Anda di halaman 1dari 9

Lubuk Larangan: Bentuk Perilaku Ekologis Masyarakat Lokal .................

(Nendah Kurniasari, Maharani Yulisti, Christina Yuliaty)

LUBUK LARANGAN: BENTUK PERILAKU EKOLOGIS MASYARAKAT


LOKAL DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA PERIKANAN
PERAIRAN UMUM DARATAN (TIPOLOGI SUNGAI)
Lubuk Larangan: Form of Ecological Behavior of Local Community
in The Inland Fisheries Resource Management (River Tipology)

Nendah Kurniasari, Maharani Yulisti dan Christina Yuliaty


Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS. Tubun Petamburan VI Jakarta 10260
Telp. (021) 53650162, Fax. (021)53650159
Email: nendahkurniasari@gmail.com
Diterima 3 Mei 2013 - Disetujui 22 Nopember 2013

ABSTRAK
Perilaku ekologis masyarakat di sekitar sungai merupakan sebuah modal mendasar bagi
keberlangsungan sumberdaya ikan di kawasan sungai tersebut. Oleh karenanya, makalah ini bertujuan
untuk menganalisis perilaku ekologis masyarakat lokal dalam memanfaatkan sumberdaya sungai.
Penelitian dilaksanakan pada tahun 2012 pada masyarakat Nagari Manggilang Kecamatan Pangkalan
Koto Baru Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat yang menetap di daetah aliran sungai Batang
Talagiri dan Batang Manggilang. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang
menginterpretasikan secara logic hubungan antara faktor-faktor pendorong, implementasi serta
implikasi perilaku ekologis tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perilaku ekologis masyarakat
Nagari Manggilang dalam memperlakukan sungai didukung oleh beberapa hal yaitu kondisi geografis,
pola kepemimpinan, hukum adat, dan sistem mata pencaharian masyarat. Keempat unsur ini turut
andil dalam melestarikan perilaku ekologis tersebut. Perilaku ekologis masyakat Manggilang yang
terwujud dalam lubuk larangan tidak hanya berimplikasi terhadap perilaku ekologi masyarakat secara
kolektif, juga merubah perilaku sosial ekonomi masyarakat ke arah yang lebih produktif dan memiliki
nilai moral yang tinggi.

Kata Kunci: perilaku ekologis, lubuk larangan, sungai

ABSTRACT
Ecological behavior is a potential capital of sustainable resources. This paper aims to study the
ecological behavior of local communities in the use of river resources. This study was conducted in
2012 at Nagari Manggilang, Pangkalan Koto Baru, Lima Puluh Kota District, West Sumatera with the
objects are the community who settled in the watershed of the Batang Talagiri river and Batang
Manggilang river. Data analysed by using descriptive qualitative that interpreted logically the relation
among the supportive factors, implementation factors, and the implication of the ecological behavior.
The results showed that the ecological behavior of Nagari Manggilang residents in treating the river
suppoerted by several elements: geography, leadership patterns, customary laws, and livelihood
systems. All of these elements contributed to preserve the ecological behavior. This ecological
behavior at Nagari Manggilang residents that materialized as Lubuk Larangan was not only
implicated to the ecological behavior of the society, but also changed the social behavior as well as
economic behavior towards a more productive society and higher morale values.

