Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Mioma Uteri adalah sekumpulan sel otot rahim (myometrium) yang
berubah menjadi peka terhadap hormon wanita, sehingga tumbuh dan membesar
lebih cepat dari sel-sel normal di sekelilingnya. Beberapa peneliti menyebut ini
sebagai fibromioma, fibroid, atau leiomioma (Rizki, 2009). Mioma uteri juga
disebut suatu pertumbuhan jinak dari sel-sel otot polos berada pada otot-otot
rahim dan berdasarkan besar serta lokalisasinya dapat memberikan gejala klinis
(Achadiat, 2004; Manuaba, 2004). Dikenal dua tempat asal mioma uteri yaitu
serviks uteri dan korpus uteri (Manuaba, 2002).
Mioma serviks adalah tumor jinak dari leher rahim yang jarang terjadi.
Mioma uteri biasanya berdampingan dengan mioma serviks. Mioma serviks yang
berukuran besar dapat menghalangi sebagian saluran kemih atau mungkin
mengalami prolaps ke vagina. Mioma yang prolaps kadang mengalami ulserasi,
infeksi, berdarah, atau kombinasi dari gejala tersebut (McNeeley, 2014).
Walaupun mioma tidak mempunyai kapsul yang sesungguhnya, tetapi
jaringannya dengan sangat mudah dibebaskan dari miometrium sekitarnya,
sehingga mudah dikupas (enukleasi). Mioma berwarna lebih pucat, relatif bulat,
kenyal, berdinding licin, dan apabila dibelah bagian dalamnya akan menonjol
keluar sehingga mengesankan bahwa permukaan luarnya adalah kapsul (Anwar,
2011).
2.2 Epidemiologi
Sebagian besar mioma uteri berasal dari korpus uteri, tetapi pada kasus
yang jarang 12% mioma uteri berasal dari serviks uteri terutama pada porsio
supravaginal (El-agwany dan Swelam, 2014). Mioma sangat umum terjadi pada
wanita usia reproduksi. Dengan demikian mioma uteri tidak dijumpai sebelum
datang haid (menarche) dan akan mengalami pengecilan setelah berhenti haid
(menopause). Sekitar 25% wanita usia 20-30 tahun mempunyai mioma, makin tua
usia makin besar kemungkinan mendapat mioma. Gejala klinik hanya terjadi pada

35%-50% penderita mioma. Hampir sebagian besar penderita tidak mengetahui


bahwa terdapat kelainan di dalam uterusnya, terutama sekali pada penderita
dengan obesitas. Hal tersebut karena tidak merasakan atau tidak menyadari
gejalanya dan baru mengetahuinya ketika memeriksakan diri. Keluhan penderita
sangat tergantung pula dari lokasi atau jenis mioma yang diderita (Anwar, 2011;
Irianto, 2014; Manuaba, 1998).
2.3 Etiologi
Etiologi belum diketahui secara pasti, tetapi terdapat korelasi antara
pertumbuhan tumor dengan peningkatan reseptor estrogen progesteron pada
jaringan mioma uteri, serta adanya faktor predisposisi yang bersifat herediter
(Kurniasari, 2010). Pengaruh hormon dalam pertumbuhan dan perkembangan
mioma adalah mioma memiliki reseptor estrogen lebih banyak dibanding
miometrium normal.
Mioma uteri baik di korpus maupun serviks uteri yang berasal dari sel otot
polos miometrium, menurut teori onkogenik maka patogenesa mioma uteri dibagi
menjadi 2 faktor yaitu inisiator dan promotor. Dari penelitian menggunakan
glucose-6-phosphatase dihidrogenase diketahui bahwa mioma berasal dari
jaringan uniseluler. Transformasi neoplastik dari miometrium menjadi mioma
melibatkan mutasi somatik dari miometrium normal dan interaksi kompleks dari
hormon steroid seks dan growth factor lokal. Mutasi somatik ini merupakan
peristiwa awal dalam proses pertumbuhan turnor.
Tidak didapat bukti bahwa hormon estrogen berperan sebagai penyebab
mioma, namun diketahui estrogen berpengaruh dalam pertumbuhan mioma.
Mioma terdiri dari reseptor estrogen dengan konsentrasi yang lebih tinggi
dibanding dari miometrium sekitarnya namun konsentrasinya lebih rendah
dibanding endometrium. Hormon progesteron meningkatkan aktifitas mitotik dari
mioma pada wanita muda namun mekanisme dan faktor pertumbuhan yang
terlibat tidak diketahui secara pasti. Progesteron memungkinkan pembesaran
tumor dengan cars down-regulation apoptosis dari tumor. Estrogen berperan
dalam pembesaran tumor dengan meningkatkan produksi matriks ekstraseluler
(Hadibroto, 2005).

