Anda di halaman 1dari 77

UNIVERSITAS INDONESIA

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK


DALAM KONTEKS KESEHATAN MASYARAKAT PERKOTAAN

KARYA ILMIAH AKHIR NERS

FANUVA ENDANG TRI SETYANINGSIH


0906510823

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PROFESI NERS
DEPOK
JULI 2014

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
UNIVERSITAS INDONESIA

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK


DALAM KONTEKS KESEHATAN MASYARAKAT PERKOTAAN

KARYA ILMIAH AKHIR NERS

Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Ners Keperawatan

FANUVA ENDANG TRI SETYANINGSIH


0906510823

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PROFESI NERS
DEPOK
JULI 2014

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Karya ilmiah akhir ini adalah hasil karya saya sendiri,


dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Fanuva Endang Tri Setyaningsih


NPM : 0906510823
Tanda Tangan :

Tanggal : ...............................

ii
Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
HALAMAN PENGESAHAN

Karya ilmiah akhir ini diajukan oleh :


Nama : Fanuva Endang Tri Setyaningsih
NPM : 0906510823
Program Studi : Profesi Ners
Judul Skripsi : Asuhan Keperawatan Pasien Gagal Ginjal Kronik Dalam Konteks
Kesehatan Masyarakat Perkotaan

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai


persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ners pada Program
Studi Profesi Ners, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia

Pembimbing : Yulia, S.Kp., M.N. ( )

Penguji : Hanny Handayani, S.Kp., M.Kep ( )

Penguji : Ns Inna Tresnawati, S.Kep ( )

Ditetapkan di : Depok

Tanggal : . Juli 2014

iii
Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan karunia dan nikmat-Nya sehingga saya dapat terus melanjutkan
pendidikan profesi dan menyelesaikan karya ilmiah akhir ners ini. Karya ilmiah
akhir ners ini disusun untuk mencapai gelar Ners pada Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia. Karya ilmiah yang diajukan dengan judul Asuhan
Keperawatan Pasien Gagal Ginjal Kronik Dalam Konteks Kesehatan Masyarakat
Perkotaan ini bertujuan untuk menganalisis penyakit gagal ginjal dalam konteks
kesehatan masyarakat perkotaan.
Saya menyadari bahwa tanpa bantuan, bimbingan dan dukungan dari
berbagai pihak dari awal masa profesi hingga sekarang, sangat sulit bagi saya untuk
dapat menyelesaikan karya ilmiah akhir ini. Oleh karena itu, dengan segala
kerendahan hati saya mengucapkan terima kasih pada:
1. Orang tua dan keluarga saya atas dukungan dan doanya yang terus
tercurahkan.
2. Ibu Yulia, S.Kp., M.N. selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan
waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing saya mulai dari awal hingga
akhir selesai karya ilmiah akhir ini.
3. Seluruh perawat penyakit dalam gedung A RSUPN Cipto Mangunkusumo
yang telah rela membagikan ilmunya kepada generasi penerus keperawatan.
4. Teman-teman FIK UI 2009 yang mandiri, dan seluruh mahasiswa UI yang
telah sama-sama berjuang, saling bertukar semangat dan inspirasi.
5. Muda Ganesha terutama MG80 terutama Ibu Dwi Retnaning dan Jend.
Imam Edy Mulyono yang telah memberikan dukungan terbaiknya.
Akhir kata, saya berharap Allah SWT berkenan membalas kebaikan semua pihak
yang membantu. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu
pengetahuan.

Depok, Juli 2014


Penulis

iv
Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademika Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan dibawah ini
Nama : Fanuva Endang Tri Setyaningsih
NPM : 0906510823
Program Studi : Profesi Ners
Fakultas : Ilmu Keperawatan
Jenis : Karya Ilmiah Akhir

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exsclusive Royalty Free
Right) atas karya saya yang berjudul:

Asuhan Keperawatan Pasien Gagal Ginjal Kronik dalam Konteks Kesehatan


Masyarakat Perkotaan

beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif
ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola
dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan memublikasikan tugas akhir
saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai
pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Depok
Pada Tanggal : 11 Juli 2014
Yang menyatakan

(Fanuva Endang Tri Setyaningsih)

v
Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
ABSTRAK

Nama : Fanuva Endang Tri S.


Program Studi: Ilmu Keperawatan
Judul Skripsi : Asuhan Keperawatan Pasien Gagal Ginjal Kronik dalam Konteks
Kesehatan Masyarakat Perkotaan

Gagal ginjal kronis merupakan salah satu masalah kesehatan yang terjadi di
perkotaan. Pasien gagal ginjal kronis biasanya mengalami xerosis yang merupakan
gangguan pada integritas kulit dan berpengaruh pada kualitas hidup. Tujuan
penulisan ini adalah untuk melakukan analisis praktik mengenai pemakaian minyak
zaitun untuk mengatasi xerosis pada pasien gagal ginjal. Hasil dari pemakaian
minyak zaitun sebagai emolien mendapatkan hasil yang baik dalam mengatasi
xerosis. Rekomendasi dari penulisan ini adalah agar perawat menganjurkan
pemakaian minyak zaitun sebagai emolien untuk mengatasi xerosis pada pasien
gagal ginjal kronis.

Kata kunci: gagal ginjal kronis, keperawatan kesehatan masalah perkotaan, minyak
zaitun, xerosis

vi
Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
ABSTRACT

Name : Fanuva Endang Tri Setyaningsih


Program : Ners
Title : Nursing Care of Chronic Kidney Disease in Urban Health Nursing

Chronic kidney disease is one of urban health nursing problem. Chronic kidney
disease patients usually has xerosis as one of manifestations in skin integrity that
can influence quality of life. This article has purpose to analysis clinical practice
about using olive oil to solve xerosis in chronic kidney disease patients. Applying
olive oil as emollient is good treatment to solve xerosis. So, recommendation from
this article is nurse supposed to suggest the chronic kidney disease patient using
olive oil regularly for xerosis treatment.

Key words: chronic kidney disease, olive oil, urban health nursing, xerosis

vii
Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i


LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ....................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN ..................................................................................... iii
KATA PENGANTAR ............................................................................................. iv
PERSETUJUAN PUBLIKASI ................................................................................ v
ABSTRAK ................................................................................................................ vi
ABSTRACT ............................................................................................................... vii
DAFTAR ISI ............................................................................................................ viii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................ xi

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................ 2
1.3.1 Tujuan umum .................................................................. 2
1.3.2 Tujuan khusus ................................................................. 2
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Pelayanan Keperawatan ................................................. 3
1.4.2 Pendidikan ....................................................................... 3
1.4.3 Penelitian Selanjutnya .................................................... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan ........................... 4
2.2 Chronic Kidney Disease/Gagal Ginjal Kronik ............................. 4
2.2.1 Faktor Resiko Chronic Kidney Disease ........................ 6
2.2.2 Manifestasi Klinis ........................................................... 9
2.2.3 Komplikasi ...................................................................... 14
2.2.4 Penanganan ..................................................................... 16
2.3 Asuhan Keperawatan ................................................................... 16
2.3.1 Pengkajian Keperawatan ................................................. 16
2.3.2 Diagnosa Keperawatan ................................................... 18
2.4 Pemakaian Pelembab pada Xerosis di Pasien CKD................... 18

BAB 3 TINJAIAN KASUS KELOLAAN


3.1 Pengkajian ....................................................................................... 20
3.2 Pemeriksaan Penunjang ................................................................. 23
3.3 Analisis Data ................................................................................... 24
3.4 Rencana Asuhan Keperawatan dan Implementasi ....................... 25
3.5 Evaluasi Keperawatan .................................................................... 26

viii
Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
BAB 4 ANALISIS SITUASI
4.1 Analisis Kasus Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan ..... 28
4.2 Analisis Kasus .................................................................................... 31
4.3 Analisis Intervensi dengan Konsep dan Penelitan Terkait ............... 36
4.4 Alternatif Pemecahan yang dapat dilakukan ..................................... 38

BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 40
5.2 Saran .................................................................................................... 40

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 42

ix
Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Xerosis ................................................................................................. 11


Gambar 2.2. Purpura ................................................................................................ 11
Gambar 2.3. Uremic frost ........................................................................................ 13
Gambar 2.4. Diskolorasi kuku pada Lindsays nail ............................................... 13
Gambar 3.1. Hasil pemeriksaan USG Ginjal .......................................................... 23

x
Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lembar Hasil Pemeriksaan


Lampiran 2 Rencana Asuhan Keperawatan
Lampiran 3 Catatan Keperawatan
Lampiran 4 Daftar Medikasi
Lampiran 5 Daftar Riwayat Hidup

xi
Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Prevalensi Chronic Kidney Disease atau CKD semakin meningkat. Di US
prevalensi CKD meningkat dari 10% (1988-1994) hingga 13% (1999-2004)
dari populasi penduduk dewasa (Chores et al, 2007 dalam Monhart, 2013).
Data mengenai peningkatan prevalensi CKD juga ditunjukkan di China yaitu
sebanyak 13% (Zhang et al dalam Monhart, 2013) dan Australia sebanyak
16% (Chadban et al dalam Monhart, 2013). Jumlah penderita CKD pada
usia dewasa dengan beberapa stage di negara berkembang diestimasikan
lebih dari 10% (US Renal Data System, 2000; Xue et al, 2001;
Winkelmayer et al, 2002; Szech & Lazar, 2004; US Renal Data System,
2009 dalam Novoa et al, 2010).

Global epidemik dari gagal ginjal telah diakui sebagai masalah besar pada
kesehatan, tidak hanya pada negara maju, tetapi juga terjadi di Asia. Data
dari Western Australia menunjukkan bahwa glomerulonephritis, nefropati
diabetikum dan hipertensi terhitung sebanyak 80% menyebabkan CKD
(Departement of Health State of Western Australia, 2008). Hal ini
menunjukkan bahwa masalah gagal ginjal ini terbentuk dari campuran
masalah diabetes dan hipertensi, dimana angka kejadian diabetes dan
hipertensi sangat besar di Asia. Angka pertumbuhan populasi dan tingkat
urbanisasi mendukung Indonesia sebagai negara tertinggi ketiga di Asia
dengan angka CKD tertinggi setelah India dan China (Phillip et al, 2011).

Angka prevalensi CKD di Indonesia tahun 2013 tidak diketahui secara pasti
karena keterbatasan penelitian. Sedangkan kejadian CKD di RSUPN Cipto
Mangunkusumo sendiri mencapai pada tahun. Angka kejadian CKD
terhitung dari 1 Januari 2014 hingga 18 Juni 2014 telah terdapat sebanyak

1 Univeritas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
2

111 orang yang dirawat di ruang perawatan penyakit dalam Lt 7 Gd A


RSUPN Cipto Mangunksumo.

Angka kejadian gagal ginjal di perkotaan terjadi seiring adanya faktor resiko
gagal ginjal kronik yang terjadi pada masyarakat urban. Faktor resiko ini
berawal pada gaya hidup masyarakat perkotaan. Perubahan gaya hidup
perkotaan seperti aktivitas rendah, obesitas, perilaku merokok dan pola
makan minum meningkatkan resiko terjadinya penurunan fungsi ginjal.

Pada penyakit gagal ginjal terjadi masalah kelebihan cairan yang


ditunjukkan dengan adanya edema maupun penurunan volume urin output.
Manifestasi klinis lain yang dapat muncul pada pasien gagal ginjal yaitu
kondisi kulit kering dan bersisik (xerosis). Xerosis pada CKD ini jarang
mendapatkan perhatian dalam asuhan keperawatan maupun dari kedokteran.
Menurut penelitian Szepietowski, J.C. et al (2011) menunjukkan bahwa
kondisi kulit xerosis turut berpartisipasi menurunkan kualitas hidup
seseorang dengan gagal ginjal kronik tetapi masih kurang dipedulikan di
praktik klinik. Dimana keutuhan integritas kulit merupakan pemenuhan dari
kebutuhan akan safety dan self esteem dari teori Maslow. Oleh karena itu,
pasien dengan gagal ginjal perlu diperhatikan integritas kulitnya. Karya
ilmiah ini akan menganalisis praktik klinik keperawatan kesehatan masalah
perkotaan pada pasien gagal ginjal dengan xerosis di ruang perawatan
penyakit dalam gedung A RSUPN Cipto Mangunkusumo.

1.2. Tujuan Penulisan


1.2.1. Tujuan Umum
Menggambarkan analisis praktik klinik keperawatan kesehatan
masyarakat perkotaan pada pasien CKD di ruang rawat penyakit
dalam gedung A RSUPN Cipto Mangunkusumo
1.2.2. Tujuan Khusus
1. Melakukan analisa masalah keperawatan kesehatan masyarakat
perkotaan (KKMP) pada kasus CKD

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
3

2. Melakukan analisis masalah keperawatan terkait dengan kasus


pasien CKD
3. Melakukan analisis intervensi keperawatan berupa penggunaan
minyak zaitun dalam mengatasi xerosis pada pasien CKD

3.1. Manfaat Penulisan


3.1.1. Pelayanan Keperawatan
Penulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi alternatif
intervensi pemberian asuhan keperawatan pada kejadian xerosis
pasien CKD sehingga menjadi asuhan keperawatan yang holistik dan
komprehensif. Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan
semangat dan inspirasi kepada perawat untuk lebih kreatif dalam
memodifikasi dan menyusun asuhan keperawatan. Khususnya dalam
memberikan intervensi keperawatan kepada penderita CKD.
Intervensi yang diberikan diharapkan telah sesuai dengan penelitian
yang sudah ada.

3.1.2. Manfaat Bagi Pendidikan


Hasil penulisan ini diharapkan mampu memberikan informasi bagi
akademisi dan mahasiswa keperawatan terkait perkembangan ilmu
keperawatan khususnya dengan penyakit gagal ginjal yang
mengalami xerosis sehingga diharapkan dapat mengatasi masalah
xerosis pada pasien CKD.

3.1.3. Manfaat Bagi Penelitian Selanjutnya


Hasil penulisan ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk melakukan
penelitian yang serupa dengan kasus yang lain maupun dengan kasus
yang sama yaitu CKD. Selain itu, diharapkan di masa mendatang
akan banyak mahasiswa ataupun tenaga keperawatan yang mau
berkorban untuk membuat jurnal keperawatan berdasarkan
pengalaman praktiknya dalam memberikan asuhan keperawatan.

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan


Keperawatan kesehatan masalah perkotaan merupakan sintesis dari teori,
konsep dan prinsip masalah kesehatan daerah perkotaan melalui penerapan
ilmu dan teknologi keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan
pada klien dalam seluruh rentang kehidupan, mulai saat konsepsi
sampai dengan mencapai ajal (Buku Pedoman Kerja Mahasiswa Praktik
Klinik Keperawatan Kesehatan Masalah Perkotaan, 2014).

Kehidupan sekarang banyak dipengaruhi oleh teknologi dan globalisasi.


Globalisasi yang terjadi ini menimbulkan efek seperti mobilitas besar-
besaran (hyper-mobility), komunikasi global, dan proses penetralan terhadap
arti ruang dan jarak (Sassen, 2001). Perkembangan globalisasi yang terjadi
mempengaruhi kondisi secara internasional, dimana Indonesia termasuk
dalam negara yang mendapat dampak globalisasi. Globalisasi ini
menghasilkan perubahan kebijakan diantaranya yaitu implementasi
persetujuan World Trade Organization (WTO), revolusi Triple-T (revolusi
pada transportasi, telekomunikasi dan tourism), rehabilitasi dan konservasi
sumber daya alam, advokasi hak asasi, dan perubahan makanan (Suryana,
Ariani, & Lokollo, 2008). Hal ini menjadikan perkotaan sebagai salah satu
komponen yang mendapat pengaruh besar dari globalisasi.

2.2. Chronic Kidney Disease/Gagal Ginjal Kronik


Chronic Kidney Disease merupakan penurunan semua fungsi ginjal secara
progresif dan irreversible dimana ginjal menunjukkan kegagalan dalam
memelihara metabolisme keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga
berujung pada uremia atau azotemia (Smeltzer & Bare, 2000). National
Kidney Foundation dalam Kidney Disease Improving Global Outcomes
tahun 2012 mendefinisikan CKD sebagai penurunan semua fungsi atau
struktur ginjal yang abnormal terjadi lebih dari 3 bulan dan CKD
4 Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
5

diklasifikasikan berdasarkan penyebab, kategori GFR, dan kategori


albuminuria.

