Anda di halaman 1dari 6

DAMPAK PERNIKAHAN USIA DINI TERHADAP

KEHIDUPAN REMAJA

Anita Br. Saragih


Matematika, FMIPA,Universitas Sriwijaya
Email: Anitaalvasaragih19@gmail.com

Abstrak
Pernikahan dini (early mariage) merupakan suatu pernikahan yang dilakukan
oleh seseorang yang memiliki umur yang relatif muda. Umur yang relatif muda yang
dimaksud tersebut adalah usia pubertas yaitu usia antara 10-19 tahun. Banyaknya
kejadian pernikahan pada usia muda yaitu usia dibawah 19 tahun akan menimbulkan
masalah pada kehidupan remaja terutama yang berkaitan dengan sistem reproduksi
pada remaja yang sangat memerlukan perhatian khusus. Tujuan dari penulisan artikel
ini adalah untuk mengenalkan pada masyarakat luas mengenai dampak pernikahan
usia dini terhadap kehidupan remaja. Pembahasan yang dituliskan meliputi penjelasan
faktor pernikahan usia dini, dampak pernikahan usia dini, sekaligus upaya yang harus
dilakukan untuk mencegah terlaksananya pernikahan usia dini. Kesimpulannya, yaitu
perlu adanya kesadaran terhadap dampak dari adanya pernikahan dibwah umur ini,
karena dengan begitu kita dapat mengurangi dampak yang lebih lagi untuk generasi
yang akan datang.

Kata Kunci: Dampak, Pernikahan, Usia Dini, Remaja

A. Pendahuluan
Perkawinan di bawah umur adalah pernikahan antara laki-laki dan perempuan
yang sama-sama belum mencapai umur 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi
perempuan. Laki-laki yang berusia di atas 19 tahun dengan perempuan yang berusia
di bawah 16 tahun dan pernikahan yang dilakukan oleh laki-laki di bawah usia 19
tahun dan perempuan berusia lebih dari dari 16 tahun. Bagi masyarakat yang belum
cukup umur untuk menikah disyaratkan untuk mengajukan dispensasi kawin di
Pengadilan Agama setempat.1
Hal yang sama juga dikatakan oleh Irne W. Desiyanti dalam artikel penelitiannya
mengenai faktor-faktor yang berhubungan terhadap pernikahan dini pada pasangan
usia subur di kecamatan mapanget kota manado bahwa Pernikahan dini (early
marriage) merupakan suatu pernikahan yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki
umur yang relatif muda. Umur yang relatif muda yang dimaksud tersebut adalah usia
pubertas yaitu usia antara 10-19 tahun.2
Oleh Nurmilah Sari yang dikutip Novita Kusumaningrum juga mengatakan
bahwa perkawinan dibawah umur adalah perkawinan yang dilakukan oleh pasangan
yang belum atau tidak memenuhi persyaratan umur yang telah ditentukan peraturan
perundang-undangan. Pernikahan dibawah umur juga disebut dispensasi nikah, yaitu
pernikahan yang terjadi pada pasangan atau salah satu calon yang ingin menikah pada
usia dibawah standar usia menikah yang sudah ditetapkan oleh aturan hukum
perkawinan.3
Dalam Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang perkawinan adalah ikatan lahir
batin antara seorang pria dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhana Yang Maha Esa. Sedangkan dalam Undang-
Undang No 1 tahun 1947 tentang perkawinan Pasal 7 ayat 1 dikatakan bahwa
perkawinan diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (Sembilan belas) tahun
dan pihak wanita sudah mencapai umur16 (enam belas tahun).4
Dalam UU No. 1 tahun 1974, pasal 7 ayat (1) menyatakan bahwa perkawinan hanya
diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 dan pihak wanita sudah mencapai
umur 16 tahun, usulan perubahan pada pasal 7 tahun 1974 ayat (1) perkawinan dapat dan
dilakukan jika pihak laki-laki dan perempuan berusia minimal 19 tahun, ayat (2) untuk
melangsungkan pernikahan masing-masing calon mempelai yang belum mencapai umur
21 tahun, harus mendapat izin kedua orangtua, sesuai dengan kesepakatan pihak Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang telah melakukan
kerjasama dengan MOU yang menyatakan bahwa Usia Perkawinan Pertama diijinkan
apabila pihak pria mencapai umur 25 tahun dan wanita mencapai umur 20 tahun .
Namun dalam kenyataannya masih banyak kita jumpai perkawinan pada usia muda
atau di bawah umur, padahal perkawianan yang sukses membutuhkan kedewasaan
tanggung jawab secara fisik maupun mental, untuk bisa mewujudkan harapan yang ideal
dalam kehidupan berumah tangga. Peranan orang tua sangat besar artinya bagi psikologis
anak-anaknya. Mengingat keluarga adalah tempat pertama bagi tumbuh perkembangan
anak sejak lahir hingga dewasa, maka pola asuh anak dalam perlu disebarluaskan pada
setiap keluarga.5

