Anda di halaman 1dari 14

FIQIH MUNAKAHAT

OBSERVASI HUKUM RUJUK


Dosen Pengampu :
Siti Zulaikha, S.Ag., MH
Ryan Erwin Hidayat, M.H.I
Disusun oleh:
NAMA

: RESSA FELINDA

NPM

: 1502090172

JURUSAN SYARIAH
PRODI HUKUM EKONOMI SYARIAH
KELAS B

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI


STAIN JURAI SIWO METRO
TAHUN 1438 H / 2016 M

LAPORAN OBSERVASI
HUKUM RUJU YANG TERJADI DI DESA BUMIEMAS (DUSUN
II)
TAHUN 2016

Nama Mahasiswa

: Ressa Felinda

NPM

: 1502090172

Prodi

: Hesy

Kelas

:B

Tempat Observasi

: Dusun II (Balongrejo) Desa Bumiemas


Kecamatan Batanghari.

Waktu Pelaksanaan

Jumat-Sabtu

25-26

November

2016

Menyetujui
Dosen Pembimbing

Siti Zulaikha, S.Ag.,MH

Mahasiswa

Ressa Felinda
NPM. 1502090172

OBSERVASI MENGENAI RUJUK DALAM PERNIKAHAN


DI DESA BUMIEMAS KECAMATAN BATANGHARI
TAHUN 2016
A. Deskripsi Hasil Operasi
Pernikahan merupakan salah satu bentuk ibadah dalam
agama Islam. Selain itu, pernikahan juga merupakan budaya
dan juga kebutuhan dari umat manusia sebagai makhluk
sosial. Pernikahan seyogyanya akan menentramkan dan
memuaskan kebutuhan jasmani dan rohani manusia. Kita
sebagai manusia tentu ingin menikah dengan seseorang yang
kita pilih sebagai pasangan hidup.
Dalam

agama

Islam,

pelaksanaan

pernikahan

memiliki

berbagai syarat, rukun, dan ketentuan yang harus dipenuhi.


Hal ini sangat penting dilakukan karena Islam berlandaskan
pada Al Quran dan Hadis. Setelah semua syarat, ketentuan
dan rukun sudah dilaksanakan, maka pernikahan yang telah
dilakukan dinyatakan sah dalam agama maupun negara.
Sebelum menikah, dua orang calon mempelai tentunya
harus sudah mengenal satu sama lain. Dalam Agama Islam,
sebelum menikah dianjurkan untuk taaruf agar dua orang ini
saling

mengenal,

mengetahui

bagaimana

agamanya,

keturunannya, hartanya sampai keluarganya yang merupakan


pertimbangan

dasar

untuk

menerima

atau

meminang

seseorang untuk dijadikan suami atau istri.


Namun, dalam prakteknya di masyarakat, khususnya di
Desa Bumiemas, anjuran Islam mengenai taaruf ini masih

jarang dilakukan. Taruf masih menjadi hal yang tabu bahkan


ada yang tidak mengetahui apa itu taaruf. Yang lebih familiar
di kalangan masyarakat adalah budaya pacaran yang
digunakan untuk mengenal pasangan. Tentunya hal ini tidak
sesuai dengan ajaran Islam.
Apabila melakukan sesuatu yang tidak dianjurkan dalam
agama Islam, tentu ada dampak negatif yang ditimbulkan.
Banyak sekali contoh yang ada dalam masyarakat seperti
hubungan muda mudi yang melebihi batas, sehingga harus
segera menikah karena kondisinya. Hal ini tentunya kurang
baik dalam pandangan adat istiadat dan budaya masyarakat
Indonesia. Hal ini juga berdampak pada dua orang yang
menikah

dengan

terpaksa

tersebut.

Bisa

jadi

yang

dinikahkan paksa itu masih terlalu muda atau bahkan masih


berstatus siswa atau mahasiswa. Tentunya ini akan merusak
masa depan mereka dan juga bila dilihat dari sudut pandang
emosi, mereka masih labil.
Selain kasus di atas, banyak juga pernikahan yang kurang
berjalan baik karena adanya masalah yang timbul saat sudah
berumah tangga, baik itu masalah yang timbul dari segi
ekonomi, kebiasaan, sifat, dan lain-lain. Hal ini menyebabkan
ada beberapa pasangan yang sudah menikah, memutuskan
untuk berpisah dengan pasangannnya (bercerai) karena
merasa tidak cocok ataupun karena alasan ekonomi.
Pernikahan seharusnya dapat membuat manusia menjadi
lebih merasa lengkap hidup di dunia ini karena semua yang
dilakukan berdua. Dan jua hati seharusnya merasa lebih
tenang karena selalu ada orang di sampingnya di saat berada
dalam

keadaan

senang

maupun

susah.

