Anda di halaman 1dari 27

ILMU BEDAH ANAK

PENDAHULUAN
Ilmu bedah anak merupakan ilmu khusus yang menangani kelainankelainan bedah pada neonatus, bayi dan anak sebelum dan setelah lahir dan
diutamakan pada kelainan-kelainan kongenital.
Oleh karena kekhususan tersebut, yang belum ditelaah secara mendalam
pada ilmu bedah umum, maka diperlukan keahlian spesifik yang mampu
mendiagnosis maupun memberikan terapi secara tepat dan akurat yang dengan
demikian akan menurunkan angka morbiditas maupun mortalitas.
Adanya perbedaan-perbedaan dengan ilmu bedah dewasa, terutama bila
dilihat dari kelainan-kelainan kongenital, kelainan fisik maupun psikologis maka
jelas bahwa neonatus, bayi dan anak sama sekali bukan merupakan manusia
dewasa dalam ukuran mini, sehingga permasalahan-permasalahan yang ada baik
yang menyangkut pola penyakit, cara-cara diagnosis dan terapi akan berbeda
dengan bila kita menghadapi manusia dewasa.
Perbedaan-perbedaan yang lebih mendalam akan terlihat lebih jelas bila
ditinjau dari aspek fisik yang meliputi pembelahan sel, penyembuhan luka,

komplikasi-komplikasi pembedahan, ketahanan terhadap infeksi serta teknik-tenik


pembedahan.
Pada neonatus, bayi dan anak, pembelahan sel ditujukan untuk
pertumbuhan dan perkembangan yang jelas terlihat pada 4 minggu pertama
kehidupan, sedangkan pada dewasa lebih ditujukan pada reproduksi dan
penyembuhan luka.
Penyembuhan luka akan lebih cepat terjadi pada bayi dan anak apabila
dibandingkan dengan dewasa yang mana hal ini disebabkan oleh karena
kemampuan pembelahan sel lebih cepat terjadi pada bayi dan anak dan ini pula
yang menerangkan bahwa anak-anak akan lebih tahan terhadap trauma fisik.
Namun harus diingat bahwa semakin aktif pembelahan sel akan semakin rentan
terhadap radiasi maupun obat-obat sitotoksik.
Neonatus merupakan organisme dalam masa transisi yang mula-mula
berada di dalam kandungan ibu dimana nutrisi, oksigenasi dan fungsi-fungsi organ
diatur oleh hormon-hormon ibunya dan kemudian setelah lahir akan menjadi
organisme yang independen dimana harus mengatur sendiri semua fungsi organorgannya.
Dengan melihat hal-hal di atas maka sudah barang tentu tindakan-tindakan
operasi yang dikerjakan pada neonatus akan lebih sulit dan mengandung resiko
yang lebih tinggi bila dibanding dewasa.
2

Ketahanan terhadap infeksi akan lebih kuat pada dewasa bila dibanding
pada neonatus, bayi dan anak hal ini disebabkan oleh karena mekanisme
pertahanan terhadap infeksi dibentuk secara perlahan, dimana mula-mula hanya
mendapatkan immunitas pasif yang berasal dari ibu lewat plasenta. Pertahanan
aktif melawan ilmu akan dibangun secara bertahap dan sistem limfatik merupakan
sumber utama pembentukan zat-zat anti infeksi.
Kasus-kasus

yang

memerlukan

pembedahan

akan

berbeda

bila

dibandingkan dengan dewasa. Pola penyakit pada bedah anak meliputi malformasi
kongenital, tumor jaringan embrional, penyakit infeksi dan trauma sedangkan pada
dewasa mempunyai pola tumor jaringan epitel, penyakit infeksi, penyakit
degenerasi dan trauma.
Aspek psikologis yang membedakan antara dewasa dan anak terutama
adalah dalam kaitan hubungan antara dokter dengan pasien serta masalah
pemondokan penderita.
Di dalam menegakkan diagnosis kelainan-kelainan pada neonatus bayi dan
anak autoanamnesis mustahil untuk dilakukan sehingga selalu memerlukan
bantuan orang lain baik dari orang tua maupun pembantunya yang kadang-kadang
merahasiakan keadaan anak tersebut atau bahkan tidak tahu sama sekali kalau
anak tersebut menderita kelainan-kelainan tertentu. Untuk mengatasi hal ini
diperlukan bukan hanya ketelitian akan tetapi juga kesabaran dari pemeriksa
sehingga diagnosis dapat ditegakkan secara tepat.
3

Untuk memutuskan apakah seorang anak harus mondok atau tidak,


memerlukan pertimbangan-pertimbangan tersendiri dimana trauma psikis akibat
pisah dari keluarga maupun pisah dari lingkungannya akan membuat akibat yang
tidak ringan, sehingga pemondokan hanya dilaksanakan atas dasar indikasi yang
adekwat.

