Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PENDAHULUAN

DEPARTEMEN MATERNITAS
ANTENATAL CARE (ANC)

Disusun untuk memenuhi tugas Profesi Keperawatan


di Puskesmas Kepanjen

Oleh :

Ni Komang Miming Widiyasih

125070201131012

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2016
1. DEFINISI
Antenatal care adalah cara penting untuk memonitor dan mendukung
kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal.
Pelayanan antenatal atau yang sering disebut pemeriksaan kehamilan adalah
pelayanan yang di berikan oleh tenaga profesional yaitu dokter spesialisasi
bidan, dokter umum, bidan, pembantu bidan dan perawat bidan, untuk itu selama
masa kehamilannya ibu hamil sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan atau
dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan
pelayanan asuhan antenatal.
Pemeriksaan Antenatal Care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk
mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil, hingga mampu
menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberiaan ASI dan kembalinya
kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 2008).
Kunjungan Antenatal Care (ANC) adalah kunjungan ibu hamil ke bidan
atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk
mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal. Pada setiap kunjungan Antenatal
Care (ANC), petugas mengumpulkan dan menganalisis data mengenai kondisi
ibu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk mendapatkan diagnosis
kehamilan intrauterine serta ada tidaknya masalah atau komplikasi (Saifudin,
2005).

2. TUJUAN ANTENATAL CARE (ANC)


Tujuan umum adalah : untuk memenuhi hak setiap ibu hamil memperoleh
pelayanan antenatal yang berkualitas sehingga mampu menjalani kehamilan
dengan sehat, bersalin dengan selamat, dan melahirkan bayi yang sehat.

Tujuan khusus adalah :


1) Menyediakan pelayanan antenatal terpadu, komprehensif dan berkualitas,
termasuk konseling kesehatan dan gizi ibu hamil, konseling KB dan
pemberian ASI.
2) Menghilangkan missed opportunity pada ibu hamil dalam mendapatkan
pelayanan antenatal terpadu, komprehensif, dan berkualitas.
3) Mendeteksi secara dini kelainan/penyakit/gangguan yang diderita ibu hamil.
4) Melakukan intervensi terhadap kelainan/penyakit/gangguan pada ibu hamil
sedini mungkin.
5) Melakukan rujukan kasus ke fasiltas pelayanan kesehatan sesuai dengan
sistem rujukan yang ada

3. ADAPTASI KEHAMILAN
Setelah konsepsi, uterus akan berkembang untuk menyediakan nutrisi
dan perlindungan bagi janin yang akan berkembang dan tumbuh di
dalamnya. Secara fisioogis perubahan yang dapat digambarkan pada masa
konsepsi meliputi berikut ini :
a. Perubahan pada organ-organ sistem reproduksi
Suplai darah ke organ reproduksi meningkat segera setelah konsepsi
karena peningkatan kadar hormon-hormon steroid seksual. Vaskularisasi
tersebut memberikan suplai darah yang banyak bagi perkembangan
janin, tanda-tanda khas pada organ dan bergaia gejala pada wanita :
Uterus
Uterus berkembang sampai ke xifistermun. Pengurangan tinggi
fundus uteri di kenal dengan istilah lightening, terjadi pada berapa
bulan terakhir kehamilan, pada saat fetus turun kebagian bawah
uterus. Hal ini bertujuan untuk membuat jaringan pelvik menjadi lebih
lunak, dengan tonus uterus yang baik, dengan formasi yang baru dari
segmen bawah rahim.
Pada primigravida hal ini juga memacu penurunan fetus ke dalam
pelvik dan kepala menjadi engaged. Pada wanita nulipara, penurunan
kepala biasanya tidak terjadi sampai proses persalinan tiba.
Perkembangan segmen bawah rahim dari ujung istmus berakhir
sampai proses persalinan. Setelah diukur kira-kira 1-3 bagian tubuh
uterus sangat tipis dan mengandung sedikit otot. Kontraksi pada
bagian ini tidak sama dengan yang ada di fundus dan di korpus.
Serviks
Segera setelah periode tidak terjadinya menstruasi pertama,
serviks menjadi lebih lunak sebagai akibat meningkatnya suplai darah
(tanda Goodells). Kanalis servikskalis dipenuhi oleh mukus yang
kental disebut operkulum. Selama kehamilan operkulum menghambat
masuknya bakteri ke uterus, yang mengalir selama persalinan, yang
disebut blooddy show, yang menandakan bahwa kanalis terbuka
untuk lewatnya bayi.
Serviks nulipara (wanita yang belum pernah mengalami
kehamilan) terlihan bulat dan halus serta menonjol ke arah vagina.
Proses kelahiran meregangkan serviks dan hampir selalu
menyebabkan laserasi serviks. Setelahnya, bentuk serviks menjadi
oval. Selama masa kehamilan konsistensi serviks berubah. Sebelum
masa kehamilan teraba seperti ujung hidung; pada awal masa
kehamilan teraba seperti ujung daun telinga; dan pada keadaan term
terasa seperti bibir.
Vagina
Sampai minggu kedelapan, meningkatnya vaskularisasi pada
vagina menyebabkan tanda kehamilan yang khas disebut
tandachadwicks, corak yang berwarna keunguan yang dapat terlihat
oleh pemeriksa. Dalam berespon terhadap stimulasi hormonal,
sekresi sel-sel vagina meninggkiat secara berarti. Sekresi tersebut
berwarna putih dan bersifat sangat asam, dikenal istilah putih
atau leukorrea. Sekresi vagina merupakan media yang menyuburkan
basilus doderleins. Basilus ini merupakan garis pertahanan terhadap
candida albikans, patogen yang tumbuh dalam media alkali.
Sebagaimana kehamilan mengalami kemajuan, mengingkatnya
kongesti vaskular organ vagina dan pelvik menyebabkan peningkatan
sensitifitas yang sangat berarti. Hal ini mungkin mengarah pada
tingginya derajat rangsangan seksual, terutama pada bulan keempat
dan ketujuh masa kehamilan.

b. Perubahan pada sistem integument


Payudara
Salah satu petunjuk pada wanita yang menandakan bahwa ia
hamil adalah rasa semutannyeri tekan pada payudara, yang secara
bertahap mengalami perbesaran karena peningkatan pertumbuhan
jaringan alveolar dan suplai darah. Puting susu menjadi lebih
menonjol dan keras, dan pada awal kehamilan keluar cairan
jernih,kolostrum. Area berpigmen di sekitar puting, areola, tumbuh
lebih gelap dan kelenjar-kelenjar montgomery menonjol keluar.
Bila payudara tidak kosong dengan tepat selama kehamilan, berat
yang meningkat akan menyebabkan rasa tidak nyaman. Takut akan
bentuknya menjadi menurun tidak harus terjadi bila selama masa
kehamilan payudara telah disokong dengan baik menggunakan
kutang. Sering dibersihkan akan menjaga penumpukan kolostrum.
Menyikat dengan handuk kering yang kasar dapat membantu untuk
menyiapkan puting dalam pemberian ASI.
Kulit
Striae gravidarum sebagaimana janin tumbuh, uterus membesar,
menonjol keluar. Hal ini menyebabkan tonjolan dan kemudian
membusung serabut-seraut elastis dari lapisan kulit terdalam terpisah
dan putus karena regangan. Tanda regangan yang dibentuk disebut
striae gravidarum.
Pigmentasi, pengumpulan pigmen sementara mungkin terlihat
pada bagian tubuh tertentu, tergantung pada warna kulit yang dimiliki.
Areola sekitar puting membesar dan warnanya menjadi lebih gelap.
Perspirasi dan sekresi kelenjar lemak. Baik kelenjar sebasea atau
keringat menjadi lebih aktif selam masa kehamilan sebagai akibatnya,
wanita hamil mungkin mengalami ganggunan bau badan, banyak
mengeluarkan keringat dan berminyak.

