Anda di halaman 1dari 87

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memililki fungsi utama yakni
untuk menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting seperti insulin.
Diabetes merupakan permasalahan kesehatan serius di seluruh dunia.Diperkirakan
15,7 juta orang di Amerika Serikat menderita diabetes mellitus. Perkiraan tersebut,
merupakan perhitungan antara diabetes yang terdiagnosa dan tidak terdiagnosa, sebanyak
5,9 % populasi di Amerika Serikat menderita diabetes mellitus. Diabetes Mellitus
menyebabkan kematian lebih dari 162.200 jiwa pada tahun 1996. Diabetes termasuk
tujuh penyebab utama kematian pada daftar angka kematian di AS, tapi diabetes diyakini
termasuk kematian yang tidak tidak terlaporkan, antaranya adalah kondisi dan penyebab
kematian. Diabetes adalah penyebab utama dari kebutaan. Lebih dari 60 sampai 65%
penderita diabetes menderita hipertensi. Hal yang mengejutkan biaya pengeluaran untuk
pengobatan secara langsung dan tidak langsung untuk diabetes pada tahun 1997
diperkirakan mencapai 98 juta dolar. Banyaknya biaya tidak memberikan timbal balik
yang kehidupan patien diabetes dan keluarganya.
Penderita diabetes mellitus di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya, hal ini
dihubungkan dengan meningkatnya angka kesejahteraan. Persentase penderita diabetes
mellitus lebih besar di kota daripada di desa, 14,7% untuk dikota dan 7,2% di desa.
Indonesia menduduki peringkat keenam di dunia dalam hal jumlah terbanyak penderita
diabetes.
Dari penjelasan yang tersebut diatas peranan soerang perawat sangat penting dalam
pemberian asuhan keperawatan untuk menurunkan angka kesakitan dan angka kematian
yang disebabkan karena diabetes mellitus, sehingga diharapkan mahasiswa keperawatan
dapat memahami dan menguasai konsep asuhan keperawatan pada pasien diabetes
mellitus.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan diabetes mellitus ?

C. Tujuan Penulisan
1.

Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang asuhan keperawatan
pada klien dengan diabetes mellitus.

2.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.

Tujuan Khusus
Mahasiswa mengerti tentang anatomi dan fisiologi dari pancreas
Mahasiswa mengerti tentang pengertian dari diabetes mellitus
Mahasiswa mengerti tentang klasifikasi dari diabetes mellitus
Mahasiswa mengerti tentang etiologi dari diabetes mellitus
Mahasiswa mengerti tentang manifestasi klinis dari diabetes mellitus
Mahasiswa mengerti tentang mendiagnosa dari diabetes mellitus
Mahasiswa mengerti tentang upaya pencegahan dari diabetes mellitus
Mahasiswa mengerti tentang strategi penanggulangan dari diabetes mellitus
Mahasiswa mengerti tentang penunjang dari diabetes mellitus
Mahasiswa mengerti tentang penegakan diagnosis dari diabetes mellitus
Mahasiswa mengerti tentang komplikasi dari diabetes mellitus
Mahasiswa mengerti tentang penatalaksanaan dari diabetes mellitus
Mahasiswa mengerti tentang kontrol glikemik
Mahasiswa mengerti tentang asuhan keperawatan dari diabetes mellitus

D. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari bab I; pendahuluan, bab II; tinjauan
pustaka, bab III; tinjauan kasus, bab IV; penutup.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. ANATOMI FISIOLOGI DARI PANKREAS


1.

Anatomi Pankreas
Pankreas terletak melintang dibagian atas abdomen dibelakang gaster
didalam ruang retroperitoneal. Disebelah kiri ekor pankreas mencapai hilus
limpa diarah kronio dorsal dan bagian atas kiri kaput pankreas dihubungkan
dengan corpus pankreas oleh leher pankreas yaitu bagian pankreas yang
lebarnya biasanya tidak lebih dari 4 cm, arteri dan vena mesentrika superior
berada dileher pankreas bagian kiri bawah kaput pankreas ini disebut processus
unsinatis pankreas. Pankreas terdiri dari dua jaringan utama yaitu :
a. Asinus, yang mengekskresikan pencernaan ke dalam duodenum.
b. Pulau Langerhans, yang tidak mempunyai alat untuk mengeluarkan
getahnya namun sebaliknya mensekresi insulin dan glukagon langsung
kedalam darah.
Pankreas manusia mempunyai 1 2 juta pulau langerhans, setiap pulau
langerhans hanya berdiameter 0,3 mm dan tersusun mengelilingi pembuluh
darah kapiler.
Pulau langerhans mengandung tiga jenis sel utama, yakni sel-alfa, beta
dan delta. Sel beta yang mencakup kira-kira 60 % dari semua sel terletak
terutama ditengah setiap pulau dan mensekresikan insulin. Granula sel B
merupakan bungkusan insulin dalam sitoplasma sel. Tiap bungkusan bervariasi
antara spesies satu dengan yang lain. Dalam sel B , molekul insulin membentuk
polimer yang juga kompleks dengan seng. Perbedaan dalam bentuk bungkusan
ini mungkin karena perbedaan dalam ukuran polimer atau agregat seng dari
insulin. Insulin disintesis di dalam retikulum endoplasma sel B, kemudian
diangkut ke aparatus golgi, tempat ia dibungkus didalam granula yang diikat
membran. Granula ini bergerak ke dinding sel oleh suatu proses yang
tampaknya sel ini yang mengeluarkan insulin ke daerah luar dengan
eksositosis. Kemudian insulin melintasi membran basalis sel B serta kapiler
berdekatan dan endotel fenestrata kapiler untuk mencapai aliran darah. Sel alfa

yang mencakup kira-kira 25 % dari seluruh sel mensekresikan glukagon. Sel


delta yang merupakan 10 % dari seluruh sel mensekresikan somatostatin (Arif
M, 2010)

2. Fisiologi Pankreas
Kelenjar pankreas dalam mengatur metabolisme glukosa dalam tubuh
berupa hormon-hormon yang disekresikan oleh sel sel dipulau langerhans.
Hormon-hormon ini dapat diklasifikasikan sebagai hormon yang merendahkan
kadar glukosa darah yaitu insulin dan hormon yang dapat meningkatkan
glukosa darah yaitu glukagon.
Fisiologi Insulin :
Hubungan yang erat antara berbagai jenis sel dipulau langerhans
menyebabkan timbulnya pengaturan secara langsung sekresi beberapa jenis
hormone

lainnya,

contohnya

insulin

menghambat

sekresi

glukagon,

somatostatin menghambat sekresi glukagon dan insulin.


Insulin dilepaskan pada suatu kadar batas oleh sel-sel beta pulau
langerhans. Rangsangan utama pelepasan insulin diatas kadar basal adalah
peningkatan kadar glukosa darah. Kadar glukosa darah puasa dalam keadaan
normal adalah 80-90 mg/dl. Insulin bekerja dengan cara berkaitan dengan
reseptor insulin dan setelah berikatan, insulin bekerja melalui perantara kedua
untuk menyebabkan peningkatan transportasi glukosa kedalam sel dan dapat
segera digunakan untuk menghasilkan energi atau dapat disimpan didalam hati
(Arif M, 2010)
B. PENGERTIAN DARI DIABETES MELLITUS
Diabetes Melitus (DM) merupakan keadaan hiperglikemia kronik yang

disertai dengan berbagai kelainan metabolik yang diakibatkan oleh gangguan


hormonal yang menimbulkan berbagai macam komplikasi kronik pada organ mata,
ginjal, saraf, pembuluh darah disertai lesi padda membran basalis dalam dengan
menggunakan pemeriksaan dalam mikroskop (Arif M, 2010)
Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, Diabetes melitus
merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia
yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya
(Nursalam, 2014).
C. KLASIFIKASI DARI DIABETES MELLITUS
Klasifikasi Diabetes melitus dan penggolongan intoleransi glukosa yang lain:
1. Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM)
Adalah defisiensi insulin karena kerusakan sel-sel langerhans yang
berhubungan dengan tipe HLA (Human Leucocyte Antigen) spesifik,
predisposisi pada insulitis fenomena autoimun (cenderung ketosis dan terjadi
pada semua usia muda). Kelainan ini terjadi karena kelainan kerusakan sistem
imunitas (kekebalan tubuh) yang kemudian merusak sel-sel pulau langerhans di
pangkreas. Kelainan ini berdampak pada penurunan produksi insulin. Pankreas
memproduksi sedikit/tidak produksi insulin endogen dan harus diatasi dengan
injeksi insulin untuk mengontrol diabetes dan mencegah ketoasidosis.
2. Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM)
Adalah diabetes resisten, lebih sering pada dewasa, tapi dapat terjadi
pada semua umur. Kebanyakan penderita kelebihan berat badan, ada
kecendrungan familiar, mungkin perlu insulin pada saat hiperglikemik selama
stres. Penyakit yang diakibatkan dari defek pembuatan insulin dan pelepasan
dari sel beta, serta resistensi insulin pada jaringan perifer.
3. Diabetes Melitus tipe yang lain
Adalah Diabetes melitu yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom
tertentu hiperglikemik terjadi karena penyakit lain; penyakit pankreas,
hormonal, obat atau bahan kimia, endokrinopati, kelainan reseptor insulin dan
sindroma genetik tertentu.
4. Impared Glukosa Tolerance (gangguan toleransi glukosa)
Adalah kadar glukosa antara normal dan diabetes, dapat menjadi diabetes
atau menjadi normal atau tetap tidak berubah. Kerentanan terhadap penyakit
aterosklerosis diatas normal. Komplikasi renal dan retina biasanya tidak
signifikant

5. Gestasional Diabetes Melitus (GDM)


Adalah intoleransi glukosa yang terjadi selama kehamilan. Dalam
kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang
menunjang pemanasan makanan bagi janin serta persiapan menyusui.
Menjelang aterm kebutuhan insulin meningkat sehingga mencapai tiga kali
lipat dari keadaan normal. Bila ibu tidak mampu meningkatkan produksi
insulin sehingga relatif hipoinsulin maka mengakibatkan hiperglikemia. Awitan
selama kehamilan, terjadi pada trimester ke 2 dan ke 3, disebabkan oleh
hormon yang disekresi plasenta dan menghambat kerja insulin (Arif M, 2010).
D. ETIOLOGI DARI DIABETES MELLITUS
1. Diabetes tipe I (IDDM, Insulin Dependent Diabetes Mellitus)
a. Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu

sendiri, tetapi

mewarisi suatu predisposisi/kecendrungan genetik kearah terjadinya


diabetes tipe I.
b. Faktor immunologi
Terdapat suatu respon otoimun yang merupakan repon abnormal
dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi
terhadap jaringan tersebut yang dianggap seolah-olah jaringan asing.
c. Faktor lingkungan
Virus/toksin dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan
destruksi sel beta (Arif M, 2010).
2. Diabetes tipe II (NIDDM, Non- Insulin Dependent Diabetes Mellitus)
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan
gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor
genetik diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi
insulin selain itu terdapat pula faktor-faktor resiko tertentu yang berhubungan
dengan proses terjadinya diabetes tipe II. Faktor-faktor ini adalah :
a. Usia
Umumnya manusia mengalami penurunan fisiologis yang secara
dramatis menurun dengan cepat pada usia 40 tahun. Penurunan ini yang
akan beresiko pada penurunan fungsi endokrin pankreas untuk
memproduksi insulin.
b. Obesitas
Obesitas mengakibatkan sel-sel beta pankreas mengalami hipertropi
yang akan berpengaruh pada penurunan hormon insulin.

c. Gaya hidup
Stres kronis cenderung membuat seseorang mencari makanan yang
cepat saji yang kaya pengawet, lemak serta gula. Makanan ini berpengaruh
besar terhadap kerja pankreas. Stres juga akan meningkatkan kerja
metabolisme dan meningkatkan kebutuhan akan sumber energi yang
berakibat pada kenaikan pada kerja pankreas. Beban pangkreas yang berat
akan berdampak pada penurunan insulin.
d. Pola makan yang salah
Kurang gizi atau kelebihan berat badan sama-sama meningkatkan
resiko diabetes. Malnutrisi dapat merusak pankreas sedangkan obesitas
meningkatkan gangguan kerja atau resistensi insulin. Pola makan yang
tidak teratur dan cenderung terlambat juga akan berperanan pada
ketidakstabilan kerja pankreas.
e. Minimnya Aktivitas Fisik
Setiap gerakan tubuh

dengan

tujuan

meningkatkan

dan

mengeluarkan tenaga dan energi, yang biasa dilakukan atau aktivitas


sehari-hari sesuai profesi atau pekerjaan. Sedangkan faktor resiko
penderita DM adalah mereka yang memiliki aktivitas minim, sehingga
pengeluaran tenaga dan energi hanya sedikit.
f. Merokok
Sebuah universitas di Swiss membuat suatu analisis 25 kajian yang
menyelidiki hubungan antara merokok dan diabetes yang disiarkan antara
1992 dan 2006, dengan sebanyak 1,2 juta peserta yang ditelusuri selama
30 tahun. Mereka mendapati resiko bahkan lebih tinggi bagi perokok berat.
Mereka yang menghabiskan sedikitnya 20 batang rokok sehari memiliki
resiko terserang diabetes 62% lebih tinggi dibandingkan dengan orang
yang tidak merokok. Merokok dapat mengakibatkan kondisi yang tahan
terhadap insulin, kata para peneliti tersebut. Itu berarti merokok dapat
mencampuri cara tubuh memanfaatkan insulin. Kekebalan tubuh terhadap
insulin biasanya mengawali terbentuknya Diabetes tipe 2.
g. Infeksi
Masuknya bakteri atau virus ke dalam pankreas akan berakibat
rusaknya sel-sel pankreas. Kerusakan ini berakibat pada penurunan fungsi
pankreas (Arif M, 2010).

