2 dan skala 3, untuk itu dapat ditetapkan
suatu kriteria misalnya: pemberian tanda cek (V) pada
- skala 1 artinya siswa dapat melakukan dengan sedikit kesalahan namun
lambat ,
- skala 2 artinya siswa dapat melakukan dengan benar meskipun lambat,
- skala 3 siswa dapat denganbenar dan cepat melakukannya.
2. Penilaian Sikap
Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik, antara lain:
a. Observasi perilaku
Perilaku positif dan negatif dari setiap siswa dicatat dalam buku catatan harian
tentang siswa.
Contoh halaman sampul Buku Catatan Harian:

BUKU CATATAN HARIAN TENTANG PESERTA DIDIK


(

nama sekolah

Kelas

: ___________________

Tahun Pelajaran : ___________________


Jenis Kekhususan

___________________
Nama Guru

: ___________________

Jakarta, 2006

33

Contoh cara mengisi Buku Catatan Harian :


No
.
1

Hari/ tanggal
Sabtu, 25 Mei 2006.
Mata
Pelajaran:
..

Nama
peserta
didik
1. Jiman

Kejadian (positif f)
1. Mengakui
perbuatannya
yang salah.
2. Membantu
temannya
memindahkan
meja
3. Membuang
sampah
pada
tempatnya.
1. Bekerja
sama
dengan
temannya
2. Memimpin
dengan baik
............................
............................
............................
............................
............................

2. Hasril

3. Anita

4. Tobias

............................
............................
............................
............................
............................

Kejadian
(negatif)
1. Berkelahi
dengan
temannya
2. Mencontek

1. Agak otoriter
2. Kurang sabar

............................
............................
............................
............................
............................
............................
............................
............................
............................
............................

Catatan :
Kejadian yang dicatat oleh guru pada Buku Catatan Harian adalah kejadian yang
positif ekstrim dan negatif ekstrim.
Catatan dalam lembaran buku tersebut, selain bermanfaat untuk merekam dan
menilai perilaku peserta didik sangat bermanfaat pula untuk menilai sikap
peserta didik serta dapat menjadi bahan dalam penilaian perkembangan peserta
didik secara keseluruhan. Pekerjaan ini agak merepotkan guru khususnya jika
siswanya dalam jumlah banyak, untuk itu kejadian yang dicatat hanya yang
ekstrim positif atau negatif saja. Kelemahan dan kekuatan siswa dalam
pembentukkan sikap dapat dipantau dan dapat menjadi umpan balik bagi guru
yang bersangkutan.

34

Contoh: Format Penilaian Sikap dalam Pengetahuan Sosial dalam kegiatan


Observasi
Kompetensi Dasar: Menerapkan berbagai cara dalam menjaga kesehatan
lingkungan.
Nama
Jenjang
Kelas
Jenis Kebutuhan Khusus

: ..............
: SDLB
: III
: (A)Tunanetra, (B)Tunarungu, (C)Tunagrahita
Ringan, (D)Tunadaksa Ringan
Skala

No.

Perilaku

Membersi
hkan
kelas

Kerja
sama

Inisiatif

Punya
perhatian

Bekerja
sistematis

Indikator

Membuang
sampah
Menyapu kelas
Melap perabot
sekolah
Membantu teman
yang mengalami
kesulitan ketika
membersihkan
kelas
Berdiskusi untuk
memecahkan
masalah tentang
kebersihan kelas
Membuang
sampah pada
tempatnya tanpa
disuruh
Menyampaikan
gagasan tentang
kebersihan
Berempati dalam
kata-kata atau
perbuatan pada
orang lain yang
berkaitan dengan
kebersihan kelas
Memberi kritik
positif terhadap
kebersihan
lingkungan
Mengikuti aturan
Mengikuti
prosedur
Membangun cara
kerja yang logis

Bobot
Kekhususan
4

Skor
sesungguhnya

5
A

Skor Maksimal.

..

..

..

..

20

10

20

..

..

..

..

..

..
..

..
..

..
..

..
..

..
..

..

..

..

..

20

10

20

..

..

..

..

15

10

15

..

..

..

..

..

..

..

..

..

20

10

20

..

..

..

..

..

..

..

..

..

20

20

..

..

..

..

..

..

..

..

..

10

10

10

10

..

..

..

..

..

..

..

..

..

10

20

..

..

..

..

..

..

..

..

..

15

10

20

..

..

..

..

..

..

..

..

..

10

..
..

..
..

..
..

..
..

..
..

15

..
..

15

..
..

15

..
..

15

..
..

10

..

..

..

..

..

..
..

..
..

..
..

..
..

10

10

15

10

145

125

160

135

Skor total

Catatan*)
Tabel diatas sengaja ditampilkan bersama antara penilaian tunanetra, tunarungu,
tunagrahita dan tunadaksa hanya sebagai cara agar memudahkan pembaca
35

mengetahui perbandingan bobot penilaian pada masing-masing Kekhususan,


tetapi dalam pelaksanaan sesungguhnya tabel diatas harus terpisah dan hanya
berlaku untuk penilaian satu anak untuk setiap Kekhususan serta satu mata
pelajaran pada satu topik pembelajaran .
Penjelasan penggunaan tabel di atas:
Kolom perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan pertimbangan guru
matapelajaran dan guru pada setiap jenis Kekhususan.
Rentang skala
1 = sangat kurang
2 = kurang
3 = sedang
4 = baik
5 = amat baik
Skala dibuat /diputuskan menurut pertimbangan guru yang mengamati
aktifitas siswa secara langsung.
Bobot Kekhususan ditentukan oleh kelompok guru mata pelajaran pada
setiap jenis Kekhususan.
Perhitungan penilaian lainnya sebagaimana telah dicontohkan sebelumnya.
Skor sesungguhnya diperoleh dari perkalian antara skala yang diputuskan
guru ketika melakukan pengamatan dikalikan dengan bobot Kekhususan
Skor maksimal pada tabel diatas bermanfaat sebagai acuanpenentuan posisi
nilai siswa.
Konversi penilaian pada setiap Kekhususan dari tabel di atas dapat
dijelaskan sebagai berikut:
Tunanetra mempunyai skor maksimal 145 untuk kemampuan
mengidentifikasi, jika ingin dibuat menjadi rentang penilaian dari sangat
kurang sampai dengan amat baik, maka harus dibuat lima katagori rentang
penilaian yaitu pada setiap rentang berjarak nilai 145 : 5 = 29, sehingga
menjadi:
1 = amat baik
= a =117 145
2 = baik
= b = 88 116
3 = sedang
= c = 59 87
4 = kurang
= d = 30 58
5 = sangat kurang
= e = 0 29
Jika penilaian hendak dikembangkan dengan menggunakan skala nilai 1
(satu) sampai dengan 10 (sepuluh) dapat menggunakan cara membuat jarak
rentang 145 : 10 yaitu 14.5, kemudian direntang menjadi:
0

14.5
nilainya sama dengan 1
15

29
nilainya sama dengan 2
29.5

43.5
nilainya sama dengan 3
44

58
nilainya sama dengan 4
58.5

72.5
nilainya sama dengan 5
73

87
nilainya sama dengan 6
87.5

101.5 nilainya sama dengan 7


102

116
nilainya sama dengan 8
116.5

130.5 nilainya sama dengan 9


131

145
nilainya sama dengan 10
36

Tunarungu mempunyai skor maksimal 125 untuk kemampuan


mengidentifikasi, jika ingin dibuat menjadi rentang penilaian dari sangat
kurang sampai dengan amat baik atau penilaian dengan skor a, b,c,d dan e,
maka harus dibuat lima katagori rentang penilaian yaitu pada setiap rentang
berjarak nilai 125 : 5 = 25 sehingga menjadi:
1 = amat baik
2 = baik
3 = sedang
4 = kurang
5 = sangat kurang