c. Perubahan pada sistem endokrin


Kelenjar dari sistem endokrin menghasilkan bahan-bahan kimia yang
mempengaruhi seluruh tubuh.
Ovarium dan Plasenta
Ovarium merupakan sumber esktrogen dan progesteron pada wanita
tidak hamil. Korpus lutem tempat ovum berasal mulai menghasilkan
estrogen dan progesteron. Segara setelah plasenta terbentuk dengan
baik, ia menjadi sumber utama hormon tersebut.
Kelenjar thyroid
Selama masa kehamilan BMR meningkat dan kelenjar thiroid
membesar, tetapi jumlah hormon yang dihasilkan tetap sama
(tiroksin).
Kelenjar parathyroid
Kelenjar parathiroid ukurannya meningkat selama masa kehamilan,
terutama selam minggu ke15- ke 30 ketika kebutuhan kalsium janin
lebih besar. Hormon parathiroid penting untuk mempertahankan
kecukupan kalsium dalam darah, tanpa hormon tersebut metabolisme
tulang dan otot terganggu.
Pankreas
Insulin di hasilkan oleh sekelompok sel-sel kecil yang disebut pulau
langerhans, yang terjadi diseluruh jaringan pankreas. Selama masa
kehamilan sel-sel ini tumbuh dan menghasilkan lebih banyak insulin
untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat.
Kelenjar Pituitari
Lobus anterior dari kelenjar pituitari mengalami sedikit pembesaran
selama kehamilan dan terus menghasilakan semua hormon tropik,
tetapi dengan jumlah yang sedikit berbeda. Hormon pertumbuhan
berkurang dan hormon melanotropik meningkat, menyebabkan
peningkatan pigmentasi puting susu, wajah, dan abdomen.
Pembentukan prolaktin meningkat dan berlanjut setelah persalinan
selama menyusui.
Kelenjar Adrenal
Ukuran kelenjar adrenal meningkat selama kehamilan, terutama
bagian kortikal yang membentuk kortin. Jumlah ion natrium dan
kalium dalam aliran darah diatur oleh kortin.
Bagian medula dari kelenjar adrenal mensekresi epinephirne,hormon
yang sangat penting. Kehamilan tidak mengubah ukuran atau fungsi
bagian medula.

d. Perubahan pada sistem kardiovaskuler


Sebagaimana kehamilan berlanjut, volume darah meningkat bertahap
samapi mencapai 30% sampai 50% di atas tingkat pada keadaan tidak
hamil. Estrogen menstimulas adrenal untuk mensekresi aldosteron,
menyebabkan retensi garam dan air. Hal ini mengarah pada peningkatan
volume darah dan edema jaringan. Namun demikian, tekanan darah
relatif tidak mengalami perubahan. Peningkatan yang signifikan
menandakan preeklamsia.
Beratnya uterus menekan vena-vena besar yang mengaliri pelvik dan
ekstermitas bawah. Vena varikose mungkin terjadi pada tungkai, paha,
vulva, dan rektum (hemoroid).
Tekanan uterus pada vena kava yang terjadi ketika wanita hamil
berbaring dapaqt menyebabkan penurunan tekanan darah yang berarti,
disebut subpine hipotensyve syndrom, menyebabkan pucat sementara,
pening dan klamines.
Sel-sel darah merah meningkat sampai 33% dan hemoglobin samapi
15%, tetapi karena meningkatnya volume plasma menyebabkan
hemodilusi, terjadi psedoanemia sehingga di sebut anemia fisiologis
kehamilan, tingkat plasma probogren meningkat samapi 40% atau lebih
dan waktu pembekuan tetap sama seperti tingkat pada sebelum
kehamilan. Sebagai akibatnya, lebih mudah terjadi pembekuan darah.
Karenanya, pasangan dengan statis venosi, menyebabkan secara khusus
akan mengalami trombosis vena.

e. Perubahan pada sistem musculoskeletal


Gigi, tulang dan persendian
Selama masa kehamilan wanita membutuhkan kira-kira sepertiga
lebih banyak kalsium dan posfor, dengan diet yang seimbang
kebutuhan tersebut terpenuhi dengan baik. Terdapat bukti bahwa
saliva yang asam pada saat hamil membantu aktivitas penghancuran
bakteri email yang menyebabkan karies. Sendi pelvik pada saat
kehamilan sedikit dapat bergerak. Postur tubuh wanita secara
bertahap mengalami perubahan karena janin membesar dalam
abdomen. Untuk mengkompensasi penambahan berat ini, bahu lebih
tertarik kebelakang dan tulang belakang lebih melengkung, sendi
tulang belakang lebih lentur, dapat menyebabkan nyeri punggung.
Otot
Kram otot-otot tungkai dan kaki merupakan masalah umum selama
kehamilan. Penyebabnya tidak diketahui tetapi mungkin berhubungan
dengan metabolisme kalsium dam posfor, kurangnya drainase sisa
metabolisme otot, atau postur yang tidak seimbang. Sedikit gerakan
dan penggunaan kompres hangat dapat sedikit membantu.
f. Perubahan pada sistem pernapasan
Paru-paru dan pernapasan
Sejalan dengan pertumbuhan janin dan mendorong diagfragma
keatas, bentuk dan ukuran rongga dada berubah tetapi tidak
membuatnya lebih kecil. Kapasitas paru terhadap udara inspirasi
tetap sama seperti sebelum hamil atau mungkin berubah dengan
berarti. Kecepatan pernapasan dan kapasitas vital tidak berubah.
Volume tidal, vulume ventilator permenit, dan ambilan oksigen
meningkat karena bentuk dari rongga torak berubah dan karena
bernafas lebih cepat sekitar 60% wanita hamil mengeluh sesak nafas.
Membran mukosa
Walaupun penyebabnya tidak diketahui dengan jelas, bengkak seperi
alergi pada membran mukosa merupakan hal umum pada kehamilan.
Hal ini menyebabkan gejala serak, hidung tersumbat, dispnea,sakit
tenggorokan, pendarahan hidung, hilangnya perasa indra penciuman.