E. MANIFESTASI KLINIS DARI DIABETES MELLITUS


Beberapa keluhan dan gejala yang perlu mendapat perhatian ialah (Agustina, 2009):
1. Keluhan Klasik :
a. Penurunan berat badan
Penurunan berat badan yang berlangsung dalam waktu relatif singkat
harus menimbulkan kecurigaan. Hal ini disebabkan glukosa dalam darah
tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga sel kekurangan bahan bakar
untuk menghasilkan tenaga. Untuk kelangsungan hidup, sumber tenaga
terpaksa diambil dari cadangan lain yaitu sel lemak dan otot. Akibatnya
penderita kehilangan jaringan lemak dan otot sehingga menjadi kurus.
b. Banyak kencing
Karena sifatnya, kadar glukosa darah yang tinggi akan menyebabkan
banyak kencing. Kencing yang sering dan dalam jumlah banyak akan
sangat mengganggu penderita, terutama pada waktu malam hari.
c. Banyak minum
Rasa haus sering dialami oleh penderita karena banyaknya cairan
yang keluar melalui kencing. Keadaan ini justru sering disalah tafsirkan.
Dikira sebab rasa haus ialah udara yang panas atau beban kerja yang berat.
Untuk menghilangkan rasa haus itu penderita minum banyak.
d. Banyak makan
Kalori dari makanan yang dimakan, setelah dimetabolisme menjadi
glukosa dalam darah tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan, penderita selalu
merasa lapar (Arif M, 2010).
2. Keluhan lain:
a. Gangguan saraf tepi / Kesemutan
Penderita mengeluh rasa sakit atau kesemutan terutama pada kaki di
waktu malam, sehingga mengganggu tidur. Gangguan penglihatan Pada
fase awal penyakit Diabetes sering dijumpai gangguan penglihatan yang
mendorong penderita untuk mengganti kacamatanya berulang kali agar ia
tetap dapat melihat dengan baik.
b. Gatal / Bisul
Kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi di daerah kemaluan atau
daerah lipatan kulit seperti ketiak dan di bawah payudara. Sering pula
dikeluhkan timbulnya bisul dan luka yang lama sembuhnya. Luka ini dapat
timbul akibat hal yang sepele seperti luka lecet karena sepatu atau tertusuk
peniti.
c. Gangguan Ereksi

Gangguan ereksi ini menjadi masalah tersembunyi karena sering


tidak secara terus terang dikemukakan penderitanya. Hal ini terkait dengan
budaya masyarakat yang masih merasa tabu membicarakan masalah seks,
apalagi menyangkut kemampuan atau kejantanan seseorang.
d. Keputihan
Pada wanita, keputihan dan gatal merupakan keluhan yang sering
ditemukan dan kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala yang
dirasakan (Arif M, 2010).
F. MENDIAGNOSA DARI DIABETES MELLITUS
Dalam menegakkan diagnosis DM harus diperhatikan asal bahan darah yang
diambil dan cara pemeriksaan yang dipakai (Arif M, 2010).
1. Pemeriksaan Penyaring
Pemeriksaan penyaring perlu dilakukan pada kelompok dengan salah
satu faktor risiko untuk DM, yaitu:
a. Kelompok usia dewasa tua ( > 45 tahun )
b. Kegemukan {BB (kg) > 120% BB idaman atau IMT > 27 (kg/m2)}
c. Tekanan darah tinggi (> 140/90 mmhg)
d. Riwayat keluarga DM
e. Riwayat kehamilan dengan bb lahir bayi > 4000 gram
f. Riwayat dm pada kehamilan
g. Dislipidemia (HDL < 35 mg/dl dan atau trigliserida > 250 mg/dl
h. Pernah TGT (toleransi glukosa terganggu) atau GDPT (glukosa darah
puasa terganggu)
G. UPAYA PENCEGAHAN DARI DIABETES MELLITUS
Adapun Tahap pencegahannya yaitu (Arif M, 2010) :
1. Pencegahan Primer
Pencegahan Masyarakat luas melalui lembaga swadaya masyarakat dan
lembaga sosial lainnya harus diikutsertakan. Penyuluhan sangat penting
perannya dalam upaya pencegahan primer. Departemen Kesehatan dan
Departemen Pendidikan perlu memasukkan upaya pencegahan primer DM
dalam program penyuluhan dan pendidikan kesehatan.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat
timbulnya penyulit pada pasien yang telah menderita DM. Dilakukan dengan
pemberian pengobatan yang cukup dan tindakan deteksi dini penyulit sejak
awal pengelolaan penyakit DM. Salah satu penyulit DM yang sering terjadi

adalah penyakit kardiovaskular yang merupakan penyebab utama kematian


pada penyandang diabetes.
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan :
a. Skrinning
Skrinning dilakukan dengan menggunakan tes urin, kadar gula darah
puasa, dan GIT. Skrinning direkomendasikan untuk :
1) Orang-orang yang mempunyai keluarga diabetes
2) Orang-orang dengan kadar glukosa abnormal pada saat hamil
3) Orang-orang yang mempunyai gangguan vaskuler
4) Orang-orang yang gemuk
b. Pengobatan
Pengobatan diabetes mellitus bergantung kepada pengobatan diet
dan pengobatan bila diperlukan. Kalau masih bisa tanpa obat, cukup
dengan menurunkan berat badan sampai mencapai berat badan ideal.
Untuk itu perlu dibantu dengan diet dan bergerak badan.
Pengobatan dengan perencanaan makanan (diet) atau terapi nutrisi
medik masih merupakan pengobatan utama, tetapi bilamana hal ini
bersama latihan jasmani/kegiatan fisik ternyata gagal maka diperlukan
penambahan obat oral. Obat hipoglikemik oral hanya digunakan untuk
mengobati beberapa individu dengan DM tipe II. Obat ini menstimulasi
pelapisan insulin dari sel beta pancreas atau pengambilan glukosa oleh
jaringan perifer.
Tabel 2
Aktivitas Obat Hipoglisemik Oral

Obat

Lamanya jam

Dosis lazim/hari

Klorpropamid (diabinise)

60

Glizipid (glucotrol)

12-24

1-2

Gliburid (diabeta, micronase)

16-24

1-2

Tolazamid (tolinase)

14-16

1-2

Tolbutamid (orinase)

6-12

1-3

c. Diet
Diet adalah penatalaksanaan yang penting dari kedua tipe DM.
makanan yang masuk harus dibagi merata sepanjang hari. Ini harus
konsisten dari hari kehari. Adalah sangat penting bagi pasien yang
menerima insulin dikordinasikan antara makanan yang masuk dengan
aktivitas insulin lebih jauh orang dengan DM tipe II, cenderung
kegemukan dimana ini berhubungan dengan resistensi insulin dan
hiperglikemia. Toleransi glukosa sering membaik dengan penurunan berat
badan. (Arif M, 2010).
Modifikasi dari faktor-faktor resiko :
1)
2)
3)
4)
5)

Menjaga berat badan


Tekanan darah
Kadar kolesterol
Berhenti merokok
Membiasakan diri untuk hidup sehat

6) Biasakan diri berolahraga secara teratur. Olahraga adalah aktivitas


fisik yang terencana dan terstruktur yang memanfaatkan gerakan
tubuh yang berulang untuk mencapai kebugaran.
7) Hindari menonton televisi atau menggunakan komputer terlalu lama,
karena hali ini yang menyebabkan aktivitas fisik berkurang atau
minim.
8) Jangan mengonsumsi permen, coklat, atau snack dengan kandungan.
garam yang tinggi. Hindari makanan siap saji dengan kandungan
kadar karbohidrat dan lemak tinggi.
9) Konsumsi sayuran dan buah-buahan.
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penyandang diabetes yang
telah mengalami penyulit dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan lebih
lanjut. Upaya rehabilitasi pada pasien dilakukan sedini mungkin, sebelum
kecacatan menetap. Sebagai contoh aspirin dosis rendah (80-325 mg/hari)
dapat diberikan secara rutin bagi penyandang diabetes yang sudah mempunyai
penyulit makroangiopati. Pada upaya pencegahan tersier tetap dilakukan
penyuluhan pada pasien dan keluarga. Materi penyuluhan termasuk upaya

rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk mencapai kualitas hidup yang optimal
(Arif M, 2010).
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG DARI DIABETES MELLITUS
Untuk penegakan diagnosis DM tipe II yaitu dengan pemeriksaan glukosa
darah dan pemeriksaan glukosa peroral (TTGO). Sedangkan untuk membedakan
DM tipe II dan DM tipe I dengan pemeriksaan C-peptide.
1. Pemeriksaan glukosa darah
a. Glukosa Plasma Vena Sewaktu
Pemeriksaan gula darah vena sewaktu pada pasien DM tipe II
dilakukan pada pasien DM tipe II dengan gejala klasik seprti poliuria,
polidipsia dan polifagia. Gula darah sewaktu diartikan kapanpun tanpa
memandang terakhir kali makan. Dengan pemeriksaan gula darah sewaktu
sudah dapat menegakan diagnosis DM tipe II. Apabila kadar glukosa darah
sewaktu 200 mg/dl (plasma vena) maka penderita tersebut sudah dapat
disebut DM. Pada penderita ini tidak perlu dilakukan pemeriksaan tes
toleransi glukosa.
b. Glukosa Plasma Vena Puasa
Pada pemeriksaan glukosa plasma vena puasa, penderita dipuasakan
8-12 jam sebelum tes dengan menghentikan semua obat yang digunakan,
bila ada obat yang harus diberikan perlu ditulis dalam formulir. Intepretasi
pemeriksan gula darah puasa sebagai berikut : kadar glukosa plasma
puasa < 110 mg/dl dinyatakan normal, 126 mg/dl adalah diabetes melitus,
sedangkan antara 110 - 126 mg/dl disebut glukosa darah puasa terganggu
(GDPT). Pemeriksaan gula darah puasa lebih efektif dibandingkan dengan
pemeriksaan tes toleransi glukosa oral.
c. Glukosa 2 jam Post Prandial (GD2PP)
Tes dilakukan bila ada kecurigaan DM. Pasien makan makanan yang
mengandung 100gr karbohidrat sebelum puasa dan menghentikan
merokok serta berolahraga. Glukosa 2 jam Post Prandial menunjukkan DM
bila kadar glukosa darah 200 mg/dl, sedangkan nilai normalnya 140.
Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) apabila kadar glukosa > 140 mg/dl
tetapi < 200 mg/dl.28
d. Glukosa jam ke-2 pada Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO)
Pemeriksan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) dilakukan apabila
pada pemeriksaan glukosa sewaktu kadar gula darah berkisar 140-200

mg/dl untuk memastikan diabetes atau tidak. Sesuai kesepakatan WHO


tahun 2006, tatacara tes TTGO dengan cara melarutkan 75gram glukosa
pada dewasa, dan 1,25 mg pada anak-anak kemudian dilarutkan dalam air
250-300 ml dan dihabiskan dalam waktu 5 menit.TTGO dilakukan
minimal pasien telah berpuasa selama minimal 8 jam. Penilaian adalah
sebagai berikut; 1) Toleransi glukosa normal apabila 140 mg/dl; 2)
Toleransi glukosa terganggu (TGT) apabila kadar glukosa > 140 mg/dl
tetapi < 200 mg/dl; dan 3) Toleransi glukosa 200 mg/dl disebut diabetes
melitus (Arif M, 2010).
2. Pemeriksaan HbA1c
HbA1c merupakan reaksi antara glukosa dengan hemoglobin, yang
tersimpan dan bertahan dalam sel darah merah selama 120 hari sesuai dengan
umur eritrosit.
Kadar HbA1c bergantung dengan kadar glukosa dalam darah, sehingga
HbA1c menggambarkan rata-rata kadar gula darah selama 3 bulan. Sedangkan
pemeriksaan gula darah hanya mencerminkan saat diperiksa, dan tidak
menggambarkan pengendalian jangka panjang. Pemeriksaan gula darah
diperlukan untuk pengelolaaan diabetes terutama untuk mengatasi komplikasi
akibat perubahan kadar glukosa yang berubah mendadak. 29 Tabel 2.1
Kategori HbA1c 30
a. HbA1c < 6.5 % Kontrol glikemik baik
b. HbA1c 6.5 -8 % Kontrol glikemik sedang
c. HbA1c > 8 % Kontrol glikemik buruk (Arif M, 2010)

I. PENEGAKAN DIAGNOSIS DIABETES MELLITUS


Diagnosis DM Tipe II berdasarkan American Diabetes Assosiasion yaitu
1. Gula darah puasa 126mg/dL (7.0mmol/L) atau lebih tinggi atau
2. Gula darah 2 jam setelah makan 200 mg/dL (11.1mmol/L) atau lebih tinggi
3. 75 gr pada tes oral glukosa toleransi (TTGO).
4. Gula darah sewaktu 200 mg/dL (11.1 mmol/L) atau lebih tinggi terutama pada
pasien dengan gejala hiperglikemik atau krisis hiperglikemia. d) Pada
pemeriksaan HbA1c 6.5% pada pemeriksaan pertama kali. 25
Kriteria diagnosis DM tipe II menurut PERKENI 2011:
1. Gejala klasik + gula darah sewaktu 200mg/dl (11,1 mmol/L). Gula darah
sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa

memperhatikan waktu makan terakhir.


2. Gejala klasik + gula darah puasa 126 mg/dl (7.0 mmol/L). Gula darah puasa
diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8 jam.
3. Kadar gula darah 2 jam pada TTGO 200 mg/dl (11,1 mmol/L). TTGO
dilakukan dengan standar WHO menggunakan beban glukosa setara 75 gram
anhidrus yang dilarutkan dalam air (Nursalam, 2014)
Diagnostik DM tipe II
KRITERIA

GLUKOSA PLASMA

Normal
Pre diabetes
Diabetes

PUASA
< 100 mg/dl
100- 125 mg/dl
>125 mg/dl

GLUKOSA PLASMA 2 JAM


SETELAH MAKAN
< 140 mg/dl
>200 mg/dl

Kriteria pengendalian DM tipe II dapat dilihat pada tabel berikut :


Glukosa darah

BAIK
80-100

SEDANG
100-125

BURUK
126

puasa (mg/dl)
Glukosa darah 2

80-144

145 -179

180

jam (mg/dL)
A1c
Kolesterol total

< 6.5
< 200

6.5 -8
200 239

>8
240

(mg/dL)
HDL (mg/dL)
LDL (mg/ dl)
Trigliserida
IMT (kg/m2)
Tekanan

<100
>45
<150
18.5-23
<130/80

100 -129

130

150- 199
23- 25
130 140/ 80-90

200
>25
>140/90

darah(mm/hg)
Indikasi Skrining diabetes pada dewasa yang asimtomatik meliputi :
1. Tekanan darah > 135/80mmHg
2. Obesitas dan salah satu dari faktor resiko diabetes ( riwayat keluarga diabetes,
tekanan darah > 140/90 mmHg, LDL < 35mg/dL atau trigliserid > 250 mg/dL.
3. ADA merekomendasikan skrening pada usia > 45 tahun walaupun tidak ada
kriteria diatas.
J. KOMPLIKASI DIABETES MELITUS
1. Komplikasi yang bersifat akut
a. Koma Hiplogikemia
Adalah koma hipoglikemia terjadi karena pemakaian obat-obatan
diabetic yang melebihi dosis yang dianjurkan sehingga terjadi penurunan

glukosa dalam darah. Glukosa yang ada sebagian besar difasilitasi untuk
masuk ke dalam sel.
b. Ketoasidosis
Adalah minimnya glukosa di dalam sel akan mengakibatkan sel
mencari sumber alternatif untuk dapat memperoleh energi sel. Kalau tidak
ada glukosa maka benda-benda keton akan dipakai sel. Kondisi ini akan
mengakibatkan penumpukan residu pembongkaran benda-benda keton
yang berlebihan yang mengakibatkan asidosis
c. Koma hiperosmolar nonketotik
Adalah Koma ini terjadi karena penurunan komposisi cairan intrasel
dan ekstrasel karena banyak diekresi lewat urin (Arif M, 2010).
2. Komplikasi yang bersifat kronik
a. Makroangipati
Komplikasi makroangiopati terdiri dari penyakit jantung koroner,
stroke dan penyakit vaskuler perifer. Komplikasi makroangiopati atau
penyakit vaskuler diabetik merupakan penyebab utama morbilitas dan
mortalitas pada DM Tipe II. Ada dua teori mengenai terjadinya komplikasi
kronik. Teori pertama adalah hipotesis genetik metabolik yang menyatakan
komplikasi kronik merupakan akibat kelainan metabolik pada penderita
diabetes melitus. Makroangiopati diabetikum memliki gambaran serupa
aterosklerosis. Penyakit ini diakibatkan oleh reaksi biokimia yang
disebabkan oleh insufisiensi insulin. Reaksi biokimia ini berupa
penimbunan sorbitol pada tunika intima vaskuler, hiperlipoproteinemia
dan kelainan pembekuan darah. Pada akhirnya kelainan makroangiopati ini
menyebabkan penyumbatan vaskuler. Jika mengenai pada arteri perifer
akan menyebabkan insufisiensi aliran perifer dan gangren pada ekstremitas
serta adanya insufisiensi serebral dan stroke. Jika mengenai arteri
koronaria dan aorta menyebabkan timbulnya infark miokard.
Faktor yang berpengaruh pada makroangiopati adalah hipertensi,
hiperlipidemia, hiperinsulinemia, neuropati, viskositas darah meningkat,
efek metabolik defisiensi insulin.
b. Mikroangiopati
Adalah yang mengenai pembuluh darah kecil, retinopati diabetika,
nefropati diabetic. Perubahan-perubahan mikrovaskuler yang ditandai
dengan penebalan dan kerusakan membran diantara jaringan dan
pembuluh darah sekitar. Terjadi pada penderita DMTI/IDDM yang terjadi

neuropati,nefropati, dan retinopati.


