Anda di halaman 1dari 11

Sejarah Rekonstruksi Telinga

Converse memaparkan secara detail tentang sejarah awal dilakukannya rekonstruksi


telinga. Menurut Converse, Susruta, yaitu sebuah naskah Indian tentang ilmu kedokteran kuno,
pada 900 S.M telah dilakukan rekonstruksi telinga parsial dengan menggunakan flap dari pipi.
Pada 1597, Tagliacozzi dari Itali memindahkan flap dari lengan untuk merekonstruksi aurikula
seorang biksu. Tepat 250 tahun kemudian, Dieffenbach memperbaiki defek akibat trauma di
telinga dengan flap dari mastoid.

Converse menjelaskan bawa Roux dan orang pada zamannya di pertengahan abad ke 19
menganggap bahwa rekonstruksi aurikula merupakan hal yang tidak mungkin dilakukan, namun
pada tahun 1930, Pierce melaporkan tindakan reparasi akibat trauma dengan menggunakan
kartilago costa untuk memperbaiki kerusakan di concha-antihelix dan sebagian kulit dari bagian
supraklavikular untuk merekonstruksi helix. Kemudian, Peer menggunakan kartilago kosta yang
telah dipotong dan dimasukkan ke dalam cetakan kemudian di implant di kantung subkutan di
regio abdominal untuk merekonstruksi aurikula ketika fusi dari fragmen-fragmen oleh jaringan
ikat longgar sudah sempurna.

Pada tahun 1940-an, dilaporkan bahwa telah dilakukan rekonstruksi telinga dengan
kartilago yang diawetkan dan dibuat dari homograft dan heterograft. Hasilnya tidak memuaskan,
karena diikuti dengan reabsorpsi jaringan yang lama dan kadar komplikasi yang tinggi. Era
modern dari rekonstruksi aurikula dimulai dengan deskripsi klasik dari prinsip dan teknik
rekonstruksi telinga dari jaringan kartilago kosta, seperti yang dilakukan oleh Tanzer.

Deformitas Didapat

Prinsip manajemen akut

Prinsip manajemen trauma telinga akut yaitu:

Pembersihan keseluruhan, debridemen minimal dan penjahitan luka dilakukan


setelah luka dibersihkan
Dimulai dari struktur yang diketahui baru melangkah ke jaringan lain yang tidak
diketahui
Tutup kulit pada rekonstruksi tipe delayed
Perbaiki secara primer eksisi bila defek kecil dan letak di permukaan
Biarkan luka terbuka dan rekonstruksi lain hari
Ketika penutupan saat itu juga tidak layak untuk dilakukan, bersihkan luka dang
anti perban secara rutin untuk menghindari keringnya luka
Luka yang bisa dipasang skin grafts hanya bisa jika terdapat perikondrium
dibawahnya
Tempelkan kembali potongan telinga yang robek, terutama pada anak-anak

Robekan dengan kartilago terekspos

Luka robek dengan hilangnya sebagin ketebalan kulit dari telinga harus ditangani secara
cepat untuk memastikan penutupan dari kartilago yang terbuka. Ketika robekan superfisial dan
perikondriumnya intak, STSG dari jaringan kuit post aurikular merupakan opsi tatalaksana yang
bagus dan memiliki kecocokan warna juga. Ketika tidak ada perikondrium yang tersisa dan
robekan memperlihatkan sedikit area kartilago yang terbuka, eksisi merupakan jawabannya. Cara
lain untuk menutupi kartilago telinga yang terbuka yaitu flap preaurikuler dan post aurikuler,
yang dibentuk dengan membentuk lubang yang menembus guna menutup area yang terbuka di
conchal bowl dan meatus akustikus eksternus. Bahkan kita dapat menggunakan flap tebal untuk
menutupi kartilago yang terbuka, selama proses pemindahannya menggunakan prisip cran yang
dikenalkan oleh Millard, dan kemudian dilakukan skin grafting.

Opsi lain yaitu bila kulit bagian posterior masih intak yaitu dengan mengeksisi kartilago
yang terbuka dan memasang graft pada bagian atas kulit posterior. Namun metode ini tidak
memberikan hasil yang memuaskan secara estetika. Bila tidak dapat dilakukan tatalaksana
surgikal secara cepat, penggantian perban rutin harus dilakukan demi menjaga kelayakan
kartilago hingga luka mengalami granulasi atau hingga prosedur penutupan yang layak bisa
dijadwalkan.