=
=
=
=
=

a
b
c
d
e

= 101 125
= 76 100
= 51 75
= 26 50
= 0 25

Jika penilaian hendak dikembangkan dengan menggunakan kala nilai 1 (satu)


sampai dengan 10 (sepuluh) dapat menggunakan cara membuat jarak
rentang 125 : 10 yaitu 12.5, kemudian direntang menjadi:
0
13
25.5
38
50.5
63
75.5
88
100.5
113

12.5
25
37.5
50
62.5
75
87.5
100
112.5
125

nilainya sama dengan 1


nilainya sama dengan 2
nilainya sama dengan 3
nilainya sama dengan 4
nilainya sama dengan 5
nilainya sama dengan 6
nilainya sama dengan 7
nilainya sama dengan 8
nilainya sama dengan 9
nilainya sama dengan 10

Tunagrahita mempunyai skor maksimal 160 untuk kemampuan


mengidentifikasi, jika ingin dibuat menjadi rentang penilaian dari sangat
kurang sampai dengan amat baik atau penilaian dengan skor a, b,c,d dan e,
maka harus dibuat lima katagori rentang penilaian yaitu pada setiap rentang
berjarak nilai 160 : 5 = 32, sehingga menjadi:
1 = amat baik
=a=
129 160
2 = baik
=b=
97 128
3 = sedang
=c=
65 96
4 = kurang
=d=
33 64
5 = sangat kurang = e =
0 32
Jika penilaian hendak dikembangkan dengan menggunakan kala nilai 1 (satu)
sampai dengan 10 (sepuluh) dapat menggunakan cara membuat jarak
rentang 160 : 10 yaitu 16, kemudian direntang menjadi:
0
17
33
49
65
81

16
32
48
64
80
96

nilainya sama dengan 1


nilainya sama dengan 2
nilainya sama dengan 3
nilainya sama dengan 4
nilainya sama dengan 5
nilainya sama dengan 6
37

97
113
129
145

112
128
144
160

nilainya sama dengan 7


nilainya sama dengan 8
nilainya sama dengan 9
nilainya sama dengan 10

Tunagrahita mempunyai skor maksimal 135 untuk kemampuan


mengidentifikasi, jika ingin dibuat menjadi rentang penilaian dari sangat
kurang sampai dengan amat baik atau penilaian dengan skor a, b,c,d dan e,
maka harus dibuat lima katagori rentang penilaian yaitu pada setiap rentang
berjarak nilai 135 : 5 = 27, sehingga menjadi:
1 = sangat kurang
2 = kurang
3 = sedang
4 = baik
5 = amat baik

=a=
=b=
=c=
=d=
=e=

0 27
28 54
55 81
82 108
109 135

Jika penilaian hendak dikembangkan dengan menggunakan kala nilai 1 (satu)


sampai dengan 10 (sepuluh) dapat menggunakan cara membuat jarak
rentang 135 : 10 yaitu 13.5, kemudian direntang menjadi:
0
14
27.5
41
54.5
68
81.5
95
108.5
123

13.5
27
40.5
54
67.5
81
94.5
108
121.5
135

nilainya sama dengan 1


nilainya sama dengan 2
nilainya sama dengan 3
nilainya sama dengan 4
nilainya sama dengan 5
nilainya sama dengan 6
nilainya sama dengan 7
nilainya sama dengan 8
nilainya sama dengan 9
nilainya sama dengan 10

b. Pertanyaan langsung
Kita juga dapat menanyakan secara langsung tentang sikap seseorang berkaitan
dengan sesuatu hal. Misalnya, bagaimana tanggapan peserta didik tentang
peraturan di sekolah mengenai "Peningkatan Ketertiban". Pertanyaan langsung
dilakukan jika guru merasa tidak cukup mendapatkan informasi dengan
menggunakan

teknik penilaian

observasi perilaku.

Dengan

melakukan

pertanyaan langsung kepada siswa dapat diperoleh data yang lebih lengkap
mengenai kondisi dan kemampuan siswa.
c. Laporan pribadi
Peserta didik diminta membuat ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya
tentang suatu masalah, keadaan, atau hal yang menjadi objek sikap. Misalnya,

38

diminta menulis pandangannya tentang "bencana alam". Dari ulasan yang dibuat
oleh peserta didik tersebut dapat disimpulkan kecenderungan sikap peserta didik.

Contoh Format Penilaian Observasi Perilaku pada Pembelajaran IPA


(Menggunakan Daftar Tanda Cek untuk Penilaian Sikap)

Nama peserta didik:

Akhmad

Kelas: XII SMALB Tunanetra


Mata pelajaran IPA (Fisika)
Waktu : Disesuaikan dengan kebutuhan proses pembelajaran

N
o
.

Indikator

(
1
)

(2)

1
.

Menyebutka
n
persamaan
dari dua
benda yang
diamati

Aspek sikap
yang
diharapkan
muncul

(3)

Membanding
kan logam
dengan
bukan logam

Menyebutka
n contoh
benda yang
dibuat dari
plastik

2
x

3
x

4
x

5
x

(
5
)

(
6
)

(
7
)

(
8
)

(
9
)

..
.

(10)

S
k
o
r
M
a
k
s
(
1
1
)

Peka dalam
pengindraan

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

1
0

Mengikuti
Prosedur
Pedoman

...

...

...

...

...

...

Membandingk
an dengan
perabaan dan
penciuman

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

Menyebutkan
lebih dari
contoh

...

...

...

...

...

...

1
0

Menyebutkan
contoh

...

...

...

...

...

...

Kepekaan
indra
penciuman

3
.

(4)

1
x

Jml
real
sko
r
sis
wa

Teliti dalam
mengindra

Hati-hati

2
.

Frekuensi berapa kali


munculnya dalam proses
pembelajaran

Bobot utk
setiap
aspek
indikator
dari
tunanetra

39

...

...

...

...

1
0

...

N
o
.

Indikator

Aspek sikap
yang
diharapkan
muncul

(
1
)

(2)

4
.

Menunjukka
n bendanya
langsung
mana yang
terbuat dari
plastik
dengan
tepat

Kecermatan

Mengkomuni
kasikan

Jujur

5
.

(3)

Frekuensi berapa kali


munculnya dalam proses
pembelajaran

Bobot utk
setiap
aspek
indikator
dari
tunanetra

(4)

1
x

2
x

3
x

4
x

5
x

(
5
)

(
6
)

(
7
)

(
8
)

(
9
)

Jml
real
sko
r
sis
wa

(10)

S
k
o
r
M
a
k
s
(
1
1
)

...

...

...

...

...

...

1
0

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

1
5

...

...

...

...

...

...

1
0

...

...

...

...

...

...

1
0

Kebenaran

Jelas dgn
bahasa yang
mudah
dipahami
Santun

Skor yang dicapai siswa

...

