Anda di halaman 1dari 15

Migrain with Aura

Imelda

102014030
F3

Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana

Jln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510. Telephone : (021) 5694-2061, fax : (021) 563-1731

Pendahuluan

Sakit kepala adalah rasa sakit yang muncul di bagian sekitar kepala. Sebagian
besar sakit kepala yang terjadi tidak serius dan bisa diatasi dengan mudah. Sakit kepala primer
adalah sakit kepala tanpa penyebab yang jelas dan tidak berhubungan dengan penyakit lain.
Contohnya adalah sakit kepala tipe tension, migraine, dan cluster. Sedangkan sakit kepala
sekunder adalah sakit kepala yang disebabkan oleh penyakit lain seperti akibat infeksi virus,
adanya massa tumor, cairan otak, darah, serta stroke.1,2

Kata migraine (migren) berasal dari Perancis dan datang dari Yunani hemicrania yang
secara harfiah berarti separuh kepala. Keadaan ini yang mendahului serangan. Sakit kepala
migren adalah nyeri berdenyut hebat dan berulang, yang biasanya mengenai salah satu sisi
kepala tetapi kadang mengenai kedua sisi kepala. Nyeri timbul secara mendadak dan bisa
didahului atau disertai dengan gejala-gejala visual (penglihatan), neurologis atau saluran
pencernaan. Sebagian besar serangan migren juga disertai dengan sakit kepala yang lain. sakit
kepala migren sering digambarkan sebagai sebuah sakit kepala yang hebat, berdenyut dan
menyerang kepala pada satu sisi. Kadang kadang sakit dirasakan di dahi, sekitar mata dan
dibelakang kepala sehingga mengaburkan gejala dengan sakit kepala yang lain. Walau sebagian
besar migren menyerang pada satu sisi kepala, namun sering juga dijumpai gejala migren pada
kedua sisi kepala. sisi kepala yang terserang migren pun sering bergantian pada setiap kali
serangan. hati hati bila sisi kepala yang terserang selalu sama, kemungkinan lain adalah

1
terjadinya suatu tumor otak. migren bisa terjadi pada usia berapa saja, tetapi biasanya mulai
timbul pada usia antara 10-30 tahun; kadang menghilang setelah usia 50 tahun. lebih sering
menyerang wanita.

Pembahasan

Anamnesis

Dalam proses anamnesa dilakukan komunikasi dengan pasien yang berkaitan dengan
kondisi kesehatannya. Anamnesis yaitu tahap awal dari rangkaian pemeriksaan pemeriksaan
pasien, secara langsung pada pasien atau secara tidak langsung melalui kelurga atau relasi
terdekat. Tujuan anamnesis adalah untuk mendapatkan informasi menyeluruh dari pasien yang
bersangkutan.3 Anamnesis dapat langsung dilakukan terhadap pasien (auto-anamanesis) atau
terhadap keluarganya atau pengantarnya (alo-anamnesis). Anamnesis juga dapat membantu
penenggakan diagnosis hingga 80%.4

Pada skenario kasus didapati nyeri kepala hebat dan berdenyut terjadi 5-6x perbulan,
keluhan tersebut telah dirasakan sejak 5 tahun yang lalu, tapi sekarang jadi bertambah berat.
Sakit kepala umumnya dirasakan pada sebelah kiri, berdenyut dan nyeri sekali.Sebelum sakit
penderita mual dan mata berkunang-kunang kira-kira 30 menit sebelum sakit kepala. Lama
serangan 5-7 jam, waktu serangna OS lebih suka tidur di kamar yang gelap dan sepi. Ibu dan
kakaknya sering sakit kepala.Biasanya nyeri kepalanya hilang dengan minum asam mefenamat,
tapi sekarang obat tersebut tidak efektif lagi. Sakit kepala timbul terutama sebelum mulai datang
bulan.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang bisa dilakukan pada pasien tersebut adalah :

- Tanda tanda vital


- Kesadaran Umum
- Tanda rangsang meningeal
- Motorik / sensorik
- Koordinasi
- Status Mental (kognitif)

