Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

FLORA DAN FAUNA


(ASOSIASI PADA EKOSISTEM MANGROVE)

MATA KULIAH EKOLOGI MANGROVE


DOSEN PENGAMPU : NUR EKA KUSUMA HINDRASTI, S.Pd., M.Pd

Oleh Kelompok

Juliah 140384205041
Rachma Sakti .O 140384205070
Irfan 1403842050

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG
2017
Kata Pengantar

Segala puji dan syukur Kami ucapkan kehadirat Allah Swt. yang telah memberikan
kesempatan dan kesehatan kepada Kami sehingga dapat menyelesaikan makalah
tentangFlora dan Fauna (Asosiasi Pada Ekosistem Mangrove) yang merupakan salah satu
tugas yang diberikan kepada mahasiswa untuk melengkapi penilaian dalam mengikuti mata
kuliah Ekologi Mangrove semester ganjil 2016-2017

Kami mengucapkan terima kasih kepada ibu Nur Eka Kusuma Hindrasti
S.Pd.,M,Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Ekologi Mangrove atas bimbingan dan
materi yang telah diberikan kepada Kami dalam kegiatan pekuliahan.

Andai kata dalam penyusunan makalah tentang Flora dan Fauna (Asosiasi Pada
Ekosistem Mangrove) terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, Penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun agar dapat memperbaiki penulisan dimasa yang akan
datang.

Tanjungpinang, 08 April 2017

Penulis

1
Daftar Isi
Kata Pengantar............................................................................................................................i

Daftar Isi....................................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1

1.1 Latar Belakang..............................................................................................................1

1.2 Tujuan...........................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................2

2.1 Asosiasi Ekosistem Mangrove......................................................................................2

2.2 Flora Asosiasi Ekosistem Mangrove.............................................................................2

2.3 Fauna Ekosistem Mangrove..........................................................................................6

2.4 Manfaat Ekosisem Mangrove Kepada Berbagai Organisme......................................12

BAB III PENUTUP..................................................................................................................14

3.1 Kesimpulan.................................................................................................................14

Daftar Pustaka...........................................................................................................................iii

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Daerah hutan Mangrove dunia yang diperkirakan seluas 15.429.000 ha, 25 % nya
meliputi garis pantai kepulauan Karibia dan sampai 75 % meliputi daerah pantai lainnya
seperti di kawasan Amerika Selatan dan Asia. Di Indonesia sendiri luas hutan Mangrove
diperkirakan meliputi areal sekitar 4,25 juta ha atau sekitar 27 % luas Mangrove di dunia.
Kumpulan berbagai jenis pohon yang seolah menjadi garda depan garis pantai yang secara
kolektif disebut hutan Mangrove. Hutan Mangrove memberikan perlindungan kepada
berbagai organisme lain baik hewan darat maupun hewan air untuk bermukim dan
berkembang biak.

Mangrove mempunyai kecenderungan membentuk kerapatan dan keragaman struktur


tegakan yang berperan penting sebagai perangkap endapan dan perlindungan terhadap erosi
pantai. Sedimen dan biomassa tumbuhan mempunyai kaitan erat dalam memelihara efisiensi
dan berperan sebagai penyangga antara laut dan daratan, bertanggung jawab atas
kapasitasnya sebagai penyerap energi gelombang dan menghambat intrusi air laut ke daratan.
Selain itu, tumbuhan tingkat tinggi menghasilkan habitat untuk perlindungan bagi hewan-
hewan muda dan permukaannya bermanfaat sebagai substrat perlekatan dan pertumbuhan
dari banyak organisme epifit. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi
pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari
gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan
lumpur yang dibawanya dari hulu.

Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang
mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur
penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup
di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah
melewati proses adaptasi dan evolusi.

1.2 Tujuan
a. Mengetahui asosiasi mangrove.
b. Mengetahui flora ekosistem mangrove.
c. Mengetahui fauna ekosistem mangrove.

