Anda di halaman 1dari 10

RESUME

ANALISIS PETROFISIKA DAN EVALUASI FORMASI PADA FORMASI BATURAJA SUMUR MDS-18 LAPANGAN PENDOPO DI PT. PERTAMINA EP ASSET 2 PENDOPO FIELD KECAMATAN TALANG UBI KABUPATEN PALI PROVINSI SUMATERA SELATAN

SKRIPSI TIPE II-B

KABUPATEN PALI PROVINSI SUMATERA SELATAN SKRIPSI TIPE II-B Oleh Mitra Aldino NIM. 121.10.1144 JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

Oleh

Mitra Aldino

NIM. 121.10.1144

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND YOGYAKARTA

2017

ANALISIS PETROFISIKA DAN EVALUASI FORMASI PADA FORMASI BATURAJA SUMUR MDS-18 LAPANGAN PENDOPO DI PT. PERTAMINA EP ASSET 2 PENDOPO FIELD KECAMATAN TALANG UBI KABUPATEN PALI PROVINSI SUMATERA SELATAN

Mitra Aldino (121.10.1144)

Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, IST AKPRIND Yogyakarta

ABSTRAK

Maksud dan tujuan dari penelitian ini yaitu untuk untuk mengetahui zona prospek hidrokarbon dari analisis petrofisika meliputi Vsh, porositas, Saturasi air, dan permeabilitas pada sumur MDS-18 lapangan X di PT. Pertamina EP Region Sumatera. Evaluasi formasi yang dilakukan yaitu tahap analisis kualitatif meliputi penentuan jenis litologi dan penentuan jenis fluida serta analisis kuantitatif meliputi perhitungan nilai Vshale/Vclay, Porsitas, Saturasi Air dan Permeabilitas menggunakan analisis petrofisika. Metode yang digunakan dalam pengolahan data ini yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data well loging sumur MDS-18 lapangan X yang berada di PT.Pertamina EP Region Sumatera.

Sumur MDS-18 memiliki kandungan fluida berupa minyak dengan produksi terakhir kali 28 BOPD, dari hasil analisis diketahui terdapat tiga zona prospek yang terdapat pada kedalaman 2246-2252 m, 2260-2265m, 2273-2279 m. hasil analisis kualitatif didapatkan nilai rata-rata dari parameter petrofisika sebagai berikut, zona prospek 1 Vsh 0.295978082, ɸe 0.15717954 (baik), Sw 0.10737652, K 6937,963738 mD. zona prospek 2 Vsh 0.395871148, ɸe 0.117066667 (cukup), Sw 0.084335019, K 2770.054147 mD, zona prospek 3 Vsh 0.372068887, ɸe 0.088986957 (baik), Sw 0.220398009, K 655.435156mD. Hasil hasil evaluasi formasi disimpulkan pada sumur MDS-18 memiliki potensial keterdapatan hidrokarbon berupa minyak bumi dikarenakan memiliki nilai porositas dan nilai permeabilitas yang baik serta didukung oleh data produksi.

Kata kunci : petrofisika, hidrokarbon, porositas, saturasi air,

Pendahuluan

Minyak dan Gas Bumi merupakan bahan bakar yang sangat banyak digunakan, eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi pun merupakan bagian penting dalam mencukupi kebutuhan minyak didunia dalam hal ini dibutuhkan banyak tahapan untuk mengetahui serta proses produksi minyak dan gas. Ada pun cara untuk mengetahui ada atau tidaknya sebuah Hydrocarbon pada suatu sumur diformasi tertentu yaitu dengan cara analisis petrofisik dan evaluasi formasi. Untuk memprediksi cadangan fluida migas dan jumlah fluida yang diproduksi perlu dilakukan evaluasi terhadap kondisi suatu reservoir. Di Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Provinsi Sumatra Selatan termasuk kedalam Cekungan Sumatra Selatan (Koesoemadinata, 1980). Daerah tersebut pertama kali mulai dieksplorasi oleh Standrad Oil Of New Jersey melalui American Petroleum Company di negeri Belanda membentuk Nederlandche Kolonie