Kategori CKD berdasarkan Glomerulo Filtration Rate (GFR) menurut


National Kidney Foundation dalam Kidney Disease Improving Global
Outcomes (KDIGO) 2012 terbagi menjadi enam derajat. Derajat G1 yaitu
Gagal ginjal dengan GFR normal atau tinggi ( 90 ml/mnt/1,73m2). Derajat
G2 yaitu gagal ginjal dengan penurunan GFR ringan (60-89 ml/mnt/1,73m2).
Derajat G3a yaitu gagal ginjal dengan penurunan GFR sedang-sedang (45-
59 ml/mnt/1,73m2). Derajat G3b yaitu gagal ginjal dengan penurunan GFR
sedang-berat (30-44 ml/mnt/1,73m2). Derajat G4 merupakan gagal ginjal
dengan penurunan GFR berat yaitu nilai GFR 15-29 ml/mnt/1,73m2. Derajat
yang terakhir yaitu G5 atau gagal ginjal dengan GFR kurang dari 15
ml/mnt/1,73m2 atau mengalami dialisis. Sedangkan kategori CKD
berdasarkan albuminuria menurut National Kidney Foundation dalam
Kidney Disease Improving Global Outcomes (KDIGO) 2012 terbagi
menjadi tiga yaitu A1 dengan kadar albumin normal hingga peningkatan
albumin ringan (<30mg/g atau <3mg/mmol), A2 dengan peningkatan
albumin sedang (30-300 mg/g atau 3-30 mg/mmol) dan A3 dengan
peningkatan albumin berat (>300 mg/g atau >30 mg/mmol). Penggolongan
ini dilakukan karena dalam setiap tahapan gagal ginjal memerlukan
penanganan yang berbeda. Selain itu, tanda dan gejala yang muncul juga
dapat berbeda.

Penyakit ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologi dengan etiologi


yang beragam, menyebabkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan
pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Selanjutnya gagal ginjal adalah
suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang
ireversibel, pada suatu derajat yang memerlukan terapi penggantian ginjal
yang tepat berupa dialisis atau transplantasi ginjal (Suwitra, 2009).

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
6

2.2.1. Faktor Resiko Chronic Kidney Disease


Terdapat beberapa faktor resiko terjadinya chronic kidney disease. Faktor
tersebut yaitu diabetes, hipertensi, riwayat keluarga dengan penyakit
ginjal, penyakit kardiovaskular, infeksi HIV, riwayat batu ginjal, usia,
aktifitas fisik rendah, merokok, dan obesitas.
1) Diabetes
Diabetes dapat menyebabkan nefropati sebagai komplikasi
mikrovaskuler. Diabetes nefropati merupakan glomerulopati yang
paling banyak terjadi, dan merupakan penyebab pertama dari end
stage renal disease atau gagal ginjal tahap akhir di USA dan Eropa
(Molitch et al, 2004). Selain itu United States Renal Data System
(2009) menunjukkan bahwa sekitar 50% pasien dengan gagal ginjal
tahap akhir adalah penderita diabetes. Penelitian dari NHAES III,
HUNT II, UK cross-sectional study dan longitudinal study
menunjukkan bahwa diabetes berhubungan secara signifikan
meningkatkan resiko CKD (The National Collaborating Centre for
Chronic Conditions, 2008).
2) Hipertensi
Hipertensi merupakan penyebab kedua dari end stage renal disease
atau gagal ginjal tahap akhir. Sebagai contoh, berdasarkan United
States Renal Data System (2009), sekitar 51-63% dari seluruh pasien
dengan CKD mempunyai hipertensi (Novoa et al, 2010). Pada empat
penelitian lain di Australia, Washington, US menunjukkan orang
dengan hipertensi mempunyai resiko yang lebih besar untuk
berkembang menjadi CKD dibandingkan orang dengan normotensi
(The National Collaborating Centre for Chronic Conditions, 2008).
Hipertensi menyebabkan glomerulo nefropati dengan menurunkan
aliran darah ke renal yang menjadikan arteriolar vaskulopati,
obstruksi vaskular dan penurunan densitas vaskular. Kejadian ini akan
dikompensasi hingga tidak lama akan terjadi penurunan GFR.

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
7

3) Riwayat Keluarga dengan Penyakit Ginjal


Penelitian Freedman et al. (1997), Speckman et al. (2006)
menunjukkan riwayat penyakit keluarga dengan CKD tingkat akhir
dilaporkan oleh 20% orang dengan CKD tingkat akhir (The National
Collaborating Centre for Chronic Conditions, 2008).
4) Penyakit Kardiovaskular
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Elsayed et al pada tahun 2005,
orang dengan penyakit kardiovakular telah menunjukkan peningkatan
resiko secara signifikan pada penurunan fungsi ginjal dibanding
dengan orang tanpa penyakit kardiovaskular. (The National
Collaborating Centre for Chronic Conditions, 2008). Penyakit
kardiovaskular menyebabkan menurunnya aliran darah ke ginjal.
Penurunan perfusi renal mengaktivasi sistem renin-angiotensin-
aldosteron yang menyebabkan vasokonstriksi alteriol dan
meningkatkan tekanan glomerulus sehingga dapat menjadikan nefron
rusak. Kerusakan nefron ini berdampak pada penurunan laju filtrasi
glomerulus.
5) Infeksi HIV
Disfungsi ginjal merupakan komplikasi yang umum dari pasien yang
terinfeksi HIV baik akibat kerusakan dari virus itu sendiri maupun
dari keracunan obat. HIV infeksi yang berjalan dalam jangka waktu
yang lama merupakan waktu untuk berkembangnya kerusakan ginjal
(Biagio, et al, 2011). Hasil penelitian Biagio (2011) lebih lanjut
menjelaskan kerusakan yang terjadi melalui terpajanan langsung virus
menyebabkan berkembangnya HIV Associated Nephropathy
(HIVAN). Selain itu, kerusakan bisa terjadi akibat lamanya terpajan
dengan obat yang berpotensial bersifat nefrotoksik seperti IDV dan
TDF, juga obat yang digunakan dalam penanganan profilaksis infeksi
oportunistik.
6) Riwayat Batu Ginjal
Gillen et al (2005) menggunakan the Third National Health and
Nutrition Examination Survey (NHANES III) pada populasi di USA

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
8

mendapatkan data bahwa riwayat batu ginjal dapat menurunkan


fungsi ginjal pada orang dengan berat badan berlebih (overweight).
Penelitian Joseph J Keller, Yi-Kuang Chen dan Herng-Ching Lin
(2012) menunjukkan adanya hubungan antara gagal ginjal dan batu
ginjal tanpa memperhatikan lokasi batu ginjal tersebut.
7) Usia
Pada empat cross sectional study oleh Drey et al. (2003), Coresh et al.
(2003), Hallan et al. (2006), Chadban et al. (2003) menunjukkan
bahwa lansia (usia di atas 65 tahun) memiliki resiko lebih besar eGFR
<60ml/menit/1,73m2 dibandingkan usia muda (The National
Collaborating Centre for Chronic Conditions, 2008).
8) Aktivitas Fisik
Orang dengan aktivitas fisik yang rendah mempunyai resiko lebih
tinggi gagal ginjal tingkat akhir dibandingkan orang dengan aktivitas
fisik yang tinggi. Penelitian Stengel et al (2003) membuktikan orang
dengan aktivitas fisik sedang tidak signifikan mempunyai resiko gagal
ginjal dibandingkan dengan orang dengan aktivitas fisik yang tinggi
(The National Collaborating Centre for Chronic Conditions, 2008).
9) Merokok
Efek merokok pada penurunan fungsi ginjal telah diteliti melalui
penelitian kohort dan case control study. Pada penelitian kohort oleh
Orth et al. (2005) ditemukan bahwa kelompok perokok mengalami
penurunan fungsi ginjal sebanyak 20% setelah 5 tahun dibandingkan
dengan bukan perokok. Kejadian proteinuria meningkat pada kedua
kelompok perokok dan bukan perokok, tetapi tidak terdapat
perbedaan yang signifikan pada kedua grup (The National
Collaborating Centre for Chronic Conditions, 2008). Pada penelitian
kontrol kasus oleh Orth et al. (1998) menunjukkan bahwa perokok
secara signifikan menunjukkan proses menjadi gagal ginjal tingkat
akhir (The National Collaborating Centre for Chronic Conditions,
2008). Tiga penelitian lain yaitu Haroun, et al. (2003), Stengel et al.
(2003), Retnakaran et al. (2006) juga menunjukkan bahwa perokok

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
9

secara signifikan mempunyai resiko lebih tinggi untuk mendapatkan


penyakit gagal ginjal (The National Collaborating Centre for Chronic
Conditions, 2008).
10) Obesitas
Penelitian kohort (Kaiser) menemukan bahwa orang dengan Body
Mass Index (BMI) > 25 merupakan independen faktor untuk
terjadinya gagal ginjal. Sedangkan retrospective study di Norway
menemukan bahwa resiko terjadinya CKD meningkat bagi pasien
prehipertensi dengan BMI > 30. Pada penelitian Evans et al. (2005) di
Swedia menunjukkan Body Mass Index (BMI) tidak signifikan
meningkatkan resiko terjadinya penyakit ginjal. (The National
Collaborating Centre for Chronic Conditions, 2008). Gelber et al.
(2005) membuktikan bahwa resiko CKD meningkat seiring
peningkatan BMI ditunjukkan pada kelompok laki-laki dengan
peningkatan BMI >10% daripada laki-laki dengan BMI normal (The
National Collaborating Centre for Chronic Conditions, 2008).

2.2.2. Manifestasi Klinis


1) Manifestasi Dermatologis
a) Uremic Pruritus
Rasa gatal yang berhubungan dengan CKD telah lama dikenal
dengan uremic pruritus. Mekanisme terjadinya pruritus akibat
CKD masih sedikit dipahami. Pruritus ini dapat dirasakan secara
episodik maupun konstan, terlokalisasi maupun di seluruh tubuh
dan dengan intensitas sedang hingga berat (Sanai et al, 2010). Pada
penelitian Mirza R, Wahid Z, & Talat H (2012) ditemukan bahwa
64,6% pasien dengan hemodialisa mengalami pruritus. Beberapa
faktor yang mungkin berpengaruh menyebabkan pruritus
diantaranya kulit yang kering, dialisis yang tidak adekuat, anemia,
neuropati perifer, uremic toxins dan hiperparatiroid sekunder
(Mirza, Wahid, & Talat, 2012). Etter, L & Myers, S.A (2002)

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
10

melaporkan bahwa xerosis merupakan salah satu etiologi dari


uremic pruritus.

b) Xerosis
Xerosis merupakan kondisi kutan yang abnormal (kasar dan
bersisik) yang paling banyak ditemukan pada pasien CKD dengan
intensitas sedang hingga berat. Xerosis dominan terlihat pada
permukaan extensor dari lengan bawah, kaki dan paha (Sanai et al,
2010). Xerosis merupakan faktor penting yang berpengaruh pada
kejadian pruritus dan xerosis intensitas sedang hingga berat
meningkatkan 50-100% kejadian pruritus (Szepietowski, Reich,
Schwartz, 2004). Angka kejadian xerosis pada pasien CKD dengan
dialisis ditemukan sekitar 50-85% dan xerosis dengan proporsi
lebih besar ditemukan pada pasien dengan peritoneal dialisis
dibandingkan dengan hemodialisa (Szepietowski, Reich, Schwartz,
2004). Pada penelitian lain, ditemukan xerosis menjadi manifestasi
dermatologis kedua terbanyak setelah pruritus yaitu sebanyak 52%
dari populasi studi (Kolla, et al., 2012). Berbeda dengan penelitian
sebelumnya, penelitian oleh Mirza R, Wahid Z, & Talat H (2012)
menemukan bahwa xerosis merupakan temuan terbanyak dari
manifestasi dermatologis yaitu sebanyak 90,6%. Beberapa faktor
yang berkontribusi dalam memunculkan xerosis diantaranya adalah
penurunan ukuran dan fungsi kelenjar keringat ekrin serta atropi
kelenjar sebasea (Gagnon, & Desai, 2013; Mirza, Wahid, & Talat
H, 2012), penggunaan diuretik dosis tinggi dan perubahan
metabolisme vitamin A (Mirza, Wahid, & Talat, 2012).

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
11

Gambar 2.1. kiri xerosis kutis. Sumber: Gagnon, A.L, & Desai,
T, 2013, kanan xerosis uremic parah, terlihat bersisik dengan
beberapa fisura, Sumber Szepietowski, J.C., Reich, A, Schwartz,
RA, 2004

c) Purpura, ekimosis dan easy bruishing


Defek dari hemostasis seperti meningkatnya kerapuhan vaskular,
fungsi platelet yang abnormal dan penggunaan heparin selama
dialisis merupakan penyebab utama dari perdarahan abnormal pada
pasien CKD (Sanai et al, 2010). Purpura juga terlihat pada
kaitannya dengan trombositopenia. Pada penelitian Mirza R,
Wahid Z, & Talat H (2012) ditemukan bahwa 13,6% pasien
mengalami purpura.

Gambar 2.2. purpura, sumber Udayakumar, et al., 2006,

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
12

d) Perubahan Pigmentasi
Perubahan pigmentasi dapat terlihat pada pasien gagal ginjal
melalui dua tipe yaitu hitam kecoklatan dan kekuningan.
Penyebaran hiperpigmentasi hitam kecoklatan pada terik matahari
dapat bersifat retensi dari kromogen dan deposisi melanin pada
lapisan dasar dan superficial dermis terkait kegagalan ginjal
mengekskresikan beta melanocyte stimulating hormone (-MSH)
(Sanai et al, 2010). Bercak hiperpigmentasi pada telapak tangan
dan kaki telah dilaporkan oleh Pico et al dan juga berhubungan
dengan peningkatan sirkulasi -MSH (Sanai et al, 2010).
Sedangkan diskolorasi kekuningan pada kulit ditemukan pada 40%
pasien di berbagai penelitian. Diskolorasi kekuningan berhubungan
dengan akumulasi karotenoid dan pigmen nitrogen (urochromes)
pada kulit. Pada penelitian Mirza R, Wahid Z, & Talat H (2012)
ditemukan bahwa 54% pasien terjadi perubahan pigmentasi dengan
jumlah yang sama antara pasien dengan hemodialisa maupun
dengan peritoneal dialisis.
e) Pallor
Pallor pada kulit terjadi akibat anemia yang terjadi pasien CKD.
Pada pasien CKD terjadi penurunan eritropoesis dan peningkatan
hemolisis yang berdampak pada pucat (Sanai et al, 2010).
f) Uremic Frost
Pada waktu sebelum ada penanganan berupa dialisis, banyak
ditemukan uremic frost sebagai temuan dematologis. Pasien CKD
dengan uremic frost menunjukkan kadar blood urea nitrogen
(BUN) lebih dari 250-300 mg/dl (Sanai et al, 2010). Hal ini
menyebabkan konsentrasi urea pada keringat meningkat dan
setelah evaporasi, terjadi deposisi kristal urea pada permukaan
kulit. Kondisi ini sekarang jarang ditemukan karena telah
dilakukan intervensi awal dan hemodialisa.

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
13

Gambar 2.3 uremic frost, Kristal putih yang rapuh disekitar wajah
Sumber: Chin-Chi, K et al (2010)

g) Half and Half Nails


Half and half nails disebut juga dengan Lindsays nail ditemukan
sebanyak 21% dari pasien dengan dialisis (Udayakumar, et al.,
2006). Lindsays nail ini terlihat diskolorasi pada kuku dengan
porsi warna putih pada bagian proksimal dan bagian distal
berwarna pink kemerahan hingga coklat. Diskolorasi ini tidak
berubah seiring tumbuhnya kuku mengindikasikan bahwa masalah
bermula pada nail bed. Diskolorasi ini juga tidak menjadi samar
dengan tekanan. Patofisiologis dari Lindsays nail in belum
diketahui secara pasti, tetapi peningkatan jumlah kapiler dan
penebalan dinding kapiler telah diobservasi pada bagian nail bed
(Gagnon, & Tejas, 2013)

.Gambar 2.4. diskolorasi kuku pada Lindsays nail. Sumber:


Gagnon, A.L, & Desai, T, 2013

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
14

2) Manifestasi Gastroenterologis
Manifestasi yang dapat ditemukan diantaranya adalah nausea,
vomitus, penurunan selera makan, hiccup, stomatitis dan fetor
uremikum (Smeltzer & Bare, 2000). Manifestasi ini berasal dari
kondisi uremia sehingga menyebabkan penurunan selera makan,
nausea, vomitus, fetor uremikum.
3) Manifestasi Kardiovaskular
Manifestasi kardiovaskular yang dapat terjadi diantaranya adalah
peningkatan tekanan darah/hipertensi, anemia, heart failure dan
adanya perikarditis akibat iritasi toksin uremic (Smeltzer & Bare,
2000).
4) Manifestasi Neurologis
Manifestasi neurologis yang dapat terjadi yaitu penurunan
kesadaran, gangguan konsentrasi akibat ketidakseimbangan
elektrolit maupun gangguan asam basa, tremor dan kejang
(Smeltzer & Bare, 2000).
5) Manifestasi pada Sistem Perkemihan
Manifestasi pada system perkemihan yaitu ditemukannya oliguri,
anuria, dan proteinuria. Proteinuria menyebabkan kurangnya jenis
protein dalam tubuh, salah satunya yaitu albumin. Rendahnya
albumin termanifestasikan dengan adanya edema pada tubuh.

