Anda di halaman 1dari 4

Terapi obat-obatan untuk pencegahan terhadap infeksi menular seksual dan kehamilan setelah kekerasan

seksual
Infeksi atau kondisi
Rekomendasi pengobatan
komentar
Gonorea
Ceftriaxone (250 mg intra
Hindari pemakaian ceftriaxone
muscular) atau cefixime (400 mg dan cefixime pada pasien dengan
oral dosis tunggal). Azithromycin reaksi anafilaktik berat pada
(2 g oral dosis tunggal) pada
penisilin dan hindari pemakaian
pasien dengan alergi penisilin
azithromycin pada pasien dengan
alergi azithromycin; obat dapat
menyebabkan diare dan mual
Klamidia

Azithromycin (1 g oral dosis


tunggal) atau doxycycline (100
mg oral 2 kali sehari selama 7
hari)

Hindari pemakaian doxycycline


pada wanita hamil atau pada
anak usia <8 tahun

Trikominiasis

Metronidazole (2 g oral dosis


tunggal)

Hindari dipakai bersamaan


dengan alcohol; obat dapat
menyebabkan mual dan muntah

Hepatitis B

Vaksinasi hepatitis B jika belum


diimunisasi, dengan dosis
pertama diberikan di Instalasi
Gawat Darurat

Berikan dosis kedua pada bulan


ke 1-2 dan dosis ketiga pada
bulan ke 4-6

HIV

Terapi kombinasi dengan


tenofovir dan emtricitabine
(Truvad ) ( 1 tablet oral sekali
sehari selama 28 hari ) atau terapi
kombinasi dengan lamivudine
dan zidovudine (Combivir) ( 1
tab
oral dua kali sehari selama 28
hari ) ; jika berisiko lebih tinggi ,
pertimbangkan untuk
menambahkan terapi kombinasi
dengan
lopinavir dan ritonavir (Kaletra)
(400 mg lopinavir dan 100 mg
ritonavir [ dua tablet ]oral dua
kali sehari selama 28 hari )

Rawat jika penyerang adalah


HIV - positif dan ada eksposur
yang signifikan ; pertimbangkan
risiko sesuai tipe serangan ,
sebaiknya berkonsultasi dengan
spesialis lokal , yang juga harus
berkonsultasi jika pasien hamil
Efek samping adalah sebagai
berikut - Truvada : sakit kepala,
diare, mual dan muntah, toksik
ginjal, asidosis laktat ;
Combivir : sakit kepala ,
kelelahan , insomnia, mual dan
muntah, pankreatitis ,
peningkatan enzim hati,
neutropenia , anemia , asidosis
laktat ; Kaletra : ruam, mual ,
muntah, nyeri perut, Perubahan
rasa, peningkatan enzim hati

Tetanus

Booster tetanus (jika terdapat


indikasi)

Kehamilan

Levonorgestrel, atau Plan B (1,5


mg oral dosis tunggal)