Keywords: ecological behavior, lubuk larangan, river

241
J. Sosek KP Vol. 8 No. 2 Tahun 2013

PENDAHULUAN lingkungan, dll. Selain itu political will yang bias


darat menyebabkan daerah aliran sungai tidak
Sumberdaya kelautan dan perikanan tidak menjadi prioritas pembangunan.
hanya mempunyai nilai ekonomi tapi termasuk
Berdasarkan hal tersebut, maka terlihat bahwa
didalamnya nilai ekologi dan nilai sosial. Ketiga
menurunnya kualitas sumberdaya sungai disebabkan
nilai ini saling terikat dan saling mempengaruhi
oleh perilaku masyarakat yang cenderung hanya
dan turut andil dalam menciptakan perilaku
mempertimbangkan kepentingan ekonomi terhadap
manusia terhadap sumberdaya kelautan dan
sungai tersebut. Padahal, selain homo economicus,
perikanan. Keberadaan sumberdaya sejatinya
perlu disadari bahwa manusia pun secara fitrahnya
memang diperuntukkan untuk memenuhi
merupakan homo socius dan homo ecologicus.
kebutuhan hidup manusia. Namun, insting
Perilaku yang mempertimbangkan keseimbangan
manusia yang cenderung mementingkan tujuan
antara pemenuhan kepentingan ekonomi, ekologi
dan keinginan sesaat sering melahirkan perilaku
dan sosial merupakan hal yang penting agar
yang lebih mementingkan nilai ekonomi ketimbang
nilai ekologi dan nilai sosialnya. Padahal, dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya tidak
jangka waktu panjang, hilangnya salah satu nilai hanya mampu mememuhi kebutuhan fisik, namun
tersebut akan mengurangi nilai-nilai yang lain. juga kebutuhan mental spiritual, baik untuk generasi
sekarang maupun generasi yang akan datang.
Kerusakan sumberdaya perikanan baik
sumberdaya perikanan pesisir maupun sungai salah
Masyarakat di daerah aliran sungai di
satunya diakibatkan oleh prilaku destruktif
Sumatera Barat mempunyai mekanisme pengelolaan
masyarakat baik dalam pemanfaat sumberdaya
sumberdaya sungai yang mempertimbangkan ketiga
tersebut. Perilaku destruktif ini ditunjang oleh
hal tersebut. Pada awalnya orientasi pengelolaan
semakin majunya peradaban manusia dalam
mengarah pada pelestarian sumberdaya hayati
menciptakan teknologi yang dibungkus dengan
sungai seperti perlindungan ikan dan ekosistem di
kampanye modernisasi. Hilangnya beberapa species
sekitar sungai. Sehingga, masyarakat digiring untuk
ikan di Sungai Brantas yang semula terdapat 17
berprilaku ekologis terhadap sungai. Dalam
species ikan air tawar pada tahun 2009 menjadi 11
perkembangannya, masyarakat tidak hanya
species di tahun 2011 diindikasikan disebabkan oleh
mendapatkan keuntungan ekologis berupa
menurunnya kualitas air sungai dan berkurangnya
bertambahnya populasi dan keragamanan ikan,
habitat ideal bagi ikan (Anonymous, 2011). Lebih
namun mereka pun mendapatkan mata pencaharian
lanjut sumber dari harian tersebut mengatakan
alternatif baru sebagai penyedia jasa pariwisata, dan
bahwa menurunnya kualitas air sungai menjadi
yang sangat penting adalah terjalinnya kohesifitas
penyebab utama berkurangnya jumlah habitat ideal
sosial yang semakin erat. Mekanisme pengelolaan
bagi ikan, selain rusaknya fisik sungai.
sungai tersebut dikenal dengan nama lubuk
Hal sama terjadi di Sungai Cisadane dan larangan.
Sungai Ciliwung, Hadiaty1 (2010) mengungkapkan
bahwa species ikan yang berada di DAS Ciliwung
Berdasarkan hal tersebut, penulisan
makalah ini bertujuan untuk menganalisis perilaku
dari hulu sampai hilir sudah mulai punah. Dari 187
ekologis masyarakat dalam mengelola dan
jumlah species yang tersisa kini hanya 15 species.
memanfaatkan sungai dalam kelembagaan Lubuk
Sedangkan di DAS Cisadane dari 135 jenis ikan
Larangan. Analisis tersebut terkait dengan
yang ada kini hanya tinggal 38 jenis saja.
mengapa masyarakat berperilaku ekologis,
Kondisi ini diakibatkan oleh perilaku implementasi perilaku ekologis, dan implikasi
masyarakat pemanfaat sungai baik di daerah perilaku ekologis terhadap kehidupan masyarakat.
aliran sungai maupun yang jauh dari daerah aliran Uraian ketiga sub bahasan tersebut diharapkan
sungai seperti aktifitas penambangan pasir, dapat menjadi bahan bagi upaya pemberdayaan
pembuangan limbah industri dan rumah tangga, masyarakat di sekitar daerah aliran sungai secara
penggunaan alat tangkap ikan yang tidak ramah berkelanjutan.

1
Peneliti LIPI, Disampaikan pada wartawan harian Pikiran Rakyat tanggal 13 Mei
2010, yang dimuat dalam http;//www.pikiran-rakyat.com

242
Lubuk Larangan: Bentuk Perilaku Ekologis Masyarakat Lokal ................. (Nendah Kurniasari, Maharani Yulisti, Christina Yuliaty)

