Anda di halaman 1dari 8

A.

Sejarah
John C. Nemiah, MD, profesor psikiatri dari Harvard Medical School dalam bukunya Foundations
of Psychopathology menjelaskan istilah narsisme berasal dari kata Narcissus, nama seorang
pemuda tampan dalam mitos Yunani kuno. Konon suatu hari Narcissus menangkap citra wajahnya
pada permukaan air yang tenang di hutan, dan sontak ia jatuh cinta pada diri sendiri. Selanjutnya
ia putus asa karena tidak mampu memenuhi apa yang sangat diinginkannya; ia bunuh diri dengan
sebilah belati. Dari tetesan darahnya yang jatuh di dekat air, tumbuhlah bunga yang sampai
sekarang dikenal dengan nama Narcissus. Dari penjelasan di atas, tergambar adanya kesulitan
besar berhubungan dengan orang lain bila kita terlalu mengagumi diri sendiri. Kekaguman pada
diri sendiri yang berlebihan membuat kita selalu lapar untuk memuaskan kebutuhan dan
kepentingan diri sendiri, selalu mencari perhatian dan pujian, serta tidak peka terhadap perasaan
dan kebutuhan orang lain.
B. Pengertian
Gangguan kepribadian narsissistik (narcissistic personality disorder) atau cinta pada diri sendiri
digambarkan sebagai orang yang memiliki rasa kepentingan diri yang melambung (gradiositas)
dan dipenuhi khayalan-khayalan sukses bahkan saat prestasi mereka biasa saja, jatuh cinta pada
dirinya sendiri karena merasa mempunyai diri yang unik, selalu mencari pujian dan perhatian,
serta tidak peka terhadap kebutuhan orang lain, malahan justru seringkali mengeksplorasinya.
( Atkinson dkk., 1992). Gangguan kepribadian narsistik adalah gangguan kepribadian dimana
orang memiliki rasa bahwa diri mereka orang yang sangat penting dan memiliki kebutuhan yang
mendalam untuk dikagumi.Semua orang memiliki kecenderungan narsistik. Manusia yang sehat
menunjukkan bentuk narsisme yang baik, yaitu ketertarikan akan tubuh sendiri. Walaupun
demikian, dalam bentuk buruknya, narsisme menghalangi persepsi akan kenyataan sehingga
segala sesuatu yang dimiliki orang narsistik dinilai tinggi dan segala sesuatu yang dimiliki orang
lain tidak bernilai.
Orang-orang yang menilai tinggi dirinya sendiri, bahkan melebih-lebihkan kemampuan riil
mereka dan menganggap dirinya berbeda dengan orang lain, serta pantas menerima perlakuan
khusus, merupakan perilaku yang sangat ekstrem. Individu dengan kelainan kepribadian narsistik
menunjukkan sebuah perasaan yang dilebih-lebihkan akan kepentingan pribadi, keasyikan dengan
menjadi yang dikagumi dan kurangnya empati tehadap perasaan orang lain (Ronningstan, 1999;
Widiger & Bornstein, 2001). Ini bahwa hal yang penting dan dulu menggunakan standar diagnosa
secara luas untuk mendiagnosa pasien narsistik, grandiositi dinyatakan oleh kecenderungan yang
kuat untuk menaksir terlalu tinggi kemampuan mereka dan prestasi, sementara menaksir rendah
kemampuan dan prestasi orang lain. Karena mereka percaya bahwa mereka sangat spesial, mereka
sering berpikir mereka hanya akan dimengerti hanya dengan orang yang berstatus tinggi atau
seharusnya berteman dengan orangorang yang seperti itu. (Exline, Baumeister, et al., 2004).
Hubungan interpersonal mereka terhambat karena kurangnya empati, perasaan iri dan arogansi,
dan memanfaatkan orang lain serta perasaan bahwa mereka berhak mendapatkan segala sesuatu.
Hubungan pribadi mereka hanya sedikit dan dangkal, bila orang lain sedikit saja kurang
memenuhi harapan mereka yang tidak realistis, mereka yang mengalami gg kepribadian narsistik
menjadi marah dan menyingkir dari orang lain tersebut.
Kepribadian narsistik berbagi ciri khusus yang lain dari enggan atau tidak bisa menerima sudut
pandang orang lain, untuk melihat lebih dari apa yang mereka lihat dengan mata mereka sendiri.