Meyer dan De Snoo mengajukan teori Cell nest atau teori genitoblast.
Percobaan Lipschutz yang memberikan estrogen pada kelinci percobaan ternyata
menimbulkan tumor fibromatosa pada abdomen (Wiknjosastro, 2005). Efek
fibromatosa ini dapat dicegah dengan pemberian preparat progesteron.
Etiologi Mioma menurut Manuaba (2002) antara lain:
Teori Mayer dan Snoo, rangsangan "sel nest" oleh estrogen.
Faktor:
Tak pernah dijumpai sebelum menarch.
Atropi setelah menopause.
Cepat membesar saat hamil.
Sebagian besar masa reproduktif.
Dalam Jeffcoates Principles of Gynecology, ada beberapa faktor
predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu :
Umur
Mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan
sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling
sering memberikan gejala klinis antara 35 45 tahun.
Paritas
Lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relatif infertil,
tetapi sampai saat ini belum diketahui apakan infertilitas menyebabkan
mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertilitas,
atau apakah kedua keadaan ini saling mempengaruhi.
Faktor ras dan genetik
Pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadian
mioma uteri tinggi. Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada
wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma.
Fungsi ovarium
Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan
mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang setelah
kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause. Pemberian agonis
GnRH dalam waktu lama sehingga terjadi hipoestrogenik dapat
mengurangi ukuran mioma. Efek estrogen pada pertumbuhan mioma
mungkin berhubungan dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap
reseptor dan faktor pertumbuhan lain. Terdapat bukti peningkatan
produksi reseptor progesteron, faktor pertumbuhan epidermal dan insulinlike growth factor yang distimulasi oleh estrogen. Anderson dkk, telah
7

mendemonstrasikan munculnya gen yang distimulasi oleh estrogen lebih


banyak pada mioma daripada miometrium normal dan mungkin penting
pada

perkembangan

mioma.

Namun

bukti-bukti

masih

kurang

meyakinkan karena tumor ini tidak mengalami regresi yang bermakna


setelah menopause sebagaimana yang disangka. Lebih daripada itu tumor
ini kadang-kadang berkembang setelah menopause bahkan setelah
ooforektomi bilateral pada usia dini (Manuaba, 1998).
2.4 Patofisiologi
Mioma uteri yang berasal dari sel otot polos miometrium, menurut teori
onkogenik maka patogenesa mioma uteri dibagi menjadi 2 faktor yaitu inisiator
dan promotor. Faktor-faktor yang menginisiasi pertumbuhan mioma masih belum
diketahui

pasti.

Dari

penelitian

menggunakan

glucose-6-phosphatase

dihydrogenase diketahui bahwa mioma berasal dari jaringan uniseluler.


