Anda di halaman 1dari 9

RISA DWI RIZKI

SI-224 PERANCANGAN STRUKTUR


22-2012-101
Kelas II C
BAWAH

Problem No.1
a) Teori Terzaghi
Teori ini berlaku untuk fondasi dangkal ( D B ) bila dianggap
fondasi panjang tak terhingga maka garis keruntuhan dapat
digambarkan sebagai berikut :

Tanah XYZ dibawah fondasi akan bergerak ke bawah dan


mengakibatkan desakan samping, akhirnya menimbulkan
keruntuhan menurut garis ZHF dan ZIG.
Terzaghi menurunkan rumus praktis untuk menghitung daya
dukung tanah sebagai berikut :
1. Untuk fondasi menerus
q = c.Nc + .D.Nq + 0,5..B.N
2. Untuk fondasi lingkaran
q = 1,3.c.Nc + .D.Nq + 0,6..R.N
3. Untuk fondasi bujur sangkar
q = 1,3.c.Nc + .D.Nq + 0,4..B.N
Dimana :
q = daya dukung keseimbangan
= berat isi tanah
B = lebar fondasi
D = kedalaman fondasi
C = kohesi tanah
Nc, Nq, dan N adalah faktor daya dukung tanah yang besarnya
tergantug dari sudut geser tanah. Jadi, jika akan menghitung daya
dukung tanah, perlu diketahui berat volume tanah (), kohesi
tanah (c), dan sudut geser tanah ().
Rumus daya dukung tanah Terzaghi tersebut berlaku pada
kondisi general shear failure yang terjadi pada tanah padat atau
agak keras, yaitu karena desakan fondasi bangunan pada tanah,
maka mula-mula terjadi penurunan kecil, tapi apabila desakan
bertambah sampai melampaui batas daya dukung ultimit, maka
akan terjadi penurunan yang besar dan cepat, dan tanah di bawah
fondasi akan mendesak tanah sekitarnya ke samping dan

menyebabkan tanah tersebut terdesak naik (bulge laut) di atas


permukaan tanah.
Pada lapisan tanah yang agak lunak, karena desakan fondasi
bangunan pada tana, maka akan tampak adanya penurunan yang
besar sebelum terjadi, keruntuhan pada keseimbangan tanah di
bawah fondasi. Kondisi ini disebut local shear failure, untuk
kondisi ini rumus daya dukung tanah Terzaghi harus diberi reduksi.
c = 2/3.c
tan = 2/3 tan
Dimana :
c = kohesi tanah pada saat local shear failure
= sudut geser tanah pada local shear failure
Serta faktor daya dukung tanah yang dipakai Nc, Nq dan N.
Untuk tanah non-kohesif, dapat digunakan pedoman:
1. local shear failure terjadi bila 28
2. general shear failure terjadi bila > 38

Untuk fondasi dalam yang berbentuk sumuran dengan D > 5B


Terzaghi menyarankan persamaan daya dukung dengan nilai
faktor-faktor daya dukung yang sama, hanya faktor gesekan

dinding fondasi diperhitungkan. Persamaan daya dukungnya


dinyatakan oleh :
Pu = Pu + Ps
= ku Ap + Dfs Df
Diana :
Pu= beban ultimit total untuk fondasi dalam
Pu = beban ultimit total untuk fondasi dangkal
Ps = perlawanan gesekan pada dinding fondasi
qu = 1,3.c.N + .D.Nq + 0,6..R.N
Ap = luas dasar fondasi
D = R = diameter fondasi
Fs = faktor gesekan
Tabel Gesekan Dinding (Fs) Terzaghi (1943)
Jenis Tanah
Lanau dan lempung lunak
Lempung sangat kaku
Pasir tak padat
Pasir padat
Kerikil padat

Fs (kg/cm2)
0,07 0,30
0,49 1,95
0,12 0,37
0,34 0,68
0,49 -0,96

b) Teori Meyerhof

Teori daya dukung Meyerhof (1974) mirip dengan Terzaghi, yaitu


menghitung tegangan geser dari tanah yang terletak di bawah telapak
pondasi. Namun, Meyerhof mengasumsikan mekanisme kegagalan
diperpanjang ke atas menuju permukaan tanah, yang digambarkan
pada gambar 2.1 berikut:

Pada tahun 1974 Meyerhof menyempurnakan teorinya dengan faktor


dalam menentukan daya dukung tanah, kedalaman pondasi, bentuk
pondasi, dan kemiringan beban. Persamaan daya dukung tanah
menurut Meyerhof adalah sebagai berikut:
qu = c.cscd.ci.Nc + q.cs.cd.ci + 0,5.s.d.i..B.N
Dimana :

cs, qs, s = faktor bentuk fondasi


cd, qd, d
= faktor kedalaman fondasi
ci, qi, i = faktor inklinasi atau kemiringan beban
Nc, Nq, N = faktor daya dukung

Untuk faktor bentuk, parameter yang menentukan adalah B, L, dan .


Untuk faktor kedalaman, parameter yang menentukan adalah B, Df, dan
. Sedangkan faktor inklinasi, parameter yang menentukan adalah
sudut . Sudut adalah sudut yang dibentuk dari kemiringan arah
beban yang diilustrasikan pada gambar 2.2 berikut :