Nefropati terjadi karena perubahan mikrovaskuler pada struktur dan
fingsi ginjal yang menyebabkan komplikasi pada pelvis ginjal. Tubulus
dan glomerulus penyakit ginjal dapat berkembang dari proteinuria ringan
ke ginjal.
Retinopati adalah adanya perubahan dalam retina karena penurunan
protein dalam retina. Perubahan ini dapat berakibat gangguan dalam
penglihatan. Retinopati mempunyai dua tipe yaitu :
1) Retinopati back graund dimulai dari mikroneuronisma di dalam
pembuluh retina menyebabkan pembentukan eksudat keras.
2) Retinopati proliferasi Adalah perkembangan lanjut dari retinopati back
ground, terdapat pembentukan pembuluh darah baru pada retina akan
berakibat pembuluh darah menciut dan menyebabkan tarikan pada
retina dan perdarahan di dalam rongga vitreum. Juga mengalami
pembentukan katarak yang disebabkan oleh hiperglikemi yang
berkepanjangan menyebabkan pembengkakan lensa dan kerusakan
lensa.
3) Neuropati diabetika
Adalah akumulasi orbital didalam jaringan dan perubahan
metabolik mengakibatkan fungsi sensorik dan motorik saraf menurun
kehilangan sensori mengakibatkan penurunan persepsi nyeri.
4) Rentan infeksi seperti tuberculosis paru, gingivitis, dan infeksi saluran
kemih.
5) Kaki diabetik
Perubahan

mikroangiopati,

makroangiopati

dan

neuropati

menyebabkan perubahan pada ekstremitas bawah. Komplikasinya dapat


terjadi gangguan sirkulasi, terjadi infeksi, gangren, penurunan sensasi
dan hilangnya fungsi saraf sensorik dapat menunjang terjadinya trauma
atau tidak terkontrolnya infeksi yang mengakibatkan gangren.
Manifestasi mikroangiopati timbul 15- 20 tahun sesudah awitan DM
tipe II. Faktor yang mempengaruhi tingkat komplikasi mikroangiopati
adalah hipertensi, jenis kelamin, umur, kadar insulin serum, kadar lipid
serum, macam pengobatan, merokok, permeabilitas dan fragilitas kapiler.
(Arif M, 2010)
K. PENATALAKSANAAN DIABETES MELLITUS
1.
Tujuan penatalaksanaan

a. Jangka pendek : menghilangkan keluhan dan tanda diabetes dengan


memberikan rasa nyaman dan mencapai target pengendalian glukosa.
b. Jangka panjang : mencegah dan menghambat progresivitas komplikasi
2.

diabetes melitus.
Pilar penatalaksaan
Pilar penatalaksanaan DM tipe II pada lini pertama dilakukan dengan
pengaturan pola makan, latihan jasmani dalam 2-4 minggu. Pada lini kedua
apabila kadar glukosa belum mencapai target dilakukan terapi farmakologi
dengan obat Hiperglikemik Oral (OHO). Dan lini terakhir dengan pemberian
suntik insulin, namun dalam keadaan dekompensasi metabolik dapat langsung
diberikan terapi insulin.
Pilar penatalaksanaan DM tipe II:
a. Edukasi
Diabetes tipe II umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan
perilaku telah terbentuk dengan kokoh. Keberhasilan pengelolaan diabetes
mandiri membutuhkan partisipasi aktif pasien, keluarga, dan masyarakat.
Tim kesehatan harus mendampingi pasien dalam menuju perubahan
perilaku. Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku, dibutuhkan
edukasi yang komprehensif, pengembangan keterampilan dan motivasi.
Edukasi tersebut meliputi pemahaman tentang:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

Penyakit DM.
Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM.
Penyulit DM.
Intervensi farmakologis dan non farmakologis.
Hipoglikemia.
Masalah khusus yang dihadapi.
Perawatan kaki pada diabetes.
Cara pengembangan sistem pendukung dan pengajaran keterampilan.
Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan.
Edukasi secara individual atau pendekatan berdasarkan penyelesaian

masalah merupakan inti perubahan perilaku yang berhasil. Perubahan


Perilaku hampir sama dengan proses edukasi yang memerlukan penilaian,
perencanaan, implementasi, dokumentasi, dan evaluasi.
b. Terapi Nutrisi Medis
Terapi Nutrisi Medis (TNM) meliputi pengaturan pola makan yaitu
makanan yang seimbang dan sesuai kebutuhan kalori dan zat gizi pada
masing - masing individu, serta pentingnya keteraturan makan dalam hal
jadwal,

jenis dan jumlah makanan terutama pada penggunaan obat

penurun glukosa darah atau insulin.


1) Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes diarahkan untuk
mencapai tujuan berikut ini :
a) Memberikan semua unsur makanan esensial (misalnya vitamin,
mineral)
b) Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai
c) Memenuhi kebutuhan energi
d) Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan
mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui
cara-cara yang aman dan praktis
e) Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat
Biasanya pasien DM yang berusia lanjut terutama yang gemuk
dapat dikendalikan hanya dengan pengaturan diet saja serta gerak
badan ringan dan teratur. Perencanaan makan merupakan salah satu
pilar pengelolan diabetes, meski sampai saat ini tidak ada satu pun
perencanaan makan yang sesuai untuk semua pasien. Perencanaan
makan harus disesuaikan menurut kebiasaan masing-masing individu.
Yang dimaksud dengan karbohidrat adalah gula, tepung, serat.
Faktor yang berpengaruh pada respon glikemik makanan adalah
cara memasak, proses penyiapan makanan, dan bentuk makan serta
komposisi makanan (karbohidrat, lemak, dan protein). Jumlah
masukan kalori makanan yang berasal dari karbohidrat lebih penting
daripada sumber atau macam karbohidratnya. Gula pasir sebagai
bumbu masakan tetap diijinkan. Pada keadaan glukosa darah
terkendali, masih diperbolehkan untuk mengkonsumsi sukrosa (gula
pasir) sampai 5 % kebutuhan kalori.
2) Jumlah kalori disesuaikan dengan status gizi,umur , ada tidaknya
stress akut, kegiatan jasmani. Untuk penentuan status gizi, dapat
dipakai Indeks Massa tubuh (IMT) dan rumus Broca.
Petunjuk Umum untuk Asupan Diet bagi Diabetes:
a) Hindari biskuit, cake, produk lain sebagai cemilan pada waktu
makan.
b) Minum air dalam jumlah banyak, susu skim dan minuman
berkalori rendah lainnya pada waktu makan.
c) Makanlah dengan waktu yang teratur.

d) Hindari makan makanan manis dan gorengan.


e) Tingkatkan asupan sayuran dua kali tiap makan.
f) Jadikan nasi, roti, kentang, atau sereal sebagai menu utama setiap
makan.
g) Minum air atau minuman bebas gula setiap anda haus.
h) Makanlah daging atau telor dengan porsi lebih kecil.
i) Makan kacang-kacangan dengan porsi lebih kecil
Penentuan

jumlah

kalori

Diit

Diabetes

Mellitus

harus

disesuaikan oleh status gizi penderita, penentuan gizi dilaksanakan


dengan menghitung Percentage of relative body weight (BBR=berat
badan normal) dengan rumus :
BBR
= BB (Kg) X 100%
TB (cm) 100
Lingkar Perut
Klasifikasi IMT (Asia Pasific)

<90cm (Pria)
<80cm (Wanita)

>90cm (Pria)
>80cm (Wanita)

Risk of co-morbidities
BB Kurang
BB Normal
BB Lebih

<18,5
18,5-22,9
>23,0 :

a. Dengan risiko : 23,0-24,9


b. Obes I
: 25,0-29,9
c. Obes II
: 30

Rendah
Rata-rata

Rata-rata
Meningkat

Meningkat
Sedang
Berat

Sedang
Berat
Sangat berat

c. Latihan jasmani
Kegiatan jasmani dilakukan secara teratur 3-4 kali seminggu dengan
durasi 30 menit. Latihan jasmani yang dianjurkan adalah bersifat aerobik
(jalan kaki, sepeda santai, jogging dan berenang) latian jasmani
disesuaikan dengan usia serta memperbanyak aktifitas aktif. Latian
jasmani berguna untuk menurunkan berat badan dan memperbaiki
sensitivitas insulin sehingga memperbaiki kendali glukosa darah.
Kegiatan jasmani sehari hari dan latihan jasmani teratur (3 4 kali
seminggu selama kurang lebih 30 menit), merupakan salah satu pilar
dalam pengelolaan diabetes tipe II. Latihan jasmani dapat menurunkan
berat badan dan memperbaiki sensitifitas terhadap insulin, sehingga akan
memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang dimaksud

ialahjalan, bersepeda santai, jogging, berenang.


1) Beberapa kegunaan latihan teratur setiap hari bagi penderita DM,
adalah :
a) Meningkatkan kepekaan insulin (glukosa uptake), apabila
dikerjakan setiap 1 jam sesudah makan, berarti pula
mengurangi insulin resisten pada penderita dengan kegemukan
atau menambah jumlah reseptor insulin dan meningkatkan
b)
c)
d)
e)

sensitivitas insulin dengan reseptornya.


Mencegah kegemukan apabila ditambah latihan pagi dan sore
Memperbaiki aliran perifer dan menambah supply oksigen
Meningkatkan kadar kolesterol-high density lipoprotein
Kadar glukosa otot dan hati menjadi berkurang, maka latihan

akan dirangsang pembentukan glikogen baru


f) Menurunkan kolesterol (total) dan trigliserida dalam darah karena
pembakaran asam lemak menjadi lebih baik.
g) Latihan jasmani
2) Prinsip latihan jasmani yang dilakukan:
a) Continous
Latihan jasmani harus berkesinambungan dan dilakukan
terus menerus tanpa berhenti. Contoh: Jogging 30 menit , maka
pasien harus melakukannya selama 30 menit tanpa henti.
b) Rhytmical
Latihan olah raga dipilih yang berirama yaitu otot-otot
berkontraksi dan relaksasi secara teratur, contoh berlari, berenang,
jalan kaki.
c) Interval
Latihan dilakukan selang-seling antar gerak cepat dan
lambat. Contoh: jalan cepat diselingi jalan lambat, jogging
diselangi jalan.
d) Progresive:
Latihan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan, dari
intensitas ringan sampi sedang selama mencapai 30 60
menit.
Sasaran HR = 75 85 % dari maksimal HR.
Maksimal HR = 220 (umur).
e) Endurance
Latihan daya tahan untuk meningkatkan kemampuan
kardiorespirasi, seperti jalan jogging dan sebagainya. Latihan

dengan prinsip seperti di atas minimal dilakukan 3 hari dalam


seminggu, sedang 2 hari yang lain dapat digunakan untuk
melakukan olah raga kesenangannya. Olah raga yang teratur
memainkan peran yang sangat penting dalam menangani diabetes,
manfaat manfaat utamanya sebagai berikut:
Olah raga membantu membakar kalori karena dapat
mengurangi berat badan.
Olah raga teratur dapat meningkatkan jumlah reseptor pada
dinding sel tempat insulin bisa melekatkan diri.
Olah raga memperbaiki sirkulasi darah dan menguatkan otot
jantung.
Olah raga meningkatkan kadar kolesterol baik dan
mengurangi kadar kolesterol jahat.
Olah raga teratur bisa membantu melepaskan kecemasan
stress, dan ketegangan, sehingga memberikan rasa sehat dan
bugar.
3) Petunjuk Berolah Raga Untuk Diabetes Tidak Bergantung Insulin
a) Gula darah rendah jarang terjadi selama berola raga dan arena itu
tidak perlu untuk memakan karbohidrat ekstra
b) Olah raga untuk menurunkan berat badan perlu didukung dengan
pengurangan asupan kalori
c) Olah raga sedang perlu dilakukan setiap hari. Olah raga berat
mungkin bisa dilakukan tiga kali seminggu
d) Sangat penting untuk melakukan latihan ringan guna pemanasan
dan pendinginan sebelum dan sesudah berolah raga
e) Pilihlah olah raga yang paling sesuai dengan kesehatan dan gaya
hidup anda secara umum
f) Manfaat olah raga akan hilang jika tidak berolah raga selama tiga
hari berturut-turut
g) Olah raga bisa meningkatkan nafsu makan dan berarti juga
asupan kalori bertambah. Karena itu sangat penting bagi anda
untuk menghindari makan makanan ekstra setelah berolah raga.
h) Dosis obat telan untuk diabetes mungkin perlu dikurangi selama
olah raga teratur.
d. Farmakologi
1)...................................................................................................................

Obat Hiperglikemi Oral


a) Memicu sekresi insulin
Sulfonilurea ini bekerja untuk merangsang sel pankreas
untuk melepaskan insulin yang tersimpan, dengan menurunkan
ambang sekresi insulin dan meningkatkan sekresi insulin melalui
rangsangan glukosa.Golongan sulfonylurea generasi pertama
adalah klorpropamid, generasi kedua adalah glibenklamid, glipizid
glikuidon. Generasi ketiga adalah glimepirid. Glinid bekerja
dengan meningkatkan sekresi insulin fase awal. Terdiri atas 2
golongan yaitu repaglinid dan nateglinid. Obat ini secara cepat
diabsorbsi dan ekskresi cepat melalui hati.
b) Penambah sensitivitas Insulin
Biguanid bekerja dengan menurunkan glukosa darah
melalui kerja insulin pada tingkat seluler, distal dari reseptor
insulin

serta

menurunkan

produksi

gula

hati.

Metformin

meningkatkan pemakaian glukosa oleh sel usus sehingga dapat


menurunkan glukosa darah dan menghambat absorbsi glukosa dari
usus pada setelah makan. Tiazolidindion meningkatkan sensitivitas
insulin. Golongan obat ini meningkatkan glukosa adisposa pada sel
dan mengurangi produksi glukosa di hati.
c) Menghambat alfa glukosidase
Acarbose merupakan obat yang bekerja menghambat kerja
enzim alfa glukosidase dalam saluran cerna sehingga

dapat

menurunkan hiperglikemia post prandial.

