Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Septum nasi memiliki banyak fungsi, termasuk memisahkan aliran
udara nasal menjadi dua ruang yang berbeda, menyokong dorsum nasi,
dan mempertahankan bentuk kolumela dan tip. Deviasi traumatik atau
abnormalitas bentuk dari septum nasi dapat menyebabkan obstruksi aliran
udara hidung dan deformitas kosmetik. Aliran udara yang sedikit dapat
menyebabkan gangguan penciuman, gangguan humidifikasi dan filter
udara, dan menurunkan aliran oksigen yang masuk ke paru-paru. Deviasi
septum anatomikal juga dapat menyebabkan penyakit sinus kronis.
Deviasi septum nasi merupakan penyebab obstruksi nasi yang paling
sering ditemukan.
Bentuk septum yang normal ialah lurus ditengah rongga hidung tetapi
pada orang dewasa biasanya septum nasi tidak lurus sempurna di garis
tengah. Deviasi septum yang ringan tidak akan mengganggu, akan tetapi
bila deviasi itu cukup berat akan menyebabkan penyempitan pada satu sisi
rongga hidung. Dengan demikian dapat mengganggu fungsi hidung dan
menyebabkan komplikasi atau bahkan menimbulkan gangguan estetik
wajah karena tampilan hidung menjadi bengkok.

B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian deviasi septum nasi?
2. Bagaimana anatomi fisiologi deviasi septum nasi?
3. Bagaimana patofisiologi deviasi septum nasi?
4. Apa saja etiologi dari deviasi septum nasi?
5. Apa saja gejala klinik deviasi septum nasi?
6. Bagaimana penatalaksanaan deviasi septum nasi?
7. Bagaimana klasifikasi pada deviasi septum nasi?
8. Bagaimana asuhan keperawatan pada penderita deviasi septum
nasi?

C. Tujuan

1
1. Untuk mengetahui pengertian deviasi septum nasi.
2. Untuk mengetahui anatomi fisiologi deviasi septum nasi.
3. Untuk mengetahui patofisiologi deviasi septum nasi.
4. Untuk mengetahui etiologi dari deviasi septum nasi.
5. Untuk mengetahui gejala klinik deviasi septum nasi.
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan deviasi septum nasi.
7. Untuk mengetahui klasifikasi pada deviasi septum nasi.
8. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada penderita deviasi
septum nasi.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Deviasi septum nasi didefinisikan sebagai bentuk septum yang tidak
lurus di tengah sehingga membentuk deviasi ke salah satu rongga hidung atau
kedua rongga hidung yang mengakibatkan penyempitan pada rongga hidung.

B. Anatomi Fisiologi
Septum nasi merupakan dinding medial rongga hidung. Septum
dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Bagian tulang adalah lamina
perpendikularis os etmoid, vomer, krista nasalis os maksila dan krista nasalis

2
os palatina. Sedangkan bagian tulang rawan adalah kartilago, septum (lamina
kuadrangularis) dan kolumela.

Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan


periosteum pada bagian tulang, sedangkan diluarnya dilapisi oleh mukosa
hidung.
Septum nasi adalah bagian paling menojol pada wajah, paling mudah
dan sering terkena trauma. Kelainan septum lebih mudah terlihat pada ras
Kaukasian dengan bentuk hidung yang lebih tinggi dibandingkan ras Asia atau
Afrika. Sedangkan pada anak kurang dari 5 tahun, kelainan septum tidak
mudah terlihat karena hidug bukan bagian paling menonjol pada wajah anak.
Struktur dari septum nasi memungkinkannya bertindak sebagai shock
absorber. Di bagian posterior, septum berartikulasi dengan lamina
perpendikularis os etmoid, os nasal dan vomer. Artikulasi ini berbentuk panah
dan tekanan yang diarahkan pada ujung hidung melewati artikulasi ini dan
ditransmisikan ke kranium yang lebih tebal sehingga daerah kribiform akan
terlindugi.