2.2.3. Komplikasi
1) Anemia
Anemia didefinisikan sebagai keadaan dimana kadar hemoglobin
kurang dari 11 g/dL atau menerima terapi erythropoiesis
stimulating agent (ESA). Anemia pada gagal ginjal kronik
terutama disebabkan oleh defisiensi eriptropoietin sebagai
penyebab utama. Faktor lain yang menyebabkan anemia pada gagal
ginjal diantaranya yaitu berkurangnya masa hidup eritrosit, serta
defisiensi zat besi dan vitamin. Anemia terobservasi muncul pada
tahap awal gagal ginjal (stage 3) dan prevalensinya semakin

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
15

meningkat seiring dengan proses perkembangan gagal ginjal (Iseki


& Kohagura, 2007).
2) Chronic Kidney Disease-Mineral Bone Disorder (CKD-MBD)
Perubahan pada mekanisme kontrol kalsium dan hemostasis
phospat muncul pada awal gagal ginjal dan berlanjut sesuai dengan
proses penurunan fungsi ginjal. Perubahan yang muncul meliputi
abnormalitas metabolisme kalsium, phospat, hormon paratiroid dan
vitamin D bersama dengan mineralisasi, kalsifikasi jaringan dan
pembuluh darah. Penelitian menunjukkan bahwa pada penderita
gagal ginjal mengalami hipokalsemia, peningkatan serum phospat,
hiperparatiroid, dan penurunan dihydroxyvitamin D. Perubahan-
perubahan tersebut yang menyebabkan terjadinya CKD-MBD.
Klasifikasi CKD-MBD ini meliputi dynamic bone disease,
osteofibrosa cystic, osteomalasia, dan osteodistrofi (Stompor,
Zablocki, & Lesiow, 2013).
3) Asidosis Metabolik
Asidosis metabolik merupakan komplikasi umum dari gagal ginjal.
Asidosis metabolik mempunyai efek yang merugikan pada pasien
gagal ginjal meliputi resistensi insulin, pembuangan energi dari
protein, dan mempercepat berkembangnya gagal ginjal. Asidosis
metabolik ini terjadi karena berkurangnya masaa ginjal dan
kerusakan eksresi asam oleh ginjal.
4) Gangguan Kardiovaskuler
Sebanyak 40-50% kematian pada penyakit ginjal kronik
disebabkan oleh penyakit kardiovaskuer (Suwitra, 2009).
Gangguan kardiovaskuler ini dapat berupa hipertensi renal, chronic
hearth failure, kardiomegali dapat terjadi karena hipertensi
maupun ketidakseimbangan elektrolit. Ion Ca dalam kondisi
hiperkalsemia dapat mengaktivasi AKT, sebuah protein-kinase
yang berperan mengembangkan kardiak hipertrofi (Savica, et al,
2013). Kondisi hiperkalsemia juga mempunyai efek toksik pada
miosit/sel-sel jantung sehingga dapat menyebabkan miokard

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
16

remodeling dan berakibat pada kematian jantung. Kematian


jantung yang mendadak menyebabkan iskemia dan kondisi
patologis lainnya seperti aritmia.

2.2.4. Penanganan
Penatalaksanaan pada gagal ginjal berupa terapi spesifik pada
penyakit dasarnya, pencegahan dan terapi terhadap kondisi
komorbid, memperlambat perburukan fungsi ginjal, pencegahan dan
terapi terhadap penyakit kardiovaskular, pencegahan dan terapi pada
komplikasi, terapi pengganti ginjal (renal replacement therapy)
(Suwitra, 2009). Terapi pengganti ginjal seperti hemodialisa dan
peritoneal dialisis merupakan penanganan yang sering digunakan.

2.3. Asuhan Keperawatan


2.3.1. Pengkajian Keperawatan
Menurut Doengoes et al (2000), riwayat keperawatan yang perlu dikaji
meliputi aktivitas-istirahat, nyeri-kenyamanan, keamanan, penyuluhan-
pembelajaran dan seluruh sistem. Seluruh sistem yang dimaksud disini
yaitu sistem sirkulasi, eliminasi, neurosensori, pernapasan, dan
gastrointestinal. Riwayat penyakit terdahulu maupun riwayat penyakit
dalam keluarga juga perlu digali yang meliputi riwayat diabetes mellitus,
hipertensi, infeksi saluran kemih kronis, batu ginjal dan riwayat penyakit
ginjal dalam keluarga.

Pada aktivitas/istirahat terlihat tanda dan gejala yang dipengaruhi oleh


sistem neurosensori yang ditunjukkan berupa sakit kepala, kram
otot/kejang, sindrom kaki gelisah, kelemahan otot, kehilangan tonus dan
menyebabkan keletihan, kelemahan, malaise, aktivitas fisik rendah
(Smeltzer & Bare, 2000). Tanda yang ditunjukkan pasien gagal ginjal
dapat berupa ketidakmampuan berkonsentrasi, kejang, penurunan tingkat
kesadaran akibat azotemia dan ketidakseimbangan elektrolit/asam basa.

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
17

Sistem sirkulasi dapat menunjukkan tanda hipertensi, disritmia jantung,


distensi vena juguler, nadi kuat (hipervolemia), edema jaringan umum
(termasuk area periorbital dan ekstremitas), pucat, kecenderungan
perdarahan, dan dapat pula ditemukan kejadian heart failure (Smeltzer &
Bare, 2000). Sistem sirkulasi berupa anemia dan ketidakadekuatan sistem
sirkulasi mempengaruhi aktivitas yang rendah dan lebih mudah lelah.

Pasien gagal ginjal bisanya mengalami peningkatan berat badan akibat


edema, ataupun penurunan berat badan akibat dehidrasi karena restriksi
cairan dan penggunaan diuretik. Adanya restriksi cairan dan penurunan
fungsi ginjal berdampak pada perubahan pola berkemih dapat berupa
peningkatan frekuensi berkemih, poliuria (pada kegagalan dini),
penurunan frekuensi/oliguria (fase akhir), disuria ataupun berdasarkan
volumenya dapat ditemukan oliguria (biasanya 12-21 hari), dan poliuria
(2-6 L/hr). Keluhan gastrointestinal berupa mual muntah anoreksia, sesuai
dengan hasil pemeriksaan fisik yaitu adanya distensi abdomen, nyeri ulu
hati. Mual muntah yang dirasakan pasien gagal ginjal dapat menyebabkan
penurunan intake nutrisi.

Pasien gagal ginjal bisanya menunjukkan napas pendek, takipnea, dispnea,


napas kussmaul, napas ammonia, batuk produktif dengan sputum kental
merah muda yang menandakan edema paru (Smeltzer & Bare, 2000).
Pernapasan ini juga berdampak pada pola aktivitas pasien gagal ginjal
berupa toleransi aktivitas yang menurun karena sesak. Adanya batuk
produktif berdampak pada istirahat yang kurang maksimal.

Pasien gagal ginjal biasanya terdapat peteki, ekimosis, easy bruisihing


akibat perdarahan, serta xerosis atau kulit kering (Smeltzer & Bare, 2000).
Gangguan pada ginjal serta adanya perdarahan bawah kulit perlu
diperhatikan dalam menyebabkan anemia. Anemia yang terjadi berdampak
pada kelemahan dan malaise pada pasien gagal ginjal. Kejadian anemia
biasanya memerlukan tranfusi untuk meningkatkan hemoglobin.

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
18

2.3.2. Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien gagal ginjal
diantaranya adalah (Smeltzer & Bare, 2000):
1) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kerusakan mekanisme
regulasi, penurunan urin output, intake cairan berlebih, retensi air dan
garam
2) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi
produk sampah dan prosedur dialisis
3) Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia, mual, munntah, pembatasan diet dan perubahan
membran mukosa mulut
4) Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan
kelenjar keringat ekrin dan sebasea
5) Resiko infeksi berhubungan dengan anemia, penggunaan alat invasif

2.4. Pemakaian Pelembab pada Xerosis di Pasien CKD


Xerosis terjadi akibat atropi kelenjar sebasea, gangguan fungsi sekresi
eksternal dan gangguan hidrasi ada stratum korneum (Roswati, 2013).
Stratum korneum merupakan lapisan kedap air, lapisan terluar dari
epidermis yang mencegah kehilangan air dari bawah kulit dan oversaturasi.
Fungsi stratum corneum bergantung pada integritas komponen
fisiologisnya. Rusaknya protein dan lemak pada stratum korneum dan
pelepasan skin natural moisturizers seperti natural moisturizing factor
(NMF) mengarah pada kejadian inflamasi dan kekeringan pada kulit
(Hoffman, et al., 2008).

Kejadian xerosis pada pasien CKD hingga kini belum diketahui


patogenesisnya, sehingga belum ada terapi spesifik yang digunakan untuk
mengatasi masalah tersebut. Emolien/pelembab telah digunakan sehari-hari
oleh banyak orang untuk mengatasi gejala umum dari xerosis (Roswati,
2013). Variasi keuntungan klinis dari pemakaian emolien pada kulit kering

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
19

(xerosis) telah diberitakan. Ketika digunakan dengan benar, pelembab akan


dapat mengurangi sisik dan ketidaknyamanan pasien secara umum melalui
rehidrasi (Schwartz & Ialna, 2000). Efek yang menguntungkan dari
pelembab pada xerosis ini telah dibuktikan melalui pemakaian krim kulit
yang berisi asam lemak berupa lamellar lipid dan endocannabidoid.
Pemakaian krim tersebut selama 3 minggu berturut-turut secara teratur
menghasilkan pengurangan xerosis signifikan pada pasien dengan
hemodialisa (Szepietowski, Reich, Schwartz, 2004). Selain itu, Okada dan
Matsumoto (2004) dalam Freedman, B.I., Patel, T.S., & Yosipovitch, G
(2007) melaporkan bahwa emolien dengan kandungan air tinggi
menurunkan gatal dan xerosis pada pasien hemodialisa. Penelitian lain oleh
Peck, et al. (1999) secara double blind study terhadap 25 pasien hemodialisa
terhadap penggunaan 6 g ethyl ester dari minyak zaitun, minyak ikan sehari-
hari memperbaiki komposisi lemak esensial sehingga kulit kering teratasi
dan rasa gatal berkurang.

Minyak zaitun terdiri dari mono- dan poli-unsaturated fatty acid,


mikronutrien seperti vitamin E, lignan dan senyawa lainnya. Asam lemak
pada minyak zaitun yaitu palmitoleic, asam palmitat, sterol (phytosterol dan
tocosterol), asal oleat dan asam linoleat. Minyak zaitun juga mengandung
produk-produk alami yang memiliki sifat antioksidan seperti oleocanthal
dan oleuropein. Sifat antioksidan terdapat pada phenol yang mengandung
gugus hidroksil telah terbukti memperlambat penuaan. Phenol pada minyak
zaitun tidak hanya berkontribusi sebagai antioksidan, melainkan juga
mempunyai efek anti-inflamasi (Khalatbary, 2013). Kandungan -linoleic
acid (GLA) pada minyak zaitun meningkatkan sintesis anti-inflamasi
eikosanoid.

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
BAB 3
TINJAUAN KASUS KELOLAAN

3.1. Pengkajian
Pasien dengan inisial Ny SM, 48 tahun, seorang wanita pekerja dengan
jumlah anak dua orang. Pasien bekerja sebagai pegawai di salah satu
institusi pemerintah di Jakarta. Pasien beragama Islam. Pasien tinggal
dengan suami dan anak-anaknya di Cijantung, Jakarta Timur. Pasien datang
ke UGD RSCM dengan keluhan sesak nafas sejak dua hari sebelum masuk
Rumah Sakit, kaki bengkak sejak Oktober 2013, dan buang air kecil sedikit
sejak dua minggu sebelum masuk rumah sakit. Ketika masuk ke Ruang
Perawatan Penyakit Dalam RSCM, klien mengeluh sesak dan bengkak
seluruh tubuh masih ada tetapi sudah berkurang dibandingkan sewaktu
masuk UGD, serta buang air kecil masih sedikit. Pasien mengaku sesak
sudah berkurang, tidak seperti awal masuk Rumah Sakit, tidak ada riwayat
bronchitis, emfisema, pneumonia. Pasien tidak mempunyai kebiasaan
merokok, respiration rate 24x/menit, tidak ada penggunaan otot bantu nafas,
tidak ada nafas cuping hidung.

Pasien mempunyai riwayat hipertensi diketahui sejak September 2013.


Selain itu, pasien mempunyai riwayat batu ginjal dan telah dilakukan
pengambilan batu ginjal. Klien terdiagnosa gagal ginjal sejak November
2013 dan dianjurkan untuk mengikuti hemodialisa akan tetapi klien menolak
untuk hemodialisa. Pasien mengaku tidak ada riwayat penyakit seperti
diabetes mellitus, penyakit ginjal, asma, penyakit jantung pada keluarga.
Pasien juga mengaku tidak ada dalam keluarganya yang mengalami penyakit
yang sama dengan pasien.

Hasil pemeriksaan tanda vital pada hari pertama masuk Ruang Perawatan
Penyakit dalam RSCM ditemukan tekanan darah 130/80 mmHg, nadi
84x/menit kuat teratur, napas 24x/menit dan suhu 37 oC. Pada pemeriksaan
fisik, ditemukan edema derajat 2 pada ekstremitas, edema pada wajah dan
20 Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
21

periorbital, capillary refill time (CRT) 3detik, tidak ada distensi vena
juguler, akral hangat.

Pasien merupakan pegawai yang bekerja di institusi pemerintah di Jakarta.


Pasien terbiasa bekerja dengan kondisi lebih banyak duduk dan berada di
ruangan ber-AC. Pasien mengaku jarang berolah-raga, tidak pernah
melakukan aktivitas fisik yang berat. Kebiasaan tidur siang tidak pernah,
tidur setiap hari 6 jam. Aktivitas saat dilakukan pengkajian masih tirah
baring, mobilitas terbatas di tempat tidur. Makan, berpakaian, berhias
mandiri. Penampilan umum pasien terlihat menjaga kebersihan dan
kerapihan, cara berpakaian sesuai. Klien mengatakan gatal awalnya di
lengan dan kaki dan kemudian menyebar keseluruh tubuh. Terlihat kulit
kering dan bersisik pada ekstremitas bawah, serta tampak pula bercak hitam
di seluruh tubuh.

Pasien merupakan ibu bagi dua orang putri dan juga seorang istri, tinggal
bersama suami dan kedua anaknya. Saat ini peran dalam struktur keluarga
adalah sebagai istri dan ibu. Interaksi dengan keluarga dan lingkungan baik.
Tidak ada gangguan bicara, bicara jelas dan dapat dimengerti.

Ketika dilakukan pengkajian tidak terlihat pasien cemas ataupun takut.


Pasien mengatakan pada awalnya takut terhadap tindakan hemodialisa
karena belum paham mengenai hemodialisa, tetapi sekarang sudah mengerti.
Pasien mengatakan tidak mengkhawatirkan masalah administrasi ataupun
pembiayaan karena sudah memakai asuransi kesehatan dan ada keluarga
yang mengurus administrasi. Selama perawatan di ruang rawat penyakit
dalam RSCM, pasien mendapat dukungan dari keluarganya. Siang hari
pasien didampingi oleh saudaranya, jika sudah sore akan ada anaknya yang
bergantian mendampingi serta suaminya yang menjenguk setiap hari. Hal ini
membuat pasien merasa senang dan kuat.