KAPAN PEMBEDAHAN DILAKSANAKAN?


Pada kasus-kasus anak, waktu yang tepat untuk melakukan pembedahan
tergantung dari:
1.

Ada tidaknya resiko akibat penyakitnya atau resiko akibat malformasi


bawaan
Contoh: pada neonatus dengan hernia skrotalis strangulata harus segera
dilakukan operasi herniotomi untuk mencegah terjadinya perforasi usus. Pada
neonatus dengan atresia ani harus segera dilakukan kolostomi maupun
anoplasti untuk mencegah terjadinya perforasi usus.

2.

Adanya resiko operasi


Operasi harus ditunda apabila diperkirakan akan membahayakan jiwa, baik
akibat tindakan pembedahannya sendiri maupun akibat pembiusan.
Setiap tindakan pembedahan yang dikerjakan pada neonatus, bayi dan anak
harus selalu mempertimbangkan tiga stabiliitas yaitu:
-

Stabilitas cairan dan elektrolit

Stabilitas asam basa

Stabilitas temperatur

Contoh: operasi jangan dikerjakan pada penderita dengan dehidrasi berat,


gangguan cairan dan elektrolit, serta penderita hipotermi maupun hipertermi.
3.

Teknik pembedahan
Pembedahan yang sulit dan lama akan membahayakan jiwa neonatus, bayi dan
anak, sehingga harus digantikan dengan tehnik operasi yang lebih sedehana
dan dengan waktu yang singkat.
Contoh: pada neonatus dengan penyakit Hisrscprung sebaiknya jangan
langsung dikerjakan operasi Pull Through, tetapi dilakukan dulu kolostomi dan
setelah umur 9 bulan baru dikerjakan operasi definitif.

4.

Kemungkinan regresi spontan


Pada kelainan-kelainan yang dimungkinkan dapat regresi spontan maka
operasi harus dihindari sampai saat umur tertentu.
Contoh: Hidrokel testis dapat regresi sampai umur 6 bulan, sehingga pada
penderita-penderita ini jangan dilakukan operasi sebelum umur 6 bulan.

5.

Pertimbangan-pertimbangan psikologis
Setelah umur 6 bulan bayi akan curiga pada orang yang masih asing baginya
sehingga memisahkan bayi dari ibunya pada umur ini akan merupakan
pengalaman yang menyakitkan, sehingga bila memondokkan bayi setelah
5

umur 6

bulan hanya dimaksudkan untuk operasi-operasi yang betul-betul

mendesak.
Memondokkan anak pada umur 2 tahun sampai 4 tahun akan menyebabkan
trauma psikis sehingga memondokkan pada umur-umur ini sebaiknya dihindari
bila mungkin.
Anak-anak dengan kelainan bawaan yang terlihat dari luar misalnya kelainan
telinga, hipospadia, polidaktili, operasi sebaliknya dilakukan sebelum anak
masuk sekolah untuk menghindari ejekan-ejekan dari teman-temannya.

WAKTU YANG OPTIMAL UNTUK MELAKUKAN OPERASI:


1.

Hernia Inguinalis
Hernia inguinalis praktis tidak pernah regresi spontan. Pada anak-anak resiko
terjadinya inkarserasi adalah 5-15%, sehingga operasi paling baik dikerjakan 1
sampai 2 minggu setelah diagnosis ditegakkan.
Pada bayi premature maupun neonatus operasi dapat dilakukan sampai umur 3
bulan kecuali bila telah terjadi strangulasi operasi harus segera dikerjakan.
Pada hernia inguinalis dikenal terapi konservatif dimana pada penderita
terlebih dahulu diberikan suntikan sedativa dan bila isi hernia dapat masuk
kembali ke rongga abdomen maka tindakan pembedahan dapat ditunda,
sebaliknya bila isi hernia tetap terjerat pada annulus inguinalis eksternus dan
tidak mengalami reduksi maka dalam waktu 6 jam harus dilakukan herniotomi.
6

Tindakan konservatif dengan pemberian kompres es sebaiknya dihindari


karena pada kenyataannya dengan pemberian kompres es tersebut justru anak
tidak bisa tidur.
2.