g. Perubahan pada sistem gastrointestinal


Sistem gastrointestinal terpengaruh dalam beberapa hal karena
kehamilan. Tingginya kadar progesteron menggangu keseimbangan
cairan tubuh, meningkatkan kolestrol darah, dan melambatkan kontraksi
otot-otot polos. Sekresi saliva menjadi lebih asam dan lebih banyak, dan
asam lambung menurun. Pembesaran uterus lebih menekan diafragma,
lambung dan intestin. Pada bulan-b ulan awal masa kehamilan, sepertiga
dari wanita hamil mengalami mual dan muntah, pada kehamilan
selanjutnya penurunan asam lambung, melambatkan pengosongan
lambung dan menyebabkan kembung.
Menurunnya gerakan peristaltik tidak saja menyebabkan mual teapi
juga konstipasi, karena lebih banyak peses terdapat dalam usus, lebih
banyak air diserap akan semakin keras jadinya. Konstipasi juga
disebabkan oleh tekanan uterus pada usus bagian bawah pada awal
masa kehamilan dan kembali pada akhir masa kehamilan. Pada bulan-
bulan terakhir, nyeri ulu hati dan regurgitasi (pencernaan asam)
merupakan ketidak nyamanan yang disebabkan tekanan keatas dari
pembesaran uterus.
h. Perubahan pada sistem perkemihan
Di bawah keadaan yang normal, peningkatan kegiatan penyaringan darah
bagi ibu dan janin yang tumbuh tidak membuat ginjal dan ureter bekerja
ekstra. Keduanya menjadi dilatasi karena peristaltik uretra menurun.
Sebagai akibat gerakan urine ini meningkat kemungkinan pielonefritis.
Pada awal kehamilan, suplai darah ke kandung kemih meningkat, dan
perbesaran uterus menekan kandung kemih, faktor-foktor tersebut
menyebabkan meningkatnya berkemih. Mendekati kelahiran janin turun
lebih rendah ke pelvis, lebih menekan lagi kandung kemih dan semakin
meningkatkan berkemih.

i. Perubahan pada sistem persyarafan


Saraf perifer
Terkadang gejala timbul karena melemahnya persendian, seperti yang
telah dijelaskan tentang perubahan tulang dan sendi pada kehamilan.
Kadang-kadang perubahan postur pada kehamilan dapat
menyebabkan akrodistesia, atau numbess, tinggling, dan kaku pada
semua bagian lengan, tangan, atau jari-jari.
Otak
Walaupun jaringan otak kemungkinan tidak mengalami perubahan,
efek psikologis mungkin saja dapat terjadi. Swingmood lebih umum
terjadi. Terkadang wanita tidak menerima kehamilannya dan mungkin
terjadi psikosis.

j. Perubahan peningkatan berat badan


Walaupun peningkatan berat badan lebih bersifat individual, peningkatan
berat badan rata-rata terjadi selama masa kehamilan. Wanita yang
mempunyai berat badan kurang atau yang mengandung lebih dari satu
bayi, berat badannya harus meningkat lebih banyak selama kehamilan.
Bagi wanita yang kelebihan berat badan harus menghindari diet yang
berlebihan dan penurunan berat badan yang drastis dapat penyebabkan
ketosis dan membahayakan janin.
Secara normal berat badan yang didapat adalah sebagai berikut:
- Trimester I : 2 sampai 4 pon
- Trimester II : 12 sampai 15 pon
- Trimester III : 8 samapi 10 pon
Pengawasan berat badan dengan ketat tidak lagi dianjurkan karena ibu
yang mengalami peningkatan berat badan kurang dari 20 pon memiliki
lebih banyak melahirkan bayi dengan BBLR.

4. Jadwal Pelaksaan Antenatal Care

Menurut Depkes RI (2004) kunjungan ideal yang dilakukan oleh ibu hamil
diharapkan mengikuti anjuran sebagai berikut:

a. Awal kehamilan sampai dengan tujuh bulan memeriksakan diri setiap empat
minggu sekali.

b. Usia kehamilan tujuh bulan sampai dengan sembilan bulan tiap dua minggu
sekali.

c. Usia kehamilan sembilan bulan sampai dengan sepuluh bulan tiap satu
minggu sekali.

Kunjungan tersebut bisa lebih banyak frekuensinya bila ada anjuran dari
tenaga pemeriksa kehamilan karena melihat kondisi ibu atau bila ada masalah
serta gangguan pada kandungannya. Frekuensi minimal pemeriksaan kehamilan
adalah 4 kali selama kehamilan dengan rincian sebagai berikut:

a. Satu kali pada usia kehamilan satu sampai tiga bulan (triwulan I).

b. Satu kali pada usia kehamilan empat sampai enam bulan (triwulan II).

c. Dua kali pada usia kehamilan tujuh sampai sembilan bulan (triwulan III).

5. INDIKATOR PELAYANAN
1. Kunjungan pertama (K1)
K1 adalah kontak pertama ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang
mempunyai kompetensi, untuk mendapatkan pelayanan terpadu dan
komprehensif sesuai standar. Kontak pertama harus dilakukan sedini
mungkin pada trimester pertama, sebaiknya sebelum minggu ke 8.
Adapun tujuan pemeriksaan pertama pada perawatan antenatal adalah
sebagai berikut:
1) Mendiagnosis dan menghitung umur kehamilan.
2) Mengenali dan menangani penyulit - penyulit yang mungkin dijumpai
dalam kehamilan, persalinan dan nifas.
3) Mengenali dan mengobati penyakit - penyakit yang mungkin diderita
sedini mungkin.
4) Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu dan anak.
5) Memberikan nasehat - nasehat tentang cara hidup sehari hari dan
keluarga berencana, kehamilan, persalinan, nifas dan laktasi.
Pada kunjungan pertama adalah kesempatan untuk mengenali faktor
risiko ibu dan janin. Ibu diberitahu tentang kehamilannya, perencanaan
tempat persalinan, juga perawatan bayi dan menyusui. Informasi yang
diberikan sebagai berikut :
1) Kegiatan fisik dapat dilakukan dalam batas normal.
2) Kebersihan pribadi khususnya daerah genitalia harus lebih dijaga karena
selama kehamilan terjadi peningkatan secret vagina.
3) Pemilihan makan sebaiknya yang bergizi dan serat tinggi.
4) Pemakaian obat harus dikonsultasikan dahulu dengan tenaga kesehatan.
Wanita perokok atau peminum harus menghentikan kebiasaannya.
2. Kunjungan ke-2 (K2)
Pada periode ini pemeriksaan dilakukan minimal 1 kali. Hendrawan
(2008) menuturkan mengingat manifestasi klinik kasus kegawatdaruratan
obstetric yang berbeda - beda dalam rentang yang cukup luas, maka perlu
dilakukan kunjungan ANC yang teratur. Pada trimester II, ibu hamil diajurkan
periksa kehamilan 1 bulan sekali sampai umur kehamilan 28 minggu. Adapun
tujuan pemeriksaan kehamilan di trimester II menurut Saifuddin (2002) ialah
sebagai berikut:
1) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya
2) Penapisan preeklamsi gemelli, infeksi alat reproduksi dan saluran
perkemihan.
3) Mengulang perencanaan persalinan.
3. Kunjungan ke-4 (K4)
K4 adalah ibu hamil dengan kontak 4 kali atau lebih dengan tenaga
kesehatan yang mempunyai kompetensi, untuk mendapatkan pelayanan
terpadu dan komprehensif sesuai standar. Kontak 4 kali dilakukan sebagai
berikut: sekali pada trimester I (kehamilan hingga 12 minggu) dan trimester
ke-2 (>12 - 24 minggu), minimal 2 kali kontak pada trimester ke-3 dilakukan
setelah minggu ke 24 sampai dengan minggu ke 36. Kunjungan antenatal
bisa lebih dari 4 kali sesuai kebutuhan dan jika ada keluhan, penyakit atau
gangguan kehamilan. Kunjungan ini termasuk dalam K4.
4. Penanganan Komplikasi (PK)
PK adalah penanganan komplikasi kebidanan, penyakit menular maupun
tidak menular serta masalah gizi yang terjadi pada waktu hamil, bersalin dan
nifas. Pelayanan diberikan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai
kompetensi.AGB) dan kurang energi kronis (KEK).