Defek gabungan

Perbaikan dari deformitas telinga yang didapat membutuhkan analisis yang akurat terhadap
defek dan pendekatan yang sistematik mengenai prosedur rekonstruksi. Cedera telinga akibat
trauma bisa tampak secara akut maupun sebagai deformitas sekunder akibat penatalaksanaan
awal dengan debridemen.
Defek campuran yang berukuran kecil biasanya diperbaiki dengan prosedur pemotongan
atau graft kulit-kartilago. Metode pemotongan berarti prosedur Antia-Buch dan teknik lain yang
memotong sebagian dari telinga sehingga tepi dari luka bisa diperbaiki sehingga penutupan bisa
dilakukan.

Brent mengemukakan beberapa sumber untuk jaringan kartilago dalam prosedur


rekonstruksi telinga parsial. Tidak seperti malformasi kongenital, malformasi yang didapat
biasanya tidak membutuhkan kartilago kosta untuk membentuk sokongan struktural untuk
susunan telinga. Kartilago dari telinga yang sama atau kontralateral biasanya lebih cocok untuk
rekonstruksi dan tahan terhadap perlukaan lebih baik dibandingkan kartilago kosta.

Donor lain yang mungkin yaitu concha dari telinga kontralateral yang dikombinasikan
dengan flap kulit sekitarnya sebagai flap chondrokutaneus campuran. Gorney et al
mengemukakan bermacam-macam metode dalam mengambil kartilago dari telinga kontralateral
untuk keperluan rekonstruksi telinga dengan cedera post-trauma. Pasien dengan defek yang
besar, yang memerlukan hampir total rekonstruksi telinga, merupakan kandidat untuk graft dari
kartilago kosta, seperti yang dipakai pada mikrotia, yang ditutup dengan flap temporoparietal.

Salah satu keputusan yang cukup sulit yaitu dalam penatalaksanaan luka dengan ukuran
sedang yang melibatkan seperempat hingga setengah dari keseluruhan telinga. Opsi untuk
rekonstruksi termasuk flap tubed dari leher, flap parieto temporalis facialis dengan pedikel, flap
kulit post aurikuler mastoid. Opsi yang terakhir direkomendasikan karena kecocokan warna kulit
untuk permukaan aurikula anterior.

Defek marginal

Defek pada sepertiga atas dan tengah dari helix biasanya diperbaiki dengan flap
advancement dari Antia dan Buch. Prosedur ini akan membebaskan helix dari scapha dengan
insisi di sulcus helicis dan diteruskan melalui kulit anterior dan kartilago. Kulit posteromedial
superfisialis terhadap perikondrium gerogoti dan helix digunakan sebagai komponen
chondrokutaneus pada flap kulit posterior.

Untuk defek dengan ukuran sedang, hanya bagian ujung yang perlu dimajukan. Defek yang
lebih besar pada helix membutuhkan mobilisasi baik dari porsi inferior dan superior. Segmen
sepalika diangkat pada pemasangan flap kulit preaurikuler kemudian diputar kebelakang hingga
ke dalam defek dengan metode V-Y.

Modifikasi lanjutan dari operasi Antia Buch yaitu diperuntukkan bagi defek bagian helix,
scapha dan anti helix. Dengan begitu, eksii dari kartilago anterior sekaigus kulitnya dimulai dari
ujung superior dan inferior concha. Untuk defek helix yang lebih besar, direkomendasikan
concha bisa dikelupas hingga tepi luar sampai luka bisa ditutup tanpa tension. Teknik ini
menunjukkan kemajuan dari modifikasi seperti yang digambarkan oleh Bialostocki dan Tan pada
defek yang melibatkan antihelix.

Defek marginal yang lebih besar dari 2,5 3 cm dan defek tepi helix yang terisolasi paling
baik di tatalaksana dengan graft kartilago auriula dan ditutup dengan flap post aurikular atau
mastoid. Bila kulit di sekitarnya tidak bisa digunakan, flap dengan tubed pedikel dari post
aurikula atau supraklavikula bisa juga digunakan untuk menutupi tepi helix. Teknik reduksi harus
dihindari.

Defek non marginal

Defek telinga yang tidak melibatkan helix biasanya berhubungan dengan reseksi untuk
tumor kulit. Songcharoen, Smith dan Jabaley (Songcharoen et al.) meninjau manajemen dari lesi-
lesi seperti ini dan menyarankan metode rekonstruksi.

