Anda di halaman 1dari 20

ANATOMI HIDUNG

ANATOMI HIDUNG BAGIAN LUAR

Hidung bagian luar menonjol pada garis tengah di antara pipi dan bibir atas.
Struktur hidung luar dibedakan atas tiga bagian : yang paling atas : kubah tulang yang tak
dapat digerakkan; di bawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan dan
yang paling bawah adalah lobulus hidung yang mudah digerakkan. Bentuk hidung luar
seperti piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah :

1) pangkal hidung (bridge)


2) batang hidung (dorsum nasi)
3) puncak hidung (hip)
4) ala nasi
5) kolumela dan
6) lubang hidung (nares anterior).

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh
kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau
menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari :

1) tulang hidung (os nasal)


2) prosesus frontalis os maksila dan
3) prosesus nasalis os frontal

Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang
terletak di bagian bawah hidung, yaitu 1) sepasang kartilago nasalis lateralis superior, 2)
sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai kartilago ala mayor
dan 3) tepi anterior kartilago septum.

ANATOMI HIDUNG BAGIAN DALAM

Bahagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari os.internum di
sebelah anterior hingga koana di posterior, yang memisahkan rongga hidung dari
nasofaring. Kavum nasi dibagi oleh septum, dinding lateral terdapat konka superior, konka
media, dan konka inferior. Celah antara konka inferior dengan dasar hidung dinamakan
meatus inferior, berikutnya celah antara konka media dan inferior disebut meatus media
dan sebelah atas konka media disebut meatus superior.

1
1. Septum nasi
Septum membagi kavum nasi menjadi dua ruang kanan dan kiri. Bagian
posterior dibentuk oleh lamina perpendikularis os etmoid, bagian anterior oleh
kartilago septum (kuadrilateral) , premaksila dan kolumela membranosa; bagian
posterior dan inferior oleh os vomer, krista maksila , Krista palatine serta krista
sfenoid. Fungsi septum nasi antara lain menopang dorsum nasi (batang hidung) dan
membagi dua kavum nasi.
Ada 2 bagian yang membangun septum nasi, yaitu :
a. Bagian anterior septum nasi, yang tersusun oleh tulang rawan yaitu kartilago
quadrangularis.
b. Bagian posterior septum nasi. tersusun oleh lamina perpendikularis os
ethmoidalis dan vomer.
Kelainan septum nasi yang paling sering kita temukan adalah deviasi septi.

2. Dorsum Nasi
Dorsum nasi (batang hidung).Septum nasi.Kavum nasi.Dorsum Nasi
(Batang Hidung). Ada 2 bagian yang membangun dorsum nasi, yaitu :
a. Bagian kaudal dorsum nasi.
Merupakan bagian lunak dari batang hidung yang tersusun oleh kartilago
lateralis dan kartilago alaris. Jaringan ikat yang keras menghubungkan antara
kulit dengan perikondrium pada kartilago alaris
b. Bagian kranial dorsum nasi.
merupakan bagian keras dari batang hidung yang tersusun oleh os nasalis
kanan & kiri dan prosesus frontalis ossis maksila.

3. Kavum nasi

Terdapat 6 batas kavum nasi, yaitu :


1. Batas medial kavum nasi yaitu septum nasi.
2. Batas lateral kavum nasi yaitu konka nasi superior, meatus nasi superior, konka
nasi medius, meatus nasi medius, konka nasi inferior, dan meatus nasi
inferior.
3. Batas anterior kavum nasi yaitu nares (introitus kavum nasi).
4. Batas posterior kavum nasi yaitu koane.
5. Batas superior kavum nasi yaitu lamina kribrosa.

2
6. Batas inferior kavum nasi yaitu palatum durum.
Kavum nasi terdiri dari:
a. Dasar hidung
Dasar hidung dibentuk oleh prosesus palatine os maksila dan prosesus
horizontal os palatum.
b. Atap hidung
Atap hidung terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior, os nasal,
prosesus frontalis os maksila, korpus os etmoid, dan korpus os sphenoid.
Sebagian besar atap hidung dibentuk oleh lamina kribrosa yang dilalui oleh
filament-filamen n.olfaktorius yang berasal dari permukaan bawah bulbus
olfaktorius berjalan menuju bagian teratas septum nasi dan permukaan kranial
konka superior.
c. Dinding Lateral
Dinding lateral dibentuk oleh permukaan dalam prosesus frontalis os maksila,
os lakrimalis, konka superior dan konka media yang merupakan bagian dari os
etmoid, konka inferior, lamina perpendikularis os platinum dan lamina
pterigoideus medial.
d. Konka
Fosa nasalis dibagi menjadi tiga meatus oleh tiga buah konka ; celah antara
konka inferior dengan dasar hidung disebut meatus inferior ; celah antara
konka media dan inferior disebut meatus media, dan di sebelah atas konka
media disebut meatus superior. Kadang-kadang didapatkan konka keempat
(konka suprema) yang teratas. Konka suprema, konka superior, dan konka
media berasal dari massa lateralis os etmoid, sedangkan konka inferior
merupakan tulang tersendiri yang melekat pada maksila bagian superior dan
palatum.
e. Meatus superior
Meatus superior atau fisura etmoid merupakan suatu celah yang sempit antara
septum dan massa lateral os etmoid di atas konka media. Kelompok sel-sel
etmoid posterior bermuara di sentral meatus superior melalui satu atau
beberapa ostium yang besarnya bervariasi. Di atas belakang konka superior
dan di depan korpus os sfenoid terdapat resesus sfeno-etmoidal, tempat
bermuaranya sinus sfenoid.
f. Meatus media