METODOLOGI Lubuk larangan di Nagari Manggilang diberi


nama Manggilang Jaya Sakato sesuai dengan
Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei nama Kelompok Masyarakat Pengawasnya yaitu
2012 di Nagari Manggilang Kecamatan Pangkalan Pokmaswas Manggilang Jaya Sakato (Pokmaswas
Koto Baru Kabupaten Lima Puluh Koto Provinsi Manjato). Pokmaswas merupakan sebuah lembaga
Sumatera Barat. Data diambil melalui wawancara yang dibentuk untuk mengawasi jalannya lubuk
mendalam, observasi dan kaji literatur. larangan tersebut. Pembentukan lubuk larangan
Wawancara dilakukan terhadap informan yaitu melalui sebuah musyawarah warga yang terdiri dari
masyarakat umum, tokoh adat (ninik mamak), berbagai unsur masyarakat diantaranya adalah
tokoh pemuda, aparat pemerintahan Nagari tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, perwakilan
Manggilang, pengurus Pokmaswas Manggilang tiap jorong, aparat pemerintahan nagari, dan unsur
Jaya Sakato, dan aparat Dinas Kelautan dan masyarakat lainnya.
Perikanan Lima Puluh Kota. Sementara Observasi
Lubuk larangan dapat dikatakan sebagai
dilakukan terhadap lingkungan sekitar lubuk aktualisasi perilaku ekologis masyarakat Nagari
larangan baik lingkungan biotik maupun abiotik. Manggilang. Implementasi perilaku ekologis
Data yang terkumpul kemudian dianalisis tersebut dapat dilihat dari 4 hal yaitu 1).
menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang Kemampuan membagi wilayah pengelolaan
terdiri dari tiga tahapan yaitu reduksi data, display berdasarkan kepentingan ekologi, ekonomi dan
data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap sosial, 2). Kemampuan melakukan pengambilan
reduksi data, data yang terkumpul dipilih sesuai keputusan secara kolektif sehingga berimplikasi
dengan fokus kajian. Setelah itu dilakukan display pada aspek psikis masyarakat untuk memiliki
data, yaitu mengelompokkan data berdasarkan bersama dan mentaati setiap keputusan bersama,
sub-sub pembahasan yang kemudian disusun 3). Kemampuan membangun mekanisme
secara sistematis dan ditampilkan dalam sebuah penegakkan hukum yang efektif meminimalisir
matriks. Penampilan dalam sebuah matriks akan pelanggaran dan meredam konflik secara damai,
memudahkan untuk melihat hubungan antar sub dan 4). Kemampuan melakukan sosialisasi
pembahasan untuk kemudian ditarik sebuah dengan baik sehingga tidak hanya masyarakat
kesimpulan. Nagari Manggilang yang mengetahui peraturan
lubuk larangan, namun masyarakat di luar nagari
pun mengetahui, menghargai dan ikut mentaati
Perilaku Ekologis Masyarakat Manggilang
kesepakatan lokal tersebut.
dalam Sistem Lubuk Larangan
Zona ekologi, ekonomi dan sosial pada Lubuk
Perilaku dalam Kamus Besar Bahasa
Larangan
Indonesia diartikan sebagai tanggapan atau reaksi
individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Zonasi sungai yang masuk dalam lubuk
Perilaku ekologis adalah sebuah konsep yang berisi larangan Manggilang Jaya Sakato di Nagari
seperangkat nilai, norma, simbol, pengetahuan, Manggilang memang belum memiliki batas-batas
pengalaman, aksi dan makna-makna yang kemudian formal berupa keterangan tertulis di wilayah lubuk
membentuk tindakan manusia secara dinamis larangan, namun batas-batas alam sudah ditentukan
terhadap lingkungan fisik atau alam yang ada
dalam musyawarah warga dan tersosialisasi dengan
disekitarnya. Sementara itu, kata Lubuk
baik sehingga masyarakat Nagari Manggilang dan
Larangansecara terminologi berasal dari dua kata
masyarakat Nagari di sekitarnya sudah mengetahui
yaitu lubuk dan larangan. Lubuk mempunyai arti
dengan baik. Zonasi tersebut terbagi menjadi zona
bagian yang dalam di sungai, sedangkan larangan
inti, zona penyangga dan zona pemanfaatan.
adalah aturan yang melarang suatu perbuatan. Jadi,
lubuk larangan adalah suatu kawasan yang berada Pembagian zonasi pada lubuk larangan
di daerah aliran sungai yang dikelola oleh Manggilang tidak semata-mata hanya
masyarakat melalui berbagai aturan baik formal memperhatikan nilai ekologi dari sumberdaya
maupun nonformal. Belum ada informasi yang valid sungai tapi juga nilai ekonomi dan nilai sosialnya.
kapan lubuk larangan mulai dilakukan oleh Zona inti yang mempunyai luas wilayah sekitar
masyarakat namun saat ini tercatat terdapat ..... 6.000 m2 merupakan zona yang lebih banyak
buah lubuk larangan di Kabupaten Lima Puluh berfungsi sebagai zona ekologi karena zona ini
Kota.

243
J. Sosek KP Vol. 8 No. 2 Tahun 2013

merupakan zona konservasi (perlindungan dan kepentingan masyarakat untuk memanfaatkan


pelestarian sumberdaya) yang diperuntukkan bagi sumberdaya sungai jika sewaktu-waktu mereka
perkembangbiakan ikan dan tidak boleh diganggu/ membutuhkannya.
dimanfaatkan selama dalam masa pengelolaan
lubuk larangan. Sementara Zona penyangga yang Terbaginya sungai menjadi zona inti, zona
penyangga dan zona pemanfaatan sesuai dengan
mempunyai luas wilayah kurang lebih 4.500 m2
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang
merupakan zona pembatas antara zona inti dan
Konservasi Sumberdaya Ikan. Berdasarkan PP
pemanfaatan lebih ditujukan untuk memenuhi nilai
tersebut, lubuk larangan termasuk salah satu
ekonomi dan nilai sosial. Pada zona ini
kawasan konservasi sumberdaya ikan yaitu upaya
diberlakukan buka tutup lubuk dengan aturan
perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan
yang disepakati bersama.
sumberdaya ikan, termasuk ekosistem, jenis dan
Nilai sosial tercermin jelas dalam mekanisme genetik untuk menjamin keberadaan, ketersediaan
pengelolaan zona penyangga terutama ketika dan kesinambungannya dengan tetap memelihara
pelaksanaan buka lubuk. Mulai dari proses dan meningkatkan kualitas nilai dan
perencanaan, pelaksanaan, dan penutupan sarat keanekaragaman sumberdaya ikan. Jadi, perilaku
akan semangat kebersamaan dengan menjunjung ekologis masyarakat Manggilang dalam mengelola
tinggi nilai-nilai solidaritas. Begitupun dalam sungai tidak hanya dilindungi oleh aturan adat dan
penggunaan uang hasil pembukaan lubuk, Keputusan Wali Nagari, namun dilindungi pula oleh
diperuntukkan bagi pembangunan fasilitas-fasilitas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia yang
sosial seperti masjid dan infrastruktur lainnya dan merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 31
kegiatan-kegiatan sosial budaya misalnya Tahun 2004.
penyelenggaraan acara adat perayaan idul fitri.
Pengambilan Keputusan dalam Pelaksanaan
Zona pemanfaatan mempunyai luas wilayah
Lubuk Larangan
40.500 m2, mulai dari batas zona penyangga yaitu
Muara Asahan sampai dengan pelompatan beruk di Selain mampu membuat zonasi atas
Batang Talagiri. Pada zona ini masyarakat dapat pelaksanaan perilaku ekologisnya dengan sangat
memanfaatkan sumberdaya sungai kapan saja baik, masyarakat manggilang pun mampu
namun dengan peralatan dan tatacara yang telah
membuat mekanisme pengambilan keputusan
disepakati bersama. Pada zona ini mengakomodir

