Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sedimen
Secara umum sedimen adalah hasil dari proses pengendapan material
batuan, mineral atau bahan organik yang terbawa akibat adanya energi yang
memindahkan kemudian mengendap dalam jangka waktu tertentu, atau dengan kata
lain sedimen merupakan partikel batuan, mineral, atau bahan organik yang
terbentuk akibat proses pengendapan melalui perantara angin, air atau es (Gray &
Elliot 2009). Menurut sumbernya sedimen terbagi menjadi 4 sumber diantaranya
adalah Lithougenus, Biogeneuos, Cosmogerous, dan Hidreogenous. Sedimen
memiliki karakteristik kimia yang khas, terutama di kawasan pesisir. Pengaruh
ekosistem daratan dan laut menyebabkan sedimen pesisir memiliki rentang nilai
parameter kimia yang relatif besar dan beragam (Iwan 2007).
Sedimen laut merupakan bagian dari sumber daya kelautan yang sangat
penting yang menyimpan berbagai kekayaan, seperti minyak bumi, gas alam, dan
bahan tambang mineral. Sedimen laut juga menjadi sumber bahan organik bagi
berbagai vegetasi penting, misalnya mangrove, rumput laut, dan padang lamun.
Sedimen laut mengandung berbagai macam unsur bahan organik yang tinggi dan
kompleks. Berdasarkan laporan International Geosphere Biosphere Program
(IGBP) No. 33 dalam Kunarso dan Agustin (2012) perairan laut menerima
sebanyak 0,4 Giga ton material organik karbon (C) per tahun dalam bentuk terlarut
dan partikel yang berasal dari daratan melalui aliran sungai. Menurut Jorgensen
(1983), 5 sampai 10 milyar ton partikel bahan organik tenggelam dalam laut dunia
dan terakumulasi sebagai sedimen. Selain itu sedimen laut berperan penting dalam
siklus karbon dan nutrien bagi kehidupan di dunia ini. Sedimen laut menutupi 70%
permukaan bumi dan berperan penting dalam siklus karbon dan nutrien bagi
kehidupan di dunia ini (Rochelle et al. 1994). Selain itu, sedimen laut mengandung
mikroorganisme tertentu yang berpotensi untuk dimanfaatkan dalam teknologi
berbasis microbial fuel cell (MFC). Berbagai jenis sedimen telah digunakan pada

8
SMFC, yaitu sedimen laut, sedimen estuaria, rawa asin, sedimen danau, dan
sedimen sungai.
Secara lengkap Hedges & Oades (1997) menyatakan bahwa sedimen laut
memiliki kandungan Na+, Ca2+, dan Mg2+ yang sangat tinggi dengan pH berkisar
antara 7 8. Mucci et al. (2000) juga melaporkan bahwa sedimen laut pada
kedalaman 0,56 - 0,59 m memiliki kandungan karbon organik sebesar 4,69 % bobot
kering, fosfor 38 ppm, dan arsenik 29 mmol/gram.

2.2 Energi Alternatif


Energi adalah ukuran dari kesanggupan benda tersebut untuk melakukan
suatu usaha. Energi berasal dari bahasa Yunani yaitu energia yang berarti
kemampuan untuk melakukan usaha. Sedangkan menurut KKBI energi secara garis
besarnya didefinisikan daya atau kekuatan yang akan diperlukan untuk dapat
melakukan berbagai rangkaian proses kegiatan.
Konsumsi energi dunia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, yaitu
406 quadrillion Btu pada tahun 2000 menjadi 500 quadrillion Btu pada tahun 2010.
Menurut U.S. Energy Information Administration (2010), konsumsi energi dunia
sebagian besar berasal dari bahan bakar minyak yaitu 34,57%, kemudian diikuti gas
alam 23,45%, batu bara 26,04%, nuklir 5,53% dan bahan bakar terbarukan 10,41%.
Peningkatan kebutuhan akan bahan bakar fosil ini serta keterbatasan terhadap
cadangan persediaan sumber minyak bumi dunia menyebabkan krisis energi dunia
menjadi cepat berlangsung. Selain itu, penggunaan bahan bakar fosil sebagai
sumber energi utama juga merupakan salah satu faktor utama makin meningkatnya
kadar gas karbondioksida di udara yang menyebabkan timbulnya pemanasan global
(Logan 2008).
Energi alternatif berarti energi yang bukan berasal dari sumber energi
konvensional (bahan bakar fosil). Salah satu bentuk energi terbarukan atau
alternatif ialah pemanfaatan energi alam, seperti energi angin, surya, dan
gelombang pasang surut. Namun, penggunaan energi ini membutuhkan teknologi
penyimpanan yang baik ketika sumber energi tidak dapat dimanfaatkan secara
langsung (Sims et al. 2003). Selain itu, berbagai sumber energi alternatif lain yang

