Anda di halaman 1dari 44

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

DENGAN HIPERTENSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah

Keperawatan Keluarga

Disusun oleh:

IRMA YUSANTI NPM 220110120179

MULYATI K NPM 220110120229

NIA AISYAH NPM 220110120230

RATIH FATHMA NPM 220110120197

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

BANDUNG

2013

0
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hipertensi menjadi sesuatu yang menakutkan bagi sebagian besar penduduk
dunia termasuk Indonesia. Hal ini karena secara statistik jumlah penderita yang terus
meningkat dari waktu ke waktu. Berbagai faktor yang berperan dalam hal ini salah
satunya adalah gaya hidup modern. Pemilihan makanan yang berlemak, kebiasaan
aktifitas yang tidak sehat, merokok, minum kopi serta gaya hidup adalah beberapa
hal yang disinyalir sebagai faktor yang berperan terhadap hipertensi ini. Penyakit ini
dapat menjadi akibat dari gaya hidup modern serta dapat juga sebagai penyebab
berbagai penyakit non infeksi. Hal ini berarti juga menjadi indikator bergesernya dari
penyakit infeksi menuju penyakit non infeksi, yang terlihat dari urutan penyebab
kematian di Indoensia. Untuk lebih mengenal serta mengetahui penyakit ini, maka
kami akan membahas tentang hipertensi. Hipertensi didefinisikan sebagai
peningkatan darah sistolik lebih besar atau sama dengan 140 mmHg atau peningkatan
tekanan darah diastolik lebih besar atau sama dengan 90 mmHg (Anindya,2009).
Hipertensi menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma,
gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal. Tanpa melihat usia atau jenis
kelamin, semua orang bisa terkena hipertensi dan biasanya tanpa ada gejala-gejala
sebelumnya. Hipertensi juga dapat mengakibatkan kerusakan berbagai organ target
seperti otak, jantung,ginjal,aorta,pembulu darah perifer dan retina.
Oleh karena itu, negara Indonesia yang sedang membangun di segala bidang
perlu memperhatikan pendidikan kesehatan masyarakat untuk mencegah timbulnya
penyakit seperti hipertensi, kardiovaskuler, penyakit degeneratif dan lain-lain,
sehingga potensi bangsa dapat lebih dimanfaatkan untuk proses pembangunan.
Golongan umur 45 tahun ke atas memerlukan tindakan atau program pencegahan
yang terarah. Hipertensi perlu dideteksi dini yaitu dengan pemeriksaan tekanan darah

1
secara berkala, yang dapat dilakukan pada waktu check-up kesehatan atau saat
periksa ke dokter.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah definisi hipertensi ?
2. Apakah etiologi/ faktor pencetus hipertensi ?
3. Apakah manifestasi klinis hipertensi ?
4. Apakah pemeriksaan penunjang pada hipertensi ?
5. Bagaimana penatalaksanaan klien dengan hipertensi ?
6. Apa komplikasi dari hipertensi ?
7. Bagaimana asuhan keperawatan keluarga pada pasien dengan hipertensi ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan pengertian dan asuhan keperawatan keluarga pada klien dengan
gangguan hipertensi.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui dan memahami definisi hipertensi.
b. Mengetahui dan memahami etiologi/ faktor pencetus hipertensi.
c. Menyebutkan dan memahami manifestasi klinis hipertensi.
d. Mengetahui dan memahami pemeriksaan penunjang pada hipertensi.
e. Mengetahui dan memahami penatalaksanaan klien dengan hipertensi.
f. Mengetahui dan memahami komplikasi dari hipertensi.
g. Menjelaskan asuhan keperawatan keluarga pada pasien dengan hipertensi.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KONSEP KELUARGA

2.1.1 Pengertian Keluarga


Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan
adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan
meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota
keluarga (Duvall dan Logan, 1986 ).
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga
karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi
satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta
mempertahankan suatu budaya (Bailon dan Maglaya, 1978 ).
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah
satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Departemen Kesehatan RI,1988 ).
Dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah terdiri dari dua atau lebih
individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Anggota keluarga
biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan satu sama
lain, keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran
sosial (suami, istri, anak, kakak dan adik) dan mempunyai tujuan menciptakan dan
mempertahankan budaya, meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, dan sosial
anggota.

2.1.2 Tipe Keluarga


1. Tradisional :
a. The nuclear family (keluarga inti) : Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak.
b. The dyad family: keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup
bersama dalam satu rumah.

3
c. Keluarga usila: keluarga yang terdiri dari suami istri yang sudah tua dengan anak
sudah memisahkan diri.
d. The childless family: keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk
mendapatkan anak terlambat waktunya, yang disebabkan karena mengejar
karir/pendidikan yang terjadi pada wanita.
e. The extended family (keluarga luas/besar): keluarga yang terdiri dari tiga generasi
yang hidup bersama dalam satu rumah seperti nuclear family disertai : paman,
tante, orang tua (kakak-nenek), keponakan, dll).
f. The single-parent family (keluarga duda/janda): keluarga yang terdiri dari satu
orang tua (ayah dan ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya melalui proses
perceraian, kematian dan ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan).
g. Commuter family: kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu
kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang bekerja diluar kota bisa
berkumpul pada anggota keluarga pada saat akhir pekan (week-end).
h. Multigenerational family: keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur
yang tinggal bersama dalam satu rumah.
i. Kin-network : beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling
berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan pelayanan yang sama.
Misalnya : dapur, kamar mandi, televisi, telpon, dll).
j. Blended family: keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah
kembali dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya.
k. The single adult living alone / single-adult family: keluarga yang terdiri dari orang
dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau perpisahan (separasi), seperti :
perceraian atau ditinggal mati.
2. Non-Tradisional
a. The unmarried teenage mother : keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama
ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah.
b. The stepparent family : keluarga dengan orangtua tiri.
c. Commune family: beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada
hubungan saudara, yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas

4
yang sama, pengalaman yang sama, sosialisasi anak dengan melalui aktivitas
kelompok / membesarkan anak bersama.
d. The nonmarital heterosexual cohabiting family : keluarga yang hidup bersama
berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan.
e. Gay and lesbian families: seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup
bersama sebagaimana pasangan suami-istri (marital partners).
f. Cohabitating couple: orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan
karena beberapa alasan tertentu.
g. Group-marriage family : beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat
rumah tangga bersama, yang merasa telah saling menikah satu dengan yang
lainnya, berbagi sesuatu, termasuk sexual dan membesarkan anaknya.
h. Group network family : keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup
berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang-barang rumah tangga
bersama, pelayanan dan bertanggung jawab membesarkan anaknya.
i. Foster family: keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara
dalam waktu sementara, pada saat orangtua anak tersebut perlu mendapatkan
bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang aslinya.
j. Homeless family: keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang
permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan
atau problem kesehatan mental.
k. Gang: sebuah bentuk keluarga yang destruktif, dari orang-orang muda yang
mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian, tetapi
berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam kehidupannya.