1

2

Petroleum Maatchapij (NKPM) pada tahun 1912 yang sekarang diambil alih oleh PT. PERTAMINA EP Asset 2 Pendopo Field. Menurut Koesoemadinata (1980) di Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Provinsi Sumatra Selatan termasuk kedalam Cekungan Sumatra Selatan terdiri dari beberapa formasi diantaranya formasi Baturaja, formasi ini terdiri dari batugamping, batugamping pasiran, serpih gampingan dan napal (Pulunggono, A., Haryo, A., Kosuma, C.G., 1992). Oleh karena itu penyusun tertarik untuk melakukan penelitian analisis petrofisik dan evaluasi formasi pada pada formasi Baturaja PT, PERTAMINA EP Asset 2 Pendopo Field di Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Provinsi Sumatera Selatan.

Dalam melakukan penelitian tersebut dibutuhkan data well logging digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif, analisis kualitatif yaitu untuk mentukan zona prospek (reservoir), untuk membedakan antara minyak, gas, dan air di reservoir. Sedangkan analisis kualitatif meliputi analisis volume shale, porositas, saturasi, dan permeabilitas. Oleh karena itu dalam tahap eksplorasi maupun pengembangan sumur hidrokarbon diperlukan analisis petrophysics dari data well logging untuk penentuan zona hidrokarbonya serta data produksi untuk mengetahui membandingkan hasil analisis tersebut

Metode Penelitian

Penelitian dilakukan dengan menggunakan software Interactive Petrophysic dengan mengikuti diagram alir proses pada (Gambar 2.) di bawah ini. Hal yang pertama kali dilakukan yaitu dengan melakukan input pada data yang merupakan data sekunder dari perusahaan berupa data well log yang terdiri dari data resistivity log, Sp log dan porosity log yang terbagi atas neutron log porosity dan densitas porosity. Kemudian melakukan zonasi yang bertujuan untuk menentukan lapisan-lapisan yang terdapat pada bawah permukaan. Setelah dilakukan zonasi dilakukan perhitungan pada kandungan lempung, saturasi air dengan menggunakan persamaan Archie, perhitungan porositas dan permeabilitas bertujuan untuk mengetahui lapisan-lapisan yang prospek.

1. Tahap Pendahuluan

Tahap ini dilakukan persiapan berupa kelengkapan administrasi, pemilihan tema Skripsi serta melakukan diskusi dengan pembimbing baik di kampus maupun dengan pembimbing dari perusahaan di PT.PERTAMINA EP Asset 2 Pendopo Field Kecamatan Talang Ubi Kabupaten PALI Provinsi Sumatera Selatan.

2. Tahap Studi Pustaka

Dalam tahapan ini penyusun mengumpulkan data dari beberapa sumber yang diambil dari jurnal, prosiding, buku, majalah maupun internet yang dikumpulkan untuk mendukung penyusunan ini.

3. Tahap Pengumpulan Data

Dalam tahapan ini data didapatkan dari perusahaan PT.PERTAMINA EP Asset 2 Pendopo Field Kecamatan Talang Ubi Kabupaten PALI Provinsi Sumatera Selatan. Data tersebut meliputi, data well log, data produksi dan data pendukung lainnya

3

4. Tahap Analisis

Tahapan analisis ini menggunakan software IP (Interactive Petrophysics) 3.6 dan dengan perhitungan manual menggunakan microsoft excel 2010. Analisis meliputi analisis kualitatif dan analisis kuantitatif seperti yang dijelaskan pada (gambar 2.)

A. Analisa Kualitatif

Pada analisa kualitatif dilakukan untuk interpretasi lithologi untuk penentuan lithologi, setiap litologi memiliki sifat-sifat berbeda yang tampak pada kurva log. Data log yang dipakai dalam interpretasi litologi umumnya dipakai dan dikombinasikan antara kolom log lithologi, log resistivitas dan log porositas. Selain menganalis interpretasi untuk litologi batuan dilakukan juga analisa karakteristik batuan dan kandungan jenis fluida pada setiap masing-masing sumur yang dianalisa agar mengetahui kondisi dari setiap masing-masing sumur tersebut.