9
juga telah dikembangkan, antara lain meliputi biodisel (Ranganathan et al. 2008),
panas bumi (Mason et al. 2010), biomassa (Berndes et al. 2003), dan microbial fuel
cell (Hong et al. 2009b).

2.3 Fuel Cell


Fuel cell adalah teknologi elektrokimia yang secara kontinyu mengkonversi
energi kimia menjadi energi listrik selama terdapat bahan bakar dan pengoksidan
(Shukla et al. 2004). Dalam fuel cell, reaksi oksidasi terjadi pada anoda dan reaksi
reduksi terjadi pada katoda. Reaksi oksidasi menghasilkan elektron yang dialirkan
menuju katoda melalui sirkuit eksternal. Sirkuit menjadi sempurna dengan adaya
pergerakan ion positif melalui elektrolit menuju ruang katoda (Bullen et al. 2006).
Secara umum, prinsip kerja fuel cell dapat dilihat pada gambar 2.1

Gambar 2.1. Prinsip kerja fuel cell (Mench 2008).


Fuel cell ini terdiri dari elektrolit yang memisahkan katoda dari anoda,
elektrolit hanya dapat menghantar ion saja, sedangkan elektron tidak dapat
melewati elektrolit, jadi elektrolit ini bukan penghantar listrik dan juga
menghindarkan terjadinya reaksi kimia. Pada anoda akan dialirkan secara
berkesinambungan bahan bakar dan pada kattode dialirkan oksigen, pengaliran ini
dilakukan secara terpisah. Karena pengaruh katalisator pada elektroda, maka
molekul-molekul dari gas yang dialirkan akan berubah menjadi ion. Reaksi pada

10
anoda menghasilkan elektron yang bebas, sedang pada katoda elektron yang bebas
akan diikat (Suhada 2001).
Elektron-elektron bebas yang terjadi harus dialirkan keluar melalui
penghantar menuju ke anoda, agar proses listrik-kimiawi dapat berlangsung. Panas
yang timbul dari hasil reaksi kimia harus terus menerus dibuang, agar energi listrik
dapat terbentuk secara kontinyu.

Gambar 2.2. Skema fuel cell (Suhada 2001)


Reaksi kimia pada fuel cell.
2H2 + O2 2H2O
Pada anoda hidrogen di oksidasi menjadi proton :
2H2 4H+ + 4 e-
Setiap molekul H2 terpecah menjadi dua atom H+ (proton), sedang setiap
atom hidrogen melepaskan elektronnya. Proton ini akan bergerak menuju katoda
melewati membran.
Elektron yang terbentuk akan menghasilkan arus listrik kalau dihubungkan
dengan penghantar listrik menuju katoda. Pada katoda oksigen dirubah :
O2 + 4H+ + 4 e- 2H2O
Molekul oksigen akan bergabung dengan empat elektron, menjadi ion
oksigen yang bermuatan negatif untuk selanjutnya bergabung lagi dengan proton

11
yang mengalir dari anoda. Setiap ion oksigen akan melepaskan kedua muatan
negatifnya dan bergabung dengan dua proton, sehingga terjadi oxidasi menjadi air
(Suhada 2001).
Fuel cell konvensional beroperasi dengan menggunakan bahan kimia
anorganik sederhana, seperti hidrogen dan metanol (MeOH), dan menghasilkan
energi, air, dan karbondioksida (pada kasus metanol). Fuel cell konvensional
dianggap bersuhu rendah jika beroperasi pada kisaran suhu 80C (Bullen et al.
2006).
2.3.1. Tipe Fuel Cell
Saat ini berbagai jenis fuel cell telah diteliti dan dikembangkan. Jenis fuel
cell ditentukan oleh material yang digunakan sebagai elektrolit yang mampu
menghantar proton (Widia dan Nur 2012).
1. Fuel Cell Kimiawi
Fuel cell adalah alat yang mampu menghasilkan listrik arus searah. Alat ini
terdiri dari dua buah elektroda, yaitu anoda dan katoda yang dipisahkan oleh sebuah
membran polimer yang berfungsi sebagai elektrolit. Membran ini sangat tipis
dengan ketebalan beberapa mikrometer. Berbagai tipe fuel cell kimiawi dapat
dilihat pada Tabel 2.1.
Tipe Fuel cell Ion Suhu Operasi (C)
Alkalin (AFC) OH- 50-200
Proton exchange membran H 50-100
(PEMFC)
Phosphoric acid (PAFC) H 220
Molten carbonat (MCFC) CO32- 650
Solid oxide (SOFC) O2- 500-1000
Tabel 2.1. Jenis fuel cell anorganik Sumber: Larminie dan Dicks (2000)

2. Biological Fuel Cell


Fuel cell yang menggunakan komponen biologis seperti organisme disebut
biological fuel cell (BFC). Biofuel cell adalah sebuah peralatan yang mengubah
energi biokimia menjadi energi listrik secara langsung. Energi penggerak biofuel

12
cell adalah reaksi redoks dari subtrat karbohidrat seperti glukosa dan metanol
menggunakan mikroorganisme atau enzim sebagai katalis.
Biological fuel cell ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu microbial fuel cell
(MFC) dan enzymatik fuel cell. Biological fuel cell yang menggunakan
mikroorganisme disebut Mikrobial Fuel Cell (MFC), sedangkan yang
menggunakan enzim disebur Enzymatik Fuel Cell (EFC). Prinsip kerja biofuel cell
mirip dengan fuel cell. Perbedaan utamanya terletak pada katalis dimana pada
biofuel cell katalis yang digunakan adalah mikroorganisme atau enzim. Produk
samping yang dihasilkan oleh BFC pada kondisi ideal hanya berupa gas
karbondioksida dan air (Justin, 2004).
Tabel 2.2. Perbandingan Fuel Cell Biologis dan Fuel cell Kimiawi
No Parameter Fuel cell biologis Fuel cell kimiawi
1 Katalis Mikroorganisme/enzim Logam mulia
2 pH 7.0 9.0 (pH < 1)
3 Temperatur 22 25 0C >200 0C
4 Elektrolit Larutan fosfat Asam fosfat
5 Kapasitas Rendah Tinggi
6 Efisiensi Lebih dari 40% 40 60 %
7 Tipe bahan bakar Karbohidrat dan hidrokarbon Gas alam, H2, dll

2.3.2. Kelebihan Fuel cell


Keunggulan utama fuel cell dibandingkan dengan pembangkit konvensional
adalah sebagai berikut :
1. Mempunyai efisiensi tinggi dari 40 % sampai 60 %
2. Tidak menimbulkan suara bising
3. Konstruksinya modular sehingga fleksibel dalam menyesuaikan dengan
sumber bahan bakar yang ada
4. Mampu menanggapi dengan cepat terhadap perubahan bahan bakar atau
oksigen (Hasan 2007).