2.1.3 Tahap-Tahap Kehidupan / Perkembangan Keluarga


Meskipun setiap keluarga melalui tahapan perkembangannya secara unik, namun
secara umum seluruh keluarga mengikuti pola yang sama (Friedman, 1998):
1. Pasangan baru (keluarga baru)

5
Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki dan perempuan
membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan (psikologis)
keluarga masing-masing :
a. Membina hubungan intim yang memuaskan
b. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, kelompok sosial
c. Mendiskusikan rencana memiliki anak
2. Keluarga child-bearing (kelahiran anak pertama)
Keluarga yang menantikan kelahiran, dimulai dari kehamilan samapi
kelahiran anak pertama dan berlanjut damapi anak pertama berusia 30 bulan :
a. Persiapan menjadi orang tua.
b. Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan sexual
dan kegiatan keluarga.
c. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.
3. Keluarga dengan anak pra-sekolah
Tahap ini dimulai saat kelahiran anak pertama (2,5 bulan) dan berakhir saat
anak berusia 5 tahun :
a. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga, seperti kebutuhan tempat tinggal, privasi
dan rasa aman.
b. Membantu anak untuk bersosialisasi.
c. Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain
juga harus terpenuhi.
d. Mempertahankan hubungan yang sehat, baik di dalam maupun di luar keluarga
(keluarga lain dan lingkungan sekitar).
e. Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap yang paling repot).
f. Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
g. Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang anak.
4. Keluarga dengan anak sekolah
Tahap ini dimulai saat anak masuk sekolah pada usia enam tahun dan berakhir
pada usia 12 tahun. Umumnya keluarga sudah mencapai jumlah anggota keluarga
maksimal, sehingga keluarga sangat sibuk :

6
a. Membantu sosialisasi anak : tetangga, sekolah dan lingkungan
b. Mempertahankan keintiman pasangan
c. Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk
kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga
5. Keluarga dengan anak remaja
Dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir
sampai 6-7 tahun kemudian, yaitu pada saat anak meninggalkan rumah orangtuanya.
Tujuan keluarga ini adalah melepas anak remaja dan memberi tanggung jawab serta
kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi lebih dewasa :
a. Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab, mengingat remaja
sudah bertambah dewasa dan meningkat otonominya
b. Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga
c. Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orangtua. Hindari
perdebatan, kecurigaan dan permusuhan
d. Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga
6. Keluarga dengan anak dewasa (pelepasan)
Tahap ini dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir
pada saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahap ini tergantung dari
jumlah anak dalam keluarga, atau jika ada anak yang belum berkeluarga dan tetap
tinggal bersama orang tua :
a. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar
b. Mempertahankan keintiman pasangan
c. Membantu orangtua suami/istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua
d. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat
e. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga
7. Keluarga usia pertengahan
Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah dan
berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal :
a. Mempertahankan kesehatan
b. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak-anak

7
c. Meningkatkan keakraban pasangan
8. Keluarga usia lanjut
Tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai pada saat salah satu
pasangan pensiun, berlanjut saat salah satu pasangan meninggal damapi keduanya
meninggal :
a. Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan
b. Adaptasi dengan peruabahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan
pendapatan
c. Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat
d. Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat
e. Melakukan life review (merenungkan hidupnya).

2.1.4 Keluarga Sebagai Unit Keperawatan

Alasan keluarga sebagai unit pelayanan (Friedman, 1998 ) adalah sebagai berikut:

1) Keluarga sebagai unit utama masyarakat dan merupakan lembaga yang


menyangkut kehidupan masyarakat.
2) Keluarga sebagai suatu dapat menimbulkan, mencegah, mengabaikan atau
memperbaiki masalah masalah dalam kelompoknya.
3) Masalah-masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan dan apabila salah
satu angota keluarganya mempunyai masalah kesehatan akan berpengaruh
terhadap anggota keluarga yang lain.
4) Dalam memelihara kesehatan anggota keluarga sebagai individu ( pasien )
keluarga tetap berperan sebagai pengambil keputusan dalam memelihara
kesehatan anggota keluarganya yang menderita hipertensi.
5) Keluarga merupakan perantara yang efektif dan mudah dalam upaya kesehatan
bagi anggota keluarga yang menderita sakit hipertensi.

2.1.5 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Sehat- Sakit

Faktor yang mempengaruhi status kesehatan individu dan keluarga menurut H. L


Bloom yaitu :

8
1) Faktor lingkungan

Faktor lingkungan yang dapat mencegah terjadinya penyakit hipertensi adalah


dengan cara menghindari adanya stres

2) Faktor sosial budaya

Faktor sosial budaya yang dapat mempengaruhi penyakit hipertensi adalah :

- Kebiasaan merokok

- Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung garam

- Pola diet tidak teratur

- Bila sakit tidak segera berobat

Status sosial budaya yang dapat meningkatkan stasus kesehatan pada kasus

hipertensi adalah :

- Menghindari kebiasaan merokok

- Mengurangi konsumsi makanan yang banyak mengandung garam .

- Menjaga berat badan dan olah raga yang teratur

- Melakukan konril yang teratur

3) Pelayanan kesehatan

Pelayanan kesehatan sangat diperlukan untuk menurunkan angka kesakitan dan

kematian akibat hipertensi

4) Faktor keturunan

Penyakit hipertensi merupakan penyakit yang bersifat genetik.

2.1.6 Tugas Keluarga Dalam Pemeliharaan Kesehatan

Menurut Friedman ( 1998) keluarga mempunyai lima (5 ) tugas memelihara


kesehatan keluarga khususnya keluarga yang anggotanya menderita penyakit
hipertensi yaitu :

9
1) Mengenal gangguan dan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarga
tentang gejala hipertensi

2) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat terhadap angota


keluarga yang menderita penyakit hpertensi

3) Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang menderita hipertensi

4) Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan


perkembangan kepada anggota keluarganya

5) Mempertahankan hubungan timbal balik dengan fasilitas kesehatan yang dapat


mengatasi penyakit hipertensi.

2.1.7 Peran Perawat Dalam Memberi Asuhan Keperawatan Pada Keluarga

Yang Menderita Penyakit Hipertensi.

Dalam proses membantu keluarga yang menderita penyakit hipertensi maka


peran perawat diperlukan sebagai berikut :

1) Pengenal tentang gejala hipertensi

Perawat membatu keluarga untuk mengenal tentang gejala penyakit


hipertensi .

2) Pemberi perawatan pada anggota keluarga yang menderita penyakit


hipertensi . Dalam memberikan perawatan pada anggota keluarga yang
menderita penyakit hipertensi, perawat memberikan kesempatan kepada
keluarga untuk mengembangkan kemampuam mereka dalam
melaksanakan perawatan dan memberikan demonstrasi kepada keluarga
bagaimana merawat anggota keluarga yang menderita hipertensi.

