Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang
Tubuh manusia merupakan suatu unit yang kompleks tersusun dari bermiliaran sel yang
bergabung memberntuk jaringan, organ sistem organ yang memiliki anatomi dan fisiologi. Salah
satu sistem tersebut adalah sisitem muskuloskletal. Sistem muskulo skeletal adalah sistem yang
berfungsi dalam pergerakan manusia, terdiri dari muskulo(otot) dan skeletal (tulang). Sistem
muskulo atau otot adalah organ yang merupakan alat gerak aktif manusia yang bersama tulang-
tulang (sistem skeletal) sebagai alat gerak pasif, bekerja bersama-sama dalam menopang tubuh,
menciptakan gerakan dan sebagai tempat metabolisme zat yang diperlukan tubuh seperti darah
dan metabolisme karbohidrat. Perlunya pengetahuan akan sistem muskuloskeletal bagi
mahasiswa perawat baik dari anatomi, fisiologi, serta biokimia dari sistem muskulo skeletal agar
dapat mengetahui keadaan patologis serta memberikan asuhan keperawatan dengan tepat pada
klien nantinya.
B.

Rumusan Masalah
1.

Bagaimana Proses Pembentukan Tulang termasuk hormonnya? 2.

Bagaimana struktur dan fungsi SSP terhadap musculoskeletal? 3.

Bagaimana struktur dan dudunan saraf perifer? 4.

Bagaimana struktur dan fungsi sinaps? 5.

Bagaimana struktur otot? 6.

Bagaimana mekanisme kontraksi otot? 7.

Bagaimana lintasan dan mekanisme reflex,impuls saraf, sinaps, dan neurotransmitter?

C.

Tujuan
1.

Untuk mengetahui bagaimana anatomi sistem muskuloskeletal 2.

Untuk mengetahui bagaimana fisiologi dari sistem muskuloskeletal 3.

Untuk mengetahui bagaimana anatomi sistem skeletal 4.

Untuk mengetahui bagaimana fisiologi sistem skeletal 5.


Untuk mengetahui bagaimana bodi mekanikal dari sistem muskuloskeletal.
D.

Manfaat
Untuk memberikan informasi mengenai fisiologi musculoskeletal dan menambah pengetahuan
penulis.

BAB II FISIOLOGI SISTEM MUSKULOSKELETAL A.

Proses Pembentukan Tulang dan Hormon


Komponen yang menjadi pondasi dasar tubuh manusia agar dapat memiliki kekuatan dan dapat
berdiri tegak adalah tulang, maka dari itu kita perlu menjaga tulang anda agar proses dan
pembentukan nya berjalan lancar. Proses penulangan atau proses pembentukan tulang bisa di
sebut Osifikasi. Tulang yang terbentuk pertama kali adalah tulang rawan (kartilago) yang berasal
dari jaringan masenkin (jaringan embrional). Segera setelah tulang rawan (kartilago) tersebut
berbentuk, di dalam nya akan berongga dan berisi sel-sel pembentuk tulang. Sel-sel pembentuk
tulang menempati jaringan pengikat sekelilingnya dan membentuk sel-sel tulang pula.setiap
satuan-satuan sel-sel tulang ini melingkari suatu pembuluh darah dan saraf, membentuk saluran
yang disebut havers. Pada setiap kelompok lapisan terdapat sel tulang yang berada pada tempat
yang disebut lakuna. Pada saluran Havers terdapat pembuluh darah yang berhubungan dengan
pembuluh daran dan periosteum, yang bertugas memberikan zat makanan ke bagian-bagian
tulang. Sekeliling sel-sel tulang ini terbentuk senyawa protein yang akan menjadi matriks tulang.
Kelak ke dalam senyawa protein ini terdapat pula zat kapur (kalsium) dan fosfor, sehingga
matriks tulang akan mengeras. Makin keras suatu tulang, makin berkurang pula zat perekatnya.
Bahkan pada tulang pipa yang keras sel-sel tulangnya telah mati sehingga yang tampak hanyalah
lakunanya saja. Untuk lebih jelasnya berikut proses pembentukan tulang : 1.

Tulang rawan pada embrio mengandung banyak osteoblas, terutama pada bagian tengah epifisis
dan bagian tengah diafisis, serta pada jaringan ikat pembungkus tulang rawan. 2.

Osteosit terbentuk dari osteoblas, tersusun melingkar membentuk sistem Havers. Di tengah
sistem Havers terdapat saluran Havers yang banyak mengandung pembuluh darah dan serabut
saraf.