13
2.4 Microbial fuel cell
Microbial fuel cell merupakan salah satu dari fuel cell berbasis biologi.
Penggunaan mikroba dalam fuel cell ini menggantikan fungsi dari enzim, sehingga
dihasilkan substrat yang lebih murah (Shukla et al. 2004). Microbial fuel cell
merupakan suatu alat yang dapat menghasilkan listrik dari komponen organik
melalui katabolisme pada mikrobial. Elektron dihasilkan selama proses oksidasi
yang dilakukan oleh mikroba, kemudian elektron akan berpindah melalui membran.
Microbial fuel cell (MFC) dikenal sebagai teknologi yang dapat
menghasilkan energi listrik yang terbarukan, melalui proses degradasi bahan
organik oleh mikroorganisme dengan reaksi katalitik (Logan 2008). Berbagai
mikroorganisme berperan dalam MFC, baik yang bersifat aerob, anaerob fakultatif
maupun anaerob obligat. MFC mempunyai berbagai kelebihan seperti efisiensi
yang tinggi, kondisi operasi yang lunak, tidak dibutuhkannya energi input, dan
dapat diaplikasikan pada berbagai tempat yang memiliki infrastruktur listrik yang
kurang (Rabaey & Verstraete 2005).
Teknologi MFC memiliki keunggulan dari alat pembangkit listrik mikro
lainnya menurut Lovely (2006) dalam Novitasari (2011) menyatakan bahwa
teknologi MFC dapat digunakan secara kontinyu hingga bahan pencemar terurai
menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan oleh MFC (hidrogen). Artinya produksi
listrik dapat dilakukan secara terus menerus tanpa ada jeda waktu istirahat. Akan
tetapi yang perlu dimonitoring adalah konsentrasi senyawa yang terdapat pada
subtrat harus selalu diberikan agar bakteri dapat tumbuh dengan baik. Selain itu
juga teknologi MFC dapat menghasilkan listrik dari sampah organik dan anorganik
yang terbarui, sehingga dapat dijadikan pengembangan alternatif energi mikro.
Bagian utama rangkaian MFC umumnya terdiri atas anoda, katoda dan
peralatan elektronik (Logan et al 2006). Berbagai bahan anoda yang telah diuji coba
pada MFC adalah perak (Liu & Mattiason, 2002), stainless steel (Dumas et al.,
2007), dan platina (Schroder, 2007).

14
2.4.1. Prinsip kerja Microbial Fuel Cell
MFC merupakan seperangkat alat yang menggunakan mikroorganisme
biokatalis untuk mengoksidasi senyawa organik dan anorganik, dan menghasilkan
arus (Schroder, 2007). Prinsip kerja MFC mirip dengan hidrogen fuel cell, yaitu
terdapat aliran proton dari ruang anoda menuju ruang katoda melalui membran
elektrolit dan aliran elektron yang bergerak ke arah yang sama melalui kabel
konduksi (Hoogers, 2002).
Secara umum mekanisme prosesnya adalah substrat dioksidasi oleh bakteri
menghasilkan CO2, elektron dan proton (H+). Anoda dan katoda pada MFC dapat
digunakan sebagai akseptor elektron yang dapat menarik elektron bebas hasil
metabolisme bakteri. Anoda memiliki peran sebagai penarik elektron bebas,
kemudian melalui anoda, elektron akan ditransfer menuju sirkuit eksternal.
Sedangkan katoda berperan sebagai penarik proton hasil metabolisme yang akan
bereaksi dengan O2 membentuk air (H2O). Hidrogen merupakan unsur yang
digunakan untuk reaksi reduksi dengan oksigen, sehingga melepaskan elektron
suatu senyawa pada anoda sebagai sumber listrik.
Ada beberapa mekanisme pelepasan elektron dari bakteri menuju anoda,
meurut Liu (2008) diantaranya adalah transfer elektron secara langsung, transfer
elektron dengan bantuan media dan transfer elektron dengan nanowire pada
membran sel. Perbedaan dari ketiga mekanisme di atas terletak pada cara pelepasan
elektron menuju anoda. Ketika transpor elektron terjadi maka dibutuhkan akseptor
elektron akhir, pada kondisi aerob oksigen yang tersedia berguna sebagai akseptor
elektron. Ketika pada kondisi kurang oksigen penggunaan sulfida dan nitrat
merupakan akseptor elektron pengganti, namun kurang baik karena dapat berubah
jumlahnya sehingga dibutuhkan akseptor elektron yang dapat disesuaikan dengan
lingkungan bakteri agar tidak bersifat toksik dan tidak berubah ubah jumlahnya.
Penggunaan karbon grafit menjadi solusi sebagai akseptor elektron karena bentuk
yang solid membuat kuantitasnya tiddak berubah dan aman bagi lingkungan
(biocompatible). Prinsip kerja MFC secara umum dapat dilihat pada Gambar 2.3