Hernia Umbilikalis
Kebanyakan hernia umbilikalis akan mengalami regresi spontan dan akan
menghilang dalam umur 1 sampai 3 tahun, namun bila tetap ada sampai umur
ini maka dapat dilakukan operasi Mayo.
Tindakan konservatif dapat dikerjakan dengan cara menutup lubang pada
umbilikus dengan koin yang dibungkus kasa streril dan diplester kuat.
Tindakan ini akan sia-sia bila lubang terlalu besar dan umur anak telah
mencapai 2 tahun.

3.

Fimosis
Sampai umur 1 tahun fimosis masih fisiologis dan akan normal kembali
setelah mencapai umur 2 tahun, sehingga operasi untuk kelainan ini dapat
dikerjakan setelah umur 3 tahun. Akan tetapi fimosis dengan komplikasi
balanitis, infeksi traktus uranius maupun parafimosis harus segera diatasi.

4.

Gangguan penurunan testis


Pada bulan ke 6

intrauterin, testis yang berada di dalam abdomen,

retroperitoneal akan turun menuju skrotum, proses ini disebut descensus


testiculorum. Testis yang berada di belakang prosesus vaginalis melewati
7

annulus inguinalis internus, kanalis inguinalis kemudian keluar melalui


annulus inguinalis eksternus turun menuju ke skrotum. Dalam proses
penurunan ini testis dapat mengalami beberapa gangguan berupa arrested
testis, ectopic testis maupun retractile testis.
Pada arrested testis, testis akan berhenti pada tempat-tempat tertentu pada jalur
penurunannya menuju skrotum, dapat intraabdominal, dalam kanalis inguinalis
maupun pada preskrotalis.
Pada ectopic testis, lokasi berada di luar jalur penurunan atau sudah keluar dari
annulus inguinalis eksternus tetapi tidak masuk ke skrotum, sehingga dapat
terletak diinguinal, di atas fascia maupun diperineal.
Pada retractile testis, testis telah berada di dalam skrotum, akan tetapi tertarik
ke atas akibat kontraksi muskulus kremaster. Apabila testis gagal turun ke
skrotum maka perubahan degenerasi akan terjadi pada dua tahun pertama
kehidupan, sehingga untuk mencegah hal tersebut maka Orkidopeksi harus
dikerjakan pada tahun kedua kehidupan.
Anak yang dioperasi setelah umur 2,6 tahun sel-sel spermatogenesis akan
terganggu dan hanya sel hormonal yang masih berfungsi.
5.

Hipospadia
Keadaan ini biasanya disertai dengan chordae yang menyebabkan penis
menjadi melengkung. Operasi dapat dilakukan satu maupun dua tahap, dimana
tahap pertama adalah chordectomy untuk meluruskan penis yang dilakukan
8

sebelum umur satu tahun, diikuti tahap kedua urethroplasty yang dikerjakan
sebelum umur 5 tahun dimana penis telah cukup panjang dan anak belum
masuk sekolah.
6.

Kista dan fistel pada leher


Kelainan ini dapat berupa kista duktus tiroglosus maupun kista bronchiogenik.
Dengan indikasi faktor psikologis, eksisis dikerjakan pada umur 4 tahun
kecuali bila telah terjadi infeksi.

7.

Polidaktili
Kelainan ini harus dikoreksi karena akan dapat mengganggu pertumbuhan
tangan maupun kaki. Polidaktili pada tangan dilakukan operasi pada umur 3
bulan sedangkan pada kaki, ekstirpasi dapat dilakukan pada umur satu tahun.
Indiksi operasi ini kecuali atas adanya gangguan fungsi juga indikasi kosmetik.

8.

Sindaktili
Sindaktili merupakan kelainan dimana terjadi perlekatan antara jari yang satu
dengan yang lainnya. Operasi dilakukan pada umur 2 - 4 tahun karena sebelum
umur ini secara tehnis akan sulit memisahkan jari-jari tersebut, akan tetapi bila
telah terjadi kontraktur maka operasi harus seawal mungkin dijelaskan.

9.

Labioskisis
Operasi dilaksanakan menurut rule of ten dimana umur lebih dari 10 minggu,
Hb lebih dari 10 gr% dan berat badan lebih dari 10 pound.

10.

Palatoskisis
9

Palatoplastik dikerjakan sebelum anak mulai belajar berbicara, dengan maksud


agar proses berbicara tidak terganggu akibat atrofi muskulus elevator dan
tensor palatini.
11.

Sinus preaukularis
Kelainan ini berupa lubang kecil di depan daun telinga. Penyakit ini dapat
dibiarkan saja, akan tetapi bila telah tejadi infeksi harus diobati dahulu
peradangannya dan 3 bulan kemudian dilakukan operasi.