C. Patofisiologi
Trauma yang terus menerus pada tulang rawan hidung secara langsug ataupun
tidak langsung menyebabkan perubahan dan pertumbuhan struktur mukosa
tulang rawan sehingga drainage dari sekret terganggu dan hal inilah yang
membuat hidung berbau dan dirasa buntu.

3
D. Etiologi
Penyebab deviasi septum nasi antara lain trauma langsung, Birth
Moulding Theory (posisi yang abnormal ketika dalam rahim), kelainan
kongenital, trauma sesudah lahir, trauma waktu lahir, dan perbedaan
pertumbuhan antara septum dan palatum. Faktor resiko deviasi septum lebih
besar ketika persalinan. Setelah lahir, resiko terbesar ialah dari olahraga,
misalnya olahraga kontak langsung (tinju, karate, judo) dan tidak
menggunakan helm atau sabuk pengaman ketika berkendara.

E. Gejala klinik
Keluhan yang paling sering terjadi pada deviasi septum adalah sumbatan
hidung. Sumbatan bisa unilateral, dapat pula bilateral, sebab pada sisi deviasi
terdapat konka hipotrofi, sebagai akibat mekanisme kompensasi. Keluhan
lainnya ialah rasa nyeri di kepala dan di sekitar mata. Selain dari itu
penciuman bisa terganggu apabila terdapat deviasi pada bagian atas septum.
Deviasi septum dapat menyumbat ostium sinus, sehingga merupakan faktor
predisposisi terjadinya sinusitis.

F. Penatalaksanaan
1. Analgesik, digunakan untuk mengurangi rasa sakit.
2. Dekongestan, digunakan untuk mengurangi sekresi cairan hidung.
3. Pembedahan:
Septoplasti endoskopi
Septoplasti dilakukan jika terdapat keluhan akibat septum
deviasi seperti hidung tersumbat, untuk memperbesar akses ke
meatus media pada saat melakukan bedah sinus endoskopi
fungsional, sakit kepala akibat kontak poin dengan septum
deviasi, epistaksis dan sebagai akses untuk melakukan
tindakan operasi tertentu dan alasan kosmetik. Septoplasti
merupakan prosedur operasi yang dilakukan untuk koreksi
kelainan septum. Septoplasti dengan menggunakan lampu

4
kepala mempunyai keterbatasan visualisasi terutama kelainan
septum di bagian posterior. Perkembangan di bidang
endoskopi telah mengakibatkan visualisasi septoplasti lebih
baik. Penggunaan endoskopi alam visualisasi septoplasti
dikenal dengan septoplasti endoskopi.
SMR(Sub-Mucous Resection)

G. Klasifikasi deviasi septum nasi


Deviasi septum nasi dibagi Mladina atas beberapa klasifikasi berdasarkan
letak deviasi yaitu:
1. Tipe I : Benjolan unilateral yang belum mengganggu aliran udara.
2. Tipe II : Benjolan unilateral yang sudah mengganggu aliran udara,
namun masih belum menunjukkan gejala klinis yang .bermakna.
3. Tipe III : Deviasi pada konka media/area osteomeatal.
4. Tipe IV : Disebut juga tipe S dimana septum bagian posterior dan
anterior berada pada sisi yang berbeda.
5. Tipe V : Tonjolan besar unilateral pada dasar septum, sementara di sisi
lain masih normal.
6. Tipe VI : Tipe V ditambah sulkus unilateral dari kaudal-ventral,
sehingga menunjukkan rongga yang asimetri.
7. Tipe VII : Kombinasi lebih dari satu tipe, yaitu tipe I-tipe VI.

5
H. Asuhan Keperawatan pada Deviasi Septum Nasi
1. DIAGNOSA KEPERAWATAN:
a. Perubahan pola nafas sehubungan dengan tampon pada hidung.
b. Gangguan rasa nyaman nyeri sehubungan dengan luka operasi.
c. Resiko tinggi gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
sehubungan dengan intake yang kurang.