15
Gambar 2.3 Prinsip kerja MFC (Liu dan Logan, 2004)

Dilihat dari gambar 2.3. prinsip kerja MFC adalah memanfaatkan mikroba
yang melakukan metabolisme terhadap medium di anoda untuk mengkatalis
pengubahan materi organik menjadi energi listrik dengan mentransfer elektron yang
diperoleh dari substrat yang telah dioksidasi dan ditransfer ke anoda (Reguera et al.
2005). Elektron yang diterima di anoda kemudian dialirkan melalui sirkuit eksternal
sebelum bereaksi dengan penerima elektron di katoda.
Elektron yang dihasilkan dari sel mikroorganisme harus dipindahkan dari
dalam membran sel menuju elektroda untuk menghasilkan arus listrik. Setiap
aktivitas metabolisme yang dilakukan mikroba umumnya melibatkan pelepasan
elektron bebas ke medium (Madigan et a., 1997). Elektron ini dapat dimanfaatkan
langsung pada anoda dalam MFC untuk menghasilkan arus listrik. Ion ion
elektron dan proton inilah yang menghasilkan perbedaan potensial listrik sehingga
dapat dihasilkan eergi (Fikri, 2011).
Kinerja MFC dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti konfigurasi reaktor,
jenis kultur atau substrat, dan berbagai parameter operasional seperti pH, DO
(oksigen terlarut), dan kekuatan elektrolit (Kim Is, et al., 2008).

2.4.2. Mikroorganisme dalam Microbial Fuel Cell


Organisme yang digunakan dalam MFC terdahulu adalah ragi roti, namun
dalam penelitian selanjutnya ditemukan bakteri yang berasal dari dasar teluk
Finlandia. Alasan yang menyebabkan penggunaan bakteri adalah karena bakteri
lebih bersifat tahan terhadap lingkungan ekstrim seperti pH (derajat keasaman yang

16
tinggi atau basa yang tinggi) sehingga potensial anoda lebih rendah. Oleh karena
itu, perbedaan potensial yang tinggi akan terjadi diantara ujung-ujung elektroda.
MFC merupakan fuel cell dengan memanfaatkan materi organik sebagai
nutrien dan substrat pertumbuhan bagi mikroba dalam melakukan aktivitas
metabolisme (Mohan et al., 2007). Bakteri yang dipakai dalam MFC ini berada
dalam keadaan konsorsium, artinya tidak dalam koloni murni yang sejenis, tetapi
banyak jenisnya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Holmes et al. (2004) pada
berbagai jenis sedimen, yaitu sedimen laut, sedimen rawa asin, dan sedimen air
tawar diperoleh hasil bahwa Deltaproteobacter merupakan bakteri yang dominan
terdapat pada anoda sedimen MFC dan beberapa jenis bakteri lain yang
diidentifikasi, yaitu Gammaproteobacteria, Cytophagales, dan Firmicutes.
Sebagian besar bakteri yang telah diidentifikasi mampu menghasilkan listrik pada
fuel cell adalah bakteri pereduksi logam, seperti Geobacter sulfurreducens
Shewanella putrefaciens (Kim et al., 2007), Clostridium butyricum (Park et al.,
2001), Rhodoferax ferrireduncens (Chaudhuri dan Lovely, 2003), dan Aeromonas
hydrophila (Pham et al., 2003). Penelitian terakhir menunjukkan pembangkit listrik
MFC dapat dihasilkan oleh bakteri penghasil mediator atau penukar elektron dari
sekelompok bakteri yang terdiri dari Alcaligenes faecalis, Enterecoccus faecium,
dan Pseudomonas aeruginosa (Rabaey et al., 2004).
2.4.3. Komponen MFC
Komponen penyusun dari MFC terdiri dari elektrolit (anoda, katoda),
elektroda dan membran penukar kation. Anoda berperan sebagai tempat terjadinya
pemecahan hidrogen (H2) menjadi proton dan elektron (listrik). Katoda berperan
sebagai tempat terjadinya reaksi penggabungan proton, elektron dan oksigen untuk
membentuk air.
1. Elektrolit
Elektrolit adalah media untuk mengalirkan proton. Elektrolit terdiri dari
anoda dan katoda. Anoda disimpan pada ruang anaerob dimana terjadi reaksi
oksidasi. Anoda harus bersifat konduktif, biocompatible (sesuai dengan
makhluk hidup), dan secara kimia stabil di dalam larutan bioreaktor. Material