1
d. Mengetahui manfaat ekosietem mangrove.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Asosiasi Ekosistem Mangrove

Istilah mangrove tidak selalu diperuntukkan bagi kelompok spesies dengan klasifikasi
taksonomi tertentu saja, tetapi dideskripsikan mencakup semua tanaman tropis yang bersifat
halophytic atau toleran terhadap garam. Tanaman yang mampu tumbuh di tanah basah lunak,
habitat air laut dan terkena fluktuasi pasang surut. Sebagai tambahan, tanaman tersebut
mempunyai cara reproduksi dengan mengembangkan buah vivipar yang bertunas (seed
germination) semasa masih berada pada pohon induknya. Mangrove adalah tanaman
pepohonan atau komunitas tanaman yang hidup di antara laut dan daratan yang dipengaruhi
oleh pasang surut. Habitat mangrove seringkali ditemukan di tempat pertemuan antara muara
sungai dan air laut yang kemudian menjadi pelindung daratan dari gelombang laut yang
besar. Sungai mengalirkan air tawar untuk mangrove dan pada saat pasang, pohon mangrove
dikelilingi oleh air garam atau air payau.

Ekosistem mangrove atau hutan mangrove adalah ekosistem hutan yang ditumbuhi
oleh berbagai jenis tanaman mangrove. Daerah dalam hutan mangrove akan tergenang saat
pantai sedang pasang, dan akan bebas dari genangan saat laut surut. Sebagai kesatuan
ekosistem, mangrove dihuni oleh banyak organisme. Adapun organisme yang dapat hidup
dalam hutan mangrove adalah organisme yang adaptif terhadap kadar mineral garam yang
tinggi dari air laut. Mereka saling berinteraksi satu sama lain untuk mencapai keseimbangan
ekosistem yang terus berlanjut.

Asosiasi ekosistem mangrove adalah kehidupan bersama antar individu (tanaman


tropis yang bersifat halophytic atau toleran terhadap garam atau tanaman yang mampu
tumbuh di tanah basah lunak, habitat air laut dan terkena fluktuasi pasang surut) yang
memiliki kesamaan dalam satu ikatan. Adanya kesamaan antar individu inilah menjadikan
ekosistem mangrove membentuk ikatan yang disebut asosiasi.

2
2.2 Flora Asosiasi Ekosistem Mangrove

Mangrove asosiasi adalah tumbuhan yang toleran terhadap salinitas, yang tidak
ditemukan secara eksklusif di hutan mangrove dan hanya merupakan vegetasi transisi ke
daratan atau lautan, namun mereka berinteraksi dengan true mangrove. Elemen asosiasi
jarang ditemukan tumbuh didalam komunitas mangrove yang sebenarnya dan terkadang
hanya terdapat pada vegetasi terestrial, contohnya Barringtonia asiatica, Sesuvium sp,
Ipomoea sp, dan Calotropis gigantea (Tomlinson, 1994; Kitamura et al., 1997).

Tumbuhan asosiasi adalah spesies yang berasosiasi dengan hutan pantai atau
komunitas pantai dan disebarkan oleh arus laut. Tumbuhan ini tahan terhadap salinitas,
seperti Terminalia, Hibiscus tiliaceus, Thespesia, Nyamplung (Calophyllum inophyllum),
Ficus, Casuarina, beberapa polong, serta semak Aslepiadaceae dan Apocynaceae. Ke arah
tepi laut tumbuh Ketepeng (Ipomoea pescaprae), Sesuvium portucalastrum dan Salicornia
arthrocnemum mengikat pasir pantai. Spesies seperti Porteresia (Oryza) coarctata toleran
terhadap berbagai tingkat salinitas. Ke arah darat terdapat kelapa (Cocos nucifera), sagu
(Metroxylon sagu), Dalbergia, Pandanus, Hibiscus tiliaceus dan lain-lain. Komposisi dan
struktur vegetasi hutan mangrove beragam, tergantung kondisi geofisik, geografi, geologi,
hidrografi, biogeografi, iklim, tanah, dan kondisi lingkungan lainnya.