Penjelasan tabel diatas


Indikator merupakan penjabaran dari kompetensi dasar yang diturunkan dari standar
kompetensi , sedangkan aspek sikap yang diharapkan muncul ialah sikap-sikap yang
diperkirakan akan muncul ketika kegiatan pembelajaran IPA (untuk indikator-indikator tertentu)
berlangsung. Penjabaran indikator pada aspek sikap yang diharapkan muncul dilakukan dan
ditetapkan bersama-sama oleh kelompok guru mata pelajaran pada setiap jenis Kekhususan.
Nilai Pembobotan setiap sub indikator ditetapkan oleh kelompok guru mata pelajaran sesuai
dengan karakteristik Kekhususan siswa, tingkat kesulitan dan kompleksitas sub indikator.
Konversi penilaian A, B, C atau D dapat menggunakan rentang 155 sebanyak 4 katagori nilai
155
sehingga
39, tergantung kesepakatan guru mata pelajaran sejenis.
4
Sehingga Misalnya:

118 - 155 nilai A


79 117 nilai B
40 78 nilai C
0 39 nilai D
atau

40

1
5
5

Jika rentangan hendak dibuat sampai dengan F maka menggunakan rentang 155 sebanyak 6
katagori nilai , maka 155 : 6 = 25,8
Maka:
129,1 155 nilai A
103,4 129 nilai B
77,5 - 103,2 nilai C
51,7 - 77,4 nilai D
25,9 51,6 nilai E
0 25,8 nilai F
Jika menginginkan penilaian secara deskriptif dengan menggunakan rentang penilaian
deskriptif yang bergradasi dengan lima skala maka dapat menggunakan seperti sangat
kurang, kurang, sedang, baik, sangat baik, maka skor maksimal itu dapat dibagi lima
yaitu 155 : 5 = 31 maka
125 155 = sangat baik, , ,
94 124 = baik,
63 93 = sedang
32 62 = kurang
0 31 = sangat kurang
Jika menginginkan penilaian dalam bentuk skala 10 dapat dilakukan dengan :
Jumlah real skor siswa
X 10 = nilai siswa
155
Jika menginginkan penilaian dalam bentuk skala 100 dapat dilakukan dengan :
Jumlah real skor siswa
155

X 100 = nilai siswa

C. Penilaian Tertulis
Pada dasarnya semua bentuk soal tes tertulis itu baik, asal dapat menempatkan
dimana tes itu diberikan. Saat yang tepat, bahan kajian yang sesuai dan metoda
yang memadai dan penskoran yang jelas dan terukur sudah tentu akan
menghasilkan produk penilaian yang baik.
Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal
berikut.
materi, misalnya kesesuian soal dengan indikator pada kurikulum;
konstruksi, misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas.
bahasa, misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat yang
menimbulkan penafsiran ganda.
Ada dua bentuk soal tes tertulis, yaitu:
1. Soal dengan memilih jawaban
pilihan ganda, pilihan ganda diberikan pada pendidikan khusus disesuaikan
dengan karakter Kekhususan dan menyesuaikan kondisi sekolah setempat.
Jumlah pilihan jawaban disesuaikan juga dengan kondisi kemampuan fisik
dan intelektual siswa pada pendidikan khusus. Soal dapat dibacakan atau
tertulis untuk tunanetra. Jumlah pilihan jawaban yang diberikan sesuai
dengan tingkat kemampuan dan jenis Kekhususan, Contoh: untuk
Tunagrahita dan tunadaksa sedang SD jumlah pilihan jawaban 2, SMP dan
SM dapat diberikan 3 pilihan jawaban; untuk Tunanetra, tunarungu,
41

tunadaksa ringan kelas 1-3 SD jumlah pilihan jawaban 3, kelas 4-6 SD dan
SMP jumlah pilihan jawaban 4, dan SMALB diberikan 4 pilihan jawaban.
Untuk anak tunagrahita sedang sebaiknya menghindari soal pilihan ganda.
No

Soal

1.

Contoh
soal
memilih
jawaban(soal untuk SDLB
Lingkari jawaban yang
sesuai
Dari benda Karet, besi,
plastik, gabus dan kayu
yang mempunyai ukuran
yang sama , maka benda
manakah
yang
paling
berat ialah
a. karet
b. besi
c. gabus
d. kayu
Dua pilihan (benar-salah,
ya-tidak)
Contoh soal benar-salah
Lingkari jawaban yang
sesuai
Jika ukurannya sama besi
lebih
berat
daripada
karet dan kayu lebih
ringan daripada besi
a. benar
b. salah

2.

3.

Btl

Slh

e.

Contoh soal ya-tidak untuk


SMPLB
Lingkari jawaban ya jika
pernyataan ini dianggap
benar
dan
lingkari
jawaban
tidak
jika
pernyataan dibawah ini
salah.
Satuan kuat arus ialah
Amper
a. ya
42

Bobot

Skor
maks

Skor
nyata

Ketuntasan
Ya Tidak

No

Soal

Btl

Slh

Bobot

Skor
maks

Skor
nyata

Ketuntasan
Ya Tidak

b. tidak

Menjodohkan
Contoh soal menjodohkan(soal SMPLB)
Jodohkan jawaban yang ada pada kolom sebelah kiri dengan kolom jawaban
di sebelah kanan.
Pilihan
No Besaran Pokok Nama Satuan
Bobot Skor
Jawaban
a. Panjang
d.Meter(contoh
a. Kilogram
1
.
jawaban)
b. Massa

b. Sekon
1
.
c. Waktu

c. Amper
1
.
d. Waktu Suhu

d. Meter
1
.
e. Kuat Arus

e. Kelvin
1
.
Dari soal menjodohkan ini setiap soal diberi bobot 1 , jika benar 1 mendapat
nilai skor 1, jika benar 2 mendapat nilai skor 2, jika benar 3 mendapat nilai
skor 3, jika benar 4 mendapat nilai skor 4, dan jika benar 5 mendapat nilai
skor 5

2.

Soal dengan mensuplai-jawaban.


Contoh soal isian atau melengkapi
Agar air panas di gelas cepat dingin, maka
...................permukaan.
Contoh soal jawaban singkat atau pendek
Alat untuk mengukur tekanan udara dalam ruang
tertutup ialah.....................
Contoh soal uraian
Jelaskan siklus air yang terjadi di permukaan bumi!
43

Bobot

Skor

(untuk Tuna A)
Gambarkan siklus air yang terjadi di permukaan bumi!
(untuk Tuna B)
Ceritakan
tentang
kegunaan
air!
(untuk Tuna C)

Gambarkan/Ceritakan/Jelaskan siklus air yang terjadi di permukaan bumi! (untuk


Tuna D)

Dalam membuat soal tertulis perlu diperhatikan


penggunaan kata dalam kalimat, kalimat yang
digunakan sederhana, tidak meggunakan kalimat
majemuk, dan jumlah kata dalam satu kalimat
maksimal 7 kata (terutama untuk Tuna C).
Jumlah

D. Penilaian Proyek
Penilaian proyek dilakukan untuk mengetahui sejauh apa siswa dapat
mengembangkan pengetahuan yang diperolehnya berkaitan dengan
pengetahuan-pengetahuan lainnya yang berhubungan dengan pengetahuan
yang telah diperolehnya. Penilaian proyek dilakukan dalam jangka waktu tertentu
dan menggambarkan aplikasi kemampuan siswa dalam pengembangan
kompetensinya secara menyeluruh dan utuh. Pada pendidikan khusus harus
mempertimbangkan kemampuan siswa khususnya yang mempunyai
keterbatasan lainnya baik fisik dan/atau mental. Untuk itu harus
mempertimbangkan aspek apa saja yang memang benar-benar perlu dinilai .
Kontrol dan pengendalian kegiatan diperlukan agar penilaian tidak melebihi
batas kemampuan siswa, sebab mungkin saja terjadi dalam penilaian
terabaikannya unsur-unsur keterbatasan itu. Dalam penilaian proyek usur
perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan dilakukan berdasarkan aturan yang
disepakati bersama antara guru dan siswanya meliputi waktu, tempat, prosedur,
disiplin serta etika yang merupakan bagian yang menyatu dalam proyek.
Berikut merupakan salah satu contoh dalam suatu penilaian proyek untuk
suatu kegiatan melakukan penyelidikan perkembangan harga bahan pokok
selama sebulan. Kegiatan ini seyogyanya dimonitor oleh guru seminggu minimal
sekali. Kecuali untuk Tunagrahita, monitoring harus dilakukan terus-menerus dan
pemilihan topik sesederhana mungkin dan jangka waktu proyek tidak terlalu
lama, contohnya: melakukan penyelidikan perkembangan harga beras selama 1
minggu. Pencatatan melalui format monitoring di bawah ini dilakukan saat guru
melakukan kunjungan monitoring pada setiap kelompok.

44

NO

KEGIATAN

1.

Perencanaan

2.

