Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN KEGIATAN DOKTER INTERNSHIP

F4 UPAYA PERBAIKAN GIZI


UPAYA MENIGKATKAN PENGETAHUAN GIZI UNTUK REMAJA
PADA PELAJAR MTs PLUMPUNG

Oleh :
dr. Rio Yoga Pramana Wisnu

PUSKESMAS PLAOSAN
MAGETAN
2017
LEMBAR PENGESAHAN

UPAYA MENIGKATKAN PENGETAHUAN GIZI UNTUK REMAJA


PADA PELAJAR MTs PLUMPUNG

Disusun Oleh:

dr. Rio Yoga Pramana Wisnu

Telah disetujui dan disahkan oleh:

Kepala Puskesmas Dokter Pelaksana

(dr. Siti Sumarni) (dr. Rio Yoga Pramana Wisnu)


NIP : 19600813.198802.2.001
I. Latar Belakang
Masa remaja menurut WHO adalah antara 10-24 tahun, sedangkan menurut Hurlock
(1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan
masa remaja akhir (16 hingga 17 atau 18 tahun). Masa remaja atau adolescence adalah waktu
terjadinya perubahan-perubahan yang berlangsungnya cepat dalam hal pertumbuhan
fisik,kognitif, dan psikososial atau tingkah laku. Usia remaja merupakan usia peralihan dari
masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa ini terjadi kematangan seksual dan tercapainya
bentuk dewasa karena pematangan fungsi endokrin. Pada saat pematangan fisik, juga terjadi
perubahan komposisi tubuh.
Masalah gizi yang terjadi pada remaja umumnya disebabkan oleh satu sumber utama
yaitu pola makan yang kurang tepat. Pola makan yang kurang tepat secara garis besar
dipengaruhi dua hal, antara lain faktor lingkungan dan faktor personal atau individu dari remaja
itu sendiri. Perilaku makan yang kurang tepat dapat membawa dampak negative terhadap
kesehatan atau status gizi remaja.
Masa remaja merupakan periode dari pertumbuhan dan proses kematangan manusia,
pada remaja ini terjadi perubahan yang sangat unik dan berkelanjutan. Perubahan fisik karena
pertumbuhan yang terjadi akan mempengaruhi status kesehatan dan gizinya.
Ketidakseimbangan antara asupan kebutuhan atau kecukupan akan menimbulkan masalah gizi,
baik itu berupa masalah gizi lebih maupun gizi kurang.
Status gizi dapat ditentukan melalui pemeriksaan laboratorium maupun secara
antropometri. Kekurangan kadar hemoglobin atau anemi ditentukan dengan pemeriksaan darah.
Antropometri merupakan cara penentuan status gizi yang paling mudah dan murah. Indeks
Massa Tubuh (IMT) direkomendasikan sebagai indikator yang baik untuk menentukan status
gizi remaja.
Tubuh yang berubah cepat pada masa remeja membutuhkan masukan energi, protein
dan vitamin dalam jumlah besar. Energi diperlukan sebagai sumber tenaga sel-sel tubuh yang
bekerja lebih keras untuk berkembang dan berubah cepat. Energi ini diperoleh dari kebanyakan
biji-bijian seperti beras, jagung, kentang, dan bahan makanan lain yang mengandung
karbohidrat.
Nasi, bubur, Jagung, roti, biskuit, adalah makanan olahan biji-bijian yang menyumbang
energi paling banyak bagi tubuh kita. Karena itu makanan ini menjadi makanan pokok bagi
tubuh kita. Karbohidrat adalah bahan bakar bagi tubuh kita. Protein diperlukan sel untuk
membangun diri dan berkembang. Tanpa protein pertumbuhan tidak dapat berlangsung
sempurna. Protein didapat dari hewan dan pertumbuhan. Protein yang didapat dari hewan
disebut protein hewani, dan protein yang didapat dari tumbuhan disebut protein nabati.
Vitamin dan mineral diperlukan oleh tubuh sebagai zat pengatur. Sel-sel tubuh
membutuhkan vitamin dan mineral untuk metabolisme sel. Tanpa vitamin dan mineral, sel-sel
tubuh tidak dapat bekerja dengan baik. Sel-sel lensa mata, misalnya, tidak dapat menyesuaikan
fokus dengan baik apabila kekurangan vitamin A.
Tanpa vitanim C metabolisme tubuh dapat terganggu dan menjadi mudah terserang
penyakit. Agar kebutuhan gizi ini terpenuhi, kita perlu makan makanan dengan gizi seimbang
supaya cerdas. Makanan dengan gizi seimbang terdiri dari karbohidrat sebagai pemasok tenaga,
protein sebagai zat pembangun dan vitamin serta mineral sebagai zat pengatur. Inilah yang
disebut sebagai makanan.