12.

Mikro dan makro aurikula


Koreksi kelainan ini dapat dikerjakan setelah umur 5 tahun sebab setelah umur
tersebut daun telinga tidak tumbuh lagi.

13.

Hemangioma
Merupakan kelainan bawaan jaringan pembuluh darah yang dapat meluas
sampai anak berumur 12 bulan. Penyakit ini biasanya mengalami regresi
spontan pada umur 18 - 48 bulan. Proses regresi dapat dibantu dengan
pemberian kortikosteroid selama 10 hari setiap bulannya. Bila dengan
pemberian kortikosteroid ini ternyata dapat memperkecil tumor, maka obat ini
dapat terus diberikan akan tetapi bila tidak dapat memperkecil luasnya,
pengobatan harus dihentikan dan sebagai gantinya dilakukan tindakan operasi.
Tindakan operasi dini harus dilakukan bila hemangioma mengalami
perdarahan, infeksi maupun bila lokasinya pada daerah-daerah yang dapat
10

mengganggu fungsi, misalnya hemangioma pada palpebra, hidung maupun


mulut.
14.

Limfangioma
Limfangioma tidak mempunyai kemampuan untuk mengalami regresi spontan,
sehingga tumor akan berkembang cepat bila ada proses radang disekitarnya.
Dengan dasar tersebut maka operasi dini diperlukan untuk mengangkat tumor
tersebut sehingga tidak akan mengganggu jaringan sekitarnya. Limfangioma
pada leher yang terkenal adalah Higroma koli kistika yang dapat menyebabkan
distress respirasi.

15.

Teratoma sacrococcygeus
Tumor ini telah terlihat sejak lahir, dan letaknya antara sakrum dan rectum.
Tindakan pembedahan dilakukan seawal mungkin oleh karena bahaya-bahaya
terjadinya obstruksi usus, obstruksi saluran kencing maupun bahaya terjadinya
keganasan.

CAIRAN DAN ELEKTROLIT


Cairan dalam tubuh dibagi menjadi Cairan Intraseluler (CIS) dan Cairan
Ekstraseluler (CES).
Cairan ekstraseluler terdiri atas cairan intravasal dan cairan interstitial.
Presentase cairan-cairan tersebut berbeda-beda dan dipengaruhi oleh umur
penderita. Pada bayi prematur jumlah cairan tubuh (Total Body Water) dapat
mencapai 85% sedangkan pada bayi aterm mencapai 78%.

11

Yang harus diperhatikan adalah presentase CIS dan CES proporsinya dapat
berubah-ubah, dimana CES akan menurun dari 60% menjadi 45% dan CIS akan
naik dari 25% menjadi 33%.
Beberapa faktor yang harus diperhitungkan pada terapi cairan adalah:
1.

Kelembaban udara
IWL (Insensible Water Loss) melalui pernapasan dan kulit mencapai:
28cc/kgBB/24 jam dalam udara tanpa kelembaban;
14cc/kgBB/24 jam dalam perawatan humidified issolette dan
40-45cc/kgBB/24 jam dalam perawatan dengan pemanasan.

2.

Intake yang kurang sebelum perawatan

3.

Kehilangan cairan sebelum perawatan oleh karena muntah dan diare

4.

Volume cairan yang keluar sende lambung, gastrostomi, ileostomi


maupun kolostomi

5.

Status hidrasi
Tanda-tanda kekurangan cairan harus difahami seperti bibir kering, fontanela
cekung, mata cekung, turgor kulit yang kurang, nadi kecil, tanda-tanda pre
syok maupun syok.
Pemeriksaaan laboratorium dapat membantu menentukan status hidrasi
penderita misalnya pemeriksaan hematokrit, elektrolit dan protein.

12

KEBUTUHAN AIR DAN ELEKTROLIT


Kebutuhan air mantenance per hari pada bayi dan anak:
Berat badan 10 kg pertama

: 100 cc/kgbb/24 jam

Berat badan 10 kg kedua

: 50cc/kgbb/24 jam

Berat badan 10 kg ketiga

: 25cc/kgbb/24 jam

Kebutuhan elektrolit maintenance per hari:


Na

: 3-4 meq/kgbb/24 jam

: 2-3 meq/kgbb/24 jam

Cl

: 2-3 meq/kgbb/24 jam


Agar supaya dapat memenuhi kebutuhan cairan maupun elektrolit seperti

di atas maka pemberian infus D5S1/4 (larutan Dextrose 5% dalam Saline 0,225%)
harus ditambahkan larutan KCl 10meg/flabot 500cc yang dengan demikian maka
kebutuhan air, natrium, kalium dan chlor untuk mantenance akan terpenuhi.