Namun,

kasus

perceraian masih saja tetap terjadi dengan berbagai alasan


yang ada.
Di Desa Bumiemas Kecamatan Batanghari Kabupaten
Lampung Timur,

penulis

mengadakan

observasi dengan

mengunjungi petugas pencatat nikah Desa Bumiemas yaitu


Bapak Marwoto guna menanyakan mengenai pasangan yang
bercerai, namun rujuk kembali.

B. Pembahasan
Mengenai pembahasan yang dipaparkan di sini, adalah
seputar pengertian rujuk dan hukum rujuk.
1. Pengertian Rujuk
Secara lughawi ruju atau rajah berarti kembali.
Sedangkan definisinya menurut al-Mahalli ialah kembali
ke dalam hubungan perkawinan dari cerai yang bukan
bain, selama dalam masa iddah.1
Sebagaimana perkawinan itu adalah suatu perbuatan yang
disuruh

oleh

agama,

maka

ruju

setelah

terjadinya

1 Amir Syarifuddin. Garis-garis Besar Fiqh. (Jakarta: Kencana, 2010).,


hal. 145

perceraian pun merupakan suruhan agama. Hal ini dapat


dilihat dalam firman Allah pada surat al-Baqarah ayat 231:


Artinya: Dan apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu
mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka
dengan cara yang ma'ruf, atau ceraikanlah mereka dengan
cara yang ma'ruf (pula).
Di Desa Bumiemas Kecamatan Batanghari Kabupaten
Lampung Timur, tepatnya di Dusun Balongrejo, penulis
melakukan observasi dengan Bapak Suwadi dan Ibu Sukeri
yang pernah bercerai namun rujuk kembali. Observasi
dilaksanakan

untuk

melihat

bagaimana

masyarakat

melaksanakan syariat agama Islam dalam kehidupannya,


dan observasi ini guna menambah pengetahuan di bidang
Fiqih Munakahat.
Unsur yang menjadi rukun dan syarat-syarat untuk
setiap rukun itu adalah sebagai berikut:
a. Laki-laki yang meruju istrinya mestilah seorang yang
mampu melaksanakan pernikahan dengan sendirinya,
yaitu telah dewasa dan sehat akalnya.
b. Perempuan yang dirujuki adalah perempuan yang telah
dinikahinya dan kemudian diceraikannya tidak dalam
bentuk cerai tebus (khulu) dan tidak pula dalam talak
tiga,

sedabgka

dia

telah

digauli

selama

dalam

perkawinan itu dan masih berada dalam masa idah.


c. Ada ucapan ruju yang diucapakan oleh laki-laki. Karena
ruju itu bukan memulai nikah, tetapi hanya sekedar
melanjutkan pernikahan. Ucapan ruju itu menggunakan
lafaz yang jelas untuk ruju.

Sebagian ulama mensyaratkan adanya kesaksian dua


orang saksi sebagaimana yang berlaku dalam akad nikah.
Keharusan adanya saksi ini bukan dilihat dari segi ruju itu
memulai nikah atau melanjutkan nikah, tetapi karena
adanya perintah Allah untuk itu sebagaimana terdapat
dalam surat al-Thalaq ayat 2




Artinya: apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya,
Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah
mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang
saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu
tegakkan kesaksian itu karena Allah.
Rujuk yang terjadi antara Bapak Suwadi dengan Ibu
Sukeri dilaksanakan tanpa adanya saksi. Rujuk dilakukan
antara dua orang saja dengan alasan pribadi. Kebanyakan
masyarakat Desa Bumiemas bermahzab Syafii, maka
dengan

hal

mendatangkan

ini,

sesuai

saksi

saat

dengan

ketentuan,

pelaksanaan

rujuk

maka
tidak

diwajibkan.
Berdasarkan pendapat yang mensyaratkan adanya
saksi dalam ruju itu, maka ucapan ruju tidak boleh
menggunakan lafaz kinayah, karena penggunaan lafaz
kinayah memerlukan adanya niat, sedangkan saksi yang
hadir tidak akan tahu niat dalam hati itu.2
Pendapat lain yang berlaku di kalangan jumhur
ulama, ruju itu tidak perlu dipersaksikan, karena ruju itu
2 Ibid., hal. 146

hanyalah melanjutkan perkawinan yang telah terputus dan


bukan memulai nikah baru. Perintah Allah dalam ayat
tersebut

di

atas

bukanlah

untuk

wajib.

