Anda di halaman 1dari 12

COMPUTER WAREHOUSE

REA MODELS

KELOMPOK 1

ABD. KADIR JAELANI 201430259


D
D
D

YAYASAN PENDIDIKAN BONGAYA UJUNG PANDANG


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MAKASSAR
TAHUN 2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan YME, karena dengan karunia-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Penentuan Harga Pelayanan Publik. Meskipun
banyak hambatan yang kami alami dalam proses pengerjaannya, tapi kami berhasil
menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan
membimbing kami dalam mengerjakan makalah ini. Kami juga mengucapkan terima kasih
kepada teman-teman mahasiswa yang juga sudah memberi kontribusi baik langsung maupun
tidak langsung dalam pembuatan makalah ini. Tentunya kami berharap semoga makalah ini
dapat menjadi sesuatu yang berguna bagi kita bersama.

Kami menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk
itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna sempurnanya
makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kami khususnya dan
bagi pembaca pada umumnya.

Makassar, 11 November 2015

Penulis

2
DAFTAR ISI
Sampul................................................................................................................................. i
Kata Pengantar..................................................................................................................... ii
Daftar Isi.............................................................................................................................. iii

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang......................................................................................................... 1
2. Rumusan Masalah.................................................................................................... 2
3. Tujuan Penulisan...................................................................................................... 2

BAB II
PEMBAHASAN
1. Definisi Pelayanan................................................................................................... 3
2. Pelayanan Publik Yang Dapat Dijual....................................................................... 3
3. Argumen Terhadap Pembebanan Tarif Pelayanan................................................... 4
4. Prinsip Dan Praktik Pembebanan............................................................................ 5
5. Kegunaan Pembebanan Dalam Praktik................................................................... 5
6. Penetapan Harga Pelayanan..................................................................................... 5
7. Permasalahan Marginal Cost Pricing....................................................................... 6
8. Kompleksitas Strategi Harga................................................................................... 6

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan.............................................................................................................. 8
2. Saran........................................................................................................................ 8

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................... 9

3
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Salah satu kewajiban aparatur negara yang juga mengikuti kewajiban negara dalam
menyelenggarakan tugas negara seperti yang diamanatkan UUD 1945, GBHN dan UU APBN
(Mardiasmo, 2000) adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat (public service) dalam
bentuk penyediaan jasa dan barang secara prima. Dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat, instansi milik pemerintah apakah BUMD dan BUMN akan memberikan tarif
pelayanan publik yang diwujudkan dalam bentuk retribusi, pajak dan pembebanan tarif Jasa
langsung kepada masyarakat sebagai konsumen jasa publik (charging for sevice).
Walaupun masyarakat telah dibebani dengan pajak yang dapat dipaksakan kepada
pemerintah, dan pemerintah memberikan prestasi kepada masyarakat. Tidak semua prestasi
yang diberikan oleh organisasi sektor publik kepada masyarakat yang telah dilayani dapat
dibuat secara gratis mengingat terdapat barang privat, barang publik dan barang campuran.
Barang privat adalah barang yang manfaatnya hanya dinikmati secara individu,
sedangkan barang publik adalah barang dan jasa kebutuhan yang dapat dinikmati oleh seluruh
masyarakat serta barang campuran yang merupakan barang kebutuhan masyarakat yang
manfaatnya dinikmati secara individu tetapi sering dibutuhkan juga oleh masyarakat umum
atau disebut juga merit goods (semua orang bisa mendapatkannya tetapi tidak semua orang
dapat mendapatkan barang dan jasa) tersebut seperti: air bersih, listrik, pendidikan,
kesehatan, transportasi publik.
Pertanyaan yang menarik timbul adalah bagaimana menentukan harga pelayanan
publik yang harus dibebankan kepada masyarakat?
Pemberian pelayanan publik pada dasarnya dapat dibiayai melalui dua sumber, yaitu:
dengan pajak dan dengan pembebanan langsung kepada masyarakat sebagai konsumen jasa
publik. Jika pelayanan publik dibiayai dengan pajak, maka setiap wajib pajak harus
membayar tanpa memperdulikan apakah dia menikmati secara langsung jasa publik tersebut
atau tidak karena pajak merupakan iuran masyarakat kepada negara yang tidak memiliki jasa
timbal (kontraprestasi) individual yang secara langsung dapat dinikmati oleh pembayar pajak.
Jika pelayanan publik dibiayai melalui pembebanan langsung, maka yang membayar
hanyalah mereka yang memanfaatkan jasa pelayanan publik tersebut, sedangkan yang tidak
menggunakan tidak diwajibkan untuk membayar.