Obat dapat menyebabkan mual,


muntah, perdarahan pervaginam,
kram perut, menstruasi terlalu
cepat atau terlambat
*Kebanyakan ahli merekomendasikan pengobatan jika penyerang telah diketahui atau diduga positif
menderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) . Beberapa regimen yang tersedia, dan regimen lain
mungkin disarankan oleh spesialis pada profilaksis HIV, tergantung pada pilihan pasien , pola resistensi
terhadap obat antiretroviral di daerah , dan ketersediaan obat . Antiemetik ( misalnya, ondansetron atau
proklorperazin ) harus diresepkan , karena obat yang diberikan tersebut dapat menyebabkan mual .
Pencegahan kehamilan
Risiko kehamilan setelah perkosaan adalah sekitar 5% . Kontrasepsi progestin darurat (1,5 mg
levonorgestrel), yang diberikan sebagai dosis satu kali dalam waktu 120 jam setelah hubungan seks tanpa
proteksi, telah terbukti 98,5% efektif dalam mencegah kehamilan. Sejak angka keberhasilan menurun
seiring dengan bertambahnya waktu dari saat berhubungan seks tanpa proteksi, obat harus dikonsumsi
dalam waktu 72 jam setelah kejadian kekerasan seksual. Meskipun obat ini tidak harus diberikan jika
orang tersebut sudah hamil, obat tersebut tidak menyebabkan aborsi, dan tidak ada bukti bahwa obat
tersebut berbahaya bagi kehamilan. Efek samping termasuk mual, kelelahan, nyeri perut, dan perdarahan
pervaginam
Intervensi Krisis dengan Dukungan Emosional
Tidak ada reaksi normal terhadap pemerkosaan. Reaksi akut berkisar dari tekanan emosional berat hingga
mati rasa emosional, tawa gugup, marah, dan penyangkalan. Banyak korban mengalami rasa malu,
menyalahkan diri sendiri,
dan keraguan diri. Petugas medis harus menekankan bahwa korban tidak bisa disalahkan, tidak peduli
apa yang terjadi sebelum serangan tersebut. data longitudinal menunjukkan bahwa pada korban
kekerasan seksual terjadi peningkatan risiko untuk mengalami gangguan stres pasca-trauma (PTSD)
(30%), depresi berat (30%), dan
pemikiran untuk bunuh diri (33%) atau upaya bunuh diri (13%). Faktor risiko untuk PTSD setelah
pemerkosaan mencakup riwayat depresi sebelumnya, penyalahgunaan alkohol, dan peningkatan
keparahan cedera ketika serangan. Pada korban perkosaan juga terjadi peningkatan risiko untuk
mengalami penyakit kronis, termasuk nyeri panggul kronis, fibromyalgia , dan penyakit gastrointestinal
fungsional. Penyedia layanan kesehatan harus meminta masukan dari pekerja sosial atau konselor krisis
perkosaan untuk membantu mengevaluasi kebutuhan emosional dan keamanan langsung dan masa depan
dan merumuskan rencana untuk keselamatan pasien setelah pasien dipulangkan.
Tindak lanjut dan Pelaporan Wajib
korban perkosaan harus dirujuk baik untuk mendapat tindakan lanjut medis(tes kehamilan, HIV, dan
hepatitis)
dan dukungan kejiwaan . Pasien harus didorong untuk menindaklanjuti perawatannya oleh dokter layanan
primer. Pusat krisis perkosaan dapat memberikan dukungan lanjut, konseling konfidensial terbatas gratis,

dan jasa hukum . Beberapa yurisdiksi mungkin memerlukan pelaporan wajib perkosaan (baik dengan
informasi identifikasi yang disertakan atau dihapus) atau cedera yang berhubungan dengan senjata pada
orang dewasa yang kompeten . Semua yurisdiksi memerlukan pelaporan kekerasan oleh seorang anak
atau orang tua atau penyandang cacat.
Wilayah ketidakpastian
profilaksis HIV-pasca pajanan dapat ditawarkan jika pasien datang dalam waktu kurang dari 72 jam
setelah kekerasan seksual, namun penggunaannya masih kontroversial dalam kasus-kasus dimana pelaku
kejahatan tidak diketahui atau diduga HIV-positif. Dengan tidak adanya data dari percobaan secara acak,
bukti penggunaan
profilaksis HIV dalam kasus-kasus kekerasan seksual diramalkan kemungkinannya dari studi transmisi
ibu-janin
dan paparan dari petugas kesehatan. Terapi dengan obat antiretrovirus dalam keadaan ini
menurunkan laju penularan HIV sebesar 70 hingga 80% .
Meskipun risiko tertular HIV dari kekerasan seksual rendah, pada literatur terdapat laporan kasus
transmisi tersebut. Angka kejadian pasti penularan HIV setelah kontak seksual terisolasi dengan orang
yang HIV-positif tidak diketahui, namun diperkirakan sekitar 1 sampai 2 kasus per 1000 setelah penetrasi
vagina dan 1 sampai 3 kasus per 100 setelah penetrasi anal. Risikonya meningkat seiring dengan tingkat
keparahan infeksi HIV yang lebih tinggi
dan virus bawaan yang lebih tinggi dari penyerang dan dengan adanya trauma genital atau ulkus genital
dan koinfeksi pada korban. Sebuah studi melaporkan prevalensi infeksi HIV adalah 1 % di antara orang di
penjara yang telah dihukum karena kejahatan seksual . Atas dasar prevalensi tersebut, perkiraan risiko
penularan adalah sekitar 1 atau 2 kasus per 100.000 kasus untuk kekerasan pada vagina dan 2 atau 3
kasus per 10.000 kasus untuk kekerasan pada anus ( meskipun trauma yang terjadi selama serangan dapat
meningkatkan risiko ) .
Saat ini, CDC tidak memiliki pedoman untuk profilaksis HIV dalam kasus kekerasan seksual saat status
HIV dari pelaku kekerasan tidak diketahui, dan keputusan harus dibuat secara individual, dengan
memperhitungkan estimasi risiko infeksi pada pelaku, sifat serangan, dan pilihan pasien. Korban harus
memahami resiko rendah penularan, kemungkinan efek samping dari obat-obatan, dan pentingnya
kepatuhan yang ketat untuk pengobatan dan tindak lanjut, karena pengobatan tidak lengkap berkaitan
dengan peningkatan tingkat kegagalan profilaksis. Angka dilakukan tindak lanjut dan penyelesaian
profilaksis HIV setelah kekerasan seksual telah dilaporkan sekitar 18-33%. Keputusan untuk dimulainya
tindakan profilaksis harus dilakukan di Unit Gawat Darurat, setelah berkonsultasi dengan spesialis lokal
profilaksis HIV jika memungkinkan, dan pasien harus diberikan obat-obatan tahap awal di klinik (Tabel
1). Jika tidak ada spesialis lokal yang tersedia, konsultasi 24 jam bagi penyedia layanan medis tersedia di
Hotline Profilaksis Pasca Paparan Nasional (Daftar sumber klinis tersedia dalam Lampiran Tambahan.)
Profilaksis HIV Pasca Paparan baru-baru ini diulas dalam jurnal.
Peran dari berbagai jenis psikoterapi dalam penurunan gejala sisa psikologis pemerkosaan masih belum
jelas . Data yang terbatas mendukung potensi manfaat dari inisiasi awal terapi perilaku kognitif, yang
melibatkan pendidikan pasien tentang reaksi normal terhadap penyerangan, latihan relaksasi, penceritaan
kembali pengalaman kekerasan, rangsangan paparan rasa takut (namun aman) , dan restrukturisasi