Ramirez dan heckler mengadaptasi teknik advancement Antia-Buch untuk perbaikan defek
berukuran sama dengan atau kurang dari 2 cm pada fossa triangular, scapha dan antihelix. Defek
yang lebih besar dan defek yang terletak di telinga bagian bawah ditatalaksana dengan
menyambungkan flap rotation-advancement chondrokuutaneusn walaupun dengan pembelokkan
dari telinga yang direkonstruksi. Ladosci menggunakan metode yang mirip, namun dengan
menjaga arteri post aurikuler selama pembuatan flap untuk mengoptimalkan vaskularisasi.

Oshumi dan lida menggambarkan rekonstruksi dari kavitas concha dan canalis auditori
eksternus dengan flap post aurikuler chondrokutaneus yang berbentuk seperti pulau melalui
kartilago aurikuler ke bagian anterior dari telinga. Teknik yang serupa dengan melibatkan flap
retroaurikuler digunakan untuk merekonstruksi fossa scaphoid. Gingrass dan Pickrell, Park et al.,
dan Dean Ferrer et al juga mendeskripsikan prosedur yang serupa.
Talmi et al. menggambarkan flap pulau muskulokutaneus post aurikuler untuk rekonstruksi
concha setelah melakukan eksisi defek yang berukuran lebih dari 2 cm. Dengan metode ini,
penutupan dapat dilakukan denga flap pulau postaurikular yang didesain sehingga bagian
anterior bisa bergabung dengan batas posterior dari eksisinya. Flap ditarik melalui insisi di sulcus
post aurikuler dan dirotasi 180 derajat untuk menutupi conchal bowl dan antihelix.

Defek sepertiga bagian atas

Brent menggambarkan beberapa opsi untuk rekonstruksi defek pada sepertiga telinga
bagian atas. Teknik yang spesifik digunakan di setiap kasus, tergantung ukuran dari defek dan
sisa kulit disekitarnya yang bisa digunakan untuk rekonstruksi.

Untuk defek tepi helix yang kecil, flap Antia Buch bisa digunakan. Defek yang lebih besar
yang membutuhkan kartilago paling baik diperbaiki dengan flap banner preaurikular yang
dikombinasi dengan graft kartilago aurikula pada tepi helix, seperti yang dideskripsikan oleh
Crikelair. Pada defek yang besar di sepertiga atas telinga, opsi rekonstruksi bergantung pada
ketersediaan kulit yang bisa digunakan untuk flap (misalnya graft kartilago kontralateral ditutup
dengan flap post aurikula). Bila jaringan kulit yang tersedia tidak memadai, flap dengan pedikel
bisa digunakan untuk rekonstruksi.

Tahap Pertama

Flap gabungan ditandai, meliputi seluruh concha, sekaligus jaringan kulit external-anterior,
kartilago dan kulit retroaurikuler. Pedikel dari flap diletakkan pada tepi luar helix dan harus
selebar 1 cm. Pedikel dibentuk dari kulit tepi luar dan kulit anterior dan posterior dari helix dan
scapha. Kartilago dipotong dalam pedikel, memberikan kemudahan untuk merotasi flap. Karena
berada di daerah dengan vaskularisasi tinggi, tidak perlu untuk mengobservasi kerusakan
vaskuler dari flap. Flap gabungan dirotasi dari tempatnya di concha ke lokasi rekonstruksi. Dua
lapis kunateus dijahit dengan benang nilon dan jaringan fibrokartilago tidak perlu dijahit. Pada
lokasi donor di concha, area yang terbuka berlokasi di sisi eksternal dari kepala. Area ini
kemudian ditutup dengan skin graft.
Tahapan kedua

Helix diperbaiki terlebih dahulu dengan penyesuaian pedikel yang tepat. Lobul kemudian
ditarik ke bawah agar panjang aurikula sama dengan sisi kontra lateralnya. Sebuah insisi dibuat
di pinggir lobul, memotong kartilago sehingga lobul bisa turun sesuai derajat yang dibutuhkan.

Alternative dari flap gabungan dipresentasikan oleh Orticochea yaitu dengan rekonstruksi
dengan satu tahapan dari sepertiga atas aurikula menggunakan kombinasi beberapa flap.
Yotsuyanagi et al., mendeskripsikan metode yang kompleks untuk rekonstruksi dengan
menggunakan 3 jenis flap yang berbeda. Flap chondrokutaneus diangkat dari conchal bowl dan
diletakkan diatas defek untuk memberikan penutupan kulit dan sokongan kartilago. Flap
transposisional post aurikula digunakan untuk menutupi kulit bagian posterior dari luka,
sehingga defek sekunder dari conchal bowl yang diperbaiki dengan flap subkutan post aurikular
perpedikel mirip dengan yang dideskripsikan diatas untuk defek non marginal. Defek yang
berasal dari pengambilan flap diperbaiki dengan FTSG.