17
anoda yang paling umum digunakan adalah karbon, dalam bentuk lempeng
grafit (padat, batang atau granula), dalam bentuk material fiber atau berserat
dan dalam bentuk glass carbon. Material ini digunakan karena
konduktivitasnya yang tinggi, stabil, strukturnya kuat, memiliki permukaan
yang cocok untuk perkembangan biofilm dan luas permukaan yang besar.
Karakteristik karbon yang ideal adalah pada rentang pH antara 5-66 (50g/L
H2O, 200C), titik leleh 38000C. (Novitasari, 2011).
Katoda disimpan pada ruang aerob dimana terjadi reaksi reduksi. Material
karbon seperti grafit plate dan grafit felt dapat langsung digunakan sebagai
katoda.
2. Elektroda
Ada bermacam material yang dapat digunakan sebagai elektroda dalam
MFC, seperti platina, platina hitam, grafit, karbon pasta dan lain lain.
Pemilihan material elektroda akan sangat berpengaruh terhadap kinerja MFC.
3. Membran penukar kation
Membran penukar kation pada feul cell dapat pula digunakan sebagai
membran penukar kation pada MFC. Membran penukar kation merupakan
komponen penting dalam sistem fuel cell. Fungsi dari membran adalah sebagai
elektrolit dan pemisah dua gas reaktan. Sebagai elektrolit, membran fuel cell
menjadi sarana transportasi ion hidrogen yang dihasilkan oleh reaksi anoda
menuju katoda, sehingga reaksi pada katoda yang menghasilkan energi listrik
dapat terjadi (Kordesch, 1996 dan Yohan dkk, 2005). Membran yang memiliki
potensi yang sama sebagai membran penukar kation yaitu jembatan garam.
Jembatan garam berupa larutan garam/elektrolit kuat dalam agar agar,
misal NaCl, KNO3, dan K2SO4. Jembatan garam berfungsi untuk menjaga
kenetralan muatan listrik pada larutan. Jembatan garam dapat berperan sebagai
penukar kation antara dua reaktor. Jembatan garam akan melengkapi rangkaian
menjadi sebuah rangkaian/sel yang tertutup karena listrik hanya dapat mengalir
pada rangkaian tertutup. Dengan adanya jembatan garam terjadi aliran elektron
yang kontinyu melalui kawat pada rangkaian luar dan aliran ion-ion melalui
larutan sebagai akibat dari proses yang berlangsung. Selain harganya yang

18
murah juga konduktivitasnya cukup tinggi dan dapat menghantarkan proton
tanpa air. Funngso penggunnnaan agar-agar yaitu menjaga agar larutan pada
reaktor tidak mengalir ke reaktor lainnya karena sifat agar yang memadatkan
larutan elektrolit. Sehingga transfer proton dari anoda ke katoda dapat
berlangsung dengan baik.
2.4.4. Tipe tipe MFC
Banyaknya penelitian yang telah dilakukan mengenai MFC ini berikut tipe
tipe MFC ;
1. Single-Chamber Microbial Fuel Cell
Single-chamber MFC adalah sistem dimana anoda dan katoda
berada dalam satu bejana. Sistem ini memiliki potensi menghasilkan daya
yang besar. Pada sistem single-chamber MFC dengan katoda yang
terekspos udara daya yang dihasilkan lebih besar karena ketersediaan
oksigen yang lebih tinggi dibandingkan oksigen yang tersedia di air (Liu,
2008)
Daya yang lebih tinggi didapatkan dari sistem tanpa membran
karena dengan berkurangnya resistansi internal. Salah satu tantangan dalam
sistem tanpa membran adalah cepatnya difusi udara melalui katoda sehingga
menurunnya Coloumbic Efficiency (CE) karena substrat digunakan oleh
bakteri aerob (Liu dan Logan 2004). Difusi oksigen juga membatasi jarak
antara anoda dan katoda dalam bejana menjaddi sekitar 1 2 cm (Cheng et
al., 2006).

Gambar 2.4 single-chamber MFC (Schwartz, 2007)

19
2. Dual-Chamber Microbial Fuel Cell
Microbial Fuel Cell dijalankan dengan sistem dual-chamber atau
dua bejana disusun dengan ruang anoda berisi bakteri yang kemudian
dipisahkan oleh membran atau jembatan garam dengan ruang katoda. Ruang
katoda biasanya diisi larutan yang kemudian diberi aerasi untuk
menyediakan oksigen (Liu 2008).

Gambar 2.5. dual-chamber MFC (Schwartz, 2007)


2.5 Sediment Microbial Fuel Cell (SMFC)
Sediment microbial fuel cell (SMFC) merupakan bentuk pengembangan
dari microbial fuel cell (MFC). Prinsip kerja dari SMFC sangat sederhana, dimana
dua elektroda yang saling terhubung ditempatkan, yaitu anoda pada kedalaman
sedimen yang bersifat anaerobik dan katoda pada badan air laut yang mengandung
oksigen terlarut (Lovley 2006). Secara alami, mikroorganisme mengoksidasi bahan
organik yang tersedimentasi dari kolom air dan mereduksi Fe (III) atau Mn (IV).
Beberapa jenis mikroorganisme juga mendegradasi bahan organik kompleks
sehingga menghasilkan produk fermentasi, seperti asetat, dan penerima elektron,
seperti senyawa aromatik dan asam lemak rantai panjang. Asumsi mekanisme kerja
SMFC pada sedimen laut serupa dengan rantai makan mikroorganisme yang
menggunakan anoda (elektroda) sebagai penerima elektron menggantikan Fe (III)
dan Mn (IV). Model produksi listrik MFC pada sedimen laut pada gambar 2.6

20
Gambar 2.6 Model produksi listrik MFC pada sedimen laut (Liu dan Logan 2004).

Bagian utama rangkaian SMFC umumnya terdiri atas anoda, katoda dan
peralatan elektronik (Logan et al. 2006). Berbagai bahan anoda yang telah
dicobakan pada MFC adalah perak (Liu dan Mattiasson 2002), stainless steel
(Dumas et al. 2007), dan platina (Schroder 2007), namun SMFC umumnya
menggunakan karbon sebagai bahan anoda, karena cocok untuk pertumbuhan
bakteri, mudah dihubungkan dengan kabel dan harganya yang relatif murah (Logan
2008; Scott et al. 2008). Posisi anoda biasanya ditanam dalam sedimen, selanjutnya
memanfaatkan mikroorganisme yang terdapat di dalamnya.
Prinsip kerja dari SMFC yang menggunakan mikroorganisme hidup dalam
reaksi elektrokimia, menjadikan sistem MFC sangat sensitif terhadap perubahan
kondisi lingkungan yang dapat membunuuh mikroorganisme tersebut (Mench
2008). Struktur dan aktivitas mikroorganisme dipengaruhi oleh berbagai parameter
yaitu suhu, pH, potensial redoks, dan kekuatan ion (Torres et al. 2008).
Liu et al. (2005) juga menyatakan bahwa kinerja SMFC secara umum
tergantung dari komponen-komponen penyusunnya, yang meliputi jenis dan
struktur elektroda, ada atau tidaknya membrane penukar proton, serta kelengkapan
membrane. Jenis bahan dan struktur anoda berdampak pada penempelan
mikroorganisme, transfer electron, dan oksidasi substrat. Bahan yang biasa
digunakan sebagai anoda adalah karbon (carbon cloth atau graphite felt) karena
stabil terhadap kultur mikroba, memiliki konduktivitas yang tinggi, dan luas

21
permukaan yang besar (Watanabe 2008). Namun penggunaan elektroda berbasis
karbon pada katoda akan mengakibatkan ketidakefisienan (Kim et al. 2002),
sehingga perlu dilakukan pelapisan dengan katalis, misalnya platinum (Pham et al.
2004).
Kondisi lingkungan, seperti konduktivitas, juga mempengaruhi kinerja dari
SMFC. Air laut memiliki konduktivitas listrik yang tinggi, yaitu sebesar 50,000
S/cm, dibandingkan air sungai yaitu sebesar 500 S/cm. Oleh karena itu, SMFC
dengan menggunakan air laut dapat menghasilkan energi yang lebih besar
dibandingkan dengan menggunakan air sungai (tawar). Produksi listrik pada SMFC
juga ditentukan oleh jenis katalis pada katoda, bahan yang digunakan pada
elektroda dan jarak kedua elektroda (Lowy et al. 2006).

22