3) Koordinator pelayanan kesehatan kepada keluarga yang menderita


penyakit hipertensi .

Perawat melakukan hubungan yang terus menerus dengan kelurga yang


menderita penyakit hipertensi, sehingga dapat menilai, mengetahui
masalah dan kebutuhan keluarga serta mencari cara penyelesaian masalah
penyakit yang sedang dihadapi

10
4) Fasilitator

Menjadikan pelayanan kesehatan dengan mudah untuk mengenal masalah


pada keluarga yang menderita penyakit hipertensi dan mencari alternatif
pemecahanya .

5) Pendidik kesehatan

Perawat dapat berperan sebagai pendidik untuk merubah perilaku keluarga


dari perilaku tidak sehat menjadi sehat dalam mencegah penyakit
hipertensi

6) Penyuluh dan konsultasi

Perawat berperan sebagai petunjuk dalam asuhan keperawatan dasar


terhadap keluarga yang anggotanya mederita penyakit hipertensi.

2.2 KONSEP DASAR HIPERTENSI

2.2.1 Definisi Hipertensi

Hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah baik tekanan sistolik dan


diastolik serta merupakan suatu faktor terjadinya kompilikasi penyakit
kardiovaskuler (Soekarsohardi :1999).

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik


diatas standar dihubungkan dengan usia (Gede Yasmin :1993).

Dari definisi definisi diatas dapat disimpulkan bahwa hipertensi adalah


peningkatan tekanan darah baik sistolik maupun diastolic diatas normal
sesuai umur dan merupakan salah satu faktor resiko terjadinya komplikasi
penyakit kardiovaskuler.
2.2.2 Etiologi Hipertensi
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dapat digolongkan menjadi 2 yaitu :

1. Hipertensi esensial atau primer

11
Penyebab pasti dari hipertensi esensial sampai saat ini masih belum dapat
diketahui. Namun, berbagai faktor diduga turut berperan sebagai penyebab
hipertensi primer, seperti bertambahnya umur, stres psikologis, dan hereditas
(keturunan). Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong hipertensi primer
sedangkan 10% nya tergolong hipertensi sekunder.

2. Hipertensi sekunder

Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui,


antara lain kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid
(hipertiroid), penyakit kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme), dan lain- lain.
Karena golongan terbesar dari penderita hipertensi adalah hipertensia esensial,
maka penyelidikan dan pengobatan lebih banyak ditujukan ke penderita
hipertensi esensial.

Berdasarkan faktor akibat hipertensi terjadi peningkatan tekanan darah di


dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:jantung memompa lebih kuat
sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya. Terjadi
penebalan dan kekakuan pada dinding arteri akibat usia lanjut. Arteri besar
kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat
mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena
itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang
sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Bertambahnya
cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Hal ini
terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang
sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat,
sehingga tekanan darah juga meningkat. Oleh sebab itu, jika aktivitas memompa
jantung berkurang, arteri mengalami pelebaran, dan banyak cairan keluar dari
sirkulasi, maka tekanan darah akan menurun atau menjadi lebih kecil.

Berdasarkan faktor pemicu, hipertensi dibedakan atas yang tidak dapat


dikontrol seperti umur, jenis kelamin, dan keturunan. Pada 70-80% kasus

12
hipertensi primer didapatkan riwayat hipertensi di dalam keluarga. Apabila
riwayat hipertensi didapatkan pada kedua orang tua, maka dugaan hipertensi
primer lebih besar. Hipertensi juga banyak dijumpai pada penderita kembar
monozigot (satu telur), apabila salah satunya menderita hipertensi. Dugaan ini
menyokong bahwa faktor genetik mempunyai peran didalam terjadinya
hipertensi.

Sedangkan yang dapat dikontrol seperti kegemukan/obesitas, stress, kurang


olahraga, merokok, serta konsumsi alkohol dan garam. Faktor lingkungan ini
juga berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi esensial. Hubungan antara stress
dengan hipertensi, diduga melalui aktivasi saraf simpatis. Saraf simpatis adalah
saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas, saraf para simpatis adalah saraf
yang bekerja pada saat kita tidak beraktivitas.

Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara


intermitten (tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan, dapat
mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti,
akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan
dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang
dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota.

Berdasarkan penyelidikan kegemukan merupakan ciri khas dari populasi


hipertensi dan dibuktikan bahwa faktor ini mempunyai kaitan yang erat dengan
terjadinya hipertensi dikemudian hari. Walaupun belum dapat dijelaskan
hubungan antara obesitas dan hipertensi esensial, tetapi penyelidikan
membuktikan bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita
obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingan dengan penderita yang
mempunyai berat badan normal.

2.2.3 Patofisiologi

Jantung adalah sistim pompa yang berfungsi untuk memompakan darah


keseluruh tubuh, tekanan teresebut bergantung pada factor cardiac output dan
tekanan peririfer. Pada keadaan normal untuk memenuhi kebutuhan metabolisme

13
jaringan tubuh yang meningkat diperlukan peningkatan cardiac output dan
tekanan perifer menurun .

Konsumsi sodium (garam ) yang berlebihan akan mengakibatkan


meningkatnya volume cairan dan pre load sehingga meningkatkan cardiac output .
Dalam sistim renin - angiotensien - aldosteron pada patogenesis hipertensi,
glandula supra renal juga menjadi faktor penyebab oleh karena faktor hormon.
Sistim renin mengubah angiotensin menjadi angiotensin I kemudian angoitensin I
menjad angiotensin II oleh Angitensi Convertion Enzym (ACE).

Angiotensin II mempengaruhi Control Nervus Sistim dan nervus perifer


yang mengaktifkan sistim simpatik dan menyebabkan retensi vaskuler perifer
meningkat . Disamping itu angiotensin II mempunyai efek langsung terhadap
vaskuler smoot untuk vasokonstruksi renalis. Hal tersebut merangsang adrenal
untuk mengeluarkan aldosteron yang akan meningkatkan extra fluid volume
melalui retensi air dan natrium. Hal ini semua akan meningkatkan tekanan
darah melalui peningkatan cardiac output (Jurnlistik international
cardiovaskuler,1999 ).

2.2.4 Manifestasi Klinis Hipertensi

Mekanisme terjadinya hipertensi gejala-gejala hipertensi antara lain pusing,


muka merah, sakit kepala, keluar darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk terasa
pegal, dan lain-lain. Dampak yang dapat ditimbulkan oleh hipertensi adalah
kerusakan ginjal, pendarahan pada selaput bening (retina mata), pecahnya pembuluh
darah di otak, serta kelumpuhan.

2.2.5 Pemeriksaan Penunjang Hipertensi


1. Hemoglobin / hematokrit : mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume
cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor-faktor resiko seperti
hipokoagulabilitas, anemia.
2. BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal.
3. Glukosa : Hiperglikemia (diabetes melitus adalah pencetus hipertensi) dapat
diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan hipertensi).