Epidemiologi
Menurut DSM-IV, perkiraan prevalensi gangguan kepribadian narsistik terentang antara 2 sampai
16 persen dalam populasi klinis dan kurang dari 1 persen dalam populasi umum. Mungkin
terdapat risiko yang lebih tinggi dari biasanya pada keturunan orang tua dengan gangguan ini yang
menanamkan pada anak-anaknya rasa kemahakuasaan yang tidak relative, kebesaran, kecantikan,
dan bakat. Jumlah kasus yang dilaporkan terus meningkat secara mantap.
KAPLAN DAN SADOCK, SINOPSIS PSIKIATRI (Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis),
edisi ke-7 jilid II. Binarupa Aksara, Jakarta, 1997.

B. Gejala
Membutuhkan pujian dan kekaguman berlebihan
Mengambil keuntungan dari orang lain
Merasa diri paling penting
Enggan atau tidak bisa menerima sudut pandang orang lain
Kurangnya empati
Berbohong, pada diri sendiri dan orang lain
Terobsesi dengan fantasi ketenaran, kekuasaan, atau kecantikan

C. Faktor Penyebab
ahli teori psikodinamik yang berpengaruh seperti Heinz Kohut setuju bahwa semua anak yang melewati
fase primitif grandiositi selama apa yang mereka pikirkan tentang semua kejadian dan kebutuhan
berputar di sekeliling mereka. Untuk perkembangan normal diluar fase yang terjadi, menurut pandangan
ini, orang tua harus melakukan suatu pencerminan terhadap anak. Ini membantu anak
mengembangkan tingkat kepercayaan diri yang normal dan perasaan harga diri guna menopang di
kehidupan mereka, ketika realita hidup mereka diumbar untuk membesarkan. Kohut dan Kernberg
(1978) mengemukakan lebih jauh bahwa kelainan kepribadian narsisistik lebih mungkin berkembang
jika orang tua lalai, menghilangkan nilai, atau tidak berempati kepada anak; individu ini akan terus
menerus mencari penegasan dari sebuah pengidealan dan perasaan megah terhadap diri. Dari sebuah
pendirian teoritis yang sangat berbeda, Theodore Millon mempunyai argument yang sangat berbeda.
Dia percaya bahwa kelainan kepribadian narsistik datang dari penilaian berlebihan orang tua yang tidak
realistis (Millon & Davis, 1995; Widiger & Bornstein, 2001). Seperti contoh, dia telah mengemukakan
bahwa orang tua memanjakan dan menurutkan permintaan anak-anaknya dalam cara mendidik
mereka bahwa keinginan mereka adalah sebuah perintah, bahwa mereka dapat menerima tanpa harus
mengembalikannya, dan bahwa mereka pantas menjadi seseorang yang menonjol bahkan tanpa
perjuangan yang minim (Millon, 1981, p.175; dari Widiger & Trull, 1993).

Ciri-ciri Self-Interest yang Normal Dibandingkan dengan Narsisme yang Self-Defeating.