Pelaksanaan

FREKUENSI
MUNCULNYA
INDIKATOR
SEBANYAK ....KALI (1
KALI MINIMAL SD 5
KALI MAXIMAL)
A
B
C
D

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

BOBOT UNTUK
KETUNAAN*)

INDIKATOR OPRASIONAL
KEGIATAN

1. Melakukan tukar
pikiran/diskusi
2. Membuat langkahlangkah penelitian
3. Menguraikan/
menjelaskan langkahlangkah kegiatan
4. Menentukan
peralatan
yang hendak digunakan
5. Membagi tugas/pekerjaan
1. Memantau/mencatat
perkembangan harga
sembako selama sebulan
(untuk Tunagrahita
mencatat harga beras
selama 1 minggu)
2. Pemahaman materi
3. Aplikasi
(pembuktian)
4. Etika bekerja

konsep

5. Jujur

45

SKOR YANG
DICAPAI
A

C
...
.
...
.
...
.
...
.
...
.
...
.
...
.
...
.
...
.
...
.

SKOR MAKSIMAL

....

10

10

20

10

....

15

15

20

15

....

15

15

....

15

....

10

10

10

10

....

15

10

....

15

15

15

15

....

....

10

10

10

10

....

10

10

10

10

NO

KEGIATAN

FREKUENSI
MUNCULNYA
INDIKATOR
SEBANYAK ....KALI (1
KALI MINIMAL SD 5
KALI MAXIMAL)
A
B
C
D

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

BOBOT UNTUK
KETUNAAN*)

INDIKATOR OPRASIONAL
KEGIATAN

6. Mengikuti prosedur
7. Disiplin/taat waktu
3.

Pelaporan

1. Membuat pola pelaporan


2. Membuat laporan

3. Menggunakan
bahasa
1
4
1
yang komunikatif
4. Membuat tabel, daftar
(untuk Tunanetra dengan 1
1
3
2
bimbingan)
5. Menyajikan/mengkomunik
2
4
4
2
asikan hasil pekerjaan
Total skor nyata
Total skor maksimal

46

SKOR YANG
DICAPAI
A

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

....

...

...

C
...
.
...
.
...
.
...
.
...
.
...
.
...
.
..

SKOR MAKSIMAL

....

10

....

10

10

20

10

10

10

10

....

10

10

20

10

....

10

10

20

10

....

20

15

....

15

10

....

10

20

20

10

150

185

255

160

....

*) Catatan
A ialah siswa tunanetra
B ialah siswa tunarungu
C ialah siswa tunagrahita
D ialah siswa tunadaksa
Semua tahap dalam penilaian proyek harus selalu dalam bimbingan guru.
Dalam pembobotan perlu dibuatkan suatu kriteria pembobotan dengan
mempertimbangkan potensi dan keterbatasan siswa. Siswa tunarungu sudah
tentu mengalami kesulitan dalam melakukan pelaporan secara lisan, jika ia dapat
melakukan pelaporan secara lisan, hasil pelaporan itu menunjukkan tingkat
kesulitan yang tinggi, sehingga mereka berhak mendapatkan nilai yang tinggi.
Pertimbangan-pertimbangan itulah yang dicoba dilakukan dalam membuat
pembobotan di atas.
Perhitungan lainnya dapat dilihat pada teknik penilaian lainnya yang telah
disajikan diatas.
5. Penilaian Produk
Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik.
Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya
dilakukan pada tahap akhir. Penilaian holistik atau menyeluruh biasanya
dilakukan berdasarkan kesan apa yang dapat diberikan pada suatu produk
akhir dari suatu karya siswa. Penilaian ini dapat dilakukan dengan cepat ,
tetapi jika menginginkan informasi lebih lanjut dan teliti misalnya bagaimana
produk itu berproses hingga jadi guru dapat melakukan pembobotan pada
setiap kriteria yang dibuat oleh guru sendiri. Penilaian produk ini dapat dalam
bentuk 2 dimensi atau karya tulis maupun bentuk 3 dimensi atau suatu
produk benda jadi atau seperti patung, alat elektronik. Sebaiknya kriteria ini
perlu disampaikan pada siswa sebelum mereka membuatnya. Penilaian ini
dapat digunakan jika guru memberikan penugasan kepada siswanya dengan
tanpa pengamatan guru
Contoh:
Guru menilai suatu produk 2 dimensi atau tiga dimensi
Produk 2 dimensi
Karya tulis
Membuat makanan murah dan sehat
Membuat kriteria misalnya makanan itu :
1. Harus Murah
2. Harus sehat
3. Harus enak
4. Harus mudah dicari
5. Harus mudah dibuat
6. Menggunakan alat yang mudah dicari
Menentukan kriteria mana yang tertinggi bobotnya, misalnya guru menentukan bobot
kriteria itu sebagai berikut:
1. Harus sehat (peringkat pertama dengan bobot 6)
2. Harus Murah (peringkat ke dua dengan bobot 5)
3. Harus enak (peringkat ke tiga dengan bobot 4)
4. Bahan harus mudah dicari (peringkat ke empat dengan bobot 3)
5. Menggunakan alat yang mudah dicari (peringkat ke lima dengan bobot 2)
6. Harus mudah dibuat (peringkat ke enam dengan bobot 1)

47

METODA SELANJUTNYA IALAH PENILAIAN SEBENARNYA DENGAN MENGGUNAKAN SKALA


Skala antara
No

1.

2.

3.

4.

Kriteria

Harus
sehat
(peringkat
pertama)
Harus
Murah
(peringkat
kedua)
Harus
enak
(peringkat
ketiga)
Bahan
harus
mudah
dicari
(peringkat
pkeempat)

Bobot

0-1
Cont
oh
dipili
h

1-2

....

2-3

....

3-4

....

4-5

....

Skor Maks
(bobot X
skala
maks yaitu
5)

30

Skor
kenyataan(bo
bot X skala
yang dipilih)

Contoh..3...

0.5

....

Skor ketuntasan
(misal nya minimal
60%)

Contoh 60/100 x 30
(skala maks) = ..18...

Lulus

Tidak Lulus

Contoh:

Tidak lulus,
karena 3<18,
harus remedial

....

....

Conto
h
dipilih

....

25

..20...

Contoh 60/100 x 25
(skala maks) = ..15...

Lulus,
karena 20>
15

....

....

....

....

....

20

.......

...12...

.......

.......

....

....

....

....

....

15

.......

....9...

.......

.......

48

Skala antara
No

5.

6.

Kriteria

Mengguna
kan
alat
yang
mudah
dicari
(peringkat
kelima)
Harus
mudah
dibuat
(peringkat
keenam
)

Bobot

Skor Maks
(bobot X
skala
maks yaitu
5)

Skor
kenyataan(bo
bot X skala
yang dipilih)

Skor ketuntasan
(misal nya minimal
60%)

Lulus

Tidak Lulus

0-1

1-2

2-3

3-4

4-5

....

....

....

....

....

10

.......

....6...

.......

.......

....

....

....

....

....

.......

...3....

.......

.......

.......

63

.......

.......

Skor maksimal
Skor nyata (real)

105

Catatan:
Cara menilai seperti yang dicontohkan diatas dapat dilakukan pada produk 3 dimensi seperti produk patung, ukiran maupun 2
dimensi seperti karya tulis, syair, puisi dan sebagainya. Penentuan kriteria dilakukan bersama-sama dengan guru sejenis.
Penentuan kriteria secara bersama ini enting untuk menjaga standar dan persamaan persepsi atau cara pandang dan ini
khususnya jika kegiatan dilakukan oleh lebih dari 1 orang guru.