Transformasi neoplastik dari miometrium menjadi mioma melibatkan mutasi
somatik dari miometrium normal dan interaksi kompleks dari hormon steroid seks
dan growth faktor lokal. Mutasi somatik ini merupakan peristiwa awal dalam
proses pertumbuhan tumor (Hadibroto, 2005).
Tidak dapat dibuktikan bahwa hormon estrogen berperan sebagai
penyebab mioma, namun diketahui estrogen berpengaruh dalam pertumbuhan
mioma. Mioma terdiri dari reseptor estrogen dengan konsentrasi yang lebih tinggi
dibanding dari miometrium sekitarnya

namun konsentrasinya lebih rendah

dibanding endometrium. Hormon progesteron meningkatkan aktifitas mitotik dari


mioma pada wanita muda namun mekanisme dan faktor pertumbuhan yang
terlibat tidak diketahui secara pasti. Progesteron memungkinkan pembesaran
tumor dengan cara down-regulation apoptosis dari tumor. Estrogen berperan
dalam pembesaran tumor dengan meningkatkan produksi matriks ekstraseluler
(Hadibroto, 2005).
2.5 Gejala Umum
Mioma sangat umum terjadi pada wanita usia reproduktif. Makin tua usia
makin besar risiko terkena mioma. Kebanyakan dari mereka tidak mengetahui

atau menyadari gejala dan baru mengetahuinya ketika memeriksakan diri. Gejala
yang timbul bergantung pada lokasi dan besarnya tumor (Irianto, 2014).
Kebanyakan mioma serviks menimbulkan gejala. Gejala klinis mioma
serviks uteri adalah sebagai berikut :
Pendarahan yang mungkin tidak teratur atau berat
Perdarahan yang banyak dan lama selama masa haid atau pun di luar massa
haid. Bila perdarahan berlebihan akan menyebabkan anemia. Rasa nyeri
karena tekanan tumor dan terputarnya tangkai tumor, serta adanya infeksi

dalam rahim.
Dispareunia
Infeksi dapat menyebabkan rasa sakit dan pendarahan
Prolaps jarang terjadi
Terjadi perasaan yang menekan atau terasa massa di panggul
Obstruksi aliran kencing menyebabkan retensi urin sehingga UTI (Urinary
Tract Infection) dapat berkembang (McNeeley, 2014).
Pembesaran dan pendesakan (penekanan) pada organ sekitar tumor seperti
kandung kemih, ureter, rektum atau organ rongga panggul lainnya,
menimbulkan gangguan BAB dan BAK, pelebaran pembuluh darah vena
dalam panggul, gangguan ginjal karena pembengkakan tangkai tumor.

Gangguan sulit hamil karena penekanan pada saluran indung telur sehingga
menghalangi pertemuan sperma dan telur.
Rasa tidak nyaman di abdomen bagian bawah atau bagian bawah abdomen
dekat rahim terasa kenyal
Mioma uteri dapat mengganggu kehamilan dengan dampak berupa kelainan
letak bayi dan plasenta, terhalangnya jalan lahir, kelemahan pada saat
kontraksi rahim, perdarahan yang banyak setelah melahirkan dan ganguan
pelepasan plasenta, bahkan bisa menyebabkan keguguran.

Gejala sekunder
Infertilitas karena gangguan pada tuba, penyumbatan dan sebagainya (Irianto,
2014; Manuaba, 2007)
2.6 Diagnosa Mioma Uteri
A. Dapat ditegakkan dengan:
9