14
4. Kalium serum : hipokalemia dapat mengindikasikan adanya aldosteron utama
(penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
5. Kalsium serum : peningkatan kadar kalsium serum dapat meningkatkan
hipertensi.
6. Kolesterol dan trigeliserida serum : peningkatan kadar dapat mengindikasikan
pencetus untuk/adanya pembentukan plak ateromatosa (efek kardiovaskuler).
7. Pemeriksaan tiroid : hipertiroidisme dapat mengakibatkan vasikonstriksi dan
hipertensi.
8. Kadar aldosteron urin dan serum : untuk menguji aldosteronisme primer
(penyebab).
9. Urinalisa : darah, protein dan glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau
adanya diabetes.
10. VMA urin (metabolit katekolamin) : kenaikan dapat mengindikasikan adanya
feokomositoma (penyebab); VMA urin 24 jam dapat digunakan untuk pengkajian
feokromositoma bila hipertensi hilang timbul.
11. Asam urat: hiperurisemia telah menjadi implikasi sebagai faktor resiko terjadinya
hipertensi.
12.Steroid urin : kenaikan dapat mengindikasikan hiperadrenalisme, feokromositoma
atau disfungsi ptuitari, sindrom Cushings; kadar renin dapat juga meningkat.
13. IVP : dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi, seperti penyakit parenkim
ginjal, batu ginjal dan ureter.
14. Foto dada : dapat menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub; deposit
pada dan/ EKG atau takik aorta; pembesaran jantung.
15. CT scan : mengkaji tumor serebral, CSV, ensevalopati, atau feokromositoma.
16.EKG: dapat menunjukkan perbesaran jantung, pola regangan, gangguan
konduksi. Catatan : Luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini
penyakit jantung hipertensi.
2.2.5 Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Non Farmakologis
1. Aktivitas

15
Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan dengan
batasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging,
bersepeda atau berenang.
2. Nutrisi

Dalam merencanakan menu makanan untuk penderita hipertensi ada


beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu keadaan berat badan, derajat
hipertensi,aktifitas dan ada tidaknya komplikasi. Sebelum pemberian nutrisi
pada penderita hipertensi ,diperlukan pengetahuan tentang jumlah kandungan
natrium dalam bahan makanan. Makan biasa ( untuk orang sehat rata-rata
mengandung 2800 6000 mg per hari ). Sebagian besar natrium berasal dari
garam dapur.

Untuk mengatasi tekanan darah tinggi harus selalu memonitor kadaan


tekanan darah serta cara pengaturan makanan sehari-hari. Secara garis besar
ada 4 (empat) macam diit untuk menanggulangi atau minimal mempertahankan
tekanan darah yaitu :

1) Diet rendah garam

Diet rendah garam pada hakekatnya merupakan diet dengan mengkonsumsi

makanan tanpa garam. Garam dapur mempunyai kandungan 40% natrium.

Sumber sodium lainnya antara lain makanan yang mengandung soda kue,
baking powder, MSG (Mono Sodium Glutamat), pengawet makanan atau
natrium benzoat biasanya terdapat dalam saos,kecap,selai,jelli,makanan yang
terbuat dari mentega. Penderita tekanan darah tinggi yang sedang menjalankan
diet pantang garam memperhatikan hal sebagai berikut :

a) Jangan menggunakan garam dapur.

b) Hindari makanan awetan seperti kecap, margarin, mentega, keju, terasi,


petis, biscuit, ikan asin, sarden, sosis dan lain-lain.

c) Hindari bahan makanan yang diolah dengan menggunakan bahan makanan


tambahan atau penyedap rasa seperti saos.

16
d) Hindari penggunaan baking soda atau obat-obatan yang mengandung
sodium.

e) Batasi minuman yang bersoda.

2) Diet rendah kolesterol / lemak.

Didalam tubuh terdapat tiga bagian lemak yaitu kolesterol, trigliserida, dan
fospolipid. Sekitar 25 50 % kolesterol berasal dari makanan dapat diabsorbsi
oleh tubuh sisanya akan dibuang lewat faeces. Beberapa makanan yang
mengandung kolesterol tinggi yaitu daging, jeroan, keju, susu, kuning telur,
ginjal, kepiting, hati dan kaviar. Tujuan diet rendah kolesterol adalah
menurunkan kadar kolesterol serta menurunkan berat badan bila gemuk. Hal-
hal yang harus diperhatikan dalam mengatur nutrisi pada hipertensi adalah :

a) Hindari penggunaan minyak kelapa, lemak, margarine dan mentega.

b) Batasi konsumsi daging, hati, limpa dan jenis jeroan.

c) Gunakan susu full cream.

d) Batasi konsumsi kuning telur, paling banyak tiga butir per minggu.

e) Lebih sering mengkonsumsi tahu, tempe, dan jenis kacang-kacang lainnya.

f) Batasi penggunaan gula dan makanan yang manis-manis seperti sirup,


dodol.

g) Lebih banyak mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah buahan.

3) Diet kalori bila kelebihan berat badan.

Hipertensi tidak mengenal usia dan bentuk tubuh seseorang. Meski demikian
orang yang kelebihan berat badan akan beresiko tinggi terkena hipertensi.
Salah satu cara untuk menanggulanginya dengan melakukan diet rendah kalori,
agar berat badannya menurun hingga normal. Dalam pengaturan nutrisi perlu
diperhatikan hal berikut :

a) Asupan kalori dikurangi sekitar 25 % dari kebutuhan energi atau 500 kalori
untuk penurunan 0,5 kg berat badan per minggu.

17
b) Menu makanan harus seimbang dan memenuhi kebutuhan zat gizi.

c) Perlu dilakukan aktifitas olah raga ringan.


b. Penatalaksanaan Farmakologis.
Secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian
atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:
1. Mempunyai efektivitas yang tinggi.
2. Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
3. Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
4. Tidak menimbulakn intoleransi.
5. Harga obat relatif murah sehingga terjangkau oleh klien.
6. Memungkinkan penggunaan jangka panjang.
Golongan obat - obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi seperti
golongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium,golongan
penghambat konversi rennin angitensin.
2.2.6 Komplikasi
Organ- organ tubuh sering terserang akibat hipertensi antara lain mata berupa
perdarahan retina bahkan gangguan penglihatan sampai kebutaan, gagal jantung,
gagal ginjal, pecahnya pembuluh darah otak.

2.3 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

Proses keperawatan adalah metode ilmiah yang digunakan secara sistimatis


untuk mengkaji dan menentukan masalah kesehatan dan keperawatan
keluarga,melaksanakan asuhan keperawatan ,serta implementasi keperawatan
terhadap keluarga sesuai rencana yang telah direncanakan /dibuat serta mengevaluasi
hasil asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan .

I. PENGKAJIAN

a. Penjajakan pertama

18
Tujuan penjajakan tahap pertama adalah untuk mengetahui masalah yang
dihadapi oleh keluarga.

1) Pengumpulan data

Merupakan informasi yang diperlukan untuk mengukur masalah kesehatan ,status


kesehatan, kesanggupan keluarga dalam memberikan perawatan pada anggota
keluarga .

a) Struktur dan sifat anggota keluarga

- Anggota anggota keluarga dan hubungan dengan kepala keluarga.

- Data demografi : umur,jenis kelamin, kedudukan dalam keluarga.

- Tempat tinggal masing-masing anggota keluarga.

- Macam struktur anggota keluarga apakah matrikat,patrikat berkumpul atau


menyebar.

- Anggota keluarga yang menonjol dalam pengambilan keputusan.

- Hubungan dengan anggota keluarga termasuk dalam perselisihan yang nyata


ataupun tidak nyata.

- Kegiatan dalam hidup sehari-hari,kebiasaan tidur,kebiasaan makan dan


penggunaan waktu senggang.

b) Faktor sosial budaya dan ekonomi

Pekerjaan, penghasilan, kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan primer, jam


kerja ayah dan ibu, siapa yng menentukan keuangan dan penggunaannya .

c) Faktor lingkungan

- Perumahan: luas rumah, pengaturan dalam rumah, persediaan sumber air,


adanya bahan kecelakaan, dan pembuangan sampah.

- Macam lingkungan / daerah rumah

- Fasilitas social dan lingkungan

- Fasilitas transportasi dan kesehatan

19
d) Riwayat kesehatan

- Riwayat kesehatan dari tiap anggota keluarga

- Upaya pencegahan terhadap penyakit

- Sumber pelayanan kesehatan

- Perasepsi keluarga terhadap peran pelayanan dari petugas kesehatan.

- Pengalaman yang lalu dari petugas kesehatan.

e) Cara pengumpulan data

(1) Oservasi langsung : dapat mengetahui keadaan secara langsung.

Keadaan fisik dari tiap anggota keluarga, komunikasi dari tiap anggota
keluarga, peran dari tiap anggota keluarga, keadaan rumah dan lingkungan.

(2) Wawancara (Aspek fisik, aspek mental, sosial budaya, ekonomi, kebiasaan,
lingkungan.

(3) Studi dokumentasi antara lain : perkembangan kesehatan anak, kartu keluarga,
catatan kesehatan lainnya.

(4) Dilakukan terhadap angota keluarga yang mengalami masalah kesehatan dan
keperawatan antara lain : tanda-tanda penyakit dan kelainan organ tubuh.

2) Analisa data

Analisa data bertujuan untuk mengetahui masalah kesehatan yang dialami


oleh keluarga. Dalam menganalisis data dapat menggunakan typologi masalah
dalam family health care. Permasalahan dapat dikategorikan sebagai berikut :

a. Ancaman kesehatan adalah : keadaan yang dapat memungkinkan terjadinya


penyakit,kecelakaan atau kegagalan dalam mencapai potensi kesehatan. Contoh :

- Riwayat penyakit keturunan dari keluarga seperti hipertensi.

- Masalah nutrisi terutama dalam pengaturan diet.

b. Kurang atau tidak sehat adalah : kegagalan dalam memantapkan kesehatan.

Contoh:

20
- Adakah didalam keluarga yang menderita penyakit hipertensi.

- Siapakah yang menderita penyakit hipertensi.

c. Krisis adalah : saat- saat keadaan menuntut terlampau banyak dari indivdu atau
keluarga dalam hal penyesuaian maupun sumber daya mereka. Contoh :

- Adakah anggota keluarga yang meninggal akibat hipertensi.

3) Prioritas Masalah

Didalam menentukan prioritas masalah kesehatan keluarga menggunakan sistim


scoring berdasarkan tipologi masalah dengan pedoman sebagai berikut:

K riteria Bobot

1. Sifat masalah 1
Skala : ancaman kesehatan 2
Tidak/kurang sehat(aktual) 3
Krisis 1
2. Kemungikan masalah dapat diubah 2
Skala : Dengan mudah 2
Hanya sebagian 1
Tidak dapat 0
3. Potensia masalah untuk dicegah 1
Skala : Tinggi 3
Cukup 2
Rendah 1
4. Menonjolnya masalah 1
Skala : Masalah berat harus ditangani 2
Ada masalah tapi tidak perlu 1
segera ditangani
Masalah tidak dirasakan 0

Skoring :

1.Tentukan skor untuk tiap kriteria

21
2.Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikanlah dengan bobot.

Skor X bobot

Angka tertinggi

3. Jumlahkanlah skor untuk semua kriteria , skor tertinggi 5 sama dengan seluruh
bobot.

b. Penjajakan pada tahap kedua

Tahap ini menggambarkan sampai dimana keluarga dapat melaksanakan


tugas-tugas kesehatan yang berhubungan dengan ancaman kesehatan, kurang /tidak
sehat dan krisis yamg dialami oleh keluarga yang didapat pada penjajakan tahap
pertama. Pada tahap kedua menggambarkan ketidak mampuan keluarga untuk
melaklasanakan tugas-tugas kesehatan serta cara pemecahan masalah yang dihadapi .

Karena ketidakmampuan keluarga dalam melaksanakan tugas-tugas


kesehatan dan keperawatan,maka dapat dirumuskan diagnosa keperawatan secara
umum pada keluarga yang menderita penyakit hipertensi antara lain :

1) Ketidak sanggupan keluarga mengenal masalah penyakit hipertensi berhubungan


dengan ketidaktahuan tentang gejala hipertensi.

2) Ketidaksanggupan keluarga dalam mengambil keputusan dalam melaksanakan


tindakan yang tepat untuk segera berobat kesarana kesehatan bila terkena
hipertensi berhubungan dengan kurang pengetahuan klien/keluarga tentang
manfaat berobat kesarana kesehatan.

3) Ketidak mampuan merawat anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan


kurangnya pengetahuan tentang penyakit hipertensi ,cara perawatan dan sifat
penykit hipertensi .

4) Ketidaksanggupan memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi


kesehatan keluarga berhubungan dengan tadak dapat melihat keuntungan dan
manfaat pemeliharaan lingkungan serta ketidaktahuan tentang usaha pencegahan
penyakit hipertensi.

22
5) Ketidakmampuan menggunakan sumber yang ada di masyarakat guna
memelihara kesehatan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dan
keluarga tersedianya fasilitas kesehatan seperti JPS,dana sehat dan tidak
memahami manfaatnya.

2. PERENCANAAN

Rencana keperawatan keluarga adalah sekumpulan tindakan keperawatan


yang ditentukan oleh perawat untuk dilaksanakan dalam memecahkan masalah
kesehatan dan keperawatan yang telah diidentifikasi (Nasrul Effendi,1998 : 54 ) .

Ciri- ciri rencana perawatan keluarga:

1) Berpusat pada tindakan- tindakaan yang dapat memecahkan atau meringankan


masalah yang sedang dihadapi.
2) Merupakan hasil dari suatu proses yang sistematis dan telah dipelajari dengan
pikiran yang logis.
3) Rencana perawatan keluarga berhubungan dengan masa yang akan datang.
4) Berkaitan dengan masalah kesehatan dan masalah keperawatan yang
diidentifikasi.
5) Rencana perawatan merupakan cara untuk mencapai tujuan.
6) Merupakan suatu proses yang berlangsung secara terus menerus.

Perumusan Tujuan:

- Tujuan jangka panjang mengacu pada penyelesaian masalah.


- Tujuan jangka pendek mengacu pada penyelesaian etiologi.

Kriteria Evaluasi:

- Kriteria
- Standar

Hal yang perlu dipertimbsngksn sebelum menetspksn intervensi, yaitu:

Apakah pendekatan itu menyebabkan meningkatnya ketergantungan atau


kemandirian keluarga?

23
Apakah tindakan tersebut menurunkan atau meningkatkan keterampilan
keluarga?
Apakah tindakan tersebut menurunkan atau meningkatkan koping keluarga?
Apakah keluarga punya komitmen dan motivasi yg memadai terhadap
perencanaan tersebut ?
Apakah kelugrg a punya sumber-sumber yang memadai untuk melaksanakan
perencanaan tersebut ?

Tipologi Intervensi:

a. Kognitif: mengemukakan informasi dan gagasan serta pengalaman contohnya


pengajaran.
b. Afektif : tindakan dirancang untuk mengubah emosi dari anggota keluarga
sehingga dapat memecahkan masalah secara lebih efektif. Orang tua membantu
mengurangi ansietas thd perawatan anak sakit.
c. Perilaku : strategi perawatan yang diarahkan untuk membantu anggota keluarga
berinteraksi/ bertingkah laku dengan anggota keluarga lain.
3. PELAKSANAAN
Pelaksanaan tindakan keperawatan terhadap keluarga, didasarkan kepada
rencana asuhan keperawatan yang telah disusun. Hal- hal yang peru diperhatikan
dalam pelaksanaan tindakan keperawatan terhadap keluarga adalah:
- Sumber daya keluarga (keuangan)
- Tingkat pendidikan keluarga
- Adat istiadat yang berlaku
- Respon dan penerimaaan keluarga
- Sarana dan prasarana yang ada pada keluarga
4. EVALUASI
Tolok ukur yang dipergunakan dalam evaluasi adalah:
a. Kriteria keberhasilan
b. Standar keperawatan
c. Perubahan perilaku

24
BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1 Contoh Kasus


Ny.S (45th) istri dari Tn.A (50th) mempunyai dua orang anak An. Z (13 th)
seorang laki-laki bersekolah di SMP dan anak kedua, An.D (6 th) laki-laki,
bersekolah di SD. Dalam keluarga Tn.A salah satu anggota keluarga, yaitu Ny.S istri
Tn.A menderita penyakit hipertensi, pasien nampak lemas dan mengeluh pusing. Dua
tahun yang lalu pasien pernah MRS karena pingsan dan di diagnosa penyakit yang
sama dan dulu ibu Ny.S juga memiliki riwayat penyakit yang sama. Untuk mengatasi
masalah tersebut, keluarga Tn.A hanya membiarkan saja di rumah karena menurutnya
masih bisa di tangani dirumah, dan keluarga merawat Ny.S sendiri dengan berbekal
pengetahuan seadanya, keluarga hanya membantu dalam memenuhi aktifitas sehari-
hari Ny.S keluarga Tn.A termasuk keluarga yang kurang memperhatikan kesehatan,
meskipun mereka mengaku pernah ke dokter tapi jika hanya ada keadaan yang
sangat berbahaya dan keluarga Tn.A juga jarang memeriksakan tekanan darah Ny.S
meskipun pernah ada riwayat MRS karena hipertensi sebelumnya.

FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN KELUARGA


A. Pengkajian Keluarga
I. Data Umum :
1. Nama Kepala Keluarga : Tn. A
2. Alamat : Tanjungsari
3. Pekerjaan Kepala Keluarga : Pedagang
4. Pendidikan Kepala Keluarga : SMP
5. Komposisi Keluarga : Ayah, ibu, dan dua orang anak

25
No Nama Jenis Hubungan Umur Pendidikan
Kelamin dengan KK
1. Tn. A L Suami 50 th SMA
2. Ny. S P Istri 45 th SMP
3. Nn. Z P Anak 13 th SMP
4. An. D L Anak 6 th SD

6. Tipe Keluarga
Keluarga inti terdiri dari Tn. A , Ny.S dan kedua anak kandung.
7. Suku bangsa.
Sunda Indonesia. Tn. A berasal dari Tanjungsari dan Ny.S dari Sumedang.
8. Agama.
Semua isi keluarga menganut agama Islam. Tidak ada keyakinan yang
berdampak buruk pada status kesehatan keluarga Ny.S
9. Status Sosial Ekonomi Keluarga.
Penghasilan keluarga kurang lebih 700.000/ bln itupun jika dagangan Tn.A
habis tepat waktu karena Tn. A adalah pedagang roti keliling yang tiap 2
minggu di kirim barang oleh pabrik roti, sedangkan Ny.S merupakan
pedagang toko kebutuhan sehari-hari dipasar. Tn. A dan Ny. S mengatakan
penghasilan yang mereka dapat lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan
setiap hari dan untuk membiayai kedua orang anknya yang masih sekolah.
10. Aktifitas Rekreasi Keluarga.
- Anak- anak mereka biasanya menghabiskan waktu liburannya dengan
bermain dengan teman sebayanya dan menonton TV dirumah.
- Kadang- kadang keluarga mereka pergi ke rumah neneknya yang ada di
Sumedang jika musim liburan panjang atau sekedar makan diluar bersama.
II. Riwayat Tahap Perkembangan Keluarga
1. Tahap perkembangan keluarga saat ini :
Keluarga berada pada tahap perkembangan keluarga dengan anak usia
sekolah.

