Anda di halaman 1dari 3

Nama : Rayhan Farrel F.

Kelas : Xl IPS Mapel : Remedial Fiqih Hari / tgl: Rabu 14 12 2016


Hukum Syariat Islam Di Indonesia
syariat Islam (Arab: Kata syara' secara etimologi berarti "jalan-jalan yang bisa
di tempuh air", maksudnya adalah jalan yang di lalui manusia untuk menuju allah. Syariat

Islamiyyah adalah hukum atau peraturan Islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan
umat Islam. Selain berisi hukum, aturan dan panduan peri kehidupan, syariat Islam juga
berisi kunci penyelesaian seluruh masalah kehidupan manusia baik di dunia maupun di
akhirat.
KAMPANYE dan usaha-usaha untuk menegakkan syariat Islam dalam sistem kenegaraan di Indonesia
sudah sangat sering kita dengar. Sejak Reformasi berhasil menjembatani partai Islam tampil ke
gelanggang politik, tidak sedikit pula partai yang memperjuangkan ini. Namun sayang, sebagian besar
partai yang mengusung kampanye penegakan syariat Islam tidak dapat meraih suara yang
menggemberikan dalam setiap Pemilu, apalagi menjadi pemenang.

Walaupun begitu bukan berarti penegakkan syariat Islam dalam sistem kenegaraan kita tidak pernah
terjadi dan tidak ada sama sekali. Sebab, sejatinya Indonesia adalah negara yang pernah menjadi
basis kerajaan-kerajaan Islam yang menerapkan hukum Islam dalam sistem ketatanegaraan
Indonesia.

Bila memang benar begitu bagaimana perwujudan syariat Islam dalam sistem tata negara kita saat
ini? Bukankah dasar negara kita adalah Pancasila dan UUD 1945? Untuk menjawab pertanyaanpertanyaan seperti ini Jeje Zaenudin, salah seorang deklarator MIUMI dan Pengurus PP Persatuan
Islam, pada bulan Oktober 2013 silam berhasil mempertahankan disertasinya di Jurusan Hukum
Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung. Disertasi yang saat diajukan dalam Sidang Terbuka
berjudul Gradualitas Legislasi Hukum Islam di Indonesia (Manhaj Penegakan Syariat Islam di
Indonesia) ini kemudian diterbitkan Maret 2015 oleh Penerbit Pembela Islam dengan judul Metode
dan Strategi Penerapan Syariat Islam di Indonesia. Disertasi ini oleh promotornya, Prof. Dr. Juhaya
S. Praja memang didorong untuk segera diterbitkan mengingat isinya yang sangat penting untuk
dibaca dan diketahui oleh masyarakat.

Menurut Juhaya dalam Kata Pengantar-nya untuk buku ini, ada temuan penting di dalamnya yang
harus diketahui publik. Pertama, penulisnya berhasil memperkaya teori legislasi hukum Islam di
Indonesia, yaitu teori asas tadarruj atau gradual dalam pengundangan hukum Islam. Kedua,

penulisnya berhasil merumuskan aplikasi yang bisa ditempuh untuk melegislasi hukum Islam di
Indonesia.

Melalui kedua temuan tersebut ada banyak manfaat bagi masyarakat, terutama dalam konteks
perkembangan sistem hukum di negara-negara modern. Dari segi akademik, temuan ini dapat
dijadikan dasar untuk penelitian lanjutan bagaimana di negara-negara Islam lain hukum Islam dapat
diformalkan melalui model yang sama, yaitu model tadarruj. Bisa jadi juga, bila di negara lain ada
yang lebih baik dari model tadarruj seperti yang ditemukan dalam kasus Indonesia, bisa menjadi
alternatif teoretis lain untuk menerapakan syariat Islam dalam sistem kenegaraan modern yang
dikenal dan diterima di dunia saat ini. Apabila riset di negara-negara lain ini dapat dilakukan, ini akan
semakin memperkaya spektrum model penerapan syariat Islam di negara-negara modern saat ini.

Dalam konteks gerakan-gerakan penegakan syariat Islam di Indonesia, temuan ini juga sangat
penting untuk menjadi jembatan yang dapat meredakan ketegangan tidak produktif antara negara
dengan gerakan-gerakan pengusung syariat Islam. Selama ini karena tidak secara eksplisit NKRI
menyatakan dasar negaranya adalah Islam, maka negera ini secara otomatis dianggap anti-Islam.
Bahkan lebih ekstrim lagi ada yang menyatakan negara ini sebagai negara kafir. NKRI pun akhirnya
diplesetkan menjadi Negara Kafir Republik Indonesia. Banyak yang secara pukul rata dan
serampangan menuduh sistem demokrasi yang dipakai di Indonesia sama saja dengan di negaranegara sekuler Barat yang sama sekali menolak agama.

Oleh sebab itu, tidak segan-segan stigma kufur terhadap negara ini menjadi amat murah diumbar.
Pandangan semacam ini akhirnya menimbulkan satu titik ekstrem memusuhi negara dengan legitimasi
keyakinan agama di kalangan sebagian umat Islam.

Permusuhan ini menjadi tidak produktif karena potensi umat yang besar dan segar ini akhirnya hanya
digunakan untuk menghujat dan mencaci maki negara, tanpa memberikan kontribusi riil terhadap
perubahan ke arah yang lebih baik bagi negara ini. Sikap mereka yang cenderung ingin melakukan
perubahan sistem kenegaraan secara revolusioner dan instan akhirnya berpotensi melahirkan
tindakan-tindakan radikal dan ekstrem yang seringkali merugikan umat. Tuduhan-tuduhan teroris,
separatis, dan semisalnya seringkali dialamatkan kepada gerakan-gerakan ini. Ini tentu saja menjadi
menyulitkan gerakan lain yang ingin mencoba melakukan perubahan secara lebih halus dan tidak
menimbulkan gejolak berlebihan di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas meyakini kebenaran
Islam.

Sikap dan pandangan yang revolusioner itupun membuat kubu sekuler yang tidak senang dengan
penerapan hukum-hukum berbau agama dalam sistem hukum negara menjadi punya kesempatan untuk
semakin mengokohkan pandangannya bahwa di Indonesia tidak diperlukan undang-undang yang
berasal dari agama. Mereka selalu akan berdalih bahwa agama berpotensi menimbulkan kekerasan,
ketidaksetiaan pada negara, dan bahkan separatisme. Dengan mudah mereka akan menunjuk gerakangerakan pendukung syariat yang revoluisoner yang cenderung radikal dan revolusioner.

Pendirian negara Islam mereka ciptakan menjadi hantu yang setiap saat selalu akan mengancam
keutuhan negara. Alhasil, bagi kalangan sekuler sikap revolusioner dan penolakan sepenuhnya
terhadap negara semakin membuat mereka punya energi untuk membentuk negara ini berdasarkan
konsepsi sekuler-anti agama yang mereka yakini.
Menjadikan syariat Islam sebagai landasan hidup berbangsa dan bernegara harus diikuti dengan
kesamaan pemahaman. Kesamaan pemahaman perlu dibarengi dengan kesamaan aktualisasinya. Inilah
yang akan menjamin berjalannya syariat Islam secara benar. Endingnya, keanekaragaman tetap
mendapat tempat. Indah bukan? Jadi, mari kita dukung usaha membuat sebuah syariat Islam yang
aplikatif dan bisa diterima semua pihak, tanpa kecuali.