1. Anamnesis:
Dari proses tanya jawab dokter dan pasien dapat ditemukan penderita
seringkali mengeluh rasa berat dan adanya benjolan pada perut bagian bawah,
kadang mempunyai gangguan haid dan ada nyeri.
2. Pemeriksaan fisik
Diagnosis adalah dengan pemeriksaan fisik. mioma serviks, terutama jika
prolaps, dapat terlihat dengan penggunaan spekulum. Beberapa teraba saat
pemeriksaan bimanual. Pemeriksaan bimanual akan mengungkap tumor pada
serviks uteri. (Prawirohardjo, 2011; McNeeley, 2014).
3. Pemeriksaan Penunjang
a) Ultra Sonografi (USG): mioma uteri yang besar paling bagus didiagnosis
dengan kombinasi transabdominal dan transvaginal sonografi. Gambaran
sonografi mioma kebiasaanya adalah simetrikal, berbatas tegas, hypoechoic
(bulatan atau lesi kecil berwarna abu-abu) dan degenerasi kistik menunjukkan
anechoic (bulatan atau lesi kecil berwarna hitam).
b) Magnetic Resonance Imagine (MRI): lebih baik daripada USG tetapi
mahal. MRI mampu menentukan saiz, lokasi dan bilangan mioma uteri serta
bisa mengevaluasi jarak penembusan mioma submukosa di dalam dinding
miometrium (Parker, 2007).
B. Diagnosa Banding
Diagnosa banding yang perlu dipikirkan adalah tumor abdomen di bagian
bawah atau panggul ialah mioma subserosum dan kehamilan; mioma
submukosum yang dilahirkan harus dibedakan dengan inversio uteri;
mioma

intramural

harus

dibedakan

dengan

suatu

adenomiosis,

khoriokarsinoma, karsinoma korporis uteri atau suatu sarkoma uteri


(Prawirohardjo, 2011).
2.7 Prognosis
Histerektomi dengan mengangkat seluruh mioma adalah kuratif.
Myomectomi yang extensif dan secara significant melibatkan miometrium atau
menembus endometrium, maka diharusken SC (Sectio caesaria) pada persalinan
berikutnya. Myoma yang kambuh kembali (rekurens) setelah myomectomi terjadi

10

pada 15-40% pasien dan 2/3nya memerlukan tindakan lebih lanjut (Kurniasari,
2010)
2.8 Komplikasi
1. Degenerasi ganas pertumbuhan Leimiosarkoma
Yaitu tumor yang tumbuh dari miometrium, dan merupakan 50 70 % dari
semua sarkoma uteri. Ini timbul apabila suatu mioma uteri yang selama
beberapa tahun tidak membesar,tiba-tiba menjadi besar, apalagi jika hal itu
terjadi sesudah menopause. Mioma uteri yang menjadi leimiosarkoma
ditemukan hanya 0,32-0,6% dari seluruh mioma, serta merupakan 50-75%
dari semua sarkoma uterus. Keganasan umumnya baru ditemukan pada
pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat. Kecurigaan akan
keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi
pembesaran sarang mioma dalam menopause (Prawirohardjo, 2011).
2. Torsi (Putaran Tangkai)
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan
sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadilah
sindrom abdomen akut. Jika torsi terjadi perlahan-lahan, gangguan akut
tidak terjadi. Hal ini hendaklah dibedakan dengan suatu keadaan di mana
terdapat banyak sarang mioma dalam rongga peritoneum (Prawirohardjo,
2011).
Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang diperkirakan
kerana gangguan sirkulasi darah padanya. Misalnya terjadi pada mioma
yang dilahirkan hingga perdarahan berupa metroragia atau menoragia
disertai leukore dan gangguan yang disebabkan oleh infeksi dari uterus
sendiri (Prawirohardjo, 2011).

11

Gambar 2.2: Lokasi mioma uteri yang menimbulkan komplikasi


(Sumber: Hart D.M, Norman J, 2000)

