Anda di halaman 1dari 5

PERLAKUAN ASET TETAP

LELY FAJRIANI

PROGRAM KEAHLIAN AKUNTANSI


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Aset tetap adalah aset yang secara fisik dapat dilihat keberadaannya dan sifatnya relatif
permanen serta memiliki masa kegunaan lebih dari satu tahun yang digunakan untuk
mendukung kegiatan operasional perusahaan/instansi. Aset tetap digolongkan menjadi 2 yaitu
aset berwujud dan aset tidak berwujud. Aset berwujud berupa tanah, bangunan, mesin,
kendaraan, peralatan kantor, furniture, komputer dan lainnya sedangkan aset tidak berwujud
aset tidak memiliki wujud fisik dan dihasilkan sebagai akibat dari sebuah kontrak hukum,
ekonomi, maupun kontrak sosial seperti hak paten, hak cipta dan goodwill.
Perlakuan terhadap aset tetap yang meliputi perolehan, pemeliharaan, pelepasan serta
perhitungan penyusutan. Dalam hal perhitungan

1.2 Tujuan

1. Menguraikan perlakuan akuntansi atas perolehan dan pencatatan terhadap aset tetap
2. Menguraikan perlakuan akuntansi atas perhitungan penyusutan dan pencatatan
terhadap aset tetap
3. Menguraikan perlakuan akuntansi atas pemeliharaan terhadap aset tetap
4. Menguraikan perlakuan akuntansi atas pelepasan terhadap aset tetap
2 PEMBAHASAN

2.1 Perolehan dan pencatatan terhadap aset tetap

Perolehan terjadi ketika aset dibeli secara tunai, pembelian akan dicatat secara
sederhana sebesar jumlah kas yang dibayar, termasuk seluruh pengeluaran-pengeluaran yang
terkait dengan pembelian dan persiapannya sampai aset tersebut dapat digunakan. Aset juga
dapat diperoleh dengan cara lainnya seperti pembelian kredit, pertukaran, leasing atau hibah
(sumbangan).
1. Contoh kasus aset tetap dibeli secara tunai:
Pada tanggal 24 Desember 2013 dibeli kendaraan secara tunai dengan harga perolehan Rp 51
800 000 (harga sudah termasuk PPN). Maka pencatatan jurnal terhadap perlakuan aset tetap
adalah:
Aset tetap kendaraan (D) Rp 51 800 000
Bank (K) Rp 51 800 000

2. Contoh kasus aset tetap dibeli secara kredit:


Pada tanggal 25 Desember 2014 dibeli kendaraan secara kredit dengan harga Rp 64 200 000
dengan angsuran 25 kali angsuran dengan bunga pertahun 12%. Maka pencatatan jurnal
terhadap perlakuan aset tetap adalah
Aset tetap kendaraan (D) Rp 64 200 000
Hutang (K) Rp 64 200 000

Pada saat kendaraan tersebut membayar angsuran pertama, pencatatan jurnal adalah:

Hutang angsuran (D) Rp 2 568 000


Biaya bunga (D) Rp 642 000
Bank (K) Rp 3 210 000

3. Contoh kasus perolehan aset tetap secara sewa guna usaha:

Pada tanggal 30 Juni 2014 membeli kendaraan keapada PT. L dengan harga Rp 210 000 000
sudah termasuk PPN dan baru membayar uang muka sebesar 30%. Pada tanggal 1 Agustus
2014 melakukan pembayaran secara lunas sebesar 70% kepada PT. L melalui sewa guna
usaha (leasing) ke PT. Z bunga leasing 6,30% dan akan dibayar angsuran Rp 14 700 000
dalam jangka waktu 25 bulan kepada PT. Z dengan biaya administrasi leasing Rp1 000 000
dan biaya asuransi 5% dari nilai pinjaman.

Maka jurnal untuk 30 Juni 2014 pembayaran uang muka aset tetap kendaraan adalah:
Aset tetap kendaraan (D) Rp 210 000 000
Bank (uang muka) (K) Rp 63 000 000
Hutang PT. L (K) Rp 147 000 000

Sedangkan jurnal untuk 1 Agustus 2014 pembayaran pelunasan aset tetap kendaraan kepada
PT. L melalui takeover ke PT. Z adalah sebagai berikut:
Hutang PT. L (D) Rp 147 000 000
Beban Adm leasing (D) Rp 1 000 000
Beban asuransi (D) Rp 7 350 000
Hutang PT. Z (K) Rp 155 350 000

Berikut adalah Jurnal Pembayaran Angsuran Perbulan ke PT. Z


Hutang PT. Z (D)
Bunga (D)
Bank (K)

