Anda di halaman 1dari 8

A.

Pengertian
Laparotomi adalah pembedahan yang dilakukan pada usus akibat terjadinya
perlekatan usus dan biasanya terjadi pada usus halus. (Mansjoer, 2010). Sedangkan
menurut Sjamsuhidayat (2003), laparatomi merupakan prosedur pembedahan yang
melibatkan suatu insisi pada dinding abdomen hingga ke cavitas abdomen.
Post operatif laparatomi merupakan tahapan setelah proses pembedahan pada
area abdomen (laparatomi) dilakukan. Tindakan post operatif dilakukan dalam 2
tahap yaitu periode pemulihan segera dan pemulihan berkelanjutan setelah fase
post operatif. Proses pemulihan tersebut membutuhkan perawatan post laparatomi.
Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang di berikan
kepada klien yang telah menjalani operasi pembedahan abdomen (Perry dan
Potter, 2005).

B. Etiologi
Etiologi sehingga dilakukan laparatomi adalah karena disebabkan oleh beberapa
hal (Smeltzer, 2010) yaitu:
1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam).
Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur yang
terletak diantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul atau
yang menusuk.
2. Peritonitis.
peritonitis adalah inflamasi peritoneum lapisan membrane serosa rongga
abdomen, yang diklasifikasikan atas primer, sekunder dan tersier. Peritonitis
primer dapat disebabkan oleh spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat
penyakit hepar kronis.Peritonitis sekunder disebabkan oleh perforasi
appendicitis, perforasi gaster dan penyakit ulkus duodenale, perforasi kolon
(paling sering kolon sigmoid), sementara proses pembedahan merupakan
penyebab peritonitis tersier.
3. Perdarahan saluran cerna.
4. Sumbatan pada usus halus dan usus besar.
5. Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya)
aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksiusus biasanya mengenai
kolon sebagai akibat karsinoma dan perkembangannya lambat.Sebagian dasar
dari obstruksi justru mengenaiusus halus. Obstruksi total usus halus merupakan
keadaan gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan
darurat bilapenderita ingin tetap hidup. Penyebabnya dapat berupa perlengketan
(lengkung usus menjadi melekat pada area yang sembuh secara lambatatau pada

1
jaringan parut setelah pembedahan abdomen), Intusepsi (salah satu bagian dari
usus menyusup kedalam bagian lain yang ada dibawahnya akibat penyempitan
lumen usus), volvulus (usus besar yang mempunyai mesocolon dapat terpuntir
sendiri dengan demikian menimbulkan penyumbatan dengan menutupnya
gelungan usus yang terjadi amat distensi), hernia (protrusi usus melalui area
yang lemahdalam usus atau dinding dan otot abdomen), dan tumor (tumor yang
ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor diluar usus
menyebabkan tekanan pada dinding usus).

C. Manifestasi Klinis
Manifestasi yang biasa timbul pada pasien post laparatomi ileus menurut
Dermawan, (2010) :
Nyeri kram pada perut yang terasa seperti gelombang dan bersifat kolik.
Pasien dapat mengeluarkan darah dan mucus, tetapi bukan materi fekal dan tidak
dapat flatus (sering muncul). Muntah mengakibatkan dehidrasi dan juga dapat
mengalami syok.
Konstipasi mengakibatkan peregangan pada abdomen dan nyeri tekan.
Kemudian anoreksia dan malaise menimbulkan demam dengan tanda terjadinya
takikardi. Pasien mengalami diaphoresis dan terlihat pucat, lesu, haus terus
menerus, tidak nyaman, dan mukosa mulut kering.
Selain itu tanda dan gejala yang timbul antara lain :
1. Nyeri tekan.
2. Perubahan tekanan darah, nadi, dan pernafasan.
3. Kelemahan.
4. Gangguan integumen dan jaringan subkutan.
5. Konstipasi.
6. Mual dan muntah, anoreksia

D. Patofisiologi
Trauma adalah cedera/rudapaksa atau kerugian psikologis atau emosional
(Dorland, 2011). Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis
akibat gangguan emosional yang hebat (Brooker, 2010).
Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang dewasa
kurang dari 44 tahun. Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi faktor
implikasi pada trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak
disengaja. Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen, dapat berupa trauma

2
tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer,
2010).
Trauma abdomen merupakan luka pada isi rongga perut dapat terjadi dengan
atau tanpa tembusnya dinding perut dimana pada penanganan/penatalaksanaan
lebih bersifat kedaruratan dapat pula dilakukan tindakan laparatomi.
Tusukan/tembakan, pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk
pengaman (set-belt) dapat mengakibatkan terjadinya trauma abdomen sehingga
harus di lakukan laparatomy (Muttaqin, 2014).
Trauma tumpul abdomen dapat mengakibatkan individu dapat kehilangan
darah, memar/jejas pada dinding perut, kerusakan organ-organ, nyeri, iritasi cairan
usus. Sedangkan trauma tembus abdomen dapat mengakibatkan hilangnya seluruh
atau sebagian fungsi organ, respon stres simpatis, perdarahan dan pembekuan
darah, kontaminasi bakteri, kematian sel. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi
organ dan respon stress dari saraf simpatis akan menyebabkan terjadinya kerusakan
integritas kulit, syok dan perdarahan, kerusakan pertukaran gas, resiko tinggi
terhadap infeksi, nyeri akut (Muttaqin, 2014).