B. Faktor Pernikahan Dini


Kedewasaan dalam hal fisik dan rohani dalam perkawinan adalah merupakan
dasar untuk mencapai tujuan dan cita-cita dari perkawinan, walaupun demikian masih
banyak juga anggota masyarakat kita yang kurang memperhatikan atau menyadarinya
sehingga masih banyaknya masyarakat yang melangsungkan perkawinan di usia
muda. Hal ini disebabkan adanya pengaruh lingkungan dan perkembangan sosial
yang tidak memadai. RT. Akhmad Jayadiningrat dalam Suparman yang dikutip oleh
Hesti Agustian: 2013 juga menyatakan bahwa salah satu penyebab utama terjadinya
perkawinan usia muda ialah tidak adanya pengertian atau pengetahuan mengenai
perkawinan dan akibat buruk dari perkawinan yang masih di bawah umur.6
Terjadinya pernikahan usia dini pada setiap daerah memiliki faktor tersendiri
pada setiap daerah. Seperti yang diutarakan oleh Nurhidayatuloh dan Heni Marlina
bahwa faktor yang sangat dominan bagi masyarakat Bulungihit Kampung Baru
adalah faktor adat tradisi dan budaya. Karena bagi mereka pernikahan usia muda
sudah menjadi tradisi dan adat bagi masyaraktanya yang sudah bersifat turun
temurun. Selain itu, akan timbul juga rasa bangga pada setiap orangtua yang anaknya
cepat mendapat jodoh dan menikah diusia yang masih muda. Akibat dari kenyataan
yang seperti inilah yang akhirnya mempengaruhi pola pikir orangtua dan anak ,
sehingga perkawinan usia muda banyak terjadi karena faktor adat dan budaya yang
turun temurun dan sudah menjadi darah daging bagi masyarakat setempat.7
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab terjadinya perkawinan di usia
muda dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yang mendorong mereka untuk
melangsungkan perkawinan di usia muda.6 Menurut Bowner dan Spanier dalam
Rahmi(2003) dan dikutip kembali oleh Hesti Agustian mengatakan bahwa terdapat
beberapa alasan seseorang untuk menikah seperti mendapatkan jaminan ekonomi,
membentuk keluarga, mendapatkan keamanan.
Perkawinan usia anak memiliki keterkaitan dengan kemiskinan. Kemiskinan
mendorong orang tua untuk menikahkan anaknya, terlebih lagi ketika biaya
pendidikan tinggi. Dengan menikahkan anak perempuan, diharapkan perekonomian
keluarga menjadi lebih baik atau setidaknya si anak dapat mempunyai taraf
kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi, analisis menunjukkan bahwa perempuan usia
20-24 yang melakukan perkawinan usia anak sebagian besar masih hidup dalam
rumah tangga miskin.8

