Anda di halaman 1dari 2

Statin dan Risiko Katarak

Para pasien yang diterapi dengan statin mengalami peningkatan


risiko terjadinya katarak-berhubungan-dengan-umur (age-related (AR) cataracts)
50% lebih besar dibandingkan dengan pasien-pasien lainnya yang tidak diterapi
dengan statin. Bahkan pasien-pasien penderita diabetes yang diterapi dengan statin
mengalami risiko yang lebih besar lagi. Kesimpulan ini merupakan hasil penelitian

Waterloo Eye Study yang dilakukan oleh Dr Carolyn Machan dan rekan dari
University of Waterloo, Ontario, Kanada. Penelitian ini juga telah dipublikasikan
dalam Optometry and Vision Science edisi bulan Agustus 2012. Diabetes melitus
merupakan faktor risiko terjadinya katarak yang berhubungan dengan umur (age-
related (AR) cataracts). Menurut prediksi, pada tahun 2025, kurang lebih 300 juta
orang di seluruh dunia akan menderita diabetes dan diperkirakan juga akan ada
peningkatan kejadian katarak.

Obat-obat golongan statin (HMG-CoA reductase inhibitors) merupakan obat anti-


hiperkolesterolemia yang telah digunakan secara luas untuk menurunkan risiko
kardiovaskuler pada pasien diabetes, baik dengan atau tanpa peningkatan kadar
kolesterol LDL (low density lipoprotein). Penelitian pada hewan memperlihatkan
adanya hubungan yang nyata antara terjadinya katarak dengan terapi statin secara
kronik. Beberapa penelitian pada manusia juga memperlihatkan bahwa pemberian
statin justru menurunkan risiko katarak, yang diperkirakan terjadi karena efek anti-
inflamasi dan antioksidan dari statin. Namun data-data lainnya menunjukkan bahwa
ternyata pemberian statin berhubungan dengan pembentukan katarak. Hipotesa
yang ada adalah bahwa obat antihiperkolesterolemia seperti statin dapat
menghambat pembentukan kolesterol pada lensa manusia, walau hal ini belum
diketahui dengan pasti dan memerlukkan penelitian lebih lanjut dan mendalam
mengenai hal ini. Selain itu perlu juga diketahui tipe katarak apa saja yang dapat
terjadi dengan penggunaan statin, misalnya seperti tipe sklerosis nuklear, katarak
kortikal, dan atau katarak subkapsular posterior.

Penelitian Waterloo Eye Study merupakan penelitian analisa yang meneliti data dari
6397 pasien dengan atau tanpa diabetes. Para ahli melakukan pembagian kelompok
sebagai berikut: pasien diabetes yang diterapi dengan statin (n=452) dan pasien
yang diterapi dengan statin namun tidak menderita diabetes melitus (n=5884). Umur
rerata pasien-pasien penderita diabetes adalah 14 tahun lebih tua dibandingkan
pasien tanpa diabetes. Pengguna statin rerata 38 tahun adalah 56% untuk pasien
penderita diabetes dan 16% untuk pasien tanpa diabetes.

Hasil analisa yang dilakukan memperlihatkan bahwa penderita diabetes mengalami


risiko lebih besar untuk mengalami katarak (odds ratio [OR] 1,86; 95% CI 1,34-2,59),
setelah dilakukan pengaturan dan penyesuaian terhadap banyak variable seperti
umur, jenis kelamin, merokok dan tekanan darah. Diagnosis diabetes juga disertai
dengan peningkatan risiko berbagai macam katarak yang berbeda-beda: sclerosis
nuklear (84%) dan katarak subkapsuler posterior (52%), dan katarak kortikal (38%).
Pemberian statin juga disertai dengan peningkatan risiko katarak yang disebebkan
oleh umur (age-related cataracts) (OR 1,57; 95% CI 1,15-2,13) dan beberapa
subtype tertentu seperti sklerosis nuklear sebesar 48% dan katarak subkapsuler
posterior (48%), dan tanpa peningkatan risiko katarak kortikal

Para ahli dalam penelitian ini menemukan bahwa kejadian katarak bertambah cepat
pada pasien dengan diabetes yang diterapi dengan statin. Walau memang
peningkatan risiko katarak bisa terjadi, tidak bisa dilupakan adalah bahwa pemberian
statin sangat penting dalam menurunkan kadar hiperkolesterolmeia dan juga dalam
menurunkan kejadian kardiovaskuler dan serebrovaskuler pada pasien-pasien
dengan risiko tinggi. Pembicara lainnya, Dr Richard Karas dari Tufts University
School of Medicine, Boston, Amerika Serikat mengomentari bahwa hasil penelitian
ini merupakan observasi yang menarik namun hasil dari penelitian ini (bahwa
pemberian statin dapat meningkatkan risiko katarak) tidak perlu terlalu
dikhawatirkan. Pendapatnya adalah bahwa gangguan penglihatan memang
biasanya terjadi pada pasien-pasien usia lanjut, sehingga untuk menentukan apakah
risiko katarak meningkat karena umur atau pemebrian statin perlu ditunjang oleh
penelitian lanjutan untuk mengonfirmasi hasil penelitian Waterloo Eye Study ini.
(YYA)