DERAJAT DEHIDRASI DAN KOREKSI CAIRAN


Dehidrasi ringan

: 5 %bb

koreksi

: 25-50ml/kgbb

Dehidrasi sedang

: 10 %bb

koreksi

: 50-75ml/kgbb

Dehidrasi berat

: 15 %bb

koreksi

: 75-100ml/kgbb

Cairan untuk dehidrasi: larutan ringer laktat atau NaC1 0,45%, karena
biasanya pada penderita bedah telah banyak kehilangan K, Na maupun Cl melalui
muntah dan diare.
13

Waktu

yang

dieperlukan

untuk rehidrasi

sesuai dengan urgensi

pembedahan yaitu sekitar 2-6 jam, dimana defisit cairan ditambah cairan
mantenance diberikan dalam waktu tersebut. Rehidrasi tercapai apabila produksi
urine 1-2 cc/kgbb/jam

KALORI
Kebutuhan kalori perhari dapat diperhitungkan sebagai berikut:
Bayi prematur maupun BBLR

: 120 kal/kgbb

Berat badan sampai 10kg

: 100 kal/kgbb

Berat badan sampai 10-20kg

: 1000 kal + 50 kal/kg

Berat badan di atas 20 kg

: 1500 kal + 20 kal/kgbb

Setiap kenaikan suhu 1 derajat Celcuis kebutuhan kalori naik 12%

Jumlah kalori dalam larutan :


Dextrose 5%

: 200cal/I

Dectrose 10%

: 400cal/I

Aminofusin 600 (50 gr prot/I)


Intralipid 20% (200gr lemak/I)

: 600cal/I
: 2000cal/I

KEBUTUHAN PROTEIN
Berat badan sampai 10 kg

: 2,5 - 3gr/kgbb

14

Berat badan 10-15 kg

: 2,0 - 2,5 gr/kgbb

Berat badan 15-30 kg

: 1,5 - 2,0 gr/kgbb

Berat badan di atas 30 kg

: 1 - 1,5 gr/kgbb

NUTRISI PARENTERAL
Nutrisi parenteral hanya diindikasikan apabila pemberian nitrisi peroral
tidak adekwat. Dibagi menjadi 2 yaitu nutrisi parenteral

total dan nutrisi

parenteral parsial. Indikasi nutrisi parenteral total adalah reseksi usus yang
ekstensif, ileus yang berkepanjangan, fistula usus , short bowel syndrom,
gastroskisis dan malabsorbsi. Indikasi nutrisi parenteral parsial adalah penderita
pasca operasi yang masih dipuasakan sampai hari ke-5 atau lebih.
Komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi pada pemberian Nutrisi
parenteral :
Hiperglikkemia dengan diuresis hiperosmotik yang menyebabkan:
Dehidrasi dan gangguan elektrolit
Hipoglikemia
Hipokalsemia
Asidosis metabolik
Hiperammonemia, hiperlipidemia,
Kerusakan sel hepar, defisiensi asam lemak dan infeksi
15

KEGAWATAN NEONATAL
Kegawatan bedah neonatal harus cepat diketahui dan ditangani oleh karena
komplikasi-komplikasi yang terjadi bukan hanya lokal karena penyakitnya tetapi
juga karena efek samping sistemik yang menyertai dan dapat berakibat fatal.
Kegawatan yang paling banyak dijumpai, biasanya disebabkan oleh karena
obstruksi intestinal misalnya: atresia, stenosis, mekonium ileus.
-

Infeksi misalnya: peritonitis mekonium, NEC

Strangulasi misalnya: volvulus

LAMBUNG
Obstruksi ada lambung dapat bersifat total maupun parsial dan lokasinya
adalah pada pintu keluar lambung (gastric outlet). Kelainan-kelainan disini
termasuk:
Aplasi,
Atresia,
Stenosis,
Prolaps mukosa lambung,
Membran prapilorus {diafragma prapilorus, antral web} dan
Stenosis pylorus hipertrofik
16