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
22

Pasien mengatakan kebiasaan buang air besar setiap hari, tetapi semenjak
masuk Rumah Sakit (14 Mei 2014) pasien belum pernah buang air besar.
Klien mengaku tidak ada riwayat perdarahan, tidak ada riwayat hemoroid,
tidak ada keluhan rasa terbakar/nyeri saat buang air kecil. Saat dilakukan
pengkajian klien terpasang kateter folley, karakter urin kuning keruh.
Abdomen supel, nyeri tekan negatif, tidak ada massa, terlihat membesar,
bising usus positif dalam batas normal 6x/menit, hasil perkusi dullness.

Pasien makan mendapatkan diet 1700 kkal makanan nasi biasa dan lauk
pauk serta sayur tiga kali sehari dengan selingan cemilan. Saat dilakukan
pengkajian klien mengaku tidak ada penurunan selera makan lagi, mual dan
muntah sudah tidak ada, serta tidak ada gangguan menelan dan mengunyah.
Klien mengatakan tidak ditimbang berat badan bahkan ketika dilakukan
hemodialisa, berat badan terakhir yang diketahui klien 65kg dengan tinggi
badan 150 cm. Terlihat membrane mukosa kering, turgor kulit kurang
elastis, terlihat kulit ekstremitas bawah kering dan bersisik, terdapat edema
derajat 2 pada ekstremitas, tidak terdapat distensi vena jugularis.

Pasien mengaku tidak ada pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas,


kelemahan, kejang, penglihatan berkurang, epistaksis, pendengaran
berkurang, katarak dan glaukoma. Status mental pasien sadar, aktif,
kooperatif dan terorientasi dengan baik pada waktu, tempat dan orang.
Memori saat ini dan yang lalu masih baik. Tidak ada riwayat stroke maupun
kejang. Hasil pengkajian fisik ditemukan tidak adanya fasial drop, pupil
isokor bilateral, reflex cahaya positif bilateral, genggaman tangan kuat pada
kedua sisi, serta tidak ada paralisis.

Pasien mengatakan tidak ada nyeri yang dirasakan, hanya perutnya terasa
sedikit kurang nyaman karena kembung.Meskipun tidak merasakan nyeri,
klien terlihat berubah posisi dengan hati-hati karena pasien masih sedikit
takut dengan pengalaman pertama hemodialisa.

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
23

Pasien mempunyai alergi terhadap seafood dengan reaksi gatal dan


kemerahan. Pasien mengaku tidak ada perubahan system imun sebelumnya,
tidak ada riwayat penyakit hubungan seksual, riwayat transfusi darah tahun
2013 dengan tidak ada reaksi, tidak ada riwayat kecelakaan. Tidak ada
masalah punggung, pembesaran nodus, perubahan tahi lalat, kerusakan
penglihatan dan pendengaran. Dari hasil pemeriksaan didapatkan suhu 37 oC,
tidak ada diaforesis, tidak ada luka, kulit kering bersisik, terdapat bercak
hitam, tidak ada jaringan parut, tidak ada laserasi. Kekuatan otot penuh pada
semua ekstremitas, ROM tak terbatas, tonus otot baik.

3.2. Pemeriksaan Penunjang


a) Hasil Pemeriksaan USG 21 Mei 2014
Ginjal kanan: ukuran 7,20 cm, bentuk normal, tepi ireguler, parenkimal
echodensitas meningkat, cortex dan medulla tidak dapat didiferensiasi,
tebal kortex tidak dapat dinilai, piramide normal, sinus pelviokalises
tidak dapat dilatasi, tidak ada kista, tidak ada batu. Ginjal kiri: ukuran
7,14 cm bentuk normal, tepi ireguler, parenkimal echodensitas
meningkat, cortek dan medulla tidak dapat didiferensiasi, tebal kortek
tidak dapat dinilai, pyramid normal, sinus pelviokalises tidak dilatasi,
kista 1,22cmx1,39cm, batu tidak ada. Vesika urinaria: tidak ada kista,
tidak ada batu, tampak ujung kateter. Kesimpulan: sonografi kedua
ginjal sesuai dengan gambaran penyakit ginjal kronis.

Gambar 3.1. hasil pemeriksaan USG Ginjal

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
24

b) Hasil Pemeriksaan Urin Lengkap 23 Mei 2014


Warna kuning, kejernihan keruh, leukosit 6-8, eritrosit 10-12, silinder
negatif, sel epitel 14, kristal negatif, bakteria positif, berat jenis 1.020,
pH 7,5, protein +2, glukosa negatif, keton negatif, darah/Hb +2, bilirubin
negatif, urobilinogen 3,2mol/L, nitrit negatif, leukosit sterace race.
c) Hasil Pemeriksaan Radiografi Thorax 13 Mei 2014
Kesimpulan: kesan kardiomegali dengan awal bendungan paru.
d) Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorium dapat dilihat di lampiran.

3.3. Analisis Data


Hasil pengkajian terhadap pasien, selanjutnya dilakukan analisis untuk
menentukan masalah keperawatan apa yang terjadi pada pasien. Dari
pengkajian pasien, ditemukan empat masalah keperawatan yaitu kelebihan
volume cairan, konstipasi, resiko infeksi dan gangguan integritas kulit.

Kelebihan volume cairan diangkat menjadi masalah keperawatan dengan


dasar bahwa pasien mengatakan kencing sedikit 2-3x/hari masing-masing
20 cc, kaki bengkak sejak Oktober 2013, sesak nafas sejak dua hari sebelum
masuk rumah sakit, sekarang sudah berkurang. Selain itu, ditemukan pula
bahwa pada pasien terdapat edema +2 pada seluruh ekstremitas, wajah
sedikit bengkak, oliguri, serta hasil rontgen thorax bendungan awal paru.

Masalah keperawatan kedua yang diangkat yaitu konstipasi. klien mengeluh


belum BAB semenjak masuk rumah sakit (14 Mei), bising usus positif
6x/menit, perut terlihat membesar, perkusi abdomen dullness. Resiko infeksi
juga muncul pada pasien akibat adanya CDL untuk hemodialisa, IV line,
dan kateter urin, serta hasil pemeriksaan leukosit 5,53 ribu/L. Masalah
keperawatan selanjutnya yaitu resiko kerusakan integritas kulit, dimana
pasien mengatakan gatal yang awalnya hanya di ekstremitas, tetapi
kemudian menyebar, lengan dan kaki bengkak terlihat kulit kering bersisik
di ekstremitas bawah, terlihat sesekali klien menggaruk area yang gatal.

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
25

3.4. Rencana Asuhan Keperawatan dan Implementasi


Masalah keperawatan yang terjadi di atas kemudian dilakukan asuhan
keperawatan untuk mengatasi masalah tersebut. Pada masalah keperawatan
pertama yaitu kelebihan volume cairan perlu dilakukan tindakan
keperawatan agar tidak terjadi kelebihan cairan dengan ditandai tanda vital
stabil, intake output seimbang, berat badan seimbang dan tidak ada edema.
Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan tindakan utama yaitu restriksi
cairan. Restriksi cairan ini penting untuk mencegah perburukan kelebihan
cairan yang dapat menyebabkan edema paru. Untuk mengetahui
perkembangan hasil tindakan restriksi cairan, diperlukan tindakan
monitoring. Tindakan monitoring ini berupa menimbang dan mencatat berat
badan setiap hari jika memungkinkan, mengkaji dan memantau tanda vital
dan edema, menghitung keseimbangan cairan dari intake dan output cairan,
serta memantau hasil pemeriksaan laboratorium seperti BUN, kreatinin, Hb,
Ht, albumin dan elektrolit. Selain itu, monitoring juga diperlukan untuk
mengetahui adanya perkembangan komplikasi edema paru yaitu dengan
mengauskultasi paru, observasi adanya sesak atau dispnea, dan mengkaji
adanya distensi vena jugularis.

Pada masalah keperawatan kedua yaitu konstipasi dilakukan tindakan yang


dapat memicu defekasi yaitu menganjurkan makanan berserat, dan
memotivasi pasien untuk aktivitas sesuai dengan batas kemampuan.
Sebelumnya perlu dikaji kebiasaan eliminasi dan masalah yang dihadapi
sekarang dan dilakukan pemeriksaan fisik berupa mempalpasi abdomen, kaji
adanya distensi dan massa, dan auskultasi bising usus. Jika setelah dilakukan
tindakan keperawatan di atas masih belum teratasi, dapat dikolaborasikan
apakah perlu laxative untuk mengatasi konstipasi.

Masalah keperawatan resiko infeksi, tindakan yang penting yaitu tindakan


universal precaution berupa cuci tangan untuk mencegah kontaminasi
silang, serta menjaga prinsip septik antiseptik saat melakukan tindakan

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
26

keperawatan. Monitoring terjadinya infeksi dapat dilakukan dengan


memantau tanda vital terutama suhu, memeriksa adanya luka atau tanda
inflamasi kondisi sekitar alat invasif serta memantau hasil laboratorium
terutama leukosit. Penting juga memberikan dan menjaga lingkungan yang
bersih, memotivasi makan nutrisi cukup, serta penggantian alat invasif
sesuai indikasi seperti IV line tiap tiga hari. Untuk mengetahui terjadinya
infeksi atau tidak dapat dilihat melalui sekitar luka tidak pucat atau terdapat
pus, edema berkurang, tidak ada demam, tanda vital stabil, Hb 10 g/dL, Ht
40-48%, leukosit 5000-1000.

Pada masalah keperawatan resiko kerusakan integritas kulit dilakukan


tindakan utama berupa penggunaan minyak zaitun sebagai emolien.
Tindakan monitoring yaitu mengkaji kulit secara rutin seperti tingkat
kelembaban, warna, elastisitas, keutuhan kulit, inspeksi permukaan kulit dan
titik tekan, memantau hidrasi kulit dan membran mukosa, mengkaji dan
pantau keluhan gatal. Tindakan lain yang dilakukan untuk mendukung
tindakan utama yaitu anjurkan pasien untuk tidak menggaruk area yang
gatal, menganjurkan pembatasan penggunaan sabun atau lotion berparfum
dan beralkohol, menganjurkan memakai pakaian katun yang longgar dan
mempertahankan linen kering dan bebas lipatan.

3.5. Evaluasi Keperawatan


Hasil dari tindakan asuhan keperawatan yang telah diberikan sesuai masalah
keperawatan adalah sebagai berikut;
a. Kelebihan volume cairan tubuh
Pada hari pertama perawatan klien terlihat bengkak pada wajah dan
esktremitas, sesak ada. Klien telah diberitahukan mengenai restriksi
cairan 600cc/24 jam, pada pelaksanaan klien patuh dengan restriksi
cairan tersebut. Hari terakhir perawatan, edema sudah tidak ada, sesak
sudah tidak ada.

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
27

b. Konstipasi
Kondisi ini bermula ketika pasien masuk di rumah sakit tanggal 14 Mei.
Ketika dikaji lebih jauh, pola normal pasien BAB setiap hari akan tetapi
pasien mengaku menemukan kesulitan untuk buang air besar di tempat
yang tidak biasa bagi pasien. Hingga hari terakhir perawatan, klien
masih belum dapat defekasi meskipun sudah merasa mulas.
c. Resiko infeksi
Selama perawatan, tidak terjadi infeksi pada klien, tidak ada peningkatan
suhu melebihi batas normal, terpantau tidak ada tanda infeksi pada area
alat invasif maupun dari pemantauan hasil laboratorium tidak terjadi
peningkatan leukosit yang menandakan infeksi.
d. Resiko kerusakan integritas kulit
Kondisi kulit pada pasien di hari pertama perawatan adalah kulit kering
bersisik pada ekstremitas bawah, terdapat edema dan pasien
mengeluhkan gatal pada badan. Setelah dilakukan intervensi pemakaian
minyak zaitun, klien menunjukkan perubahan kondisi kulit. Kulit kering
bersisik berkurang, terdapat proses pembentukan kulit yang baru pada
kaki kiri dan sisik sudah berkurang. Kulit kering masih terdapat di
beberapa bagian tungkai bawah, tetapi kelembaban kulit terjaga dengan
pengolesan minyak zaitun secara teratur oleh pasien.

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
BAB 4
ANALISIS SITUASI

4.1. Analisis Kasus terkait Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan


CKD yang terjadi di perkotaan dapat terjadi akibat masalah perkotaan yang
berlangsung. Masalah kesehatan di perkotaan berkembang karena
globalisasi dan perkembangan teknologi yang berpengaruh pada gaya hidup
dan pola pikir masyarakat perkotaan. Perubahan gaya hidup masyarakat
perkotaan yang terjadi dapat berupa berubahnya pola makan dan minum,
pola aktivitas fisik yang rendah, merokok, serta kebiasaan minum minuman
beralkohol (Suryana, Ariani, & Lokollo, 2008).

Globalisasi dalam perdagangan berdampak pada pertumbuhan pasar modern


yang pesat, menjamurnya outlet makanan siap saji dan minimarket dan
gencarnya iklan makanan merupakan fenomena yang terjadi di Indonesia
(Suryana, Ariani, & Lokollo, 2008). Keberadaan iklan makanan dan
minuman dalam berbagai media menyediakan beragam alternatif makanan
serta minuman. Iklan tersebut banyak dikemas menarik sehingga menggoda
selera dan mempengaruhi konsumer untuk membelinya. Menurut Taqwa
(2011) peran media iklan penting diperhatikan karena iklan membentuk
opini publik mengenai sebuah produk dan respon pasar. Media iklan tidak
hanya sekedar mensosialisasikan produk tetapi sekaligus mendorong
konsumen melakukan proses internalisasi terhadap suatu produk. Proses ini
melibatkan emosi dan rasional sehingga produk yang ditawarkan tidak
hanya sekedar menjadi pilihan alternatif, melainkan sekaligus menjadi
pilihan utama.

Tersedianya supermarket, toko, minimarket, warung kecil baik yang buka


dalam waktu tertentu maupun 24 jam di perkotaan mendukung makanan
minuman tersebut semakin mudah didapatkan di perkotaan. Hal ini
menjadikan makanan minuman dalam kemasan yang mengandung zat
28 Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
29

perwarna, pengawet dan perasa, serta makanan minuman siap saji lebih
banyak dikonsumsi.

Makanan siap saji, ataupun makanan olahan industri (makanan dalam


kemasan) secara umum memiliki kandungan rendah sayuran (rendah serat),
tinggi garam, tinggi lemak dan tinggi kolesterol. Mengkonsumsi makanan
siap saji ataupun makanan olahan industri jika digunakan dalam jumlah
berlebih dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti hipertensi, penyakit
kardiovaskular, dan diabetes (Khomsan, 1999). Masih menurut Khomsan
junk food, makanan tinggi kalori rendah nutrisi, jika dikonsumsi berlebih
dapat menyebabkan obesitas dan diabetes. Padahal hipertensi, obesitas,
diabetes merupakan faktor resiko terjadinya penyakit ginjal. Sehingga pola
makan masyarakat perkotaan yang gemar makan siap saji, makanan dalam
kemasan ataupun junk food beresiko meningkatkan kerusakan ginjal melalui
kejadian hipertensi, diabetes dan obesitas.

Malik et al. (2006) membuktikan bahwa konsumsi minuman berpemanis


(sugar-sweetened beverage) berhubungan dengan kejadian penambahan
berat badan dan obesitas. Sedangkan konsumsi soft-drink secara signifikan
berhubungan dengan kejadian overweight, obesitas dan diabetes (Basu, et
al, 2013). Tidak hanya berakibat pada obesitas dan diabetes, konsumsi
minuman bersoda berpemanis (sugar-sweetened soda beverage) telah
terbukti meningkatkan kejadian hiperuricemia dan CKD (Bomback et al,
2010).

Perubahan pola makan juga ditemukan sejalan dengan globalisasi, dimana


masyarakat beralih perhatian pada kualitas makanan yang juga
meningkatkan stastus sosial mereka. Hal ini berupa konsumsi makanan
tinggi protein yang didapatkan dari protein hewani serta tinggi karbohidrat.
Pola makan siap saji, makanan tinggi protein karbohidrat, makanan
berpengawet meningkatkan resiko masalah kesehatan seperti hipertensi,
diabetes, penyakit kardiovaskuler dan penyakit ginjal.