1. Barringtonia asiatica ( Keben)


Barringtonia asiatica merupakan tanaman yang berbentuk pohon dan berkayu lunak
memiliki diameter sekitar 50 cm dengan ketinggian 4-16 meter. keben mempunyai sistem
perakaran yang banyak dan sebagian tergenang di air laut ketika sedang pasang. ia juga
memiliki banyak percabangan yang terletak di bagian bawah batang mendekati tanah.
Bentuk daunnya cukup besar, mengkilap dan berdaging. daun mudanya berwarna merah
muda dan akan berubah menjadi kekuningan setelah tua.

2. Ipomoea pescaprae (kaki kambing)


salah satu spesies tumbuhan menjalar, herba rendah yang akarnya mampu mengikat
pasir.

3
3. Terminalia catappa (ketapang)
Sejenis pohon tepi pantai yang rindang. Lekas tumbuh dan membentuk tajuk indah
bertingkat-tingkat. akar tunggang yang berbentuk kerucut panjang, tumbuh lurus ke
bawah, bercabang-cabang banyak sehingga memberi kekuatan yang lebih lagi kepada
batang dan juga daerah perakaran menjadi sangat luas selain itu daya serap terhadap air
dan zat makanan menjadi lebih besar.

4. Calophyllum inophyllum (Nyamplung)


Merupakan tumbuhan yang banyak ditemui di sekitar pesisir pantai. biasa tumbuh pada
pantai yang berudara panas dengan ketinggian hingga 200 m dpl. Tanaman ini memiliki
tinggi antara 20-30 meter. Bunga nyamplung biasanya majemuk dan berbentuk tandan.
Buahnya bulat seperti peluru, diameter 2,5-3,5 cm, berwarna hijau, dan berubah cokelat
jika kering. Biji buah bulat, tebal, keras, berwarna coklat. Pada inti terdapat minyak
berwarna kuning

5. Hibiscus tiliaceus (waru laut)


Waru banyak terdapat di Indonesia, di pantai yang tidak berawa, ditanah datar, dan di
pegunungan hingga ketinggian 1700 meter di atas permukaan laut. Kemampuan
bertahannya tinggi karena toleran terhadap kondisi garam dan kering, juga terhadap
kondisi tergenang. Tumbuhan ini tumbuh baik di daerah panas dengan curah hujan 800
sampai 2.000 mm. Waru biasa ditemui di pesisir pantai yang berpasir, hutan bakau, dan
juga di wilayah riparian.

4
6. Casuarina equisetifolia (Cemara laut)
jenis tanaman khas pantai yang potensial untuk rehabilitasi lahan dan konservasi tanah
(RLKT) pantai berpasir. Jenis ini mampu menahan angin laut dan uap air laut yang
mengandung garam, sehingga mampu mendorong perbaikan lingkungan.

7. Cocos nucifera (kelapa)


Kelapa secara alami tumbuh di pantai dan pohonnya mencapai ketinggian 30 m.
Tumbuhan ini dapat tumbuh hingga ketinggian 1.000 m dari permukaan laut, namun
seiring dengan meningkatnya ketinggian, ia akan mengalami pelambatan pertumbuhan.
Pohon dengan batang tunggal atau kadang-kadang bercabang. Akar serabut, tebal dan
berkayu, berkerumun membentuk bonggol, adaptif pada lahan berpasir pantai. Batang
beruas-ruas namun bila sudah tua tidak terlalu tampak, khas tipe monokotil dengan
pembuluh menyebar (tidak konsentrik), berkayu.

8. Pandanus odorifer (pandan duri)


Sejenis pandan besar yang sering dijumpai di pantai berpasir atau berkarang, anggota
suku Pandanaceae. Bunga jantannya berbau harum dan tahan lama disimpan;
dipergunakan untuk mengharumkan ruangan, pakaian, dan makanan.