Manifestasi klinis obstruksi pada gastric outlet adalah obstruksi letak


tinggi, riwayat polihidramnion ada waktu hamil dan berat badan lahir yang rendah.
Apabila diagnosis terlambat ditegakkan maka akan terjadi alkalosis metabolik dan
perforasi lambung 12 jam setelah lahir.
Pemeriksaan foto polos abdomen akan menunjukkan dilatasi lambung yang
besar. Pada obstruksi total pemeriksaan barium per oral harus dihindari oleh
karena bahaya terjadinya muntah dan inhalasi.
Membaran prapilorus inkomplet gejalanya akan mirip dengan stenosis
pylorus hepertrofik dan stenosis duodeni.
Penanganan kelainan ini mula-mula dipasang NGT (nasogastric tube)
untuk membersihkan isi lambung. Dipasang infus untuk mencegah dehidrasi dan
alkalosis yang terjadi dikoreksi.
Tindakan bedah untuk kelainan ini termasuk:
Piloroplastik heincke mikulics,
Gatroduodenostomi atau gatrojejunostomi,
Sedangkan

untuk

atresi

maupun

aplasi

dapat

dilakukan

eksisi

dan

gatroduodenostomi.

APALASIA DAN ATRESIA PILORUS


Manifestasi klinis adalah sebagai obstruksi tinggi dimana muntah beberapa
jam setelah lahir merupakan gejala pertama yang menonjol.

17

Material muntahan adalah makanan atau minuman yang masuk sehingga


warna muntahan adalah sesuai dengan apa yang telah dimakan atau diminum. Hal
ini berbeda apabila obstruksi terletak di sebelah distal ampula veteri dimana
muntahannya akan berwarna hijau.
Perut tidak kembung (skapoid) dimana dinding perut berada di bawah garis
sipopubik xypopubic line .
Adanya riwayat polihidramnion waktu kehamilan dan berat badan lahir
yang rendah akan membantu diagnosis kelainan ini.
Foto polos abdomen akan menunjukkan Single Bubble, dimana pada foto
tersebut hanya didapatkan satu gelembung udara. Kelainan ini sangat jarang
dijumpai.

STENOSIS PILORUS HIPERTROFIK


Kelainan ini mula pertama diperkenalkan oleh Hildanus seorang dokter
Jerman pada tahun 1646 sebagai muntah spastik. Disini didapatkan hipertropi otot
pylorus dan bukan hiperplasi yang menyebabkan penyempitan lumen pylorus dan
penebalan pylorus.
Insidensinya adalah 1 : 900 kelahiran hidup dan terjadinya secara progresif,
laki-laki 4 kali dibanding perempuan.
Manifestasi klinis biasanya akan muncul pada minggu ke 3 - 7 setelah
lahir, sebagai obstruksi tinggi sehingga muntah merupakan gejala pertama. Gejala
18

yang lain adalah sering menderita infeksi saluran nafas dan kegagalan tumbuh
kembang sehingga bayi akan kurus.
Bayi mula-mula dapat minum biasa, kemudian mendadak muntah
menyemprot dan mengeluarkan makanan minuman yang belum dicerna dan
kadang bercampur darah. Sehabis muntah bayi kelihatan sangat haus dan kadangkadang dimanifestasikan mengisap ibu jari tangan.
Pada pemeriksaan fisik akan dijumpai adanya obstruksi tinggi, gambaran
lambung dengan gelombang peristaltiknya yang bergerak mulai dari bawah
sukostal kiri ke arah kanan melewati epigstrium.
Didapatkan masa berbentuk bulat diameter 2 cm yang teraba pada daerah
epigastrium.
Pada foto polos abdomen akan terlihat disrtensi lambung dengan sebaran
udara di sebelah distalnya yang merata.
Pada pemeriksaan barium peroral akan terlihat gambaran string sign,
railroad sign, sholder sign, maupun umbrella sign.
Tindakan bedah pada kelainan ini adalah operasi piloromiotonomi Fredet-Ramsted

VOLVULUS LAMBUNG
Lambung dapat terpuntir pada beberapa arah, akan tetapi kebanyakan akan
terpuntir dengan sumbu transversal dan sagital, sehingga volvulus lambung dibagi
2 yaitu:

19

Vovulus mesenteroaksial, disini bagian ventral lambung berpindah ke


dorsal
Vovulus organoaksial, disini lambung bagian distal dan pylorus berpindah
ke atas dan muara esophagus berpindah ke bawah.
Mengenai kejadiannya dibagi 2 yaitu:
-

Vovulus lambung akut: pada kelainan ini terjadi proses strangulasi dengan
gangguan vaskularisasi akibat puntiran yang total, sehingga isi lambung
tidak dapat didorong ke distal melewati pylorus dan juga tidak dapat
dimuntahkan. Penderita akan tampak sangat kesakitan akibat adanya proses
strangulasi.