26
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi :
Tidak ditemukannya tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi,
Anak pertama berusia 13 th dan yang kedua berusia 6 th masih bersekolah
masing-masing SMP dan SD. Tn. A dan Ny. S mengatakan komunikasi
dengan anak-anaknya bersifat terbuka dan masing-masing anak tahu akan
tugas dan kewajibannya sebagai anak.
3. Riwayat keluarga inti :
Ny.S mengatakan mempunyai riwayat penyakit keturunan yaitu darah tinggi
karena ayah Ny.S juga mengalami tekanan darah tinggi dan terkena stoke
ringan yang telah meninggal 4 tahun yang lalu. Ny.S juga pernah MRS
karena kolestrol yang tinggi sekitar 2 th yang lalu, sedangkan Tn.A dan kedua
anaknya tidak pernah mengalami penyakit yang parah. (sembuh dengan obat
yang dibeli di toko).
Riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga:
Nama Umur BB/ Keadaan Imunisasi Tindakan yang
Kg sehat (BCG/ Masalah telah dilakukan
Polio/ kesehatan
DPT/ HB/
Campak
Tn. A 50 thn 60 Baik Lengkap - -
Ny. S 45 thn 48 Sakit Lengkap Ggn nutrisi Membantu
An. Z 13 thn 27 Sakit Lengkap - pemenuhan
An. D 6 thn 25 Baik Lengkap - nutrisi Ny.S
tanpa membawa
ke pelayanan
kesehatan

4. Riwayat keluarga sebelumnya :


Ny.S adalah anak dari dua bersaudara, semua saudara Ny.S masih hidup dan
dalam keadaan sehat. Tn.A adalah anak kedua dari tiga bersaudara kakak
Tn.A meninggal karena demam berdarah ketika masih kecil.
III. Lingkungan
1. Karakteristik rumah :
Luas rumah 55 m2 dengan panjang 11 m dan lebar 5 m terdiri dari tiga
kamar tidur,satu ruang tamu, satu ruang keluarga, satu ruang untuk

27
sholat,dua kamar mandi,satu dapur dan gudang tempat penyimpanan roti
dan motor box untuk menjual oti,merupakan rumah permanent dan milik
sendiri. Setiap ruangan memiliki jendela kecuali kamar mandi sehingga
sirkulasi udaranya cukup baik. Kamar mandi terpisah dengan WC, lantai
rumah terbuat dari keramik sehingga tampak bersih, sumber air adalah air
tanah atau sumur. Sedangkan untuk pembuangan saluran air dibuatkan pipa
menuju belakang rumah yang berdekatan dengan septitank kira-kira 10 m
dari jarak belakang rumah.
2. Karakteristik tetangga dan komunitas RW :
Keluarga Ny.S bertetangga dengan beberapa keluarga petani,satu pegawai
negeri sipil. Semua tetangga Ny.S beragama islam dan bersuku jawa
meskipun berasal dari berbagai daerah kebetulan tempat tinggal mereka
dekat dengan mushola sehingga mereka biasanya sholat bersama ke
musahola sehingga tampak ramai dan komunikasi mereka cukup baik.
3. Mobilitas geografis keluarga :
Semenjak menikah sampai sekarang Ny.S dan Tn.A tidak pernah bepindah-
pindah tempat, saat Ny.S sakit Tn.A jarang berjualan roti karena anak-
anaknya beraktivitas dan bersekolah pada pagi sampai siang hari sehingga
hanya saat anaknya pulang dari sekolah Tn.A dapat berjualan roti keliling.
4. Perkumpulan keluaraga dan interaksi dengan masyarakat :
Keluarga Tn. A tergolong anggota masyarakat yang aktif dalam mengikuti
musyawarah dan kerja bakti yang diadakan di masyarakat. Serta dapat
berinteraksi dengan baik. Keluarga Ny.S aktif dengan kegiatan keagamaan
di lingkungan rumahnya. Ny.S aktif dengan pengajian rutin yang
dilaksanakan di masjid tiap seminggu sekali. Sedangkan kedua anaknya
setiap sore mengaji di mushola dekat rumah.
5. Sistem pendukung keluarga :
Selama Ny.S sakit Tn.A dan anak-anaknya yang merawat, meskipun
kadang-kadang Tn.A harus meninggalkan pekerjaanya berdagang keliling
mengantar roti sehingga pemasukan keuangan keluarga berkurang. Ny.S dan

28
Tn.A mempunyai tabungan yang digunakan untuk keperluan mendadak dan
untuk biaya sekolah anaknya nanti sehingga ketika berobat keluarga Ny.S
dapat membiayai sendiri, meskipun kadang-kadang saudara Ny.S dan Tn.A
juga membantu serta mencarikan pengobatan baik alternatif maupun secara
medis (puskesmas,dokter serta layanan kesehatan yang mendukung).
Terdapat dokter desa yag letaknya sekitar 50 m dari rumah Ny.S dan
puskesmas yang letaknya cukup jauh yaiti 100 m dari rumah sehingga
keluarga lebih memilih ke dokter desa.
IV. Struktur Keluarga
1. Pola Komunikasi Keluarga :
Keluaga Ny.S dan Tn.A melakukan komunikasi secara terbuka, sehingga
anak-anaknya dapat memberi masukan tentang suatu hal kepada mereka
tanpa mengurangi rasa hormat terhadap orang tua, Ny.S adalah ibu yang
santai yang jarang memarahi anak-anknya tapi Tn.A sangat tegas tehadap
anak-anaknya dan tak segan memarahi anak-anaknya ketika mereka salah.
2. Struktur Kekuatan Keluarga :
Ny.S adalah ibu sekaligus pembantu pencari nafkah bagi keluarga, dan Tn.A
menjadi seorang ayah dan pencari penghasilan utama bagi keluarga.
3. Struktur Peran (peran masing-masing anggota keluarga) :
- Tn. A sebagai kepala keluarga bertanggung jawab dalam mengatur rumah
tangga.
- Ny. S sebagai istri yang bekerja sebagai pedagang di pasar.
- An. D sebagai anak pertama sekolah di SMP kelas 2.
- An. Z sebagai anak kedua sekolah di SD kelas 1.
4. Nilai dan Norma Keluarga :
Tidak ada nilai dan norma dalam keluarga yang dapat mempengaruhi
penyakit menurut mereka. Ny.S sakit memang karena disebabkan oleh
suatu penyakit bukan karena hal-hal tertentu, sehingga mereka lebih
memilih untuk memeriksakan kesehatannya ke dokter atau dengan obat-obat
tradisional.

29
V. Fungsi Keluarga
1. Fungsi Afektif :
Ny.S dan Tn.A menganggap anaknya sudah tumbuh menjadi anak-anak
yang baik dan saling menghormati dalam keluarga,meskipun kadang-
kadang ada pertengkaran kecil antara anak-anak mereka dikarenakan hal
yang sepele tapi dengan cepat mereka juga berbaikan lagi.
2. Fungsi Sosial :
Keluarga mereka semua muslim sehingga mereka aktif dengan kegiatan
keagamaan meskipun tidak mengikuti organisasi.
3. Fungsi Perawatan Kesehatan Keluarga :
Keluarga dapat mengidentifiksi penyakit Ny.S meskipun secara awam,saat
Ny.S kelelahan atau sedang memikirkan sesuatu tentang anaknya, sehingga
keluarga dapat mengambil keputusan dengan cepat ketika Ny.S sakit tetapi
masih belum mampu meningkatkan status kesehatan keluarga.
4. Fungsi Reproduksi :
Ny.S dan Tn.A mengatakan tidak ingin mempunyai anak lagi mereka sudah
bersyukur mempunyai dua orang anak yang baik-baik, Ny.S masih
mengikuti program KB dikarenakan masih haid dan melakukan hubungan
suami istri. Mereka sepakat untuk membesarkan anaknya dengan baik dan
memberi pendidikan yang baik.
5. Fungsi Ekonomi :
Keluarga mengatakan kondisi keluarga mereka tetap stabil meskipun Ny.S
sakit dan Tn.A jarang berjualan karena mereka mempunyai tabungan
keluarga yang dapat digunakan kapan saja.
VI. Stres dan Koping Keluarga
1. Stresor Jangka Pendek dan panjang :
Sejak 3 minggu yang lalu Ny.S sakit dia semakin cemas karena memikirkan
keadaanya dan ank-anaknya yang masih membutuhkan biaya untuk masa
depan, sedangkan Tn.A hanya bisa bersabar dan berusaha semaksimal
mungkin untuk kesembuhan istrinya.