2.2 Perhitungan penyusutan dan pencatatan terhadap aset tetap

Penyusutan adalah alokasi secara periodik dan sistematis dari harga perolehan aset
selama periode-periode berbeda yang memperoleh manfaat dari penggunaan aset
bersangkutan. Penyusutan umumnya terjadi ketika aset tetap telah digunakan dan merupakan
beban bagi periode dimana aset dimanfaatkan.
Beban penyusutan adalah pengakuan atas penggunaan manfaat potensial dari suatu aset.
Sifat beban penyusutan secara konsep tidak berbeda dengan beban yang mengakui
pemanfaatan atas premi asuransi ataupun sewa yang dibayar dimuka selama periode berjalan.
Beban penyusutan merupakan beban yang tidak memerlukan pengeluaran uang kas.
Terdapat tiga faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan beban penyusutan
setiap periode, yaitu:
1 Harga perolehan, yaitu keseluruhan uang yang dikeluarkan untuk memperoleh suatu aset
tetap sampai siap digunakan oleh perusahaan.
2 Nilai sisa (residu), yaitu taksiran harga jual aset tetap pada akhir masa manfaatnya. Setiap
perusahaan akan memiliki taksiran yang berbeda satu dengan lainnya atas suatu jenis aset
tetap yang sama. Jumlah taksiran nilai residu juga akan sangat dipengaruhi oleh umur
ekonomisnya, inflasi, nilai tukar mata uang, bidang usaha, dan sebagainnya.
3 Taksiran umur kegunaan, yaitu taksiran masa manfaat dari aset tetap. Masa manfaat adalah
taksiran umur ekonomis dari aset tetap, bukan umur teknis. Taksiran masa manfaat dapat
dinyatakan dalam satuan periode waktu, satuan hasil produksi, atau satuan jam kerja.

Metode perhitungan penyusutan adalah :


a. Metode Garis lurus (Straight Line Method)
Metode penyusutan garis lurus paling banyak digunakan oleh perusahaan, karena
metode tersebut sederhana, penyusutan per periode tetap, dan tidak memperhatikan pola
penggunaan aset tetap.
Metode perhitungan penyusutan aset tetap di mana setiap periode akuntansi diberikan
beban yang sama secara merata. Beban penyusutan dihitung dengan cara mengurangi
harga perolehan dengan nilai sisa dan dibagi degan umur ekonomis aset tetap tersebut.
Penyusutan = Harga Perolehan Aset Nilai Sisa
Taksiran Umur Ekonomis Aset
b. Metode Saldo Menurun (Decline Balance Method)
Aset tetap dianggap akan memberikan kontribusi terbesar pada periode awal masa
pemakaiannya, dan akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang semakin besar di
periode berikutnya seiring dengan semakin berkurangnya umur ekonomis atas aset
tersebut.
Penyusutan = Tarif Nilai Buku
Nilai Buku = Harga Perolehan Akumulasi Penyusutan

n NilaiResidu
Tarif = 1 HargaPerol e h an

c. Metode Menurun Ganda (Double Declining Balance Method)


Metode ini menghasilkan suatu beban penyusutan periodik yang menurun selama
estimasi umur ekonomis aset. Jadi, metode ini pada hakekatnya sama dengan jumlah angka
tahun dimana besarnya beban penyusutan akan menurun setiap tahunnya. Beban penyusutan
periodik dihitung dengan cara mengalikan suatu tarif persentase ke nilai buku aset yang kian
menurun. Besarnya tarif penyusutan yang umum dipakai adalah dua kali tarif penyusutan
garis lurus, sehingga dinamakan sebagai metode saldo menurun ganda.
Dengan metode saldo menurun ganda, besarnya estimasi nilai residu tidak digunakan
dalam perhitungan, dan penyusutan tidak akan dilanjutkan apabila nilai buku aset telah sama
atau mendekati estimasi nilai residunya. Besarnya penyusutan untuk tahun terakhir dari umur
ekonomis aset harus disesuaikan agar nilai buku diakhir masa manfaat aset tetap
mencerminkan besarnya estimasi nilai residu.
Penyusutan = Tarif Nilai Buku
Nilai Buku = Harga Perolehan Akumulasi Penyusutan
100
2
Tarif = Umur Ekonomis

d. Metode Jumlah Angka Tahunan (Sum Of The Years Digits Method)


Metode ini menghasilkan beban penyusutan yang menurun dalam setiap tahun
berikutnya. Perhitungannya dilakukan dengan mengalikan suatu seri pecahan ke nilai
perolehan aset yang dapat disusutkan. besarnya nilai perolehan aset yang dapat disusutkan
adalah selisihantara harga perolehan aset dengan estimasi nilai residunya. Pecahan yang
dimaksud didasarkan pada masa manfaat aset bersangkutan. Unsur pembilang dari pecahan
ini merupakan angka tahun yang diurutkan secara berlawanan, sedangkan unsur penyebut
dari pecahan diperoleh dengan cara menjumlahkan seluruh angka tahun dari umur ekonomis
aset, atau dapat juga dihitung dengan menggunakan rumus:
n(n+1)
N= 2
Dalam metode jumlah angka tahun ini, sesungguhnya tidak ada pemikiran konseptual
yang luar biasa, yang ada hanyalah skema ilmu hitung yang membuat besarnya beban
penyusutan periodik menurun dari satu periode ke periode berikutnya dan seluruh nilai
perolehan aset yang dapat disusutkan dialokasikan sepanjang umur aset.
e. Metode Unit Aktivitas (Units Of Activity)
Berdasarkan unit aktivitasnya, penyusutan aset terutama terkait dengan output dari aset
yang bersangkutan atau tingkat jasa yang diberikan. Dalam hal ini, estimasi umur ekonomis
aset dapat dinyatakan baik dalam satuan unit produksi atau pun jumlah jam jasa
(operasioanal).

Contoh kasus: