Anda di halaman 1dari 9

Menjelaskan proses pengendalian, perencanaan, dan pelestarian SDA yang sesuai

karakteristik masing-masing kota/kabupaten (baik soft dan hard countermeasure, sebaiknya


dilengkapi dengan peraturan perundangan dan juga berita/kliping pendukung)

1. Soft Countermeasure

2. Hard Countermeasure

1. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Timor Tengah melakukan


konservasi dan pelestarian dengan cara reboisasi hutan.

Pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur juga menyurati seluruh Kepala


Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di kabupaten/kota untuk
melaporkan kekeringan saat ini. Terdapat juga enam kecamatan di Timor
Tengah Selatan yang menalami kekeringan yaitu Kotolin, Boking, Nunkolo,
Amanuban Selatan, Kolbano dan Kualin belum turun hujan, tetapi berbanding
sebaliknya di lima kecamatan Tobu, Molo Tengah, Molo Utara, Molo Selatan
dan Molo Barat kabupaten yang sama telah turun hujan pada bulan desember.
Untuk itu pemerintah melakukan konservasi dan pelestarian hutan baru
mencapai 4, 516 hektar atau hanya rata-rata setiap tahun hanya seluas 1% saja
sementara lahan kritis dan sangat kritis jumlahnya sangat luas.Untuk
mengatasi lahan kritis dibutuhkan dana rata-rata setiap hektar Rp 8.000.000,
bila dihitung lahan kritis dengan kebutuhan rata-rata setiap hektar maka
dibutuhkan dana sebesar Rp 7,5.000.000.000.000 lebih untuk kegiatan
reboisasi, dengan kemampuan yang sangat rendah maka dibutuhkan waktu
yang sangat lama untuk melakukan rehabilitasi terhadap lahan kritis di
Nusa tenggara Timur.
2. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Timor Tengah membangun
Bendungan Temef yang terletak di Desa Oenino Kabupaten Timor Tengah
Selatan.
Bendungan Temef terletak di Desa Oeninio Kecamatan Oenino Kabupaten
Timor Tengah Selatan. Sungai Temef merupakan salah satu anak sungai
Benanain yang setiap tahun mengalami banjir di dataran Malaka, Bendungan
ini diharapkan dapat mereduksi banjir selain dapat menambah areal irigasi
untuk intensifikasi 1.152 Ha dan eksteksifikasi 4.097 ha serta potensi PLTM
sebesar 2 x 1,1 MW


Kebijakan Pemerintah, Konservasi dan Pelestarian Hutan Provinsi NTT

https://www.qureta.com/post/kebijakan-pemerintah-konservasi-dan-pelestarian-hutan-
provinsi-ntt

Pada abad 21 ini pemanasan global semakin meningkat banyak hasil hutan yang diambil oleh
manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup. Persediaan air semakin sedikit dan kekeringan
terjadi dimana-mana akibat kebakaran dan penebangan liar yang dilakukan secara terus-
menerus tanpa mengetahui dampak dari kerusakan hutan tersebut.

Keadaan ini menimbulkan keprihatinan dari masyarakat untuk berpatisipasi dalam menjaga
dan melestarikan hutan di provinsi Nusa Tenggara Timur. Namun partisipasi dalam menjaga
dan melestarikan hutan bukanlah suatu hal mudah, mengapa demikian? Karena dibutuhkan
semangat dan kerja sama dari masyarakat dan pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur,
sehingga tercipta ekosistem hutan sejuk dan indah.

Di Indonesia hutan menjadi sangat penting bagi ekosistem yang ada di dalam hutan tersebut
khususnya hutan provinsi Nusa Tenggara Timur. Banyak dari hasil hutan tersebut yang
diambil untuk dimanfaatkan sebagai kebutuhan sehari-hari contohnya hasil dari hutan seperti
kayu yang diambil untuk pembuatan bahan bangunan, obat tradisional dan lain-lain.
Adanya penebangan dan pembakaran hutan secara liar yang dilakukan secara berlebihan
untuk pembukaan sistim pertanian dan pembangunan modern tanpa melihat dan mengetahui
dampaknya yang menyebabkan ekosistem dan habitat di dalam hutan menjadi tidak
seimbang.

Seperti deketahui bahwa pada tahun 2011 kerusakan hutan di provinsi Nusa Tenggara Timur
mencapai 15.163,65 hektar dari potensi hutan dan lahan seluas 2.109.496,76 hektar, dari luas
daratan Nusa Tenggara Timur yang mencapai 47.349,9 km persegi, dari total tersebut hutan
dalam kawasan hutan mencapai 661.680,74 hektar dan di luar kawasan hutan seluas
1.447.816,02 hektare.

Penebangan dan kebakaran hutan yang terjadi di Nusa Tenggara Timur menyebabkan adanya
pemanasan global. Kekeringan pun terjadi disebagian wilayah kabupaten Nusa Tenggara
Timur, sebagian besar petani di kabupaten Nusa Tenggara Timur belum bisa menanam
karena kekurangan air seperti belum adanya hujan yang turun. Hal ini terjadi di salah satu
desa Boentuka, kecamatan Batu Putih, kabupaten TTS (Timor Tengah Selatan) provinsi Nusa
Tenggara Timur.

Pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur memperpanjang masa darurat bencana kekeringan
dari batas akhir 31 Desember 2015 menjadi 31 Januari 2016. Pemerintah provinsi Nusa
Tenggara Timur juga menyurati seluruh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) di kabupaten/kota untuk melaporkan kekeringan saat ini.

Terdapat juga ada enam kecamatan di Timor Tengah Selatan yang menalami kekeringan
yaitu Kotolin, Boking, Nunkolo, Amanuban Selatan, Kolbano dan Kualin belum turun hujan,
tetapi berbanding sebaliknya di lima kecamatan Tobu, Molo Tengah, Molo Utara, Molo
Selatan dan Molo Barat kabupaten yang sama telah turun hujan pada bulan desember.

Petani di lima kecamatan tersebut sudah bisa menanam jagung dan padi gogo. Tanaman
tersebut sudah lumayan tinggi akan tetapi belum deketahui secara pasti apakah hujan akan
turun selama tanaman berproduksi atau terjadi kekeringan sebelum tanaman dipanen?
Pemerintah nusa tenggara timur memperpanjang masa darurat bencana kekeringan mulai
Oktober 31 Desember 2015 sampai 31 januari 2016.

Jika 31 januari 2016 sebagian besar daerah di Nusa Tengara Timur belum hujan masa darurat
bencana kekeringan diperpanjang satu bulan lagi, ini berarti peluang terjadinya hujan di Nusa
Tenggara Timur sudah sangat kecil.

Tahun 2015 kekeringan terjadi di 318 desa, sementara tahun ini belum diketahui. Jika ada
data resmi dari pemerintah provinsi bisa mengambil keputusan, bagaimana cara
menanggulangi persoalan itu. Jika kekeringan terjadi berlarut-larut, beras cadangan bencana
harus dibagikan kepada keluarga yang kesulitan pangan. Akibat hujan tak kunjung turun,
petani tak bisa menanam ubi, jagung, dan padi gogo untuk kebutuhan pangan.

Tahun 2016 pada bulan oktober sampai tahun 2017 bulan mei hujan turun hampir di sebagian
besar wilayah di provinsi Nusa Tenggara Timur maka pemerintah Nusa Tenggara Timur
melaksanakan kerja sama dengan masyarakat, Aliansi Jurnalis Independen Indonesia (AJI),
WWF Indonesia dan Aliansi Jurnalis Independen Kupang melakukan konservasi dan
pelestarian dengan cara melakukan rehabilitasi di kawasan hutan yang kritis.

Hal itu karena menurut sumber data yang diperoleh pada tahun 2013 lalu jumlah lahan kritis
di Nusa Tenggara Timur mencapai 830.999,88 hektar (17,15%), sementara potensi kritis 1,
237 juta lebih hektar (26,13%) dan lahan kritis 947. 763, 68 hektar (20,02%) sedangkan lahan
yang sangat kritis seluas 17. 985, 37 hektar (0,38%).

Maka dari itu kemampuan pemerintah untuk melakukan konservasi dan pelestarian hutan
baru mencapai 4, 516 hektar atau hanya rata-rata setiap tahun hanya seluas 1% saja sementara
lahan kritis dan sangat kritis jumlahnya sangat luas.

Untuk mengatasi lahan kritis dibutuhkan dana rata-rata setiap hektar Rp 8.000.000, bila
dihitung lahan kritis dengan kebutuhan rata-rata setiap hektar maka dibutuhkan dana sebesar
Rp 7,5.000.000.000.000 lebih untuk kegiatan reboisasi, dengan kemampuan yang sangat
rendah maka dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk melakukan rehabilitasi terhadap
lahan kritis di Nusa tenggara Timur.

Selain faktor alam seperti el nino, penebanagan dan pembakaran hutan yang dilakukan oleh
masyarakat ada juga empat penyebab tidak langsung deforestasi dan degradasi hutan yaitu
perencanaan tata ruang yang tidak efektif, masalah-masalah yang terkait dengan tenurial,
peneglolaan hutan yang belum efisien dan efektif penegakan hukum yan lemah disektor
kehutanan dan lahan.

Tata kelola hutan merupakan sistem yang bertumpuh pada tiga komponen utama yaitu
kerangka hukum, kebijakan dan kelembagaan. Proses pengambilan keputusan, implementasi,
penegakan dan kepatuhan yang ditopang dengan prinsip-prisip tata kelola yang baik,
sedangkan tata kelola kehutanan harus mengacu pada enam prinsip diantaranya transparansi,
partisipasi, akuntabilitas, kapasitas dan efisiensi.
Adapun sepuluh penyebab langsung dari kebakaran hutan yang mendasari terjadinya
kebakaran hutan diantaranya :

Pembersihan lahan.
Api merupakan alat yang murah dan efektif untuk membersihkan lahan dan disukai
oleh usaha-usaha skala besar yang ingin memberikan material kayu barkualitas untuk
dapat menanam tanaman industri seperti kayu jati dan cendana.
Kebakaran tak sengaja.
Kebakaran tak sengaja akibat api yang berkobar liar merupakan penyebab penting
kedua.
Api sebagai senjata.
Pembakaran menjadi penting di pedesaan Nusa Tenggara Timur para petani dan
masyarakat lokal yang merasa diperlukan tidak adil dengan hilangnya tanah mereka
yang diambil oleh perusahaan-perkebunan menggunakan api untuk mengklaim
kembali lahan mereka dan menghancurkan hasil-hasil perusahaan.
Mamperbaiki jalan masuk.
Penduduk setempat sering menyalakan api untuk membersihkan semak belukar untuk
memperbaiki jalan masuk untuk memanen sumber daya.
Kepemilikan lahan.
Kurangnya aturan formal mengenai siapa pemilik dan pengguna lahan?
Mengakibatkan peningkatan skala, keparahan, dan frenkuensi kebakaran di daerah-
daerah di Nusa Tenggara Timur.
Alokasi pemanfatan lahan
Hukum tradisional setempat seringkali tidak sesuai dengan sistem alokasi lahan
pemerintah.
Insentif ekonomi.
Insentif yang bertentangan dengan kesejahteraan hutan, seperti insentif yang diberikan
pada perusahaan-perusahaan yang merubah hutan produksi menjadi perkebunan,
mendorong peningkatan laju pembersihan lahan hutan.
Praktek-praktek kehutanan yang buruk.
Sisa-sisa kayu setelah pembalakan yang dibiarkan berserakan kawasan hutan menjadi
bahan bakar yang dapat mengobar api membakar hutan.
Perpidahan penduduk.
Api digunakan secara meluas meluas baik oleh transmigran maupun oleh aparat
berwenang dalam memb uka lahan hutan untuk pemukiman.
Kekurang cukupan pencegahan kebakaran.
Seringkali, bahkan terlalu sering tidak ada lembaga yang kompeten untuk mencegah
kebakaran secara tepat.

Sedangkan empat aspek yang ditimbulkan dari kebakaran hutan diantaranya:

Dampak terhadap sosial, budaya dan ekonomi.


Dampak terhadap ekologis dan kerusakan hutan.
Dampak terhadap hubungan antar daerah yang satu dengan yang lain.
Dampak terhadap perhubungan dan pariwisata.
Dampak kebakaran hutan terhadap kesehatan dan lingkungan dapat terjdi secara luas
diantaranya kerusakan ekologi, menurunya keanekaragaman hayati dan ekosistemnya, serta
penurunan kualitas udara.

Dampak kebakaran pada aspek kesehatan di antaranya penurunan kualitas lingkungan hidup
(kesuburan lahan, biodiversitas, pencemaran udara yang menimbulkan debu dengan ukuran
partikel kecil (PM10 dan PM2,5), gas Sox, NOx, Sox dan lain-lain dapat menimbulkan
dampak negatif bagi kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan, sesak napas, iritasi kulit,
menimbulkan gangguan jarak pandang.

Juga penglihatan dan sebagai) emisi gas rumah kaca yang selanjutnya menimbulkan
pemanasan global dan perubahan iklim.

Adanya masalah-masalah pada kerusakan pada hutan maka pemerintah membuat kebijakan
tentang peraturan perlindungan terhadap kawasan hutan tentang peraturan negara lingkungan
hidup, nomor 29 tahun 2009 tentang pedoman konservasi keanekaragaman hayati di daerah
menteri negara lingkungan hidup, peraturan daerah provinsi Nusa Tengagara Timur nomer 5
tahun 2008 tentang pengelolaan daerah aliran sungai terpadu.

Peraturan pemerintah nomer 28 tahun 1985 tentang perlindungan hutan, peraturan pemerintah
nomer 68 tahun 1998 tentang kawasan suaka alam dan kawasan pelastarian alam serta
perauran pemerintah daerah provinsi Nusa Tengara Timur nomor 3 tahun 2006 tentang
pengendalian lingkungan hidup.

Kebijakan peraturan pemerintah yang telah dibuat ini bukan hanya sekedar diketahui saja,
tetapi perlu dipahami juga dan ditaati peraturan tersebut. Seandainya kalau tidak adanya
peraturan tersebut maka pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab bisa merusak hutan dan
habitat yang ada didalamnya.

Perlu adanya komunikasi dan kerja sama antara kepolisian, pemerintah dan masyarakat
karena menjaga hutan merupakan tanggung jawab bersama, jika ada kerusakan pada hutan
jangan diam saja dan melihat salah satu ekosistem di dalam hutan terganggu, perlu tindakan
karena kalau hanya bicara saja tanpa tindakan maka sama saja tidak menghasilkan perubahan
untuk melestarikan.

Hutan sebagai aset paru-paru provinsi Nusa Tenggara Timur dengan adanya kesadaran dan
kepedulian untuk menjaga kelestarian hutan sebagai contoh kepada sikap kita peduli terhadap
pelestarian hutan. Kebijakan pemerintah dalam konservasi dan pelestariaan hutan sebagai
aset paru-paru provinsi Nusa Tenggara Timur dipantau konservasi tersebut setiap minggu,
sehingga kawasan hutan tetap terjaga dan tetap tertata dengan baik.
Dengan demikian pentingnya kebijakan pemerintah dalam konservasi dan pelestarian hutan
sebagai asset paru-paru provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan suatu pedoman terhadap
masyarakat agar menjaga kelestarian hutan, karena dengan menjaga kelestarian hutan kita
sudah menyelamatkan ekosistem hutan yang ada di dalamnya dan mendapatkan udara yang
bersih dan sehat dari pohon-pohon yang ada di hutan dan disekitar lingkungan rumah kita.

Berpatisipasi dalam membantu kebijakan pemerintah dalam konservasi dan pelestarian hutan
tetapi dalam hal berpatisipasi bukan hanya teori saja tetapi dibutuhkan kesadaran dan
tindakan nyata dari masyarakat.
NTT Akan Miliki Empat Bendungan Baru
Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: dok. Kementerian PUPR

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3435735/ntt-akan-miliki-empat-bendungan-baru

Jakarta - Dalam rangka mewujudkan Nawa Cita yakni membangun dari pinggiran serta
pemerataan pembangunan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat saat ini
tengah menyelesaikan tiga bendungan baru dan tahun ini akan ada satu bendungan lagi yang
akan dibangun di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Disamping bendungan, juga telah dibangun
infrastruktur strategis lainnya, yakni tiga Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Indonesia-Timor
Leste yang berada di Wini, Motaain dan Motamasin termasuk pengembangan permukiman di
sekitar perbatasan.

Untuk mendukung konektivitas, telah dibangun jalan perbatasan yang dikenal dengan istilah
Sabuk Merah Sektor Timur dengan total panjang 176,19 km dimana tahun 2016 sudah
berhasil tembus 48,19 Km, tahun ini akan ditambah 104 Km dan sisanya akan selesai tahun
2018.Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal sebagai provinsi yang sering mengalami
kesulitan air untuk memenuhi kebutuhan permukiman perkotaan, peternakan dan pertanian.
Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat di NTT.
Foto: dok. Kementerian PUPR

Persiapan Pembangunan Bendungan Temef


Pada tahun 2017, rencananya juga akan dimulai pembangunan Bendungan Temef di
Kabupaten Timor Tengah Selatan, yang akan menjadi bendungan terbesar di NTT dengan
daya tampung sebesar 81,15 juta meter kubik untuk memenuhi kebutuhan jaringan irigasi
seluas 6.000 hektar dan kebutuhan air baku sebesar 0,13 meter kubik per detik serta
menghasilkan listrik sebesar 2,8 megawatt (MW).

"Di masa mendatang diharapkan NTT tidak lagi mengalami kekeringan. Selama ini,
masyarakat memenuhi sebagian besar kebutuhan air dari sumur bor yang dikelola oleh
PDAM dengan menggunakan mesin pompa. Bahkan di kawasan pedesaan sebagian besar
masyarakat belum terjangkau oleh sistem perpipaan, sehingga harus mengambil air dari
sumbernya yang cukup jauh," ujar Menteri PUPR Basuki Hadimuljono beberapa waktu lalu.

Sementara itu Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemie Francis dalam kunjungan kerjanya di
Provinsi NTT, Rabu (1/3) mengatakan pentingnya percepatan pembebasan lahan agar proyek
pembangunan Bendungan Temef tak terhambat. Untuk itu Pemerintah Kabupaten Timor
Tengah Selatan perlu melakukan langkah-langkah dan kordinasi dengan instansi terkait
pembebasan lahan. (dna/dna)