Masalah gizi di Indonesia dan dinegara berkembang pada umumnya masih didominasi
oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP), Anemia Besi, Gangguan Akibat Kekurangan
Yodium (GAKY), Kurang Vitamin A (KVA), dan masalah gizi lebih terutama di kota-kota
besar. Menurut Widia Karya Pangan dan Gizi pada tahun 1993, bahwa Indonesia mengalami
gizi ganda dimana gizi kurang belum dapat diatasi secara menyeluruh, sudah muncul masalah
baru yaitu gizi lebih
Masalah gizi pada remaja akan berdampak negatif pada tingkat kesehatan masyarakat,
misalnya penurunan konsentrasi belajar, resiko melahirkan bayi dengan BBLR, penurunan
kesegaran jasmani. Banyak penelitian telah menunjukkan kelompok remaja mengalami banyak
masalah gizi. Masalah gizi tersebut antara lain Anemi dan IMT kurang dari batas normal atau
kurus. Prevalensi Anemi berkisar antara 40%, sedangkan prevalensi remaja dengan IMT kurus
berkisar antara 30%. Banyak faktor yang menyebabkan masalah ini. Dengan mengetahui
faktor-faktor penyebab yang mempengaruhi masalah gizi tersebut membantu upaya
penanggulangannya dan lebih terpengaruh dan terfokus.
Prevalensi obesitas anak saat ini mengalami peningkatan di berbagai negara tidak
terkecuali Indonesia. Tingginya prevalensi obesitas anak disebabkan oleh pertumbuhan
urbanisasi dan perubahan gaya hidup seseorang. Menurut WHO, satu dari 10 (sepuluh) anak di
dunia mengalami kegemukan. Prevalensi yang cenderung meningkat baik pada anak maupun
orang dewasa sudah merupakan peringatan bagi pemerintah dan masyarakat bahwa obesitas
dan segala implikasinya memerlukan perhatian khusus.
Sejak tahun 1970 hingga sekarang, kejadian obesitas meningkat 2 (dua) kali lipat pada
anak usia 2-5 tahun dan usia 12-19 tahun, bahkan meningkat tiga (3) kali lipat pada anak usia
6-11 tahun. Di Indonesia, prevalensi obesitas pada anak usia 6-15 tahun meningkat dari 5%
tahun 1990 menjadi 16% tahun 2001(soegondo, 2008).
Kekurangan Energi Kronis (KEK) dijumpai pada WUS usia 15-49 sebesar 24,9% pada
tahun 1999 dan menurun menjadi 16,7% pada tahun 2003. Pada umumnya proporsi WUS
dengan risiko KEK cukup tinggi pada usia muda (15-19 tahun), dan menurun pada kelompok
umur lebih tua.
Sedangkan pada desa Plumpung kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan sendiri pada
bulan Desember tahun 2016 didapati cakupan program gizi masih tergolong rendah, yakni
mencapai 5,88% dari target sebesar 100%. Tentu saja data ini menunjukkan bahwa pencapaian
masih jauh dari target sehingga intervensi pada bidang ini perlu dilakukan. Salah satunya
adalah dengan mengadakan penyuluhan gizi dalam rangka upaya meningkatkan pengetahuan
gizi pada masyarakat yang mana kali ini lebih dikhususkan pada anak usia remaja.
Pada masa remaja, yang mana biasanya mereka sedang dalam tahap sekolah, para
remaja juga sering kali mendapatkan asupan gizi yang kurang tepat, teruatama saat mereka
berada di lingkungan sekolah. Jajanan-jajanan yang dijual oleh para pedagang kaki lima sering
kali merupakan jajanan yang kandungan gizinya kurang tepat bagi pertumbuhan dan
perkembangan para remaja. Oleh sebab itu, penyuluhan ini ditujukan untuk mengedukasi para
pelajar untuk lebih memilih dan memilah makanan yang lebih tepat bagi mereka saat hendak
membeli makanan di sekolah.