3
Merupakan salah satu celah yang penting yang merupakan celah yang lebih
luas dibandingkan dengan meatus superior. Di sini terdapat muara sinus
maksila, sinus frontal dan bahagian anterior sinus etmoid. Di balik bagian
anterior konka media yang letaknya menggantung, pada dinding lateral
terdapat celah yang berbentuk bulan sabit yang dikenal sebagai infundibulum.
Ada suatu muara atau fisura yang berbentuk bulan sabit yang menghubungkan
meatus medius dengan infundibulum yang dinamakan hiatus semilunaris.
Dinding inferior dan medial infundibulum membentuk tonjolan yang
berbentuk seperti laci dan dikenal sebagai prosesus unsinatus. Di atas
infundibulum ada penonjolan hemisfer yaitu bula etmoid yang dibentuk oleh
salah satu sel etmoid. Ostium sinus frontal, antrum maksila, dan sel-sel etmoid
anterior biasanya bermuara di infundibulum. Sinus frontal dan sel-sel etmoid
anterior biasanya bermuara di bagian anterior atas, dan sinus maksila
bermuara di posterior muara sinus frontal. Adakalanya sel-sel etmoid dan
kadang-kadang duktus nasofrontal mempunyai ostium tersendiri di depan
infundibulum. Meatus inferior adalah yang terbesar di antara ketiga meatus,
mempunyai muara duktus nasolakrimalis yang terdapat kira-kira antara 3
sampai 3,5 cm di belakang batas posterior nostril.

h. Nares
Nares posterior atau koana adalah pertemuan antara kavum nasi dengan
nasofaring, berbentuk oval dan terdapat di sebelah kanan dan kiri septum. Tiap
nares posterior bagian bawahnya dibentuk oleh lamina horisontalis palatum,
bagian dalam oleh os vomer, bagian atas oleh prosesus vaginalis os sfenoid
dan bagian luar oleh lamina pterigoideus.

Di bahagian atap dan lateral dari rongga hidung terdapat sinus yang terdiri atas
sinus maksila, etmoid, frontalis dan sphenoid. Sinus maksilaris merupakan sinus paranasal
terbesar di antara lainnya, yang berbentuk piramid yang irregular dengan dasarnya
menghadap ke fossa nasalis dan puncaknya menghadap ke arah apeks prosesus
zygomatikus os maksilla.

4
Gambar 1. Anatomi hidung dalam

Gambar 2. Hidung dan Cavum

PERDARAHAN HIDUNG

Bagian atas hidung rongga hidung mendapat pendarahan dari a. etmoid anterior
dan posterior yang merupakan cabang dari a. oftalmika dari a.karotis nterna. Bagian
bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a. maksilaris interna, di antaranya
adalah ujung a.palatina mayor dan a.sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina
bersama n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka
media. Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang cabang a.fasialis.
Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang
a.sfenopalatina,a.etmoid anterior, a.labialis superior, dan a.palatina mayor yang disebut

5
pleksus Kiesselbach (Littles area). Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah
cidera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis(pendarahan hidung)
terutama pada anak.
Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan
arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v.oftalmika yang
berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup,
sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi hingga ke
intrakranial.

PERSARAFAN HIDUNG

Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari
n.etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris, yang berasal dari
n.oftalmikus (N.V-1). Rongga hidung lannya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris
dari n.maksila melalui ganglion sfenopalatinum. Ganglion sfenopalatinum selain
memberikan persarafan sensoris juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom
untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut-serabut sensoris. Dari n.maksila
(N.V-2), serabut parasimpatis dari n. petrosus superfisialis mayor dan serabut-serabut
simpatis dari n. petrosus profundus. Ganglion sfenopalatinum terletak di belakang dan
sedikit di atas ujung posterior konka media.

Nervus olfaktorius. Saraf ini turun dari lamina kribrosa dari permukaan bawah
bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa
olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.