3.

Osteosit mensekresikan zat protein yang akan menjadi matriks tulang. Setelah mendapat
tambahan senyawa kalsium dan fosfat tulang akan mengeras. 4.

Selama terjadi penulangan, bagian epifisis dan diafisis membentuk daerah antara yang tidak
mengalami pengerasan, disebut cakraepifisis. Bagian ini berupa tulang rawan yang mengandung
banyak osteoblas. 5.
Bagian cakraepifisis terus mengalami penulangan. Penulangan bagian ini menyebabkan tulang
memanjang. 6.

Di bagian tengah tulang pipa terdapat osteoblas yang merusak tulang sehingga tulang menjadi
berongga kemudian rongga tersebut terisi oleh sumsum tulang. Sel-sel yang bertanggung jawab
atas metabolisme tulang dikenal sebagai osteoblast, yang mensekresikan tulang baru dan
osteoklas yang memecahkan tulang. Struktur tulang serta suplai kalsium memerlukan kerjasama
erat antara kedua jenis sel. Hal ini bergantung pada jalur sinyal kompleks untuk mencapai tingkat
pertumbuhan dan diferensiasi yang tepat. Jalur sinyal ini termasuk tindakan beberapa hormon,
termasuk hormon paratiroid (PTH), vitamin D, hormon pertumbuhan, steroid, dan kalsitonin,
serta beberapa sitokin. Dengan cara ini tubuh dapat mempertahankan tingkat kalsium yang tepat
yang diperlukan untuk proses fisiologis.
5

B.

Struktur dan Fungsi SSP terhadap Muskuloskeletal


Struktur system saraf pusat
Sistem saraf pusat terdiri atas otak dan medula spinalis. SSP dibungkus oleh selaput meningen
yang berfungsi untuk melindungi otak dan medula spinalis dari benturan atau trauma. Meningen
terdiri atas tiga lapisan yaitu durameter, arachnoid dan piamater. 1.

Rongga Epidural Berada diantara tulang tengkorak dan durameter. Rongga ini berisi pembuluh
darah dan jaringan lemak yang berfungsi sebagai bantalan. Bila cidera mencapai lokasi ini akan
menyebabkan perdarahan yang hebat oleh karena pada lokasi ini banyak pembuluh darah
sehingga mengakibatkan perdarahan epidural. 2.
Rongga Subdural Berada diantara durameter dan arachnoid, rongga ini berisi berisi cairan serosa.

3.

Rongga Sub Arachnoid Terdapat diantara arachnoid dan piameter. Berisi cairan cerebrospinalis
yang salah satu fungsinya adalah menyerap guncangan atau shock absorber. Cedera yang berat
disertai perdarahan dan memasuki ruang sub arachnoid yang akan menambah volume CSF
sehingga dapat menyebabkan kematian sebagai akibat peningkatan tekanan intra kranial (TIK).
Fungsi system saraf pusat
Sistem saraf pusat pada dasarnya adalah unit pengolahan sistem saraf kita, di mana semua
informasi dari sistem saraf perifer dikumpulkan dan diproses. Bersama-sama, otak dan sumsum
mengendalikan berbagai fungsi fisiologis dan psikologis tulang belakang tubuh kita, termasuk
gerakan, sensasi, pikiran, memori, dan berbicara.
C.

Struktur dan susunan Saraf Perifer (Tepi)


Sistem saraf terdiri dari dua bagian utama

sistem saraf pusat dan Sistem Saraf Perifer. Sedangkan sistem saraf pusat memungkinkan kita
untuk berpikir, alasan, belajar dan menjaga keseimbangan, Sistem Saraf Perifer membantu kita
untuk melaksanakan tindakan sengaja dan tidak sengaja, dan juga merasakan melalui indera kita.
Sistem saraf adalah sistem master yang mengontrol fungsi semua sistem yang berbeda dari tubuh
manusia. Hal ini terdiri dari sel yang disebut neuron yang menghasilkan dan melakukan impuls
(pesan) antara berbagai bagian tubuh. Ini terdiri dari otak, sumsum tulang belakang dan saraf.
Sementara otak dan sumsum tulang belakang membentuk sistem saraf pusat (SSP), sistem saraf
perifer mencakup semua saraf di luar SSP. Otak dilindungi oleh tengkorak dan saraf tulang
belakang tertutup dalam tulang belakang tulang. Namun, Sistem Saraf Perifer tidak memiliki
pelindung tersebut, sehingga rentan terhadap cedera mekanik.

Komponen
Berdasarkan lokasi saraf, sistem saraf perifer terdiri dari saraf berikut: 31 pasang saraf spinal
yang menghubungkan sumsum tulang belakang dengan seluruh tubuh. 12 pasang saraf kranial
yang menghubungkan otak dengan organ-organ vital tubuh. Atas dasar fungsi saraf, sistem saraf
perifer terdiri dari saraf berikut:
saraf Somatik
yang membawa informasi sensori dari kulit dan otot, dan perintah motorik ke otot rangka.
Saraf otonom
yang membawa sinyal antara SSP dan otot-otot halus, kelenjar, otot jantung dan organ internal.
Fungsi
Saraf sistem saraf perifer menghubungkan SSP ke otot, kelenjar, pembuluh darah dan semua
organ tubuh termasuk organ-organ indera. Fungsi dari sistem saraf adalah untuk membawa pesan
dari otak ke seluruh bagian tubuh yang lain, dan kembali dari bagian- bagian ini ke otak dan
sumsum tulang belakang.
D.

Struktur dan Fungsi Sinapsis


Sinapsis adalah titik temu antara terminal akson salah satu neuron dengan neuron lain. Sinapsis
dibentuk oleh terminal akson yang membengkak. Di dalam sitoplasma sinapsis, terdapat vesikula
sinapsis. Ketika impuls mencapai ujung neuron, vesikula akan bergerak, lalu melebur dengan
membran pra-sinapsis dan melepaskan asetilkolin. Asetilkolin berdifusi melalui celah sinapsis,
lalu menempel pada reseptor di membran pasca-sinapsis. Penempelan asetilkolin pada reseptor
menimbulkan impuls pada sel saraf berikutnya. Enzim asetilkolinesterase menguraikan
asetilkolin yang tugasnya sudah selesai. Pada setiap bagian otak, terdapat jutaan neuron yang
saling terhubung lewat sinapsis. Anak-anak memiliki sekitar 1016 sinapsis (10 quadrillion).
Jumlah ini berkurang seiring bertambahnya usia. Orang dewasa memiliki 1015 sampai 5 1015
(1-5 quadrillion) sinapsis.
E.

Struktur Otot
System muscular (otot) terdiri dari sejumlah besar otot yang bertanggung jawab atas gerakan
tubuh. Otot-tot volunteer melekat pada tulang, tulang rawan, ligament, kulit atau otot lain
melalui struktur vibrosa yang di sebut tendon dan aponeurosis. Serabut-serabut otot volunteer,
bersama selubung sarkulema, masing masing tergabung dalam kumparan oleh endomisium dan
di bungkus oleh perimisium. Kelompok serabut tersebut (vasikulus) di gabungkan oleh selubung
yang lebih padat, yang di sebut epimisium dan gabungan vasikulus ini membentuk otot volunteer
badan individual. Semua otot memiliki suplay darah yang baik dari arteri-arteri di dekatnya.
Arteriol pada perimisium member

cabang kapiler yang berjalan dalam endomisium dan melintasi serabut-serabut. Pembuluh darah
dan saraf memasuki otot bersama-sama di daerah hilum. Kebanyakan otot mempunyai tendon
pada salah satu atau ke dua ujungnya. Tendon terdiri dari jaringan vibrosa dan biasanya
berbentuk seperti tali (cord), meskipun pada beberapa otot yang pipih tali tersebut di gantikan
oleh suatu lembaran vibrosa kuat yang di sebut aponeurosis. Jaringan vibrosa juga membentuk
lapisan pelindung atau selubung otot, yang di kenal sebagai vasia. Bila satu otot menempel pada
otot lain, serabut-serabut otot ini bisa saling memilih (interlace), perimicium otot yang satu
bersatu dengan perimicium otot yang lain, atau ke duanya bisa menggunakan tendon yang sama.
Jenis hubungan yang ke tiga terdapat pada otot-otot dinding abdomen, di mana serabut-serabut
aponeurosis saling menyilang, membentuk linea alba yang dapat terlihat sebagai cekungan
dangkal di atas umbilicus.
F.