6. KONSEP PELAYANAN ANC


a. Timbang berat badan
Penimbangan berat badan pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan
untuk mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan janin. Kenaikan berat
badan normal pada waktu hamil 0,5 kg per minggu mulai trimester kedua
Penambahan berat badan yang kurang dari 9 kilogram selama kehamilan
atau kurang dari 1 kilogram setiap bulannya menunjukkan adanya gangguan
pertumbuhan janin.
b. Ukur lingkar lengan atas (LiLA).
Pengukuran LiLA hanya dilakukan pada kontak pertama untuk skrining ibu
hamil berisiko kurang energi kronis (KEK). Kurang energy kronis disini
maksudnya ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi dan telah
berlangsung lama (beberapa bulan/tahun) dimana LiLA kurang dari 23,5 cm.
Ibu hamil dengan KEK akan dapat melahirkan bayi berat lahir rendah
(BBLR).
c. Ukur tekanan darah.
Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan
untuk mendeteksi adanya hipertensi (tekanan darah 140/90 mmHg) pada
kehamilan dan preeklampsia (hipertensi disertai edema wajah dan atau
tungkai bawah; dan atau proteinuria)
d. Ukur tinggi fundus uteri
Pengukuran tinggi fundus pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan
untuk mendeteksi pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan umur
kehamilan. Jika tinggi fundus tidak sesuai dengan umur kehamilan,
kemungkinan ada gangguan pertumbuhan janin. Standar pengukuran
menggunakan pita pengukur setelah kehamilan 24 minggu.
e. Hitung denyut jantung janin (DJJ)
Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan selanjutnya setiap kali
kunjungan antenatal. DJJ lambat kurang dari 120/menit atau DJJ cepat lebih
dari 160/menit menunjukkan adanya gawat janin.
f. Tentukan presentasi janin
Menentukan presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II dan
selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. Pemeriksaan ini dimaksudkan
untuk mengetahui letak janin. Jika, pada trimester III bagian bawah janin
bukan kepala, atau kepala janin belum masuk ke panggul berarti ada
kelainan letak, panggul sempit atau ada masalah lain.
g. Beri imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
Untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum, ibu hamil harus mendapat
imunisasi TT. Pada saat kontak pertama, ibu hamil diskrining status imunisasi
TT-nya. Pemberian imunisasi TT pada ibu hamil, disesuai dengan status
imunisasi ibu saat ini.
h. Beri tablet tambah darah (tablet besi),
Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus mendapat tablet zat
besi minimal 90 tablet selama kehamilan diberikan sejak kontak pertama.
i. Periksa laboratorium (rutin dan khusus)
Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada saat antenatal meliputi:
1) Pemeriksaan golongan darah,
Pemeriksaan golongan darah pada ibu hamil tidak hanya untuk
mengetahui jenis golongan darah ibu melainkan juga untuk
mempersiapkan calon pendonor darah yang sewaktu-waktu diperlukan
apabila terjadi situasi kegawatdaruratan.
2) Pemeriksaan kadar hemoglobin darah (Hb)
Pemeriksaan kadar hemoglobin darah ibu hamil dilakukan minimal sekali
pada trimester pertama dan sekali pada trimester ketiga. Pemeriksaan ini
ditujukan untuk mengetahui ibu hamil tersebut menderita anemia atau
tidak selama kehamilannya karena kondisi anemia dapat mempengaruhi
proses tumbuh kembang janin dalam kandungan.
3) Pemeriksaan protein dalam urin
Pemeriksaan protein dalam urin pada ibu hamil dilakukan pada trimester
kedua dan ketiga atas indikasi. Pemeriksaan ini ditujukan untuk
mengetahui adanya proteinuria pada ibu hamil. Proteinuria merupakan
salah satu indikator terjadinya preeclampsia pada ibu hamil.
4) Pemeriksaan kadar gula darah.
Ibu hamil yang dicurigai menderita Diabetes Melitus harus dilakukan
pemeriksaan gula darah selama kehamilannya minimal sekali pada
trimester pertama, sekali pada trimester kedua, dan sekali pada trimester
ketiga (terutama pada akhir trimester ketiga).
5) Pemeriksaan darah Malaria
Semua ibu hamil di daerah endemis Malaria dilakukan pemeriksaan
darah Malaria dalam rangka skrining pada kontak pertama. Ibu hamil di
daerah non endemis Malaria dilakukan pemeriksaan darah Malaria
apabila ada indikasi.
6) Pemeriksaan tes Sifilis
Pemeriksaan tes Sifilis dilakukan di daerah dengan risiko tinggi dan ibu
hamil yang diduga Sifilis. Pemeriksaaan Sifilis sebaiknya dilakukan sedini
mungkin pada kehamilan.
7) Pemeriksaan HIV
Pemeriksaan HIV terutama untuk daerah dengan risiko tinggi kasus HIV
dan ibu hamil yang dicurigai menderita HIV. Ibu hamil setelah menjalani
konseling kemudian diberi kesempatan untuk menetapkan sendiri
keputusannya untuk menjalani tes HIV.
8) Pemeriksaan BTA
Pemeriksaan BTA dilakukan pada ibu hamil yang dicurigai menderita
Tuberkulosis sebagai pencegahan agar infeksi Tuberkulosis tidak
mempengaruhi kesehatan janin. Selain pemeriksaaan tersebut diatas,
apabila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya di
fasilitas rujukan.
j. Tatalaksana/penanganan Kasus
Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil pemeriksaan
laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada ibu hamil harus ditangani
sesuai dengan standar dan kewenangan tenaga kesehatan. Kasus-kasus
yang tidak dapat ditangani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.