Rekonstruksi telinga atas yang mirip juga dideskripsikan oleh Yoshimura et al. yang
menggabungkan flap post aurikula yang ditransfer ke anterior dengan flap mastoid untuk bagian
posterior, kemudian dua flap digunakan untuk menutup susunan kartilago kostal yang dibuat.
Area donor flap mastoid ditutup dengan skin graft. Teknik ini berbeda dengan yang ditunjukkan
oleh Yotsuyanagi et al., seperti yang dideskripsikan diatas, yaitu kartilago diganti dengan graft
kartilago dari kosta dan bukan flap chondrokutaneus dari conchal bowl. Meskipun terlihat lebih
sederhana, susunan graft kartilago menunjukkan peningkatan kematian dari lokasi donor yang
kecil. Dagregorio dan Darsonval mengusulkan flap peninsular conchal chondrokutaneus untuk
rekonstruksi sepertiga atas dan tengan yang melibatkan tepi helix.

Defek Sepertiga Tengah

Tambahan untuk flap advancement chondrokutaneus Antia buch, defek kecil di tengah
telinga bisa diperbaiki dengan mengurangi lingkar aurikular. Tanzer meninjau berbagai pola
eksisi untuk perbaikan mikrotia.
Untuk defek besar sepertiga tengah telinga, graft kartilago costa bisa disisipkan dibawah
kulit mastoid dan diikat pada tepi defek, seperti prosedur tunnel yang dideskripsikan oleh
Converse, atau bisa ditutup dengan flap mastoid.

Songcharoen et al. mempresentasikan diskusi tatalaksana alternative untuk tumor di telinga


luar, termasuk rekonstruksi luka di sepertiga tengah telinga. Hinderer et al. menyarankan
penempatan kartilago dan jahitan kulit di tingkat yang berbeda untuk menhindari robekan dari
tepi helix.

Mellette mereview berbagai teknik untuk rekonstruksi telinga parsial dengan flap local.
Teknik untuk memperbaiki defek sepertiga tengah tidak bergantung pada ukuran reduksi dari
aurikula dan teknik multistage.

Defek sepertiga bawah, termasuk hilangnya sepertiga bawah daun telinga, termasuk lobus,
bisa diperbaiki dengan flap superior, seperti yang digambarkan oleh Preaux atau dengan teknik
valise handle seperti yang digambarkan oleh brent. Brent merekomendassi menggunakan graft
kartilago untuk merekonstruksi sepertiga bagian bawah telinga. Graft kartilago conchal
kontralateral bisa diimplan secara subkutan lalu kemudian dinaikkan sebagai flap
chondrokutaneus dengan bipedikel. Skin graft diletakkan di sisi medial flap untuk menutupi
kartilago, menciptakan efek valise-handle. Teknik ini memberikan hasil yang baik terhadap
bagian posterior dinding concha dan crus inferius dari permukaan anterior telinga.

Brent juga menggambarkan flap bilobus post aurikular untuk defek total pada daun telinga.
Davis mendeskripsikan sebuah teknik yang menggunakan flap posterior yang dibalik dari
permukaan anterior helix dan scapha dan flap mastoid untuk rekonstruksi daun telinga bagian
anterior.

Cordova et al melaporkan total atau subtotal rekonstruksi daun telinga dengan flap
retroaurikular yang terinervasi. Sleilati mengusulkan rekonstruksi telinga dengan flap double-
crossed, satu dari area preaurikular dan yang lainnya dari daerah retroaurikular atau region leher.

Defek Non-Helix (Concha, Antihelix, Tragus)

Berbagai teknik telah dipaparkan untuk rekonstruksi defek concha. Defek yang sangat
kecil mudah di tatalaksana dengan STSG atau FTSG pada perikhondium kartilago concha atau
kulit retro aurikula (bila kartilago tidak ada). Untuk defek yang lebih besar, Masson
memaparkan teknik flap pulau revolving door yang berasal dari retroaurikular. Biasanya, skin
graft dibutuhkan untuk menutupi lokasi sumber donor. Renard dan Talmi et al. juga
mendeskripsikan flap myocutaneus dari post aurikular dan flam dengan pedikel dermal untuk
defek concha anterior. Azaria et al. mengusulkan flap transposisional pull through yang berasal
dari jaringan retroaurikular untuk rekonstruksi defek concha yang kecil. Turan et al. juga
mendiskusikan flap tipe pull through namun dengan neurovaskularisasi tersendiri.