B. Kuantitatif

Dalam analisis ini penyusun menganalisis Vshale/Vclay, Porositas (Porosity), SW (Saturasi Air), dan Permeabilitas (Permeability).

C. Tahap Kesimpulan

Pada tahap akhir dalam pengamatan yang dilakukan maka dapat diambil beberapa kesimpulan dari setiap bagian-bagian yang terpenting dalam menarik sebuah kesimpulan. Pada kesimpulan ini merupakan jawaban atas tujuan yang telah dilakukan dalam penelitian ini sehingga dapat diketahui lebih terperinci.

Petroleum System

Cekungan Sumatera Selatan merupakan cekungan yang produktif sebagai penghasil minyak dan gas. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya rembesan minyak dan gas yang dihubungkan oleh adanya antiklin. Letak rembesan ini berada di kaki bukit Gumai dan pegunungan Barisan. Sehingga dengan adanya peristiwa rembesan tersebut, dapat digunakan sebagai indikasi awal untuk eksplorasi adanya hidrokarbon yang berada di bawah permukaan berdasarkan petroleum system.

1. Source Rock

Batuan Induk (Source Rock) hidrokarbon pada cekungan sumatera Selatan diperoleh dari batuan induk lacustrine formasi Lahat dan batuan induk terrestrial coal dan coaly shale pada formasi Talang Akar. Batuan induk lacustrine diendapkan pada kompleks half-graben, sedangkan terrestrial coal dan coaly shale secara luas pada batas half-graben. Selain itu pada batu gamping formasi Batu Raja dan shale dari formasi Gumai memungkinkan juga untuk dapat menghasilkan hirdrokarbon pada area lokalnya (Bishop, 2001). Gradien temperatur di cekungan Sumatera Selatan berkisar 49° C/Km. Gradien ini lebih kecil jika dibandingkan dengan cekungan Sumatera Tengah, sehingga minyak akan cenderung berada pada tempat yang dalam. Formasi Batu Raja dan formasi Gumai berada dalam keadaan matang hingga awal matang pada generasi gas termal di beberapa bagian yang dalam dari cekungan, oleh karena itu dimungkinkan untuk menghasilkan gas pada petroleum system (Bishop, 2001).

4

2. Resevoir Rock

Dalam cekungan Sumatera Selatan, beberapa formasi dapat menjadi reservoir yang efektif untuk menyimpan hidrokarbon, antara lain adalah pada basement, formasi Lahat, formasi Talang Akar, formasi Batu Raja, dan formasi Gumai. Formasi lahat anggota pasir benakat membuktikan reservoir yang komersial di lap Benakat. Sedimen lahat juga dikabarkan sebagai reservoir di lapangan Puyuh dan Ibul. Porositas bps dan konglomerat dengan keberagaman yang tinngi meskipun porositasnya dan permeabilitasnya bagus. Reservoir Talang Akar bawah berisi terutama batupasir sungai channel-fill, crevasse splay, dan point bar yang berasal dari fluvio-deltaic di Utara, dan lingkungan delta-plain channel, delta front, river mouth bar, dan marine barrier bar di Selatan. bagaimanapun keberagaman wilayah berhubungan dengan dekatnya laut terbuka yang dimodifikasi oleh effect local yang berhubungan dengan nilai penurunan dan dekatnya sumber sedimen Rangkaian non marine (alluvial fan, braid-plain, dan system meander) menunjukkan progressi vertical proximal ke distal dengan waktu yang bersamaan dengan transgresi laut yang terlihat di selatan Raja (Hutapea, 81 dalam David Ginger dan Kevin Fielding 2005).

Formasi baturaja berisi campuran rangkaian wackesone, packstone, grainstone, dan batuan karang (Hadi dan Simpolon, 1976 dalam David Ginger dan Kevin Fielding 2005). Data sumur menunjukkan bahwa porositas formasi Baturaja umumnya sekunder pada asalnya. Bagaimanapun lapisan tinggi porositas dalam baturaja berhubungan dengan dengan pengendapan proses diagenesa/perubahan bentuk yang baik dan banyaknya potensi karbonat porous dipengharui oleh fasies penegndapan yang asli. Permeabilitas reservoir pada lapangan produksi pada kisaran 25 mD sampai 3,8 Darcys, meskipun aliran yang komersil secara normal hanya terjadi setelah keasaman dan nilai aliran sampai 4300 bopd dan 33 mmscfd telah dihasilkan (David Ginger dan Kevin Fielding

2005).