Mekanisme Kontraksi Otot


Otot terbagi kepada 3 yaitu otot lurik (rangka), otot polos dan otot jantung. Otot adalah
sebuah jaringan konektif dalam tubuh yang tugas utamanya kontraksi. Kontraksi otot digunakan
untuk memindahkan bagian-bagian tubuh & substansi dalam tubuh. Otot lurik terdiri dari sel- sel
yang dilindungi oleh membrane yang dirangsang listrik yang disebut sarkolema. Sel serabut otot
terdiri dari myofibril. Unit serat otot yang dapat berfungsi adalah sarkomer.

Mekanisme kerja otot pada dasarnya melibatkan suatu perubahan dalam keadaan yang relatif dari
filamenfilamen aktin dan myosin. Selama kontraksi otot, filamen-filamen tipis aktin terikat pada
dua garis yang bergerak ke Pita A, meskipun filamen tersebut tidak bertambah banyak.Namun,
gerakan pergeseran itu mengakibatkan perubahan dalam penampilan sarkomer, yaitu
penghapusan sebagian atau seluruhnya garis H. selain itu filamen myosin letaknya menjadi
sangat dekat dengan garis-garis Z dan pita-pita A serta lebar sarkomer menjadi berkurang
sehingga kontraksi terjadi. Kontraksi berlangsung pada interaksi antara aktin miosin untuk
membentuk komplek aktin-miosin.
G.

Lintasan dan Mekanisme Refleks


Bila menggunakan pewarnaan hematoksilin besi (Heidenheia). Inilah yang memberikan aspek
bergaris melintang baik pada otot kerangka maupun otot jantung. Garis melintang ini dapat
diamati pada: 1.

Otot kerangka yang masih hidup 2.

Otot segar tanpa menggunakan pewarnaan 3.


Otot setelah mengalami fiksasi dan di warnai Pada satu serabut otot kerangka terdapat ribuan
myofibril, sedangkan tiap myofibril memiliki ratusan myofilamen yang bersifat submikroskopis.
Myofilamen terdiri dari 2 macam yaitu:

11

Filament Miosin
Sering disebut filament kasar (coarse filaments), berdiameter 100 Angstrom dan panjangnya 1,5
. Filamen ini membentuk daerah A atau cakram A. Filamen ini tersusun pararel dan berenang
bebas dalam matriks. Bagian tengah agak tebal dari bagian tepi. Fungsi dari myosin adalah
sebagai enzim katalisator yang berperanan memecah ATP menjadi ADP + energi, dan energi ini
digunakan untuk kontraksi. Gerak refleks adalah gerak yang dihasilkan oleh jalur saraf yang
paling sederhana. Jalur saraf ini dibentuk oleh sekuen neuron sensor,interneuron,dan neuron
motor,yang mngalirkan impuls saraf untuk tipe reflek tertentu.Gerak refleks yang paling
sederhana hanya memerlukan dua tipe sel sraf yaitu neuron sensor dan neuron motor. Gerak
refleks disebabkan oleh rangsangan tertentu yang biasanya mengejutkan dan menyakitkan.
Misalnya bila kaki menginjak paku,secara otomatis kita akan menarik kaki dan akan berteriak.
Refleks juga terjadi ketika kita membaui makanan enak , dengan keluarnya air liur tanpa
disadari. Brikut skema gerak refleks: Gerak refleks terjadi apabila rangsangan yang diterima oleh
saraf sensori langsung disampaikan oleh neuron perantara (neuron penghubung).Hal ini berbeda
sekali dengan ekanisme gerak biasa. Gerak biasa rangsangan akan diterimaleh saraf sensorik dan
kemudian disampaikan langsung ke ota. Dari otak kemudian dikeluarkan perintah ke saraf
motori sehingga terjadilah gerakan. Artinya pada gerak biasa gerakan itu diketahui atu dikontrol
oleh otak. Sehingga oleh sebab itu gerak biasa adalah gerak yang disadari.
H.

Impuls Saraf
Impuls saraf atau rangsang saraf adalah pesan saraf yang dialirkan sepanjang akson dalam
bentuk gelombang listrik. Bila sebuah saraf tidak menghantarkan impuls, maka serabut saraf
tersebut dalam keadaan istirahat. Salah satu sifat neuron yaitu permukaan luarnya bermuatan
positif, sedangkan bagian dalamnya bermuatan negatif. Bila neuron mendapat rangsangan, maka
akan terjadi perubahan muatan pada kedua permukaannya, yaitu permukaan luar bermuatan
negatif sedangkan bagian dalamnya bermuatan positif, keadaan ini disebut depolarisasi. Alur
impuls saraf adalah: 1.