Adler et al. dan Dagregorio dan Darsonval membahas berbagai flap local dan regional
untuk rekonstruksi telinga di regio non helix. Sebuah flap transposisional simple dari jaringan
preaurikular dianjurkan untuk defek tragal. Flap lain untuk rekonstruksi antihelix dan fossa
triangular juga turut dibahas.

Teknik Operasi

Deskripsi mendetail tentang berbagai teknik rekonstruksi telinga jauh melampaui batasan
dari review ini. Artikel oleh Tanzer, Brent dan Byrd, Burnstein, Bauer, Yanai et al., Isshiki et al.,
Aguilar, dan Nagata harus dipelajari secara mendalam bagi mereka yang tidak familiar dengan
prosedur-prosedurnya. Zim dan Walton dan Beahm memaparkan penjelasan yang sangat baik
dan perbandingan terhadap teknik yang paling sering digunakan. Brent mempubikasikan lebih
dari 1000 kasusnya tentang rekonstruksi mikrotia, dengan deskripsi modifikasi dan perbaikan
tekniknya.

Penutupan Jaringan Lunak

Jaringan lunak yang cukup untuk menutupi susunan aurikula merupakan salah satu
prasyarat untuk melakukan rekonstruksi. Jaringan kulit harus tipis, layak pkai, cocok secara
warna dan tekstur, dan memiliki vaskularisasi dan elastisitas yang baik sehingga bisa masuk
dengan pas. Pada rekonstruksi telinga primer, sumber donor jaringan mungkin akan mengalami
deficit kulit relatif.
Flap Temporoparietal Fascial

Metode paling serba guna untuk mendapatkan jaringan lunak sebagai penutup yaitu dengan
penggunaan Flap Temporoparietal fascial yang berasal dari penutup arteri temporalis
superficialis dan cabang-cabangnya. Flap bisa diangkat secara ipsilateral dan si transfer sebagai
flap bebas dari sisi yang berlawanan. STSG atau FTSG yang tebal akan melengkapi rekonstruksi.
Flap yang menutupi edema akan menghilang setelah beberapa minggu atau bulan. Setelah
pemetaan pembuluh darah dengan Doppler, pembukaan fascia didapatkan dengan insisi
berbentuk Y yang memanjang ke arah superior diatas regio aurikular yang diinginkan. Diseksi
diawali cukup dalam hingga folikel rambut dan dilanjutkan menelusuri dataran dimana lemak
subkutan melekat pada fascia temporoparietal. Karena identifikasi awal dari dataran ini mungkin
menyulitkan, perawatan harus dilakukan untuk tidak merusak folikel ataupun pembuluh darah
dibawahnya. Meski menjemukan. Ketika diseksi dari kulit telah tercapai, flap inferior yang
berasal dari fascia temporoparietalis akan dengan mudah diangkat dari fascia dalam yang
melingkupi muskulus temporalis.

Kemudian, flap fascial pertama-tama menutupi susunannya dan kemudian di fiksasi ke


kulit perifer vest under pants untuk mempertahankan penutupan yang ketat. Akhirnya, sebuah
STSG yang tebal dan telah dibentuk dijahit diatas susunan yang telah ditutup fascia. Lalu telinga
kemudian dibalut dengan kasa yang berisi petrolatum.

Park et al. menganalisis pengalaman penggunaan flap temporoparietal fascia untuk


rekonstruksi aurikula. Anatomi vaskularisasi didapatkan sangan bervariasi dari 93 flap yang
ditinjau. Sumber suplai darah yang dominan merupakan arteri temporalis superfisialis yaitu pada
82 (88%) diantara 93 flap, arteri aurikula posterior 8 flap (9%) dan arteri occipitalis 3 flap (3%).
Drainase vena juga memiliki variasi yang hampir sama: vena superficialis temporalis 62 (67%)
flap, vena auricularis posterior 23 (25%) flap, vena occipitalis 6 (6%) flap dan vena diploicadua
(2%) flap.