FISIOLOGI HIDUNG

Dalam keadaan idealnya, desain hidung internal menyediakan saluran yang canggih
untuk pertukaran udara yang laminer. Selama inspirasi hidung, terjadi penyaringan partikel-
partikel dan pelembaban udara dari luar oleh epitel bertingkat torak semu bersilia
(pseudostratified ciliated columnar epithelium). Lapisan hidung, terutama pada konka inferior
dan media mengandung lamia propia bervaskuler tinggi. Arteriol-arteriol konka berjalan
melewati tulang konka dan dikelilingi oleh pleksus vena. Dilatasi arteri yang terjadi dapat
memblok aliran balik vena, yang akhirnya menyebabkan kongesti mukosal.
Berdasarkan teori struktural, teori evolisioner dan teori fungsional, fungsi fisiologi
hidung dan sinus paranasal adalah :

6
a. Fungsi Respirasi
Udara yang dihirup akan mengalami humidifikasi oleh palut lendir. Suhu udara yang
melalui hidung diatur sehingga berkisar 370C. Fungsi pengatur suhu ini dimungkinkan
oleh banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan
septum yang luas. Partikel debu, virus, bakteri, dan jamur yang terhirup bersama udara
akan disaring di hidung oleh: rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi, silia, palut
lendir. Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan partikel-partikel yang besar
akan dikeluarkan dengan refleks bersin.
b. Fungsi Penghidu
Hidung bekerja sebagai indera penghidu dan pencecap dengan adanya mukosa
olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum.
Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila
menarik napas dengan kuat. Fungsi hidung untuk membantu indera pencecap adalah
untuk membedakan rasa manis yang berasal dari berbagai macam bahan.
c. Fungsi Fonetik
Resonansi oleh hidung penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi.
Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga
terdengar suara sengau (rhinolalia). Terdapat 2 jenis rhinolalia yaitu rhinolalia aperta
yang terjadi akibat kelumpuhan anatomis atau kerusakan tulang di hidung dan mulut.
Yang paling sering terjadi karena stroke, dan rhinolalia oklusa yang terjadi akibat
sumbatan benda cair (ketika pilek) atau padat (polip, tumor, benda asing) yang
menyumbat.
d. Refleks Nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor reflex yang berhubungan dengan saluran cerna,
kardiovaskuler dan pernapasan. Iritasi mukosa hidung akan menyebabkan reflex bersin
dan napas berhenti. Rangsang bau tertentu akan menyebabkan sekresi kelenjar liur,
lambung, dan pankreas.

SINUS PARANASAL

Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sangat sulit di
deskripsikan karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Ada 4 pasang sinus
pasang sinus paranasal mulai dari yang terbesar yaitu , sinus maksilla,sinus frontal,sinus
etmoidalis,sinus splenoidalis kanan dan kiri. Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi

7
tulang-tulang kepala,sehingga terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus mempunyai
muara(ostium) ke dalam rongga hidung. Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari
invaginasi mukosa rongga hidungdan perkembangannya dimulai dari fetus usia 3-4 bulan,
kecuali sinus splenoidalis dan sinus frontalis. Sinus maksilla dan sinus etmoidalis telah ada
saat bayi lahir, sedangkan sinus frontal berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak
yang kurang lebih 8 tahun. Pneumatisasi sinus splenoidalis dimulai pada usia 8-10 tahun dan
berasal dari bagian postero-superior rongga hidung. Sinus-sinus ini umumnya mencapai besar
maksimal pada usia 15-18 tahun.

Kompleks ostiomeatal (KOM) adalah bagian dari sinus etmoid anterior yang berupa
celah pada dinding lateral hidung. Pada potongan koronal sinus paranasal gambaran KOM
terlihat jelas yaitu suatu rongga di antara konka media dan lamina papirasea. Struktur anatomi
penting yang membentuk KOM adalah prosesus unsinatus, infundibulum etmoid, hiatus
semilunaris, bula etmoid, agger nasi dan ressus frontal. Serambi depan dari sinus maksila
dibentuk oleh infundibulum karena sekret yang keluar dari ostium sinus maksila akan
dialirkan dulu ke celah sempit infundibulum sebelum masuk ke rongga hidung. Sedangkan
pada sinus frontal sekret akan keluar melalui celah sempit resesus frontal yang disebut
sebagai serambi depan sinus frontal. Dari resesus frontal drainase sekret dapat langsung
menuju ke infundibulum etmoid atau ke dalam celah di antara prosesus unsinatus dan konka
media

SINUS MAKSILA

Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir,sinus maksila
bervolume 6-8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran
maksimal yaitu 15 ml pada usia dewasa.

Sinus maksila berbentuk piramid. Dinding anterior sinus ialah permukaan fasial os
maksila yang disebut dengan fosa kanina, dinding posteriornya adalah permukaan infra-
temporal maksila, dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung,dinding superiornya
adalah ialah dasar orbita dan dinding inferiornya ialah prosessus alveolaris dan palatum.
Ostium sinus maksilaris berada disebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke
hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid.

Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila ialah:

8
1. Dasar sinus maksila yang sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas, yaitu
premolar (P1,P2), molar (M1,M2), kadang-kadang juga gigi taring(C), dan gigi
molar M3, bahkan akar-akar gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus,
sehingga infeksi gigi geligi mudah naik ke atas dan dapat menyebabkan sinusitis.
2. Sinusitis maksilla dapat menimbulkan komplikasi orbita
3. Ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga drenase
hanya tergantung dari gerak silia, lagipula drenase juga harus melalui
infundibulum yang sempit. Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior
dan pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi
drenase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis.

SINUS FRONTAL

Sinus frontal yang terlenyak di os frontak mulai terbentuk sejak bulan ke 4 fetus,
berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Sesudah lahir, sinus
frontal mulai berkembang pada usia 8-10 bulan dan akan mencapai ukuran maksimal sebelum
usia 20 tahun.Sinus frontal kanan dan kirim biasanya tidak simetris, satu lebih besar daripada
lainnya dan dipisahkan oleh sekat yang terletak di garis tengah. Kurang lebih 15% orang
dewasa hanya mempunyai satu sinus frontal dan kurang lebih 5% sinus frontalnya tidak
berkembang.

Ukuran sinus frontal adalah 2,8 cm tingginya, 2,4 cm lebarnya dan dalamnya 2 cm.
Sinus frontal biasanya bersekar-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk. Tidak adanya gambaran
septum-septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto Rontgen yang menunjukan adanya
infeksi sinus. Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fosa
serebri anterior,sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar kedaerah ini. Sinus frontal
berdrenase melalui ostiumnya yang terletak di resessus frontal, yang berhubungan dengan
infundibulum etmoid.

SINUS ETMOID

Dari semua sinus prasanasal, sinus etmoid yang paling bervariasi dan akhir-akhir ini
dianggap paling penting, karena dapat merupakan fokus infeksi bagi sinus-sinus lainnya.
Pada orang dewasa bentuk sinus etmoid seperti piramud dengan dasarnya dibagian posterior.
Sinus etmoid berongga-rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon, yang
terdapat didalam massa bagian lateral os etmoid , yang terletak diantara konka media dan
dinding medial orbita. Sel-sel ini jumlahnya bervariasi, berdasarkan letaknya,sinus etmoid

9
dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara di meatus medius dan sinus etmoid
posterior yang bermuara di meatus superior.

Dibagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang disebut resesus frontal yang
berhubungan dengan sinus frontal. Sel etmoid yang terbesar disebut bula etmoid. Didaerah
etmoid anterior ada suatu penyempitan yang disebut infundibulum, tempat bermuaranya
ostium sinus maksila. Pembengkakan atau peradangan di resesus frontal dapat menyebabkan
sinusitis frontal dan pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan sinusitis maksila.

SINUS SFENOID

Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus
sfenoid dibagi oleh 2 sekar yang disebut septum infrasfenoid. Ukurannya adalah 2 cm
tinnginya, dalamnya 2,3 cm dan lebarnya 1,7 cm. Volumenya bervariasi dari 5-7,5 cm. Saat
sinus berkembang , pembuluh darah dan nervus dibagian lateral os sfenoid akan menjadi
sangat berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indentasi pada rongga sfenoid.

Batas-batasnya adalah , sebelah superior terdapat fosa serebri media dan kelenjar
hipofisa, sebelah inferior atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan dengan sinus kavernosus
dan arteri carotis interna dan sebelah posteriornya berbatasan dengan fosa serebri posterior di
pons.

SINUSITIS PARANASAL

DEFINISI PERADANGAN SINUS PARANASALIS (SINUSITIS)

Sinusitis paranasal adalah suatu peradangan sinus paranasal. Sinusitis adalah


penyakit yang terjadi di daerah sinus. Sinus itu sendiri adalah rogga udara yang terdapat di
area wajah yang terhubung dengan hidung. Fungsi dari rongga sinus sendiri adalah untuk
menjaga kelembapan hidung dan menjaga pertukaran udara di daerah hidung. Rongga sinus
sendiri terdiri dari 4 jenis yaitu :

- Sinus Frontal, terletak di atas meja dibagian tengah dari masing-masing alis

- Sinus Maxilla, terletak diantara tulang pipi, tepat di sampig hisung

- Sinus Ethmooid, terletak di antara mata, tepat dibelakang tulang hidung

- Sinus Sphenoid, terletak dibelakang sinus ethmoid dan di belakang mata

10
ETIOLOGI PERADANGAN SINUS PARANASALIS (SINUSITIS)

Sinusitis akut dapat disebabkan oleh kerusakan lapisan rongga sinus akibat infeksi
atau tindakan bedah. Sedangkan sinusitis subakut biasanya disebakan oleh infeksi atau
tidakan bedah. Sedangkan sinusitis kronis biasanya di sebabkan oleh infeksi bakteri. Sinusitis
dapat terjadi akibat dari beberapa faktor dibawah ini :

- Bulu-bulu halus didalam rongga sinus (cilia) tidak bekerja secara maksimal akibat
kondisi medis tertentu
- Flu dan alergi menyebabkan lender diproduksi secara berlebihan atau menutupi
rogga sinus
- Adanya kelainan pada sekat rongga hidung, kelainan tulang ataupun polip pada
hidung dapat menutupi rongga sinus.