2)...................................................................................................................
Insulin
Insulin digunakan pada pasien yang tidak dapat dikendalikan
dengan kombinasi sulfonylurea dan metformin.10 Untuk memenuhi

kebutuhan

insulin

basal

digunakan

insulin

kerja

menengah

(Intermediete Acting Insulin) atau Long Acting Insulin. Sedangkan


untuk memenuhi kebutuhan insulin prandial digunakan insulin kerja
cepat (Short Acting Insulin) atau Rapid Acting Insulin.
a) Penyuntikan Insulin
Kenali jenis insulin yang ada, kandungan/ml (unit/ml).
Kenali jenis spuit insulin yang tersedia : 40 u/ml, 100 u/ml,
50u/0,5 ml.
Suntikan diberikan subkutan di deltoid, paha bagian luar, perut,
sekitar pusat.
Tempat suntikan sebaiknya diganti-ganti.
Suntikan diberikan secara tegak lurus.
Pasien segera diberi makan setelah suntikan diberikan. Paling
lama setengah jam setelah suntikan diberikan.
Kalau pasien suntik sendiri, harus dapat melihat dengan jelas
angka pada alat suntik.
Saat ini ada alat suntik bentuk pena dengan kontrol dosis yang
lebih mudah dan lebih tepat, dan mudah dibawa-bawa. (Arif
M, 2010)
L. ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELLITUS SECARA TEORI
Pengkajian Menurut NANDA (2013), fase pengkajian merupakan sebuah
komponen utama untuk mengumpulkan informasi, data, menvalidasi data,
mengorganisasikan data, dan mendokumentasikan data.
Pengumpulan data antara lain meliputi :
1. Pengkajian
a. Biodata
1).................................................................................................................
Identitas Pasien
(nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, agama,
suku, alamat,status, tanggal masuk, tanggal pengkajian, diagnose
medis)
2).................................................................................................................
Identitas penanggung jawab
(nama,umur,pekerjaan, alamat, hubungan dengan pasien)
b. Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama
Biasanya keluhan utama yang dirasakan pasien saat dilakukan
pengkajian. Pada pasien post debridement ulkus kaki diabetik yaitu

nyeri 5 6 (skala 0 - 10) 2)


2) Riwayat kesehatan sekarang
Data diambil saat pengkajian berisi tentang perjalanan penyakit
pasien dari sebelum dibawa ke IGD sampai dengan mendapatkan
perawatan di bangsal.
3) Riwayat kesehatan dahulu
Adakah riwayat penyakit terdahulu yang pernah diderita oleh
pasien tersebut, seperti pernah menjalani operasi berapa kali, dan
dirawat di RS berapa kali.
4) Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga dari pasien yang menderita penyakit
Diabetes Mellitus karena DM ini termasuk penyakit yang menurun.
c. Pola Fungsional Gordon
1) Pola persepsi kesehatan
Adakah riwayat infeksi sebelumnya,persepsi pasien dan
keluarga mengenai pentingnya kesehatan bagi anggota keluarganya.
2) Pola nutrisi dan cairan
Pola makan dan minum sehari hari, jumlah makanan dan
minuman yang dikonsumsi, jeni makanan dan minuman, waktu berapa
kali sehari, nafsu makan menurun / tidak, jenis makanan yang disukai,
penurunan berat badan.
3) Pola eliminasi
Mengkaji pola BAB dan BAK sebelum dan selama sakit ,
mencatat konsistensi,warna, bau, dan berapa kali sehari, konstipasi,
beser.
4) Pola aktivitas dan latihan
Reaksi setelah beraktivitas (muncul keringat dingin, kelelahat/
keletihan), perubahan pola nafas setelah aktifitas, kemampuan pasien
dalam aktivitas secara mandiri.
5) Pola tidur dan istirahat
Berapa jam sehari, terbiasa tidur siang, gangguan selama tidur
(sering terbangun), nyenyak, nyaman.
6) Pola persepsi kognitif
Konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan mengetahui tentang
penyakitnya
7) Pola persepsi dan konsep diri
Adakah perasaan terisolasi diri atau perasaan tidak percaya diri
karena sakitnya.
8) Pola reproduksi dan seksual
9) Pola mekanisme dan koping

Emosi, ketakutan terhadap penyakitnya, kecemasan yang


muncul tanpa alasan yang jelas.
10) Pola hubungan
Hubungan antar keluarga harmonis, interaksi , komunikasi, car
berkomunikasi
11) Pola keyakinan dan spiritual
Agama pasien, gangguan beribadah selama sakit, ketaatan dalam
berdoa dan beribadah.
d. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum
Penderita post debridement ulkus dm biasanya timbul nyeri
akibat pembedahanskala nyeri (0 - 10), luka kemungkinan rembes
pada balutan. Tanda-tanda vital pasien (peningkatan suhu, takikardi),
kelemahan akibat sisa reaksi obat anestesi.
2) Sistem pernapasan
Ada gangguan dalam pola napas pasien, biasanya pada pasien
post pembedahan pola pernafasannya sedikit terganggu akibat
pengaruh obat anesthesia yang diberikan di ruang bedah dan pasien
diposisikan semi fowler untuk mengurangi atau menghilangkan sesak
napas.
3) Sistem kardiovaskuler
Denyut jantung, pemeriksaan meliputi inspeksi, palpasi, perkusi
dan auskultasi pada permukaan jantung, tekanan darah dan nadi
meningkat.
4) Sistem pencernaan
Pada penderita post pembedahan biasanya ada rasa mual akibat
sisa bius, setelahnya normal dan dilakukan pengkajian tentang nafsu
makan, bising usus, berat badan.
5) Sistem musculoskeletal
Pada penderita ulkus diabetic biasanya ada masalah pada sistem
ini karena pada bagian kaki biasannya jika sudah mencapai stadium 3
4 dapat menyerang sampai otot. Dan adanya penurunan aktivitas
pada bagian kaki yang terkena ulkus karena nyeri post pembedahan.
6) Sistem intregumen
Turgor kulit biasanya normal atau menurun akibat input dan
output yang tidak seimbang. Pada luka post debridement kulit

dikelupas untuk membuka jaringan mati yang tersembunyi di bawah


kulit tersebut.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (penurunan perfusi jaringan
perifer)
b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan asidosis metabolic
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan

ketidakcukupan

insulin,

penurunan

masukan

oral,

status

hipermetabolisme
d. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan
secara aktif, kegagalan mekanisme pengaturan.
e. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan tidak nyaman nyeri,
intoleransi aktifitas, penurunan kekuatan otot
f. Risiko infeksi berhubungan dengan kadar glukosa tinggi, penurunan fungsi
leukosit, perubahan sirkulasi

3. Rencana Keperawatan
NO
1.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

NOC

NIC

NYERI AKUT

NOC :

KONTROL NYERI

Definisi: pengalaman sensori dan

1. Kontrol Nyeri
2. Tingkat Nyeri

1. Lakukan pengkajian nyeri secara

emosional tidak menyenangkan yang


muncul akibat kerusakan jaringan

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas

aktual atau potensial atau yang

Setelah dilakukan tindakan keperawatan

digambarkan sebagai kerusakan;

selama .....x24 jam nyeri klien berkurang

awitan yang tiba-tiba atau lambat dari

dengan indikator:

intensitas ringan hingga berat dengan

1. Nyeri dengan skala 1 (berat) menjadi

akhir yang dapat di antisipasi atau

skala 3 (sedang)
2. Meringis dengan skala 1 (berat) menjadi

diprediksi.

skala 3 (sedang)
Batasan karakteristik:
1. Laporan secara verbal atau non
verbal
2. Diaforesis

komprehensif termasuk lokasi,


dan faktor presipitasi
2. Observasi reaksi non verbal dari
ketidaknyamanan
3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik
untuk mengetahui pengalaman nyeri
klien
4. Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
5. Bantu klien dan keluarga untuk mencari
dan menemukan dukungan
6. Kurangi faktor presipitasi
7. Pilih dan lakukan penanganan nyeri

3. Dilatasi Pupil

(farmakologi, non farmakologi dan inter

4. Ekspresi wajah nyeri

personal)

5. Fokus menyempit

6. Fokus pada diri sendiri


7. Karakteristik nyeri
8. Laporan tentang perilaku nyeri
9. Mengekspresikan gelisah,
menangis dan waspada

8. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk


menentukan intervensi
9. Berikan analgetik untuk mengurangi
nyeri
10. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri

10. Perilaku distraksi

11. Tingkatkan istirahat

11. Perubahan TTV

12. Kolaborasikan dengan dokter jika

12. Perubahan posisi untuk


menghindari nyeri
13. Perubahan selera makan
14. Putus asa
15. Sikap melindungi area nyeri
16. Sikap tubuh melindungi
Faktor yang berhubungan:
1. Agen cedera biologis (mis:
infeksi, iskemia, neoplasma)
2. Agen cedera fisik (mis: abses,
amputasi, luka bakar, terpotong,
mengangkat berat, prosedur

keluhan dan tindakan nyeri tidak


berhasil

bedah, trauma, olahraga


berlebihan
3. Agen cedera kimiawi (mis: luka
bakar, kapsaisin, metilen klorida,
agens mustar)

NO
2.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
POLA NAFAS TIDAK EFEKTIF

NOC

NIC

NOC :

NIC :

Respiratory status : Ventilation


Respiratory status : Airway patency

AIRWAY MANAGEMENT

Setelah dilakukan tindakan keperawatan


selama 5 jam pola nafas tidak efektif tidak
terjadi dengan indikator:
1. Frekuensi pernafasan dengan skala 2
(cukup berat) menjadi skala 3 (sedang)
2. Irama pernafasan dengan skala 2 (cukup
berat) menjadi skala 3 (sedang)

1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan


ventilasi dengan posisi semi fowler
2. Auskultasi suara nafas, catat adanya
suara tambahan
3. Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan.
4. Monitor respirasi dan status O2
5. Kolaborasi dalam pemberian inhalasi
6. Monitor tanda tanda vital

3. Penggunaan otot bantu nafas dengan


skala 2 (cukup berat) menjadi skala 3
(sedang)

NO
3.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

NOC

NIC

KETIDAKSEIMBANGAN

NOC :

MANAJEMEN NUTRISI

NUTRISI: KURANG DARI

Status Nutrisi: Asupan Nutrisi

1.
2.
3.
4.

KEBUTUHAN TUBUH
Definisi: asupan nutrisi tidak cukup
untuk memenuhi kebutuhan metabolik

Setelah dilakukan tindakan keperawatan


selama x24 jam diharapkan nutrisi dapat
seimbang dengan indikator:

Batasan Karakteristik:
1. Berat badan 20% atau lebih di
bawah rentang berat badan ideal
2. Bising usus hiperaktif
3. Cepat kenyang setelah makan
4. Diare
5. Gangguan sensasi rasa

Asupan makanan dalam 3 x 24 jam dengan


skala 2 (banyak menyimpang) menjadi
skala 3 (cukup menyimpang)
Asupan gizi dalam 3 x 24 jam dengan skala
2 (banyak menyimpang) menjadi skala 3
(cukup menyimpang)

Kaji pola makanan klien


Kaji adanya alergi makanan
Kaji makanan yang disukai klien
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
penyediaan nutrisi terpilih sesuai dengan

kebutuhan klien
5. Anjurkan klien untuk meningkatkan
asupan nutrisinya
6. Yakinkan diet yang dikonsumsi
mengandung cukup serat untuk
mencegah konstipasi
7. Berikan informasi tentang kebutuhan
nutrisi dan pentingnya bagi tubuh klien
8. Monitor berat badan

6. Kehilangan rambut berlebihan


7. Kelemahan otot pengunyah
8. Kelemahan otot untuk menelan
9. Kerapuhan kapiler
10. Kesalahan informasi
11. Kesalahan persepsi
12. Ketidakmampuan memakan
makanan
13. Kram abdomen
14. Kurang informasi
15. Kurang minat pada makanan
16. Membrane mukosa pucat
17. Nyeri abdomen
18. Penurunan berat badan dengan
asupan makan adekuat
19. Sariawan rongga mulut
20. Tonus otot menurun
Faktor yang berhubungan:
1. Ketidakmampuan makan

2. Ketidakmampuan mencerna
makanan
3. Ketidakmampuan mengabsorpsi
nutrient
4. Kurang asupan makanan
NO
4

DIAGNOSA KEPERAWATAN

NOC

NIC

KEKURANGAN VOLUME

NOC :

MONITOR CAIRAN

CAIRAN

1. Keseimbangan Cairan

1. Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake


cairan dan eliminasi

Definisi:

2. Monitor berat badan

penurunan cairan intravaskuler,

Setelah dilakukan tindakan keperawatan

3. Monitor tanda-tanda vital

interstisiil, dan atau mengarah

selama ....x24 jam volume cairan dapat

4. Catat secara akurat intake dan output

intravaskuler. Ini mengarah ke

teratasi dengan indikator:

5. Monitor membran mukosa dan turgor

dehidrasi, kehilangan cairan dengan

1. Keseimbangan intake dan output dalam

pengeluaran sodium.
Batasan karakteristik:
1. Kelemahan,
2. Kehausan,

kulit, serta rasa haus

24 jam dengan skala 2 (banyak

6. Pantau pengeluaran urine

terganggu) menjadi skala 3 (cukup

7. Monitor warna dan jumlah urine

terganggu)

8. Awasi tetesan infus

3. Penurunan turgor kulit/lidah,


4. Membran mukosa /kulit kering,
5. Peningkatan denyut nadi,
6. Penurunan tekanan darah
7. Penurunan tekanan nadi,
8. Pengisian vena menurun,
9. Perubahan status mental,
10. Konsentrasi uriine meningkat,
11. Temperatur tubuh meningkat,
12. Hematokrit meninggi,
13. Kehilangan berat badan seketika.
Faktor yang berhubungan:
1. Kehilangan volume cairan secara
aktif
2. Kegagaalan mekanisme
pengaturan
NO
5

DIAGNOSA KEPERAWATAN
HAMBATAN MOBILITAS FISIK

NOC
NOC:

NIC
EXERCISE THERAPY : AMBULATION

Definisi: Keterbatasan dalam gerakan

1. Ambulasi
2. Pergerakan

fisik atau satu atau lebih ekstremitas


secara mandi dan terarah

Setelah dilakukan tindakan keperawatan


selama .....x24 jam hambatan mobilitas fisik

Batasan karakteristik :
1. Postur tubuh yang tidak stabil
2. Keterbatasan kemampuan untuk
melakukan ketrampilan motorik
kasar
3. Keterbatasan kemampuan untuk
melakukan ketrampilan motorik
4.
5.
6.
7.

halus
Tidak ada koordinasi gerakan
Keterbatasan ROM
Kesulitan berbalik
Perubahn gaya berjalan
(penurunan kecepatan berjalan,
kesulitan memulai berjalan,
langkah sempit,kaki diseret,
goyangan yang berlebihan pada

posisi lateral)
8. Penurunan waktu reaksi

dapat teratasi sebagian dengan indikator:


1. Berjalan dengan langkah yang efektif
dengan skala 2 (banyak terganggu)
menjadi skala 3 (cukup terganggu)
2. Gerakan sendi dengan skala 2 (banyak
terganggu) menjadi skala 3 (cukup
terganggu)

1. Monitoring vital sign sebelum/sesudah


latihan dan lihat respon pasien saat
latihan
2. Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan
lain tentang teknik ambulasi
3. Kaji kemampuan pasien dalam
mobilisasi
4. Latih pasien dalam pemenuhan
kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai
kemampuan
5. Dampingi dan Bantu pasien saat
mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan
ADLs ps.
6. Ajarkan pasien bagaimana merubah
posisi dan berikan bantuan jika
diperlukan

9. Bergerak menyebabkan nafas


menjadi pendek
10. Usaha yang kuat untuk perubahan
gerak (peningkatan perhatian
untuk aktivitas lain, mengontrol
perilaku, fokus dalam anggapan
ketidakmampuan aktivitas)
11. Pergerakan yang lambat
12. Bergerak menyebabkan tremor
Faktor yang berhubungan
1. Pengobatan
2. Pembatasan gerak
3. Kurang pengetahuan tentang
kegunaan pergerakan fisik
4. Indeks masa tubuh diatas 75 tahun
persentil sesuai dengan usia
5. Kerusakan persepsi sensori
6. Tidak nyaman, nyeri
7. Kerusakan muskuloskeletal dan
neuromuskular
8. Intoleransi aktivitas
9. Depresi mood/cemas
10. Kerusakan kognitif
11. Penurunan kekuatan otot

12. Keengganan untuk memulai gerak


13. Gaya hidup yang menetap, tidak
digunakan
14. Malnutrisi umum atau selektif
15. Kehilangan integritas struktur
NO
6

tulang
DIAGNOSA KEPERAWATAN

NOC

NIC

RISIKO INFEKSI

NOC:

KONTROL INFEKSI
1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai

Definisi:

Penyembuhan Luka Sekunder


Keparahan Infeksi

Rentan mengalami invasi dan


multiplikasi organisme patogenik yang Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama .....x24 jam penyembuhan luka
dapat mengganggu kesehatan.
membaik dengan indikator:
Faktor Risiko:
1. Kurang pengetahuan untuk
menghindari pemajanan pathogen
2. Malnutrisis
3. Obesitas
4. Penyakit kronis
5. Prosedur invasif

1.

Ukuran luka berkurang dengan skala 1

2.

(tidak ada) menjadi skala 3 (sedang)


Pembentukan bekas luka dengan skala 1
(berat) menjadi skala 3 (sedang)

klien lain
2. Instruksikan pengunjung untuk mencuci
tangan saat berkunjung dan setelah
berkunjung
3. Cuci tangan sebelum dan sesudah
tindakan keperawatan
4. Gunakan universal precaution dan
gunakan sarung tangan selma kontak
dengan kulit yang tidak utuh
5. Observasi dan laporkan tanda dan gejala
infeksi seperti kemerahan, panas, nyeri,

Setelah dilakukan tindakan keperawatan


selama 3x24 jam berkurang keparahan
infeksi dengan indikator:

tumor
6. Kaji temperatur tiap 4 jam
7. Pastikan teknik perawatan luka yang

Kemerahan pada luka dengan skala 1


Batasan Karakteristik:
1. Dyspnea setelah beraktivitas
2. Keletihan
3. Ketidaknyamana setelah
beraktivitas
4. Perubahan elektrokardiogram
(EKG)
5. Respons frekuensi jantung
abnormal terhadap aktivitas
6. Respons tekanan darah abnormal
terhadap aktivitas
Faktor yang berhubungan:
1. Gaya hidup kurang gerak
2. Imobilitas
3. Ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen
4. Tirah baring

(berat) menjadi skala 3 (sedang)


Peningkatan jumlah sel darah putih dengan
skala 1 (berat) menjadi skala 3 (sedang)

tepat
8. Berikan antibiotik sesuai autran
9. Ajarkan klien dan anggota keluarga
bagaimana mencegah infeksi

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA
TN. D DENGAN MASALAH DIABETES MELLITUS
DI RUANG CEMPAKA BAWAH RSUP PERSAHABATAN
3.1 Pengkajian
3.1.1 Identitas Diri Klien dan penanggung jawab
Identitas diri klien
a. Nama Klien
: Tn. D
b. Tempat / Tgl Lahir : Jakarta, 15 November 1950
c. Umur
: 66 Tahun
d. Jenis kelamin
: Laki-laki
e. Alamat
: Jl. Pisangan Lama III RT.008/008, Jakarta Timur
f. Status Perkawinan : Menikah
g. Agama
: Islam
h. Suku Bangsa
: Betawi
i. Pendidikan
: SD
j. Pekerjaan
: Wiraswasta
k. Tanggal masuk RS : 12 Januari 2017
l. Diagnosa Medis
: Diabetes Melitus Tipe 2
m. Sumber Informasi :
Klien
Keluarga (Suami dan Anak Klien)
Buku status
n. Tanggal pengkajian : 17 Januari 2017
o. Ruang
: Cempaka Bawah
Identitas Penanggung Jawab
a. Keluarga dekat yang
dapat segera dihubungi
b. Nama
c. Pekerjaan
d. Alamat
e. Telp
3.1.2

: Istri
: Ny. L
: Ibu Rumah Tangga
: Jl. Pisangan Lama III RT.008/008,
Jakarta Timur
: 083892066007

Riwayat Kesehatan Sekarang


a. Alasan masuk RS
:
Tn. D mengatakan mengeluh muntah dan buang air besar sejak 2
hari SMRS. Klien mengatakan muntah dan buang air besarnya lebih
dari 7 kali sehari. Klien merasa terus mual dan tidak bisa menahan bab
sejak 2 hari. Klien mengatakan mutahnya 150 cc setiap muntah dan
konsistensi buang air besarnya cair. Klien mengatakan tidak bisa
berkurang keluhannya walaupun sudah mengkonsumsi obat dari klinik

terdekat rumahnya. Klien datang ke IGD dalam keadaan lemas. Klien


memiliki riwayat diabetes mellitus tidak terkontrol. Saat di IGD dokter
dan perawat melakukan penatalaksanaan dengan mengkaji keadaan
pasien. Saat di IGD dokter mengatakan klien harus dirawat dan
kemudian ditempatkan di cempaka bawah untuk dilakukan penanganan
selanjutnya.
b. Keluhan utama saat dikaji
:
Tn. D mengatakan terasa sesak nafas sejak tadi pagi.
c. Riwayat keluhan utama
:
Sesak dirasakan klien sejak tadi pagi. Klien merasa sesaknya
hilang timbul. Klien merasakan sesaknya semakin parah. Klien dengan
posisi semi fowler dan terpasang O2 dengan nasal kanul sebanyak 5
L/menit. Frekuensi nafas klien terhitung 30 x/menit dan tampak terlihat
adanya pernafasan cuping hidung.

d. Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasinya, baik sendiri


maupun bantuan orang lain
:
Upaya yang dilakukan oleh keluarga adalah dengan menemani
klien serta menyuruh klien untuk banyak istirahat.
3.1.3

Riwayat Kesehatan Yang Lalu


a. Riwayat imunisasi
b. Riwayat alergi
c. Kebiasaan
d. Penyakit yang pernah diderita

e. Pernah masuk di RS
f. Obat-obatan yang pernah
digunakan

: Klien mengatakan lupa


: Klien mengatakan tidak
ada alergi
: Klien mengatakan sering
mengkonsumsi rokok serta kopi
dalam jumlah banyak per hari
:Klien mengatakan mempunyai
penyakit diabetes semenjak 1
tahun yang lalu serta penyakit
hipertensi sejak 2 tahun yang lalu
: Klien mengatakan sudah pernah
masuk RS sebanyak 4 kali
: Klien mengatakan mengkonsumsi
obat hipertensi semenjak 2 tahun
yang lalu.

g. Riwayat kecelakaan
h. Tindakan (operasi)
3.1.4

a.
b.
c.
d.

: Klien mengatakan tidak ada


: Klien mengatakan belum pernah
dioperasi.

Riwayat Kesehatan Keluarga


Penyakit yang pernah diderita
a. Orang tua
b. Saudara kandung
c. Anggota keluarga lain

: Klien mengatakan tidak ada


: Klien mengatakan tidak ada
: Klien mengatakan tidak ada

Penyakit yang sedang di derita


Orang tua
Saudara kandung
Anggota keluarga lain
Riwayat penyakit genetik

: Klien mengatakan tidak ada


: Klien mengatakan tidak ada
: Klien mengatakan tidak ada
: Klien mengatakan tidak ada

Genogram
Terlampir

Keluarga Tn.D

Keluarga Ny. L

Ny. L

Tn. D

Ny.S s

Keterangan :
: Laki - Laki

: Bercerai

: Perempuan

: Serumah

: Meninggal
: Entry

3.1.5

Kebutuhan Dasar /ADL

NO.
1

KEGIATAN

DIRUMAH

DI RS

NUTRISI
BB
TB
Frekuensi makan
Jenis makanan
Makanan yang disukai
Makanan yang tidak di sukai
Makanan pantangan
Nafsu makan
Alat makan yang dipakai
Rasa mual/muntah
Kebutuhan kalori
Jenis diet
Intake cairan / minuman

63 kg
165 cm
Klien makan 3x sehari
Nasi, lauk pauk, sayuran
Ayam Goreng
Pepaya
Tidak ada
Baik
Sendok dan Piring
Mual (-) , muntah (-)
1500 kkal
Tidak melakukan diet
2000 cc / 24 jam

ELIMINASI
BAB
Frekuensi

3 hari sekali

Selama di RS baru 1x

Waktu
Penggunaan pencahar

Pagi hari
Tidak menggunakan

BAB
Siang Hari
Tidak menggunakan

Warna
Konsistensi/diare
Kolostomi/ilieostomi
Darah/lendir

pencahar
Kuning
Konsistensi padat
Tidak ada kolostomi
Tidak ada lendir / darah

BAK
Frekuensi
Warna
Bau
Inkontinensia
Hematuria
Infeksi
Cateter

6 kali/24 jam
Kuning Jernih
Amoniak
Tidak mengalami
incontinensia
Tidak mengalami
hematuria
Tidak mengalami infeksi

62 kg
165 cm
Klien makan 3x sehari
Nasi, lauk pauk, sayuran
Ayam Goreng
Pepaya
Tidak ada
Tidak Baik
Sendok dan Piring
Mual (-), muntah (-)
1700 kkal
Diit cair DM 6x 100 cc
1500 / 24 jam
- Infus = 20 tpm

pencahar
Kuning
Konsistensi padat
Tidak ada kolostomi
Tidak ada lendir / darah
5-8 kali/24 jam,
Sering buang air kecil
Kuning Jernih
Amoniak
Tidak mengalami
inkontinensia
Tidak mengalami
hematuria

Urin Out put

Tidak menggunakan
kateter
1000 cc/hari

kateter
1800 cc/hari

POLA
ISTIRAHAT/TIDUR
Waktu tidur
Lama tidur
Kebiasaan sebelum tidur
Kebiasaan saat tidur
Kesulitan dalam tidur
Jam tidur (siang/malam)

Tidak mengalami infeksi


Tidak menggunakan

PERSONAL HYGIENE
Mandi

Malam hari, jam 21.00


5 jam
Minum Kopi
Mengorok
Tidak
- Siang = Tidak tidur
- Malam = 21.00 - 02.00

2 kali sehari

Gosok gigi
Cuci rambut
Ganti pakaian

Malam hari, jam 22.00


8 jam
Tidak ada
Mengorok
Ada
- Siang = 13.00 14.00
- Malam = 22.00 - 05.00

1 kali sehari hanya di lap


dengan istrinya

Setiap kali mandi

2 hari sekali dibantu


dengan istrinya

1 kali sehari

Belum pernah cuci rambut

1 kali sehari

1 kali sehari dibantu


dengan istrinya

POLA AKTIVITAS DAN


LATIHAN
Kegiatan dalam pekerjaan
Kegiatan waktu luang
Olahraga/jenis
Frekuensi latihan
Kesulitan/keluhan dalam hal:
- Pergerakan tubuh
- Mengenakan pakaian
- Mandi
- Mengedan saat bab
- Mudah merasa lelah
- Sesak nafas saat aktivitas

3.1.6

Pedagang aki bekas

Tidak ada

dirumah
Menonton Tv sambil

Berbincang dengan istri

minum kopi
Bersepeda
Setiap pagi

dan istirahat
Tidak ada
Tidak ada
Terbatas
Dibantu dengan istrinya
Dibantu dengan istrinya
Tidak ada
Lelah
Ada

Sendiri
Sendiri
Sendiri
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Pemeriksaan Fisik

KEPALA

MATA

Rambut warna

Bentuk
: Simetris
Ketajaman penglihatan : 20/ 30
Daya akomodasi
: Dapat

: Hitam sebagian
memutih
Kualitas/distribusi : Kualitas baik
/distribusi merata
Kondisi kulit kepala : Kurang Bersih
Bengkak/memar
: Tidak terdapat
memar
Bentuk
: Bulat, simetris
Pusing/sakit kepala : Ada Pusing
Alopesia
: Tidak ada alopesia
Benjolan / masa
: Tidak terdapat
benjolan

melihat

HIDUNG
Keluaran / sekret
Lecet / lesi
Concha nasal

Septum

kesegala arah
Reaksi pupil
: Miosis, Isokor
Konjungtifa
: Anemis
Sclera
: Tidak ikterik
Pergerakan bola mata : Bergerak semua
arah
Edema Palpebra
: Tidak terjadi
edema
Penggguna alat bantu : Tidak
menggunakan
alat bantu
Adanya lesi
: tidak ada lesi

BIBIR / MULUT
: Tidak ada sekret
: Tidak terdapat
lesi
: Concha nasal
ada 2,
berwarna merah
muda
: Septum lurus

Bentuk
: Simetris
Lecet / lesi
: Tidak terdapat lesi
Membrane mukosa
: Kering
Warna bibir
: Merah
Kelengkapan gigi pengguna gigi palsu:

tidak menggunakan gigi palsu


Caries
: Caries gigi pada

ditengah
: Tidak terdapat
polip
Reaksi alegi
: Tidak
mempunyai
alergi
Fungsi penghidung
: Baik
Epstaksis
: Tidak terjadi
Pernafasan cuping hidung: Tidak ada

Edema / polip

Edema pada gusi


Pembesaran tonsil
Stomatitis
Kesulitan menelan
Lidah

TELINGA/PENDENGARAN
Bentuk
Lesi Lecet

: Simetris
: Tidak Terdapat
lesi
Keluaran (cerumen/cairan) : Tidak ada
cerumen
Fungsi Pendengaran :
Hasil test weber :
Tidak ada perbedaan kanan dan kiri
Test Rine
: Negatif
Test Swabach
:
Memendek/sama dengan pemeriksa
Test Bisik
:
Klien bisa mendengar bisikan

bagian atas dan


bawah bagian
belakang
: Tidak terdapat
edema
: Tidak ada
pembesaran
: Tidak ada
Stomatitis
: Tidak mengalami
kesulitan menelan
: Dapat merasakan
semua rasa