Berdasarkan

pendapat ini, boleh saja ruju dengan menggunakan lafaz


kinayah karena saksi yang perlu mendengarnya tidak ada.
2. Rukun Ruju
a. Istri, keadaan disyaratkan:
1) Sudah dicampuri, karena istri yang belum dicampuri
apabila

ditalak,

terus

putus

pertalian

antara

keduanya.
2) Istri yang tertentu. Kalau suami yang menalak
beberapa istrinya, kemudian ia ruju kepada salah
seorang dari mereka dengan tidak ditentukan siapa
yang dirujukkan, rujuknya itu tidak sah.
b. Suami. Rujuk itu dilakukan oleh suami atas kehendaknya
sendiri artinya bukan dipaksa.
c. Saksi. Para ulama berselisih paham, apakah saksi itu
wajib menjadi rukun atau sunnat. Sebagian mengatakan
wajib, sedangkan yang lain mengatakan tidak wajib,
melainkan sunat.
d. Sighat (lafadz). Sighat ada dua, yaitu:
1) Terang-terangan, misalnya dikatakan, Saya kembali
kepada istri saya, atau Saya rujuk kepadamu.
2) Melalui sindiran, misalnya Saya pegang engkau,
atau menikah engkau, dan sebagainya.
3) Dengan perbuatan: Ada ikhtilaf di kalangan ulama
atas hukum rujuk dengan perbuatan.3
3 Beni Ahmad Saebani. Fiqh Munakahat. (Bandung: Pustaka Setia,
2001)., hal. 102

Berdasarkan keterangan di atas, keempat rukun rujuk


tersebut sudah dilaksanakan oleh Bapak Suwadi dan Ibu
Sukeri, kecuali saksi karena memang tidak diwajibkan.
Suami (Bapak Suwadi) yang mengajak istrinya rujuk
kembali dengan cara sighat secara terang-terangan, dan
juga mereka berdua memang sudah memiliki tiga orang
anak. Mungkin dengan alasan anak inilah mereka akhirnya
rujuk.
3. Hukum Rujuk
Ibnu Rusyd membagi hukum ruju kepada dua: hukum
ruju pada talak raji dan hukum ruju pada talak bain.
a. Hukum Ruju pada Talak Raji
Kaum muslimin telah sependapat bahwa suami
mempunyai hak meruju istri pada talak raji, selama
istri

masih

berada

mempertimbangkan

dalam

masa

persetujuan

istri,

iddah,

tanpa

berdasarkan

firman Allah:


Artinya: Dan suami-suami mereka lebih berhak meruju
mereka (istri-istri) dalam masa menanti (Iddah) itu. (QS.
al-Baqarah: 228)
Fuqaha juga sependapat bahwa sesudah terjadinya
pergaulan (campur) terhadap istri merupakan syarat
talak raji. Namun mereka berbeda pendapat tentang
saksi, apakah menjadi syarat sahnya ruju atau tidak,
dan mereka juga berbeda pendapat, apakah ruju dapat
disahkan dengan pergaulan (campur).4
4 Abdul Rahman Ghozali. Fiqh Munakahat. (Jakarta: Kencana, 2003).,
hal. 290

Talak yang pernah dilakukan oleh Bapak Suwadi


kepada istrinya merupakan talak raji dan bukanlah
talak tiga. Dengan dalil yang ada yaitu QS al-Baqarah
ayat 228, maka Bapak Suwadi berhak mengajukan rujuk
kepada istri yang pernak ditalak dengan kemauan
sendiri, karena sudah pernah dicampuri karena memiliki
anak tiga. Hal yang tidak mereka lakukan saat rujuk
hanyalah tidak mendatangkan saksi.
Mengenai saksi, Imam Malik berpendapat bahwa
adanya saksi dalam meruju disunnatkan, sedangkan
Imam Syafii berpendapat, hal itu wajib. Perbedaan
pendapat antara Imam Malik dan Imam Abu Hanifah
disebabkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ruju
itu

mengakibatkan

halalnya

penggaulan,

karena

dipersamakan dengan istri yang terkena ila (sumpah


tidak akan menggauli istri) dan istri yang terkena zhihar
(pengharaman istri untuk dirinya), di samping karena
hak milik atas istri belum terlepas daripadanya, dan
oleh karena itu terdapat hubungan saling mewarisi
antara keduanya. Sedangkan Imam Malik berpendapat
bahwa menggauli istri yang tertalak raji adalah haram,
sehingga suami merujunya. Oleh karena itu diperlukan
niat.
b. Hukum Ruju pada Talak Bain
Talak bain kadang-kadang terjadi dengan bilangan
talak yang kurang dari tiga, dan ini terjadi pada istri
yang belum digauli tanpa diperselisihkan lagi, dan pada
istri yang menerima khulu dengan terdapat perbedaan

pendapat di dalamnya. Dan masih diperselisihkan pula,


apakah khulu dapat terjadi tanpa harta pengganti.
Hukum ruju setelah talak tersebut (talak bain) sama
dengan nikah baru, yakni tentang persyaratan adanya
mahar, wali dan persetujuan. Hanya saja jumhur fuqaha
berpendapat

bahwa

untuk

perkawinan

ini

tidak

dipertimbangkan berakhirnya masa iddah.