5
2. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan pelayanan publik?
b. Bagaimana cara menentukan harga pelayanan publik?
c. Masalah apa yang dihadapi dalam menentukan harga pelayanan publik?

3. Tujuan Penulisan
a. Agar pembaca mengetahui apa yang dimaksud dengan pelayanan publik
b. Agar pembaca mengetahui bagaimana cara menentukan harga pelayanan publik
c. Agar pembaca mengetahui masalah apa yang dihadapi dalam menentukan harga
pelayanan publik

6
BAB II
PEMBAHASAN
1. Definisi Pelayanan
Pelayanan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1988) adalah cara melayani, jasa,
atau kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli barang atau jasa.
Pelayanan menurut Pass et all (1994) dalam kamus bisnis lengkap Collins adalah
aktivitas yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bisnis atau pribadi.
Definisi pelayanan menurut Kotler dalam Nasution (2005:98) adalah aktifitas atau
manfaat yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak
berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apapun. Produknya mungkin terikat atau tidak
terikat pada produk fisik.
Moenir (1992:16) menyatakan bahwa pelayanan adalah suatu proses penggunaan akal
pikiran, panca indera dan anggota badan dengan atau tanpa alat bantu yang dilakukan oleh
seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan baik dalam bentuk barang maupun
jasa.

2. Pelayanan Publik Yang Dapat Dijual


Pembebanan tarif pelayanan publik kepada konsumen dapat dibenarkan karena
beberapa alasan, yaitu :
a. Adanya barang privat dan publik
Terdapat tiga jenis barang yang menjadi kebutuhan masyarakat, yaitu :
- Barang privat
Barang privat adalah barang-barang kebutuhan masyarakat yang manfaat barang atau jasa
tersebut hanya dinikmati secara individual oleh pembelinya, sedangkan yang tidak
mengkonsumsi tidak dapat menikmati barang/jasa tersebut.
Contoh: makanan, kendaraan, listrik, telepon.
- Barang publik
Barang publik adalah barang-barang kebutuhan masyarakat yang manfaat barang dan jasa
tersebut dinikmati oleh seluruh masyarakat secara bersama-sama.
Contoh: jalan raya, jembatan, jasa polisi.
- Campuran antara barang privat dan publik
Campuran barang privat dengan barang publik adalah campuran barang antara barang privat
dan publik yang meskipun dikonsumsi secara individual, seringkali masyarakat umum
(publik) juga membutuhkan barang atau jasa tersebut.

7
Contoh: pendidikan, pelayanan kesehatan, transportasi publik, dan air bersih.
b. Kesulitan dalam membedakan barang publik dengan barang privat :
- Batasan keduanya sulit untuk ditentukan
- Barang atau jasa publik tetapi ada pembebanan langsung
- Kecenderungan membebankan tarif pelayanan daripada membebankan pada pajak
c. Efisiensi ekonomi
Mekanisme harga memiliki peran penting dalam mengalokasikan sumber daya melalui :
- Pendistribusian permintaan
- Pemberian insentif untuk menghindari pemborosan
- Pemberian insentif pada suplier berkaitan dengan skala produksi
- Penyediaan sumber daya pada suplier untuk mempertahankan dan meningkatkan
persediaan jasa
Tanpa adanya suatu mekanisme harga, permintaan dan penawaran tidak mungkin menuju titik
keseimbangan sehingga alokasi sumber daya tidak efisien. Seperti penyediaan air, obat-
obatan dan sebagainya.
d. Prinsip keuntungan
Pembebanan biaya hanya dikenakan terhadap mereka yang menggunakan dan diuntungkan
dengan pelayanan publik. Pembebanan tarif pelayanan publik pada dasarnya juga
menguntungkan pemerintah karena dapat digunakan sebagai salah satu sumber penerimaan
pemerintah tetapi pemerintah tidak boleh melakukan maksimalisasi keuntungan.