Gambar 1. Zonasi Lubuk Larangan Manggilang Jaya Sakato di Nagari Manggilang, Sumatera Barat.
Figure 1. Zoning of Lubuk Larangan Manggilang Jaya Sakatoin Nagari Manggilang, West Sumatra.
Sumber: Kurniasari et al., 2012

244
Lubuk Larangan: Bentuk Perilaku Ekologis Masyarakat Lokal ................. (Nendah Kurniasari, Maharani Yulisti, Christina Yuliaty)

secara kolektif berdasarkan prinsip partisipatif dan mekanisme yang telah diatur oleh panitia,
representatif. Pengambilan keputusan ini terkait sementara diluar masa itu tidak ada yang boleh
dengan mekanisme pengelolaan, mekanisme mengambilnya. Pada zona inti semua warga tidak
penegakkan aturan dan penentuan sanksi atas boleh memanfaatkan sumberdaya wilayah
setiap pelanggaran yang terjadi. Keputusan kolektif tersebut baik itu berupa ikan maupun biota
yang pada dasarnya merupakan kesepakatan lokal lainnya. Zona inti benar-benar diperuntukan
ini merupakan pedoman dan payung hukum informal sebagai wilayah konservasi.
bagi perilaku ekologis masyarakat Manggilang.
Hak pengelolaan lubuk larangan diserahkan
Keputusan bersama dalam hal pengelolaan kepada Pokmaswas yang beranggotakan setiap
lubuk terkait dengan waktu buka tutup lubuk, unsur masyarakat yaitu perwakilan dari nagari,
aturan dalam buka tutup lubuk, distribusi hak, dan para ninik mamak dari setiap suku, Bundo
mekanisme pengawasan dan pemberian sanksi. Kanduang, tokoh agama dan tokoh pemuda.
Waktu buka tutup ditentukan yaitu pada saat Pengelolaan ini diantaranya terkait dengan
menjelang Bulan Ramadhan. Sedangkan alat penentuan dan mekanisme buka tutup lubuk,
tangkap yang diijinkan adalah serok, pancing dan penetapan jenis sanksi atas setiap pelanggaran,
jala. Semua jenis ikan boleh diambil sepanjang serta berbagai kebijakan sesuai dengan
ikan tersebut ada di zona penyangga dan zona kebutuhan dalam rangka mengembangkan lubuk
pemanfaatan. Dengan dibatasinya jenis alat agar lebih bermanfaat bagi masyarakat.
tangkap maka diharapkan ikan-ikan kecil tidak ikut
terjaring. Peserta buka lubuk tidak hanya
Mekanisme Penegakkan Aturan dalam
masyarakat lokal, masyarakat dari nagari tetangga
pun dapat berpartisipasi. Hasil panen Lubuk Larangan
dimanfaatkan untuk pembangunan nagari seperti
perbaikan jalan, mesjid dan mushala, kegiatan Mekanisme pengambilan keputusan sangat
sosial, pendidikan, kegiatan pemuda dan berpengaruh terhadap keberlanjutan norma yang
pembelian benih ikan untuk restocking. berlaku di dalam masyarakat. Begitupun norma-
norma yang berkaitan dengan pengelolaan lubuk
Mekanisme pengambilan keputusan secara larangan. Norma adalah aturan-aturan yang berisi
kolektif pun dilakukan untuk menentukan distribusi petunjuk tingkah laku yang harus atau tidak boleh
hak pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya dilakukan manusia dan bersifat mengikat. Jadi
sungai. Distribusi hak tersebut terkait dengan hak perilaku ekologis masyarakat manggilang
mengakses, hak memanfaatkan, hak mengelola, dan bukanlah perilaku yang bersifat individual, namun
hak memindahtangankan (Ostrom, 1990). Setiap perilaku yang bersifat massal atau kolektif. Dalam
orang, baik masyarakat Nagari Manggilang maupun ilmu psikologi sosial yang dilihat dari sudut
masyarakat di luar nagari berhak mengkses pandang sosiologi, perilaku masyarakat bukanlah
sumberdaya sungai untuk berbagai kepentingan merupakan hasil atau agregat dari perilaku-
misalnya melintas dengan menggunakan perahu perilaku individu, tapi perilaku individu dibentuk
atau pun berenang sepanjang sungai tersebut, karena adanya norma-norma yang mengikat
asalkan tidak mengambil ikan ataupun biota laut di setiap individu untuk melakukan dan mentaati
dalamnya. Selama ini petani karet sering melintasi setiap norma yang disepakati bersama sehingga
sungai ketika mengangkut hasil panennya atau pun membentuk perilaku masyarakat.
menggunakan air sungai untuk merendam karet
Terdapat dua jenis aturan, pertama aturan
tersebut.
yang tersurat yaitu aturan yang tertuang di dalam
Sementara hak pemanfaatan sumberdaya Keputusan Wali Nagari Manggilang No. 05 tahun
sungai didasarkan pada zonasi yang telah dibuat. 2006 tanggal 28 Juli 2006. Peraturan yang tersurat
Pada zona pemanfaatan setiap warga Nagari diataranya adalah jenis sanksi yang harus dikenakan
Manggilang bisa mengambil ikan setiap saat, jika terdapat pelanggaran yaitu adanya sanksi
sementara masyarakat diluar nagari manggilang material dan sanksi sosial. Sanksi material berupa
hanya diberi hak mengakses tanpa hak kewajiban memberikan semen sepuluh sak untuk
memanfatkan. Pada zona penyangga, semua setiap kilogram ikan yang diambil pada zona inti,
masyarakat baik waraa nagari maupun diluar sementara bila pelanggaran terjadi di zona
warga nagari diberi kesempatan untuk mengambil penyangga maka pelanggar dikenakan denda tiga
sumberdaya ikan pada masa buka lubuk dengan sak semen. Kedua adalah perturan yang