3. Seal Rocks

Batuan Tudung (Seal Rocks) pada cekungan ini adalah formasi Gumai yang diendapkan pada saat maximum highstand transgression, hidrokarbon yang ditemukan pada formasi ini sudah bermigrasi dikarenakan seal ini rusak akibat fase kompresi.

4. Trap

Trap pada cekungan sumatera selatan yaitu perangkap struktural (antiklin) yang berarah NW SE akibat gaya kompresi pada awal miosen sekitar 2 3 Ma (Courteney, dkk., 1990 dalam Bishop, 2001: 7).

Hasil dan pembahasan

Hasil dan pembahasan Analisis Petrofisika dan Evaluasi Formasi Pada Formasi Baturaja Sumur MDS-18 Lapangan Pendopo DI PT. PERTAMINA EP ASSET 2 Pendopo Field Kecamatan Talang Ubi Kabupaten PALI Provinsi Sumatera Selatan terbagi menjadi 2 analisis yaitu analisis kualitatif yang membahas hasil secara kualitatif seperti penentuan jenis litologi dan jenis fluida, untunk analisis kuantitatif yaitu hasil perhitungan meliputi, Vshale, porositas total, porositas efektif, Saturasi air (Sw), dan permeabilitas (K).

5

1. Analisis Kualitatif

Analisis ini didukung juga oleh data regional dan data sumur, analisis kualitatif terdiri dari penentuan litologi dan jenis fluida

A. Penentuan Jenis Litologi

Dari hasil analisis ini dan didukung dengan data regional, maka sumur MDS-18 ini terdiri dari 2 Fromasi yaitu Formasi Gumai dan Formasi Baturaja, Formasi Gumai pada kedalaman 1973.4301 sampai dengan kedalaman 2229.9193 dan Formasi Baturaja pada kedalaman 2230.0717 sampai dengan kedalaman 2316.330. Dari data cutting,

litologi pada zona ini merupakan ± 100% batugamping, yang secara umum berwarna putih-putih pucat. Jenis batugamping pada zona ini bervariasi antara packstone- wackestone. Reservoir sumur MDS-18 diambil dari data produksi yang menujukan pada zona-zona tersebut telah dilakukan perforasi atau diproduksi yaitu Zona perforasi 1 pada kedalaman 2246-2252.5, zona perporasi 2 pada kedalaman 2260-2265 dan zona perforasi

3 pada kedalaman 2273-2279.

B. Penentuan Jenis Fluida

Analisis penentuan jenis fluida ini dilakukan dengan analisis kualitatif dengan melihat respon dari log resistivitas serta crosover antara log densitas dan log neutron pada sumur MDS-18. Tujuan dari analisis ini untuk menentukan antara minyak, gas dan air pada sumur tersebut. Dari hasil analisis pada sumur MDS-18 dapat diidentifikasi bahwa reservoir Formasi Baturaja mengandung minyak dan air.

2. Analisis Kuantitatif

Properti Petrofisika adalah parameter-parameter penting yang memberikan informasi tentang batuan reservoar yang dideskripsi secara kuantitatif. Properti pada sumur ini meliputi, Vshale, porositas total, porositas efektif, Saturasi air (Sw), dan permeabilitas (K).

A. Volume Shale (Vsh)

Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan pada masing-masing reservoar dengan menggunakan indikator nilai Ssp yaitu sebesar -162.6786 diperoleh nilai Vshale

zona perforasi 1 berkisar antara 0.175664777 sampai dengan 0.358586809 dengan rata- rata 0.295978082, nilai Vshale zona perforasi 2 berkisar antara 0.381450295 sampai dengan 0.404900214 dengan rata-rata 0.395871148, nilai Vshale zona perforasi 3 berkisar antara 0.35601794 sampai dengan 0.394973893 dengan rata-rata 0.372068887.