Selain hal tersebut di atas, apapun yang dapat menyebabkan bengkak mendorong
lendir dapat menyebabkan sinusitas. Hal ini biasanya disebabkan oleh perubahan pada suhu
dan tekanan udara. Alergi, penggunaan penyemprot hidung secara berlebihan, merokok,
berenang, atau menyelam dapat meningkatkan resiko terkena sinusitis. Sinusitis bisa terjadi
pada salah satu dari keempat sinus yang ada (maksilaris,etmoidalis, frontalis atau
sfenoidalis).

GEJALA PERADANGAN SINUS PARANASALIS (SINUSITIS)

Gejala sinusitis yang paling umum adalah sakit kepala, nyeri pada daerah wajah, serta
demam. Hampir 25% dari pasien sinusitis akan mengalami demam yang berhubungan dengan
sinusitis yang diderita. Gejala lainnya berupa wajah pucat, perubahan warna pada ingus,
hidung tersumbat, nyeri menelan, dan batuk. Beberapa pasien akan merasakan sakit kepala
bertambah hebat bila kepala ditundukan ke depan. Pada sinusitis karena alergi maka penderita
juga akan mengalami gejala lain yang berhubungan dengan alerginya seperti gatal pada mata,
dan bersin bersin.

Gejala lain yang ditimbulkan dari sinusitis adalah :

- Rasa sakit atau adanya tekanan didaerah dahi, pipi, hidung dan diantara mata

- Sakit kepala

- Demam

11
- Hidung mampet

- Berkurangnya indra penciuman

- Batuk, biasanya akan memburuk saat malam

- Nafas berbau (halitosis)

- Sakit gigi

Gejala sinusitis pada anak-anak meliputi :

- Timbul flu atau penyakit pernafasan yang mekin memburuk

- Demam tinggi disertai dengan adanya lendir perafasan yang berwarna gelap

- Adanya pernafasan dengan atau tanpa adanya flu lebih dari 10 hari dan tidak membaik

PATOFISIOLOGI

Sinus normal biasanya dalam keadaan yang steril. Bakteri yang masuk ke sinus dapat
dieliminasi dengan cepat melalui sekresi mukus yang dikeluarkan oleh sel epitel kolumnar
bersilia. Mukus itu sendiri dihasilkan oleh sel goblet dan kelenjar submukosa. Oleh karena
itu, jika ada kelainan pada silia, maka proses eliminasi bakteri pun terhambat .
Baik atau tidak baiknya keadaan sinus dipengaruhi oleh 2 hal, yaitu patensi ostium-
ostium sinus dan lancarnya klirens mukosiliar (mucocilliary clearance) di dalam kompleks
ostio-meatal (KOM). Mukus sangat bermanfaat dalam menjaga kesehatan sinus karena
mengandung substansi antimikrobial (immunoglobulin) dan zat-zat yang berfungsi sebagai
mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama-sama dengan udara
pernafasan.
Inflamasi hidung dan sinus dari berbagai penyebab dapat mengakibatkan obstruksi
ostium-ostium sinus dan menjadi faktor predisposisi terhadap infeksi. Faktor yang berperan
dalam terjadinya acute bacterial sinusitis (ABRS) banyak, secara garis besar dibagi atas 2
bagian, yaitu faktor manusia dan lingkungan. Faktor-faktor yang berhubungan dengan
penderita itu sendiri (faktor manusia), yaitu faktor genetik seperti sindrom silia imotil atau
kista fibrosis, abnormalitas anatomi (konka bulosa, kelainan septum, atau turbinatum
paradoksal), penyakit sistemik, keganasan, dan alergi. Sedangkan faktor lingkungan meliputi
infeksi bakteri, virus, jamur, atau paparan primer maupun sekunder asap tembakau, akut atau
kronik bahan iritan atau bahan kimia berbahaya, faktor iatrogenik termasuk pembedahan,

12
medikamentosa ataupun pemasangan NGT. Berdasarkan bukti-bukti yang ada saat ini, para
individu dengan riwayat alergi memiliki tingkat insidensi yang lebih tinggi terjadinya
rinosinusitis akut dan kronik.