C. Dampak Bagi Remaja


Perkawinan menimbulkan berbagai macam akibat dan melibatkan semua sanak
keluarga. Perkawinan yang terencana dengan matang akan menjadi fondasi yang kuat
dalam membina rumah tangga, karena suami maupun istri memiliki peran yang sama
dalam mewujudkan sebuah keluarga yang menjadi idaman atau keluarga sakinah.
Dalam bahasa agama keluarga ideal adalah keluarga sakinah yaitu keluarga yang
dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material
secara layak dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarga dan
lingkungannya yang selaras, serasi, serta mampu mengamalkan, menghayati dan
memperdalam nilai-nilai keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia. Kegagalan suatu
rumah tangga disebabkan oleh berbagai macam faktor, sebagian besar disebabkan
oleh faktor karena kurangnya saling pengertian, penerimaan terhadap pasangannya,
tidak ada kepercayaan, tidak ada kebersamaan dalam menerima kondisi dan
permasalahan yang dihadapi keluarga, ketidakcocokan dan ingin saling menguasai
sehingga menimbulkan percekcokan dengan pasangannya.
Hilangnya peran dari salah satu pasangan hidup yang disebabkan karena sakit,
meninggalkan keluarga tanpa ada kabar berita, meninggalkan tanggung jawab dapat
menjadi indikator ketidakharmonisan dalam keluarga. Menurut Goode yang dikutip
oleh Marmiati Mawardi menyebutnya dengan istilah keluarga selaput kosong, di
mana anggota-anggota keluarga tetap tinggal bersama tetapi tidak saling menyapa
atau bekerja sama satu dengan yang lain dan gagal memberikan dukungan emosional.
Dari data SDKI 1997 diketahui bahwa seekitar 52,6 % wanita pernah melakukan
perkawinan pertamanya pada kelompok umur 15-19 tahun dengan tingkat pendidikan
hanya dengan ijazah tamat SD. Sejumlah 5,8 juta remaja pernah menikah pada umur
kurang dari 16 tahun dan 25% diantaranya bahkan menikah dibawah usia 14 tahun.
Pihak yang sangat merasakan akibatnya adalah remaja putri atau perempuan karena
tidak mempunyai kesempatan untuk bersekolah lagi dan harus menjalani perkawinan
yang sebenarnya belum siap baginya, baik dari sisi mental maupun kesehatan
reproduksinya.
Di beberapa daerah pedesaan, kita terkadang menjumpai sekelompok masyarat
yang memeliki tradisi menikahkan anaknya di bawah umur. Tradisi menikahkan anak
di bawah umur pada keluarga petani pedesaan tentu saja tidak lepas dari rangkaian
tatanan kehidupan mereka yang telah mengakar kuat. Mereka sangat memerlukan
anggota keluarga penunjang proses pengolahan lahan pertanian, dan satu-satunya
alternative yang dapat mereka pilih adalah menikahkan anak-anak mereka kendatipun
masih dibawah umur. Keadaan ini tentunya tidak lepas dari kondisi yang membentuk
pola kehidupan mereka yang diwarisi secara turun-temurun, yang memandang proses
kehidupan itu tidak lebih dari sesuatu yang bersifat rutinitas (Hesti dalam Suparman,
2001).
Hesti Agustian juga mengatakan sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa
seseorang yang melakukan pernikahan terutama pada usia yang masih muda, tentu
akan membawa berbagai dampak, terutama dalam dunia pendidikan. Dapat diambil
contoh, jika seseorang yang melangsungkan penikahan ketika baru lulus SMP, tentu
keinginannya untuk melanjutkan sekolah lagi atau menempuh pendidikan yang lebih
tinggi tidak akan tercapai. Hal tersebut dapat terjadi karena motivasi belajar yang
dimiliki seseorang tersebut akan mulai mengendor karena banyaknya tugas yang
mereka lakukan setelah menikah. Dengan kata lain pernikahan diusia muda dapat
menghambat terjadinya proses pendidikan dan pembelajaran.