kognitif. Dalam suatu uji coba secara acak , wanita yang dilaporkan mengalami PTSD dan menerima
terapi perilaku kognitif awal setelah kekerasan seksual mengalami pengurangan gejala yang secara
signifikan lebih besar setelah dilakukan intervensi daripada mereka yang menerima hanya konseling
suportif , namun perbedaan hasil tidak lagi signifikan setelah 3 bulan. Lebih banyak data uji coba acak,
terkontrol untuk menilai dan membandingkan efek dari berbagai intervensi pada risiko PTSD, gangguan
kecemasan, gejala sisa kekerasan seksual lainnya.
Pedoman
Pedoman pengobatan pasien pasca kekerasan seksual telah dikeluarkan oleh Departemen Keadilan , The
American College of Emergency Physicians, dan World Health Organization. CDC telah menerbitkan
pedoman untuk pengobatan setelah paparan infeksi menular seksual ( Lihat Lampiran Tambahan).
Rekomendasi yang diberikan dalam artikel ini konsisten dengan pedoman-pedoman tersebut. The
American Congress of Obstetricians dan Gynecologists merekomendasikan untuk melakukan skrining
pada seluruh wanita dengan sejarah kekerasan seksual pada setiap kunjungan dan menawarkan alat untuk
membantu praktisi kesehatan.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Pada pasien yang datang untuk perawatan pasca kekerasan seksual, seperti wanita yang digambarkan
dalam sketsa, pertama harus dievaluasi untuk mencari cedera trauma fisik akut. Kemudian pasien harus
ditawarkan profilaksis untuk infeksi menular seksual dan kehamilan dan , jika terdapat indikasi,
pemeriksaan toksikologi untuk mengidentifikasi obat yang mungkin telah diberikan untuk melumpuhkan
pasien. Perawatan harus dikoordinasikan oleh dokter Unit Gawat Darurat, dan pasien harus diberikan
dukungan emosional oleh anggota staf , konselor krisis pemerkosaan atau pekerja sosial , dan ( jika
tersedia ) oleh SANE. Pasien harus ditawarkan untuk dilakukan pengumpulan bukti forensik (sebaiknya
oleh SANE) , menurut protokol negara. pengumpulan bukti yang ditawarkan di sebagian besar Negara
bagian bahkan jika pasien tidak ingin segera melaporkan serangan tersebut ke polisi. Staff anggota harus
menawarkan untuk memanggil polisi jika korban memutuskan untuk melaporkan serangan tersebut.
Akhirnya, rencana yang aman untuk dipulangkan, termasuk tindak lanjut perawatan medis terencana dan
dukungan psikologis, sangat penting .