E. Pathway
Terlampir

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan rektum : adanya darah menunjukkan kelainan pada usus besar;
kuldosentesi, kemungkinan adanya darah dalam lambung; dan kateterisasi,
adanya darah menunjukkan adanya lesi pada saluran kencing.
2. Laboratorium : hemoglobin, hematokrit, leukosit dan analisis urine.
3. Radiologik : bila diindikasikan untuk melakukan laparatomi.
4. IVP/sistogram : hanya dilakukan bila ada kecurigaan terhadap trauma saluran
kencing.
5. Parasentesis perut : tindakan ini dilakukan pada trauma tumpul perut yang
diragukan adanya kelainan dalam rongga perut atau trauma tumpul perut yang
disertai dengan trauma kepala yang berat, dilakukan dengan menggunakan
jarum pungsi no 18 atau 20 yang ditusukkan melalui dinding perut didaerah
kuadran bawah atau digaris tengah dibawah pusat dengan menggosokkan buli-
buli terlebih dahulu.
6. Lavase peritoneal : pungsi dan aspirasi/bilasan rongga perut dengan
memasukkan cairan garam fisiologis melalui kanula yang dimasukkan kedalam
rongga peritonium.

3
G. Komplikasi
Komplikasi laparotomi menurut Mansjoer, (2012) :
1. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis. Tromboplebitis
post operasi biasanya timbul 7-14 hari setelah operasi. Bahaya besar
tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah
vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak.
Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki, ambulasi dini post operasi.
2. Infeksi, infeksi luka sering muncul pada 36-46 jam pasca operasi. Organisme
yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilococus aurens, organisme
gram positif. Stapilococus mengakibatkan peranahan. Untuk menghindari
infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan
aseptik dan antiseptik.
3. Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.
4. Ventilasi paru tidak adekuat.
5. Gangguan kardiovaskuler: hipertensi, aritmia jantung.
6. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
7. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan.

H. Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah sesuatu bentuk pelayanan yang diberikan oleh
seseorang pasien dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari berupa bimbingan,
pengawasan, perlindungan (Brunner & suddarth, 2011).
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan proses pengumpulan data yang dilakukan secara
sistemik mengenai kesehatan. Pasien mengelompokkan data menganalisis data
tersebut sehingga dapat pengkajian adalah memberikan gambaran secara terus
menerus mengenai keadaan pasien .Adapun tujuan utama dari pada pengkajian
adalah memberikan gambaran secara terus-menerus mengenai keadaan pasien
yang mungkin perawat dapat merencanakan asuhan keperawatan (Muttaqin,
2014).
Pengkajian pada laparatomu meliputi identitas klien keluhan utama,
riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga,
riwayat penyakit psikososial.

4
Identitas klien : meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua),
jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan
MRS, nomor register, dan diagnosis medis.
2. Keluhan Utama
Sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah
nyeri pada abdomen.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Kapan nyeri pertama kali dirasakan dan apa tindakan yang telah diambil
sebelum akhirnya klien dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan
penanganan secara medis.
b. Riwayat kesehatan dahulu
Adanya riwayat penyakit terdahulu sehingga klien dirawat di rumah sakit.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Bisanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi,diabetes
melitus,atau adanya riwayat stroke dari generasi terdahulu.

d. Riwayat psikososial dan spiritual


Peranan pasien dalam keluarga status emosional meningkat, interaksi
meningkat, interaksi sosial terganggu, adanya rasa cemas yang berlebihan,
hubungan dengan tetangga tidak harmonis, status dalam pekerjaan. Dan
apakah klien rajin dalam melakukan ibadah sehari-hari.
4. Aktivitas sehari-hari (sebelum dan selama sakit)
a. Pola Nutrisi
b. Pola Eliminasi
c. Pola Personal Hygiene
d. Pola Istirahat dan Tidur
e. Pola Aktivitas dan Latihan
f. Seksualitas/reproduksi
g. Peran
h. Persepsi diri/konsep diri
i. Kognitif diri/konsep diri
j. Kognitif perseptual
5. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : Pasien pernah mengalami trauma kepala, adanya hematoma
atau riwayat operasi.
b. Mata : Penglihatan adanya kekaburan, akibat akibat adanya gangguan
nervus optikus (nervus II), gangguan dalam mengangkat bola mata
(nervus III), gangguan dalam memutar bola mata (nervus IV) dan
gangguan dalam menggerakkan boal mata kalateral (nervus VI).
c. Hidung : Adanya gangguan pada penciuman karna terganggu pada
nervus olfatorius (nervus I).
d. Mulut : Adanya gangguan pengecapan (lidah ) akibat kerusakan nervus