245
J. Sosek KP Vol. 8 No. 2 Tahun 2013

tersirat, artinya perturan yang tidak tertulis dalam Faktor Yang Mendukung Perilaku Ekologis
Keputusan Wali Nagari namun berlaku di dalam dalam Sistem Lubuk Larangan
masyarakat. Salah satu contoh perturan yang
tersirat tersebut adalah saksi yang dikenakan Sebagai sebuah respon dari situasi di luar
kepada tokoh masyarakat yang melakukan subjek tertentu, perilaku ekologis sebuah masyarakat
pelanggaran adalah sebesar dua kali lipat dari dipengaruhi oleh situasi-situasi lingkungan di
sanksi yang dikenakan kepada masyarakat sekitanya. Oleh karenanya, mempelajari setting
umum. Jadi jika ada tokoh masyarakat baik itu lingkungan merupakan hal mendasar dalam
aparat pemerintahan nagari, maupun tokoh adat mempelajari kenapa suatu masyarakat mempunyai
yang melakukan pelanggaran maka dikenakan perilaku yang khas dalam memperlakukan alam.
sanksi duapuluh sak semen untuk pelanggaran di Salah satu aspek lingkungan yang berpengaruh
zona inti dan enam sak semen untuk pelanggaran adalah kondisi geografis. Kurnisari dan Reswati
yang dilakukan di zona penyangga. (2011) mengatakan bahwa setting geografis
lingkungan akan memberi kesempatan mayarakat
Perbedaan jenis sanksi kepada pelanggar
penghuninya untuk membuat peradaban guna
yang berasal dari kalangan masyarakat umum
memenuhi kebutuhan dan upaya mempertahankan
dengan pelanggar yang berasal dari pemuka
diri. Veitch dan Arkkelin dalam literatur yang sama
masyarakat pada pelaksanaan lubuk larangan di
mengatakan bahwa dengan mengetahui setting
lubuk larangan Manggilang Jaya Sakato
tempat maka dapat diprediksi perilaku atau aktivitas
merupakan hal yang menarik dan tidak ditemukan
yang terjadi. Setting lingkungan yang spesifik akan
di lubuk larangan yang lain. Hal ini menunjukkan
menyebabkan perbedaan pengetahuan seseorang
bahwa masyarakat Nagari Manggilang masih
dalam memaknai pengaruh lingkungan terhadap
menekankan bahwa moralitas merupakan
kehidupannya. Sementara itu, Winangun (2009)
prasyarat bagi setiap pemimpin. Bagi mereka, nilai
mengemukakan bahwa dengan pengetahuan
moralitas pemimpin merupakan landasan perilaku
manusia mengenali peristiwa dan permasalahan,
kolektif masyarakat, karena pemimpin atau tokoh
menganalisa, mengurai, mengadakan interpretasi
masyarakat merupakan panutan yang akan ditiru
dan menentukan pilihan-pilihan. Begitu pun dalam
oleh masyarakatnya. Penetapan sanksi dilakukan
fenomena lubuk larangan, seting geografis nagari
oleh dewan adat yang terdiri dari unsur Kerapatan
memegang peranan penting dalam membentuk
Adat Nagari (KAN), Wali Nagari, Bamus, Pemuda,
pengetahuan masyarakat untuk kemudian bertindak.
Tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Penegakan sanksi tersebut sangat ketat
Nagari Manggilang adalah sebuah desa
diawasi dan ditegakkan baik oleh pemerintahan
yang terletak di dataran tinggi Kabupaten Lima
nagari maupun lembaga adatnya. Jika si pelanggar
Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat. Wilayah ini
belum melunasi sanksi yang dikenakan padanya
dialiri oleh sungai besar yaitu Batang2 Talagiri dan
maka pelanggar tersebut masih mempnyai utang
Batang Manggilang. Keterikatan masyarakat
adat dan akan dikenakan sanksi sosial berupa
Manggilang terhadap sungai terlihat dari intensitas
pengucilan dari masyarakat diantaranya adalah tidak
kegiatan mereka yang berhubungan dengan
dilibatkannya dalam acara-acara adat contohnya
sungai. Mata pencaharian utama masyarakatnya
ketika ada kerabat yang akan melaksanakan kenduri
adalah bertani dan berladang, dengan komoditas
maka ia tidak akan diundang. Dalam hal
unggulannya adalah karet dan pinang. Umumnya
pemerintahan nagari, pelanggar yang masih
kebun karet dan pinang terdapat di pegunungan,
mempunyai utang adat tidak akan dilayani
dan mereka memanfaatkan sungai untuk
kepentingannya terkait administrasi kependudukan di
membawa hasil panennya ke pasar yang ada di
kenagarian misalnya tidak akan dibuatkan KTP atau
wilayah yang lebih rendah.
surat ijin lainnya.