5
9. Calotropis gigantea (biduri)
banyak ditemukan di daerah bermusim kemarau panjang, seperti padang rumput yang
kering, lereng-lereng gunung yang rendah, dan pantai berpasir. Permukaan atas helaian
daun muda berambut rapat berwarna putih (lambat laun menghilang), sedangkan
permukaan bawah tetap berambut tebal berwarna putih.

2.3 Fauna Ekosistem Mangrove

Fauna pada ekosistem mangrove membentuk percampuran antara 2 (dua) kelompok,


yaitu:

a. Kelompok fauna daratan membentuk/terestrial yang umumnya menempati bagian atas


pohon mangrove, terdiri atas : Mamalia, Reptil, amphibi,dan Aves. Kelompok ini sifat
adaptasi khusus untuk hidup didalam hutan mangrove, karena mereka melewatkan
sebagian besar hidupnya diluar jangkauan air laut pada bagian pohon yang tinggi
meskipun mereka dapat mengumpulkan makanannya berupa hewan laut pada saat air
surut.
b. Kelompok fauna perairan / akuatik, terdiri atas dua tipe yaitu :
1. Yang hidup dikolam air, terutama berbagai jenis ikan dan udang.
2. Yang menempati substrat baik keras (akar dan batang mangrove) maupun lunak
(lumpur) terutama kepiting, kerang dan berbagai jenis invertebrata lainnya.

1 Mamalia

6
Hutan mangrove merupakan habitat tempat hidup beberapa mamalia yang sudah
jarang ditemukan. Pada saat terjadinya surut banyak monyet-monyet (Macaca irus) terlihat
mencari makanan seperti shell-fish dan kepiting sedangkan kera bermuka putih (Cebus
capucinus) memakan cockles di mangrove. Jika jumlah kera menjadi sangat banyak akan
mempengaruhi pembenihan mangrove karena komunitas ini menginjak lokasi yang memiliki
benih sehingga benih mati. Kera proboscis (Nasalis larvatus) merupakan endemik di
mangrove Borneo, yang mana ia memakan daun-daunan Sonneratia caseolaris dan Nipa
fruticans (FAO,1982) juga propagul Rhizophora. Sebaliknya, kera-kera tersebut di mangsa
oleh buaya-buaya dan diburu oleh pemburu gelap. Hewan-hewan menyusui lainnya termasuk
Harimau Royal Bengal (Panthera tigris), macan tutul (Panthera pardus) dan kijing bintik
(Axis axis), babibabi liar (Sus scrofa) dan Kancil (Tragulus sp) di rawa-rawa Nipa. Di
sepanjang selatan dan tenggara Asia ; binatang-binatang karnivora kecil seperti, musang
(Vivvera sp dan Vivverricula sp), luwak (Herpestes sp). Berang-berang (Aonyx cinera dan
Lutra sp) umum terdapat di hutan mangrove namun jarang terlihat. Sedangkan Lumba-lumba
seperti lumba-lumba Gangetic (Platanista gangetica) dan lumba-lumba biasa (Delphinus
delphis) juga umum ditemukan di sungai-sungai hutan mangrove, yaitu seperti Manatees
(Trichechus senegalensis dan Trichechus manatus latirostris) dan Dugong (Dugong dugon),
meskipun spesies-spesies ini pertumbuhannya jarang dan pada beberapa tempat terancam
mengalami kepunahan.

