Anda di halaman 1dari 10

RESUME ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.

W DENGAN MENARIK
DIRI DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT JIWA
DAERAH DR. AMINO GONDHOHUTOMO SEMARANG

Disusun Oleh :
WILUJENG PRASASTI
G3A015106

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2016
RESUME ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. W DENGAN MENARIK
DIRI DI RUANGAN INSTALASI GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT
JIWA DAERAH DR. AMINO GONDHOHUTOMO SEMARANG

I. IDENTITAS KLIEN
Nama : Tn. W
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 42 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Tanggal pengkajian : 1 Juni 2016

II. IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB

Nama : Tn. M
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 21 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Hubungan dengan pasien: Adik Pasien

III. ALASAN MASUK


Klien datang ke ke RSJ Amino Gondohutomo dibawa oleh
adiknyanya karena sebelum masuk rumah sakit menurut adik pasien,
pasien menyendiri di kamar, tidak mau berbicara kepada anngota
keluarga jika tidak ditanya, tidak mau keluar rumah, sering berbicara
sendiri dan klien sering mendengar suara-suara bising selama 5 menit,
pasien sering mendengar suara tersebut saat sendirian, biasanya
pasein tidur saat mendengar suara tersebut. Pasien jarang mau makan,
biasanya makan hanya 1 kali sehari, lebih sering hanya ngopi dan
merokok saja

IV. FAKTOR PREDISPOSISI


1. Sebelumnya pasien pernah dirawat di RSJ Amino Gondohutomo
semarang kurang lebih 8 kali, terahir dirawat 3 minggu yang lalu.
2. Pasien pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang sebelum
mengalami gangguan jiwa, namun keluarga tidak tahu apa
jenisnya

V. FAKTOR PRESIPITASI
Faktor presipitasi tidak jelas, pasien mengatakan keadaan dirinya
baik-baik saja. Keluarga yang mengantar pasien mengatakan merasa
keadaan kakaknya bertambah parah karena sering ngomong sendiri
dan jarang mau makan. Adik pasien baru datang dari luar kota
sehingga tidak mengetahui secara detail keadaan pasien.

VI. PEMERIKSAAN FISIK


1. Tanda vital
a. Tekanan darah : 140/90 mmHg
b. Nadi : 88 x/menit
c. Suhu : 36,7 oC
d. Pernafasan : 20 x/menit

2. Antropometri
a. Tinggi badan : 162 cm
b. Berat badan : 46 kg
46
=17,5( Normal)
c. IMT : ( 1,62 )

3. Keluhan fisik
Klien tidak ada keluhan fisik

XII. ANALISA DATA

No Tanggal DATA MASALAH


1 1 Mei DS: Perubahan
2016 1. Keluarga pasien mengatakan persepsi
klien tidak mau berbicara kepada sensori :
anggota keluarga jika tidak halusinasi
ditanya. pendengaran
2. Adik pasien mengatakan pasien
jarang mau makan, biasanya
makan hanya 1 kali sehari, lebih
sering hanya ngopi dan merokok
saja

DO:
1. Klien tidak dapat
mempertahankan kontak mata.
2. Berbicara lambat.
3. Klien hanya mampu menjawab
sebagian pertanyaan yang
diajukan.

XIII POHON MASALAH

Perubahan persepsi sensori: halusinasi

Isolasi sosial : menarik diri core problem

Gangguan konsep diri : Harga diri rendah

XIV DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN

a. Isolasi sosial : menarik diri


XV. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Nama Klien : Tn. W

No Tanggal Diagnosa Perencanaan Intervensi Rasional


. Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi
1 30/05/2016 Perubahan SP 1 :
1. Mengidentifik 1. Klien dapat 1. Beri kesempatan Memberi
sensori
asi halusinasi mengungkapkan mengungkapkan kesempatan untuk
perseptual :
perasaannya perasaan. mengungkapkan
halusinasi
2. Klien dapat 2. Bantu klien
perasaan dapat
pendengaran
mengungkapkan mengungkapkan
a. membantu
perasaan perasaan
erubahan mengurangi stress
3. Dengarkan
penyebab
dan penyebab
ungkapan perasaan
halusinasinya
halusinasi.
klien dengan sikap
tenang.
1. Klien dapat
1. Tanyakan pada klien
melakukan cara
apakah ingin
berespon terhadap
halusinasinya. mempelajari cara baru
yang sehat?
2. berikan pujian jika klien
mengetahui cara baru
1. Upaya untuk
yang sehat
2. Mengajarkan
memutuskan
cara 3. diskusikan dengan klien
siklus
mengontrol cara lain yang sehat
halusinasi,
1. Klien dapat
halusinasi
sehingga
mendemonstrasika
halusinasi tidak
n cara mengontrol 1. Bantu klien untuk
berlanjut.
halusinasi denagn menstimulasikan cara
cara 1 (menghardik menghardik
2. Beri reinforcement
3. Melatih klien halusinasi)
1. Memberikan
positif atas keberhasilan
cara
klien menstimulasikan
mengontrol
Klien dapat cara tersebut
halusinasi alternative
mengidentifikasi
dengan cara 1 pilihan bagi
cara yang 1. Identifikasi bersama
(menghardik klien untuk
dilakukan bila klien cara tindakan
halusinasi) mengontrol
. mengalami yang dilakukan jika
halusinasi terjadi halusinasi halusinasi.

2. Diskusikan cara
untuk mengontrol
timbulnya
halusinansi.
XVI. IMPLEMENTASI
Tanggal Implementasi Evaluasi TTD
1-6-2016 SP 1: Halusinasi pendengaran S:
10.00
1. Membina hubungan saling - Klien mengatakan nama
Muawanah
percaya dengan saya Winarto, umur saya 42
menggunakan prinsip tahun,
- Pasien berkata saya sering
komunikasi terapeutik
mendengar suara-suara
dengan klien.
2. Mengidentifikasi jenis bising selama 5 menit,
halusinasi pasien pasien sering mendengar
3. Mengdentifikasi isi
suara tersebut saat sendirian,
halusinasi
biasanya pasien tidur saat
4. Mengidentifikasi waktu
mendengar suara tersebut.
halusinasi
5. Mengidentifikasi frekuensi
O:
halusinasi pasien
6. Mengidentifikasi respon - Klien sudah mampu
pasien terhadap halusinasi memepertahankan kontak
mata.
- Klien belum mampu
mengungkapkan
Rencana tindak lanjut : perasaannya.
- Nada bicara pelan dan
Delegasi klien pada
lambat
perawat poli rawat jalan.
- Pasien hanya menjawab
seperlunya
- Pasien tidak mau
menjawab hal yang
berkaitan dengan
halusinasinya

XVII. EVALUASI

Tgl. Diagnosa kep. Evaluasi Sumatif Paraf


1-6-2016 S:
10.00 - Klien mengatakan nama saya Winarto,
umur saya 42 tahun, Muawanah
- Pasien berkata saya sering mendengar
suara-suara bising selama 5 menit,
pasien sering mendengar suara tersebut
saat sendirian, biasanya pasien tidur saat
mendengar suara tersebut.

O:
- Klien sudah mampu
memepertahankan kontak mata.
- Klien belum mampu mengungkapkan
perasaannya.
- Nada bicara pelan dan lambat
- Pasien hanya menjawab seperlunya

A:
Halusinasi pendengaran (+)
Klien belum mampu mengidentifikasi
halusinasi yang dialaminya.

P : Motivasi klien mengidentifikasi halusinasi


Delegasikan pasien pada perawat di
poiklinik