49

Produk 3 dimensi
Karya Patung Kuda
Membuat kriteria misalnya makanan itu :
1. Harus Proporsional dengan mengikuti anatomi kuda
2. Harus mempunyai warna yang sesungguhnya (estetika)
3. Harus mempunyai konstruksi yang kuat
4. Harus mudah dicari bahannya
5. Menggunakan alat yang mudah dicari
Menentukan kriteria mana yang tertinggi bobotnya, misalnya guru
menentukan bobot kriteria itu sebagai berikut:
1. Harus Proporsional dengan mengikuti anatomi kuda (peringkat
pertama dengan bobot 5)
2. Harus mempunyai konstruksi yang kuat (peringkat ke dua dengan
bobot 4)
3. Harus mempunyai konstruksi yang kuat (peringkat ke tiga dengan
bobot 3)
4. Bahan harus mudah dicari bahannya (peringkat ke empat dengan
bobot 2)
5. Menggunakan alat yang mudah dicari (peringkat ke lima dengan
bobot 1)
Selanjutnya dapat dilakukan sebagaimana yang dicontohkan di atas
Produk 2 dimensi
Karya Tulis Dampak Rumah Kaca bagi Kehidupan
Membuat kriteria misalnya makanan itu :
1. Konsepnya benar
2. Secara keseluruhan pesan/ gagasan dapat dipahami
3. Urutannya logis
4. Bahasanya dapat dipahami
5. Ilustrasi kata-katanya menarik
6. Gambarnya Indah dan bermakna
Menentukan kriteria mana yang tertinggi bobotnya, misalnya guru
menentukan bobot kriteria itu sebagai berikut:
1. Konsepnya benar(peringkat pertama dengan bobot 6)
2. Secara keseluruhan pesan/ gagasan dapat dipahami (peringkat ke dua
dengan bobot 5)
3. Urutannya logis (peringkat ke tiga dengan bobot 4)
4. Bahasanya dapat dipahami (peringkat ke empat dengan bobot 3)
5. Ilustrasi kata-katanya menarik (peringkat ke lima dengan bobot 2)
6. Gambarnya Indah dan bermakna (peringkat ke enam dengan bobot 1)
Selanjutnya dapat dilakukan sebagaimana yang dicontohkan di atas

Cara analitik, yaitu penilaian berdasarkan analisis guru dari apa yang telah
dihasilkan siswanya. Penilaian ini dilakukan dengan meminta siswa untuk
menceritakan apa saja yang telah mereka lakukan dengan produk yang telah
jadi itu. Hasil Penelusuran ini digunakan guru sebagai bahan analisis untuk
menentukan skor penilaian. Sudah tentu harus dibangun suatu kriteria yang
disepakati oleh guru bidang studi, guru masing-masing jenis Kekhususan
50

untuk menentukan kriteria dan bobot dalam penilaian. Cara penelusuran ini
dapat berlangsung dengan melalui laporan tertulis atau lisan oleh siswa yang
dinilai. Cara analisis produk ini mungkin kurang tepat untuk siswa tunarungu
jika hendak menelusuri suatu produk dengan laporan secara lisan.
Penelusuran apa, mengapa dan bagaimana dapat digunakan sebagai
kerangka berpikir guru untuk mengetahui kebenaran produk yang dibuat
siswa. Proses penilaian produk dengan cara analitik ini lebih lama dari pada
secara holistik, karena guru harus membangun kriteria yang akan digunakan
untuk menelusuri proses , latar belakang dan produk yang dibuat siswa.
Beberapa kriteria dikembangkan oleh guru untuk disusun lagi menjadi
pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa
pendidikan khusus yang beragam . Pertanyaan-pertanyaan itu dapat berisi
kurang lebih tentang bagaimana mereka membuat, berapa lama, dimana
membuatnya, mengapa berwarna hijau (jika menyangkut makanan atau
gambar suatu lukisan atau produk 2 dimensi atau 3 dimensi lainnya) .
Penilaian produk ini dapat dilakukan untuk perorangan atau kelompok. Untuk
kelompok penilaian produk ini bermanfaat bagi menilai kemampuan siswa
khususnya kemampuan bersosial dimana didalamnya termasuk kemampuan
bekerja sama, berdiskusi, berorganisasi, kepemimpinan
Contoh: Penilaian Poduk secara analisis pada Kerajinan Tangan dan Kesenian
Kompetensi Dasar: Berkarya dalam pembuatan berbagai model benda yang
terapung di air.
Membuat model benda mainan yang terapung di air dari bahan kertas.
Nama
Jenjang
Kelas
Jenis kebutuhan khusus

: ...................
: SDLB
:I
: Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita Ringan,
Tunadaksa Ringan

Cara pengisiannya pada kolom pelaksanaan,ya


memberikan tanda V pada kolom yang sesuai.

N
o
.

Tahapan

1 Persiapa
n

Kriteria penilaian
produk dengan
cara analisis

menggali
gagasan, dengan
mencari informasi
pada teman, buku
bacaan dan

Frekuensi
pemunculan
Bobot
berdasarkan
Penilaian
penjelasan
pada
(lisan/tulisan)
Kekhususan
laporan siswa
Ya (skala tida
A B C D
1- 3)
k
.....

.....

51

atau

tidak

Nilai nyata

dengan

Nilai Maksimal

A B C D A

..

..

..

..

12

N
o
.

Tahapan

Kriteria penilaian
produk dengan
cara analisis

diskusi dengan
teman atau
gurunya.
mengembangkan
gagasan
mendesign/meran
cang produk.
Membuat gambar
sketsa
2 Pembuat Menyeleksi alat
an (oleh
Menyeleksi
siswa
bahan
dengan
Menggunakan
diamati
bahan dengan
oleh
tepat
guru)
peruntukannya
Membuat
kombinasi bahan
menggunakan
alat,
TEKNIK
PEMBUATAN.
Komposisi warna
Komposisi
material
Konstruksi
Fungsi
Harmoni
Estetika
3 Pengujia Berfungsi/ dapat
n
mengapung
Produk(ol Kuat tidak cepat
eh guru) rusak
Murah
Mencoba
mengapungkan
perahu dgn
menguji daya
apungnya berapa
gram

Frekuensi
pemunculan
Bobot
berdasarkan
Penilaian
penjelasan
pada
(lisan/tulisan)
Kekhususan
laporan siswa
Ya (skala tida
A B C D
1- 3)
k

Nilai nyata

Nilai Maksimal

A B C D A

2x

.....

..

..

..

..

.....

.....

..

..

..

..

.....

.....

..

..

..

..

.....

.....

..

..

..

..

.....

.....

..

..

..

..

12

.....

.....

..

..

..

..

12

12

.....

.....

..

..

..

..

12

.....

.....

..

..

..

..

12

.....

.....

..

..

..

..

12

12

.....

.....

..

..

..

..

.....

.....

..

..

..

..

12

.....
.....
.....
.....

.....
.....
.....
.....

3
3
-

1
1
1
1

4
4
4
4

2
2
2
2

..
..
..
..

..
..
..
..

..
..
..
..

..
..
..
..

9
9
0
0

3
3
3
3

12
12
12
12

6
6
6
6

.....

.....

..

..

..

..

12

12

12

12

.....

.....

..

..

..

..

.....

.....

..

..

..

..

.....

.....

..

..

..

..

52

N
o
.

Tahapan

Kriteria penilaian
produk dengan
cara analisis

Frekuensi
pemunculan
Bobot
berdasarkan
Penilaian
penjelasan
pada
(lisan/tulisan)
Kekhususan
laporan siswa
Ya (skala tida
A B C D
1- 3)
k

Menguji
kecepatan laju
.....
..... 3
perahu ketika
ditiup
Total skor nyata
Total skor maksimal

Nilai nyata

Nilai Maksimal

A B C D A
..

..

..

..

..

..

..

..