Patofisiologi Sinusitis

KLASIFIKASI SINUSITIS

a. Sinusitis Dentogen

Sinusitis dentogen merupakan salah satu penyebab penting sinusitis kronik. Dasar
sinus maksila adalah prosesus alveolaris tempat gigi rahang atas sehingga rongga sinus
maksila hanya terpisahkan oleh tulang tipis dengan akar gigi, bahkan terkadang tanpa tulang
pembatas. Infeksi rahang atas seperti infeksi apikal akar gigi atau inflamasi jaringan

13
peridontal mudah menyebar secara langsung ke sinus, atau melalui pembuluh darah dan
limfe. Sinusitis dentogen terjadi pada sinusitis maksila kronik yang mengenai satu sisi dengan
ingus yang purulen dan napas berbau busuk. Pengobatan yang dilakukan gigi yang terinfeksi
harus dicabut atau dirawat dan antibiotik yang mencakup bakteri anaerob. Seringkali juga
dilakukan irigasi sinus makasila.

b. Sinusitis Jamur

Sinusitis jamur adalah infeksi jamur pada sinus paranasal. Angka kejadian meningkat
dengan meningkatnya pemakaian antibiotik, kortikosteroid, obat-obat imunosupresan, dan
radioterapi. Kondisi yang merupakan predisposisi antara lain diabetes melitus, neutropenia,
penyakit AIDS dan perawatan yang lama di rumah sakit. Jenis jamur yang paling sering
menyebabkan infeksi sinus paranasal ialah Aspergillus dan Candida.

DIAGNOSIS

Diagnosis dapat ditegakan bedasarkan anamnesis,pemeriksaan fisik dan pemeriksaan


penunjang. Pemeriksaan fisik dengan rhinoskopi anterior dan posterior, pemeriksaan naso-
endoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. Tanda khas ialah
adanya pus di meatus media (pada sinusitis maksila dan etmoid anterior dan posterior) atau di
meatus superior(pada sinus etmoid posterior dan sfenoid).

Pada rhinosinusitis akut, mukosa edema dan hiperemis. Pada anak sering ada
pembengkakan dan kemerahan di daerah meatus medius. Pemeriksaan penunjang yang
penting adalah foto polos atau CT SCAN. Foto polos posisi Waters, PA dan lateral, umunya
hanya mampu menilai kondisi sinus-sinus besar seperti sinus maksila dan frontal. Kelainan
akan terlihat perselubungan, batas udara-cairan atau penebalan mukosa.

CT SCAN sinus merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena mampu menilai
adanya kelainan anatomi hidung dan sinus secara keseluruhan dan perluasannya. Namun
karena mahal hanya dikerjakan sebagai penunjang diagnosis sinusitis kronik yang tidak
membaik dengan pengobatan atau praoperasi sebagai panduan operator saat melakukan
operasi sinus.

Pada pemeriksaan transluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap.
Pemeriksaan ini sudah jarang digunakan karena sangat terbatas kegunaannya.

14
Pemeriksaan mikrobiologik dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil sekret
dari meatus medius atau superior , untuk mendapatkan antibiotik yang tepat guna. Lebih baik
sekret yang diambil keluar dari pungsi sinus maksila.

Sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila melalui
meatus inferior, dengan alat endoskop bisa dilihat kondisi sinus maksila yang sebenarnya,
selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi.

DIAGNOSIS BANDING

Rinitis Alergi

Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada
pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan allergen yang sama serta
dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan allergen spesifik
tersebut. Gejalanya adalah serangan bersin berulang, keluar ingus ( rinore ) yang encer dan
banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior
tampak edema, basah, berwarna pucat atau livid di sertai adanya sekret encer yang banyak.
Terapi yang paling ideal adalah dengan menghindari kontak dengan allergen penyebabnya
dan eliminasi. Selain itu dapat diberi antihistamin, yang dipakai adalah antagonis histamine
H-1 yang bekerja secara inhibitor kompetitif pada reseptor H-1 sel target dan merupakan
preparat farmakologik yang sering dipakai sebagai lini pertama pengobatan rhinitis alergi.

Rinitis Simpleks

Penyakit ini merupakan penyakit virus yang paling sering ditemukan, penyebabnya
ialah beberapa jenis virus dan yang paling penting ialah rhinovirus. Gejalanya adalah gatal
didalam hidung, bersin berulang-ulang, hidung tersumbat dan ingus encer, yang biasanya
disertai dengan demam dan nyeri kepala. Mukosa hidung tampak merah dan bengkak. Bila
terjadi infeksi sekunder bakteri, ingus menjadi mukopurulen. Tidak ada terapi spesifik untuk
rhinitis simpleks selain istirahat dan pemberian obat-obat simptomatis, seperti analgetika,
antipiretika dan obat dekongestan.

Rinitis hipertrofi

15
Istilah hipertrofi digunakan untuk menunjukkan perubahan mukosa hidung pada
konka inferior yang mengalami hipertrofi karena proses inflamasi kronis yang disebabkan
oleh infeksi bakteri primer atau sekunder. Gejala utama adalah sumbatan hidung atau gejala
di luar hidung akibat hidung yang tersumbat seperti mulut kering, nyeri kepala dan gangguan
tidur. Sekret biasanya banyak dan mukopurulen. Pada pemeriksaan ditemukan konka yang
hipertrofi terutama konka inferior. Terapinya adalah terapi simptomatis untuk mengurangi
sumbatan hidung akibat hipertrofi konka dapat dilakukan kaustik konka dengan zat
kimia( nitras argenti atau trikloroasetat) atau dengan kauter listrik.