Self-Interest yang Normal Narsisme yang self-Defeating

Menghargai pujian, namun tidak Lapar akan pemujaan; memerlukan pujian agar
membutuhkannya untuk menjaga self-esteem. dapat merasa baik akan dirinya sendiri untuk
Kadang-kadang terluka oleh kritik. sementara.
Merasa tidak bahagia dalam menghadapi Merasa marah /hancur oleh kritik dan merasakan
kegagalan namun tidak merasa tidak berharga. kesedihan yang mendalam.
Merasa spesial atau memiliki bakat unik. Memikul perasaan malu dan tidak berharga
Merasa nyaman dengan diri sendiri, bahkan setelah mengalami kegagalan.
saat orang lain mengkritik. Merasa lebih baik dari orang lain, dan meminta
Menerima masa lalu secara logis, meski hal penghargaan akan kemampuannya yang tidak
tersebut menyakiti dan dirasa tidak stabil untuk dapat dibandingkan.
sementara. Perlu dukungan terus-menerus dari orang lain
Mempertahankan keseimbangan emosional untuk menjaga perasaan nyaman dan bahagia.
meski kurangnya perlakuan khusus. Berespon terhadap luka kehidupan dengan
Empati dan peduli dengan perasaan orang lain. depresi atau kemarahan
Merasa pantas mendapat perlakuan khusus dan
menjadi sangat marah saat diperlakukannya
dengan cara yang biasa.
Tidak sensitif terhadap kebutuhan dan perasaan
orang lain; mengeksploitasi orang lain sampai
mereka puas.

E. Kriteria Kepribadian Narsistik Menurut DSM-IV


Menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fourth Edition)
individu dapat dianggap mengalami gangguan kepribadian narsissistik jika ia sekurang-kurangnya
memiliki 5 (lima) dari 9 (sembilan) ciri kepribadian sebagai berikut:

1. Merasa Diri Paling Hebat


Jika seseorang merasa dirinya paling hebat/penting (bedakan dengan orang yang benar-benar
hebat atau penting) maka ia tidak akan malu-malu untuk memamerkan apa saja yang bisa
memperkuat citranya tersebut. Selain itu untuk mendukung citra atau image yang dibentuknya
sendiri, individu rela menggunakan segala cara. Oleh karena itu ketika orang tersebut berhasil
memperoleh gelar (tanpa mempedulikan bagaimana cara memperolehnya) maka ia tidak akan
segan atau malu-malau untuk memamerkannya kepada orang lain. Bagi mereka hal ini sangat
penting agar orang lain tahu bahwa ia memang orang yang hebat. Tidak heran cara-cara seperti
mengirimkan ucapan selamat atas gelar yang diperoleh secara instant (dibeli) di koran-koran oleh
diri sendiri dianggap bukan suatu hal yang aneh. Merasa diri paling hebat namun seringkali
tidak sesuai dengan potensi atau kompetensi yang dimiliki (has a grandiose sense of self-
important). Ia senang memamerkan apa yang dimiliki termasuk gelar (prestasi) dan harta benda.

2. Seringkali memiliki rasa iri pada orang lain atau menganggap bahwa orang lain iri kepadanya
(is often envious of others or believes that others are envious of him or her).

3. Fantasi Kesuksesan & Kepintaran


Dipenuhi dengan fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, kepintaran, kecantikan atau cinta sejati
(is preoccupied with fantasies of unlimited success, power, briliance, beauty, or ideal love).
Pintar dan sukses memang adalah impian setiap orang. Meski demikian hanya sedikit orang yang
bisa mewujudkan impian tersebut. Pada individu pembeli gelar sangatlah mungkin mereka
menganggap bahwa kesuksesan yang telah mereka capai (cth: punya jabatan) belum cukup jika
tidak diikuti dengan gelar akademik yang seringkali dianggap sebagai simbol kepintaran
seseorang. Sayangnya untuk mencapai hal ini mereka seringkali tidak memiliki modal dasar yang
cukup karena adanya berbagai keterbatasan seperti tidak punya latarbelakang pendidikan yang
sesuai, tidak memiliki kemampuan intelektual yang bagus atau tidak memiliki waktu untuk
sekolah lagi. Hal ini membuat mereka memilih jalan pintas dengan cara membeli gelar sehingga
terlihat bahwa dirinya telah memiliki kesuksesan dan kepintaran (kenyataannya hal tersebut
hanyalah fantasi karena gelar seharusnya diimbangi dengan ilmu yang dimiliki).

4. Sangat Ingin dikagumi (requires excessive admiration).


Pada umumnya para pembeli gelar adalah para individu yang sangat terobsesi untuk dikagumi
oleh orang lain. Oleh karena itu mereka berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan simbol-
simbol yang dianggap menjadi sumber kekaguman, termasuk gelar akademik. Obsesi untuk
memperoleh kekaguman ini sayangnya seringkali tidak seimbang dengan kapasitas (kompetensi)
diri sang individu tersebut (cth: tidak memenuhi syarat jika harus mengikuti program pendidikan
yang sesungguhnya). Akhirnya dipilihlah jalan pintas demi mendapatkan simbol kekaguman
tersebut.

5. Kurang empati (lacks of empathy: is unwilling to recognize or identify with the feelings and
needs of others).
Para pembeli gelar pastilah bukan orang yang memiliki empati, sebab jika mereka memilikinya
maka mereka pasti tahu bagaimana perasaan para pemegang gelar asli yang memperoleh gelar
tersebut dengan penuh perjuangan. Jika mereka memiliki empati pastilah mereka dapat merasakan
betapa sakit hati para pemegang gelar sungguhan karena kerja keras mereka bertahun-tahun
disamakan dengan orang yang hanya bermodal uang puluhan juta rupiah.

6. Merasa Layak Memperoleh Keistimewaan (has a sense of entitlement).


Setiap individu yang mengalami gangguan kepribadian narsissistik merasa bahwa dirinya berhak
untuk mendapatkan keistimewaan. Karena merasa dirinya istimewa maka dia tidak merasa bahwa
untuk memperoleh sesuatu dia harus bersusah payah seperti orang lain. Oleh karena itu mereka
tidak merasa risih atau pun malu jika membeli gelar karena bagi mereka hal itu merupakan suatu
keistimewaan yang layak mereka dapatkan.

7. Angkuh dan Sensitif Terhadap Kritik (shows arrogant, haughty behavior or attitudes).
Pada umumnya para penyandang gelar palsu sangat marah dan benci pada orang-orang yang
mempertanyakan hal-hal yang menyangkut gelar mereka. Bagi mereka, orang-orang yang
bertanya tentang hal itu dianggap sebagai orang-orang yang iri atas keberhasilan mereka. Jadi
tidaklah mengherankan jika anda bertanya pada seseorang yang membeli gelar tentang ilmu atau
tesis atau desertasinya maka ia akan balik bertanya bahkan menyerang anda sehingga
permasalahan yang ditanyakan tidak pernah akan terjawab. Bahkan mereka akan menghindari
pembicaraan yang menyangkut hal-hal akademik.

8. Kepercayaan Diri yang Semu


Jika dilihat lebih jauh maka rata-rata individu yang mengambil jalan pintas dalam mendapatkan
sesuatu yang diinginkan seringkali disebabkan karena rasa percaya dirinya yang semu. Di depan
orang lain mereka tampak tampil penuh percaya diri namun ketika dihadapkan pada persoalan
yang sesungguhnya mereka justru menarik diri karena merasa bahwa dirinya tidak memiliki modal
dasar yang kuat. Para individu yang membeli gelar umumnya adalah mereka yang takut bersaing
dengan para mahasiswa biasa. Mereka kurang percaya diri karena merasa bahwa dirinya tidak
mampu, tidak memenuhi persyaratan dan takut gagal. Daripada mengikuti prosedur resmi dengan
risiko kegagalan yang cukup tinggi (hal ini sangat ditakutkan oleh para individu narsisistik) maka
lebih baik memilih jalan pintas yang sudah pasti hasilnya.

9. Yakin bahwa dirinya khusus, unik dan dapat dimengerti hanya oleh atau harus dengan orang
atau institusi yang khusus atau memiliki status tinggi.

Pandangan teori Psikologi terhadap Gangguan


a.Psikodinamik
Para psikoanalis, termasuk Freud, menggunakan istilah narcissistic untuk mendeskripsikan orang-
orang yang menunjukkan bahwa dirinya orang penting secara berlebih-lebihan dan yang
terokupasi dengan keinginan mendapatkan perhatian (Cooper dan Ronningstam, 1992). Freud
memandang narsisme sebagai fase yang dilalui semua anak sebelum menyalurkan cinta mereka
dari diri mereka sendiri kepada significant person.Anak-anak dapat menjadi terpaku pada fase ini,
jika anak tidak percaya terhadap pengasuh dan memutuskan bahwa mereka hanya dapat bersandar
pada diri sendiri ataujika anak memiliki orangtua yang selalu menuruti anak dan menanamkan
rasa bangga atas kemampuan diri dan harga diri mereka.
b. Behavioristik
Narsistik merupakan reaksi asumsi untuk menghadapi masalah-masalah self-worth yang tidak
realistik sebagai hasil dari penurutan dan evaluai yang berlebihan dari orang-orang yang
signifikan. Serta sebagai hasil dari unrealistic-overevaluation orangtua terhadap anak

F. Penanganan dan Hasilnya


Gangguan kepribadian narsistik secara umum sulit untuk dirawat, pada sebagian karena mereka
adalah, menurut definisi, relatif kronis, dapat meresap, dan pola perilaku dan pengalaman di dalam
diri yang tidak dapat diubah. Lebih jauh lagi, banyak tujuan dari perawatan yang berbeda dapat
dirumuskan, dan beberapa lebih sulit untuk dicapai dari yang lainnya. Tujuan mungkin termasuk
keadaan sulit subjektif, mengubah perilaku dysfunctional yang spesifik, dan mengubah
keseluruhan pola perilaku atau keseluruhan struktur kepribadian.
Pada banyak kasus, orang dengan kelainan kepribadian mengikuti perawatan hanya oleh desakan
seseorang, dan mereka sering tidak percaya bahwa mereka harus berubah. Selanjutnya, mereka
yang berasal dari Kelompok A yang aneh/eksentrik dan Kelompok B yang tidak teratur/dramatis
mempunyai perbedaan-perbedaan yang umum dalam pembentukan dan memelihara hubungan
baik, termasuk dengan seorang ahli terapi. Bagi mereka yang berasal dari Kelompok B yang tidak
teratur/dramatis, pola dari tindakan, khas dalam hubungan mereka yang lainnya, dibawa ke dalam
situasi terapi, dan daripada berhadapan dengan masalah mereka di tingkat verbal, mereka mungkin
akan menjadi marah pada ahli terapi dan mengacaukan sesi.

H. Jenis-jenis Terapi
1. psikoterapi
Pengobatan pada gangguan kepribadian narsistik berpusat pada terapi bicara, yang juga disebut
psikoterapi. Psikoterapi dapat membantu pasien untuk:
Belajar untuk memiliki hubungan interpersonal yang lebih baik dengan orang lain
sehingga hubungan tersebut menjadi lebih intim, menyenangkan dan bermanfaat
Memahami penyebab emosi yang dirasakan dan apa yang mendorong pasien untuk
merasa bersaing, untuk tidak percaya pada perkataan orang lain, dan mungkin membenci
diri sendiri ataupun orang lain
Perubahan yang diharapkan dari pasien setelah mendapatkan terapi ini antara lain:
Menerima dan memelihara hubungan interpersonal yang nyata dan dapat kolaborasi
dengan rekan kerja
Mengakui dan menerima kelebihan&kekurangan yang sebenarnya dimiliki serta apa
potensi diri sehingga pasien dapat mentolerir kritik atau kegagalan
Meningkatkan kemampuan Anda untuk memahami dan mengatur perasaan
Memahami dan mentolerir dampak masalah yang berkaitan dengan harga diri Anda
Menetapkan tujuan yang dapat terjangkau
2. pengobatan
Tidak ada obat khusus yang digunakan untuk mengobati gangguan kepribadian narsisistik.
Namun, jika Anda memiliki gejala depresi, kecemasan atau kondisi lain, obat-obatan seperti
antidepresan atau obat anti-kecemasan dapat membantu.