D. Solusi (Rekomendasi)
Prinsip dasar untuk seluruh rekomendasi ini adalah anak perempuan harus
diikutsertakan pada semua tahap dalam upaya untuk menghapus perkawinan usia
anak, termasuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi intervensi. Partisipasi mereka
dalam memperoleh hak-hak dan perlindungan sangat penting bagi pemberdayaan
serta pengembangan respon yang efektif dan tepat terhadap praktik tersebut
sebagaimana telah ditunjukkan oleh sejumlah kajian global.9
Subdirektorat Statistik Rumah Tangga dalam bukunya Kemajuan Yang Tertunda:
Analisis Data Perkawinan Usia Anak Indonesia mengutarakan mengenai solusi untuk
mengurangi prevalensi perkawinan dibwah umur yaitu pertama dengan cara
mendidik pekerja sosial, pejabat hukum, tokoh masyarakat, tokoh agama, orang tua,
dan anak-anak perempuan tentang dampak dari perkawinan dan kehamilan usia dini
serta mendukung hubungan saling menghormati antara anak laki-laki dan anak
perempuan. Kedua, adalah dengan meningkatkan informarsi dan pendidikan tentang
hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi
di antara remaja laki-laki dan remaja perempuan. Serta bekerja bersama penegak
hukum dan pemuka agama untuk menindak pihak-pihak yang masih menikahkan
anak-anak perempuan dibawah umur.

E. Kesimpulan
Anak-anak perempuan yang menikah muda menghadapi akibat buruk dari sisi
sosial dan ekonomi. Laporan ini menunjukkan adanya hubungan yang kompleks
antara perkawinan usia anak dengan pendidikan dan kemiskinan di Indonesia.
Perkawinan usia anak sangat terkait dengan kemiskinan, tetapi prevalensi perkawinan
usia anak yang tinggi terdapat pada provinsi dengan tingkat kemiskinan yang relatif
rendah. Kemiskinan seringkali dijadikan alasan dibalik perkawinan usia anak.
Nyatanya, perempuan yang melakukan perkawinan usia anak sebagian besar tetap
hidup dalam kemiskinan. Dampak buruk ini juga akan dialami oleh anak-anak
mereka dan dapat berlanjut pada generasi yang akan datang. Oleh karena itu, perlu
adanya kesadaran terhadap dampak dari adanya pernikahan dibwah umur ini, karena
dengan begitu kita dapat mengurangi dampak yang lebih lagi untuk generasi yang
akan datang.
Catatan Akhir:
1
Marmiati Mawardi, Problematika Perkawinan Dibawah Umur (Jurnal Analisa
Volume 19 Nomor 02, Juli - Desember 2012).
2
Irne W. Desiyanti, Faktor-Faktor yang Berhubungan Terhadap Pernikahan Dini
Pada Pasangan Usia Subur di Kecamatan Mapanget Kota Manado (Artikel
Penelitian Volume 5 Nomor 03, 2015).
3
Novita Kusumaningrum dalam Nurmilah Sari, 2011, Skripsi Hukum, Dispensasi
Nikah Dibawah Umur (Studi Kasus di Pengadilan Agama Tangerang Tahun 2009-
2010).
4
www.hukumonline.com, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun
1974 Tentang Perkawinan.
5
Siti Yuli Astuty, Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Perkawinan Usia Muda
Dikalangan Remaja Di Desa Tembung Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli
Serdang.
6
Hesti Agustian, Gambaran Kehidupan Pasangan Yang Menikah Diusia Muda di
Kabupaten Shamasraya (Jurnal Sprektum PLS Volume 1 Nomor 1, April 2013).
7
Nurhidayatuloh dan Leni Marlina, Perkawinan Dibawah Umur Perspektif HAM
(Jurnal Al-Mawarid Volume XI Nomor 2,September-Januari 2011).
8
Subdirektorar Statistik Rumah Tangga, Kemajuan Yang Tertunda: Analisis Data
Perkawinan Usia Anak Indonesia (Jakarta:Badan Pusat Statistik, 2015), hlm. 35.
9
Lee-Rife, Malhotra and Glinski. (2012). What works to prevent child marriage:
a review of the evidence.Studies in Family Planning, 43(4): pp. 287-303.

Daftar Pustaka
Subdirektorat Statistik Rumah Tangga. 2015. Kemajuan Yang Tertunda: Analisis
Data Perkawinan Usia Anak Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Undang-Undang Hukum Perkawinan di Indonesia Nomor 1. 1947.