LEHER
Kulit

: Tidak sianosis,
bersih
ROM
: Tidak terbatas
Kelenjar Getah Bening : Tidak terdapat
pembesaran
kelenjar getah
bening
Kelenjar Tiroid
: Tidak terdapat
pembesaran
Trachea
: Tidak terdapat
pembesaran

pemeriksa
Fungsi Keseimbangan : Seimbang
SIRKULASI
Distensi Vena jugularis : Tidak membesar
Suara Jantung
: S1 = Lup, S2 =
Dup
Suara Jantung Tambahan: Tidak ada
Nyeri Dada
: Tidak ada
Edema
: Tidak terdapat
Edema
Clubbing
: Tidak ada
Rasa Pusing
: Ada
Capileri Refile
: CRT <3 detik
Rasa Kesemutan
: Tidak mengalami
kesemutan

PERNAPASAN
Suara Paru
Pola Nafas
Bentuk Dada

: Vesikuler
: Reguler
: Simetris

Sputum

: Tidak terdapat
Sputum
: Tidak terdapat
nyeri dada
: Tidak mengalami

Nyeri Dada
Batuk/haemaptoe

batuk
Pengembangan Dada : Simetris
Penggunaan Otot Pernapasan Tambahan:

Perubahan Frekuensi/Jumlah Urine: Ada


Varises
: Tidak terjadi
varises
Tanda Cianosis
: Tidak terdapat
sianosis
Tanda Anemia
: Tidak tampak
anemis
Tanda Plebitis
: Tidak terjadi
Plebitis
Akral Dingin
: Akral Hangat
MUSKULOKETEL

ABDOMEN / PENCERNAAN
Bentuk
: Simetris
Bengkak / acites
: Tidak ada
Gambar pembuluh vena / spider naepi:
Tidak ada
Ada massa / tidak
Bising usus
Nyeri tekan

: Tidak ada
: 15 x / menit
: Tidak mengalami
nyeri tekan
Pembesaran hati / limpe : Tidak mengalami
Pembesaran
limpe
Mual / muntah
: Tidak
Tanda murfhi
: Tidak terdapat
tanda murfhi

REPRODUKSI
(Untuk Klien Wanita)

tambahan
Frekuensi
: 21 x / menit
Irama Pernafasan
: Reguler
Hasil Rontgen
: Rontgen
Pernafasan Cuping Hidung : Tidak ada
Riwayat Merokok
: Ada

KULIT

Nyeri
: tidak Ada
Pola latihan gerak (ROM) : Terbatas
Tonus otot
: 3333 3333
3333 3333
Deformitas / kelainan bentuk : Tidak ada
Postur
: pendek
gendut

Halitosis
Hemoroid

Tidak menggunakan otot bantu pernapasan

: Tidak ada
: Tidak terdapat
hemoroid

Warna
: Tidak sianosis
Tugor
: Tidak Elastis
Texture
: Kering
Lesi luka
: Tidak terdapat lesi
Letak luka (gambar) : Tidak ada

NEUROSENSORI
Tingkat Kesadaran : Compos mentis
Nilai GCS
: E4 V5 M6 = 15
Kordinasi/tremor : Tidak ada tremor
Orientasi thdp wkt, tempat & orang: Baik,
Orientasi penuh
Pola tingkah laku : Cemas
Refleks
: +2 +2
+2 +2
Kekuatan Mengenggam : kurang
Mampu
menggenggam
Pergerakan ekstremitas
: Terbatas
Riwayat kejang / epilepsy / perkison:
Tidak mempunyai riwayat kejang
Sakit kepala
: Tidak ada
Fungsi saraf cranial (12) : Normal
Paralise/parise
: Tidak terjadi
paralise
Tanda peningkatan TIK
: Tidak terjadi
TIK
(Untuk Klien Pria)
Pemakaian kontrasepsi ( vasektomi ) : Pembesaran Prostat
:-

Kehamilan
: Tidak Ada
Buah Dada
: Ada 2
Niplle
:Simetris/tidak
: Simetris
Ada massa/tidak : Tidak ada massa
Perdarahan
: Tidak ada perdarahan
Keputihan
: Tidak ada keputihan
Usia menarche : 13 tahun
Lamanya Siklus menstruasi : 7 hari
Periode Mentruasi Terakhir : Umur 50 thn
Hasil PAP smear terakhir : Tidak Ada
Fungsi seksual
: Berkurang

ENDOKRIN
Rasa haus
Rasa lapar
Poli uri
Ada riwayat luka sukar sembuh
Riwayat pola diet tinggi gula

: Ada
: Ada
: Ada
: Tidak ada
: Diit cair

DM 6x 100 cc
Riwayat penyakit keluarga (gula): Ada
TANDA VITAL
Tekanan darah
: 140/90 mmHg
Pernafasan
: 30x/menit
Nadi
: 98x/menit
Irama nadi
: Reguler
Kekuatan nadi
: Kuat
Suhu
: 37,1C

NYERI/KETIDAK NYAMAN
Gejala ( Subjektif )
Lokasi
: Tidak Ada
Intensitas (1-10 dimana 10 sangat nyeri) :
Tidak ada
Frekuensi
: Tidak Ada

Impotensi
Lesie
Fungsi Seksual

:::-

IMUNOLOGI
Riwayat Alergi
: Tidak ada
Jenis Alergi
: Tidak ada
Reaksi Alergi yang muncul : Tidak ada

PERKEMIHAN
Kesulitan BAK
: Tidak ada
Histensi
: Tidak ada
Pembesaran blas
: Tidak ada
Penggunaan diuretic : Tidak ada
Perubahan frekuensi / pola BAB : Ada
Retensi urin
: Tidak ada
Keseimbangan intake output :
Masukan < Keluaran
Intake
oral
= 1500 / 24 jam
Infus
= 500 / 24 jam
Output
BAK
= 1800 / 24 jam
BAB
= 300
Balance cairan = Intake - Output
= 2000 - 2100
= -100 cc
Tanda (Objektif)
Mengkerutkan muka
: Tidak Ada
Memegang area yang sakit : Tidak Ada
Respon emosional
: Cemas
Penyempitan focus
: Cemas

Kualitas
: Seperti di terbakar
Durasi
: Tidak ada
Penjalaran
: Tidak Ada
Factor-faktor pencetus : Tidak Ada
Cara menghilangkan, factor-factor yang
berhubungan nyeri
3.1.7
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

: Tidak Ada

Integritas Ego/Psikologis
1. Gejala ( Subjektif )
Factor stress
Cara mengatasi stress
Masalah-masalah financial
Status hubungan
Factor-faktor budaya
Agama
Kegiatan keagamaan
Gaya hidup
Perubahan terakhir
Perasaan-perasaan
Keputusasaan

: Ada semenjak di rawat di RS


: Berbincang-bincang dengan
keluargnya
: Ada
: Menikah
: Sering mengkonsumsi obat herbal
: Islam
: Mengaji di rumah
: Sederhana
: Ada
: Ketidak berdayaan: Ada
: Tidak ada

2. Tanda (Objektif)
Status emosional (beri tanda cek untuk yang sesuai) :
Tenang
: Cemas
:
Marah
Menarik Diri

::-

Takut

Mudah Tersinggung
Tidak Sabar
Euforik

:::-

Respon respons fisiologis yang terobservasi:


Klien tampak cemas

3.1.8

Interaksi Sosial
a.
b.
c.
d.
e.
e.
f.
g.

Status perkawinan
: Menikah
Lama
: 35 Tahun
Hidup dengan
: Istri dan 3 anak
Masalah-masalah / stress
: masalah tentang kesehatannya
Keluarga besar
: 1 orang istri dan 3 orang anak
Orang lain pendukung
: Istri, Anak, Saudara
Peran dalam stuktur keluarga
: Sebagai Kepala Keluarga
Masalah-masalah yang berhubungan dengan penyakit/kondisi :
Klien sering kali tidak menjaga pola makan dengan baik
h. Perubahan bicara
:Penggunaan alat bantu komunikasi
:Klien tidak menggunakan alat
i. Adanya laringektomi
j. Bicara
Jelas
Tak jelas
Tidak dimengerti
Afasia
k. Pola bicara tak biasa/ kerusakan
l. Penggunaan alat bantu bicara

bantu
: Tidak terdapat laringektomi
: Bicara jelas
: Tidak Ada
: Tidak Ada
: Tidak Ada
: Tidak ada kerusakan
: Tidak menggunakan alat bantu

bicara
m. Komunikasi verbal/ non verbal dengan keluarga/orang terdekat lain :
Klien berkomunikasi dengan baik dan jelas menggunakan komunikasi
verbal
n. Pola interaksi (perilaku)
:
Klien terlihat akrab saat melakukan interaksi dengan keluarga.

3.1.9

Tingkat Pembelajaran/Pemahaman Kondisi Kesehatan


a. Bahasa dominan (khusus)
b. Tingkat pendidikan
c.
d.
e.
f.

: Indonesia
: Rendah dan kadang
kadang selalu bertanya
kepada perawat.
Ketidakmampuan belajar (khusus)
: Tidak mampu merawat
anggota keluarga yang
sakit
Keterbatasan kognitif
: Tidak ada
Keyakinan kesehatan/yang dilakukan
: Berdoa
Orientasi spesifik terhadap perawatan kesehatan (spt, dampak dari
agama/cultur yang dianut)

: Tidak ada

g. Penggunaan alcohol (jumlah/frekuensi)


h. Harapan pasien terhadap perawatan
i. Pemeriksaan fisik lengkap terakhir

: Tidak ada
: Klien berharap agar bisa
sembuh dan mendapatkan
perawatan dengan baik.
: Tidak mengalami
perubahan.
TD
:
140/90
mmHg
N
: 98x/menit
RR : 31x/menit
S
: 37,1C

Petimbangan Rencana Pulang


Tanggal informasi didapatkan
1. Tanggal pulang yang diantisipasi
: belum terperdiksi
2. Sumber-sumber yang tersedia
: orang: Istri
Keuangan
: Tidak terkaji
3. Perubahan-perubahan yang diantisipasi dalam situasi kehidupan setelah
pulang

: Olahraga dan pengaturan


diit rendah gula

4. Area yang kemungkinan membutuhkan perubahan / bantuan :


a. Penyiapan makan
: Bantuan
b. Tranportasi
: Mandiri
c. Ambulasi
: Bantuan
d. Obat/terapi IV
: Bantuan
e. Bantuan perawatan diri(khusus)
: Bantuan
f. Gambaran fisik rumah(khusus)
: Mandiri
g. Bantuan merapihkan/pemeliharaan rumah : Bantuan
h. Fasilitas kehidupan selain rumah(khusus) : Bantuan
3.1.10 Data Spiritual
a. Agama / kepercayaan yang dianut
: Islam
b. Kegiatan keagamaan yang dilakukan
Di rumah
: Solat dan Ngaji
Di RS
: Berdoa
c. Kesulitan yang diperoleh dalam melakukan ibadah selama sakit :
Saat ingin solat
d. Upaya mengatasi kesulitan beribadah
: Tidak Ada

3.1.11 Data Penunjang


1. Laboratorium (cantumkan nilai normal)
Tgl: 16 - 12 2016 ( 08.27 wib )
Pemeriksaan

Hasil pemeriksaan

Nilai Normal

6,9 g/dl
18.890/ul
20,8%
283.000/ul

13,2-17,2 g/dl
3.500 11.000/ul
35-47%
140.000-440.000/ul

0,1
0,5
73,7
16,4
9,3
15,4

01%
1,3 %
52,0 76,0 %
20 40 %
28%
11,5 14,5

7,423
48 mmHg
226,10 mmHg
14,60 mmol/L
29 mmol/L
10 mmol/L
99,9 %
17,7 mmol/L

7,350 7,450
35 45 mmHg
75 100 mmHg
21 25 mmol/L
21 27 mmol/L
-2,5 - +2,5 mmol/L
95 98 %
22 24 mmol/L

HEMATOLOGI
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Trombosit
HITUNG JENIS
Basofil
Eosinofil
Neutrofil
Limfosit
Monosit
RDW-CV
ANALISA GAS DARAH
PH
P CO2
P O2
H CO3
Total CO2
Stase Excess
O2 Saturation
Standard HCO3

2. Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu


Tanggal

Hasil pemeriksaan

Insulin

Nilai Normal

Pemeriksaan

17 Januari 2017
18 Januari 2017

137
177

194
253

113
261

Novorapid 3 x 8 unit
Novorapid 3 x 8 unit

< 180 mg/dl


< 180 mg/dl

19 Januari 2017

219

257

153

Novorapid 3 x 8 unit

< 180 mg/dl

20 Januari 2017

225

218

273

Novorapid 3 x 8 unit

< 180 mg/dl

3. Pengobatan
a. Oral

Captopril
Cilotazol
Musatal
b. Suntik
Ranitidin
OMZ
c. Lain Lain
Lantus
Novorapid

: 2 x 25 mg
: 2 x 50 mg
: 1 x 20 mg
: 2 x 1 gr
: 3 x 40 mg
: 1 x 10 unit
: 3 x 8 unit

3.1.12 Resume/Kesimpulan tentang Kondisi Klien


Tn. D usia 66 tahun datang ke UGD pada tanggal 12 Januari 2017
dengan keluhan muntah dan buang air besar sejak 2 hari SMRS. Klien
mengatakan muntah dan buang air besarnya lebih dari 7 kali sehari.
Klien merasa terus mual dan tidak bisa menahan bab sejak 2 hari. Klien
mengatakan mutahnya 150 cc setiap muntah dan konsistensi buang air
besarnya cair. Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 17 Januari
2017 klien mengatakan sesak sejak sejak tadi pagi. Sesak dirasakan
klien sejak tadi pagi. Klien merasa sesaknya hilang timbul. Klien
merasakan sesaknya semakin parah. Klien dengan posisi semi fowler
dan terpasang O2 dengan nasal kanul sebanyak 5 L/menit. Frekuensi
nafas klien terhitung 30 x/menit dan tampak terlihat adanya pernafasan
cuping hidung. Ketika sudah dilakukan pemeriksaan darah didapatkan
hasil yang menyimpang pada HB = 6,9 g/dl, Leukosit = 18.890/ul, Ht =
20,8%, RDW = 15,4, P CO2 = 48 mmHg, P O2 = 226,10 mmHg, HCO3 =
14,60 mmol/L dan mendapatkan pengobatan :
a. Oral
Captopril : 2 x 25 mg
Cilotazol : 2 x 50 mg
Musatal
: 1 x 20 mg
b. Suntik
Ranitidin : 2 x 1 gr
OMZ
: 3 x 40 mg
c. Lain Lain
Lantus
: 1 x 10 unit
Novorapid : 3 x 8 unit

3.2 Analisa Data


NO

ANALISA DATA

INTERPRETASI DATA

MASALAH

DAN KEMUNGKINAN
PENYEBAB

DS :