Hukum ruju pada talak bain dapat dirinci menjadi dua:5
1) Talak bain karena talak tiga kali
Mengenai istri yang ditalak tiga kali, para ulama
mengatakan bahwa ia tidak halal lagi bagi suaminya
yang pertama, keuali sesudah digauli (oleh suami
lain) berdasarkan hadis Rifaah bin Samaual:
Sesungguhnya

Rifaah

menceraikan

istrinya,

Tamimah binti Wahb pada masa Rasulullah SAW tiga


kali, maka Tamimah kawin dengan Abdurrahman bin
Zubeir.

Kemudian

Abdurrahman

berpaling

daripadanya tanpa dapat menggaulinya, lalu ia pun


menceraikannya.

Maka

Rifaah

(suaminya

yang

pertama) bermaksud hendak mengawininya dan


berkata: Tamimah tidak halal bagimu sehingga ia
merasakan madu (berjima dengan suami lain).
2) Nikah muhallil
Dalam

kaitan

ini

fuqaha

berselisih

pendapat

mengenai nikah muhallil. Yakni jika seorang lelaki


mengawini

seorang

perempuan

dengan

syarat

(tujuan) untuk menghalalkannya bagi suami yang


pertama.

5 Ibid., hal. 293

Imam Malik berpendapat bahwa nikah tersebut rusak


dan harus difasakh, baik sesudah maupun sebelum
terjadi pergaulan. Demikian pula syarat tersebut
rusak

dan

tidak

berakibat

halalnya

perempuan

tersebut. Dan baginya, keinginan istri untuk menikah


tahlil tidak dipegangi, tetapi keinginan lelaki itulah
yang dipegangi.
Imam Syafii dan Abu Hanifah berpendapat bahwa
nikah muhallil dibolehkan, dan niat menikah itu tidak
mempengaruhi sahnya. Pendapat ini dikemukakan
pula oleh Daud dan segolongan fuqaha. Mereka
berpendapat

bahwa

pernikahan

tersebut

menyebabkab kehalalan istri yang dicerai tiga kali.


Segolongan

fuqaha

lain

berpendapat

bahwa

pernikahan muhallil itu dibolehkan, tetapi syarat


untuk menceraikan istri dan menyerahkan bagi
suami pertama adalah batal. Yakni bahwa syarat
tersebut tidak menyebabkab kehalalan istri yang
dikawin tahlil. Pendapat ini dikemukakan oleh Abi
Laila dan diriwayatkan pula oleh Al-Tsaury.

C. Kesimpulan
Secara

lughawi

ruju

atau

rajah

berarti

kembali.

Sedangkan definisinya menurut al-Mahalli ialah kembali ke


dalam hubungan perkawinan dari cerai yang bukan bain,
selama dalam masa iddah.
Observasi mengenai rujuk dalam pernikahan dilakukan di
Desa Bumiemas Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung

Timur, tepatnya di Dusun Balongrejo. Observasi dilaksanakan


di kediaman Bapak Suwaji dan Ibu Sukeri yang merupakan
warga

Desa

Bumiemas

yang

pernah

melaksanakan

pernikahan, lalu ada talak dari suami, kemudian suami


mengajukan rujuk kembali.
Rujuk yang dilakukan Bapak Suwadi kepada istrinya (Ibu
Sukeri) sudah memenuhi syarat dan rukun rujuk yang
ditentukan dalam ajaran Islam. Hanya saja, saat pelaksanaan
rujuk, Bapak Suwadi tidak mendatangkan saksi. Hal ini
dilakukan

karena

memang

notabene

bermahzab

masyarakat

Syafii

yang

Desa

Bumiemas

menjelaskan

mendatangkan saksi hukumnya tidaklah wajib.


D. Daftar Pustaka
Abdul Rahman Ghozali. Fiqh Munakahat. Jakarta: Kencana, 2003
Amir Syarifuddin. Garis-garis Besar Fiqh. Jakarta: Kencana, 2010
Beni Ahmad Saebani. Fiqh Munakahat. Bandung: Pustaka Setia, 2001

LAMPIRAN

bahwa