Perbaikan teknis dari serial yang dipublikasikan Park et al. ditujukan untuk membuat flap
semakin tipis namun semakin bagus, sehingga fascia innominate dan lemak subkutan bisa
disisihkan dari flap. Hal ini meningkatkan resiko kerusakan pembuluh darah flap, dan peneliti
menyarankan perbaikan secepatnya terhadap cabang terkecilpun untuk menghindari insufisiensi
vaskular fokal flap. Kemajuan dari teknik pengambilan fascia temporoparietal dengan endoskopi
untuk rekonstruksi aurikula telah memberikan hasil yang mengurangi luka, alopesia dan waktu
operasi dengan jumlah kehilangan darah yang sebanding. Modifikasi lainnya yaitu penggunaan
sebagian ketebalan kulit kepala kapanpun dibutuhkan skin graft, sehingga hasilnya memberikan
warna yang lebih cocok dan penekanan flap dengan cetakan eksternal post operasi agar flap tetap
tipis sehingga mencegah kontraktur sekunder dari skin graft yang dipasang diatas susunan
kartilago. Cetakan eksternal harus dipakai selama 3 bulan post operasi.

Tegtmeier dan Gooding dan Nakai melaporkan hasil operasi mereka dengan menggunakan
flap temporoparietal fascialis di atas kulit yang intak atau untuk menambahkan sedikit sisa pada
mikrotia primer dengan menggunakan Silastik dan susunan kartilago kosta.

Brent menggarisbawahi tekniknya untuk menatalaksana batas rambut yang rendah dalam
600 kasus rekonstruksi aurikula. Batasan terletak pada posisi yang akan memberikan hasil
terbaik perihal simetri dan estetika, meskipun hal ini berarti sebagian penempatannya tertutup
rambut. Ketika rambut hanya menutupi helix bagian atas dan scapha, bisa dihilangkan dengan
elektrolisis. Ketika rambut menutupi sepertiga atas telinga baru, kulit yang berambut dieksisi,
perlahan-lahan sehingga tidak mengekspos kartilago di bawahnya. Graft dari jaringan kulit
postaurikular yang diambil dari telinga kontralateral digunakan untuk menutupi area terbuka dari
susunan yang direkonstruksi. Ketika kekurangan jaringan kulit dan ada garis rambut rendah yang
bisa mempertimbangkan utnuk menggunakan flap temporoparietal fascialis yang ditutupi fkin
draft.

Brent merekomendasi penghilangan rambut dengan laser sebelum operasi untuk membuat
batas rambut yang ideal sebelum memperbaiki telinga. Brent dan Byrd juga mendiskusikan
beberapa cara untuk mengangkat dan memindahkan flap temporoparietal fascialis untuk
konstruksi telinga sekunder dan meninjau kembali keuntungan, kemungkinan peranan dalam
operasi rekonstruksi dan komplikasinya.

Nagata meninjau kembali pengalamannya dalam menggunakan flap temporo parietal fascia
dan flap fascia innominate untuk rekonstrusi sekunder yang memberikan hasil yang tidak
memuaskan dalam operasi mikrotia. Rekonstruksi sekunder dalam kasus-kasus yang seperti itu
lebih sulit dibandingkan perbaikan primer mikrotia karena selama prosedur revisi semua luka
superfisial harus dihilangkan, sehingga mengurangi permukaan kulit yang bisa digunakan untuk
rekonstruksi.

Komplikasi

Poin-poin berikut diambil dari hasil peninjauan data yang didapatkan. Penolakan lebih
tinggi pada susunan Silastic dibandingkan susunan kartilago autogen. Penolakan akibat susunan
Silastik terlihat menurun seiring dengan teknik penutupan jaringan lunak berkembang. Flap
temporoparietal sendiri terlihat berguna, bahkan dalam prosedir primer. Penolakan dari susunan
Silastik diperkirakan disebabkan oleh:

Penutupan kulit terlalu tipis


Flap memiliki jaringan parut
Jahitan implant yang terlalu ketat
Trauma
Ruang kosong (dead space) disekitar susunan
Infeksi
Survei komplikasi rekonstruksi aurikula dengan kartilago autogen berjumlah total 606
kasus yang dilaporkan Brent. Permasalah dengan penutupan jaringan lunak dengan susunan
kartilago kosta merupakan hal yang sering terjadi ketika jahitan matras kompresi digunakan
untuk menyatukan kulit dan kartilago helix. Setelah memutuskan bantalan jahitan dan
memasukkan drain, taraf komplikasi menurun secara signifikan. Brent melaporkan hanya 3
infeksi (0,5%), dua hematoma (0,3%), dan lima skin loss (0,8%) dengan kartilago terekspos.
Brent menyatakan bahwa sebagian besar komplikasi bisa dicegah dengan perawatan post operasi
yang bagus.