Macaca irus Nasalis larvatus Panthera tigris


2 Reptil dan Amphibia
Beberapa spesies reptilia yang pernah ditemukan di kawasan mangrove Indonesia
antara lain biawak (Varanus salvator), Ular belang (Boiga dendrophila), dan Ular sanca
(Phyton reticulates), serta berbagai spesies ular air seperti Cerbera rhynchops,
Archrochordus granulatus, Homalopsis buccata dan Fordonia leucobalia. Dua jenis katak
yang dapat ditemukan di hutan mangrove adalah Rana cancrivora dan R. Limnocharis.
Buaya-buaya dan binatang alligator merupakan binatang-binatang reptil yang sebagian besar

7
mendiami daerah berair dan daerah muara. Dua spesies buaya (Lagarto), Caiman crocodilus
(Largarto cuajipal) dapat dijumpai umum dijumpai di hutan mangrove, dan sebagai spesies
yang berada dalam keadaan waspada karena kulitnya diperdagangkan secara internasional.
Caiman acutus mempunyai wilayah geografi yang sangat luas dan dapat ditemukan di Cuba,
Pantai lautan Pasifik di Amerika Tengah, Florida dan Venezuela. Jenis buaya Cuba, seperti
Crocodilus rhombifer terdapat di Cienaga de Lanier dan bersifat endemik. Aligator Amerika
seperti Alligator mississippiensis tercatat sebagai spesies yang membahayakan di Florida
( Hamilton dan Snedaker, 1984). Buaya yang memiliki moncong panjang (Crocodilus
cataphractus) terdapat di daerah hutan bakau Afrika dan di Asia. Berbagai cara dilakukan
untuk melindungi hewan-hewan tersebut tergantung negara masing-masing misalnya di India,
Bangladesh, Papua New Guinea dan Australia mengadakan perlindungan dengan cara
konservasi, ( FAO, 1982). Sejumlah besar kadal, Iguana iguana (iguana) dan Cetenosaura
similis (garrobo) pada umumnya terdapat di hutan mangrove di Amerika Latin, dimana
mereka menjadi santapan masyarakat setempat sebagaimana juga jenis kadal yang serumpun
dengan mereka di Afrika bagian barat (Varanus salvator).

Varanus salvator Boiga dendrophila Rana cancrivora


3 Burung
Pada saat terjadinya perubahan pasang surut merupakan suatu masa yang ideal bagi
burung (dunia burung), dan merupakan waktu yang ideal bagi burung untuk melakukan
migrasi. Menurut Saenger et al. (1954), tercatat sejumlah jenis burung yang hidup di hutan
mangrove yang mencapai 150-250 jenis. Beberapa penelitian tentang burung di Asia
Tenggara telah dilakukan oleh Das dan Siddiqi 1985 ; Erftemeijer, Balen dan Djuharsa, 1988;
Howes,1986 dan Silvius, Chan dan Shamsudin,1987. Di Kuba, terdapat beberapa spesies
yang menempati tempat atau dataran tinggi seperti Canario del manglar (Dendroica petechia
gundlachi) dan tempat yang lebih rendah seperti Oca del manglar (Rallus longirostris
caribaeus). Burung yang paling banyak adalah Bangau yang berkaki panjang. Dan yang
termasuk burung pemangsa adalah Elang laut (Haliaetus leucogaster), Burung layang-layang
(Haliastur indus), dan elang pemakan ikan (Ichthyphaga ichthyaetus). Burung pekakak dan

8
pemakan lebah adalah burung-burung berwarna yang biasa muncul atau kelihatan di hutan
mangrove.

Dendroica petechia gundlachi Ichthyphaga ichthyaetus Bangau


4 Serangga
Beberapa jenis serangga yang bisa dijumpai di habitat mangrove antara lain adalah
semut (Oecophylla sp.), ngengat (Attacus sp.), dan ulat.

Oecophylla sp. Attacus sp. Ulat


5 Ikan
Ikan di daerah hutan mangrove cukup beragam yang dikelompokkan menjadi 4
kelompok, yaitu :
a Ikan penetap sejati, yaitu ikan yang seluruh siklus hidupnya dijalankan di daerah hutan
mangrove seperti ikan Gelodok (Periopthalmus sp).
b Ikan penetap sementara, yaitu ikan yang berasosiasi dengan hutan mangrove selama
periode anakan, tetapi pada saat dewasa cenderung menggerombol di sepanjang pantai
yang berdekatan dengan hutan mangrove, seperti ikan belanak (Mugilidae), ikan Kuweh
(Carangidae), dan ikan Kapasan.
c Ikan pengunjung pada periode pasang, yaitu ikan yang berkunjung ke hutan mangrove
pada saat air pasang untuk mencari makan, contohnya ikan Kekemek, Gelama, Krot
(Scianidae), ikan Barakuda, Alu-alu, Tancak (Sphyraenidae), dan ikan-ikan dari familia
Exocietidae serta Carangidae.