2
Batang adalah istilah lokal untuk sungai , batang talagiri berarti sungai yang bernama talagiri

246
Lubuk Larangan: Bentuk Perilaku Ekologis Masyarakat Lokal ................. (Nendah Kurniasari, Maharani Yulisti, Christina Yuliaty)

Sungai bagi masyarakat Manggilang tidak Masyarakat Nagari Manggilang merupakan


hanya sebagai sarana transportasi yang masyarakat adat. Masyarakat adat menurut
menunjang perekonomian mereka, namun Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan
sungaipun merupakan tempat kegiatan sosial. Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 1999,
Bagi sebagian masyarakat, sungai digunakan adalah sekelompok orang yang terikat oleh
untuk keperluan mandi dan mencuci, sehingga tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama
sungai pun merupakan tempat kegiatan sosial suatu persekutuan hukum karena kesamaan
dimana anggota masyarakat terutama ibu-ibu tempat tinggal atau pun atas dasar keturunan.
saling berinteraksi dan anak-anak bermain dan Sementara Tania dalam Syahyuti (2012) lebih
berenang sambil tertawa riang. Mulyadi (2005) spesifik mendefinisikan masyarakat adat dilihat
menyimpulkan risetnya tentang kehidupan dari aspek aksesibilitasnya terhadap sumberdaya.
masyarakat yang hidup bersama dengan sungai di Menurutnya, masyarakat adat adalah orang yang
Riau bahwa terikatnya kehidupan masyarakat hidupnya tergantung pada sumber daya alam dan
terhadap sungai telah membentuk budaya akses tersebut diperoleh secara adat atau
sungai. Hal ini dibuktikan pula oleh fakta sosial kebiasaan. Dalam arti lain, masyarakat
yang terjadi pada masyarakat Manggilang seperti menentukan distribusi hak dalam pemanfaatan
diuraikan di atas. Budaya sungai Masyarakat sumberdaya berdasarkan mekanisme adat yang
Manggilang semakin terlembaga dengan baik dianutnya, bukan berdasarkan peraturan formal
semenjak dijadikannya wilayah sungai sebagai yang dibuat oleh pemerintah.
Lubuk larangan. Jadi, Lubuk larangan bisa
Besarnya peran adat dalam kehidupan
dikatakan sebagai salah satu contoh budaya
masyarakat Manggilang merupakan indikasi bahwa
sungai yang ada pada masyarakat Indonesia yang
kepimpinan yang dianut adalah kepemimpinan
hidup di daerah aliran sungai.
tradisional. Meskipun kepemimpinan rasional-legal
Selain dipengaruhi oleh kondisi geografis, tetap ada dalam mengatur pengadministrasian
perilaku masyarakat dipengaruhi pula oleh latar pemerintahan nagari Manggilang, namun secara
belakang adat istiadat masyarakat tersebut. faktual kepemimpinan

Gambar 2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Ekologis Masyarakat Nagari Manggilang,


Sumatera Barat.
Figure 2. Factors That Influence the Ecological Behavior of Nagari Manggilang Society, West
Sumatra.
Sumber: Data Primer Diolah, 2012