k. KIE Efektif
KIE efektif dilakukan pada setiap kunjungan antenatal yang meliputi:
1) Kesehatan ibu
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk memeriksakan kehamilannya secara
rutin ke tenaga kesehatan dan menganjurkan ibu hamil agar beristirahat
yang cukup selama kehamilannya (sekitar 9-10 jam per hari) dan tidak
bekerja berat.
2) Perilaku hidup bersih dan sehat
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan badan selama
kehamilan misalnya mencuci tangan sebelum makan, mandi 2 kali sehari
dengan menggunakan sabun, menggosok gigi setelah sarapan dan
sebelum tidur serta melakukan olah raga ringan.
3) Peran suami/keluarga dalam kehamilan dan perencanaan persalinan
Setiap ibu hamil perlu mendapatkan dukungan dari keluarga terutama
suami dalam kehamilannya. Suami, keluarga atau masyarakat perlu
menyiapkan biaya persalinan, kebutuhan bayi, transportasi rujukan dan
calon donor darah. Hal ini penting apabila terjadi komplikasi kehamilan,
persalinan, dan nifas agar segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
4) Tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas serta kesiapan
menghadapi komplikasi
Setiap ibu hamil diperkenalkan mengenai tanda-tanda bahaya baik
selama kehamilan, persalinan, dan nifas misalnya perdarahan pada hamil
muda maupun hamil tua, keluar cairan berbau pada jalan lahir saat nifas,
dsb. Mengenal tanda-tanda bahaya ini penting agar ibu hamil segera
mencari pertolongan ke tenaga kesehtan kesehatan.
5) Asupan gizi seimbang
Selama hamil, ibu dianjurkan untuk mendapatkan asupan makanan yang
cukup dengan pola gizi yang seimbang karena hal ini penting untuk
proses tumbuh kembang janin dan derajat kesehatan ibu. Misalnya ibu
hamil disarankan minum tablet tambah darah secara rutin untuk
mencegah anemia pada kehamilannya.
6) Gejala penyakit menular dan tidak menular
Setiap ibu hamil harus tahu mengenai gejala-gejala penyakit menular
(misalnya penyakit IMS,Tuberkulosis) dan penyakit tidak menular
(misalnya hipertensi) karena dapat mempengaruhi pada kesehatan ibu
dan janinnya.
7) Penawaran untuk melakukan konseling dan testing HIV di daerah tertentu
(risiko tinggi)
Konseling HIV menjadi salah satu komponen standar dari pelayanan
kesehatan ibu dan anak. Ibu hamil diberikan penjelasan tentang risiko
penularan HIV dari ibu ke janinnya, dan kesempatan untuk menetapkan
sendiri keputusannya untuk menjalani tes HIV atau tidak. Apabila ibu
hamil tersebut HIV positif maka dicegah agar tidak terjadi penularan HIV
dari ibu ke janin, namun sebaliknya apabila ibu hamil tersebut HIV negatif
maka diberikan bimbingan untuk tetap HIV negatif selama kehamilannya,
menyusui dan seterusnya.
8) Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan pemberian ASI ekslusif
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk memberikan ASI kepada bayinya
segera setelah bayi lahir karena ASI mengandung zat kekebalan tubuh
yang penting untuk kesehatan bayi. Pemberian ASI dilanjutkan sampai
bayi berusia 6 bulan.
9) KB paska persalinan
Ibu hamil diberikan pengarahan tentang pentingnya ikut KB setelah
persalinan untuk menjarangkan kehamilan dan agar ibu punya waktu
merawat kesehatan diri sendiri, anak, dan keluarga.
10) Imunisasi
Setiap ibu hamil harus mendapatkan imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
untuk mencegah bayi mengalami tetanus neonatorum.
11) Peningkatan kesehatan intelegensia pada kehamilan (Brain booster)
Untuk dapat meningkatkan intelegensia bayi yang akan dilahirkan, ibu
hamil dianjurkan untuk memberikan stimulasi auditori dan pemenuhan
nutrisi pengungkit otak (brain booster) secara bersamaan pada periode
kehamilan.

7. PATHWAY (terlampir)

8. JENIS PELAYANAN
Pelayanan antenatal terpadu diberikan oleh tenaga kesehatan yang
kompeten yaitu dokter, bidan dan perawat terlatih, sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
Pelayanan antenatal terpadu terdiri dari :
a. Anamnesa
1) Identitas Pasien
Identitas umum, perhatian pada usia ibu, status perkawinan dan tingkat
pendidikan. Range usia reproduksi sehat dan aman antara 20-30 tahun.
Pada kehamilan usia remaja, apalagi kehamilan di luar nikah,
kemungkinan ada unsur penolakan psikologis yang tinggi. Usia muda
juga faktor kehamilan risiko tinggi untuk kemungkinan adanya komplikasi
obstetri seperti preeklampsia, ketuban pecah dini, persalinan preterm,
abortus.
2) Keluhan utama
Sadar/tidak akan kemungkinan hamil, apakah semata-mata ingin periksa
hamil, atau ada keluhan/ masalah lain yang dirasakan.
3) Riwayat kehamilan sekarang / riwayat penyakit sekarang
Ada/tidaknya gejala dan tanda kehamilan. Jika ada amenorea, kapan hari
pertama haid terakhir (HPHT), siklus haid biasanya berapa har Hal ini
penting untuk memperkirakan usia kehamilan dan memperkirakan saat
persalinan. Ditanyakan apakah sudah pernah periksa kehamilan ini
sebelumnya atau belum (jika sudah, berarti ini bukan kunjungan antenatal
pertama, namun tetap penting untuk data dasar inisial pemeriksaan kita).
Apakah ada keluhan / masalah dari sistem orga lain, baik yang
berhubungan dengan perubahan
fisiologis kehamilan maupun tidak.
4) Usia kehamilan
1. Tafsiran Persalinan menurut
Rumus Naegele :
Hari Pertama Haid Terakhir(HPHT)
Hari Bulan Tahun
+7 3 +1
2. Rumus McDonals :
Tinggi fundus (cm) x 2/7 = usia kehamilan dalam bulan\Tinggi fundus
(cm) x 8/7 = usia kehamilan dalam minggu
3. Gerakan janin (Quickening) pada minggu ke 17 19
4. Tinggi fundus uteri (McLennan and Sandberg)

Usia Kehamilan Tinggi Fundus Uteri


16 minggu 3-4 jari atas symphysis pubis
20 minggu 2-3 jari bawah umbilicus
24 minggu Sejajar umbilicus
28 minggu 3 jari atas umbilicus
32 minggu 3 jari bawah xiphoid
36 minggu 2 jari bawah xiphoid
40 minggu 2 jari bawah xiphoid

5. USG

6. Riwayat penyakit dahulu

Riwayat penyakit sistemik lain yang mungkin mempengaruhi atau


diperberat oleh kehamilan (penyakit jantung, paru, ginjal, hati,
diabetes mellitus), riwayat alergi makanan/ obat tertentu dan
sebagainya. Ada/tidaknya riwayat operasi umum / lainnya maupun
operasi kandungan (miomektomi, sectio cesarea dan sebagainya).
7. Riwayat penyakit keluarga
Riwayat penyakit sistemik, metabolik, cacat bawaan, dan sebagainya.
8. Riwayat khusus obstetri ginekologi
Adakah riwayat kehamilan/persalinan/abortus sebelumnya(dinyatakan
dengan kode GxPxAx, gravida/para/abortus), berapa jumlah anak
hidup. Ada/ tidaknya masalah masalah pada kehamilan/ persalinan
sebelumnya seperti prematuritas, cacat bawaan, kematian janin,
perdarahan dan sebagainya. Penolong persalinan terdahulu, cara
persalinan, penyembuhan luka persalinan, keadaan bayi saat baru
lahir, berat badan lahir jika masih ingat.
9. Riwayat menarche, siklus haid, ada/tidak nyeri haid atau gangguan
haid lainnya, riwayat penyakit kandungan lainnya.
10. Riwayat kontrasepsi, lama pemakaian, ada masalah/tidak.
11. Riwayat sosial / ekonomi
Pekerjaan, kebiasaan, kehidupan sehari-hari