9
d Ikan pengunjung musiman. Ikan-ikan yang termasuk dalam kelompok ini menggunakan
hutan mangrove sebagai tempat asuhan atau untuk memijah serta tempat perlindungan
musiman dari predator.

Periopthalmus sp. Mugilidae Sphyraenidae

6 Crustacea dan Mollusca


Berbagai jenis fauna yang relatif kecil dan tergolong dalam invertebrata, seperti udang
dan kepiting (Krustasea), gastropoda dan bivalva (Moluska), Cacing (Polikaeta) hidup di
hutan mangrove. Kebanyakan invertebrata ini hidup menempel pada akar-akar mangrove,
atau di lantai hutan mangrove. Sejumlah invertebrata tinggal di dalam lubang-lubang di lantai
hutan mangrove yang berlumpur. Melalui cara ini mereka terlindung dari perubahan
temperatur dan faktor lingkungan lain akibat adanya pasang surut di daerah hutan mangrove.
Biota yang paling banyak dijumpai di ekosistem mangrove adalah crustacea dan
moluska. Kepiting, Uca sp dan berbagai spesies Sesarma umumnya dijumpai di hutan
Mangrove. Kepiting-kepiting dari famili Portunidae juga merupakan biota yang umum
dijumpai. Kepiting-kepiting yang dapat dikonsumsi (Scylla serrata) termasuk produk
mangrove yang bernilai ekonomis dan menjadi sumber mata pencaharian penduduk sekitar
hutan mangrove. Udang yang paling terkenal termasuk udang raksasa air tawar
(Macrobrachium rosenbergii) dan udang laut (Penaeus indicus , P. Merguiensis, P. Monodon,
Metapenaeus brevicornis) seringkali juga ditemukan di ekosistem mangrove. Semua spesies-
spesies ini umumnya mempunyai dasar-dasar sejarah hidup yang sama yaitu menetaskan
telurnya di ekosistem mangrove dan setelah mencapai dewasa melakukan migrasi ke laut.
Ekosistem mangrove juga merupakan tempat memelihara anak- anak ikan. Migrasi biota ini
berbeda-beda tergantung spesiesnya. Udang Penaeus dijumpai melimpah jumlahnya hingga
kedalaman 50 meter sedangkan Metapenaeus paling melimpah dalam kisaran kedalaman 11-
30 meter dan Parapenaeopsis terbatas hanya pada zona 5-20 meter. Penaeid bertelur
sepanjang tahun tetapi periode puncaknya adalah selama Mei Juni dan Oktober- Desember

10
yang bertepatan dengan datangnya musim hujan atau angin musim. P. Merquiensis setelah
post larva ditemukan pada bulan November dan Desember dan setelah 3 - 4 bulan berada di
mangrove mencapai juvenile dan pada bulan Maret sampai Juni juvenile berpindah ke air
yang dangkal. Setelah mencapai dewasa atau lebih besar, udang akan bergerak lebih jauh lagi
keluar garis pantai untuk bertelur dengan kedalaman melebihi 10 meter. Waktu untuk bertelur
dimulai bulan Juni dan berlanjut sampai akhir Januari.
Molusca yang memiliki nilai ekonomis biasanya sudah jarang ditemukan di ekosistem
mangrove karena dieksploitasi secara besar-besaran. Contohnya adalah spesies Anadara sp
saat ini jarang ditemukan di beberapa lokasi ekosistem mangrove karena dieksploitasikan
secara berlebihan. Bivalva lain yang paling penting di wilayah mangrove adalah kerang darah
(Anadara granosa) dan gastropod yang biasanya juga dijumpai terdiri dari Cerithidia obtusa,
Telescopium mauritsii dan T telescopium. Kerang-kerang ini merupakan sumber daya yang
penting dalam produksi perikanan, dan karena mangrove mampu menyediakan substrat
sebagai tempat berkembang biak yang sesuai, dan sebagai penyedia pakan maka dapat
mempengaruhi kondisi perairan sehingga menjadi lebih baik. Kerang merupakan sumberdaya
penting dalam pasokan sumber protein dan sumber penghasilan ekonomi jangka panjang.
Untuk penduduk sekitar pantai menjadikan kerang sebagai salah satu jenis yang penting
dalam penangkapan di wilayah mangrove.