2
Pada skenario kasus yang didapati adalah pasien sadar, keadaan umum baik, TD 110/70 mmHg,
nadi 74x, tidak demam. PF umum dalam batas normal, menarche pada usia 12 tahun, siklus haid
normal, BB dan TB dalam batas normal. Pupil bulat, isokor, diameter 3 mm, refleks cahaya +/+.
Tanda rangsang meningeal (-). N. Kranial N. III, IV, VI, VII, XII parese (-). Motorik : parese (-).
Sensibilitas : baik. Refleks fisiologis : normal. Refleks patologis : negatif

Pemeriksaan Penunjang

Lab darah : DPL : Hb 10,5; leukosist 9000, trombosit 230.000


Radiologi : CT scan/MRI. MRI dan MR angiografi cerebral: dalam batas normal.

Diagnosis Kerja

Migraine.Menurut International Headache Society (IHS) migraine adalah nyeri kepala


vaskular berulang dengan serangan nyeri yang berlangsung 4-72 jam. Nyeri biasanya sesisi
(unilateral), sifatnya berdenyut, intensitas nyerinya sedang sampai berat, diperberat oleh
aktivitas, dan dapat disertai dengan mual dan atau muntah, fotofobia, dan fonofobia.1,2

Klasifikasi Migraine :

1. Migren sederhana atau migren tanpa aura (common migraine)


Nyeri kepala selama 4-72 jam tanpa terapi. Pada anak-anak kurang dari 15 tahun,
nyeri kepala dapat berlangsung 20-48 jam
Nyeri kepala minimal mempunyai dua karakteristik berikut ini :
Lokasi unilateral
Kualitas berenyut
Intensitas sedang sampai berat yang menghambat aktivitas sehari-hari.
Di perberat dengan naik tangga atau aktivitas fisik rutin.
Selama nyeri kepala, minimal satu dari gejala berikut muncul :
Mual atau muntah
Fotofobia atau fonofobia

Minimal terdapat satu dari berikut :


Riwayat dan pemeriksaa fisik tidak mengarah pada kelainan lain
Riwayat dan pemeriksaan fisik mengarah pada kelainan lain, tapi telah
disingkirkan dengan pemeriksaan penunjang yang memadai (misalnya :
MRI atau CT Scan Kepala)
Diagnosis migren tanpa Aura :

3
Kriteria :
2 dari 4 karakteristik grup A
1 dari 2 karakteristik grup B

Grup A Grup B

1. Nyeri kepala unilateral 1. Terdapat nausea atau vomit

2. Nyeri kepala berdenyut 2. Terdapat fotofobia/fonofobia

3. Nyeri sedang atau berat dan dapat


menghambat/ mambatasi kegiatan

4. Nyeri diperberat oleh aktivitas fisik rutin,


seperti membungkuk atau naik tangga

2. Migren dengan aura (classic migraine)2,6


Terdiri dari empat fase yaitu fase : prodormal, fase aura, fase nyeri kepala dan
fase postdormal.
Aura dengan minimal dua serangan sebagai berikut
Satu gejala aura mengindikasikan disfungsi CNS fokal (mis; vertigo, tinitus,
penurunan pendengaran, ataksia, gejala visual pada hemifield kedua mata,
disartria, diplopia, parestesia, paresis, penurunan kesadaran)
Gejala aura timbul terhadap selama lebih dari 4 menit atau lebih gejala.
Nyeri kepala
Sama dengan migrain tanpa aura

Diagnosis migren dengan aura :


Kriteria :
3 dari 4 karakteristik
Satu atau lebih simptom aura reversibel
Simptom aura berlangsung lebih dari 4 menit
Aura yang tidak berakhir lebih dari 60 menit
Nyeri kepala mengikuti dalam 60 menit setelah aura berakhir