5) Menanyakan tanda-tanda penting yang terkait dengan masalah


kehamilan dan penyakit yang kemungkinan diderita ibu hamil:
- Muntah berlebihan
Rasa mual dan muntah bisa muncul pada kehamilan muda terutama
pada pagi hari namun kondisi ini biasanya hilang setelah kehamilan
berumur 3 bulan. Keadaan ini tidak perlu dikhawatirkan, kecuali kalau
memang cukup berat, hingga tidak dapat makan dan berat badan
menurun terus.
- Pusing
Pusing biasa muncul pada kehamilan muda. Apabila pusing sampai
mengganggu aktivitas sehari-hari maka perlu diwaspadai.
- Sakit kepala
Sakit kepala yang hebat yang timbul pada ibu hamil mungkin dapat
membahayakan kesehatan ibu dan janin.
- Perdarahan
Perdarahan waktu hamil, walaupun hanya sedikit sudah merupakan
tanda bahaya sehingga ibu hamil harus waspada.
- Sakit perut hebat
Nyeri perut yang hebat dapat membahayakan kesehatan ibu dan
janinnya.
- Demam
Demam tinggi lebih dari 2 hari atau keluarnya cairan berlebihan dari
liang rahim dan kadang-kadang berbau merupakan salah satu tanda
bahaya pada kehamilan.
- Batuk lama
Batuk lama Lebih dari 2 minggu, perlu ada pemeriksaan lanjut. Dapat
dicurigai ibu menderita TBC.
- Berdebar-debar
Jantung berdebar-debar pada ibu hamil merupakan salah satu
masalah pada kehamilan yang harus diwaspadai.
- Cepat lelah
Dalam dua atau tiga bulan pertama kehamilan, biasanya timbul rasa
lelah, mengantuk yang berlebihan dan pusing, yang biasanya terjadi
pada sore hari. Kemungkinan ibu menderta kurang darah.
- Sesak nafas atau sukar bernafas
Pada akhir bulan ke delapan ibu hamil sering merasa sedikit sesak
bila bernafas karena bayi menekan paru-paru ibu. Namun apabila hal
ini terjadi berlebihan maka perlu diwaspadai.
- Keputihan yang berbau
Keputihan yang berbau merupakan salah satu tanda bahaya pada
ibu hamil.
- Gerakan janin
Gerakan bayi mulai dirasakan ibu pada kehamilan akhir bulan ke
empat. Apabila gerakan janin belum muncul pada usia kehamilan ini,
gerakan yang semakin berkurang atau tidak ada gerakan maka ibu
hamil harus waspada.
- Perilaku berubah selama hamil, seperti gaduh gelisah, menarik diri,
bicara sendiri, tidak mandi, dsb. Selama kehamilan, ibu bisa
mengalami perubahan perilaku. Hal ini disebabkan karena
perubahan hormonal. Pada kondisi yang mengganggu kesehatan ibu
dan janinnya maka akan dikonsulkan ke psikiater.
- Riwayat kekerasan terhadap perempuan (KtP) selama kehamilan
Informasi mengenai kekerasan terhadap perempuan terutama ibu
hamil seringkali sulit untuk digali. Korban kekerasan tidak selalu mau
berterus terang pada kunjungan pertama, yang mungkin disebabkan
oleh rasa takut atau belum mampu mengemukakan masalahnya
kepada orang lain, termasuk petugas kesehatan. Dalam keadaan ini,
petugas kesehatan diharapkan dapat mengenali korban dan
memberikan dukungan agar mau membuka diri.
6) Menanyakan status kunjungan (baru atau lama), riwayat kehamilan yang
sekarang, riwayat kehamilan dan persalinan sebelumnya dan riwayat
penyakit yang diderita ibu.
7) Menanyakan status imunisasi Tetanus Toksoid.
8) Menanyakan jumlah tablet Fe yang dikonsumsi.
9) Menanyakan obat-obat yang dikonsumsi seperti: antihipertensi, diuretika,
anti vomitus, antipiretika, antibiotika, obat TB, dan sebagainya.
10) Di daerah risiko tinggi IMS, tanyakan gejala IMS dan riwayat penyakit
pada pasangannya. Informasi ini penting untuk langkahlangkah
penanggulangan penyakit menular seksual.
11) Menanyakan pola makan ibu selama hamil yang meliputi jumlah,
frekuensi dan kualitas asupan makanan terkait dengan kandungan
gizinya.
12) Menanyakan kesiapan menghadapi persalinan dan menyikapi
kemungkinan terjadinya komplikasi dalam kehamilan, antara lain:
- Siapa yang akan menolong persalinan?
Setiap ibu hamil harus bersalin ditolong tenaga kesehatan.
- Dimana akan bersalin?
Ibu hamil dapat bersalin di Poskesdes, Puskesmas atau di rumah
sakit?
- Siapa yang mendampingi ibu saat bersalin?
Pada saat bersalin, ibu sebaiknya didampingi suami atau keluarga
terdekat. Masyarakat/organisasi masyarakat, kader, dukun dan bidan
dilibatkan untuk kesiapan dan kewaspadaan dalam menghadapi
persalinan dan kegawatdaruratan obstetric dan neonatal
- Siapa yang akan menjadi pendonor darah apabila terjadi
pendarahan?
Suami, keluarga dan masyarakat menyiapkan calon donor darah
yang sewaktu-waktu dapat menyumbangkan darahnya untuk
keselamatan ibu melahirkan.
- Transportasi apa yang akan digunakan jika suatu saat harus dirujuk?
Alat transportasi bisa berasal dari masyarakat sesuai dengan
kesepakatan bersama yang dapat dipergunakan untuk mengantar
calon ibu bersalin ke tempat persalinan termasuk tempat rujukan.
Alat transportasi tersebut dapat berupa mobil, ojek, becak, sepeda,
tandu, perahu, dsb.
- Apakah sudah disiapkan biaya untuk persalinan?
Suami diharapkan dapat menyiapkan dana untuk persalinan ibu
kelak. Biaya persalinan ini dapat pula berupa tabulin (tabungan ibu
bersalin) atau dasolin (dana sosial ibu bersalin) yang dapat
dipergunakan untuk membantu pembiayaan mulai antenatal,
persalinan dan kegawatdaruratan. Informasi anamnesa bisa
diperoleh dari ibu sendiri, suami, keluarga, kader ataupun sumber
informasi lainnya yang dapat dipercaya. Setiap ibu hamil, pada
kunjungan pertama perlu diinformasikan bahwa pelayanan antenatal
selama kehamilan minimal 4 kali dan minimal 1 kali kunjungan
diantar suami.