Gambar 2.3: Ringkasan komplikasi Mioma Uteri


(Sumber: Hart D.M, Norman J, 2000)
12

2.9 Penatalaksanaan
Secara umum penatalaksanaan mioma serviks sama dengan pada mioma
korpus uteri dibagi atas 2 metode :
1. Terapi Medisinal (Hormonal)
Saat ini pemakaian Gonadotropinreleasing hormon (GnRH) agonis
memberikan hasil untuk memperbaiki gejala-gejala klinis yang ditimbulkan
oleh mioma uteri. Pemberian GnRH agonis bertujuan untuk mengurangi
ukuran mioma dengan jalan mengurangi produksi estrogen dari ovarium. Dari
suatu penelitian multisenter didapati data pada pemberian GnRH agonis
selama 6 bulan pada pasien dengan mioma uteri didapati adanya pengurangan
volume mioma sebesar 44%.
Efek maksimal pemberian GnRH agonis baru terlihat setelah 3 bulan.
Pada 3 bulan berikutnya tidak terjadi pengurangan volume mioma secara
bermakna. Pemberian GnRH agonis sebelum dilakukan tindakan pembedahan
akan mengurangi vaskularisasi pada tumor sehingga akan memudahkan
tindakan pembedahan. Terapi hormonal lainnya seperti kontrasepsi oral dan
preparat progesteron akan mengurangi gejala perdarahan uterus yang
abnormal namun tidak dapat mengurangi ukuran dari mioma.
2. Terapi Pembedahan
Terapi pembedahan pada mioma uteri dilakukan terhadap mioma yang
menimbulkan gejala. Menurut American College of Obstetricians and
Gynecologists (ACOG) dan American Society for Reproductive Medicine
(ASRM) indikasi pembedahan pada pasien dengan mioma uteri adalah : (1)
Perdarahan uterus yang tidak respon terhadap terapi konservatif, (2)
Sangkaan adanya keganasan., (3) Pertumbuhan mioma pada masa
menopause, (4) Infertilitas karena gangguan pada cavum uteri maupun karena
oklusi tuba, (5) Nyeri dan penekanan yang sangat menganggu, (6)Gangguan
berkemih maupun obstruksi traktus urinarius, (7)Anemia akibat perdarahan.
Tindakan pembedahan yang dilakukan adalah miomektomi maupun
histerektomi.
a. Miomektomi

13

Miomektomi

sering

dilakukan

pada

wanita

yang

ingin

mempertahankan fungsi reproduksinya dan tidak ingin dilakukan


histerektomi. Dewasa ini ada beberapa pilihan tindakan untuk melakukan
miomektomi, berdasarkan ukuran dan lokasi dari mioma. Tindakan
miomektomi dapat dilakukan dengan laparotomi, histeroskopi maupun
dengan laparoskopi. Pada laparotomi, dilakukan insisi pada dinding
abdomen untuk mengangkat mioma dari uterus.
Keunggulan melakukan miomektomi adalah lapangan pandang
operasi yang lebih luas sehingga penanganan terhadap perdarahan yang
mungkin timbul pada pembedahan miomektomi dapat ditangani dengan
segera. Namun pada miomektomi secara laparotomi resiko terjadi
perlengketan lebih besar, sehingga akan mempengaruhi faktor fertilitas
pada pasien. Disamping itu masa penyembuhan paska operasi juga lebih
lama, sekitar 4 6 minggu. Pada miomektomi secara histeroskopi
dilakukan terhadap mioma submukosum yang terletak pada kavum uteri.
Pada prosedur pembedahan ini ahli beda memasukkan alat histeroskop
melalui serviks dan mengisi kavum uteri dengan cairan untuk memperluas
dinding uterus. Alat bedah dimasukkan melalui lubang yang terdapat pada
histeroskop untuk mengangkat mioma submukosum yang terdapat pada
kavum uteri. Keunggulan tehnik ini adalah masa penyembuhan paska
operasi (2 hari).
Komplikasi operasi yang serius jarang terjadi namun dapat timbul
perlukaan pada dinding uterus, ketidakseimbangan elektrolit dan
perdarahan. Miomektomi juga dapat dilakukan dengan menggunakan
laparoskopi. Mioma yang bertangkai diluar kavum uteri dapat diangkat
dengan mudah secara laparoskopi. Mioma subserosum yang terletak
didaerah permukaan uterus juga dapat diangkat secara laparoskopi.
Tindakan laparoskopi dilakukan dengan ahli bedah memasukkan alat
laparoskop kedalam abdomen melalui insisi yang kecil pada dinding
abdomen.
Keunggulan laparoskopi adalah masa penyembuhan paska operasi
yang lebih cepat antara 2 7 hari. Resiko yang terjadi pada pembedahan