69

60

111

75

Cara mengisi tabel diatas sebagai berikut:


1. Guru hanya mengisi tanda V pada kolom pelaksanaan pada kolom ya
atau tidak, jika siswa melaksanakan maka beri tanda V pada kolom ya ,
jika tidak maka beri tanda V pada kolom tidak.
2. Bobot penilaian telah ditentukan terlebih dahulu berdasarkan kesepakatan
guru sejenis dan jenis Kekhususan sejenis juga.
3. Nilai nyata merupakan perkalian antara ya sebanyak berapa kali , misalnya
siswa tunadaksa melakukan diskusi sebanyak 2 kali maka 2 dikalikan dengan
2, maka skor/nilai nyatanya ialah 4 , jika siswa ternyata tidak melakukannya
maka beri tandaV pada kolom tidak , dan jika tidak maka siswa tidak
mendapat point sama sekali.
Catatan*)
Tabel diatas disengaja ditampilkan bersama antara penilaian tunanetra,
tunarungu, tunagrahita dan tunadaksa hanya sebagai cara agar memudahkan
pembaca mengetahui perbandingan bobot penilaian pada masing-masing
Kekhususan, tetapi dalam pelaksanaan sesungguhnya tabel diatas harus
terpisah dan hanya berlaku untuk penilaian satu anak dan untuk setiap
Kekhususan serta satu mata pelajaran pada satu topik pembelajaran .
Cara penggunaan tabel diatas dapat dimodifikasi menjadi pertanyaan
pertanyaan (atau dibalik, yaitu dari pertanyaan diubah menjadi seperti tabel di
atas) seperti berikut:
TAHAPAN PERSIAPAN
a. mengapa kamu membuat perahu ini ?
b. Persiapan apa saja yang kamu lakukan sebelum membuat perahu ini?
Berapa kali kamu mendiskusikan dengan narasumber yang berbeda?
c. Langkah langkah apa saja yang telah kamu lakukan?
d. Apakah kamu membuat terlebih dahulu gambarnya ? Berapa gambar yang
telah kamu buat? Mengapa berubah-rubah? Apakah ketika kamu membuat
gambar juga kamu diskusikan dengan temanmu ?
Pertanyaan dapat diberikan pada siswa berupa pertanyaan singkat tetapi
jawaban yang diharapkan ialah terurai, seperti Ceritakan secara lengkap apa
yang telah kamu lakukan dalam persiapan pembuatan perahu
53

Aspek lain yang perlu dipertimbangkan dari segi sosial ialh kemmapuan siswa
dalam membaca dan mencari informasi, bekerja sama ditanyakan juga baik
melalui lisan atau tertulis kepada siswa atau siswa-siswa yang embuat perahu
tersebut
PEMBUATAN
a. Apakah kamu memilih alat dan bahan sebelum kamu mengambil atau
membelinya ?
b. Bahan apa saja yang kamu gunakan untuk membuat perahu itu sampai
dengan jadi? Bahan-bahan apa saja yang telah kamu cobakan? Berapa
kombinasi bahan yang telah kamu lakukan?Alat apa saja yang kamu
gunakan?
c. Siapa saja yang melakukan pembuatan perahu ini?
d. Apakah perahu kamu dapat terapung dengan baik dan seimbang? Berapa
kali kamu mencobakannya sampai kamu rasa berhasil ?
e. Berapa lama kamu membuat perahu ini?
f. Mengapa kamu menggunakan gabungan beberapa warna ini? Ide siapa?
Untuk apa?
Pada penilaian estetika, harmoni dan komposisi material guru dapat
menentukan sendiri, karena siswa mempunyai alasan tersendiri juga.
Tentang hal ini siswa dapat diminta menjelaskan mengapa estetika, haermoni
dan komposisi material mereka lakukan seperti ini ? Semua informasi baik
lisan atau trertulis dianalisis oleh guru dan diberi nilai seperti yang
diperlihatkan pada tabel di atas.
PENGUJIAN
Dalam pengujian ini guru dapat langsung mengetest perahu ini, dari segi
fungsi, mungkin kapal / perahu ini diapungkan diair, kemudian diberi beban yang
proporsional, apakah tenggelam atau tidak, cepat basah dan tenggelam atau
tidak , dapat berjalan dengan baik dan cepat atau tidak.
Semua informasi tentang perencanaan, pembuatan dan pengujian dapat
dikatagorisasikan dalam tabel di atas untuk kemudian dilakukan penilaian.
6. Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio merupakan sejumlah penilaian yang berlangsung selang
waktu tertentu seperti penilaian dalam satu semester.
Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada
kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta
didik dalam satu periode tertentu. Informasi perkembangan tersebut dapat
berupa hasil karya terbaik peserta didik, hasil tes (bukan nilai), piagam
penghargaan atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu
dalam satu mata pelajaran. Disamping itu kumpulan laporan kemajuan siswa itu
juga mencatat perkembangan siswa dalam matapelajaran-mata-pelajaran
tertentu, seperti kemajuan siswa dalam pendidikan seni dari kemampuan
menggunakan alat ekspresi sederhana sampai dengan yang lebih komplek pada
siswa dengan kekhususan tertentu pula.

54

Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan peserta didik dapat


menilai perkembangan kemampuan peserta didik dan terus melakukan
perbaikan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan
portofolio di sekolah, antara lain:
Saling percaya antara guru dan peserta didik
Dalam proses penilaian guru dan peserta didik harus memiliki rasa saling
percaya, saling memerlukan dan saling membantu sehingga terjadi
pembelajaran yang kondusif,
Kerahasiaan bersama antara guru dan peserta didik
Kerahasiaan hasil pengumpulan informasi perkembangan peserta didik perlu
dijaga dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak
berkepentingan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif.
Milik bersama (joint ownership) antara peserta didik dan guru
Guru dan peserta didik perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio
sehingga peserta didik akan merasa memiliki karya yang dikumpulkan dan
akhirnya akan berupaya terus meningkatkan kemampuannya.
Kepuasan
Hasil kerja portofolio sebaiknya berisi keterangan dan atau bukti yang
memberikan dorongan peserta didik untuk lebih meningkatkan diri.
Kesesuaian
Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan
kompetensi yang tercantum dalam kurikulum.
Penilaian proses dan hasil
Proses belajar yang dinilai, dapat diperoleh dari catatan guru tentang kinerja
dan karya peserta didik.
Penilaian dan pembelajaran
Penilaian proses portofolio merupakan hal yang tak terpisah dari proses
pembelajaran. Manfaat utama penilaian ini sebagai diagnostik yang sangat
berarti bagi guru untuk melihat kelebihan dan kekurangan peserta didik.
Teknik penilaian portofolio di dalam kelas memerlukan langkah-langkah
sebagai berikut:
Jelaskan kepada peserta didik maksud penggunaan portofolio, yaitu tidak
semata-mata merupakan kumpulan hasil kerja peserta yang digunakan oleh
guru untuk penilaian, tetapi digunakan juga oleh peserta didik sendiri.
Dengan melihat portofolionya peserta didik dapat mengetahui kemampuan,
keterampilan, dan minatnya. Proses ini tidak akan terjadi secara spontan,
tetapi membutuhkan waktu bagi peserta didik mengumpulkan hasil
karyanya.
Pastikan bahwa setiap siswa memiliki portofolio.
Kumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap peserta didik dalam satu map
atau folder.
Berilah tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan
peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke
waktu.
Menentukan kesepakatan diantara siswa mengenai kriteria penilaian dan
pembobotannya.

55

Guru
membimbing
siswa
untuk
menilai
karyanya
secara
berkesinambungan, serta menentukan kelebihan atau kekurangan dari
karya tersebut.
Apabila suatu karya mendapat nilai yang belum memuaskan, kepada siswa
dapat diberikan kesempatan untuk memperbaikiya lagi. Buat perjanjian
mengenai jangka waktu perbaikan, misalnya 1 minggu atau 2 minggu.
Jadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio, bila dianggap perlu
dapat mengundang orang tua siswa.

