Anda di halaman 1dari 14

BAB I

LAPORAN KASUS
A. Identitas Pasien
Nama : Ny. R
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : xx tahun
Alamat :
Pekerjaan :
Bangsa : Indonesia
Suku : Jawa
Agama : Islam
Status Perkawinan : Sudah Menikah

B. Anamnesis
Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 5 Maret 2017 di Poliklinik Kulit dan Kelamin
RSUD Margono Soekarjo pada pukul 10.00 WIB.
Keluhan utama:
Pasien mengeluhkan adanya gatal di telapak kaki kiri sebelum datang ke RS.
Keluhan tambahan:
Telapak kaki terasa gatal dan perih
Riwayat penyakit sekarang:
Pasien datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Margono Soekarjo
dengan keluhan gatal dan perih di telapak kaki kanannya, terutama saat malam hari.
Dahulu pasien pernah mengalami keluhan serupa dan sudah diobati. Namun setelah
obat habis dan keluhan menghilang, tidak lama kemudian keluhan muncul kembali.
Mula-mula pasien hanya merasa gatal tanpa ada perubahan pada kulit, semakin lama
kulit mulai berubah menjadi putih dan semakin menebal hingga ke sisi kaki bagian
dalam. Pasien bekerja sebagai petani dan bekerja menggunakan sandal jepit.
Riwayat penyakit dahulu:
Riwayat penyakit serupa : Sejak satu tahun lalu
Riwayat penyakit kulit sebelumnya : disangkal
Riwayat alergi : disangkal
Riwayat penyakit gula : disangkal
Riwayat pernyakit darah tinggi : disangkal
Riwayat penyakit kronis lainnya : disangkal

1
Riwayat konsumsi imunosupresan : disangkal
jangka panjang

Riwayat penyakit keluarga:


Riwayat penyakit serupa : disangkal
Riwayat sakit kulit sebelumnya : disangkal
Riwayat alergi : disangkal
Riwayat penyakit gula : disangkal
Riwayat pernyakit darah tinggi : disangkal

C. Status Generalis
Keadaaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Vital Sign : Tekanan Darah : 110/80
Nadi : 76 x/menit
Pernafasan : 16 x/menit
Suhu : 36.4 C
BB, TB : kg, cm
Mata : conjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
Telinga : ottorhea (-)
Hidung : napas cuping hidung (-) secret (-)
Mulut : sianosis (-)
Leher : dalam batas normal
Thorax
Paru
Inspeksi : Bentuk dada simetris, pergerakan dada simetris (tidak ada gerakan
nafas yang tertinggal), tidak ada retraksi spatium intercostalis.

Palpasi : Gerakan dada simetris, vocal fremitus kanan sama dengan kiri
Perkusi : Sonor pada seluruh lapang paru
Auskultasi : Suara dasar nafas vesikuler, RBK -/- RBH -/- wheezing -/-
Jantung
Inspeksi : Tidak tampak pulsasi ictus cordis pada dinding dada sebelah kiri atas.

2
Palpasi : Teraba ictus cordis, tidak kuat angkat di ICS V, 2 jari lateral LMC
sinistra
Perkusi : Batas jantung kanan atas ICS II LPSD
Batas jantung kanan bawah ICS IV LPSD
Batas jantung kiri atas ICS II LPSS
Batas jantung kiri bawah ICS V LMCS
Auskultasi : S1>S2 reguler, murmur (-) gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Datar
Perkusi : Timpani
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), massa (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal

D. Status Dermatologis
1. Lokasi
Plantar dextra
2. Efloresensi
Likenifikasi dan skuama tebal disertai dengan fissura.

Gambar 1.1. Telapak kaki kanan pasien

3
Gambar 1.2. Sisi dalam kaki kanan pasien
E. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan

F. Diagnosis Banding
1. Dermatitis, biasanya batasnya tidak jelas, bagian tepi tidak lebih aktif daripada
bagian tengah. Adanya vesikel-vesikel steril pada jari-jari kaki dan tangan dapat
merupakan reaksi id, yaitu akibat hasil reaksi antigen dengan zat anti pada tempat
tersebut.
2. Kandidosis, pemeriksaan seediaan langsung dengan larutan KOH dan pembiakan
dapat menolong. Infeksi sekunder dengan spesies Candida sering menyertai tinea
pedis sehingga diperlukan interpretasi yang bijaksana terhadap hasil-hasil
pemeriksaan laboratorium.
3. Sifilis II, ditemukan lesi berupa kemerahan dan basah, serta terdapat kondilomalata
dan pembesaran KGB menyeluruh.

G. Diagnosis Kerja
Tinea Pedis.

H. Pemeriksaan Anjuran
Pemeriksaan KOH.

I. Resume
Pasien dengan inisial Tn. DAR usia 68 tahun datang ke Poliklinik Kulit dan
Kelamin RSUD Margono Soekarjo dengan keluhan gatal dan perih di telapak kaki

4
kanannya, terutama saat malam hari. Dahulu pasien pernah mengalami keluhan
serupa dan sudah diobati. Namun setelah obat habis dan keluhan menghilang, tidak
lama kemudian keluhan muncul kembali. Mula-mula pasien hanya merasa gatal tanpa
ada perubahan pada kulit, semakin lama kulit mulai berubah menjadi putih dan semakin
menebal hingga ke sisi kaki bagian dalam. Pasien bekerja sebagai petani dan bekerja
menggunakan sandal jepit.
Pada pemeriksaan fisik, status generalis dalam batas normal. Pada status
dermatologi didapatkan likenifikasi dan skuama tebal disertai dengan fissura di telapak
kaki kanan hingga sisi dalam kaki.

J. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan kasus ini yaitu dengan pemberian terapi Ketokonazol dan
Loratadin secara per oral diminum setiap hari satu tablet selama 1 bulan. Kemudian
diberikan salep Mikonazol setiap malam sebelum tidur pada kulit yang terkena.
Edukasi kepada pasien:
Mengeringkan kaki setelah basah
Membersihkan alas kaki
Memakai antijamur topikal dan sistemik secara teratur sesuai indikasi
Mengikuti protokol pengobatan.

K. Prognosis
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam
Quo ad sanationam : ad bonam
Quo ad komestikum : dubia ad bonam

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Pendahuluan
Istilah dermatofitosis harus dibedakan dengan dermatomikosis. Dermatofitosis ialah
penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk seperti epidermis, rambut dan kuku yang
disebabkan golongan jamur dermatofita. Sedangkan dermatomikosis mempunyai arti umum
penyakit jamur yang menyerang kulit

II.2. Definisi
Dermatofitosis ialah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk seperti
epidermis, rambut dan kuku yang disebabkan golongan jamur dermatofita.

II.3. Epidemiologi
Sistem kekebalan tubuh setiap orang menentukan apakah jamur dapat menginfeksi
tubuh kita. Pada usia dewasa, retak kecil pada kulit kaki meningkatkan kerentanan terhadap
infeksi tinea. Prevalensi Tinea pedis sekitar 10%, terutama disebabkan oleh oklusif alas kaki.

Indonesia termasuk wilayah yang baik untuk pertumbuhan jamur, sehingga dapat
ditemukan hampir di semua tempat. Insidensi penyakit jamur yang terjadi di berbagai rumah
sakit di Indonesia bervariasi antara 2,93%-27,6%. Meskipun angka ini tidak menggambarkan
populasi umum. Dermatomikosis atau mikosis superfisialis cukup banyak diderita penduduk
negara tropis.

Di Indonesia belum ada angka yang tepat berapa sesungguhnya insiden dermatomikosis
yang terjadi. Golongan penyakit ini menempati urutan kedua setelah dermatitis. Di daerah
pedalaman angka ini mungkin akan meningkat dengan variasi penyakit yang berbeda. Sebuah
penelitian retrospektif yang dilakukan pada penderita dermatomikosis yang dirawat di IRNA
Penyakit Kulit Dan Kelami RSU Dr. Soetomo Surabaya dalam kurun waktu antara 2 Januari
1998 sampai dengan 31 Desember 2002 didapatkan 19 penderita dermatomikosis. Kasus
terbanyak terjadi padausia antara 15-24 tahun (26,3%), penderita wanita hampir sebanding
dengan laki-laki (10:9). Dermatomikosis terbanyak ialah Tinea kapitis, Aktinomisetoma, Tinea
kruris et korporis, Kandidiasis oral, dan Kandidiasis vulvovaginalis.

6
II.4. Etiologi
Dermatofita ialah golongan jamur yang menyebabkan dermatofitosis. Golongan jamur
ini mempunya sifat mencerna keratin. Dermatofita terbagi dalam tiga genus yaitu
Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton.
Hingga kini dikenal sekitar 41 spesies dermatofita, masing-masing dua spesies
Epidermophyton, 17 spesies Microsporum,dan 21 spesies Trychophyton.

II.5 Klasifikasi
Dermatofitosis dibagi menjadi dermatomikosis, trikomikosis dan onikomikosis
berdasarkan bagian tubuh yang terserang. Namun para spesialis kulit membaginya berdasarkan
lokasi sehingga dikenal bentuk seperti:
- Tinea Kapitis adalah dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala.
- Tinea Barbe adalah dermatofitosis pada dagu dan jenggot
- Tinea Kruris adalah dermatofitosis pada daerah genitokrural seperti anus, bokong, dan
kadang sampai perut bagian bawah
- Tinea Pedis et Manum adalah dermatofitosis pada kaki dan tangan
- Tinea Unguium adalah dermatofitosis pada kuku jari tangan dan kaki
- Tinea Korporis adalah dermatofitosis pada bagian lain yang tidak termasuk bentuk
lima tinea diatas
Selain enam bentuk tinea tersebut masih dikenal istilah yang mempunyai arti khusus, yaitu:
- Tinea Imbrikata adalah dermatofitosis dengan susunan skuama yang konsentris dan
disebabkan Trichophyton concentricum
- Tinea Favosa atau Favus adalah dermatofitosis yang terutama disebabkan
Trychophyton shoenleini dan secara klinis terdapat bentuk skutula dan berbau seperti
tikus
- Tinea Fasialis, Tinea Aksilaris
- Tinea Sirsinata, Arkuata

II.6. Gambaran Klinis Tinea Pedis


II.6.1 Tipe Papulo-Skuamosa Hiperkeratotik Kronik
Jarang didapati vesikel dan pustula, sering timbul pada tumit dan tepi kaki dan sampai
ke punggung kaki. Eritema dan plak hiperkeratotik di atas daerah lesi yang mengalami
likenifikasi. Biasanya simetris, jarang dikeluhkan dan kadang tak begitu dihiraukan penderita.

7
II.6.2 Tipe Intertriginosa Kronik
Manifestasi klinis berupa fisura pada jari, terutama pada sela jari kaki ke-4 dan ke-5,
basah dan maserasi disertai bau yang tidak sedap.

II.6.3 Tipe Subakut


Lesi intertriginosa berupa vesikel atau pustula. Dapat sampai ke punggung kaki dan
tumit dengan eksudat yang jernih, kecuali jika mengalami infeksi sekunder. Proses subakut
dapat diikuti selulitis, lumfangitis dan erisipelas.

II.6.4 Tipe Akut


Gambaran lesi akut, eritema, edema dan berbau. Lebih sering menyerang pria. Kondisi
hiperhidrosis dan maserasi pada kaki, stats vaskular, dan bentuk sepatu yang kurang baik
merupakan faktor predisposisi mengalami infeksi.

II.6.5 Tipe Interdigitalis


Terdapat fisura yang dilingkari sisik halus dan tipis di antara jari IV dan V kaki.
Kelainan ini dapat meluas ke bawah jari dan juga ke sela jari yang lain.

II.6.6 Tipe Moccasin Foot


Pada seluruh kaki dari telapak hingga ke sisi kaki didapatkan kulit yang menebal dan
bersisik, biasanya didapatkan eritema pada tepi lesi. Di bagian tepi lesi bisa juga didapatkan
papul atau vesikel.

II.7 Penegakan Diagnosis


Diagnosis dari tinea pedis biasanya dilakukan secara klinikal dan berdasarkan penilaian
dari daerah yang terinfeksi. Diagnosis yang digunakan biasanya dengan kerokan kulit untuk
preparat KOH, skin biopsy atau kultur dari daerah yang terinfeksi.

II.7.1 KOH
Hasil preparat KOH biasanya positif di beberapa kasus dengan maserasi pada kulit.
Pada pemeriksaan mikroskop KOH dapat ditemukan hifa septate atau bercabang, arthrospora,
atau dalam beberapa kasus budding cell menandakan terdapat infeksi jamur.

8
II.7.2 Kultur
Kultur dari tinea pedis yang dicurigai dilakukan SDA (Sabourauds Dextrose Agar) pH
5,6 dari media ini dapat menghambat banyak spesies bakteri dan dapat dibuat lebih selektif
dengan penambahan kloramfenikol. Dermatophyte Test Medium (DTM) digunakan untuk
isolasi selektif dan mengenali jamur dermatofitosis yang memperlihatkan perubahan warna
dari oranye ke merah.

II.7.3 Periodic Acid Shift Test (Tes PAS)


PAS menunjukkan dinding polisakarida dari jamur yang terkait dengan kondisi ini dan
merupakan salah satu teknik yang paling banyak digunakan untuk mendeteksi glikoprotein.
Tes ini dilakukan dengan mengekspos jaringan dari berbagai substrat untuk serangkaian reaksi
reduksi-oksidasi dengan hasil akhir berupa perubahan warna membran menjadi permen apel
merah (candy apple red). Tidak seperti kultur pada SDA atau DTM, hasil tes PAS dapat selesai
sekitar 15 menit. PAS juga telah menjadi tes diagnostik yang paling dapat diandalkan untuk
tinea pedis dengan presentase keberhasilan 98,8% dan biaya paling efektif.

II.8 Diagnosis Banding


II.8.1 Dermatitis
Biasanya batasnya tidak jelas, bagian tepi tidak lebih aktif daripada bagian tengah.
Adanya vesikel-vesikel steril pada jari-jari kaki dan tangan dapat merupakan reaksi id, yaitu
akibat hasil reaksi antigen dengan zat anti pada tempat tersebut.

II.8.2 Kandidosis
Pemeriksaan seediaan langsung dengan larutan KOH dan pembiakan dapat menolong.
Infeksi sekunder dengan spesies Candida sering menyertai tinea pedis sehingga diperlukan
interpretasi yang bijaksana terhadap hasil-hasil pemeriksaan laboratorium.

II.8.3 Sifilis II
Ditemukan lesi berupa kemerahan dan basah, serta terdapat kondilomalata dan
pembesaran KGB menyeluruh.

II.9 Pengobatan
Secara umum penatalaksanaan tinea pedis didasari atas klasifikasi dan tipenya

9
Tipe Organisme Gejala Klinis Pengobatan
Penyebab
Moccasin Trichophyton Hiperkeratosis yang Antifungal topikaldisertai
rubrum difus, eritema dan dengan obat-obatan
retakan pada keratolitik asam salisilat,
Epidermophyton permukaan telapak urea dan asam laktat
floccosum kaki; pada umumnya untuk mengurangi
Scytalidium sifatnya kronik dan hiperkeratosis; dapat juga
hyalinum sulit disembuhkan; ditambahkan dengan
berhubungan dengan obat-obatan oral
S. dimidiatum defisiensi Cell
Mediated
Immunity(CMI)
Interdigital T. Tipe yang paling Obat-obatan topikal; bisa
mentagrophytes sering; eritema, krusta juga menggunakan obat-
dan maserasi yang obatan oral dan
(var. terjadi pada sela-sela pemberian antibiotik jika
interdigitale) jari kaki, terdapat infeksi bakteri;
T. rubrum kronik : ammonium
klorida hexahidrate 20
E. floccosum %
S. hyalinum
S. dimidiatum
Candida spp.
Inflamasi / T. Vesikel dan bula pada Obat-obatan topikal
Vesikobulosa mentagrophytes pertengahan kaki; biasanya cukup pada fase
berhubungan dengan akut, namun apabila
(var. reaksi dermatofit dalam keadaan berat
mentagrophytes) maka indikasi pemberian
glukokortikoid
Ulseratif T. rubrum Eksaserbasi pada Obat-obatan topikal;
daerah antibiotik digunakan
T. interdigital;Ulserasi apabila terdapat infeksi
mentagrophytes dan erosi; biasanya sekunder
E. floccosum terdapat infeksi
sekunder oleh bakteri;
biasanya terdapat pada
pasien
imunokompromais dan
pasien diabetes

10
BAB III
PEMBAHASAN

Diagnosis tinea pedis pada kasus ini dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
gambaran klinis yang dilakukan. Keluhan utama pasien dengan tinea pedis umumnya adalah
rasa gatal pada bagian yang terkena dan diikuti dengan perubahan warna kulit menjadi putih
dan menebal bahkan sampai seperti retak. Predileksi tinea pedis terdapat di antara jari IV dan
V kaki dan diikuti dengan sisik halus. Tinea pedis dapat diakibatkan karena lembabnya kaki
penderita sehingga menjadi tempat yang nyaman bagi jamur untuk berkembang biak.
Berdasarkan anamnesis yang dilakukan, pasien mengeluhkan gatal pada telapak
kakinya. Gatal tersebut sudah dirasakan sejak satu tahun yang lalu. Sebelumnya pasien sudah
rutin berobat ke Poli Kulit dan Kelamin RSMS karena penyakitnya. Keluhan yang dirasakan
sering kambuh-kambuhan dan akan muncul kembali jika obat yang diberikan telah habis.
Selain gatal, pasien juga mengeluhkan terasa nyeri dan perih terutama saat malam hari.
Pada pemeriksaan status dermatologis didapatkan likenifikasi dan skuama tebal di
telapak kaki hingga sisi dalam kaki disertai dengan fisura. Dari efloresensi pasien ini sesuai
dengan teori yang menyatakan adanya penebalan kulit yang diseertai sisik pada daerah yang
terkena (Djuanda, 2007).
Pada eritroderma, gejala dimulai dengan makula eritematosa meluas sampai seluruh
tubuh disertai dengan sensasi gatal dan panas di sekujur tubuh. Bercak eritem tersebut biasanya
mencapai keseluruhan permukaan tubuh dalam 12-48 jam tanpa disertai skuama. Selanjutnya
diikuti dengan timbulnya deskuamasi dalam 2-6 hari, seringkali dimulai dari daerah-daerah
lipatan pada kulit. Seluruh kulit tampak kemerahan, mengkilat dan mengelupas serta teraba
panas pada palpasi. Pada eritroderma yang disebabkan oleh erupsi obat biasanya timbul dalam
waktu singkat. Penderita merasa kulitnya gatal atau kadang-kadang terasa panas seperti
terbakar. Setelah eritroderma berangsung beberapa minggu, rambut kepala dan tubuh menjadi
rontok, kuku menjadi menebal dan kasar, namun pada kasus ini pasien tidak mengalami
kerontokan rambut yang berarti (Djuanda, 2007).

Pengobatan yang diberikan pada pasien ini adalah Ketokonazol tablet dan Loratadine
sebagai obat sistemik, serta Mikonazol cream sebagai obat topikal. Ketokonazol merupakan
fungistatik yang bekerja melalui inhibisi sintesis ergosterol dependen-sitokrom p450 yang
berperang dalam pembentukan membran sel. Ketokonazol memiliki hepatotksik sehigga tidak
dianjurkan sebagai terapi lini pertama. Obat topikal dalam sediaan krim diberikan pada pasien

11
untuk dioleskan tipis pada area yang gatal secara teratur sebanyak 2 kali sehari.
Mikonazol merupakan obat antifungal bekerja dengan mengubah permebilitas membran sel
fungi sehingga merusak sistem barier selektif yang berdampak pada ketidaksimbangan
komponen sel.

12
BAB IV
KESIMPULAN

1. Tinea Pedis adalah kelainan kulit yang ditandai dengan penebalan pada kulit kaki dan
biasanya disertai dengan skuama.
2. Berdasarkan etiologi, tinea pedis dapat disebabkan oleh Trichophyton rubrum,
Trichophyton mentagrophytes, dan Epidermophyton floccosum.
3. Diagnosis banding tinea pedis adalah dermatitis, kandidiosis, dan sifilis II
4. Pengobatan yang diberikan pada pasien terdiri dari pemberian Ketokonazol tablet dan
loratadine sebagai obat sistemik, serta Mikonazol cream, Asam Salisilat 3%, LCD 5%,
Vaselin alb 100 gr yang dioleskan sebagai obat topikal.

13
DAFTAR PUSTAKA

Bramono, K. Dermatofitosis. Jakarta: Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia-RSCM; 2010.

Djuanda, A. 2007. Dermatosis Eritroskuamosa.Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Jakarta:


FKUI. 198-200.

Katzung BG. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi 8. Jakarta: EGC.

Siregar, RS. 2002. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit Edisi Kedua. Jakarta: EGC. 17-20

14