B. Porositas Total dan Efektif

Porositas total didapatkan dengan parameter menggunakan parameter ϕD–ϕN. Sehingga dari parameter yang digunakan itu akan didapatkan hasilnya porositas total (PHIT). Diperoleh nilai PhiT pada zona perforasi 1 berkisar antara 0.0842 sampai dengan 0.2813 dengan rata-rata 0.223043182, nilai PhiT pada zona perforasi 2 berkisar antara 0.037 sampai 0.2358 dengan rata rata 0.126687179 dan nilai PhiT zona perforasi

3 berkisar antara 0.0273 sampai dengan 0.1415 dengan rata-rata 0.104856522 Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan pada masing-masing reservoar dengan menggunakan persamaan pertamina UTC, diperoleh nilai porositas efektif (PHIE) pada zona perforasi 1 nilai Phie berkisar antara 0.0001 sampai dengan 0.2267 dengan rata-rata 0.1571795, zone perforasi 2 berkisar 0.0271 sampai dengan 0.2212 dengan rata- rata 0.117066667 dan zona perfosari 3 berkisar 0.0005 sampai dengan 0.1285 dengan rata-rata 0.088986957.

6

C. Rw (Resistivitas Air)

Dalam penentuan Rw ini metode yang digunakan adalah picket plot menggunakan crossplot nilai porositas dan nilai resistivity dalam (ILD atau LLD) seperti pada gambar 5.3. Sehingga didapatkan hasil a (eksponen tortuosity) = 1 , m (eksponen

sementasi) = 1.97, n (eksponen saturasi) = 2 dan Rw = 0.0166.

= 1.97, n (eksponen saturasi) = 2 dan Rw = 0.0166. Gambar 1. Crossplot LLD dengan

Gambar 1. Crossplot LLD dengan PHIE menggunakan Interactive Petrophysics 3.6 (Penyusun,

2017)

D. Saturasi Air

Berdasarkan hasil perhitungan saturasi air menggunakan persamaan Archie, diperoleh nilai saturasi air (Sw) pada zona perforasi 1 yaitu berkisar antara 0.031805041 sampai dengan 1 dengan rata-rata 0.10737652, zona perforasi 2 berkisar antara 0.040045116 sampai dengan 0.546956258 dengan rata-rata 0.10257584 dan zona perforasi 3 berkisar antara 0.084335019 sampai dengan 1 dengan rata-rata 0.220398009.

E. Permeabilitas

Berdasarkan hasil perhitungan permeabilitas menggunakan persamaan Morris Biggs Oil diperoleh nilai permeabilitas pada zona perforasi 1 yaitu berkisar antara 2.795672003 sampai dengan 26590.681 dengan rata-rata 6937.963738, zona perforasi 2 berkisar antara 0.299191883 sampai dengan 235412.6837 dengan rata-rata 2770.054147 dan zona perforasi 3 berkisar antara 9.63689 sampai dengan 1932.803869 dengan rata- rata 655.435156

F. Lapisan Perforasi

Lapisan yang diproduksi pada sumur MDS-18 ini adalah lapisan BRF pada interval kedalaman (2246-2252.5)m, kedalaman (2260-2265)m, dan kedalaman (2273- 2279)m seperti yang terlihat pada gambar 10. Dari data produksi sumur ini terakhir menghasilkan hidrolarbon sebesar 28 BOPD (Barell Oil Per Day).

Kesimpulan

Dari analisa perhitungan penelitian ini yang telah dijelaskan pada bab pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Dari analisis secara kualitatif ditarik kesimpulan bahwa lapisan prospek ini mempunyai jenis litologi karbonat yaitu batugamping. Jenis fluida pada reservoir sumur ini adalah minyak hal ini didukung juga dari data produksi yang menunjukan

7

bahwa produksi dari sumur ini berupa minyak dengan produkisi per April 2016 yaitu 10 BOPD. Pada sumur MDS-18 terdapat 3 zona prospek hidrokarbon yaitu, zona prospek 1 pada kedalaman 2246 m - 2252.5 m, zona prospek 2 pada kedalaman 2260 m - 2265 m dan zona prospek 3 pada kedalaman 2273 m 2279 m.