Tindakan Prevensi yang harus dilakukan Primer : berdasarkan pada faktor penyebabnya, gangguan
kepribadian narsisistik ini dapat dicegah pada masa perkembangan awal anak dengan cara orang
tua harus melakukan suatu pencerminan terhadap anak. Ini membantu anak mengembangkan
tingkat kepercayaan diri yang normal dan perasaan harga diri. Orang tua harus menunjukkan
empati terhadap anaknya dan tidak melakukan penilaian yang berlebihan yang tidak realistis.
Sekunder : hal ini dapat dilakukan melalui terapi perilaku-kognitif (Cognitive Behavioral
Therapy). Treatment research sangat terbatas, baik dalam hal jumlah studi maupun laporan tentang
keberhasilannya (Groopman dan Cooper, 2001). Bila terapi dicobakan pada individu-individu ini,
terapi itu sering kali difokuskan pada grandiositas, hipersensivitas terhadap evaluasi orang lain,
dan kekurangan empati terhadap orang lain (Beck dan Freeman, 1990). Terapi kognitif diarahkan
pada usaha mengganti fantasi mereka dengan focus pada pengalaman sehari-hari yang
menyenangkan, yang memang benar-benar dapat dicapai. Strategi coping seperti latihan relaksasi
digunakan untuk membantu mereka mengahadapi dan menerima kritik. Membantu mereka untuk
memfokuskan perasaannya terhadap orang lain juga menjadi tujuannya. Karena penderita
gangguan ini rentan mengalami episode-episode depresif, terutama pada usia pertengahan,
penanganan sering dimulai untuk mengatasi depresinya. Tetapi, mustahil untuk menarik
kesimpulan tentang dampak penanganan semacam itu pada gangguan kepribadian narsistik yang
sesungguhnya

I. Contoh Kasus
David berprofesi sebagai pengacara dan berusia awal 40an. Dia pertama kali datang mengunjungi
psikolog untuk mengatasi mood negatifnya. Sejak awal pertemuan tampak bahwa David sangat
menaruh perhatian pada penampilannya. Dia secara khusus menanyakan pendapat terapis
mengenai baju setelan model terbaru yang dikenakannya dan juga sepetu barunya. David juga
bertanya kepada terapis tentang mobil yang digunakan dan berapa banyak klien kelas atas yang
ditangani oleh terapis tersebut. David sangat ingin memastikan bahwa dia sedang berhubungan
dengan seseorang yang terbaik bidangnya. David bercerita tentang kesuksesannya dalam bidang
akademis dan olahraga, tanpa mampu memberikan bukti apapun yang memastikan
keberhasilannya. Selama bersekolah di sekolah hukum, dia adalah seorang work- aholic, penuh
akan fantasi akan keberhasilannya hingga tidak memiliki waktu untuk isterintya. Setelah anak
mereka lahir, David semakin sedikit menghabiskan waktu dengan keluarganya. Tidak lama setelah
dia memliki pekerjaan yang mapan, David menceraikan isterinya karena tidak lagi membutuhkan
bantuan ekonomi dario sang istri. Setelah perceraian tersebut, David memutuskan bahwa dia
benar-benar bebas untuk menikmati hidupnya. Dia sangat suka menghabiskan uang untuk dirinya
sendiri, misalnya dengan menghias apaartemennya dengan berbagai benda-benda yang sangat
menarik perhatian. Dia juga seringkali berhubungan dengan wanita-wanita yang sangat menarik.
Dalam pergaulannya, David merasa nyaman apabila dirinya menjadi pusat perhatian semua orang.
Dia pun merasa nyaman ketika dia berfantasi mengenai kepopuleran yang akan diraihnya,
mendapatkan suatu penghargaan, ataupun memiliki kekayaan berlimpah (sumber : Barlow &
Durant, 1995).