3. Migren tipe lain2,5,6


Migren with prolonged aura

4
Memenuhi kriteri migren dengan aura tetapi aura terjadi selama lebih dari 60
menit dan kurang dari 7 hari.
Basilar migren (Menggantikan basilar artery migriane)
Memenuhi kriteria migren dengan aura dengan dua atau lebih gejala aura sevagai
berikut : vertigo, tinitus, penurunan kesadaran, ataksia, gejala visual pada
hemifield kedua mata, disarteria, diplopia, parestesia bilateral, paresis bilateral
atau penurunan derajat kesadaran.
Migraine aura without headache ( menggantikan migraine equivalent atau
achepalic migraine)
Memenuhi kriteria migren dengan aura tetapi tanpa di sertai nyeri kepala
Childhood periodic syndromes yang bisa menjadi precursor atau berhubungan
dengan migren
Benign paroxysmal vertigo of childhood
Episode disekuilibrium, cemas, seringkali nystagmus atau muntah yang timbul
secara sporadis dalam waktu singkat .
Pemeriksaan neurologis normal

5
Manifestasi Klinis

1. Fase Prodormal.
Fase ini dialami 40-60% penderita migraine. Gejalanya berupa perubahan mood,
irritable, depresi, atau euphoria, perasaan lemah, letih, lesu, tidur berlebihan,
menginginkan jenis makanan tertentu (seperti coklat) dan gejala lainnya. Gejala ini
muncul beberapa jam atau hari sebelum fase nyeri kepala. Fase ini memberi pertanda
kepada penderita atau keluarga bahwa akan terjadi serangan migraine.
2. Fase Aura.
Aura adalah gejala neurologis fokal kompleks yang mendahului atau menyertai
serangan migraine. Fase ini muncul bertahap selama 5-20 menit. Aura ini dapat berupa
sensasi visual, sensorik, motorik, atau kombinasi dari aura-aura tersebut.
Aura visual muncul pada 64% pasien dan merupakan gejala neurologis yang
paling umum terjadi.Yang khas untuk migraine adalah scintillating scotoma (tampak
bintik-bintik kecil yang banyak), gangguan visual homonim, gangguan salah satu sisi
lapang pandang, persepsi adanya cahaya berbagai warna yang bergerak pelan (fenomena
positif).Kelainan visual lainnya adalah adanya scotoma (fenomena negatif) yang timbul
pada salah satu mata atau kedua mata.Kedua fenomena ini dapat muncul bersamaan dan
berbentuk zig-zag. Aura pada migraine biasanya hilang dalam beberapa menit dan
kemudian diikuti dengan periode laten sebelum timbul nyeri kepala, walaupun ada yang
melaporkan tanpa periode laten.
3. Fase Nyeri Kepala.
Nyeri kepala migraine biasanya berdenyut, unilateral dan awalnya berlangsung
didaerah frontotemporalis dan ocular, kemudian setelah 1-2 jam menyebar secara difus
kea rah posterior. Serangan berlangsung selama 4-72 jam pada orang dewasa, sedangkan
pada anak-anak berlangsung selama 1-48 jam. Intensitas nyeri bervariasi, dari sedang
sampai berat, dan kadang sangat mengganggu pasien dalam menjalani aktivitas sehari-
hari.
4. Fase Postdormal.
Pasien mungkin merasa lelah, irritable, konsentrasi menurun, dan terjadi
perubahan mood. Akan tetapi beberapa orang merasa segar atau euphoria setelah terjadi
serangan, sedangkan yang lainnya merasa depresi dan lemas. Gejala diatas tersebut
terjadi pada penderita migraine dengan aura, sementara pada penderita migren tanpa aura,
hanya ada 3 fase saja, yaitu fase prodormal, fase nyeri kepala, dan fase postdormal.7,8

6
Epidemiologi

Migraine dapat terjadi pada 18% dari wanita dan 6% dari pria sepanjang
hidupnya.Prevalensi tertinggi berada diantara umur 25-55 tahun. Migrain timbul pada 11%
masyarakat Amerika Serikat yaitu kira-kira 28 juta orang.1Prevalensi migraine ini beranekaragam
bervariasi berdasarkan umur dan jenis kelamin. Migraine dapat tejadi dari mulai kanak-kanak
sampai dewasa.Migraine lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak
perempuan sebelum usia 12 tahun, tetapi lebih sering ditemukan pada wanita setelah pubertas,
yaitu paling sering pada kelompok umur 25-44 tahun.5

Onset migraine muncul pada usia di bawah 30 tahun pada 80% kasus. Migraine jarang
terjadi setelah usia 40 tahun.Migraine tanpa aura umumnya lebih sering dibandingkan migraine
disertai aura dengan persentase sebanyak 90%.Wanita hamil pun tidak luput dari serangan
migraine yang biasanya menyerang pada trimester I kehamilan. Risiko mengalami migraine
semakin besar pada orang yang mempunyai riwayat keluarga penderita migrain.