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
30

Perkotaan yang menyediakan berbagai macam kemudahan transportasi


berpengaruh pada pola aktivitas masyarakatnya. Banyaknya pekerjaan yang
menuntut sedikit mobilisasi juga terdapat di perkotaan seperti pekerja
kantoran (white collar worker), mahasiswa, pengajar. Dalam melakukan
mobilisasi, masyarakat kota dapat menjumpai alat transportasi dengan
mudah dengan alternatif transportasi yang beragam. Konsep transportasi
berkelanjutan di perkotaan juga mendorong upaya pemanfaatan teknologi
informasi untuk mengurangi kebutuhan pergerakan orang dan barang
melalui penerapan tele-conference, tele-working, tele-commuting.
Kemudahan dalam melakukan transaksi, seperti e-banking, online shopping,
dan transaksi online lainnya juga semakin mempermudah masyarakat
perkotaan. Hal ini semakin membuat sebagian besar masyarakat perkotaan
mempunyai aktivitas fisik yang rendah. Aktivitas yang rendah ini
berpengaruh pada kesehatan masyarakat.

Pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai perlunya olah raga tidak


didukung kebijakan pemerintah dengan menyediakan taman atau area yang
dapat digunakan untuk berolahraga yang dapat diakses oleh siapa saja. Di
kota besar seperti Jakarta sudah terdapat pusat kebugaran atau fitness centre
yang diwujudkan untuk memenuhi kebutuhan individu tingkat menengah-
atas sesuai dengan perkembangan gaya hidup. Akan tetapi pusat kebugaran
ini mempunyai eksklusivitas yang membatasi kesempatan masyarakat kelas
menengah-bawah untuk memanfaatkan fasilitas ini (Wijayanti, 2009).
Sedangkan kebutuhan untuk berolahraga terdapat pada semua kalangan
masyarakat, sehingga perlunya pemerintah yang menyediakan fasilitas
untuk berolahraga bagi masyarakat yang bisa digunakan oleh semua orang.

Lingkungan perkotaan yang panas di luar ruangan, tetapi menyediakan


banyak tempat ber-AC dalam ruangan juga berpengaruh pada kesehatan
masyarakat. Udara ruangan ber-AC yang kering menyebabkan kita
kekurangan cairan tanpa disadari (Ferrari et al, 2007). Sedangkan

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
31

lingkungan luar ruangan yang panas menyebabkan tubuh kehilangan cairan


yang banyak melalui keringat. Kekurangan cairan ini dapat berdampak
dehidrasi maupun meningkatkan resiko penyakit ginjal dan perkemihan.

4.2. Analisis Kasus


Terjadinya CKD oleh masyarakat perkotaan dapat dipengaruhi beberapa
faktor seperti faktor yang berasal dari pasien itu sendiri, gaya hidup dan
lingkungan. Data yang didapat dari pasien itu sendiri yaitu dimana pasien
mempunyai riwayat batu ginjal dan hipertensi. Gaya hidup klien berupa
kebiasaan minum sedikit, lebih sering makan makanan yang berasal protein
hewani, terbiasa makan cemilan seperti emping serta memiliki berat badan
berlebih. Sedangkan faktor dari lingkungan didapatkan data bahwa pasien
bekerja setiap hari di dalam ruangan ber-AC dan tinggal di daerah tropis.

Seseorang yang mempunyai riwayat batu ginjal mempunyai resiko


penurunan fungsi ginjal sebagai komplikasinya. Hal ini didukung oleh
penelitian oleh Gillen. Gillen et al (2005) menggunakan the Third National
Health and Nutrition Examination Survey (NHANES III) pada populasi di
USA mendapatkan data bahwa riwayat batu ginjal dapat menurunkan fungsi
ginjal pada orang dengan berat badan berlebih (overweight). Overweight
sendiri juga meningkatkan resiko terkena batu ginjal (Siener, R., et al, 2005;
Taylor, Stampfer, & Curhan, 2005).

Hasil pengkajian didapatkan data bahwa pasien merupakan karyawan yang


sehari-harinya bekerja di ruangan ber-Air Conditioning (AC) dengan tingkat
aktivitas rendah. Kondisi lingkungan pekerjaan yang dingin akan memicu
perspirasi tetapi tidak merangsang untuk merasa haus, karena intake cairan
berlawanan dengan volume kehilangan cairan melalui perspirasi dan
respirasi (Ferrari, et al, 2007). Hal ini menyebabkan pasien jarang dan
sedikit minum. Sedikitnya intake cairan membuat pasien mengalami
dehidrasi dan hal tersebut merupakan faktor terjadinya batu ginjal yang
dialami klien (Smetzer & Bare, 2000). Long term prospective study oleh

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
32

Curhan et al pada pria dan wanita menunjukkan bahwa intake cairan yang
rendah secara terus menerus dalam waktu yang lama dapat meningkatkan
resiko pembentukan batu ginjal (Siener, 2006).

Pasien tinggal di wilayah Indonesia yang merupakan wilayah tropis.


Wilayah tropis mempunyai temperatur yang tinggi dan hal ini meningkatkan
resiko terjadinya batu ginjal (Ferrari et al, 2007). Lebih spesifiknya, pasien
merupakan penduduk di wilayah perkotaan, dimana penyakit batu ginjal
sering diderita oleh masyarakat industrialis. Hal ini dikarenakan di kawasan
perkotaan, masyarakatnya lebih cenderung mengkonsumsi makanan kaya
protein terutama protein hewani. Hal ini sesuai dengan penelitian Ferrari et
al (2007).

Batu ginjal yang dialami klien kemungkinan berupa batu ginjal yang berasal
dari kombinasi batu kalsium oksalat dan asam urat. Berdasarkan
komponennya batu kalsium oksalat merupakan jenis batu yang sering terjadi
yaitu dengan insidensi sebanyak 50-70% (Bartoletti, et al., 2007). Dari hasil
pemeriksaan laboratorium didapatkan bahwa kadar asam urat pasien di atas
normal yaitu sebesar 7,4 mg/dL. Konsentrasi asam urat yang tinggi ini
merupakan faktor terbesar pembentukan uric acid lithiasis. Batu asam urat
ini terdapat pada 6% batu ginjal dan biasanya didapatkan dari diet tinggi
protein dan sejalan dengan tingginya konsentrasi asam urat (Porena, Guggi,
Micheli, 2007). Pasien terbiasa mengkonsumsi protein, protein hewani, dan
karbohidrat dalam jumlah yang besar. Konsumsi protein terutama protein
hewani yang tinggi meningkatkan kalsium urin dan oksalat dalam urin,
sedangkan intake tinggi purin meningkatkan kalsium urin dan asam urat
dalam urin (Ferrari, et al, 2007).

Hipertensi merupakan penyebab kedua dari end stage renal disease atau
gagal ginjal tahap akhir. Pada empat penelitian lain di Australia,
Washington, US menunjukkan orang dengan hipertensi mempunyai resiko
yang lebih besar untuk berkembang menjadi CKD dibandingkan orang

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
33

dengan normotensi (The National Collaborating Centre for Chronic


Conditions, 2008). Pasien mempunyai hipertensi yang baru diketahui pada
bulan September 2013. Semenjak mengetahui memiliki hipertensi, pasien
tidak merubah pola hidupnya serta tidak mendapatkan terapi obat
antihipertensi. Hipertensi menyebabkan glomerulo nefropati dengan
menurunkan aliran darah ke renal yang menjadikan arteriolar mengalami
vaskulopati, obstruksi vaskular dan penurunan densitas vaskular. Kejadian
ini akan dikompensasi hingga tidak lama akan terjadi penurunan GFR.

Keluarga pasien mengatakan pasien dahulu lebih gemuk dibandingkan


sekarang. Berat badan pasien terakhir yang diketahui 65 kg dengan tinggi
badan 150 cm, ketika dilakukan penimbangan berat badan, didapatkan hasil
61,7 kg dan tinggi 150 cm. Jika dari perhitungan menggunakan berat badan
terakhir yang diketahui, didapatkan BMI 28,9. Sedangkan dari hasil
penimbangan berat badan terkini, didapatkan BMI sebesar 27,42. Menurut
penelitian kohort yang dilakukan oleh Kaiser menemukan bahwa orang
dengan Body Mass Index (BMI) > 25 merupakan independen faktor untuk
terjadinya gagal ginjal.

Menurut penelitian Stengel et al (2003) orang dengan aktivitas fisik yang


rendah mempunyai resiko lebih tinggi gagal ginjal tingkat akhir
dibandingkan orang dengan aktivitas fisik yang tinggi (The National
Collaborating Centre for Chronic Conditions, 2008). Hal ini Nampak pula
pada pasien, dimana pasien mempunyai aktivitas fisik yang rendah. Pasien
mengaku tidak pernah olahraga. Meskipun pasien merupakan karyawan di
sebuah institusi, sebaagian besar waktu kerjanya dihabiskan dengan duduk
dalam ruang ber-AC, tidak ada tuntutan mobilitas yang tinggi dalam bekerja.
Sebagai wanita dengan tanggung jawab pekerjaan rumah, pasien
mendapatkan bantuan dari orang lain dalam mengerjakan pekerjaan rumah
sehingga hal ini tidak menambah aktivitas fisik pasien.

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
34

Pada pasien terdapat edema sebagai salah satu tanda kelebihan volume
cairan. Edema yang terjadi disebabkan oleh menurunnya tekanan onkotik
kapiler dan menumpuknya natrium di cairan ekstraseluler. Penurunan laju
filtrasi glomerulus menyebabkan reabsorpsi cairan di tubulus menurun yang
berdampak pada proteinuria dan berujung pada penurunan tekanan onkotik
kapiler. Sedangkan penurunan perfusi renal mengaktivasi sistem rennin-
angiotensin-aldosteron berdampak terjadinya reabsorpsi natrium dan
menjadikan peningkatan kadar natrium di cairan ekstreseluler. Penurunan
tekanan onkotik kapiler dan peningkatan kadar natrium di cairan
ekstreseluler menyebabkan volume cairan ekstreseluler meningkat. Inilah
yang menyebabkan terjadinya edema pada pasien gagal ginjal kronik.

Komplikasi yang terjadi pada pasien yaitu anemia. Anemia normochromic


normocytic biasa menjadi komplikasi bagi penderita gagal ginjal kronik.
Kejadian anemia pada pasien ditunjukkan dari hasil pemeriksaan darah
lengkap tanggal 19 Mei hingga 23 Mei ditemukan kadar hemoglobin berada
dalam rentang 7-8,3 g/dL, hematokrit 22,3-26,6% dan eritrosit 2,36-2,88
juta/L. Anemia ini disebabkan secara spesifik karena penurunan sintesis
eritropoetin. Pada pasien CKD terjadi atropi tubular pada fibrosis
tubulointerstisial yang berdampak pada penurunan kapasitas sintesis
eritropoetin dan berujung pada anemia (Thomas, Kanso, & Sedor, 2008).

Selain anemia, pasien juga mengalami komplikasi kardiovaskular berupa


kardiomegali. Kardiomegali ini terjadi akibat beberapa faktor yaitu anemia,
kadar kalsium phospat serta kerusakan ginjal itu sendiri. Anemia yang
terjadi pada pasien merupakan salah satu faktor resiko perburukan
kardiovaskular pada CKD dengan meningkatkan pelepasan endotelin (ET-1)
yang berakibat pada vasokonstriktor (Thomas, Kanso, & Sedor, 2008; Tadei
et al, 2011). Selain itu, tingginya kadar kalsium dan phospat mengarah pada
kejadian kalsifikasi vaskular yang memicu arteriosklerosis dan
meningkatkan kekakuan dinding vaskular. Kalsifikasi dan kekakuan
vaskular ini meningkatkan afterload sehingga menyebabkan hipertrofi pada

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
35

ventrikel kiri. Kerusakan ginjal sendiri yang berupa renal iskemi


meningkatkan stress oksidatif yang merangsang oksigen reaktif
mengeluarkan vascular smooth muscle sel growth (Tadei et al, 2011).

Penyebab gagal ginjal di atas mengakibatkan terjadinya masalah


keperawatan pada pasien. Penegakan masalah keperawatan pada pasien ini
berdasarkan hasil pengkajian, pemeriksaan fisik dan data penunjang. Hasil
pengkajian ini kemudian dilakukan analisis sehingga ditemukan masalah
keperawatan. Pengkajian pada pasien mendapatkan hasil bahwa pasien,
seorang wanita berumur 48 tahun datang dengan keluhan sesak nafas sejak 2
hari sebelum masuk rumah sakit, dengan kaki dan seluruh tubuh bengkak.
Pasien mengaku bahwa kaki bengkak sejak Oktober 2013, ada riwayat batu
ginjal dan didiagnosa gagal ginjal pada November 2013.

Masalah pertama yaitu masalah kelebihan cairan pada pasien. Kelebihan


cairan terlihat dari adanya edema pada seluruh tubuh dan menyebabkan
sesak. Selain itu, pasien juga mengaku bahwa semenjak 2 minggu sebelum
masuk rumah sakit, kencing sedikit, 2-3x sehari dengan volume masing-
masing 20 cc. Hal ini didukung dari hasil pemeriksaan rontgen thorax yang
menunjukkan bahwa kardiomegali dengan bendungan awal paru.
Bendungan awal paru ini menunjukkan kelebihan cairan telah beresiko
memenuhi paru yang dapat mengakibatkan sesak.

Masalah kedua pasien adalah konstipasi. Klien mengelauh belum BAB


semenjak masuk rumah sakit (14 Mei 2014). Hasil pemeriksaan fisik
didapatkan bising usus positif 6x/menit, perut terlihat membesar, perkusi
abdomen dullness.

Resiko penyebaran infeksi dapat terjadi pada pasien ini. Hal ini ditandai
dengan klien mengatakan terpasang CDL untuk hemodialisa, IV line, dan
kateter urin, serta hasil pemeriksaan laboratorium berupa leukosit 5,53
ribu/L. Selain itu, resiko kerusakan integritas kulit juga dimiliki pada

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
36

pasien ini. Klien mengatakan gatal yang awalnya hanya di ekstremitas,


tetapi kemudian menyebar, lengan dan kaki bengkak serta terlihat kulit
kering bersisik di ekstremitas bawah. Klien juga terlihat sesekali klien
menggaruk area yang gatal.

4.3. Analisis Intervensi dengan Konsep dan Penelitian Terkait


Masalah keperawatan utama pada gagal ginjal kronis adalah kelebihan
volume cairan. Kelebihan volume cairan ini ditegakkan ketika pasien
menunjukkan retensi cairan dan edema. Kelebihan cairan ini ditunjukkan
pada jaringan di ekstremitas (edema perifer) maupun jaringan paru (edema
pulmo) (Delaune, 2002).

Kelebihan cairan harus segera diatasi dengan bekerja sama dengan dokter
untuk melakukan pemberian diuretik maupun tindakan dialisis. Pemberian
diuretik pada pasien perlu mendapatkan perhatian dan monitoring dari
perawat seperti monitoring tekanan darah. Inisiasi dialisis digunakan untuk
menjaga kondisi optimal pasien, mencegah ketidakseimbangan cairan dan
elektrolit, dan meminimalkan resiko komplikasi gagal ginjal (Smeltzer &
Bare, 2000). Meskipun pasien sebelumnya menolak untuk dilakukan
hemodialisa, setelah diberikan penjelasan lebih lanjut pasien dan keluarga
setuju untuk menjalani hemodialisa.

Hemodialisa merupakan salah satu dari terapi pengganti ginjal, selain


peritoneal dialisa dan transplantasi ginjal. Hemodialisa merupakan terapi
menggantikan faal ginjal dengan mengalirkan darah ke dalam suatu tabung
buatan (dialiser) yang terdiri dari dua kompartemen terpisah (Suwitra,
2009). Pada umumnya indikasi dialisis pada gagal ginjal yaitu laju filtrasi
glomerulus kurang dari 5mL/menit, keadaan umum buruk dan gejala klinis
nyata, kalium serum lebih dari 6 mEq/L, ureum darah lebih dari 200mg/dL,
pH darah kurang dari 7,1, anuria yang berkepanjangan (lebih dari 5 hari),
dan kelebihan cairan (Suwitra, 2009). Pasien ini mengalami anuria, dimana
pasien mengaku alasan dibawa ke rumah sakit yaitu kencing sedikit 2-

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
37

3x/hari masing-masing 20cc, klien mengatakan kaki bengkak sejak


Oktober 2013, dan mengalami sesak nafas sejak dua hari sebelum masuk
rumah sakit. Oleh karena pasien mengalami tanda dan gejala yang
memerlukan dialisa, penanganan selanjutnya setelah pasien diterima di
rumah sakit adalah hemodialisa.