II. Tujuan
a. Tujuan Umum
Tujuan kegiatan adalah untuk meningkatkan pengetahuan para pelajar MTs
Plumpung kecamatan Plaosan kabupaten Magetan di bidan gizi yang tepat bagi masa
pertumbuhan
b. Tujuan Khusus
1. Menjelaskan, memberitahukan pengertian gizi.
2. Pentingnya gizi seimbang yang diperlukan oleh remaja dan dewasa.
3. Menanamkan gaya hidup sehat kepada remaja agar mencegah timbulnya penyakit-
penyakit pada gizi remaja

III. Sasaran
Remaja di usia sekolah
IV. Target Kegiatan
Melalui kegiatan ini diharapkan para remaja terutama yang bersekolah di MTs
Plumpung ini memiliki pengetahuan tentang gizi yang tepat bagi pertumbuhan dan
perkembangan mereka sehingga dapat menjadi lebih selektif dalam memilih makanan yang
hendak mereka konsumsi.
V. Bentuk Kegiatan
Penyuluhan dilakukan dengan menggunakan slide power point.

VI. Pelaksanaan
Hari/Tanggal : 9 Februari 2017
Waktu : 09.00 WIB-Selesai
Tempat : MTs Plumpung, Plaosan kabupaten Magetan
Jumlah peserta: 40 Peserta

VII. Laporan Kegiatan


Kegiatan penyuluhan dalam rangka meningkatkan pengetahuan gizi pada usia remaja
ini dilakukan pada hari Kamis, 9 Februari 2017 yang bertempat di aula MTs Plumpung,
Plaosan, Magetan.
Penyuluhan ini dibuka oleh pendamping yakni bidan desa setempat dengan
memperkenalkan penyaji serta maksud diadakan kegiatan ini dan dilanjutkan oleh penyaji
sebagai nara sumber secara satu arah dengan menggunakan slide power point sebagai media
dan diikuti dengan sesi tanya jawab oleh para peserta.
Sebelum nara sumber menyampaikan materi, penyuluh mengadakan pre-test dan juga
mengadakan post-test di akhir sesi Tanya jawab guna mengetahui tingkat keberhasilan nara
sumber dalam usaha meningkatkan pengetahuna remaja akan gizi yang tepat bagi mereka.
VIII. Hasil kegiatan
Secara garis besar isi soal pre dan post test yang diberikan nara sumber berisi tentang soal
pengertian gizi secara umum pada soal nomor 1-5 dan berisikan soal gizi secara spesifik serta
gangguan gizi pada remaja pada nomor 6-10. Berikut merupakan laporan pre test dan post test
dalam bentuk grafik garis.
Grafik hasil Pre-test

40

35

30

25

20 benar
Column1
15

10

0
soal 1 soal 2 soal 3 soal 4 soal 5 soal 6 soal 7 soal 8 soal 9 soal 10

Pada grafik ini didapati bahwa banyak peserta memiliki pengetahuan yang cukup tentang
arti gizi secara umum. Namun pada soal gizi secara spesifik dan kelainan gizi masih didominasi
oleh para pelajar yang tidak memilki cukup pengetahuan.
Grafik Post-test
45

40

35

30

25
benar
20 Column1

15

10

0
soal 1 soal 2 soal 3 soal 4 soal 5 soal 6 soal 7 soal 8 soal 9 soal 10

Dari grafik post-test di atas dapat diamati bahwa terdapat peningkatan peserta yang
dapat menjawab soal dengan benar dan menurunnya jumlah peserta yang salah dalam menjawab
soal.

IX. Kesimpulan
Dilihat dari hasil pre-test dan post-test yang dilakukan nara sumber pada peserta di
MTs Plumpung, Plaosan kabupaten Magetan, dapat disimpulkan terjadi peningkatan
pengetahuan gizi baik secara umum maupun secara khusus beserta dengan kelaian gizinya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan dari penyuluhan ini telah tercapai,
yakni terjadinya peningkatan pengetahuan gizi bagi usia sekolah.

Beri Nilai