Anda di halaman 1dari 2

ENKAPSULASI KOMPOS LIMBAH DOMESTIK DAN MIKROBA

TANAH DALAM BUDIDAYA AKAR WANGI PADA


LAHAN PASCA TAMBANG

M. Laily Qadry Sukmana


1620523310009

Secara umum kegiatan pertambangan seperti tambang batubara dapat


memberikan keuntungan ekonomis namun juga dapat menimbulkan dampak
kerusakan lingkungan dan ekosistem tanah. Kegiatan pertambangan yang
dilakukan dengan pertambangan terbuka, akan menimbulkan tumpukan bahan
non-batubara. Umumnya areal bekas timbunan batubara ini dalam beberapa tahun
pertama sulit ditumbuhi vegetasi karena berbagai macam kendala. Beberapa
kendala fisik yang dihadapi dalam upaya reklamasi tanah bekas penambangan
batubara yakni: tanah terlalu padat, struktur tanah tidak mantap, aerasi dan
drainase tanah jelek, serta lambat meresapkan air. Selain itu kendala kimia seperti
pH sangat masam, tingginya kadar garam, dan rendahnya tingkat kesuburan tanah
merupakan pembatas utama dalam mereklamasi area tanah timbunan.
Konsekuensinya diperlukan input yang relatif besar untuk memperbaiki kualitas
atau menyehatkan ekosistem tanah agar dapat mendukung pertumbuhan dan
perkembangan tanaman.
Pertumbuhan penduduk yang makin cepat mengakibatkan peningkatan
jumlah sampah yang makin besar. Oleh karena itu, pengolahan sampah menjadi
topik yang menarik untuk diteliti dan dapat membantu masyarakat dalam
meningkatkan standar lingkungannya. Sampah domestic sebagian besar
didominasi bahan organic. Telah banyak penelitian tentang kandungan kimia
sampah organic. Pengolahan sampah organic menjadi kompos merupakan proses
biokonversi yang menghasilkan pupuk organic yang menganduk berbagai unsur
hara yang dibutuhkan untuk metabolism pada tanaman. Kompos merupakan hasil
dekomposisi biologis bahan organic oleh mikroba. Kompos sebagai pupuk organic
memiliki beberapa fungsi yang berkaitan penigkatan kualitas tanah. Dengan
berbagai kelebihan yang dimiliki kompos sebagai bahan organic.
Mikroorganisme tanah merupakan salah satu faktor utama yang
mempengaruhi kesuburan tanah. Sebagian besar pertumbuhan tanaman tidak lepas
dari mikroorganisme tanah. Mikroorganisme dapat hidup jika didalam tanah
terdapat asam amino. Asam amino ini berasal dari protein yang diuraikan oleh
bakteri dalam tanah. Tanaman bisa tumbuh dengan baik jika mempunyai
hubungan simbiosis mutualisme dengan mikroorganisme. Fungsi lain
mikroorganisme tanah adalah menguraikan bahan kimia yang sulit diserap
menjadi bentuk yang mudah diserap oleh tanaman. Mikroorganisme ternyata
mengeluarkan suatu jenis zat yang berfungsi untuk memperlancar penyaluran hara
dan air dari akar ke daun. Zat yang dikeluarkan mikroorganisme ini dapat
membantu penyebaran air dan nutrisi di seluruh permukaan daun. Keadaan ini
akan meningkatkan produktivitas tanaman, karena penyaluran air dan nutrisi dapat
berjalan lancar.
Pemanfaatan teknologi mikroba di bidang pertanian dapat meningkatkan
fungsi mikroba indigenous dalam berbagai sistem produksi tanaman, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Mikroba berguna (effective microorganism)
sebagai komponen habitat alam mempunyai peran dan fungsi penting dalam
mendukung terlaksananya pertanian ramah lingkungan melalui berbagai proses,
seperti dekomposisi bahan organik, mineralisasi senyawa organik, fiksasi hara,
pelarut hara, nitrifikasi dan denitrifikasi. Dalam aliran pertanian input organik.,
mikroba diposisikan sebagai produsen hara, tanah dianggap sebagai media
biosintesis, dan hasil kerja mikroba dianggap sebagai pensuplai utama kebutuhan
hara bagi tanaman. Di Amerika Serikat, mikroba tanah dipandang sangat penting,
sehingga menjadi salah satu indikator dalam menentukan indeks kualitas tanah.
Semakin tinggi populasi mikroba tanah semakin tinggi aktivitas biokimia dalam
tanah dan semakin tinggi indeks kualitas tanah.
Dalam pengembalian kesuburan lahan, fitoremediasi merupakan salah satu
upaya dengan memanfaatkan tumbuhan sebagai agen kesuburan lahan. Akar
wangi (Vetiveria zizanioides L.) merupakan tanaman yang dapat digunakan
sebagai tanaman fitoremediasi. Karakteristik yang menakjubkan akar wangi
adalah toleransi yang tinggi terhadap tingkat salinitas, keasaman, alkalinitas,
sodisitas, dan berbagai jenis logam berat dan bahan kimia pertanian, juga
kemampuan yang luar biasa untuk menyerap dan mentolerir kadar peningkatan
nutrisi untuk mengkonsumsi sejumlah besar air dalam proses pertumbuhan yang
pesat dalam kondisi basah. selain hal tersebut, akar wangi dimanfaatkan sebagai
penghasil minyak atsiri yang berfungsi sebagai aroma terapi dan obat.
Enkapsulasi adalah suatu proses pembungkusan suatu bahan atau campuran
beberapa bahan dengan bahan lain. Dengan berbagai keuntungan dari kompos dan
mikroba tanah, pemanfaatan enkapsulasi kompos dengan mikroba tanah pada
budidaya akar wangi merupakan salah satu upaya yang dapat diaplikasikan dalam
upaya meningkatkan kualitas lahan sub optimal contohnya lahan pasca tambang.

Gambar 1. Kerangka Konsep