Saraf dalam keadaan istirahat (tidak menghantarkan impuls), serabut saraf dalam keadaan
polarisasi yaitu permukaan membran luar bermuatan positif, sedangkan membran dalam
bermuatan negatif. 2.

Saraf dirangsang disuatu tempat tertentu sehingga terjadi depolarisasi, yaitu permukaan luar
bermuatan negatif, sedang permukaan dalam bermuatn positif. 3.

Antara daerah yang mengalami depolarisasi dengan daerah yang mengalami polarisasi timbul
aliran listrik. Aliran listrik ini disebut arus lokal. Adanya arus lokal menyebabkan depolarisasi
didaerah sebelahnya, kemudian diikuti arus lokal dan 4.

depolarisasi didaerah sebelahnya demikian seterusnya.


I.

Sinaps
Pada setiap neuron, terminal aksonnya membengkak membentuk suatu tonjolan kecil yang
disebut tombol sinapsis. Permukaan membran tombol sinapsis ini dinamakan membran
prasinapsis yang menghantarkan impuls dari terminal sinapsis menuju dendrit atau badan sel
berikutnya. Impuls tersebut akan diterima oleh permukaan membran dendrit atau badan sel yang
dituju. Membran yang demikian dinamakan membran pascasinapsis. Di antara kedua membran
ini dipisahkan oleh suatu celah yang disebut celah sinapsis.

13
Di dalam tombol sinapsis terdapat suatu zat kimia yang dapat menghantarkan impuls ke neuron
berikutnya. Zat yang demikian dinamakan neurotransmiter. Saat menghantarkan implus, dalam
sitoplasma neurotransmiter dibawa oleh banyak kantung dalam sitoplasma, yang disebut vesikula
sinapsis. Ada berbagai macam jenis neurotransmiter, contohnya asetilkolin, dopamine,
noradrenalin, dan serotonin. Asetilkolin berada pada seluruh sistem saraf; sementara noradrenalin
berada pada sistem saraf simpatik; sementara dopamine dan serotonin terdapat pada otak.
Asetilkolin dan noradrenalin merupakan salah dua neurotransmiter utama yang terdapat pada
mammalia.
1.

Penghantaran Impuls Melalui Sinaps

Rangsang yang merambat disebut impuls. Impuls diterima oleh reseptor kemudian akan
dihantarkan oleh dendrit menuju badan sel saraf. Saat impuls sampai pada akson, impuls akan
diteruskan ke dendrit neuron lain. Dalam sel saraf terjadi proses penghantaran impuls secara
konduksi. Apabila tidak adarangsang maka sel saraf disebut dalam keadaan istirahat. Dalam
keadaan ini saraf tidak menghantarkan impuls. Membran luar sel saraf bermuatan positif karena
kelebihan kation atom Na
+
. Membran dalam sel saraf bermuatan negatif karena banyak ion K
+
yang keluar akson. Keadaan seperti ini disebut polarisasi. Terjadinya kondisi demikian karena
peran pompa Na

K dan sifat membran akson yang lebih permeabel terhadap K+ dan kurang permeabel terhadap
Na
+
. Na
+
dipompa ke luar. K
+
dipompa ke dalam karena sifat membran akson yang permeabel terhadap K, maka K
+
dapat keluar lagi.
2. Mekanisme Kerja Sinapsis
Apabila impuls sampai pada tombol sinapsis, segera neuron mengirimkan neurotransmiter.
Selanjutnya, neurotransmiter dibawa oleh vesikula sinapsis menuju membran prasinapsis.
Kedatangan impuls tersebut membuat permeabilitas membran prasinapsis terhadap ion Ca2+
meningkat (terjadi depolarisasi). Sehingga, ion Ca2+ masuk dan merangsang vesikula sinapsis
untuk menyatu dengan membran prasinapsis. Bersama kejadian tersebut, neurotransmiter
dilepaskan ke dalam celah sinapsis melalui eksositosis. Dari celah sinapsis, neurotransmiter ini
berdifusi menuju membran pascasinapsis. Setelah impuls dikirim, membran pascasinapsis akan
mengeluarkan enzim untuk menghidrolisis neurotransmiter. Enzim tersebut misalnya senzim
asetilkolineterase yang menghidrolisis asetilkolin menjadi kolin dan asam etanoat. Oleh vesikula
sinapsis, hasil hidrolisis (kolin dan asam etanoat) akan disimpan sehingga sewaktu-waktu bisa
digunakan kembali.