b. Pemeriksaan
Pemeriksaan dalam pelayanan antenatal terpadu, meliputi berbagai jenis
pemeriksaan termasuk menilai keadaan umum (fisik) dan psikologis
(kejiwaan) ibu hamil.
1) Status obstetricus / pemeriksaan khusus obstetrik
Abdomen
- Inspeksi : membesar/tidak (pada kehamilan muda pembesaran
abdomen mungkin belum nyata).
- Palpasi : tentukan tinggi fundus uteri (pada kehamilan muda dilakukan
dengan palpasi bimanual dalam, dapat diperkirakan ukuran uterus -
pada kehamilan lebih besar, tinggi fundus dapat diukur dengan pita
ukuran sentimeter, jarak antara fundus uteri dengantepi atas simfisis
os pubis).
- Palpasi Leopold I IV
- Pada kehamilan aterm, perkiraan berat janin dapat menggunakan
rumus cara Johnson-Tossec yaitu :
tinggi fundus (cm) - (10/11/12/13)* x 155 gram.
*(10/11 jika sebagian besar msk PAP, 12 jika sebagian kecil msk PAP,
13 jika belum msk PAP)
- Auskultasi : dengan stetoskop kayu Laennec atau alat Doppler atau
funandoscope yang ditempelkan di daerah punggung janin, dihitung
frekuensi selama satu menit. Frekuensi denyut jantung janin normal
adalah 120-160 x /menit.
Pelvimetri
- Distansia Spinarum ( 24 26 cm)
Jarak antara kedua spina iliaca anterior superior sinistra dan dextra
- Distansia Cristarum ( 28 30 cm)
Jarak terpanjang antara dua tempat yang simetris pada crista iliaca
sinistra dan dextra
- Conjugata Eksterna (Boudeloque) 18 cm
Jarak antara bagian atas symphisis ke prosessus spinosus lumbal 5

9. PENANGANAN DAN TINDAK LANJUT KASUS


Berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
laboratorium/ penunjang lainnya, dokter menegakkan diagnosa kerja atau
diagnosa banding, sedangkan bidan/perawat dapat mengenali keadaan normal
dan keadaan bermasalah/tidak normal pada ibu hamil. Berikut ini adalah
penanganan dan tindak lanjut kasus pada pelayanan antenatal terpadu.
Pada setiap kunjungan antenatal, semua pelayanan yang meliputi
anamnesa, pemeriksaan dan penanganan yang diberikan serta rencana tindak -
lanjutnya harus diinformasikan kepada ibu hamil dan suaminya. Jelaskan tanda -
tanda bahaya dimana ibu hamil harus segera datang untuk mendapat
pertolongan dari tenaga kesehatan. Apabila ditemukan kelainan atau keadaan
tidak normal pada kunjungan antenatal, informasikan rencana tindak lanjut
termasuk perlunya rujukan untuk penanganan kasus, pemeriksaan
laboratorium/penunjang, USG, konsultasi atau perawatan, dan juga jadwal
kontrol berikutnya, apabila diharuskan datang lebih cepat.
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1) Aktifitas dan istirahat
Tekanan darah lebih rendah dari pada normal pada 8-12 minggu
pertama. Kembali pada tingkat normal pada separuh waktu kehamilan
akhir
Denyut nadi meningkat 10-15x/menit
Mur-mur sistolik pendek dapat terjadi sehubungan dengan
peningkatan volume darah
Varises pada ekstremitas bawah dan edema terutama pada trimester
III
Episode sinkope
2) Integritas Ego
Menunjukkan perubahan persepsi diri
Body image rendah
3) Eliminasi
Perubahan pada konsistensi dan frekuensi defekasi
Peningkatan frekuensi berkemih
Peningkatan berat jenis urin
Timbulnya hemoroid
4) Makanan dan Cairan
Mual, muntah terutama pada trimester I, nyeri uluh hati sering terjadi
Peningkatan berat badan 2-4 Kg pada trimester I, 11-12 Kg pada
trimester II &III
Membran mukosa kering, hipertropi jaringan, gusi mudah terjadi
perdarahan
Hb dan Ht rendah, mungkin di temui anemia fisiologis
Glukus dan edema
5) Nyeri dan Ketidaknyamanan
Kram kaki
Nyeri tekan dan bengkak pada payudara
Kontraksi brakson hicks setelah 28 minggu
Nyeri punggung
6) Pernafasan
Mukosa nampak lebih merah dari biasanya
Frekwensi pernafasan dapat meningkat relatif terhadap ukuran / tinggi
uterus
Pernafasan thorakal
7) Keamanan
Suhu tubuh 36 37C
DJJ terdengar pada usia kehamilan 17 20 minggu
Gerakan janin terasa pada usia kehamilan 20 minggu
Quickening pada usia kehamilan 16 20 minggu
Ballotement ada pada bulan ke 4 dan ke 5
8) Sexualitas
Berhentinya menstruasi
Perubahan respon / aktifitas seksual
Leukhorea
Peningkatan secara progresif ukuran uterus
Payudara membesar, hiperpigmentasi pada areola
Perubahan pigmentasi kloasma, lineanigra, palmaleritema,
spindernevi, strie gravidarum
Tanda-tanda hegar, chadwick positif
9) Interaksi sosial
Bingung atau meragukan perubahan peran yang diantisipasi
Tahap maturasi / perkembangan bervariasi dan dapat mundur dengan
stressor kehamilan
Respon anggota keluarga lain dapat bervariasi dari positif dan
mendukung sampai disfungsional
10) Penyuluhan/ Pembelajaran
Harapan individu terhadap kehamilan persalinan, melahirkan tergantung
pada usia, tingkat pengetahuan, pengalaman, paritas, keinginan terhadap
anak, dan keadaan ekonomi
11) Pemeriksaan Diagnostik
Darah : Hb, golongan darah, skrening HIV, hepatitis
Skrening untuk TBC paru, tuberubela
Tes serum HSG

B. ANALISA DATA
DATA ETIOLOGI MASALAH
DS : Perubahan fisiologis Mual
Mengatakan mual,
muntah, mengatakan Peningkatan HCG
tidak nafsu makan,
lemas dan pusing Mual muntah
DO :
Muntah, tampak Sulit makan / tidak nafsu makan
lemas, kulit pucat
Mual
DS : Kehamilan pertama Defisiensi
Mengatakan tidak Pengetahuan
tahu persiapan dan Perubahan fisiologis dan
hal yang harus psikologis kehamilan
diperhatikan ibu
hamil, mengatakan Kurang pajanan informasi
tidak mengetahui
pentingnya menjaga Tidak mengetahui hal-hal yang
tekanan darah, harus diperhatikan pada ibu
nutrisi dan aktivitas hamil
untuk ibu hamil
DO : Defisiensi Pengetahuan
Jarang periksa
kehamilan, tidak
mengetahui berat
badan dan tinggi
badan, tidak mampu
menyebutkan tanda
bahaya umum
kehamilan
DS : Kehamilan trimester ketiga Ansietas
Mengatakan takut
akan proses Mendekati persalinan
persalinan,
mengatakan tidak Cemas menghadapi proses
bisa tidur, sering persalinan
banyak pikiran
DO : Ansietas
Raut wajah tampak
khawatir, tampak
bingung, sulit
berkonsentrasi

C. PRIORITAS DIAGNOSA
1. Mual berhubungan dengan kehamilan ditandai dengan kurang nafsu
makan, melaporkan mual
2. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan
informasi ditandai dengan melaporkan adanya masalah tentang
pengetahuan tentang kehamilan
3. Ansietas berhubungan dengan status kesehatan (kehamilan), stress
ditandai dengan melaporkan kecemasan terhadap persalinan,
bingung

D. RENCANA KEPERAWATAN
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1 Mual Setelah dilakukan tindakan NIC : Fluid Management
keperawatan selama 1x15 menit, - Monitor status hidrasi
klien dapat mengatasi mual dengan (Kelembaban membran mukosa,
kriteria hasi : vital sign adekuat)
NOC : Comfort Level, Nutritional - Anjurkan untuk makan pelan-
Status pelan
- Klien dapat mengidentifikasi hal- - Jelaskan untuk menggunakan
hal yang mengurangi mual napas dalam untuk menekan
- Nutrisi klien dapat terjaga adekuat reflek mual
- Klien dapat melaporkan bebas dari - Batasi minum 1 jam sebelum, 1
mual jam sesudah dan selama makan
- Instruksikan untuk menghindari
bau makanan yang menyengat
2 Defisiensi Setelah dilakukan tindakan NIC :
Pengetahuan keperawatan selama 1 x 30 menit, - Kaji tingkat pengetahuan klien
klien dapat bertambah dan keluarga
pengetahuannya dengan kriteria hasil - Jelaskan perubahan pada
: kehamilan dan tanda bahaya
NOC : Knowledge : Health Behaviour umum
- Klien mampu mengenali - Gambarkan tanda dan gejala
perubahan pada saat kehamilan yang muncul terkait kehamilan
- Klien mampu melaksanakan - Identifikasi kemungkinan
prosedur yang dijelaskan secara penyebab
benar - Sediakan informasi pada klien
- Klien mampu menjelaskan kembali tentang kondisi dengan cara
apa yang dijelaskan perawat/tim yang tepat
kesehatan lain - Sediakan informasi bagi
keluarga tentang kemajuan klient
- Diskusikan pilihan terapi yang
tepat untuk klien
3 Ansietas Setelah dilakukan tindakan NIC : Anxiety Reduction
keperawatan selama 1x 30 menit, - Nyatakan dengan jelas harapan
klien dapat mengetahui cara terhadap perilaku klien
mengatasi kecemasan dengan kriteria - Jelaskan semua prosedur
hasil : menghadapi persalinan dan
NOC : Anxiety Control, Coping persiapan yang diperlukan
- Klien mampu mengidentifikasi dan - Berikan informasi factual
mengungkapkan gejala cemas mengenai tindakan
- Klien mampu mengungkapkan dan - Libatkan keluarga untuk
menunjukkan tehnik untuk mendampingi klien
mengontrol cemas - Bantu klien mengenal situasi
- Postur tubuh, ekspresi wajah, yang menimbulkan kecemasan
bahasa tubuh dan tingkat - Dorong klien untuk

aktivitas menunjukkan mengungkapkan perasaan,


ketakutan, persepsi
berkurangnya kecemasan
- Instruksikan untuk menggunakan
tehnik relaksasi

E. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI


NO Diagnosa Implementasi Evaluasi
Keperawatan
1 Mual - Mengkaji status hidrasi dan S:
melakukan pengukuran TTV - Klien mengatakan
(Kelembaban membran mukosa, memahami anjuran perawat
vital sign adekuat) - Klien mengatakan mampu
- Menganjurkan untuk makan untuk melakukan anjuran
pelan-pelan perawat
- Menjelaskan cara untuk O:
menggunakan napas dalam untuk - Klien mampu menjelaskan
menekan reflek mual kembali apa yang
- Menganjurkan klien untuk minum dijelaskan perawat
1 jam sebelum, 1 jam sesudah - TTV dalam batas normal,
dan selama makan kelembaban membrane
- Menginstruksikan untuk mukosa baik
menghindari bau makanan yang - Klien mampu melakukan
menyengat anjuran perawat
A:
Masalah teratasi
P:
Hentikan intervensi
2 Defisiensi - Mengkaji pengetahuan klien dan S :
Pengetahuan keluarga tentang kehamilan - Klien dan keluarga mampu
- Menjelaskan perubahan yang menjelaskan kembali
terjadi pada kehamilan dan tanda informasi yang diberikan
bahaya umum yang patut perawat
diwaspadai - Klien mengatakan
- Mengidentifikasi kemungkinan memahami perubahan yang
penyebab munculnya gejala- terjadi selama kehamilan
gejala saat kehamilan dan tanda bahaya umum
- Memberikan informasi bagi yang harus diwaspadai
keluarga tentang kemajuan klien - Klien mengatakan mampu
- Mendiskusikan pilihan terapi yang melaksanakan anjuran
tepat untuk klien dan perawat
menganjurkan untuk rutin O :
melakukan pemeriksaan pada - Klien mampu menjelaskan
pelayanan kesehatan kembali apa yang
dijelaskan perawat tentang
kehamilan dan tanda
bahaya umum
- Klien mampu ikut berdiskusi
tentang pilihan terapi yang
akan digunakan
- Klien mampu melakukan
anjuran perawat
A:
Masalah teratasi
P:
Hentikan intervensi
3 Ansietas - Menyatakan dengan jelas S :
harapan bahwa klien harus bisa - Klien mampu memahami
mengatasi kecemasan demi harapan perawat terhadap
kesehatan penanganan kecemasan
- Menjelaskan semua prosedur klien
menghadapi persalinan dan - Klien mengatakan
persiapan yang diperlukan memahami prosedur
- Melibatkan keluarga untuk persalinan dan persiapan
mendampingi klien yang harus dilakukan
- Membantu klien mengenal situasi - Klien mengatakan mampu
yang menimbulkan kecemasan memahami dan mengenal
seperti gejala-gejala pusing, situasi yang menimbulkan
kontraksi perut, nyeri dll kecemasan
- Mendorong klien untuk O :
mengungkapkan perasaan, - Klien mampu menjelaskan
ketakutan, persepsi kembali apa yang
- Menginstruksikan untuk dijelaskan perawat tentang
menggunakan tehnik relaksasi persalinan
- Klien mampu melakukan
tehnik relaksasi
A:
Masalah teratasi
P:
Hentikan intervensi
PATHWAY
REFERENSI
- http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31266/4/Chapter%20II.pdf
- Kemenkes. 2010. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu.
http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/wp-
content/uploads/downloads/2013/12/Pedoman-ANC-Terpadu.pdf