Etiologi
Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya migraine adalah sebagai berikut :5
1. Riwayat penyakit migraine dalam keluarga
2. Perubahan hormon (estrogen dan progesteron) pada wanita, khususnya pada fase luteal
siklus menstruasi.
3. Makanan yang bersifat vasodilator (anggur merah, natrium nitrat), vasokonstriktor (keju,
coklat), serta zat tambahan pada makanan.
4. Stres
5. Faktor fisik
6. Rangsang sensorik (seperti cahaya yang silau, bau menyengat)
7. Alkohol
8. Merokok

Patofisiologi
Migren bisa dipahami sebagai suatu gangguan primer otak (primary of the brain) yang
terjadi karena adanya kelainan pada aktivitas saraf sehingga pembuluh darah mengalami
vasodilatasi, yang disusul dengan adanya nyeri kepala berikut aktivasi saraf
lanjutannya.Serangan migren bukanlah didasari oleh suatu primary vascular event. Serangan
migren bersifat episodik dan bervariasi baik dalam setiap individu maupun antar individu.6

7
Terdapat keadaan dasar neuron yang sangat mudah terangsang (hyper-excitability)
terhadap pencetus tertentu yang menyebabkan vasodilatasi dan pelepasan prostaglandin. Adanya
prostaglandin akan merangsang pelepasan sitokin proinflamasi seperti CGRP dan neuropeptide Y
yang menyebabkan vasodilatasi berikutnya sehingga terjadi peregangan dan perangsangan
reseptor nyeri. Terjadi gelombang eksitasi neuronal diikuti gelombang depresi, yang
diasosiasikan dengan vasokonstriksi dan vasodilatasi. Kejadian awal mungkin terjadi pada
batang otak dan memicu pusat muntah.9

Faktor pencetus timbulnya migren dapat dibagi dalam faktor ekstrinsik dan faktor
intrinsik.Dimana faktor eksintrik seperti stress (emosional maupun fisik atau setelah istirahat dari
ketegangan), makanan tertentu (coklat, keju, alkohol, dan makanan yang mengandung bahan
pengawet), lingkungan, dan juga cuaca.Sedangkan faktor intrinsik, misalnya perubahan
hormonal pada wanita yang nyerinya berhubungan dengan fase laten saat menstruasi. Selain itu,
adanya faktor genetik, diketahui mempengarui timbulnya migren.

Mual dan muntah mungkin disebabkan oleh kerja dopamin atau serotonin pada pusat
muntah di batang otak (chemoreseptor trigger zone/ CTZ). Sedangkan pacuan pada hipotalamus
akan menimbulkan fotofobia. Proyeksi/pacuan dari LC ke korteks serebri dapat mengakibatkan
oligemia kortikal dan mungkin menyebabkan penekanan aliran darah, sehingga timbulah aura.

Diagnosis Banding
Aneurysma
Aneurisma terjadi ketika bagian dari pembuluh darah (arteri) menonjol atau
membengkak, baik karena struktur pembuluh darah yang rusak atau karena ada kelemahan pada
dinding pembuluh darah tersebut. Ketika aneurisma terjadi maka pembuluh darah akan
menggembung pada bagian tertentu. Penonjolan bisa sangat kecil atau sangat besar, besarnya
aneurisma akan menimbulkan tekanan pada organ sekitarnya. Selain itu ada pula resiko pecahnya
pembuluh darah, yang dapat menyebabkan perdarahan dalam yang berat , dan komplikasi
lainnya termasuk kematian mendadak.9

Pada prinsipnya, aneurisma dapat terjadi pada setiap bagian pembuluh darah dalam
tubuh kita.Namun cenderung terjadi paling sering pada dinding aorta-arteri batang besar yang

8
membawa darah dari ventrikel kiri jantung menuju ke seluruh tubuh.Bisa juga terjadi pada
pembuluh darah di otak. Ada dua jenis aneurisma diantaranya: 1). Aneurisma aorta. Terjadi
pada aorta .bisa aorta perut (aorta abdominalis), atau di dada (aorta thoracalis).2). Aneurisma
otak.Terjadi pada arteri di otak.

Gejala aneurisma terjadi terkait dengan seberapa besar ukuran aneurisma yang terjadi,
kecepatan pertumbuhan, dan lokasinya.Aneurisma yang sangat kecil biasanya tidak
menimbulkna masalah apapun.Sedangkan aneurisma otak yang besar dapat menekan jaringan
saraf dan memicu rasa mati rasa di wajah, atau masalah dengan wajah.

Gejala yang mungkin akan dialami sebelum aneurisma otak pecah seperti; sakit kepala
parah yang terjadi tiba-tiba, mual, muntah, masalah penglihatan, kejang, penurunan kesadaran,
kebingungan, kelopak mata terkulai, kaku leher, dan sensitive terhadap cahaya. Jika aneurisma
otak pecah, akan menyebabkan pendarahan dan stroke hemoragik, artinya juga dapat
menyebabkan hematoma intracranial (penumpukan darah disekitar otak yang menyebabkan
desak ruang).

Sedangkan pada aneurisma aorta sangat sulit di deteksi, karena biasanya tidak
menimbulkan gejala apapun. Ketika gejala-gejala aneurisma aorta muncul, maka akan terasa
sensasi berdenyut di perut, sakit punggung dan sakit perut yang biasanya menjalar ke belakang.
Jika aneurisma terus tumbuh dan menekan tulang belakang ataupun tulang belakang ataupun
organ dada penderitanya, maka gejala yang timbul seperti batuk, suara serak atau hilang,
kesulitan bernafas dan gangguan menelan.2,9

Beberapa penyebab terjadinya aneurisma otak adalah:


Kelemahan di dinding arteri (biasanya sudah ada sejak lahir)
Hipertensi
Arteriosclerosis
Usia menopause mempengaruhi resiko aneurisma serebral.

Pada aneurisma aorta biasanya disebabkan oleh:


Aterosklerosis
Merokok
Hipertensi
Vaskulitis (infeksi pada aorta)
Penggunaan kokain
Pengaruh genetik

9
Arteriovenous Malformation
Arteriovenous malformation atau AVM merupakan kelainan kongenital yang bisa
terdapat di otak maupun medulla spinalis, terbentuk dari anyaman abnormal antara arteri dann
vena yang dihubungkan oleh satu atau lebih fistula.

AVM merupakan suatu hubungan abnormal antara arteri dan vena di otak. AVM
terbentuk pada mas prenatal yang penyebabnya belum dapat diketahui. Pada otak normal, darah
yang kaya oksigen berasal dari jantung yang mengalirkan darah secara periodik melalui
pembuluh darah arteri, arteriolkemudian kapiler, dan berakhir ke otak.Pembuluh darah yang
sudah tidak berisi oksigen kemudian mengalir melalui pembuluh vena untuk kembali ke jantung
dan paru-paru. Pada AVM darah secara langsung mengalir dari arteri ke vena melalui pembuluh
darah yang abnormal sehingga mengganggu aliran normal darah.7

Gejala klinis yang sering ditemukan terkait AVM berupa sakit kepala dan kejang,
dimana setidaknya 15% dari populasi tidak menunjukkan gejala apapun.Gejala lain yang sering
ditemukan berupa vertigo, pulsing noise dikepala, tuli progresif dan penurunan penglihatan,
confusion, dementia, dan halusinasi.