Proses dialisis, terjadi aliran darah sirkuler keluar tubuh yang memerlukan
aktivasi sistem koagulasi pada pelaksanaannya. Sehingga pada saat pasien
menjalani hemodialisa, perlu diberikan heparin (Suwitra, 2009). Selain itu,
untuk hemodialisa diperlukan akses khusus yang biasanya berupa fistula
mengambil vena lengan ataupun femoral. Belum adanya akses khusus untuk
hemodialisa dapat digantikan sementara dengan pemasangan catheter
double lumen (CDL). Pemasangan CDL pada pasien gagal ginjal
meningkatkan adanya resiko infeksi.

Untuk mengevaluasi kelebihan cairan yang dialami pasien, intervensi


keperawatan yang dapat dilakukan salah satunya yaitu monitoring intake
dan output cairan. Monitoring intake output juga dapat digunakan untuk
mengetahui keefektifan terapi diuretik yang diberikan (Smeltzer & Bare,
2000). Pengukuran lain yang dapat dilakukan untuk menggambarkan
keseimbangan cairan dan elektrolit yaitu dengan mengukur berat badan.

Masalah keperawatan lain dari gagal ginjal kronik yang ditemukan pada
pasien adalah gangguan pada integritas kulit. Kulit xerosis turut
berpartisipasi menurunkan kualitas hidup seseorang dengan gagal ginjal
kronik, sehingga berdasarkan tersebut dilakukan perawatan integritas kulit
xerosis pada pasien gagal ginjal kronik menggunakan minyak zaitun. Pasien
dan keluarga telah kooperatif terhadap tindakan, sehingga tanpa diawasi pun
keluarga dan pasien akan mengoleskan minyak zaitun sebagai emolien dua
kali sehari.

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
38

Asam lemak esensial dan derivatnya dibutuhkan pada kutan agar dapat
berfungsi secara normal (Freedman, Patel, & Yosipovitch, 2007). Minyak
zaitun sebagai emolien/pelembab melalui asam lemaknya meminimalkan
interaksi dan kerusakan pada barrier lemak pada stratum korneum. Selain itu
juga menumpuk sejumlah asam lemak pada kulit sehingga membantu
hidrasi dengan menahan air di stratum korneum (Hoffman, et al., 2008).
Selain asam linoleat, kandungan -linoleic acid (GLA) pada minyak zaitun
meningkatkan sintesis anti-inflamasi eikosanoid, mengurangi proliferasi
limfosit dan produksi limpokin yang berperan pula dalam menurunkan rasa
gatal. Hal ini menguntungkan bagi penderita gagal ginjal kronis yang
mengalami pruritus, seperti yang dialami oleh pasien. Sehingga, setelah
menggunakan minyak zaitun sebagai emolien, xerosis yang dialami pasien
mengalami perbaikan dan pruritus berkurang.

4.4. Alternatif Pemecahan yang dapat dilakukan


Asuhan keperawatan kepada pasien gagal ginjal kronik ini mempunyai
beberapa kendala. Kendala yang dihadapi menuntut mahasiswa mencari
alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah keperawatan. Adanya
alternatif pemecahan masalah ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah
keperawatan dengan efektif.

Terapi yang sudah dicoba berupa pengaplikasian minyak zaitun pada kulit
xerosis mempunyai kendala dimana perawat tidak selalu dapat
mendampingi pasien ketika menggunakan minyak zaitun sebagai emolien.
Akan tetapi hal ini tidak menjadi masalah serius, karena telah dilakukan
penjelasan kepada keluarga untuk memotivasi dan mengingatkan klien
untuk mengoleskan minyak zaitun dua kali sehari. Selain itu dengan
diberikannya penjelasan mengenai manfaat tindakan memudahkan pasien
kooperatif menerima dan menimbulkan keinginan pasien untuk mengikuti
intervensi tersebut.

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
39

Masalah keperawatan pada pasien yang masih memerlukan perawatan


sesuai dengan analisis di atas adalah mengenai adanya konstipasi. Tindakan
yang sudah dicoba yaitu memotivasi mengkonsumsi makanan berserat,
memotivasi aktivitas sesuai batas toleransi, berkolaborasi mengusulkan
perlunya pemberian laxatif. Setelah dilakukan tindakan di atas, tetap tidak
mengalami perubahan. Kemudian diusulkan pemberian laxatif, tetapi hingga
pasien pulang belum juga dicoba pemberian laxatif untuk mengatasi
konstipasi. Kesulitan buang air besar ini mungkin dipengaruhi oleh
kebiasaan pasien yang mempunyai kesulitan untuk buang air besar di tempat
yang tidak biasa bagi pasien. Oleh karena itu, ke depannya dapat dicoba
untuk mengkondisikan lingkungan seperti tempat yang biasa bagi pasien
agar pasien terstimulasi mudah buang air besar.

Terdapat kekurangan dalam melakukan intervensi ini yaitu referensi terkait


evidence based practice yang sesuai dengan kasus ini terbatas. Selain itu,
penulis juga belum merasakan belum ada jaminan bahwa penggunaan
minyak zaitun sebagai emolien dapat mengatasi xerosis pada setiap pasien
gagal ginjal yang mengalami xerosis. Solusi yang bisa ditawarkan yaitu
dengan dilakukannya percobaan penggunaan minyak zaitun untuk
mengatasi xerosis pada semua pasien gagal ginjal di ruang rawat.
Diharapkan setelah adanya penulisan ini, perawat ruangan bersedia untuk
melanjutkan percobaan penggunaan minyak zaitun untuk mengatasi xerosis
pada pasien gagal ginjal hingga ada alternatif atau penemuan baru yang
lebih baik.

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
BAB 5
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa praktik klinik keperawatan kesehatan masyarakat
perkotaan pada pasien gagal ginjal kronis di ruang penyakit dalam lantai 7
gedung A RSUPN Cipto Mangunkusumo adalah sebagai berikut:
1. Penyakit gagal ginjal merupakan masalah kesehatan yang banyak terjadi
pada masyarakat perkotaan.
2. Globalisasi dan kemajuan teknologi informasi mengakibatkan perubahan
gaya hidup masyarakat kota berupa perubahan pola dan jenis makan
serta minuman, pola aktivitas. Hal ini meningkatnya faktor resiko gagal
ginjal pada masyarakat perkotaan yaitu kejadian diabetes, hipertensi,
obesitas, infeksi HIV, aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok.
3. Pada pasien terjadi masalah kelebihan cairan, konstipasi, dan integritas
kulit. Gangguan integritas kulit ini berpengaruh pada kulitas hidup klien.
Integritas kulit merupakan hal yang penting untuk diperhatikan karena
kulit merupakan barier tubuh serta berperan dalam pengaturan suhu.
Oleh karena itu, gangguan integritas kulit pada pasien CKD perlu segera
mendapat penanganan. Sehingga untuk mengatasi hal ini, digunakan
minyak zaitun sebagai emolien dalam mengatasi xerosis dan juga
mengurangi pruritus.

5.2. Saran
Berdasarkan keterbatasan dan pembahasan hasil penulisan ini, maka penulis
memberikan beberapa rekomendasi kepada penulis selanjutnya dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien gagal ginjal kronik dengan
gangguan integritas kulit.
1. Penulis selanjutnya dapat menggunakan derajat xerosis dan pruritus
dalam memberikan tindakan, sehingga asuhan keperawatan dapat terukur
secara objektif. Selain itu, penulis selanjutnya dapat mencari referensi
40 Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
41

lebih banyak mengenai metode lain atau metode terbaru dalam


mengangani xerosis sehingga dapat memberikan informasi lebih kepada
pembaca. Asuhan keperawatan yang sesuai dengan penelitian sebaiknya
diberikan pada semua pasien, sehingga dapat dibandingkan hasil
tindakan keperawatannya.
2. Dalam bidang keperawatan, perawat terutama perawat penyakit dalam
sebaiknya menganjurkan emolien untuk mengatasi xerosis baik pada
pasien penyakti ginjal maupun dengan gangguan lainnya. Perawat juga
perlu memberikan inspirasi dan menggunakan alternatif intervensi
keperawatan.
3. Institusi pendidikan perlu memberikan informasi perkembangan terbaru
mengenai asuhan keperawatan pada penyakit gagal ginjal, tidak hanya
asuhan keperawatan pada masalah kelebihan volume cairan saja, tetapi
jiga masalah keperawatan lainnya yang dapat timbul pada pasien gagal
ginjal. Sehingga mahasiswa mengetahui asuhan keperawatan seperti apa
yang harus diterapkan ketika menjalani praktik klinik. Selain itu,
institusi pendidikan juga perlu mengadakan diskusi-diskusi yang
membahas mengenai intervensi keperawatan maupun perkembangan
keperawatan.

Universitas Indonesia

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Daftar Pustaka

Bartoletti, R., et al. (2007). Epidemiology and risk factors in urolithiasis. Urologia
International, vol 79: 3-7
Basu, S, et al (2013). Relationship of soft drink consumption to global overweight,
obesity, and diabetes: a cross-national analysis of 75 countries. American Journal
Public Health, vol 103: 2071-2077
Biagio, A.D., et al (2011). Risk factors for chronic kidney disease among human
immunodeficiency virus-infected patients: a European case control study. Clinical
Nephrology, vol 75: 518-523
Bomback, A.S. et al. (2010). Sugar-sweetened soda consumption, hyperuricemia, and
kidney disease. Kidney International, vol 77: 609-616
Cheung, W.W., Palk, K.H., & Mak, R.H. (2009). Inflammation and cachexia in
chronic kidney disease. Pediatric Nephrology, 25: 711-724
Chin-chi, K, et al. (2010). Uremic frost. Canadian Medical Association Journal, vol
17: E800
Department of Health State of Western Australia. (2008). Chronic Kidney Disease
Model of Care. Perth: Health Networks Branch, Department of Health Western
Australia
Etter, L. & Myers, S.A. (2002). Pruritus in systemic disease: mechanisms and
management. Dermatological Clinic, vol 20: 459-472
Ferrari, P., et al. (2007). Lithiasis and risk factors. Urologia Internationalis, vol 79:
8-15
Freedman, B.I., Patel, T.S., & Yosipovitch, G. (2007). An update on priritus
associated with CKD. American Journal of Kidney Diseases, 50: 11-20
Gagnon, A.L. & Desai, T. (2013). Dermatological disease in patients with chronic
kidney disease. Journal of Nephropathology, volume 2(2): 104-109
Gillen, D.L., et al. (2005). Decreased renal function among adults with a history of
nephrolithiasis: a study of NHANES III. Kidney International, vol 67: 685-690

42

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
43

Hoffman, L., et al. (2008). Benefits of an emollient body wash for patients with
chronic winter dry skin. Dermatologic Therapy, vol 21: 416-421
Iseki, K., & Kohagura, K. (2007). Anemia as a risk factor for chronic kidney disease.
International Society of Nephrology, vol 72: S4-S9
Keller, J.J., Chen, Y., Lin, H.C., (2012). Association between chronic kidney disease
and urinary calculus by stone location: a population-based study. BJU
International, vol 110: 1074-1078
Khalatbary, A.R. (2013). Olive oil phenols and neuroprotection. Nutritional
Neurscience, vol 16: 243-250
Kolla, P.K., et al. (2012). Clinical study: cutaneous manifestations in patients with
chronic kidney disease on maintenance hemodialysis. International Scholarly
Research Network Dermatology, volume 2012: 4 halaman
Malik, V.S., Schulze, M.B., & Hu, F.B. (2006). Intake of sugar-sweetened beverages
and weight gain: a systematic review. American Journal Clinical Nutrition, vol 84:
274-288
Mirza, R., Wahid, Z., & Talat, H. (2012). Dermatological manifestations in chronic
renal failure patients on haemodialysis. JLUMHS, volume 11: 24-28.
Molitch, M.E., et al. (2004). American diabetes association: nephropathy in diabetes.
Diabetes Care, vol 27: 79-83.
Monhart, V. (2013). Hypertension and chronic kidney diseases. Science Direct. July
2013, 397-402
NANDA International. (2012). Nursing Diagnosis: Definition aand Classification
2012-2014. UK: Wiley-Blackwell
National Kidney Foundation (2013). Kidney international supplements: kidney diease
improving global outcomes 2012 clinical practice guideline for the evaluation and
management of chronic kidney disease. Official Journal of the International
Sociaety of Nephrology, vol 3: 1-163
Novoa, J.M.L., et al. (2010). Common pathophysiological mechanisms of chronic
kidney disease: therapeutic perspectives. Pharmacology & Therapeutics 128, 61-81

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
44

Peck, L.W., Monsen E.R., & Ahmad, S. (1996). Effect of three sources of long-chain
fatty acids on the plasma fatty acid profile, plasma prostaglandin E2 concentrarions,
and pruritus symptoms in hemodialysis patients. American Journal Clinical
Nutrition, vol 64: 210-214
Porena, M., Guiggi, P., & Micheli, C. (2007). Prevention of stone diasease. Urologia
International, vol 79: 37-46
Prodjosudjadi, W., et. al. (2009). Detection and prevention of chronic kidney disease
in Indonesia: initial community screening. Nephrology, 14: 669-674
Philip, K.T.L, et al. (2011). Asian chronic kidney disease best practice
recommendations: Positional statements for early detection of chronic kidney
disease from Asian Forum for Chronic Kidney Disease Initiatives (AFCKDI).
Nephrology 16: 633641
Roswati, E. (2013). Pruritus pada pasien hemodialisis. CDK-203, vol 40: 260-264
Sanai, M et al. (2010). Dermatologic manifestasions in patients of renal disease on
hemodialysis. Journal of Pakistan Association of Dermatologists, 20: 163-168.
Sassen, S. (2001). The global city. New Jersey: Pricenton University Press
Savica, V., et al. (2013). An update on calcium metabolism alterations and
cardiovascular risk in patients with chronic kidney disease: questions, myths and
facts. Journal of Nephrology, vol 26: 456-464
Schwartz, I.F. & Ialna, A. (2000). Management of uremic pruritus. Seminar in
Dialysis, vol 13: 177-180
Siener, R. (2006). Impact of dietary habits on stone incidence. Urol Res, vol 34: 131-
133
Siener, R., et al. (2005). The role of overweight and obesity in calcium oxalate stone
formation. Obes Res, vol 12: 106
Smeltzer, S. C., dan Bare, B. G. (2000). Brunner and Suddarths textbook of medical
surgical nursing: 9th edition. Philadelphia: Lippincott.
Suwitra, K. (2009). Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jakarta: Interna Publishing

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
45

Szepietowski, J.C., Reich, A, Schwartz, RA. (2004). Efficacy and tolerance of the
cream containing structured physiological lipid with endocannabinoids in the
treatment of uremic pruritus: a preliminary study. Acta Dermatovenereol, vol 13:
97-103
Szepietowski, J.C. et al. (2011). Quality of life in patients with uraemic xerosis and
pruritus. Journal Complication Acta Derm Venereol, vol 91: 313-317
Stompor, T., Zablocki, M., & Lesiow, M. (2013). Osteoporosis in mineral and bone
disorder of chronic kidney disease. Polskie Archiwum Medycyny Wewnetrznej, vol
123: 314-320
Suryana, A., Ariani, M., & Lokollo, E.M. (2008). The role of modern markets in
influencing lifestyles in Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian, vol 27: 11-15
Tadei, S., et al. (2011). Hypertension, left ventriculat hypertrophy and chronic kidney
disease. Heart Fail Rev, vol 16: 615-620
Taqwa, M.R. (2011). Kapitalisme dan gaya hidup konsumen di perkotaan. Jurnal
Wacana Indonesia, vol 3: 93-104
Taylor, E.N., Stampfer, M.J., & Curhan, G.C. (2005). Obesity, weight gain, and the
risk of kidney stones. JAMA, vol 293: 455
The National Collaborating Centre for Chronic Conditions. (2008). Chronic kidney
disease: national clinical guideline for early identification and management in
adults in primary and secondary care. London: Royal College of Physicians
Thomas, R, Kanso, A., & Sedor, J.R. (2008). Chronic kidney diasease and its
complications. Prim Care, vol 35: 329-344
Udayakumar, P., et al. (2006). Cutaneous manifestations in patients with chronic
renal failure on haemodialysis. Indian Journal Dermatol Venereol Leprol, 72: 119-
125.
Wijayanti, K. (2009). Fenomena pusat kebugaran dalam perkembangan kota. Skripsi
Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Lampiran 1