7. Penilaian Diri
Penilaian diri (self assessment) adalah suatu teknik penilaian, di mana subjek
yang ingin dinilai diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan, status,
proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata
pelajaran tertentu.
Teknik penilaian diri dapat digunakan dalam berbagai aspek penilaian, yang
berkaitan dengan kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor berdasarkan
kriteria atau acuan yang telah ditentukan. Dalam proses pembelajaran di kelas,
berkaitan dengan kompetensi kognitif, peserta didik dapat diminta untuk menilai
penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar
dalam mata pelajaran tertentu. Berkaitan dengan kompetensi afektif, peserta
didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya
terhadap suatu objek sikap tertentu.
Berkaitan dengan kompetensi
psikomotorik, peserta didik dapat diminta untuk menilai kecakapan atau
keterampilan yang telah dikuasainya sebagai hasil belajar.
Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan
kepribadian seseorang. Keuntungan penggunaan teknik penilaian diri antara
lain sebagai berikut.
Dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik, karena mereka
diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri;
Peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya, karena ketika
mereka melakukan penilaian, terhadap kekuatan dan kelemahannya
sendiri;
Dapat mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik untuk berbuat
jujur, karena mereka dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan
penilaian.
Catatan siswa dapat digunakan guru sebagai masukkan untuk
memberikan bantuan secara teknis kepada siswa.
Penilaian diri dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan dengan cara yang
objektif. Oleh karena itu, penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu
dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut.
Menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai.
Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan.
Merumuskan format penilaian, dapat berupa pedoman pensekoran, daftar
cek, atau skala rentang.
56

Meminta peserta didik untuk melakukan penilaian diri


Guru mengkaji sampel hasil penilaian secara acak, untuk mendorong
peserta didik supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat
dan objektif.
Menyampaikan umpan balik kepada peserta didik berdasarkan hasil
kajian terhadap sampel hasil penilaian yang diambil secara acak.
Contoh Format Penilaian Diri
Nama
Tanggal
Jenjang
Kelas
Jenis Kebutuhan Khusus

: .................
: .................
: SDLB
: III
: Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita Ringan,
Tunadaksa Ringan

Beri tanda V pada kolom yang kamu anggap sesuai


No.
1
2
3
4
5
6

Deskripsi
Mandi pagi
Memakai sabun
Mencuci rambut
Memakai shampo
Menggosok gigi
Memakai pasta
Gigi

Ya
.....
.....
.....
.....
.....

Tidak
.....
.....
.....
.....
.....

.....

.....

Pada tingkat kemampuan yang lebih tinggi penilaian itu dapat ditingkatkan
menjadi lebih terurai dan terukur untuk mendeteksi perkembangan kemampuan
siswa.
Nama
Tanggal
Jenjang
Kelas
Jenis Kebutuhan Khusus

: .................
: .................
: SMPLB
: VII
: Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita Ringan,
Tunadaksa Ringan
Beri tanda V pada kolom yang kamu anggap sesuai

No.
1
2

Deskripsi
Mandi 2
kali sehari
Memakai
sabun
setiap
mandi
Mencuci
rambut

Tidak
Kadang
Dibantu
Dilakukan
Dibantu

Tidak
Dibantu

Catatan
Permasalahan
siswa

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

57

No.

Deskripsi
paling
sedikit 2
hari sekali
Memakai
shampo
setiap
mencuci
rambut
Menggosok
gigi setiap
selesai
makan
Memakai
pasta
Gigi setiap
gosok gigi

Tidak
Kadang
Dibantu
Dilakukan
Dibantu

Tidak
Dibantu

Catatan
Permasalahan
siswa

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

.....

Catatan:
Format/tabel penilaian diri ini tidak dilakukan hanya satu kali saja, tetapi
beberapa kali , tergantung dari tingkat permasalahan dan keyakinan guru
maupun siswa sendiri. Penilaian diri yang pertama untuk mengetahui
kemampuan awal siswa menurut ukuran siswa, yang kedua untuk mengetahui
perkembangan kemampuan siswa juga menurut kemampuan siswa sendiri dan
seterusnya. Catatan mereka dari waktu kewaktu dapat memberikan semangat
baik bagi siswa itu sendiri maupun guru, khusus untuk guru akan memberikan
umpan balik perkembangan siswanya. Permasalahan siswa dapat diketahui
sehingga penanganan permasalahan siswa dapat lebih efektif.

58

E. Proses Penentuan Nilai Akhir (suatu contoh)


SEKOLAH DASAR LUAR BIASA (TUNAGRAHITA) KELAS II, SEMESTER 1 MATAPELAJARAN
PPKn
STANDAR KOMPETENSI

MEMBIASAKAN TERTIB DI RUMAH


Penilaia
n Sikap

Skor sikap

Skor
Konve
rsi

Indikator 1
Mentaati aturan

Skor
akhir
Indk 1

Penilaia
n
Tertulis

Skor
tertulis

Skor
Konve
rsi

KD
Melakukan
tata tertib di
rumah

Indikator 2
Menjaga
kebersihan

Penilaia
n tertulis

Indikator 3
Merapihkan
tempat yang
berserakan

Penilaia
n Sikap

Penilaia
n sikap
Indikator1
Membersihkan
tempat yang
kotor

KD
Memberikan
contoh
perbuatan tata
tertib di rumah

Indikator 2
Membuang
sampah pada
tempatnya

Indikator 3
Menjaga
keamanan

Skor
tertulis

Skor
Konve
rsi

Skor sikap

Skor
Konve
rsi

Skor
sikap

Skor
Konve
rsi

Penilaia
n tertulis

Skor
tertulis

Skor
Konve
rsi

Penilaia
n Sikap

Skor sikap

Skor
Konve
rsi

Penilaia
n tertulis

Skor
tertulis

Skor
Konve
rsi

59

Skor
akhir
Indk 2

Nilai
KD

Skor
akhir
Indk 3

Skor
akhir
Indk 1

Skor
akhir
Indkt 2

Skor
akhir
Indktr 3

Nilai
KD

Penjelasan gambar
Penilaian pada suatu mata pelajaran sampai dengan nilai raport merupakan
rangkaian penilaian dari berbagai bentuk teknik penilaian sampai mendapatkan
nilai akhir yang dapat digunakan sebagai bahan isian raport yang bersifat final.
Penurunan atau penjabaran materi penilaian atau test dimulai dengan
1. melihat KD atau Kompetensi Dasar yang terdapat dalam standar isi,
demikian juga perlu dilihat juga Standar Kompetensi Lulusan (SKL) nya.
2. Kemudian sekolah dalam hal ini guru mata pelajaran untuk jenis ketunaan
tertentu menjabarkan lebih lanjut lebih kedalam kegiatan oprasional dalam
bentuk indikator yang terukur dan dapat diamati dalam bentuk katakerjakatakerja yang oprasional dan yang paling fokus untuk satu kegiatan
terukur.
3. Kemudian guru menentukan jenis teknik penilaian (apakah tes sikap,
performans, portofolio, sikap, tertulis, produk, penilaian diri dst) yang
paling memadai untuk materi itu , artinya dapat mengukur aktifitas
kegiatan yang dibelajarkan. Setelah itu dibuatkan kriteria untuk membuat
bobot setiap indikatornya dengan kesepakatan guru mata pelajaran yang
sama dan jenis ketunaan sejenis juga. Dalam penilaian itu dilakukan
penskoran yang diperoleh dari berbagai teknik-teknik penilaian itu.
4. Hasil penskoran dapat beragam, dan keragaman itu perlu disamakan
dengan mengkonversikan semua skor itu dalam satu model nilai yang
sama. Misalnya dalam bentuk nilai secara deskriptif (uraian atau kualitatif
seperti kemampuan membuang sampah pada tempatnya, merapihkan
sesuatu yang nampak tidak tertata...dst), angka (0,1,2,3,4,...dst), dengan
konversi huruf (a,b,c,d,e...dst) . Cara memberi nilai ini sebaiknya
konsisten agar memudahkan dalam membuat perhitungannya, jika sudah
menetapkan untuk mengukur menaati aturan dengan tes sikap, atau jika
mengukur tentang menjaga keamanan dengan tes tertulis maka proses
pengukuran itu dari indikator sampai skor akhir secara konsiten
menggunakan cara yang sama.
5. Skor akhir ini nanti digabungkan dengan skor akhir dari indikator-indikator
lainnya untuk di rata-ratakan menjadi satu nilai untuk satu skor akhir dari
Kompetensi Dasar.
6. Gabungan nilai akhir KD-KD itu dalam satu semester dapat dirata-ratakan
menjadi nilai kuantitatif dalam satu semester atau laporan kemajuan yang
bersifat deskriptif dalam satu semester untuk satu mata pelajaran PPKn
untuk sebagaimana dicontohkan dalam diagram alur di atas itu.