Vovulus lambung kronik: disini hanya didapatkan obstruksi parsial akibat


puntiran inkomplit sehingga tidak didapatkan tanda-tanda strangulasi.
Keadaan ini sering disebut rotasi lambung dengan nyeri bersifat kolik.
Pada pemeriksaan fisik akan didapatkan tanda obstruksi tinggi, dengan

kembung di daerah epigastrium, yang kadang-kadang terlihat peristaltik lambung.


Foto polos abdomen akan terlihat bubble gaster yang besar dengan
gambaran air fluid level, dengan sebaran udara di sebelah distal yang minimal.
Penanganan vovulus lambung tergantung pada kedaruratannya, dimana
pada vovulus lambung akut tindakan bedah harus segera dikerjakan setelah
dilakukan stabilisasi. Tindakan bedah yang dilakukan adalah reposisi dan
gastropeksi.

20

Apabila distensi lambung sangat besar, gastrostomi dapat dikerjakan untuk


membantu dekompresi dn pengambilan fungsi pasase lambung.

DUODENUM
Kelainan pada organ ini termasuk
-

Atresia duodenum

Stenosis duodenum

Anular duodenum

ATRESIA DUODENUM
Kelainan ini mula pertama dilaporkan oleh J. Calder seorang dokter bedah
dari Glasgow pada tahun 1733
Indidensi kelainan ini adalah 1:5000-10.000 kelahiran 30% disertai Down
Syndrom.
Patofisiologi: kelainan ini diperkirakan oleh kegagalan proses vakuolisasi
semasa embrio, ataupun oleh karena oklusi vaskuler di daerah duodenum.
Pertumbuhan pankreas yang tidak normal mengelilingi duodenum dicurigai pula
penyebab atresia maupun stenosis duodeni.
Manifestasi klinis sebagai obstruksi tinggi, dimana beberapa jam setelah
lahir bayi akan muntah berwarna hijau. Komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi
adalah aspirasi, dehidrasi, gangguan elektrolit dan gangguan asam basa.

21

Diagnosis: adanya riwayat polihidramnion semasa kehamilan, bayi lahir


dengan sindom down harus dicurigai atresia duodenum. Muntah hijau beberapa
jam setelah lahir dengan perut skapoid akan memperkuat diagnosis kelainan ini.
Foto polos abdomen posisi tegak akan memperlihatkan gambar double
bubble dimana terlihat dua gelembung udara yang berasal dari lambung dan
duodenum.
Terapi: untuk mencegah terjadinya aspirasi dan muntah harus segera
dipasang NGT dan dilakukan pengisapan udara dan makanan.
Koreksi cairan dan elektrolit, koreksi asam basa harus dilakukan terlebih
dulu sebelum dilakukan pembedahan.
Tindakan

bedah

yang

dilakukan

adalah

diamod-shaped

duodenoduodenostromi ataupun duodenojejunostomi end to end.

STENNOSIS DUODENUM
Pada kelahiran ini kaliber

masih tetap ada walaupun kecil, sehingga

memungkinkan makanan tetap dapat ke distal. Apabila kaliber duodenum sangat


kecil maka manifestasi klinisnya akan mirip dengan atresia duodenum dengan
gejala muntah yang paling menonjol.
Diagnosis: manifestasi klinis kelainan ini adalah obstruksi tinggi parsial.
Foto polos abdomen akan menunjukkan gambaran double bubble dengan
sebaran udara di sebelah distal yang merata, sedangkan pada pemeriksaan barium
22

peroral akan tampak menyempitan lumen, duodenum pemeriksaan barium enema


dapat dikerjakan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya maltorasi.
Terapi: reseksi dan anastomosis end to end maupun duodenoplastik.

PANKREAS ANULARE
Pankreas anulare adalah keadaan dimana duodenum dikelilingi oleh ring
jaringan pankreas sehingga akan memperkecil lumen duodenum atau bahkan dapat
menutup sama sekali.
Kelainan ini pertama kali dilaporkan oleh Tiedemann pda tahun 1818.
Insidensi kelainan ini adalah 1:7.500 kelahiran.
Diagnosis: secara klinis akan menampilkan sebagai obstruksi usus letak
tinggi dengan riwayat polihidramnion saat kehamilan. Muntah hijau beberapa jam
setelah lahir merupakan gejala pertama akan dapat menyebabkan terjadinya
dehisrasi berat. Distensi abdomen pada daerah epigatirum yang hilang setelah
pemasangan NGT akan memperjelas kelainan ini, sedangkan peristaltic lambung
hanya terlihat pada 1/6 kasus.
Ikterus yang dapat terjadi pada kelainan ini diakibatkan oleh karena
obstruksi pada traktus biliaris.
Foto polos abdomen menunjukkan adanya gambaran double buble dengan
sebaran udara didstalnya.
23

Terapi: setelah stabilitasi maka tindakan bedah yang dapat dikerjakan


adalah duodenoduodenostromi ataupun duodenojejunostomi.