LEMBAR HASIL PEMERIKSAAN

Hasil pemeriksaan USG Ginjal 21 Mei 2014

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Hasil Pemeriksaan Radiologi Thorax 13 Mei 2014

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Hasil Pemeriksaan USG Ginjal 30 Desember 2013

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Tabel Hasil Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Elektrolit Nilai Normal dan Hasil Pemeriksaan


Darah Satuan 19/5 21/5 22/5

Na+ 132-147 mEq/L 140 138 142

K+ 3,3-5,4 mEq/L 3,99 4,05 3,85

Cl- 94-111 mEq/L 97,8 99 105,7

Ion Ca2+ 2,15-2,55 mmol/L 0,9 0,9

Fosfat inorganik darah 2,7-4,5 mg/dL 5,3 5

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Pemeriksaan Darah Nilai Normal dan Hasil Pemeriksaan
Lengkap Satuan 19/5 21/5 22/5 23/5

Hemoglobin 12-15 g/dL 7,9 7 7,1 8,3

Hematokrit 36-46% 25 22,3 22,8 26,6

Eritrosit 3,8-4,8 juta/L 2,71 2,36 2,43 2,88

VER 80-95 fL 92,3 94,5 93,8 92,4

HER 27-31 pg 29,2 29,7 29,2 28,8

KHER 32-36 g/dL 31,6 31,4 31,1 31,2

Trombosit 150-400 ribu/L 221 183 191 204

Leukosit 5-10 ribu/L 5,53 4,99 3,68 6,24

Basofil 0,5-1 % 0,4 0,6 1,1 0,8

Eosinofil 1-4 % 5,4 5,8 3,3 1,6

Neutrofil 55-70 % 78,2 78,2 79 83,8

Limfosit 20-40 % 8.9 6,8 8,7 6,7

Monosit 2-8 % 7,1 8,6 7,9 7,1

Laju endap darah 0-20 mm 32 45 65 15

Pemeriksaan Darah Nilai Normal dan Hasil Pemeriksaan


Lengkap Satuan 19/5 21/5 22/5 23/5

APTT 31-47 detik 39,6

PT 9,8-12,6 detik 13,3

Fibrinogen 200-400 mg/dL 218,1

D Dimer 0-300 g/L 1400

Mg 1,7-2,55 mg/dL 1,62

Ur darah <50 mg/dL 143 152 99

Cr darah 0,6-1,2 mg/dL 7,6 7,9 5,9

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Protein total 6-8 gm/dL 6,1

Albumin 3,4-4,8 g/dL 2,71 2,59

Globulin 1,8-3,9 g/dL 3,51

Albumin-Globulin ratio 1 0,7

eGFR 94-142ml/min/1,73m2 5,8 5,5 7,8

GDS 65-200 mg/dL 94

SGOT 0,6-1,2 u/L 1,1

SGPT 0-27 u/L 5

Asam Urat 2,4-5,7 mg/dL 7,4

Mikroalbuminuria 769,3
30-299
sewaktu

Cr urin 30-230 mg/dL 65

Pemeriksaan Analisa Nilai Normal dan Hasil Pemeriksaan


Gas Darah Satuan Tgl 21/5

pH 7,35-7,45 7,418

pCO2 33-45 mmHg 34,9

pO2 95-98 mmHg 77,9

HCO3- 21-25 mmol/L 22,8

Total CO2 21-27 mmol/L 23,8

BE 2,5- (-2,5) mmol/L -0,8

Saturasi O2 95-98 % 95,5

Standar HCO3- 22-24 mmol/L 23,7

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Lampiran 2

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Tujuan/Krite
Diagnosa Keperawatan Intervensi Rasional
ria Hasil
Kelebihan volume cairan Tujuan: - Timbang dan catat berat badan setiap hari - Grafik berat badan dapat menunjukkan keefektifan
berhubungan dengan setelah jika memungkinkan terapi dan kelebihan cairan
kerusakan mekanisme dilakukan - Kaji dan pantau tanda vital, denyut dan - Tekanan darah meningkat kaerna kelebihan cairan.
regulatori (gagal ginjal), asuhan irama jantung, auskultasi suara jantung, Tekanan darah turun, takikardi, aritmia, S3
penurunan urin output, keperawatan merupakan tanda gagal jantung
klien tidak - Auskultasi suara nafas, observasi adanya - Adanya crakles, sesak dispnea saat istirahat
Ditandai dengan: mengalami sesak dan dispnea menunjukkan kongesti pulmonal
Data Subjektif: kelebihan - Kulit, wajah, area edema. Evaluasi derajat - Edema merupakan tanda kelebihan cairan, edema
kencing sedikit 2-3x/hari volume edema, observasi membran mukosa. beresiko terjadinya ulkus dan iskemi jaringan
masing-masing 20cc, cairan. - Kaji adanya distensi vena jugularis - Peningkatan vena jugular tanda peningkatan cairan
klien mengatakan kaki Kriteria hasil - Batasi intake cairan sesuai indikasi, - Mencegah kelebihan volume cairan yang lebih
bengkak sejak Oktober volume cairan anjurkan pembatasan sodium, diskusikan parah. Diskusi restriksi cairan meningkatkan
2013, sesak nafas sejak dua stabil dengan mengenai restriksi cairan dan sodium kooperatifan pasien dan keluarga
hari sebelum masuk rumah intake dan - Motivasi perawatan mulut ketika restriksi - Menjaga kelembaban mukosa mulut, kelembaban
sakit, sekarang sudah output cairan atau anjurkan alternatif lain seperti mukosa mulut mengurangi stimulasi rangsang rasa
berkurang seimbang, memakai es haus
Data Objektif: tanda vital - Pantau hasil pemeriksaan laboratorium - BUN, kreatinin, Hb, Ht, elektolit dapat
edema +2 pada seluruh dalam batas seperti BUN, kreatinin, Hb, Ht, albumin menunjukkan ketidakseimbangan cairan dan
ekstremitas, wajah sedikit normal, berat dan elektrolit elektrolit
bengkak, oliguri, hasil badan normal - Masukkan/pertahankan kateter tak menetap, - Kateterisasi memberikan pengawasan urin output
rontgen thorax bendungan dan stabil sesuai indikasi secara ketat
awal paru serta bebas - Berikan medikasi sesuai indikasi - Medikasi mengatasi ketidakseimbangan cairan
edema. elektrolit

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Tujuan/Kriteria
Diagnosa Keperawatan Intervensi Rasional
Hasil
Konstipasi berhubungan Tujuan; setelah - Evaluasi medikasi untuk pasien - Medikasi tertentu dapat menyebabkan
dengan kurang aktivitas dilakukan konstipasi
fisik, perubahan intervensi - Kaji pola diet, motivasi untuk makan - Diet kurang serat dapat menyebabkan kosntipasi
lingkungan konstipasi teratasi. makanan berserat
Kriteria hasil klien - Kaji energi dan pola aktivitas, - sedentary lifestyle berpengaruh pada motilitas
Ditandai dengan: dapat defekasi motivasi pasien untuk aktivitas sesuai usus yang berdampak pada konstipasi
Data Subjektif: klien sesuai pola normal, dengan batas kemampuan
mengeluh belum BAB klien memahami - Palpasi abdomen, kaji adanya distensi - menentukan adanya penumpukan feses
semenjak masuk rumah penyebab dan dan massa, auskultasi bising usus
solusi yang tepat - Kaji kebiasaan eliminasi dan masalah - menentukan alternatif solusi mengatasi
sakit (14 Mei)
untuk masalah yang dihadapi sekarang konstipasi
indivisu, serta klien - Kolaborasi pemberian laxative - membantu mengatasi konstipasi
Data Objektif: bising
menunjukkan - Bantu menyusun jadwal untuk - menyediakan waktu khusus untuk klien dapat
usus positif 6x/menit,
perilaku dan sikap defekasi merespon desakan untuk konstipasi
perut terlihat membesar,
pencegahan
perkusi abdomen
konstipasi.
dullness

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Tujuan/Kriteria
Diagnosa Keperawatan Intervensi Rasional
Hasil
Resiko infeksi Tujuan: - Lakukan cuci tangan 5 moment hand - Mengurangi resiko infeksi dan
berhubungan dengan Setelah hygiene, ajarkan pada pasien dan kontaminasi silang, pengajaran cuci
pemasangan alat invasif dilakukan keluarga untuk mencuci tangan tangan yang benar pada pasien dan
intervensi infeksi dengan 6 benar keluarga agar meningkatkan kebiasaan
Ditandai dengan: dan perluasannya cuci tangan dengan benar
Data Subjektif: tidak terjadi. - Berikan lingkungan yang bersih dan - Lingkungan bersih mengurangi resiko
klien mengatakan terpasang Kriteria hasil: ventilasi yang baik perkembangbiakan bakteri
CDL untuk hemodialisa, sekitar luka tidak - Pantau tanda vital, terutama suhu - Memberikan informasi dasar, peningkatan
pucat, edema suhu tanda infeksi
Data Objektif: berkurang, tidak - Kaji integritas kulit, mukosa oral - Kerusakan integritas kulit dapat menjadi
klien terpasang CDL, IV ada demam, entry point bakteri dan menjadi infeksi
line, dan kateter urin, tanda vital stabil, - Bersihkan dan potong kuku jika - Mengurangi resiko transmisi pathogen
leukosit 5,53 ribu/L Hb 10 g/dL, Ht panjang melalui kulit
40-48%, leukosit - Periksa adanya luka atau tanda - Identifikasi dan perawatan awal dari
5000-1000. inflamasi kondisi sekitar alat invasif infeksi
- Ganti pemasangan alat invasif sesuai - Mengurangi resiko infeksi akibat
indikasi seperti IV line tiap tiga hari penggunaan alat invasif terlalu lama
- Jaga kebersihan dan kekeringan - Mengurangi resiko infeksi dari
sekitar alat invasif penggunaan alat invasif
- Motivasi untuk makan nutrisi sesuai - Meningkatkan imunitas dan perlawanan
kebutuhan tubuh terhadap bakteri

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Tujuan/Kriteria
Diagnosa Keperawatan Intervensi Rasional
Hasil
Kerusakan integritas kulit Tujuan: setelah - Kaji kulit secara rutin seperti tingkat - Menjadi data dasar terhadap perubahan
berhubungan dengan dilakukan kelembaban, warna, elastisitas, sirkulasi atau dekubitus
perubahan status cairan dan intervensi tidak keutuhan kulit, inspeksi permukaan
edema terjadi kerusakan kulit dan titik tekan
integritas kulit - Pantau hidrasi kulit dan membran - Hidrasi berlebihan berpengaruh pada
Ditandai dengan: dengan kriteria mukosa sirkulasi dan integritas jaringan tingkat
Data Subjektif: hasil kulit seluler
klien mengatakan gatal lembab, tidak - Kaji dan pantau keluhan gatal, - Gatal dapat menjadi rute ekskresi produk
yang awalnya hanya di kering dan anjurkan pasien untuk tidak sisa
ekstremitas, tetapi bersisik, serta menggaruk area yang gatal,
kemudian menyebar, pasien - Menganjurkan dan memotivasi - Mengatasi kekeringan kulit
lengan dan kaki bengkak. menunjukkan penggunaan minyak zaitun untuk
partisipasi pada emolien pada kulit kering
Data Objektif: pencegahan dan - Anjurkan pembatasan penggunaan - Mengurangi kekeringan kulit akibat
terlihat bengkak +2 pada intervensi. sabun atau lotion berparfum dan pemakaian sabun dan lotion berparfum
ekstremitas, terlihat kulit beralkohol dan beralkohol
kering bersisik di - Anjurkan memakai pakaian katun - Mencegah iritasi dermal
ekstremitas bawah, terlihat yang longgar
sesekali klien menggaruk - Anjurkan mengelevasikan ekstremitas - Mengurangi formasi edema,
area yang gatal. yang edema meningkatkan venous return
- Pertahankan linen kering dan bebas - Mengurangi resiko kerusakan integritas
lipatan. kulit dekubitus

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Lampiran 3

CATATAN PERKEMBANGAN

Diagnosa
Tgl Implementasi Evaluasi
Keperawatan
21/5 Kelebihan volume S: kaki dan tangan bengkak, ada batuk tapi jarang, dahak putih, sesak
Mengkaji tanda vital, denyut dan irama
cairan berhubungan jantung, mengauskultasi suara jantung sudah berkurang
dengan kerusakan Mengauskultasi suara nafas,
O: compos mentis, TD 130/80mmHg, N 84x/menit, RR 24x/menit, S:
mekanisme regulatori mengobservasi adanya sesak dan 37oC, BJ1 BJ2 reguler, suara napas vesikuler, ronki ada di apeks,
(gagal ginjal), dispnea wheezing tidak ada, tidak ada penggunaan otot bantu napas dan
penurunan urin Mengobservasi derajat dan lokasi cuping hidung, tidak ada distensi vena juguler, edema +4 di
output edema ekstremitas, kulit kaki kering bersisik, mukosa bibir lembab
Mengkaji adanya distensi vena juguler
A; kelebihan volume cairan
Mengobservasi membrane kulit dan P: kaji dan pantau tanda vital, irama dan bunyi jantung, auskultasi paru,
mukosa mulut kaji adanya sesak dan dispnea, observasi edema, observasi status
Menyiapkan dan menemani pasien hidrasi, motivasi pasien dan keluarga patuh pada restiksi cairan,
USG ginjal pantau intake-output cairan, timbang berat badan, pantau hasil
laboratorium
21/5 Konstipasi Mengkaji bising usus S: belum buang air besar
berhubungan dengan Melakukan palpasi abdomen untuk O: bising usus positif 3x dalam satu menit, distensi positif, massa tak
kurang aktivitas fisik, menentukan adanya distensi, massa teraba
perubahan A: kosntipasi
lingkungan P: kolaborasi dietisien untuk menyediakan makanan berserat, motivasi
beraktivitas sesuai toleransi, diskusikan masalah eliminasi, kaji
bowel sound, palpasi abdomen, kolaborasi pemberian laxatif

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Diagnosa
Tgl Implementasi Evaluasi
Keperawatan
21/5 Resiko infeksi Mencuci tangan 5 moments hand S: tidak merasa demam
berhubungan dengan hygiene O: TD 130/80mmHg, N 84x/menit, RR 24x/menit, S: 37 oC, kulit tidak
pemasangan alat Mengkaji tanda vital ada ulkus, terdapat venplon di lengan kanan, CDL femoral dextra
invasif Mengkaji integritas kulit balutan CDL tidak ada rembesan, kering dan bersih, tidak ada
Mengobservasi tanda infeksi di area bengkak dan nyeri di sekitar IV line,
sekitar pemasangan alat invasif A: resiko infeksi
Mengajarkan cara cuci tangan 6 benar P: cuci tangan 5 moments hand hygiene
pada pasien dan keluarga pantau tanda vital
jaga kebersihan sekitar alat invasif
ganti pemasangan alat invasif sesuai jadwal
pantau hasil laboratorium
motivasi klien makan cukup nutrisi
pertahankan prinsip septik aseptik saat tindakan.
21/5 Kerusakan integritas Mengkaji integritas kulit, kelembaban, S: kaki tangan bengkak, gatal awalnya di kaki sekarang menyebar ke
kulit berhubungan titik tekan tangan dan badan
dengan perubahan Mengkaji keluhan gatal O: kulit ekstremitas kering bersisik terutama di kaki, tidak ada uremic
status cairan dan Mengelevasikan ekstremitas yang frost, edema pada ekstremitas, terdapat bercak kehitaman di
edema edema ekstremitas dan badan, terdapat easy bruishing di lipatan siku lengan
kanan.
A: kerusakan integritas kulit
P: observasi integritas kulit, edema, area titik tekan,
Pantau keluhan gatal, elevasi ekstremitas edema, anjurkan perawatan
kulit dengan minyak zaitun sebagai emolien