Rinitis atrofi

Rinitis atrofi merupakan infeksi hidung kronik yang ditandai oleh adanya atrofi
progresif pada mukosa dan tulang konka. Secara klinis mukosa hidung menghasilkan secret
yang kental dan cepat mongering sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk. Keluhan
biasanya berupa napas berbau, ada ingus kental yang berwarna hijau, ada kerak hijau, sakit
kepala, hidung merasa tersumbat. Pada pemeriksaan hidung didapatkan rongga hidung sangat
lapang, konka inferior dan media menjadi hipotrofi atau atrofi, ada secret purulent dan krusta
yang berwarna hijau. Pengobatannya diberikan antibiotika berspektrum luas atau sesuai
dengan uji resistensi kuman dengan dosis yang adekuat. Untuk membantu menghilangkan
bau busuk akibat hasil proses infeksi serta secret purulent dan krusta dapat dipakai obat cuci
hidung. Jika dengan pengobatan konservatif tidak ada perubahan maka dilakukan operasi.

PENATALAKSANAAN

Tujuan terapi sinusitis ialah mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi, dan


mencegah perubahan akut menjadi kronik. Jenis terapi dibagi menjadi 2 pilihan, yaitu secara
medikamentosa dan pembedahan.
Medikamentosa
Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di KOM ( kompleks osteomeatal)
sehingga drenase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami. Antibiotik dan dekongestan
merupakan terapi pilihan pada sinusitis bakterial akut. Antibiotik yang dipilih adalah yang
berspektrum lebar, yaitu golongan penisilin seperti amoksisilin. Jika kuman resisten terhadap
amoksisilin, maka diberikan amoksisilin-klavulanat atau sefalosporin generasi ke-2.
Antibiotik diberikan selama 10-14 hari meskipun gejala klinik sudah hilang. Jika penderita
tidak menunjukkan perbaikan dalam 72 jam, maka dilakukan reevaluasi dan mengganti
antibiotik yang sesuai.

16
Pengobatan secara medikamentosa menunjukkan hasil yang lebih memuaskan jika
diberikan sesuai dengan hasil kultur . Gold standard untuk kultur sinus adalah pungsi sinus
maksilaris, namun hal ini harus dilakukan pada pasien tertentu dan dilakukan dengan hati-hati
karena dapat menyebabkan komplikasi minor seperti nyeri dan perdarahan. Kultur sinus
sangat penting dalam memilih jenis obat pada rinosinusitis kronik karena organisme
patogennya berbeda. Antibiotik yang biasanya diberikan pada rinosinusitis kronik adalah
yang sesuai untuk kuman gram negatif (S. aureus) dan anaerob

Selain dekongestan oral dan topikal, terapi lain dapat diberikan jika diperlukan,
seperti analgetik, mukolitik seperti guaifenesin , steroid oral/ topikal, pencucian rongga
hidung (irigasi) dengan NaCl atau pemanasan (diatermi) .Steroid hidung (spray) sering
diberikan untuk terapi pemeliharaan/maintenance pada rinosinusitis kronik. Nasal saline
irrigation adalah jenis terapi yang penting dalam mengobati rinosinusitis kronik. Bilasan
hidung tersebut akan mencegah akumulasi krusta-krusta di hidung dan membantu lancarnya
klirens mukosiliar. Irigasi antibiotik seperti gentamisin (80 mg/L) dipertimbangkan
pemberiannya pada rinosinusitis kronik yang refrakter
Untuk pasien dengan riwayat alergi dapat ditangani dengan cara menghindarkan
faktor pencetus, pemberian steroid topikal, dan imunoterapi. Antihistamin generasi ke-2
diberikan bila ada alergi berat

Pembedahan

Tatalaksana pembedahan yang dilakukan ada beberapa cara, antara lain : bedah sinus
endoskopi fungsional dan operasi sinus terbuka, seperti operasi Caldwell-Luc, etmoidektomi
eksternal, trepinasi sinus frontal dan irigasi sinus.

a. Bedah Sinus Endoskopi Fungsional

Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/ FESS) merupakan operasi terkini untuk
sinusitis kronik yang memerlukan operasi. Indikasinya berupa: sinusitis kronik yang tidak
membaik setelah terapi adekuat, sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang irreversibel,
polip ekstensif, adanya komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur

b. Operasi Caldwell-Luc

Operasi dengan metode Caldwell-Luc dilakukan pada kelainan sinus maksilaris.