Pada kasus yang lebih berat dapat berupa rupture pembuluh darah sehingga
menimbulkan intracranial hemorrhage. Setidaknya lebih dari setengah pasien dengan AVM
menunjukkan gejala hemorrhage sebagai penyebab utama sehingga menimbulkan gejala klinik
lain berupa kehilangan kesadaran, sakit kepala yang tiba-tiba dan hebat, nausea, vomiting,
incontinence dan gangguan penglihatan. Kerusakan lokal pada jaringan otak akibat perdarahan
mungkin terjadi yang dapat menyebabkan kelemahan otot, paralysis, hemiparesis, afasia dan
lainnya.6,7

Penatalaksanaan(10)
Penatalaksaan migrain secara garis besar dibagi atas mengurangi faktor resiko, terapi
farmaka dengan memakai obat dan terapi nonfarmaka.Terapi farmaka dibagi atas dua kelompok
yaitu terapi abortif (terapi akut) dan terapi preventif (terapi pencegahan.Terapi abortif merupakan
pengobatan pada saat serangan akut yang bertujuan untuk meredakan serangan nyeri dan
disabilitas pada saat itu dan menghentikan progresivitas. Pada terapi preventif atau profilaksis
migrain terutama bertujuan untuk mengurangi frekuensi, durasi dan beratnya nyeri kepala.

10
1. Terapi farmaka migrain

1. Terapi Abortif

Pada terapi abortif dapat diberikan analgesia nonspesifik yaitu analgesia yang
dapat diberikan pada kasus nyeri lain selain nyeri kepala, dan atau analgesia spesifik yang
hanya bekerja sebagai analgesia nyeri kepala. Secara umum dapat dikatakan bahwa terapi
memakai analgesia nonspesifik masih dapat menolong pada migrain dengan intensitas
nyeri ringan sampai sedang.Pada kasus sedang sampai berat atau berespons buruk dengan
OAINS pemberian analgesia spesifik lebih bermanfaat.

Domperidon atau metoklopramid sebagai antiemetik dapat diberikan saat


serangan nyeri kepala atau bahkan lebih awal yaitu pada saat fase prodromal.Fase
prodromal migrain dihubungkan dengan gangguan pada hipotalamus melalui
neurotransmiter dopamin dan serotonin. Pemberian antiemetik akan membantu
penyerapan lambung di samping meredakan gejala penyerta seperti mual dan muntah.
Kemungkinan timbulnya efek samping antiemetik seperti sedasi dan parkinsonism pada
orang tua patut diperhatikan.

1.a. Analgesik nonspesifik

Yang termasuk analgesia nonspesifik adalah asetaminofen (parasetamol), aspirin


dan obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS).Pada umumnya pemberian analgesia opioid
dihindari. Beberapa obat OAINS yang telah diteliti diberikan pada migrain antara lain
adalah: Diklofenak,ketorolak, Indometasin, Ibuprofen, Golongan fenamat.

Ketorolak IM membantu pasien dengan mual atau muntah yang berat. Kombinasi
antara asetaminofen dengan aspirin atau OAINS serta penambahan kafein dikatakan
dapat menambah efek analgetik, dan dengan dosis masing-masing obat yang lebih rendah
diharapkan akan mengurangi efek samping obat. Mekanisme kerja OAINS pada
umumnya terutama menghambat enzim siklooksigenase sehingga sintesa prostaglandin
dihambat.

Pasien diminta meminum obatnya begitu serangan migrain terasa. Dosis obat
harus adekuat baik secara obat tunggal atau kombinasi. Apabila satu OAINS tidak efektif
dapat dicoba OAINS yang lain. Efek samping pemberian OAINS perlu dipahami untuk

11
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Pada wanita hamil hindari pemberian OAINS
setelah minggu ke 32 kehamilan. Pada migrain anak dapat diberikan asetaminofen atau
ibuprofen.

1.b. Analgesik spesifik

Yang termasuk analgesik spesifik yang sering digunakan adalah ergotamin,


dihidroergotamin (DHE) dan golongan triptan yang merupakan agonis selektif reseptor
serotonin pada 5-HT1, terutama mengaktivasi reseptor 5HT I B / 1 D. Di samping itu
ergotamin dan DHE juga berikatan dengan reseptor 5-HT2, 1dan 2- nonadrenergik
dan dopamin.