ATERSIA JEJUNUM DAN ILEUM


Kasus atresi ileum pertama kali dilaporkan oleh Goeller pada tahun 1683
dan Bland Sutton pada tahun 1889.
Gangguan aliran darah pada satu segemen usus yang terjadi untrauterin
merupakan salah satu penyebab terjadinya atresia intestinal. Akibat gangguan
vaskularisasi ini akan terjadi bentuk-bentuk atresia intestinal yang berupa
membran diafragma, fibrous band, apple peel maupun atresia multiple.
Insidensi atresia jejunoileal adalah 1:1500 kelahiran hidup.
Diagnosis: muntah empedu dan distansi abdomen yang progresif
merupakan gejala pokok kelainan ini. Riwayat polihidramnion pada saat
kehamilan akan membatu penegakkan diagnosis kelainan ini.
Ikterus dapat terjadi pada 20% kasus dan disebabkan oleh karena gangguan
sirkulasi enterohepatikus.
Foto polos abdomen menunjukkan distensi usus dengan multiple air fluid
level. Terapi: reseksi dan anastomosis end to end. Apabila dijumpai perbedaan
kaliber yang sama besar antara segmen usus proiksimal dan distal dapat diatasi
dsengan teknik tapering usus.
24

Komplikasi pasca operasi yang dapat terjadi adalah : short bowel syndrom
dan struktur anastomosis.

STENNOSIS JEJUNUM DAN ILEUM


Pada kelainan ini masih dijumpai adanya lumen usus, akan tetapi
kalibernya sangat kecil sehingga akan mengganggu pasase makanan dan akan
menyebabkan terjadinya obstruksi parsial.
Nafsu makan kurang, distensi abdomen intermiten, muntah dan gagal
tumbuh kembang akan memperkuat diagnosis kelainan ini.
Tindakan bedah: reseksi dan anastomosis end to end.

MEKONIUM ILEUS
Mekonium ileus adalah obstruksi pada ileum terminal yang disebabkan
oleh karena mekanium yang kental dan lengket.
Kelainan ini disebabkan oleh karena gangguan fungsi eksokrin kelenjar
pankreas dan terjadi pada 5%-10% neonatus dengan kistik fibrosis, yang
mengakibatkan mekonium menjadi kental, lengket yang akan terkumpul di ileum
terminal dan dapat menyebabkan obstruksi.
Diagnosis: kelainan ini akan secara klinis menampilkan sebagai obstruksi
rendah dimana kembung merupakan gejala yang menonjol.
25

Pemeriksaan sweat test akan menunjukkan kenaikan konsentrasi natrium


dan chlorida dan biasanya lebih dari 60 mEq/liter, hal yang sama terjadi pula pada
pemeriksaan rambut dan kuku.
Foto polos abdomen menunjukkan distensi usus halus serta gambaran Soap
Bubble Appearance dan pada pemeriksaan kontras enema akan terlihat gambaran
mikro kolon yang disebabkan oleh karena mekonium tidak melewati usus besar.
Gambaran kalsifikasi akan terlihat apabila terjadi perforasi intrauterine.
Terapi: penanganan kelainan ini dapat bedah maupun nonbedah.
Indikasi pembedahan adalah bila:
-

Enema hiperosmolar gagal menghilangkan obstruksi.

Didapatkan komplikasi-komplikasi: vovulus, nekrosis, perforasi dan


peritonitis

Bila diagnosis meragukan


Cairan yang dapat digunakan untuk enema antara lain: pankreatin,

polisorbate 80 N - Acethly Cystein (mucomist) dan hydrogen peroksida.


Gastrografin, suatu cairan hiperosmolar radiopak yang larut dalam air,
mempunyai daya menarik air masuk ke dalam lumen usus yang dengan demikian
akan dapat melunakkan dan mengencerkan mekomnium.
Tindakan bedah yang dapat dikerjakan pada kelainan ini adalah:
-

Irigasi lewat enterostomi di sebelah distal sumbatan.

Ileostomi Bishop Koop, Santuli maupun Mikulics.


26

Reseksi dan anastomosis end to end.

27