J.

Neurotransmitter
Neurotransmitter merupakan zat kimia yang disintesa oleh sel syaraf, disimpan dalam vesikel
sekretorik dan dilepaskan ketika ion kalsium membanjiri vesikel. Efek neurotransmitter thd sel
syaraf post sinaps bisa eksitasi atau inhibisi. contoh transmitter diantaranya adalah Asetil kolin,
GABA (Gamma-aminobutyric acid), Glutamat, aspartat, Glycin, Dopamin, Histamin, NE,
Seratonin, Somatostatin, Endoprin, Enkephalin, Subtansi P.
K.

Refleks
Refleks merupakan cara tubuh kita untuk menjaga dan melindungi diri dengan cepat dan aman.
Gerak ini terjadi pada bagian tubuh yang terlibat, sehingga bagian tubuh tersebut bergerak secara
otomatis. Perhatikan Gambar 1. Refleks sentakan lutut misalnya, merupakan respons sederhana.
Satu ketukan pada lutut akan menyebabkan tarikan pada tendon yang berkaitan dengan otot paha
(otot kuadrisep). Akibatnya, kaki bagian bawah ikut tertarik. Reseptor regangan yang merupakan
reseptor sensorik menerima tarikan itu. Kemudian, reseptor sensorik mengirimkan informasi ke
sinapsis dengan neuron motorik pada sumsum tulang belakang. Selanjutnya, neuron motorik
mengirimkan impuls / sinyal menuju otot kuadrisep untuk berkontraksi. Kontraksi ini
menyebabkan kaki bagian bawah tersentak ke arah depan. (Baca juga : Sistem Saraf pada
Manusia) Gambar 1. Gerak refleks pada lutut saat dipukul Sebenarnya, sentakan lutut hanya
melibatkan dua neuron, yakni neuron sensorik dan neuron motorik. Namun, neuron sensorik
pada kuadrisep berkomunikasi pula dengan interneuron pada sumsum tulang belakang.
Interneuron ini menghambat neuron motorik yang mengirimkan sinyal ke otot fleksor (otot kaki
yang berbeda), sehingga otot tersebut

16

tidak berkontraksi. Secara sederhana, mekanisme penghantaran sinyal/impuls pada gerak refleks
dapat kalian lihat pada skema berikut. Berdasarkan tempat konektornya, refleks dibedakan
menjadi dua yaitu refleks spinalis dan refleks kranialis. a.
Refleks tulang belakang
(
refleks spinalis
) yaitu jika konektor terdapat di sumsum tulang belakang. Contoh: gerakan menarik tangan saat
menyentuh benda panas atau kaki terkena duri. b.
Refleks otak
(
refleks kranialis
) yaitu jika konektornya terdapat di otak. Contoh: gerakan mata terpejam karena kilat.
Rangsangan

reseptor

neuron sensorik

sumsum tulang belakang

neuron motorik

efektor

17

BAB III PENUTUP A.

Kesimpulan
Jadi kesimpulan yang dapat kami ambil dari pembahasan diatas system musculoskeletal berasal
dari kata muskulo (otot) adalah organ yang merupakan alat gerak aktif manusia yang bersama
tulang-tulang (sistem skeletal) sebagai alat gerak pasif, bekerja bersama-sama dalam menopang
tubuh, menciptakan gerakan dan sebagai tempat metabolisme zat yang diperlukan tubuh seperti
darah dan metabolisme karbohidrat.
B.

Saran
Sebaiknya para mahasiswa memiliki rasa antusias yang tinggi untuk menambah wawasannya
dengan cara misalnya membaca makalah-makalah yang berhubungan dengan apa yang dibahas
dan memenfaatkan fasilitas yang disediakan oleh kampus dengan optimal.

18

DAFTAR PUSTAKA
Corwin, Elizabeth, J. 2009.
Patologi Buku Saku
. Jakarta: EGC Ganong, William F. 2009.
Buku Ajar Fisiologi Kedokteran
.Jakarta: EGC Sloane, Ethel. 2003.
Anatomi Fisiologi untuk Pemula
. Jakarta: EGC Suratun, dkk. 2006.
Klien gangguan Sistem Muskulo Skeletal Seri Asuhan Keperawatan
. Jakarta: EGC

Similar to fisiologi muskuloskeletal