5
vagus adanya kesulitan dalam menelan.
e. Dada
Inspeksi : kesimetrisan bentuk, dan kembang kempih dada.
Palpasi : ada tidaknya nyeri tekan dan massa.
Perkusi : mendengar bunyi hasil perkusi.
Auskultasi : mengetahui suara nafas, cepat dan dalam.

f. Abdomen
Inspeksi : bentuk, ada tidaknya pembesaran.
Auskultasi : mendengar bising usus.
Perkusi : mendengar bunyi hasil perkusi.
Palpasi : ada tidaknya nyeri tekan pasca operasi.
g. Ekstremitas : Pengukuran otot menurut (Mutaqqin, 2014)
Nilai 0 : Bila tidak terlihat kontraksi sama sekali.
Nilai 1 : Bila terlihat kontraksi dan tetapi tidak ada gerakan pada
sendi.
Nilai 2 : Bila ada gerakan pada sendi tetapi tidak bisa melawan
grafitasi.
Nilai 3 : Bila dapat melawan grafitasi tetapi tidak dapat melawan
tekanan pemeriksaan.
Nilai 4 : Bila dapat melawan tahanan pemeriksaan tetapi kekuatanya
berkurang.
Nilai 5 : Bila dapat melawan tahanan pemeriksaan dengan kekuatan
penuh.

I. Diagnosa Keperawatan ( NANDA, 2016)


1. Nyeri akut berhubungan dengan dilakukannya tindakan insisi bedah.
NOC :
1. Pain level
2. Pain control
3. Comfort level
KH :
- Mampu mengontrol nyeri
- Melaporkan nyeri berkurang
- Mampu mengenali nyeri
- Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
NIC :
- Lakukan pengkajian nyeri
- Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
- Ajarkan tentang teknik non farmakologi
- Kolaborasi dengan dokter bila ada keluhan dan tindakan untuk nyeri tidak
berhasil.
2. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi.
NOC :
1. Immune Status
2. Knowledge : infection control
3. Risk control
KH :

6
- Kaji bebas dari tanda dan gejala infeksi
- Mampu mendeskripsikan proses penularan penyakit
- Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbuhnya infeksi
- Jumlah leukosit dalam batas normal
- Mampu menunjukkan pola hidup sehat
NIC :
- Monitor kerentanan terhadap infeksi
- Berikan perawatan kulit pada area epidema
- Ajarkan cara menghindari infeksi
- Laporkan kecurigaan infeksi
3. Kerusakkan mobilitas fisik b.d program pembatasan gerak
NOC :
1. Joint Movement : Active
2. Mobility Level
3. Self care : ADLs
4. Transfer Performance
KH :
- Aktivitas fisik klien meningkat
- Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas
- Memperagakan penggunaan alat bantu untuk mobilisasi
NIC :
- Monitir TTV dan kemampuan mobilisassi
- Latih pasien dalam pemenuhan ADL secara mandiri
- Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi
- Konsultasikan dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai kebutuhan
DAFTAR PUSTAKA

Brooker, Christine. (2010). Kamus Saku Keperawatan Ed.31. EGC : Jakarta.


Brunner and suddart. (2011). Textbook of Medical Surgical Nursing. Sixth Edition.
J.B. Lippincott Campany, Philadelpia.
Dermawan, D & Rahayuningsih, T. (2010). Keperawatan Medikal Bedah Sistem
Pencernaan. Jakarta : EGC.
Dorland, W. A. Newman. (2011). Kamus Kedokteran. EGC : Jakarta.
Mansjoer, Arif. (2012). Capita,Selekta Kedokteran. Bakarta : Media Aesculapius.
Muttaqin, Arif. (2014). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pencernaan. Jakarta: Salemba Medika
Nurarif, A & Kusuma, H. (2016). ASUHAN KEPERAWATAN PRAKTIS Berdasarkan
Penerapan Diagnosa Nanda, NIC, NOC dalam Berbagai Kasus.
Yogyakarta : Mediaction
Potter & Perry, (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Volume 2. Jakarta :
EGC.
Sjamsuhidrajat, R & De Jong, Wim. (2003). Buku Ajar-Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.

7
Smeltzer, Suzanne C. (2010). Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth
Ed.8 Vol.3. EGC : Jakarta