Analgesik spesifik dapat diberikan pada migrain dengan nyeri sedang sampai
berat. Pertimbangan harga kadang menjadi penghambat dipakainya analgesia spesifik ini,
walaupun golongan ini merupakan pilihan sebagai antimigren. Ergot lebih murah
dibanding golongan triptan tetapi efek sampingnya lebih besar. Penyebab lain yang
menjadi penghambat adalah preparat ini di Indonesia hanya tersedia dalam bentuk oral
dan dari golongan triptan hanya ada sumatriptan. Ergotamin dan DHE diberikan pada
migrain sedang sampai berat apabila analgesia nonspesifik kurang terlihat hasilnya atau
memberi efek samping. Dosis dan cara pemberian ergotamin dan DHE harus
diperhatikan. Kombinasi ergotamin dengan kafein bertujuan untuk menambah absorpsi
ergotamin selain sebagai analgesik pula. Hindari pada kehamilan, hipertensi tidak
terkendali, penyakit serebrovaskuler, kardiovaskuler dan penyakit pembuluh perifer (hati-
hati pada pasien > 40 tahun) serta gagal ginjal, gagal hati dan sepsis. Efek samping yang
mungkin timbul antara lain mual, dizziness, parestesia, kramp abdominal. Ergotamin
biasanya diberikan pada episode serangan tunggal.Dosis dibatasi tidak melebihi 10
mg/minggu.

Sumatriptan dapat meredakan nyeri, mual, fotofobia dan fonofobia sehingga


memperbaiki disabilitas pasien.Diberikan pada migrain berat atau pasien yang tidak
memberikan respon dengan analgesia nonspesifik dengan atau tanpa kombinasi. Dosis
awal sumatriptan adalah 50 mg dengan dosis maksimal dalam 24 jam 200 mg. Kontra
indikasi antara lain adalah pasien, yang berisiko penyakit jantung koroner, penyakit

12
serebrovaskuler, hipertensi yang tidak terkontrol, migrain tipe basiler. Efek samping
berupa dizziness,heaviness, mengantuk, nyeri dada non kardial, disforia.

2. Terapipreventif

Terapi preventif harus selalu diminum tanpa melihat adanya serangan atau
tidak.Pengobatan dapat diberikan dalam jangka waktu episodik, jangka pendek (subakut)
atau jangka panjang (kronis).Terapi episodik diberikan apabila faktor pencetus nyeri
kepala dikenal dengan baik sehingga dapat diberikan analgesia sebelumnya. Terapi
preventif jangka pendek berguna apabila pasien akan terkena faktor risiko yang telah
dikenal dalam jangka waktu tertentu seperti pada migrain menstrual. Terapi preventif
kronis akan diberikan dalam beberapa bulan bahkan tahun tergantung respons pasien.
Biasanya diambil patokan minimal dua sampai tiga bulan.

3. Terapi nonfarmaka

Walaupun terapi farmaka merupakan terapi utama migren, terapi nonfarmaka


tidak bisa dilupakan.Pada kehamilan terapi nonfarmaka bahkan diutamakan.Terapi
nonfarmaka dimulai dengan edukasi dan menenangkan pasien (reassurance).Pada saat
serangan pasien dianjurkan untuk menghindari stimulasi sensoris berlebihan.Bila
memungkinkan beristirahat di tempat gelap dan tenang dengan dikompres
dingin.Menghindari faktor pencetus mungkin merupakan terapi pencegahan yang murah.
Pasien harus memperhatikan pencetus dari serangan migraine yang dialami,
seperti kurang tidur, setelah memakan makanan tertentu misalnya kopi, keju, coklat,
MSG, akibat stress, perubahan suhu ruangan dan cuaca, kepekaan terhadap cahaya
terang, kelap kelip, perubahan cuaca, dan lain-lain. Selanjutnya, pasien diharapkan dapat
menghindari faktor-faktor pencetus timbulnya serangan migraine.Disamping itu, pasien
dianjurkan untuk berolahraga secara teratur untuk memperlancar aliran darah.Olahraga
yang dipilih adalah yang membawa ketenangan dan relaksasi seperti yoga dan
senam.Olahraga yang berat seperti lari, tenis, basket, dan sepak bola justru dapat
menyebabkan migraine.Pada migraine menstrual dapat dianjurkan mengurangi garam dan
retensi cairan.