14

laparoskopi termasuk perlengketan, trauma terhadap organ sekitar seperti


usus, ovarium, rektum serta perdarahan. Sampai saat ini miomektomi
dengan laparoskopi merupakan prosedur standar bagi wanita dengan
mioma uteri yang masih ingin mempertahankan fungsi reproduksinya.
b. Histerektomi
Tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus dapat dilakukan
dengan 3 cara yaitu dengan pendekatan abdominal (laparotomi), vaginal,
dan pada beberapa kasus secara laparoskopi. Tindakan histerektomi pada
mioma uteri sebesar 30% dari seluruh kasus. Tindakan histerektomi pada
pasien dengan mioma uteri merupakan indikasi bila didapati keluhan
menorrhagia, metrorrhagia, keluhan obstruksi pada traktus urinarius dan
ukuran uterus sebesar usia kehamilan 12 14 minggu.
Histerektomi perabdominal dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu total
abdominal histerektomi (TAH) dan subtotal abdominal histerektomi
(STAH). Pemilihan jenis pembedahan ini memerlukan keahlian seorang
ahli bedah yang bertujuan untuk kepentingan pasien. Masing-masing
prosedur histerektomi ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Subtotal
abdominal histerektomi dilakukan untuk menghindari resiko operasi yang
lebih besar seperti perdarahan yang banyak, trauma operasi pada ureter,
kandung kemih, rektum.
Namun dengan melakukan STAH, kita meninggalkan serviks, dimana
kemungkinan timbulnya karsinoma serviks dapat terjadi. Dengan
meninggalkan serviks, menurut penelitian Kilkku, 1983 didapat data
bahwa terjadinya dyspareunia akan lebih rendah dibanding yang menjalani
TAH, sehingga tetap mempertahankan fungsi seksual.
Pada TAH, jaringan granulasi yang timbul pada tungkul vagina dapat
menjadi sumber timbulnya sekret vagina dan perdarahan paska operasi
dimana keadaan ini tidak terjadi pada pasien yang menjalani STAH.
Histerektomi juga dapat dilakukan melalui pendekatan dari vagina, dimana
tindakan operasi tidak melalui insisi pada abdomen. Secara umum
histerektomi vaginal hampir seluruhnya merupakan prosedur operasi
ekstraperitoneal, dimana peritoneum yang dibuka sangat minimal sehingga

15

trauma yang mungkin timbul pada usus dapat diminimalisasi. Oleh karena
pendekatan operasi tidak melalui dinding abdomen, maka pada
histerektomi vaginal tidak terlihat parut bekas operasi sehingga
memuaskan pasien dari segi kosmetik. Selain itu kemungkinan terjadinya
perlengketan paska operasi juga lebih minimal.
Masa penyembuhan pada pasien yang menjalani histerektomi vaginal
lebih cepat dibanding yang menjalani histerektomi abdominal. Dengan
berkembangnya

tehnik

dan

alatalat

kedokteran,

maka

tindakan

histerektomi kini dapat dilakukan dengan menggunakan laparoskopi.


Prosedur operasi dengan laparoskopi dapat berupa miolisis. Miolisis
adalah prosedur operasi invasif yang minimal dengan jalan menghantarkan
sumber energi yang berasal dari laser The neodynium:yttrium aluminium
garnet (Nd:YAG) ke jaringan mioma, dimana akan menyebabkan
denaturasi protein sehingga menimbulkan proses koagulasi dan nekrosis
didalam jaringan yang diterapi.
Miolisis perlaparoskopi efektif untuk mengurangi ukuran mioma dan
menimbulkan devaskularisasi mioma akan mengurangi gejala yang terjadi.
Miolisis merupakan alternatif terapi prosedur miomektomi. Pengangkatan
seluruh uterus dengan mioma juga dapat dilakukan dengan laparoskopi.
Salah satu tujuan melakukan histerektomi laparoskopi adalah untuk
mengalihkan prosedur histerektomi abdominal kepada histerektomi
vaginal atau histerektomi laparoskopi secara keseluruhan. Ada beberapa
tehnik histerektomi laparoskopi. Pertama adalah histerektomi vaginal
dengan