Indikasi operasi dengan metode ini yaitu jika terlihat manifestasi klinis seperti mukokel sinus

17
maksilaris, polip antrokoanal, misetoma, atau benda asing yang tidak dapat dijangkau melalui
endoskopi intranasal.

c. Etmoidektomi Eksternal

Etmoidektomi eksternal telah banyak digantikan oleh bedah endoskopi. Meskipun


begitu, masih ada keuntungan dalam menggunakan metode operasi ini. Misalnya, biopsi
dapat dilakukan secara eksternal pada lesi sinus etmoid atau frontal. Manfaat lain dari metode
ini yaitu dapat memperbaiki komplikasi orbita dari sinusitis etmoid akut atau frontal dengan
cepat dan aman.

d. Trepinasi Sinus Frontal

Metode operasi ini bermanfaat untuk infeksi akut ketika endoskopi nasal sulit
dilakukan akibat perdarahan mukosa hidung. Operasi ini aman dan dekompresi pus pada
sinus frontalis cepat dilakukan.

e. Irigasi Sinus

Irigasi sinus bermanfaat sebagai diagnostik sekaligus terapi. Irigasi sinus dilakukan
pada sinusitis maksilaris akut yang tidak dapat ditangani dengan pengobatan konservatif dan
juga dijadikan sebagai prosedur tambahan untuk drainase eksternal pada komplikasi orbita
yang akut. Pungsi antrum biasanya dilakukan pada meatus inferior hidung.

KOMPLIKASI

Komplikasi sinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya antibiotic.


Komplikasi berat biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronis dengan
eksaserbasi akut berupa komplikasi orbita atau intrakranial.

Kelainan orbita

Kelainan orbita disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata ( orbita
), yang paling sering ialah sinusitis etmoid kemudian sinusitis frontal dan maksila.
Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis dan perikontinuitatum. Kelainan yang dapat
timbul ialah edema palpebral, selulitis orbita, abses subperiostal, abses orbita dan selanjutnya
dapat terjadi thrombosis kavernosus.

Kelainan intrakranial

18
Kelainan intracranial dapat berupa meningitis, abses ekstradural atau subdural , abses
otak dan thrombosis sinus kavernosus.

Komplikasi juga dapat terjadi pada sinusitis kronis berupa :

Osteomielitis dan abses subperiostal

Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak.
Pada osteomyelitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral atau fistula pada pipi.

Kelainan paru

Seperti bronchitis kronik dan bronkiektasis. Adanya kelainan sinus paranasal disertai
dengan kelainan paru ini disebut sinobronkitis. Selain itu dapat juga menyebabkan
kambuhnya asma bronkial yang sukar di hilangkan sebelum sinusitisnya disembuhkan

PROGNOSIS

Prognosis untuk penderita sinusitis akut yaitu sekitar 40 % akan sembuh secara
spontan tanpa pemberian antibiotik. Terkadang juga penderita bisa mengalami relaps setelah
pengobatan namun jumlahnya sedikit yaitu kurang dari 5 %. Komplikasi dari penyakit ini
bisa terjadi akibat tidak ada pengobatan yang adekuat yang nantinya akan dapat
menyebabkan sinusitis kronik, meningitis, brain abscess, atau komplikasi extra
sinus lainnya.
Sedangkan prognosis untuk sinusitis kronik yaitu jika dilakukan pengobatan yang dini
maka akan mendapatkan hasil yang baik. Untuk komplikasinya bisa berupa orbital cellulitis,
cavernous sinus thrombosis, intracranial extension (brain abscess, meningitis) dan mucocele
formation.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. KASHYAP, S. K. & KHAN, M. A. Supernumerary nostril: A case report and review.


Int. J. Morphol., 27(1):39-41, 2009
2. Brown, K. & Brown, O. E. Congenital malformation of the nose. Cummings, C. W. Eds.
Otolaryngology-Head and neck surgery. 3 Ed. Mosby, St. Louis, 1998. pp.92-103.
3. http://emedicine.medscape.com/article/837236-overview.
4. Grabb and Smith's Plastic Surgery, Sixth Edition by Charles H. Thorne
5. Prof. Dr. dr. Sardjono Soedjak, MHPEd, Sp.THT, dr. Sri Rukmini, Sp.THT, dr. Sri
Herawati, Sp.THT & dr. Sri Sukesi, Sp.THT. Teknik Pemeriksaan Telinga, Hidung &
Tenggorok. Jakarta : EGC. 2000
6. Soetjipto D., Wardani RS.2007. Hidung. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi Keenam. Jakarta : FK UI, hal : 118-122.
7. Walsh WE.,Kern RC. In : Head and Neck Surgery-Otolaryngology, Vol I, 4
8. Ballenger JJ. 1994. Aplikasi Klinis Anatomi dan Fisiologi Hidung dan Sinus Paranasal.
Dalam : Penyakit Telinga Hidung Telinga Tenggorok Kepala dan leher. Edisi ke-
13.Jakarta : Binarupa Aksara, hal :1-25.
9. Dhingra PL. 2007. Disease of Ear Nose and Throat. 4 Elsevier. pp : 129-135; 145-148.
Ed. Byron Ed.New Delhi, India :
10.Snell, R. S., 2006. Anatomi Klinik. Edisi 6. Jakarta:EGC. 350-360.
11.Soetjipto D, Mangunkusumo E. Sinus Paranasal. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N
(editor). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher. Edisi
ke-5. Jakarta. Balai Penerbit FK UI, 2002; 120-4.

20