Asupan insulin tidak cukup

Klien mengatakan sesak


Klien mengatakan sesak
napas jika dibawa tidur

Pola Nafas Tidak


Efektif

Sel beta pancreas terganggu

terlentang
Produksi Insulin menurun

DO :
Klien tampak lemah
Klien tampak sesaknya
Pola napas cepat dan
dangkal
Terpasang O2 liter
mengunakan nasal kanul
sebanyak 5 Liter/menit
Tampak menggunakan otot
bantu nafas
Tampak ada pernafasan
cuping hidung
Pasien terlihat tidur dengan
setengah duduk
RR : 30 x/menit
Hasil AGD :
PH
: 7,423
P CO2: 48 mmHg
P O2 : 226,10 mmHg
H CO3: 14,60 mmol/L
Total CO2 : 29 mmol/L

Glukagon meningkat

Asam lemak bebas meningkat

Asam lemak teroksidasi

Asidosis Metabolik

CO2 Meningkat

PCO2 Meningkat

Nafas cepat dan dalam

DS :

Pola nafas tidak efektif


Diabetes Mellitus

Kekurangan

Tn. D mengatakan sering


buang air kecil
Tn. D mengatakan sering
haus
Tn. D mengatakan sering
cepat lapar
Tn. D mengatakan lemas

volume cairan
Osmolalitas Cairan
Ekstrasel meningkat

Volume Ekstra Sel Meningkat

Filtrasi Glomerulus
Meningkat
DO :
Peningkatan output urin 5
8 x/jam
Konjungtiva anemis
Turgor kulit tidak elastis
Texture kulit kering
Membran mukosa kering
Riwayat pola diet tinggi

gula: Diit cair DM = 6 x 100


cc
Intake Cairan:

Osmotik Diuretik

Poli Uri (Banyak Kencing)

Kekurangan Volume
Cairan

Oral : 1500 cc/24 jam


Infus : 500 cc/24 jam
Output Cairan:
BAK : 1900 cc/24 jam
BAB : 300 cc/24 jam
Balance cairan
= Intake - Output
= 2000 - 2200
= - 100 cc

GDS: 253 mg/dl


3

DS :
Tn. D mengatakan masih

Muntah

Ketidakseimbanga
n nutrisi: kurang

muntah
Tn. D mengatakan sering
haus
Tn. D mengatakan sering

Suplai nutrisi menurun

dari kebutuhan
tubuh

Asupan nutrisi tidak penuhi

cepat lapar
Tn. D mengatakan lemas
Glukosa tidak dapat diserap
oleh sel-sel tubuh
DO :
Klien tampak lemah
Mukosa bibir tampak kering
Terjadi penurunan BB
Rs : 62 kg
Rumah : 63 kg
Makanan tampak tidak

Sel tubuh kekurangan bahan


bakar

Ketidakseimbangan nutrisi:
kurang dari kebutuhan tubuh

dihabiskan
Diit cair DM 6 x 100 cc
Kebutuhan kalori = 1700 cc
IMT : 28, 20 kg/m2
Turgor kulit tidak elastis

DS :

Tubuh kekurangan Insulin

Mobilitas Fisik

Tn. D mengatakan lemas


Tn. D mengatakan semua
kebutuhannya dibantu oleh
istrinya
Tn. D mengatakan tidak
mampu turun tempat tidur

Hambatan

Glukosa tidak dapat diserap


oleh sel-sel tubuh

Sel tubuh kekurangan bahan

bakar

DO :

Lemah

Pergerakan tubuh klien


tampak terbatas
Aktivitas klien tampak

Hambatan mobilitas fisik

Dibantu istrinya
ROM terbatas
Tonus Otot : 3333 3333
3333 3333
Terbaring lemas di tempat
tidur
Tn. D tampak tidak
melakukan kegiatan apa-apa

3.3 Diagnosa Keperawatan


1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan asidosis metabolik
2. Kekurangan Volume Cairan dan Elektrolit berhubungan dengan

diuresis

osmotic
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan penurunan masuk oral
4. Hambatan Mobilitas Fisik berhubungan dengan intoleransi aktivitas
3.4 Perencanaan Keperawatan

Terlampir
3.5 Implementasi
Terlampir
3.6 Evaluasi
Terlampir

PERENCANAAN KEPERAWATAN
NO
1.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
POLA NAFAS TIDAK EFEKTIF

NOC

NIC

NOC :

NIC :

Respiratory status : Ventilation


Respiratory status : Airway patency

AIRWAY MANAGEMENT

Setelah dilakukan tindakan keperawatan


selama 5 jam pola nafas tidak efektif tidak
terjadi dengan indikator:
4. Frekuensi pernafasan dengan skala 2
(cukup berat) menjadi skala 3 (sedang)
5. Irama pernafasan dengan skala 2 (cukup

7. Posisikan pasien untuk memaksimalkan


ventilasi dengan posisi semi fowler
8. Auskultasi suara nafas, catat adanya
suara tambahan
9. Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan.
10. Monitor respirasi dan status O2
11. Kolaborasi dalam pemberian inhalasi
12. Monitor tanda tanda vital

berat) menjadi skala 3 (sedang)


6. Penggunaan otot bantu nafas dengan
skala 2 (cukup berat) menjadi skala 3
(sedang)

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

NOC

NIC

KEKURANGAN VOLUME

NOC :

MONITOR CAIRAN

CAIRAN DAN ELEKTROLIT

1. Keseimbangan Cairan

1. Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake

Setelah dilakukan tindakan keperawatan

2.
3.
4.
5.

Definisi:
penurunan cairan intravaskuler,
interstisiil, dan atau mengarah
intravaskuler. Ini mengarah ke
dehidrasi, kehilangan cairan dengan
pengeluaran sodium.
Batasan karakteristik:
1. Kelemahan,
2. Kehausan,
3. Penurunan turgor kulit/lidah,
4. Membran mukosa /kulit kering,
5. Peningkatan denyut nadi,
6. Penurunan tekanan darah
7. Penurunan tekanan nadi,
8. Pengisian vena menurun,
9. Perubahan status mental,

selama 3x24 jam diharapkan volume cairan


dapat seimbang dengan indikator:
1. Keseimbangan intake dan output dalam
24 jam dengan skala 2 (banyak
terganggu) menjadi skala 3 (cukup
terganggu)

cairan dan eliminasi


Monitor berat badan
Monitor TTV
Catat secara akurat intake dan output
Monitor membran mukosa dan turgor

kulit, serta rasa haus


6. Pantau pengeluaran urine
7. Monitor warna dan jumlah urine
8. Awasi tetesan infus

10. Konsentrasi uriine meningkat,


11. Temperatur tubuh meningkat,
12. Hematokrit meninggi,
13. Kehilangan berat badan seketika.
Faktor yang berhubungan:
1. Kehilangan volume cairan secara
aktif
2. Kegagaalan mekanisme pengaturan
NO
3.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

NOC

NIC

KETIDAKSEIMBANGAN

NOC :

MANAJEMEN NUTRISI

NUTRISI: KURANG DARI

Status Nutrisi: Asupan Nutrisi

1.
2.
3.
4.

KEBUTUHAN TUBUH
Definisi: asupan nutrisi tidak cukup
untuk memenuhi kebutuhan metabolik

Setelah dilakukan tindakan keperawatan


selama x24 jam diharapkan nutrisi dapat
seimbang dengan indikator:

Batasan Karakteristik:
1. Berat badan 20% atau lebih di
bawah rentang berat badan ideal

1. Asupan makanan dalam 3 x 24 jam


dengan skala 2 (banyak menyimpang)
menjadi skala 3 (cukup menyimpang)
2. Asupan gizi dalam 3 x 24 jam dengan

Kaji pola makanan klien


Kaji adanya alergi makanan
Kaji makanan yang disukai klien
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
penyediaan nutrisi terpilih sesuai dengan

kebutuhan klien
5. Anjurkan klien untuk meningkatkan
asupan nutrisinya
6. Yakinkan diet yang dikonsumsi
mengandung cukup serat untuk

2. Bising usus hiperaktif

skala 2 (banyak menyimpang) menjadi

3. Cepat kenyang setelah makan

skala 3 (cukup menyimpang)

4. Diare
5. Gangguan sensasi rasa
6. Kehilangan rambut berlebihan
7. Kelemahan otot pengunyah
8. Kelemahan otot untuk menelan
9. Kerapuhan kapiler
10. Kesalahan informasi
11. Kesalahan persepsi
12. Ketidakmampuan memakan
makanan
13. Kram abdomen
14. Kurang informasi
15. Kurang minat pada makanan
16. Membrane mukosa pucat
17. Nyeri abdomen
18. Penurunan berat badan dengan
asupan makan adekuat
19. Sariawan rongga mulut

mencegah konstipasi
7. Berikan informasi tentang kebutuhan
nutrisi dan pentingnya bagi tubuh klien
8. Monitor berat badan

20. Tonus otot menurun


Faktor yang berhubungan:
1. Ketidakmampuan makan
2. Ketidakmampuan mencerna
makanan
3. Ketidakmampuan mengabsorpsi
nutrient
4. Kurang asupan makanan
NO
4

DIAGNOSA KEPERAWATAN
HAMBATAN MOBILITAS FISIK
Definisi: Keterbatasan dalam gerakan

NOC
NOC:

EXERCISE THERAPY : AMBULATION

1. Ambulasi
2. Pergerakan

1. Monitoring vital sign sebelum/sesudah

fisik atau satu atau lebih ekstremitas


secara mandi dan terarah

Setelah dilakukan tindakan keperawatan


selama 3x24 jam hambatan mobilitas fisik

Batasan karakteristik :
1. Postur tubuh yang tidak stabil
2. Keterbatasan kemampuan untuk
melakukan ketrampilan motorik

NIC

dapat teratasi sebagian dengan indikator:


1. Berjalan dengan langkah yang efektif
dengan skala 2 (banyak terganggu)
menjadi skala 3 (cukup terganggu)

latihan dan lihat respon pasien saat


latihan
2. Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan
lain tentang teknik ambulasi
3. Kaji kemampuan pasien dalam
mobilisasi
4. Latih pasien dalam pemenuhan
kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai

kasar
3. Keterbatasan kemampuan untuk
melakukan ketrampilan motorik
4.
5.
6.
7.

halus
Tidak ada koordinasi gerakan
Keterbatasan ROM
Kesulitan berbalik
Perubahn gaya berjalan (penurunan
kecepatan berjalan, kesulitan
memulai berjalan, langkah
sempit,kaki diseret, goyangan yang

berlebihan pada posisi lateral)


8. Penurunan waktu reaksi
9. Bergerak menyebabkan nafas
menjadi pendek
10. Usaha yang kuat untuk perubahan
gerak (peningkatan perhatian untuk
aktivitas lain, mengontrol perilaku,
fokus dalam anggapan
ketidakmampuan aktivitas)
11. Pergerakan yang lambat
12. Bergerak menyebabkan tremor
Faktor yang berhubungan

2. Gerakan sendi dengan skala 2 (banyak


terganggu) menjadi skala 3 (cukup
terganggu)

kemampuan
5. Dampingi dan Bantu pasien saat
mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan
ADLs ps.
6. Ajarkan pasien bagaimana merubah
posisi dan berikan bantuan jika
diperlukan

1. Pengobatan
2. Pembatasan gerak
3. Kurang pengetahuan tentang
kegunaan pergerakan fisik
4. Indeks masa tubuh diatas 75 tahun
persentil sesuai dengan usia
5. Kerusakan persepsi sensori
6. Tidak nyaman, nyeri
7. Kerusakan muskuloskeletal dan
neuromuskular
8. Intoleransi aktivitas
9. Depresi mood/cemas
10. Kerusakan kognitif
11. Penurunan kekuatan otot
12. Keengganan untuk memulai gerak
13. Gaya hidup yang menetap, tidak
digunakan
14. Malnutrisi umum atau selektif
15. Kehilangan integritas struktur
tulang

CATATAN KEPERAWATAN/IMPLEMENTASI& EVALUASI


Nama Klien : Tn. D
Ruangan
TGL / HARI

: Cempaka Bawah
NO. DIAGNOSA

IMPLEMENTASI DAN RESPON

EVALUASI

HASIL
Selasa,

17.01.17.

(pola nafas tidak


efektif )

1. Memposisikan pasien untuk


memaksimalkan ventilasi dengan
posisi semi fowler
2. Melakukan auskultasi suara nafas,
catat adanya suara tambahan
3. Mengatur intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan.
4. Memonitor respirasi dan status O2
5. Melakukan kolaborasi dalam
pemberian inhalasi
6. Memonitor tanda tanda vital

S:
Klien mengatakan masih sesak
Klien mengatakan masih sesak napas jika dibawa
tidur terlentang
O:
Suara nafas : Vesikuler
Klien tampak diberikan teapi pentolin
TTV:
TD: 140/90 mmHg
N : 98x/menit
RR : 31x/menit
S : 37,1C
Klien tampak lemah
Pola napas cepat dan dangkal
Terpasang nasal kanul dengan O2 5 Liter/menit

Tampak masih menggunakan otot bantu nafas


Tampak masih ada pernafasan cuping hidung
Pasien terlihat tidur dengan setengah duduk

A:
Masalah pola nafas tidak efektif belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensi :
Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
dengan posisi semi fowler
Lakukan auskultasi suara nafas, catat adanya suara
tambahan
Atur intake untuk cairan mengoptimalkan

Selasa,

17 1 - 17

(Kekurangan

1. Menentukan riwayat jumlah dan tipe


intake cairan dan eliminasi

Volume Cairan

2. Mengukur berat badan

Dan Elektrolit)

3. Mengukur TTV

keseimbangan.
Monitor respirasi dan status O2
Lakukan kolaborasi dalam pemberian inhalasi
Monitor tanda tanda vital
S:
Tn. D mengatakan masih sering buang air kecil
Tn. D mengatakan masih sering haus
Tn. D mengatakan masih sering cepat lapar

4. Mencatat secara akurat intake dan

Tn. D mengatakan masih lemas

output
5. Memonitor membran mukosa dan
turgor kulit, serta rasa haus
6. Memantau pengeluaran urine
7. Memonitor warna dan jumlah urine
8. Mengawasi tetesan infus

O:

Output urin 5 8 x/jam


Konjungtiva anemis
Turgor kulit tidak elastis
Texture kulit kering
Membran mukosa kering
BB = 62 kg
TTV : TD: 130/80 mmHg, N: 88 x/menit, RR: 19

x/menit, S: 37,1C
Intake Cairan:
Oral : 1500 cc/24 jam
Infus : 500 cc/24 jam
Output Cairan:
BAK : 1900 cc/24 jam
BAB : 300 cc/24 jam
Balance cairan
= Intake - Output
= 2000 - 2200
= - 100 cc

GDS: 253 mg/dl

A:
Masalah kekurangan volume cairan dan elektrolit
belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensi :
Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan
eliminasi
Ukur TTV
Catat secara akurat intake dan output
Monitor membran mukosa dan turgor kulit, serta rasa

Selasa,
17 - 1 - 17

1.
2.
(Ketidakseimbang
3.
-an nutrisi: kurang 4.
dari kebutuhan
tubuh )

Mengkaji pola makanan klien


Mengkaji adanya alergi makanan
Mengkaji makanan yang disukai klien
Melakukan kolaborasi dengan ahli gizi
untuk penyediaan nutrisi terpilih sesuai
dengan kebutuhan klien

haus
Pantau pengeluaran urine
Monitor warna dan jumlah urine
Awasi tetesan infus
S:

Tn. D mengatakan masih muntah


Tn. D mengatakan masih sering haus
Tn. D mengatakan masih sering cepat lapar
Tn. D mengatakan masih lemas

5. Menganjurkan klien untuk


meningkatkan asupan nutrisinya
6. Meyakinkan diet yang dikonsumsi
mengandung cukup serat untuk
mencegah konstipasi
7. Memberikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi dan pentingnya bagi
tubuh klien
8. Memonitor berat badan
9. Memberikan makan selagi hangat
10. Memberikan makan sedikit tapi sering

O:

Pola makan 3x/hari


BB: 68 kg
Makanan tampak tidak dihabiskan
Diit cair DM 6 x 100 cc
Kebutuhan kalori : 1700 cc
Klien tampak masih muntah-muntah

A:
Masalah ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari
kebutuhan tubuh belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensi :.
Kaji pola makanan klien
Lakukan kolaborasi dengan ahli gizi untuk
penyediaan nutrisi terpilih sesuai dengan kebutuhan
klien
Anjurkan klien untuk meningkatkan asupan nutrisinya
Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi dan
pentingnya bagi tubuh klien
Berikan makan selagi hangat
Berikan makan sedikit tapi sering

Selasa,

1. Monitoring vital sign sebelum/sesudah

17 1 17

(Hambatan

latihan dan lihat respon pasien saat

Mobilitas Fisik)

latihan
2. Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan
lain tentang teknik ambulasi
3. Kaji kemampuan pasien dalam
mobilisasi
4. Latih pasien dalam pemenuhan

S:

Tn. D mengatakan masih lemas


Tn. D mengatakan semua kebutuhannya dibantu oleh
istrinya
Tn. D mengatakan tidak mampu turun tempat tidur

O:

kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai Pergerakan tubuh masih terbatas


Aktivitas klien tampak Dibantu istrinya
kemampuan
Tampak masih terbaring lemas di tempat tidur
5. Dampingi dan Bantu pasien saat
mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan Tn. D tampak melakukan dikit demi sedikit
ADLs ps.
6. Ajarkan pasien bagaimana merubah
posisi dan berikan bantuan jika
diperlukan

A:
Masalah hambatan mobilitas fisik belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensi :
Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs
secara mandiri sesuai kemampuan
Dampingi dan Bantu pasien saat mobilisasi dan bantu

penuhi kebutuhan ADLs ps.


Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi

CATATAN KEPERAWATAN/IMPLEMENTASI& EVALUASI


Nama Klien : Tn. D
Ruangan
TGL / HARI

: Cempaka Bawah
NO. DIAGNOSA

IMPLEMENTASI DAN RESPON

EVALUASI

HASIL
Rabu,

18.01.17.

(pola nafas tidak


efektif )

1. Memposisikan pasien untuk


memaksimalkan ventilasi dengan
posisi semi fowler
2. Melakukan auskultasi suara nafas,
catat adanya suara tambahan
3. Mengatur intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan.
4. Memonitor respirasi dan status O2
5. Melakukan kolaborasi dalam
pemberian inhalasi
6. Memonitor tanda tanda vital

S:
Klien mengatakan masih sesak
Klien mengatakan masih sesak napas jika dibawa
tidur terlentang
O:
Suara nafas : Vesikuler
Klien tampak diberikan terapi pentolin
TTV:
TD: 130/90 mmHg
N : 89 x/menit
RR : 28 x/menit
S : 37C
Klien tampak lemah
Pola napas cepat dan dangkal
Terpasang nasal kanul dengan O2 5 Liter/menit

Tampak masih menggunakan otot bantu nafas


Tampak masih ada pernafasan cuping hidung
Pasien terlihat tidur dengan setengah duduk

A:
Masalah pola nafas tidak efektif belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensi :
Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
dengan posisi semi fowler
Lakukan auskultasi suara nafas, catat adanya suara
tambahan
Atur intake untuk cairan mengoptimalkan

Rabu,

1. Mentukan riwayat jumlah dan tipe

18 1 - 17

(Kekurangan

intake cairan dan eliminasi


2. Mencatat secara akurat intake dan

Volume Cairan
Dan Elektrolit)

output

keseimbangan.
Monitor respirasi dan status O2
Lakukan kolaborasi dalam pemberian inhalasi
Monitor tanda tanda vital
S:
Tn. D mengatakan masih sering buang air kecil
Tn. D mengatakan masih sering haus
Tn. D mengatakan masih sering cepat lapar

3. Memonitor membran mukosa dan


turgor kulit, serta rasa haus
4. Memantau pengeluaran urine
5. Memonitor warna dan jumlah urine
6. Mengawasi tetesan infus

Tn. D mengatakan masih sedikit lemas

O:

Output urin 6 x/jam


Konjungtiva tidak anemis
Turgor kulit tidak elastis
Texture kulit kering
Membran mukosa lembab
Warna urine: kuning jernih
BB = 62 kg
TTV : TD: 140/80 mmHg, N: 87 x/menit, RR: 19

x/menit, S: 37C
Intake Cairan:
Oral : 2000 cc/24 jam
Infus : 500 cc/24 jam
Output Cairan:
BAK : 2150 cc/24 jam
BAB : 300 cc/24 jam
Balance cairan
= Intake - Output
= 2500 - 2450

= 50 cc
GDS: 253 mg/dl

A:
Masalah kekurangan volume cairan dan elektrolit
teratasi sebagian
P:
Lanjutkan intervensi :
Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan
eliminasi
Catat secara akurat intake dan output
Monitor membran mukosa dan turgor kulit, serta rasa

Rabu,
18 - 1 - 17

Mengkaji pola makanan klien


(Ketidakseimbang Melakukan kolaborasi dengan ahli
gizi untuk penyediaan nutrisi terpilih
-an nutrisi: kurang
dari kebutuhan

sesuai dengan kebutuhan klien


Menganjurkan klien untuk

haus
Pantau pengeluaran urine
Monitor warna dan jumlah urine
Awasi tetesan infus
S:
Tn. D mengatakan berkurang muntahnya
Tn. D mengatakan masih sering haus
Tn. D mengatakan masih sering cepat lapar

tubuh )

meningkatkan asupan nutrisinya


Memberikan informasi tentang

Tn. D mengatakan masih lemas

kebutuhan nutrisi dan pentingnya bagi


tubuh klien
Memberikan makan selagi hangat
Memberikan makan sedikit tapi sering

O:

Pola makan 3x/hari


BB: 62 kg
Makanan tampak sedikit dihabiskan
Diit cair DM 6 x 100 cc
Kebutuhan kalori : 1700 cc
Klien tampak berkurang muntah-muntah

A:
Masalah ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari
kebutuhan tubuh belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensi :
Kaji pola makanan klien
Lakukan kolaborasi dengan ahli gizi untuk
penyediaan nutrisi terpilih sesuai dengan kebutuhan
klien
Anjurkan klien untuk meningkatkan asupan nutrisinya
Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi dan
pentingnya bagi tubuh klien

Rabu,

1. Kaji kemampuan pasien dalam

18 1 17

(Hambatan

mobilisasi
2. Latih pasien dalam pemenuhan

Mobilitas Fisik)

Berikan makan selagi hangat


Berikan makan sedikit tapi sering
S:

Tn. D mengatakan masih lemas


Tn. D mengatakan semua kebutuhannya masih

kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai

dibantu oleh istrinya

kemampuan
3. Dampingi dan Bantu pasien saat
mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan
ADLs ps.
4. Ajarkan pasien bagaimana merubah
posisi

O:
Pergerakan tubuh masih terbatas
Aktivitas klien tampak Dibantu istrinya
Tampak masih terbaring lemas di tempat tidur
Tn. D tampak melakukan dikit demi sedikit

A:
Masalah hambatan mobilitas fisik belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensi :
Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs
secara mandiri sesuai kemampuan

Dampingi dan Bantu pasien saat mobilisasi dan bantu


penuhi kebutuhan ADLs ps.
Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi

CATATAN KEPERAWATAN/IMPLEMENTASI& EVALUASI


Nama Klien : Tn. D
Ruangan
TGL / HARI

: Cempaka Bawah
NO. DIAGNOSA

IMPLEMENTASI DAN RESPON

EVALUASI

HASIL
Kamis,

19 01 17

(pola nafas tidak


efektif )

Memposisikan pasien untuk


memaksimalkan ventilasi dengan
posisi semi fowler
Melakukan auskultasi suara nafas,
catat adanya suara tambahan
Mengatur intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan.
Memonitor respirasi dan status O2
Melakukan kolaborasi dalam
pemberian inhalasi
Memonitor tanda tanda vital

S:
Klien mengataka sudah berkurang sesak
Klien mengatakan masih sesak napas jika dibawa
tidur terlentang
O:
Suara nafas : Vesikuler
Klien tampak diberikan terapi pentolin
TTV:
TD: 130/80 mmHg
N : 84 x/menit
RR : 22 x/menit
S : 37C
Klien tampak masih lemah
Terpasang nasal kanul dengan O2 3 Liter/menit
Pasien terlihat tidur dengan setengah duduk

A:
Masalah pola nafas tidak efektif teratasi sebagian
P:
Hentikan intervensi

Kamis,

19 1 - 17

(Kekurangan
Volume Cairan

1. Menentukan riwayat jumlah dan tipe


intake cairan dan eliminasi
2. Mencatat secara akurat intake dan

S:
Tn. D mengatakan masih sedikit sering buang air

Dan Elektrolit)

output
3. Memonitor membran mukosa dan
turgor kulit, serta rasa haus
4. Memantau pengeluaran urine
5. Memonitor warna dan jumlah urine
6. Mengawasi tetesan infus

kecil
Tn. D mengatakan masih sering haus
Tn. D mengatakan masih sering cepat lapar
Tn. D mengatakan masih sedikit lemas

O:

Output urin 5 x/jam


Konjungtiva tidak anemis
Turgor kulit tidak elastis
Texture kulit kering
Membran mukosa lembab
Warna urine: kuning jernih
BB = 62 kg
TTV : TD: 140/80 mmHg, N: 87 x/menit, RR: 19

x/menit, S: 37C
Intake Cairan:
Oral : 2000 cc/24 jam
Infus : 500 cc/24 jam
Output Cairan:
BAK : 2150 cc/24 jam
BAB : 300 cc/24 jam
Balance cairan

= Intake - Output
= 2500 - 2450
= 50 cc
GDS: 193 mg/dl

A:
Masalah kekurangan volume cairan dan elektrolit
teratasi sebagian
P:
Hentikan intervensi

Kamis ,
19 - 1 - 17

Mengkaji pola makanan klien


(Ketidakseimbang Melakukan kolaborasi dengan ahli
gizi untuk penyediaan nutrisi terpilih
-an nutrisi: kurang

S:

dari kebutuhan

tubuh )

sesuai dengan kebutuhan klien


Menganjurkan klien untuk
meningkatkan asupan nutrisinya

Tn. D mengatakan sudah tidak muntah


Tn. D mengatakan masih sering haus
Tn. D mengatakan masih sering cepat lapar
Tn. D mengatakan masih lemas

Memberikan informasi tentang


kebutuhan nutrisi dan pentingnya bagi
tubuh klien
Memberikan makan selagi hangat
Memberikan makan sedikit tapi sering

O:

Pola makan 3x/hari


BB: 62 kg
Makanan tampak sedikit dihabiskan
Diit cair DM 6 x 100 cc
Kebutuhan kalori : 1700 cc

A:
Masalah ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari
kebutuhan tubuh belum teratasi
P:
Hentikan intervensi
Kamis,

19 1 17

(Hambatan
Mobilitas Fisik)

1. Mengkaji kemampuan pasien dalam


mobilisasi
2. Melatih pasien dalam pemenuhan

S:

Tn. D mengatakan masih lemas


Tn. D mengatakan sedikit kebutuhannya masih

kebutuhan ADLs secara mandiri

dibantu oleh istrinya

sesuai kemampuan
3. Mendampingi dan Bantu pasien saat
mobilisasi dan bantu penuhi

O:

kebutuhan ADLs ps.


4. Mengajarkan pasien bagaimana
merubah posisi

Pergerakan tubuh masih sedikit terbatas


Aktivitas klien tampak sedikit dibantu istrinya
Tampak masih terbaring lemas di tempat tidur
Tn. D tampak melakukan dikit demi sedikit

A:
Masalah hambatan mobilitas fisik teratasi sebagian
P:
Hentikan intervensi

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari makalah yang kami susun, dapat disimpulkan bahwa Diabetes Mellitus
adalah penyakit yang disebabkan oleh kelainan hormon yang mengakibatkan sel-sel
dalam tubuh tidak dapat menyerap glukosa dari darah. Penyakit ini timbul ketika di
dalam darah tidak terdapat cukup insulin atau ketika sel-sel tubuh kita dapat
bereaksi normal terhadap insulin dalam darah. Paling sedikit terdapat tiga bentuk
diabetes mellitus: tipe I, tipe II, dan diabetes gestasional.
Gejala awal dari diabetes adalah merasa lemas, tidak bertenaga, ingin sering
makan, dan sering buang air kecil. Untuk pengobatan dapat dilakukan dengan
penyuntikan insulin, pendidikan dan kepatuhan terhadap diet, dan program
olahraga. Diabetes mellitus dapat terjadi komplikasi akut maupun kronik.
B. Saran
Untuk mencapai suatu keberhasilan yang baik dalam pembuatan makalah
selanjutnya, maka penulis memberikan saran kepada:
1. Mahasiswa.
Dalam pengumpulan data, penulis mendapatkan berbagai kesulitan.
Dengan usaha yang sungguh-sungguh, sehingga penulis mendapatkan data
untuk dapat menyelesaikan makalah ini.
2. Pendidikan
Pada Prodi Keperawatan, khususnya

perpustakaan. Agar

dapat

menyediakan buku-buku yang sudah mengalami perubahan-perubahan yang


lebih maju sehingga buku tersebut bukan saja sebagai sumber ilmu tetapi dapat
dijadikan sumber referensi untuk materi makalah.
3. Dengan adanya makalah ini yang berisikan tentang penatalaksanaan medic dan
keperawatan dengan diabetes mellitus diharapkan mahasiswa mengetahui,
mengerti, dan memahami akan arti, manfaat serta akibat / dampak dari apa yang
telah dibahas pada makalah tersebut.

4. DAFTAR PUSTAKA
5.
6.
7.

Arif, M. (2010). Kapita Selekta Kedokteran. Ed: 1. Jakarta: Media Aesculapius

8.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


Bulechek, dkk.(2016). Nursing Intervention Classification. Ed: 6. Elsevier

9.

Singapore: Cv. Mocomedia.


Bulechek, dkk.(2016). Nursing Intervention Outcome. Ed: 6. Elsevier Singapore:

10.

Cv. Mocomedia.
Ester, M. (2015). Nanda International Inc. Nursing Diagnoses: definitions &

11.

classification 2015-2017. Jakarta: EGC.


Nursalam. (2014). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. (Jilid kedua, Edisi ketiga).

12.

Jakarta : Balai Penerbit FKUI.


Price, Sylvia Anderson, Ph.D., R.N. (2010). Patofisiologi : Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. (Edisi keempat). Jakarta : EGC.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.