6
2. PERENCANAAN
a) Perubahan pola nafas sehubungan dengan tampon pada hidung
Tujuan : Perubahan pola nafas teratasi dalam 2 x 24 jam.
Kriteria hasil :
1) Tampon di lepas.
2) Klien dapat bernafas melalui hidung.
Intervensi :
1) Jelaskan tentang perubahan pola nafas dan bernafas
melalui mulut.
2) Anjurkan klien untuk tidur duduk (semi fowler) dan
nafas melalui mulut.
3) Beri tindakan perawatan untuk:
Oral hygiene
Rawat luka dengan BWC dan H2O2 dan
xylocain/LA
Nebulizer tanpa obat

4) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian


kalmethason dan bronchodilator.
5) Monitor vital sign.
Rasional:
1) Klien / keluarga mengerti sebab akibat perubahan pola
nafas.
2) Membuat paru mengembang dengan baik.
3) Memberi rasa nyaman dan mencegah infeksi.
4) Fungsi interdependent untuk mengencerkan sekret dan
melonggarkan pernafasan.
5) Mengetahui kelainan dini.

b) Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan luka


operasi
Tujuan : nyeri berkurang dalam 2 x 24 jam.
Kriteria hasil :
1) klien bisa tidur
2) klien merasa tenang, T 110/80 mmHg, N 88 x/menit.
Intervensi :

7
1) Kaji faktor faktor yang mempengaruhi nyeri, misal
takut / posisi yang salah.
2) Kaji tingkat nyeri / lokasi nyeri / intensitas nyeri.
3) Anjurkan klien untuk menggunakan teknik :distraksi,
relaksasi progresif, cutaneus stimulation.
4) Monitor vital sign.
Rasional :
1) Ketakutan / posisi salah dapat meningkatkan respon
nyeri.
2) Menentukan tindakan keperawatan dalam hal untuk
penanganan nyeri.
3) Mengurangi nyeri
4) Mengetahui kelainan dini terhadap respon nyeri
c) Potensial gangguan pemenuhan nutrisi sehubungan dengan
intake kurang
Tujuan : pemenuhan nutrisi teratasi dalam 2x24 jam.
Kriteria hasil :
1) Klien mau menghabiskan makanannya.
2) BB dalam batas normal, turgor baik.
Intervensi :
1) jelaskan pada klien untuk boleh dan tetap makan secara
hati hati dan sedikit sedikit.
2) Monitor makan tiap hari.
3) Beri diet halus dan lunak.
4) Kontrol berat badan tiap 2 hari.
Rasional :
1) Klien tetap mau makan tanpa takut tersedak.
2) Mengetahui seberapa banyak makanan yang masuk.
3) Memudahkan pencernaan dan mencegah perdarahan
4) Perkembangan asupan yang adekuat.
3. PELAKSANAAN
Adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana perawatan
yang telah disusun pada tahap perencanaan dengan tujuan agar
terpenuhnya kebutuhan klien secara optimal.
4. EVALUASI
Evaluasi dilakukan dengan mengacu pada tujuan dan kriteria
yang telah ditetapkan dalam perencanaan

8
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

9
Septum hidung terdiri dari tulang rawan terletak di garis tengah dan
berfungsi untuk menyokong dorsum nasi dan membagi rongga hidung
menjadi 2 bagian, bentuk septum normal ialah lurus ditengah rongga hidung
tetapi pada orang dewasa biasanya tidak lurus sempurna di garis tengah. Jika
septum tidak lurus dan tidak berada ditengah hidung, maka disebut septum
deviasi.Deviasi septum yang ringan tidak akan mengganggu, akan tetapi bila
deviasi cukup berat maka akan menyebabkan penyempitan pada satu sisi
hidung dan akan mengakibatkan gangguan fungsi hidung.

B. Saran
Setelah membaca makalah ini, pembaca diharapkan dapat megetahui
tentang apa itu deviasi septum nasi, tanda dan gejala, patofisiologi, anatomi
fisiologi, penatalaksanaan dan bagaimana asuhan keperawatan yang baik pada
pasien dengan deviasi septum nasi.

10