Anda di halaman 1dari 3

Advertisement | Posted on June 15, 2013 by Kumpulan Cerita Rakyat

Cerita Rakyat Putri Tadampalik. Pada Zaman dahulu, di Kerajaan Luwu terdapat seorang
puteri yang cantik jelita bernama Puteri Tadampalik. Dia adalah anak dari raja Luwu yang
terkenal bijaksana dan gagah berani, yaitu Datu Luwu la Bustana Daru Maongge. Oleh
karena kecantikannya itu maka banyak orang yang tertarik padanya, termasuk Pangeran
Bone. Pangeran Bone kemudian mengutus orang kepercayaannya untuk mengajukan
lamaran kepada ayah Puteri Tadampalik.
Ketika menerima utusan Pangeran Bone yang ingin melamar puterinya, Raja Luwu menjadi
gundah. Di satu pihak jika ia menerima lamaran tersebut, artinya dia melanggar adat yang
tidak memperbolehkan putri Luwu menikah dengan lelaki di luar sukunya. Namun jika
menolak, dia khawatir kerajaan Bone yang terkenal kuat akan menyerang negerinya dan
membuat rakyat menderita.

Dan, setelah mempertimbangkan masak-masak akhirnya Datu Luwu memutuskan untuk


menerima pinangan raja Bone. Para utusan raja Bone pun akhirnya pulang ke negerinya
dengan membawa berita bahagia.

Namun sayang, beberapa minggu kemudian tiba-tiba Putri Tadampalik jatuh sakit.
Penyakitnya sangat aneh. Kulit sang putri yang tadinya putih dan mulus, kini dipenuhi
benjolan-benjolan yang mengeluarkan nanah dan berbau amis. Sangat menjijikan. Tabib-
tabib yang mencoba mengobati sang putri pun angkat tangan.

Khawatir penyakit putrinya akan menular dan menjadi wabah, dengan berat hati Datu Luwu
memutuskan untuk mengasingkan putrinya keluar dari Luwu. Dibuatkanlah sebuah rakit
raksasa untuk membawa sang putri yang hanya ditemani oleh beberapa pengawal dan
dayang setianya.

Pada hari yang ditentukan, Datu Luwu memberikan sebilah keris pusaka kepada putrinya
dan berpesan untuk selalu menjaga diri. Rakit itu pun meluncur ke arah muara diiringi tangis
kesedihan rakyat Luwu.

Setelah berhari-hari berlayar, mereka menemukan sebuah tempat yang sangat subur dan
memutuskan untuk berlabuh. Di sana mereka membuatkan bangunan untuk putri
Tadampalik, mendirikan pemukiman dan mulai bercocok tanam. Karena di daerah itu banyak
ditemukan pohon Wajo maka mereka menamakan tempat itu Desa Wajo dan putri
Tadampalik diberi gelar putri Wajo.

Suatu hari, ketika putri Tadampalik sedang duduk di beranda, tiba-tiba seekor kerbau bule
datang menghampirinya dan lalu menjilati kulitnya. Air liur kerbau bule tersebut terasa sejuk
sehingga sang putri membiarkan kerbau itu menjilatinya.

Sejak itu, setiap hari kerbau bule tersebut selalu datang dan menjilati kulit putri Tadampalik
hingga lama kelamaan kulit sang putri yang membusuk mulai mengering dan akhirnya
benar-benar sembuh. Bahkan kulit putri Tadampalik semakin putih dan mulus. Putri
tadampalik mengucap syukur kepada Tuhan yang telah mengirim kerbau bule tersebut.
Sebagai tanda syukurnya putri Tadampalik melarang rakyat dan keturunannya mengganggu
apalagi menyembelih kerbau bule.

Singkat cerita, suatu hari pangeran Bone yang sedang berburu bersama para pengikutnya
tersesat dan terpisah dari rombongannya. Dia masuk jauh ke dalam hutan hingga dia tidak
tahu lagi arah mana yang harus ditempuh. Tiba-tiba dia melihat cahaya lampu di kejauhan.
Maka dipacunya kudanya menuju arah cahaya tersebut.

Ternyata itu adalah perkampungan putri Tadampalik. Maka dia pun dibawa menghadap sang
putri. Pangeran sangat terpesona dengan kecantikan putri Tadampalik dan ia pun jatuh
cinta. Pangeran tidak mengetahui bahwa sebenarnya dia telah ditunangkan dengan putri
Tadampalik.

Maka setelah beberapa hari tinggal di pemukiman tersebut dan pangeran bersiap-siap untuk
kembali ke negerinya, dia mengungkapkan keinginannya untuk memperisteri putri
Tadampalik. Beberapa hari kemudian pangeran dan beberapa utusannya kembali datang
dan meminang putri Tadampalik secara resmi. Putri lalu menyerahkan keris pusaka kerajaan
Luwu dan meminta pangeran untuk menyerahkan keris itu kepada ayahandanya. Jika keris
itu diterima dengan baik oleh ayahnya, artinya lamaran pangeran diterima.

Perjalanan itu ditempuh oleh pangeran dengan penuh semangat. Di hadapan Datu Luwu
diceritakannya pertemuannya dengan putri Tadampalik dan niatnya untuk memperistri sang
putri. Datu Luwu sangat gembira mendengar kesembuhan puterinya. Itu artinya Tuhan pun
telah merestui hubungan putrinya dengan pangeran Bone.

Sepekan kemudian dilangsungkanlah pesta pernikahan yang meriah antara putri Tadampalik
dengan pangeran Bone. Akhirnya pangeran Bone memboyong putri Tadampalik ke Bone
dimana mereka hidup bahagia selamanya.