247
J. Sosek KP Vol. 8 No. 2 Tahun 2013

tradisionallah yang dominan mengatur sistem sosial Jika dilihat dari sejarahnya, Inisiasi
kemasyarakatan, sementara pemerintahan Nagari pembentukan lubuk larangan dilatarbelakangi oleh
mengatur masalah administrasi pemerintahan. fakta yang dirasakan oleh sejumlah warga bahwa
Kepemimpinan tradisional adalah orde sosial yang kondisi sungai semakin buruk dari tahun ke tahun
bersandar kepada kebiasaan-kebiasaan kuno yang baik kualitas airnya, maupun jenis ikan yang terdapat
mana status dan hak-hak pemimpin juga sangat di perairan tersebut misalnya ikan kapiyek (puntius
ditentukan oleh adat kebiasaan (Fatimah, 2011). schwanefeldi) dan ikan garing (tor tambroides) yang
Kerukunan masyarakat Manggilang tidak terlepas dulu banyak semakin berkurang. Pembentukan lubuk
dari peran ketua suku yang disebut ninik mamak. larangan pun tidak terlepas dari karakter masyarakat
Kepatuhan masyarakat terhadap ninik mamak, Manggilang yang terbuka terhadap hal-hal yang
menjadikan ninik mamak sebagai tokoh sentral bersifat positif. Menurut pengakuan salah satu tokoh
dalam membentuk perilaku kolektif termasuk perilaku masyarakat bahwa mereka mengadakan lubuk
ekologis masyarakat dalam memanfaatkan sungai. larangan ini setelah salah seorang tokoh masyarakat
Pada awal pendiriannya terdapat beberapa warga melihat keberhasilan lubuk larangan yang ada di
yang tidak setuju dengan kegiatan lubuk larangan Pasaman. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi
karena mereka berpendapat bahwa sungai milik difusi kebudayaan dari Pasaman ke Manggilang.
umum sehingga siapa pun dapat memanfaatkannya Difusi kebudayaan ini terjadi karena adanya kontak
tanpa ditetapkan aturan yang mengikat. Namun, atau komunikasi antara pemuka masyarakat
tokoh adat kemudian terus mengadakan sosialisasi manggilang dengan pemuka masyarakat di
akan pentingnya keberadaan lubuk larangan, Pasaman. Difusi budaya sungai dalam hal ini
sehingga masyarakat kemudian menyadari dan adalah lubuk larangan- ini menjadi efektif
berperan serta dalam pengelolaan lubuk larangan berkembang di Manggilang karena pengaruh status
(Kurniasari et al, 2012). inovator atau pembawa inovasi yaitu sebagai
pemuka masyarakat. Tipe masyarakat Manggilang
Terkait dengan perilaku ekologis masyarakat
yang patuh terhadap pemimpinnya terutama
yang tercermin dalam kelembagaan lubuk larangan,
pemimpin suku menyebabkan ide pendirian lubuk
terbaginya masyarakat kedalam suku-suku
larangan mendapat sambutan masyarakat dan
menjadikan pembinaan dan pengawasan menjadi
berkembang dengan baik.
lebih efektif. Ditinjau dari aspek psikologi, Sarwono
(2005) mengatakan bahwa dalam kelompok yang
lebih kecil setiap individu lebih bertanggungjawab, Tidak hanya respon positif yang diberikan oleh
lebih efektif, dan lebih terikat pada kelompok, dan masyarakat, pemerintah nagari pun menyambut baik
cenderung untuk tidak mengambil lebih dari apa dengan mengeluarkan Keputusan Wali Nagari
yang diperlukan. Anggota suku cenderung akan Manggilang No 5 Tahun 2006 sebagai payung
mematuhi kesepakatan-kesepakatan kelompoknya, hukum pelaksanaan lubuk larangan di Manggilang.
dan Ninik mamak dapat secara efektif membentuk Hal ini sejalan dengan konsep yang diusung oleh
perilaku masyarakat dan mengawasi perilaku Poerwanto (2000) bahwa dalam difusi kebudayaan
anggotanya termasuk pelanggaran-pelanggaran dipengaruhi oleh peranan suatu kekuatan (power)
terhadap kesepakatan-kesepakatan dalam dan aspek psikologis.
pengelolaan lubuk larangan.
Implikasi Perilaku Ekologis
Kondisi lain yang mendukung
terpeliharanya perilaku ekologis masyarakat Lubuk larangan yang merupakan salah
Manggilang terhadap sungai adalah sistem mata satu wujud perilaku ekologis masyarakat
pencaharian masyarakat yang tidak Manggilang, tidak hanya membawa implikasi pada
mengandalkan sumberdaya sungai. Oleh
berubahnya perilaku ekologi namun berkontribusi
karenanya mereka tidak mengeksplorasi
pula dalam mempertahankan perilaku sosial dan
sumberdaya sungai untuk memenuhi kebutuhan
hidup sehari-hari. Mereka umumnya merupakan membangun perilaku ekonomi ke arah yang lebih
petani yang memiliki areal pertanian di wilayah produkstif. Implikasi terhadap perilaku ekologis
pegunungan. Mereka menjadikan sungai sebagai yang dibawa oleh pelaksanaan lubuk larangan
sarana penunjang aktivitas ekonomi yang mereka adalah berubahnya pemanfaatan sungai yang
jalankan yaitu sebagai sarana transportasi untuk semula untuk kegiatan MCK (mandi cuci kakus)
mengangkut hasil panen dari kebun ke pasar.
sekarang kegiatan tersebut berangsur-angsur