Scylla serrata Anadara granosa

2.4 Manfaat Ekosisem Mangrove Kepada Berbagai Organisme

Hutan Mangrove memberikan perlindungan kepada berbagai organisme lain baik


hewan darat maupun hewan air untuk bermukim dan berkembang biak. Hutan mangrove
menangkap dan mengumpulkan sedimen yang terbawa arus pasang surut dari daratan lewat
aliran sungai. Hutan mangrove selain melindung pantai dari gelombang dan angin merupakan
tempat yang dipenuhi pula oleh kehidupan lain seperti mamalia, amfibi, reptil, burung,
kepiting, ikan, primata, serangga dan sebagainya. Selain menyediakan keanekaragaman

11
hayati (biodiversity), ekosistem mangrove juga sebagai plasma nutfah (genetic pool) dan
menunjang keseluruhan sistem kehidupan di sekitarnya. Habitat mangrove merupakan tempat
mencari makan (feeding ground) bagi hewan-hewan tersebut dan sebagai tempat mengasuh
dan membesarkan (nursery ground), tempat bertelur dan memijah (spawning ground) dan
tempat berlindung yang aman bagi berbagai juvenile dan larva ikan serta kerang (shellfish)
dari predator (Cooper, Harrison dan Ramm. ).

Jaringan sistem akar mangrove memberikan banyak nutrien bagi larva dan juvenil
ikan tersebut. Sistem perakaran mangrove juga menghidupkan komunitas invertebrata laut
dan algae. Memberikan gambaran tentang tingginya produktivitas habitat pantai bermangrove
ini, dikatakan bahwa satu sendok teh lumpur dari daerah mangrove di pantai utara
Queensland (Australia) mengandung lebih dari 10 milyar bakteri, suatu densitas lumpur
tertinggi di dunia.
Beberapa hewan tinggal di atas pohon sebagian lain di antara akar dan lumpur sekitarnya.
Walaupun banyak hewan yang tinggal sepanjang tahun, habitat mangrove penting pula untuk
pengunjung yang hanya sementara waktu saja, seperti burung yang menggunakan dahan
mangrove untuk bertengger atau membuat sarangnya tetapi mencari makan di bagian daratan
yang lebih ke dalam, jauh dari daerah habitat mangrove. Kelompok hewan arboreal yang
hidup di atas daratan seperti serangga, ular pohon, primata dan burung yang tidak sepanjang
hidupnya berada di habitat mangrove, tidak perlu beradaptasi dengan kondisi pasang surut.
(Nybakken, 1993).

Organisme mikro juga banyak sekali ditemukan pada ekosistem mangrove. Mangrove
memiliki fungsi ekologi sangat penting. Sesendok teh lumpur mangrove mengandung lebih
dari 10 juta bakteri, lebih kaya dari lumpur manapun. Bakteri ini membantu peruraian serasah
daun dan bahan organik lain, sehingga hutan mangrove menjadi sumber nutrisi penting bagi
tumbuhan dan hewan, serta ikut pula menjaga daur nutrisi pada habitat perairan pantai.