60

BAB IV
PENUTUP
Telah ditampilkan berbagai contoh ataupun model teknik-teknik penilaian pada
panduan ini. Namun demikian perlu dicatat bahwa mungkin tidak ada satu pun
alat penilaian yang dapat mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar
dan berkembang peserta didik pendidikan khusus, baik dari segi
perkembangan emosional , intelektual, mental maupun fisik secara utuh dan
lengkap. Penilaian yang bersifat menyeluruh pun belum menjamin hasil
penilaian yang teliti, cermat dan terukur. Apalagi pendekatan teknik penilaian
tunggal sudah tentu tidak cukup untuk memberikan gambaran / informasi
tentang kemajuan belajar yang utuh dan lengkap.
Guru hendaknya mengembangkan lebih dari satu teknik penilaian agar
memungkinkan melihat permasalahan peserta didik dengan cakrawala yang
lebih luas, mendalam, utuh dan menyeluruh. Gabungan dari berbagai teknik
penilaian diharapkan akan memberikan gambaran kondisi sesungguhnya
peserta didik pendidikan khusus.
Suatu hasil penilaian tidak bisa secara mutlak diterima sebagai keadaan
sesungguhnya dari peserta didik pendidikan khusus, hal ini dapat terjadi
karena pada sisi lain peserta didikpun berkembang kemampuan maupun
permasalahannya sesuai dengan pengalaman belajar yang diperoleh secara
alamiah maupun formal. Teknik-teknik penilaian lainnya yang biasa
berlangsung sekian lama sudah tentu tetap mejadi pertimbangan dalam
melakukan pendekatan teknik-teknik penilaian yang disajikan dalam panduan
ini. Diyakini masih banyak sisi-sisi lain khususnya aspek-aspek pendidikan
khusus yang begitu unik yang belum terjangkau dalam penulisan panduan
penilaian ini. Masih diperlukan studi-studi lanjutan yang sifatnya
mengembangkan aspek-aspek pengembangan diri maupun menjaring segala
permasalahan peserta didik.
Gagasan-gagasan baru masih diperlukan dalam mengembangkan teknik
penilaian yang lebih adil, transparan, komprehensif , progresif dan lebih
terukur, sehingga pola pengembangan belajar siswa pendidikan khusus pada
gilirannya akan berkembang dengan lebih baik dan memberikan nilai tambah
yang lebih bermakna bagi siswa.

61

LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. FORMAT PENILAIAN KEMAJUAN BELAJAR
(BERLAKU UNTUK SEMUA JENIS KEKHUSUSAN)

1. Nama
:
2. Nomor Induk
:
3. Jenis Kelamin
:
4. Jenis Kelainan
:
5. Penyebab Kelainan
:
6. Awal kelainan tgl/thn
:
7. IQ
:
8. Tempat/Tanggal lahir
:
9. Agama
:
10. Anak ke
:
11. Status dalam keluarga
:
12. Alamat Siswa
:
Telepon
:
13. Diterima di kelas ini
:
a. Di Kelas
:
b. Pada tanggal
:
14. Sekolah asal
:
a. Nama Sekolah
:
b. Alamat
:
15. Nama Orang Tua :
a. Ayah
:
b. Ibu
:
16. Alamat Orang tua
:
Telepon
:
17. Pekerjaan Orang Tua
:
a. Ayah
:
b. Ibu
:
18. Nama Wali
:
19. Alamat Wali
:
Telepon
:
2.
20.3.
Pekerjaan Wali
:
4.
5.
6.
Pas Foto

Kepala Sekolah..
...

4 cm x 6 cm

(.)
NIP.

62

FORMAT PENILAIAN KEMAJUAN BELAJAR (SKALA SKOR 1 - 10) PER SEMESTER.............

No

Kompetensi

Ming 2

Ming 4

Ming 6

Ming 8

Ming 10

Ming 12

Ming 14

Ming 16

Ming 18

Ming 20

Ming 22

Ming 24

1.

Konsep Matematika

Membilang

Mengkalikan

Membagi

Mengurang

Mengakarkan

Penerapan Matematika

Membilang

Mengkalikan

Membagi

Mengurang

Mengakarkan

Konsep Berbahasa

Penguasaan Kosa Kata

Berkomunikasi

Membaca

Menulis

Merangkai dalam kalimat

Penerapan Bahasa

Berdeklamasi

Menulis cerita

Bercerita

Membuat Surat

Berbicara langsung

Berbicara melalui telepon

63

2.

3.

Aplikasi Matematik dan


Bahasa
Karangan cerita dlm bilangan

Program Khusus
..

7. Model Rapot
Nama Sekolah
Alamat
Nama Siswa
No

:
:................................
.................................
:................................

Mata Pelajaran

A
1.
2.

Program Umum
Pendidikan Agama
Pendidikan Pancasila
& Kewarganegaraan
Bahasa Indonesia
Matematika
Ilu Pengetahuan Alam
Ilmu Pengetahuan
Sosial
Keterampilan
Penjas
Program Khusus
..........................
..........................
..........................

3.
4.
5.
6.
7.
8.
B
9.
10.
11.

Sangat
Mampu

Cukup
Mampu

Nomor Induk
:
Kelas
:....................
Semester ke
:....................
Tahun Pelajar
:....................
Nilai
Kurang
Tidak
Catatan
mampu
Mampu

Profil perkembangan kemampuan pengembangan diri siswa per ,cawu/semester (contoh)

12
10
8
6
4
2
0

Keberanian
Kejujuran
Ketekunan

Cawu 1

Cawu 2

Cawu 3

Cawu 4

64

Catatan untuk menjadi perhatian Guru dan Orang Tua


Prilaku ekstrim negatif yang sering muncul dan memerlukan pengawasan dan
pembinaan.
Akademis

Keterampilan
Hidup

Prilaku keseharian

Prilaku ekstrim positif yang sering muncul dan memerlukan pengawasan dan
pembinaan.
Akademis

Keterampilan
Hidup

Prilaku keseharian

Profil perkembangan kemampuan akademik siswa :


100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

Kreatifitas
Pengembangan ilmu
Semangat belajar

Ming ke2

Ming ke 4

Ming ke 6

Ming ke 8

Ming ke 10 Ming ke 12

Profil perkembangan kemampuan vokasional


50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0

Keterampilan menggunakan
perkakas
Membaca gambar
Kemampuan memilih bahan

Bln ke 2

Bln ke 4

Bln ke 6

65

Bln ke 8

Bln ke 10

Bln ke 12

Profil perkembangan kemampuan kecakapan hidup


100
80
Melayani kebutuhan diri

60

Berkomunikasi
40

Membantu orang lain

20
0
Bln ke 2

Bln ke 4

Bln ke 6

Bln ke 8

Bln ke 10

Bln ke 12

8. Model Petunjuk Pengisian Raport


Pengisian raport sepenuhnya mengacu pada cara-cara yang telah dicontohkan pada panduan penilaian untuk pendidikan khusus
seperti yang telah dijelaskan pada lembar-lembar halaman sebelum ini.

66

Anda mungkin juga menyukai