bantuan

laparoskopi

(Laparoscopically

assisted

vaginal

histerectomy/LAVH).
Pada prosedur ini tindakan laparoskopi dilakukan untuk memisahkan
adneksa dari dinding pelvik dan memotong mesosalfing kearah
ligamentum kardinale dibagian bawah. Pemisahan pembuluh darah uterina
dilakukan dari vagina. Kedua, pada tahun 1991 Semm memperkenalkan
tehnik classic intrafascial serrated edged macromorcellated hysterectomy
(CISH) tanpa colpotomy. Prosedur ini merupakan modifikasi dari STAH,
dimana lapisan dalam dari serviks dan uterus direseksi menggunakan

16

morselator. Dengan prosedur ini diharapkan dapat mempertahankan


integritas lantai pelvik dan mempertahankan aliran darah pada pelvik
untuk mencegah terjadinya prolapsus. Keunggulan dari CISH adalah
mengurangi resiko trauma pada ureter dan kandung kemih, perdarahan
yang lebih minimal, waktu operasi yang lebih cepat, resiko infeksi yang
lebih minimal dan masa penyembuhan yang cepat.
Dari tulisan ini dapat disimpulkan bahwa terapi yang terbaik untuk
mioma uteri adalah melakukan histerektomi. Dari berbagai pendekatan,
prosedur histerektomi laparoskopi memiliki kelebihan dimana resiko
perdarahan yang lebih minimal, masa penyembuhan yang lebih cepat dan
angka morbiditas yang lebih rendah dibanding prosedur histerektomi
abdominal (Hadibroto, 2005)

17

HASIL PEMERIKSAAN
Teraba tumor di
abdomen bagian
bawah
Tumor berasal
dari rahim

MIOMA
UTERI

HASIL
PEMERIKSAAN

MIOMA UTERI KURANG


DARI HAMIL 14
MINGGU
Tanpa keluhan
Kebetulan
Menjelang mati
haid

KELUHAN KLINIS
Gangguan
menstruasi
Keluhan
pendesakan
- terasa kemeng di
bagian bawah
abdomen
-keluhan tak punya
anak

MIOMA UTERI DI ATAS


HAMIL 14 MINGGU
Pendarahan
Tumor dengan
pendesakan
Nyeri metruasi
Keluhan sekunder:
- keluhan anemis

SIKAP BIDAN
Memberikan KIE dan
motivasi tentang mioma
uteri
Konsultasi/merujuk:
-Puskesmas
-Dokter Ahli
Tabel 2.10 Skema Penatalaksanaan
Mioma Uteri (Manuaba, 1998)
-Rumah Sakit

2.10 Peran Bidan dalam Penanganan Mioma Serviks


Peranan bidan untuk menemukan keganasan kanker ovarium dan mioma
uteri pada stadium muda sukar dan tidak sulit setelah stadium lanjut. Dalam
menghadapi keganasan kanker ovarium dan mioma uteri pada stadium dini
(muda) maka tugas bidan segera melakukan konsultasi atau merujuk penderita
diagnosis banding keganasan kanker ovarium dan mioma uteri adalah kehamilan
dan tumor pada rahim. Bila bidan dalam tugasnya dapat menegakkan
kemungkinann tumor dibagian bawah abdomen, segera melakukan konsultasi atau
18

merujuk ke puskesmas atau langsung ke dokter ahli kandungan. Tumor ovarium


memerlukan tindakan yang spesialitis. Bidan bertugas untuk memberikan
komunikasi, informasi, edukasi dan motivasi tentang pengobatan tumor dengan
pengobatan modern dan operasi (Manuaba, 2009)

19