3. Argumen Terhadap Pembebanan Tarif Pelayanan


Dasar Pembebanan Tarif Pelayanan
a. Suatu jasa, baik merupakan barang publik maupun barang privat, mungkin tidak dapat
diberikan kepada setiap orang, sehingga tidak adil bila biayanya dibebankan kepada semua
masyarakat melalui pajak, sementara mereka tidak menikmati jasa tersebut.
b. Suatu pelayanan mungkin membutuhkan sumber daya yang mahal atau langka sehingga
konsumsi publik harus didisiplinkan (hemat), misalnya pembebanan terhadap penggunaan air
dan obat-obatan medis.
c. Suatu jasa mungkin digunakan untuk operasi komersial yang menguntungkan dan untuk
memenuhi kebutuhan domestik secara individual maupun industrial, misalnya air, listrik, jasa
pos, dan telepon.
d. Pembebanan dapat digunakan untuk mengetahui arah dan skala permintaan publik atas
suatu jasa apabila jenis dan standar pelayanannya tidak dapat ditentukan secara tegas.

8
Argumen yang menentang pembebanan tarif pelayanan :
- Terdapat kesulitan administrasi dalam menghitung biaya pelayanan
- Yang miskin tidak mampu membayar

4. Prinsip Dan Praktik Pembebanan


Penyebab utama defisit anggaran (Devas,1989), adalah kesalahan dalam menetapkan
tarif pelayanan publik. Dalam praktiknya, pelayanan gratis secara nominal seringkali sulit
dijumpai. Pelayanan gratis menyebabkan insentif rendah, sehingga terkadang kualitas
pelayanan menjadi sangat rendah. Misalanya, pemberian pelayanan kesehatan gratis biasanya
kualitasnya kurang memuaskan.

5. Kegunaan Pembebanan Dalam Praktik


Praktik pembebanan pelayanan publik berbeda-beda untuk setiap negara,antara jasa
yang disediakan langsung oleh pemerintah dan yang disediakan oleh perusahaan milik
negara, dan antar pemerintah pusat dan negara. Pada umumnya masyarakat mengharapkan
penyediaan barang publik seperti pertahanan, kesehatan publik, dan jasa kepolisian
seharusnya diberikan secara gratis, dalam arti dibiayai dari pajak. Sementara itu penyediaan
barang privat yaitu jasa untuk kepentingan individu seperti listrik, telpon, transportasi umum
ditarik tarif sebesar harga pemulihan biaya totalnya (full cost recovery prices). Untuk barang
campuran (mixed/merit good), seperti pendidikan menengah, penyembuhan kesehatan,
sanitasi disediakan sebagian melalui pajak dan sebagian lagi dari tarif.

6. Penetapan Harga Pelayanan


Pemerintah biasa membebankan biaya pelayanan kepada konsumen, dimana biaya
pelayanan dihitung sesuai dengan aturan yang biasa dipakai yaitu dari total biaya. Tetapi dari
perhitungan terhadap total biaya masih terdapat beberapa kesulitan yang disebabkan karena:
a. Tidak tahu secara cepat berapa biaya total
b. Sulit mengukur jumlah yang dikonsumsi
c. Tidak memperhitungkan kemampuan masyarakat untuk membayar
d. Biaya apa saja yang diperhitungkan.
Sehingga ahli ekonomi menganjurkan untuk menggunakan marginal cost pricing(tarif yang
dipungut seharusnya sama dengan biaya untuk melayani konsumen). Marginal cost mengacu
pada harga pasar yang paling efisien karena pada tingkat harga tersebut akan memaksimalkan

9
manfaat ekonomi dan penggunaan sumber daya yang terbaik. Masyarakat akan memperoleh
peningkatan output dari barang atau jasa sampai titik dimana marginal cost sama dengan
harga.

7. Permasalahan Marginal Cost Pricing


Penggunaan marginal cost memiliki beberapa permasalahan, antara lain :
a. Sulit untuk memperhitungkan marginal cost untuk jasa tertentu dan adanya masalah
dalam pengukuran dan pengumpulan data biaya yang membuat marginal cost sulit
diimplementasikan
b. Apakah harga seharusnya didasarkan pada biaya marginal jangka pendek atau jangka
panjang.
c. Marginal cost pricing bukan berarti full cost recovery. Historic capital cost tidak
mungkin dipulihkan, demikian juga full operating cost. Ketika sumber daya terbatas,
kegagalan untuk menutupi biaya menimbulkan adanya penghematan yang
dikorbankan (oppotunity loss) dalam pemakaian alternatif sumber daya tersebut.
Kerugian tersebut harus diukur dengan efisiensi yang dikorbankan (efficiency loss)
yang berasal dari penaikan harga di atas marginal cost.
d. Konsep kewajaran digunakan untuk menunjukan :
1. Hanya mereka yang menerima manfaat yang membayar.
2. Semua konsumen membayar sama tanpa memandang perbedaan biaya dalam
menyediakan pelayanan tersebut.
e. Eksternalitas konsumsi, seperti manfaat kesehatan umum dari air bersih untuk minum
dan mandi dapat secara signifikan merubah efisiensi harga yang ditentukan oleh
marginal cost.
f. Pertimbangan ekuitas mensyaratkan yang kaya membayar lebih, paling tidak untuk
jasa seperti air, dimana terdapat beberapa macam bentuk diskriminasi harga yang
mungkin digunakan.

8. Kompleksitas Strategi Harga


a. Two-part tariffs ; banyak kepentingan publik (seperti listrik) dipungut dengan two part
tarifs, yaitu fixed charge untuk menutupi biaya overhead atau biaya infrastruktur dan
biaya variable charge yang didasarkan atas besarnya konsumsi.
b. Peak load tariffs yaitu pelayanan publik dipungut berdasarkan tarif tertinggi.
Permasalahannya adalah beban tertinggi, membutuhkan tambahan kapasitas yang
disediakan, tarif tertinggi untuk periode puncak harus menggambarkan higher
marginal cost (seperti telepon dan transportasi).

10
c. Diskriminasi harga. Hal ini adalah salah satu cara untuk mengakomodasikan
pertimbangan keadilan melalui kebijakan harga. Jika kelompok dengan pendapatan
berbeda dapat diasumsikan memiliki pola permintaan yang berbeda, pelayanan yang
diberikan kepada kelompok yang berpendapatan rendah dapat disubsidikan silang
dengan kelompok dengan pendapatan tinggi. Hal tersebut tergantung dari kemampuan
mencegah orang kaya menggunakan pelayanan yang dimaksudkan orang miskin.
d. Full cost recovery. Harga pelayanan didasarkan biaya penuh atau biaya total untuk
menghasilkan pelayanan. Penetapan harga berdasrkan biaya penuh atas pelayanan
publik perlu mempertimbangkan keadilan dan kemampuan publik untuk membayar.

11
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Pembebanan pelayanan publik merupakan salah satu sumber penerimaan bagi pemerintah
selain pajak, penjualan aset milik pemerintah, utang, dan laba BUMN/BUMD. Aturan
yang bisa dipakai adalah beban dihitung sebesar total biaya untuk menyediakan
pelayanan tersebut.
Dalam menentukan harga pelayanan publik juga dianut konsep different cost for different
purposes yaitu membedakan biaya untuk pelayanan yang berbeda. Masalah lain adalah
adanya hidden cost yang menyulitkan dalam mengetahui total biaya. Kesulitan untuk
menghitung biaya total adalah karena sulit mengukur jumlah yang dikonsumsi dan
perbedaan jumlah biaya untuk melayani masing-masing orang.
Prinsip biaya memberikan dasar yang bermanfaat untuk penentuan harga disektor public.
Marginal cost pricing bukan merupakan satu-satunya dasar untuk penetapan harga
disektor public.

2. Saran
Metode apapun yang digunakan untuk penentuan biaya pelayanan publik, yang jelas
harus ada kebijakan yang jelas mengenai harga pelayanan yang mampu menunjukan
biaya secara akurat dan mampu mengindentifikasi skala subsidi publik.

12
DAFTAR PUSTAKA

M. Rizal, M.Si dan Armin Rahmansyah Nst, Penentuan Harga Pelayanan Publik,

http://m.antikorupsi.org 27/12/2011 19:32 WIB


Tri Widodo W Utomo, Seri Pelayanan Publik 1: Kebijakan Penetapan Tarif (Pricing)
Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik:Penentuan Harga Pelayanan Publik. Edisi Iv,

Andi Offset, Yogyakarta


http://kdardika.blogspot.co.id/2012/09/penentuan-harga-pelayanan-publik.html

13