2. Dari hasil analisis secara kuantitatif terdapat bermacam-macam nilai properti petrofisika dalam setiap formasi di sumur MDS-18. Hasil perhitungan Vshale menggunakan metode larionov didapatkan nilai volume serpih pada zona prospek 1 rata-rata 0.295978082, zona prospek 2 rata-rata 0.395871148, zona prospek 3 rata- rata 0.372068887. Porositas efektif (PHIE) pada zona prospek 1 dengan rata-rata

0.15717954 (baik), zona prospek 2 dengan rata-rata 0.117066667 (baik), zona

prospek 3 dengan rata-rata 0.088986957 (baik). Saturasi air menggunakan persamaan Archie diperoleh nilai pada zona prospek 1 dengan rata-rata 0.10737652, zona

prospek 2 dengan rata-rata 0.10257584, zona prospek 3 dengan rata-rata

0.220398009. Berdasarkan hasil perhitungan permeabilitas menggunakan persamaan Morris Biggs Oil, diperoleh nilai permeabilitas pada zona prospek 1 dengan rata-rata

6937.963738 mD, zona prospek 2 dengan rata-rata 2770.054147 mD, zona prospek 3

dengan rata-rata 655.435156mD.

3. Nilai porositas dan permeabilitas yang tinggi tersebut dikarenakan lapisan tersebut terdapat pada formasi Baturaja yang terdiri dari batugamping nonklastik dimana porositas sekunder pada batugamping klastik terbentuk karena adanya pelarutan pada rekahan batugamping tersebutsehingga memungkinan terbentuknya rongga-rongga untuk menyimpan dan melewatkan fluida dalam jumlah besar.

Daftar Pustaka

Asquith, G dan Gibson,C., 1983. Basic Well Log Analysis for Geologists. Tulsa, Oklahoma: American Association of Petroleum Geologists. 232p

Bishop, Michele.G., 2001. South Sumatra Basin Province, Indonesia: The Lahat Talang Akar - Cenozoic Total Petroleum System. USGS: Wyoming, Colorado. 99-

50-S

David Ginger, Kevin Fielding. (2005). The Petroleum System and Future Potential of The South Sumatra Basin. Proceedings IPA of Thirtieth Convention , 67-89.

Harsono, Adi, 1997. Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log. field Service

Haryoko, Riwayat. 1983. Dasar Interpretasi Log. Production Geologist Pertamina:

Yogyakarta

Koesoemadinata, R.P, 1980. Geologi Minyak dan Gas Bumi. Bandung: ITB Jilid I

Pertamina EP Region Sumatera. 2004. Plan of Further Development (POFD):Geologi dan Geofisika. Publikasi Internal

Schlumberger Oil

Jakarta:

Pertamina. 2003. Buku Pedoman Teknik Penilaian Formasi. Jakarta: Publikasi Internal Revisi 2 Juli 2003Pertamina UTC, TT. Analisa Petrofisika. Pertamina UTC

Pulunggono, A., 1976., Recent knowledge of hydrocarbon potensials in sedimentary basins of Indonesia, AAPG Memoir 25, hal. 239 249

Pulunggono, A., Haryo, A., Kosuma, C.G., 1992, Pre-Tertiary and Tertiary Fault Systems as A Framework Of The South Sumatra Basin; A Study of SAR- Maps,

8

Proceeding Indonesia Petroleum 21st Annual Convention, p. 341360

Rider, Malcolm. 2002. The Geological Interpretation of Well Logs, 2nd Edition, revised 2002. Scotland: Whittles Publishing.

Sari, M., Nugroho, H., Hidajat, W.K., Satriawan, O. 2014. Undergraduate thesis:

Analisis Petrofisika Dengan Metode Deterministik dan Probabilistik Serta Perhitungan Volume Hidrokarbon Dengan Metode Well Basis Pada Sumur MG-04 Di Struktur Musi, Cekungan Sumatera Selatan PT. Pertamina EP Region Sumatera. Semarang: Universitas Diponegoro.

version

3.4).Scotland: PGL-Senergy

Schlumberger.

2007.

Interactive

Petrophysics,

User

Manual

(IP

Lampiran Lepas 1

Lampiran Lepas 1