248
Lubuk Larangan: Bentuk Perilaku Ekologis Masyarakat Lokal ................. (Nendah Kurniasari, Maharani Yulisti, Christina Yuliaty)

menghilang. Saat ini sebagian besar masyarakat Perubahan ini mengarah pada perubahan perilaku
sudah mempunyai tempat MCK di rumah. Hal ini yang lebih membawa nilai positif yaitu lebih
selain disebabkan oleh kesadaran mereka bahwa bermoral dan lebih produktif.
limbah kegiatan MCK akan mencemari sungai dan
semakin bertambahnya jumlah ikan buntal yang DAFTAR PUSTAKA
dapat melukai mereka saat melakukan aktivitas
Anonymous. 2011. 6 Species Ikan di Sungai
MCK di sungai. Brantas Hilang. http://regional.kompas.
Implikasi terhadap perilaku sosial, com/read/2011/07/18/21395570/6. Diakses
Tanggal 16 Oktober 2013.
diantaranya adalah berubahnya perilaku muda-
mudi dalam menyambut bulan Ramadhan. Fatimah, S. 2011. Kepemimpinan Tradisional
Sebelum diadakan lubuk, banyak kaum muda Masyarakat Minangkabau pada Masa
yang menyambut bulan Ramadhan dengan pendudukan Jepang. Jurnal Tingkap. Vol
melakukan kegiatan yang dianggap tidak elok VII (1): 75 88.
dipandang misalnya berkumpul mengadakan
Kurniasari, N dan E. Reswati. 2011. Kearifan
pesta atau bahkan berduaan dengan pasangan Lokal Masyarakat Lamalera: Sebuah
yang dianggap tidak sesuai dengan tradisi nenek Ekspresi Hubungan Manusia Dengan Laut.
moyang mereka. Setelah adanya lubuk yang Buletin Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan
dibuka menjelang bulan puasa, maka perilaku Perikanan. Vol 6 (2): 29 33.
muda-mudi ini berubah karena mereka akan turut
melakukan pembukaan lubuk dan bersuka ria Kurniasari, N., M. Yulisti, dan C. Yuliaty. 2012.
Lubuk dan Kearifan Lokal Masyarakat Adat.
bersama dengan seluruh warga. Hal ini pun turut
Badan Penelitian dan Pengembangan
merekatkan hubungan sosial diantara mereka.
Kelautan dan Perikanan dan Indonesian -
Kaitannya dengan perilaku ekonomi, Marine and Fisheries Socio-Economics
masyarakat ditantang untuk meningkatkan Research Network. Jakarta.
kreatifitasnya terhadap potensi ekonomi yang Mulyadi, A. 2005. Hidup Bersama Sungai. Unri
dapat diambil dari adanya lubuk larangan ini. Press. Pekanbaru.
Masyarakat yang semula hanya menggatungkan
hidupnya dari produksi pertanian yaitu karet dan Ostrom, E. 1990. Governing The Commons: The
gambir, dengan adanya lubuk larangan bisa evolution of institutions for collective action.
memanfaatkan waktu luang mereka sebelum Cambridge University Press.
panen dengan menyediakan layanan jasa Poerwanto, H. 2000. Kebudayaan dan Lingkungan
pariwisata di sekitar lubuk larangan sehingga lebih Dalam Perspektif Antropologi. Pustaka
produktif. Kegiatan ekonomi yang dapat mereka Pelajar. Yogyakarta.
lakukan adalah penyewaan ban untuk berenang
dan membuka warung-warung yang menyediakan Republik Indonesia. 1999. Peraturan Menteri
Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan
makanan dan minuman ringan bagi pengunjung
Nasional Nomor 5 Tahun 1999 Tentang
lubuk. Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat
Masyarakat. Badan Pertanahan Nasional.
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Jakarta.

Perilaku ekologis masyarakat Nagari Sahyuti. 2012. Ciri-ciri Masyarakat Adat. http://
Manggilang dalam memperlakukan sungai didukung syahyutivariabel.blogspot.com/2012/07/ ciri-
oleh beberapa hal diantaranya adalah kondisi
ciri-masyarakat-adat.html. Diakses tanggal
27 Desember 2012.
geografis, pola kepemimpinan, hukum adat, dan
sistem mata pencaharian manyarakat. Keempat Sarwono, S.W. 2005. Psikologi Sosial: Psikologi
unsur ini turut andil dalam melestarikan perilaku Kelompok dan Psikologi Terapan. Balai
ekologis tersebut. Perilaku ekologis masyakat Pustaka. Jakarta.
Manggilang yang terwujud dalam lubuk larangan
Winangun, J. 2009. Perilaku Masyarakat Dalam
tidak hanya berimplikasi terhadap perilaku ekologi Motif Pemanfaatan Lahan Di Sekitar Jalan
masyarakat secara kolektif, tetapi merimplikasi pula Lingkar Kota Demak. Tesis. Program Magister
terhadap perilaku sosial ekonomi masyarakatnya. Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana
Universitas Diponegoro. Semarang.

249