Komplikasi

13
Migraine dapat meningkatkan faktor risiko seseorang terkena stroke, baik bagi pria
maupun wanita terutama sebelum usia 50 tahun. Sekitar 19% dari seluruh kasus stroke terjadi
pada orang-orang dengan riwayat migraine. Migraine dengan aura lebih berisiko untuk terjadinya
stroke khususnya pada wanita.Selain itu, migraine juga meningkatkan risiko terkena penyakit
jantung. Para peneliti menemukan bahwa 50% pasien dengan Patent Foramen Ovale menderita
migraine dengan aura dan operasi perbaikan pada pasien Patent Foramen Ovale dapat
mengontrol serangan migraine.2

Prognosis
Untuk banyak orang, migraine dapat remisi dan menghilang secara utuh pada akhirnya,
terutama karena faktor penuaan/usia. Penurunan kadar estrogen setelah menopause
bertanggungjawab atas remisi ini bagi beberapa wanita.

Kesimpulan
Migraine adalah nyeri kepala berulang dengan manifestasi serangan selama 4-72 jam.
Karekteristik nyeri kepala unilateral, berdenyut, intensitas sedang atau berat, bertambah berat
dengan aktivitas fisik yang rutin dan diikuti dengan nausea dan/atau fotofobia dan fonofobia.
Migraine secara umum dibagi menjadi 2 yaitu migraine klasik dan migraine umum dimana
migraine umum 5 kali lebih sering terjadi daripada migraine klasik. Migraine biasanya
disebabkan oleh faktor genetik dimana 70-80% penderita migraine memiliki anggota keluarga
inti dengan riwayat migraine.5 Migraine dapat dipicu oleh keadaan kurang tidur, stress,
perubahan pola makan, setelah makan makanan tertentu, akibat perubahan suhu, dan sebagainya.
Tujuan dari tatalaksana migraine adalah untuk meredakan serangan migraine serta mencegah
serangan yang berikutnya atau menurunkan frekuensi kekambuhan.

14
Daftar Pustaka :

1. Prof.DR. Mahar Marjono & Prof .DR. Priguna Shidharta. Neurologi Klinis Dasar, Edisi
12. Jakarta: Penerbit Dian Rakyat; 2008.

2. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi ke-6
Volume ke-1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2012.h.630-5.
3. Sidarta I. Penuntun Ilmu kedokteran dasar. Edisi Ketiga. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta. 2010. h.87-8

4. Abdurrahman N, et al. Penuntun anamnesis dan pemeriksaan fisis. Ed.3. Jakarta:


Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2005. h.45

5. Zuraini, Yuneldi anwar, Hasan Sjahrir. Karakteristik Nyeri Kepala Migren dan Tension
Type Headeche Di Kotamadya Medan, Neurona, Vol 22 No. 2. 2008.

6. Perhimpunan dokter spesialis Saraf indonesia. Buku Pedoman Standar Pelayanan medik
(SPM) & Standar Operasional (SPO). 2009.

7. Harsono. Kapita Selekta Neurologi, edisi kedua. Yogyakarta: Gajahmada University


press. 2005.

8. Dewanto, G. Panduan praktis diagnosis dan tata laksana penyakit saraf. Jakarta: EGC.
2009. H.102-5.

9. Pradipta Eka Adip, Hanifati Sonia, Tanto Chris. Kapita selekta kedokteran. Edisi IV jilid
II. Jakarta: Badan Penerbit Media Aesculapius; 2014.h. 969-73.

10. Wibowo S., Gofir A. Farmakologi dalam Neurologi. Jakarta: Badan Penerbit Salemba
Medika; 2011.

15