12
Perairan payau di muara sungai yang dibatasi mangrove merupakan standing stock
fitoplankton, sangat rapat didominasi oleh diatom, khususnya genus Coscinodiscus,
Pleurosigma, dan Biddulphia. Adapun zooplankton diwakili oleh hampir semua hewan
akuatik mulai dari protozoa, telur ikan, dan larva semua hewan Echinodermata. Bakteri
patogen seperti Shigella, Aeromonas, dan Vibrio dapat bertahan pada air mangrove yang
kaya nutrien, kadang-kadang tercermari bahan kimia berbahaya, pestisida, pupuk kimia,
limbah rumah tangga dan industri. Beberapa bakteri lignolitik, sellulolitik, proteolitik dan
mikroorganisme lain dapat menguraikan molekul organik yang besar seperti tanin dan
selulosa menjadi fragmen-gragmen lebih kecil yang bermanfaat. Alga tingkat tinggi biasa
ditemukan menempel pada tumbuhan mangrove, khususnya di akar penyangga dan akar
napas (pneumatofora) lainnya. Mikrobia, bakteri, fungi, dan alga hijau-biru (Cyanobacteria)
merupakan elemen tanah mangrove yang penting (Setiawan et al, 2002).

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Asosiasi ekosistem mangrove adalah kehidupan bersama antar individu (tanaman


tropis yang bersifat halophytic atau toleran terhadap garam atau tanaman yang mampu
tumbuh di tanah basah lunak, habitat air laut dan terkena fluktuasi pasang surut) yang
memiliki kesamaan dalam satu ikatan. Adanaya kesamaan antar individu inilah menjadikan
ekosistem mangrove membentuk ikatan yang disebut asosiasi.

Mangrove asosiasi adalah tumbuhan yang toleran terhadap salinitas, yang tidak
ditemukan secara eksklusif di hutan mangrove dan hanya merupakan vegetasi transisi ke
daratan atau lautan, namun mereka berinteraksi dengan true mangrove. Elemen asosiasi
jarang ditemukan tumbuh didalam komunitas mangrove yang sebenarnya dan terkadang

13
hanya terdapat pada vegetasi terestrial, contohnya Barringtonia asiatica, Sesuvium sp,
Ipomoea sp, dan Calotropis gigantea (Tomlinson, 1994; Kitamura et al., 1997).

Fauna pada ekosistem mangrove membentuk percampuran antara 2 (dua) kelompok,


yaitu: Kelompok fauna daratan membentuk/terestrial yang umumnya menempati bagian atas
pohon mangrove, terdiri atas : Mamalia, Reptil, amphibi,dan Aves. Kelompok ini sifat
adaptasi khusus untuk hidup didalam hutan mangrove, karena mereka melewatkan sebagian
besar hidupnya diluar jangkauan air laut pada bagian pohon yang tinggi meskipun mereka
dapat mengumpulkan makanannya berupa hewan laut pada saat air surut dan kelompok fauna
perairan / akuatik, terdiri atas dua tipe yaitu :Yang hidup dikolam air, terutama berbagai jenis
ikan dan udang dan yang menempati substrat baik keras (akar dan batang mangrove) maupun
lunak (lumpur) terutama kepiting, kerang dan berbagai jenis invertebrata lainnya.

14
Daftar Pustaka

Irwanto. https://irwanto.info/files/fauna_mangrove.pdf

Noerrizki, Amalia Murnihati. https://id.scribd.com/doc/309217920/Tugas-Flora-Fauna-


Hutan-Mangrove-Autosaved-Jadi

http://www.ebiologi.com/2015/06/ekosistem-hutan-mangrove-ciri-fungsi.html

http://www.pengertianmenurutparaahli.com/pengertian-asosiasi/

http://pgsp.big.go.id/mangrove-sejati-perisai-melawan-abrasi-dan-interusi/

http://www.gardenmatrial.com/2013/01/barringtonia-asiatica-tanaman-keben.html