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Diagnosa
Tgl Implementasi Evaluasi
Keperawatan
22/5 Kelebihan volume Mengkaji tanda vital, denyut dan irama S: kaki dan tangan bengkak, ada batuk tapi sangat jarang, sesak tidak
cairan berhubungan jantung, mengauskultasi suara jantung ada
dengan kerusakan Mengauskultasi suara nafas, O: compos mentis, TD 120/80mmHg, N 80x/menit, RR 24x/menit, S:
mekanisme regulatori mengobservasi adanya sesak dan 37,5oC, BJ1 BJ2 reguler, suara napas vesikuler, ronki masih ada,
(gagal ginjal), dispnea wheezing tidak ada, tidak ada penggunaan otot bantu napas dan
penurunan urin Mengobservasi derajat dan lokasi cuing hidung, tidak ada distensi vena juguler, edema +2 di
output edema ekstremitas bawah dan tangan kiri, edema +1 di tangan kanan, kulit
Mengkaji adanya distensi vena juguler kaki kering bersisik, mukosa bibir lembab, intake cairan 537cc/shift
Mengobservasi membrane kulit dan siang, output 150 cc/shift siang. Nilai laboratorium: Hb 7g/dL, Ht
mukosa mulut 22,3%, Ur darah 152 mg/dL, Cr darah 7,9 mg/dL, albumin 2,5 g/dL,
Mengukur intake dan output cairan A; kelebihan volume cairan belum teratasi
Memotivasi pasien dan keluarga patuh P: kaji dan pantau tanda vital, irama dan bunyi jantung, auskultasi paru,
pada program restriksi cairan kaji adanya sesak dan dispnea, observasi edema, observasi status
Memantau nilai laboratorium hidrasi, motivasi pasien dan keluarga patuh pada restiksi cairan,
Memberikan transfusi darah PRC 217 pantau intake-output cairan, timbang berat badan, pantau hasil
cc laboratorium
22/5 Konstipasi Mengkaji bising usus S: masih belum bias buang air besar
berhubungan dengan Melakukan palpasi abdomen untuk O: abdomen supel, bising usus positif 3x dalam satu menit, massa tak
kurang aktivitas fisik, menentukan adanya distensi, massa teraba
perubahan Memotivasi pasien makan kaya serat A: konstipasi belum teratasi
lingkungan Membantu menyusun jadwal defekasi P: kolaborasi dietisien untuk menyediakan makanan berserat, motivasi
dan memotivasi defekasi sesuai jadwal beraktivitas sesuai toleransi, diskusikan masalah eliminasi, kaji
Memotivasi pasien beraktivitas sesuai bowel sound, palpasi abdomen, kolaborasi pemberian laxatif
dengan toleransi

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Diagnosa
Tgl Implementasi Evaluasi
Keperawatan
22/5 Resiko infeksi Mencuci tangan 5 moments hand S: tidak merasa demam
berhubungan hygiene O: TD 120/80mmHg, N 80x/menit, RR 24x/menit, S: 37,5oC, kulit tidak
dengan Mengkaji tanda vital, terutama ketika ada ulkus, terdapat venplon di lengan kanan, CDL femoral dextra
pemasangan alat transfusi balutan CDL tidak ada rembesan, kering dan bersih, tidak ada bengkak
invasif Mengkaji integritas kulit dan nyeri di sekitar IV line, transfusi jam 18.03 tidak ada reaksi alergi
Mengobservasi tanda infeksi di area Jam 18.00 TD 130/80mmHg, N 92x/mnt, S 37,6 oC, RR 16x/mnt
sekitar pemasangan alat invasif Jam 18.15 TD 130/70mmHg, N 86 x/mnt, S 37,5 oC, RR 20 x/mnt
Mengajarkan cara cuci tangan 6 benar Jam 19.40 TD 130/80mmHg, N 88 x/mnt, S 37,9oC, RR 16 x/mnt,
pada pasien dan keluarga transfusi stop diberikan paracetamol oral 100mg
Memberikan edukasi perineal hygiene A: resiko infeksi
pada pasien dan keluarga serta P: cuci tangan 5 moments hand hygiene, pantau tanda vital, jaga kebersihan
perawatan kateter urin sekitar alat invasive, ganti pemasangan alat invasif, ganti IV line 24/5,
kateter 25/5, pantau hasil laboratorium, motivasi klien makan cukup
nutrisi, pertahankan prinsip septik aseptik saat tindakan.
22/5 Kerusakan Mengkaji integritas kulit, kelembaban, S: kaki tangan bengkak, masih ada gatal
integritas kulit titik tekan, status hidrasi O: kulit ekstremitas kering bersisik terutama di kaki, tidak ada uremic
berhubungan Mengkaji keluhan gatal frost, edema pada ekstremitas, terdapat bercak kehitaman di ekstremitas
dengan perubahan Mengelevasikan ekstremitas yang dan badan, terdapat easy bruishing di lipatan siku lengan kanan
status cairan dan edema berkurang.
edema Menganjurkan dan memotivasi A: kerusakan integritas kulit
pemakaian minyak zaitun sebagai P: observasi integritas kulit, edema, area titik tekan,
emolien Pantau keluhan gatal, elevasi ekstremitas edema
Menganjurkan pembatasan penggunaan anjurkan perawatan kulit dengan minyak zaitun sebagai emolien
sabun dan lotion berparfum dan
beralkohol

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Tgl Diagnosa Implementasi Evaluasi
Keperawatan
23- Kelebihan Mengkaji tanda vital, denyut dan irama S: sesak tidak ada
24/5 volume cairan jantung, mengauskultasi suara jantung O: compos mentis, TD 130/80mmHg, N 92x/menit, RR 22x/menit, S:
berhubungan Mengauskultasi suara nafas, 37,1oC, BJ1 BJ2 reguler, suara napas vesikuler, ronki masih ada,
dengan kerusakan mengobservasi adanya sesak dan wheezing tidak ada, tidak ada penggunaan otot bantu napas dan cuing
mekanisme dispnea hidung, tidak ada distensi vena juguler, edema +2 di ekstremitas
regulatori (gagal Mengobservasi derajat dan lokasi edema bawah, edema +1 di tangan, mukosa bibir lembab, BB 61,7 kg TB 150
ginjal), penurunan Mengkaji adanya distensi vena juguler cm, intake cairan 910cc/24jam, output 610 cc/24 jam. Nilai
urin output Mengobservasi membrane kulit dan laboratorium (22/5) Hb 7,1g/dL, Ht 22,8%, Ur darah 99 mg/dL, Cr
mukosa mulut darah 5,9 mg/dL, albumin 2,5 g/dL, Na+ 142, K+ 3,85, Cl- 105,7 tgl
Mengukur intake dan output cairan 23/5 post transfusi Hb 8,3 g/dL, Ht 26,6%
Memotivasi pasien dan keluarga patuh A; kelebihan volume cairan teratasi sebagian
pada program restriksi cairan P: kaji dan pantau tanda vital, irama dan bunyi jantung, auskultasi paru,
Memantau nilai laboratorium post kaji adanya sesak dan dispnea, observasi edema, observasi status
transfusi hidrasi, motivasi pasien dan keluarga patuh pada restiksi cairan, pantau
Menimbang berat badan intake-output cairan, timbang berat badan, pantau hasil laboratorium
23- Konstipasi Mengkaji bising usus S: masih belum bisa buang air besar
24/5 berhubungan Melakukan palpasi abdomen untuk O: abdomen supel, bising usus positif 4x dalam satu menit, massa tak
dengan kurang menentukan adanya distensi, massa teraba
aktivitas fisik, Memotivasi pasien makan kaya serat A: konstipasi belum teratasi
perubahan Memotivasi defekasi sesuai jadwal P: kolaborasi dietisien untuk menyediakan makanan berserat, motivasi
lingkungan Memotivasi pasien beraktivitas sesuai beraktivitas sesuai toleransi, diskusikan masalah eliminasi, kaji bowel
dengan toleransi sound, palpasi abdomen, kolaborasi pemberian laxatif

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Diagnosa
Tgl Implementasi Evaluasi
Keperawatan
23- Resiko infeksi Mencuci tangan 5 moments hand S: tidak merasa demam
24/5 berhubungan dengan hygiene O: kulit tidak ada ulkus, terdapat venplon di lengan kiri, CDL femoral
pemasangan alat Mengkaji tanda vital, dextra balutan CDL tidak ada rembesan, kering dan bersih, tidak ada
invasif Mengkaji integritas kulit bengkak dan nyeri di sekitar IV line,
Mengobservasi tanda infeksi di area Jam 21.00 TD 130/80mmHg, N 92x/mnt, S 37,1oC, RR 22x/mnt
sekitar pemasangan alat invasif Jam 18.15 TD 130/80mmHg, N 78 x/mnt, S 36,5oC, RR 18 x/mnt
Mengganti IV line baru A: resiko infeksi
P: cuci tangan 5 moments hand hygiene, pantau tanda vital, jaga kebersihan
sekitar alat invasif, ganti pemasangan alat invasif, kateter 25/5, pantau
hasil laboratorium, motivasi klien makan cukup nutrisi, pertahankan
prinsip septik aseptik saat tindakan.
23- Kerusakan integritas Mengkaji integritas kulit, S: kulitnya sudah mendingan, masih ada gatal tapi sudah berkurang
24/5 kulit berhubungan kelembaban, titik tekan, status O: kulit ekstremitas kering di kaki sebagian sudah terkelupas dengan
dengan perubahan hidrasi jaringan kulit yang baru sebagian sudah tidak bersisik, tidak ada uremic
status cairan dan Mengkaji keluhan gatal frost, edema +1 pada ekstremitas bawah, terdapat bercak kehitaman di
edema Memotivasi pemakaian minyak ekstremitas dan badan, kulit di tangan lembab.
zaitun sebagai emolien A: kerusakan integritas kulit teratasi sebagian
Menganjurkan pembatasan P: observasi integritas kulit, edema, area titik tekan,
penggunaan sabun dan lotion Pantau keluhan gatal, elevasi ekstremitas edema
berparfum dan beralkohol anjurkan perawatan kulit dengan minyak zaitun sebagai emolien

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Diagnosa
Tgl Implementasi Evaluasi
Keperawatan
26/5 Kelebihan volume Mengkaji tanda vital, denyut dan irama S: sesak tidak ada
cairan berhubungan jantung, mengauskultasi suara jantung O: compos mentis, TD 130/80mmHg, N 78x/menit, RR 18x/menit, S:
dengan kerusakan Mengauskultasi suara nafas, 36,1oC, BJ1 BJ2 reguler, suara napas vesikuler, wheezing tidak ada,
mekanisme regulatori mengobservasi adanya sesak dan tidak ada penggunaan otot bantu napas dan cuing hidung, tidak ada
(gagal ginjal), dispnea distensi vena juguler, edema tidak ada, mukosa bibir lembab, intake
penurunan urin Mengobservasi derajat dan lokasi cairan 150cc/shift pagi, output 110 cc/shift pagi.
output edema A; kelebihan volume cairan teratasi
Mengkaji adanya distensi vena juguler P: kaji dan pantau tanda vital, irama dan bunyi jantung, auskultasi paru,
Mengobservasi membrane kulit dan kaji adanya sesak dan dispnea, observasi edema, observasi status
mukosa mulut hidrasi, motivasi pasien dan keluarga patuh pada restiksi cairan,
Mengukur intake dan output cairan pantau intake-output cairan, timbang berat badan, pantau hasil
Memotivasi pasien dan keluarga patuh laboratorium
pada program restriksi cairan

26/5 Konstipasi Mengkaji bising usus S: masih belum bisa buang air besar
berhubungan dengan Melakukan palpasi abdomen untuk O: abdomen supel, bising usus positif 6x dalam satu menit, massa tak
kurang aktivitas fisik, menentukan adanya distensi, massa teraba
perubahan Memotivasi pasien makan kaya serat A: konstipasi belum teratasi
lingkungan Membantu menyusun jadwal defekasi P: kolaborasi dietisien untuk menyediakan makanan berserat, motivasi
dan memotivasi defekasi sesuai jadwal beraktivitas sesuai toleransi, motivasi defekasi sesuai jadwal, kaji
Memotivasi pasien beraktivitas sesuai bowel sound, palpasi abdomen, kolaborasi pemberian laxatif
dengan toleransi

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Diagnosa
Tgl Implementasi Evaluasi
Keperawatan
26/5 Resiko infeksi Mencuci tangan 5 moments hand S: tidak merasa demam
berhubungan dengan hygiene O: TD 130/80mmHg, N 78x/menit, RR 18x/menit, S: 36,1oC, kulit tidak
pemasangan alat Mengkaji tanda vital, terutama ada ulkus, CDL femoral dextra balutan CDL tidak ada rembesan,
invasif ketika transfusi kering dan bersih, tidak ada bengkak dan nyeri di sekitar IV line, tidak
Mengkaji integritas kulit ada kemerahan dan rabas di area perineal,
Mengobservasi tanda infeksi di area A: resiko infeksi
sekitar pemasangan alat invasif P: cuci tangan 5 moments hand hygiene, pantau tanda vital, jaga kebersihan
Melakukan bladder training dan sekitar alat invasif, ganti pemasangan alat invasif, pantau hasil
pelepasan kateter folley laboratorium, motivasi klien makan cukup nutrisi, pertahankan prinsip
septik aseptik saat tindakan.
26/5 Kerusakan integritas Mengkaji integritas kulit, S: gatal sudah mendingan
kulit berhubungan kelembaban, titik tekan, status O: edema tidak ada, terdapat bercak kehitaman di ekstremitas dan badan,
dengan perubahan hidrasi kulit yang kering menunjukkan perbaikan dengan adanya jaringan kulit
status cairan dan Mengkaji keluhan gatal baru, sebagian yang lain masih sedikit bersisik, kulit tangan lembab,
edema Memotivasi pemakaian minyak turgor kulit baik.
zaitun sebagai emolien A: kerusakan integritas kulit teratasi sebagian
Menganjurkan pembatasan P: observasi integritas kulit,
penggunaan sabun dan lotion Pantau keluhan gatal,
berparfum dan beralkohol anjurkan perawatan kulit dengan minyak zaitun sebagai emolien
anjurkan pembatasan penggunaan sabun dan lotion berparfum dan
beralkohol

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Lampiran 5

DAFTAR MEDIKASI

Nama Dosis Rute Indikasi Kontraindikasi Efek Samping


3x500 Per Oral Antasida, menurunkan kadar asam Alkalosis -
Bicnat mg urat, penetral asam pada penderita
asidosis tubulus renalis
3x50 mg Per Oral Anemia Anemia megaloblastik -
Vit B12
pada kehamilan
3x50 mg Per Oral Antasida Hipersensitifitas, Konstipasi, distensi
CaCo3 hiperkalsemia,
hiperkalsiuria,
Asam folat 1x15 mg Per Oral anemia Hipersensitif, -
1x100 Per Oral Hiperuricemia primer dan sekunder, Hipersensitif, wanita Reaksi hipersensitif berupa ruam
Allopurinol mg terapi sitostatik, polisitemia vera hamil dan menyusui makulopapular didahului pruritus,
urtikaria, ruam, mual
1x5 mg Per Oral Hipertensi, angina Hipersensitif, Sakit kepala, letih, mual, palpitasi,
Amlodipin
pening,
3x4 mg Intra Mual muntah Hipersensitif, Hamil dan Sakit kepala, panas& kemerahan
Ondancentron
Vena laktasi pada wajah, konstipasi
1x40 g Intra Tukak duodenal, tukak gastric, tukak Hipersensitif, hamil, Mual, muntah, sakit kepala, diare,
Omeprazole Vena peptic, refluk esofagitis menyusui perut kembung, urtikaria, pruritus,
mengantuk
3x10 cc Per Oral Zat pencair sekresi mucus dan - -
Fluimucyl
mukopurulen
3x4 mg Per Oral Edema, hipertensi Koma hepatikum, Mual, muntah, diare, anoreksia,
Furosemid
hipokalemia, lemah, letih,

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014
Lampiran 6

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. BIODATA DIRI
Nama : Fanuva Endang Tri Setyaningsih
Tempat, Tanggal Lahir : Kebumen, 15 November 1991
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Golongan Darah :A
Alamat : Sumur Pakis Rt 01 Rw 02 Pakisrejo,
Kec. Banyu Urip, Purworejo, Jawa Tengah
Email : nuva3ets@gmail.com

II. RIWAYAT PENDIDIKAN


1. Profesi Ners Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia : 2013-2014
2. Program Sarjana Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia : 2009-2013
3. SMA N 1 Purworejo : 2006-2009
4. SLTPN 1 Kutowinangun : 2003-2006
5. SDN 3 Kutowinangun : 1997-2003
6. TK Ngudi Basuki : 1996-1997

Universitas Indonesia
Minyak zaitun ..., Fanuva Endang Tri Setyaningsih, FIK UI, 2014