30
2. Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Stresor :
Keluarga berharap anak-anaknya dapat menjalani sekolahnya dengan baik
dan kelak menjadi anak yang berguna.
3. Strategi Koping Yang Digunakan :
Keluarga Ny.S dan suami selalu membicarakan masalah keluarga bersama
dan sesekali bersama anak-anaknya jika membicarakan tentang harapan-
harapan mereka terhadap anaknya.
4. Strategi Adaptasi Disfungsional :
Tidak pernah terdapat perselisihan antar anggota keluarga dalam mengambil
suatu keputusan.
VII. Pemeriksaan Fisik.
Keluhan utama Ny.S : agak kurus, mengeluh pusing.
No Pemeriksa Tn. A Ny.S An. Z An. D
an
Fisik
1 Kepala Simetris, Simetris,tidak Simetris, Simetris,
rambut ada rambut rambut
berwarna hitam, ketombe,Ramb berwarna hitam, berwarna hitam,
tidak ada ut sedikit kusut tidak ada tidak ada
ketombe. ketombe. ketombe.
2. Leher leher tidak leher tidak leher tidak leher tidak
nampak adanya nampak adanya nampak adanya nampak adanya
peningkatan peningkatan peningkatan peningkatan
tekanan vena tekanan vena tekanan vena tekanan vena
jugularis dan jugularis dan jugularis dan jugularis dan
arteri carotis, arteri carotis, arteri carotis, arteri carotis,
tidak teraba tidak teraba tidak teraba tidak teraba
adanya adanya adanya adanya
pembesaran pembesaran pembesaran pembesaran
kelenjar tiroid kelenjar tiroid kelenjar tiroid kelenjar tiroid
(struma). (struma). (struma). (struma).
3. Mata Konjungtiva Konjungtiva Konjungtiva Konjungtiva
tidak terlihat tidak terlihat tidak terlihat tidak terlihat
anemis, tidak anemis, tidak anemis, tidak anemis, tidak
ada katarak, ada katarak, ada katarak, ada katarak,
penglihatan penglihatan penglihatan penglihatan
jelas jelas jelas jelas
4. Telinga Simetris, Simetris, Simetris, Simetris,
keadaan keadaan keadaan keadaan
bersih,Fungsi bersih,Fungsi bersih,Fungsi bersih,Fungsi
pendengaran pendengaran pendengaran pendengaran

31
baik baik baik baik
5. Hidung Simetris,keadaa Simetris,keadaa Simetris,keadaa Simetris,keadaa
n bersih,Tidak n bersih,Tidak n bersih,Tidak n bersih,Tidak
ada kelainan ada kelainan ada kelainan ada kelainan
yang ditemukan yang ditemukan yang ditemukan yang ditemukan
6. Mulut Mukosa mulut Mukosa mulut Mukosa mulut Mukosa mulut
lembab,keadaan agak sedikit lembab,keadaan lemb,keadaan
bersih,Tidak kering,Mulut bersih,Tidak bersih,Tidak
ada kelainan sedikit kotor, ada kelainan ada kelainan
makan 1x/hari
porsi habis .
7. Dada Pergerakan Pergerakan Pergerakan Pergerakan
dada terlihat dada terlihat dada terlihat dada terlihat
simetris, suara simetris, suara simetris, suara simetris, suara
jantung S1 dan jantung S1 dan jantung S1 dan jantung S1 dan
S2 tunggal,tidak S2 tunggal,tidak S2 tunggal,tidak S2 tunggal,tidak
terdapat terdapat terdapat terdapat
palpitasi, suara palpitasi, suara palpitasi, suara palpitasi, suara
mur-mur (-), mur-mur (-), mur-mur (-), mur-mur (-),
ronchi (-), ronchi (-), ronchi (-), ronchi (-),
wheezing (-) wheezing (-) wheezing (-) wheezing (-)
8. Abdomen Pada Pada Pada Pada
pemeriksaan pemeriksaan pemeriksaan pemeriksaan
abdomen tidak abdomen tidak abdomen tidak abdomen tidak
didapatkan didapatkan didapatkan didapatkan
adanya adanya adanya adanya
pembesaran pembesaran pembesaran pembesaran
hepar, tidak hepar, tidak hepar, tidak hepar, tidak
kembung, kembung, kembung, kembung,
pergerakan pergerakan pergerakan pergerakan
peristaltik usus peristaltik usus peristaltik usus peristaltik usus
35x/mnt, tidak 35x/mnt, tidak 35x/mnt, tidak 35x/mnt, tidak
ada bekas luka ada bekas luka ada bekas luka ada bekas luka
operasi operasi operasi operasi
9. TTV dan TD : 120/80 TD : 160/100 TD: 110/80 TD: 105/63
ekstremita mmHg, mmHg, mmHg mmHg
s N : 74x/m, N : 100x/m, R: 18 x/mnt R: 18 x/mnt
S : 360C S : 36,50C N: 84 x/mnt N: 72 x/mnt
R: 20x/m R: 20x/mnt S: 37,2OC S: 370C

32
VIII. Harapan Keluarga
Keluarga berharap Ny.S dapat sembuh dan petugas kesehatan dapat memberi
pelayanan kesehatan dengan baik.

Analisa Data, Perumusan masalah dan Diagnosa Keperawatan


Data Etiologi Masalah
DS: Gangguan
- Ny.S mengatakan Kenaikan tekanan darah pemenuhan
mual,muntah,lemas, nafsu makan nutrisi kurang
menurun. Kompensasi tubuh (pusing) dari kebutuhan
DO: tubuh.
- Ny.S terlihat lemas mempengaruhi hypothalamus
- Ny.S makan 1x/hari habis porsi
dengan bantuan, dan kadang tidak kurang nafsu makan
makan.
- Mukosa bibir kering. Kurang nutrisi
DS: Hipertensi
- Pasien mengatakan pusing dan Riwayat hipertensi, gaya
lemas. hidup
- Ny.S mengatakan menderita
penyakit hipertensi sejak 2 th yang Penumpukan kolesterol
lalu dan sempat MRS d RSUD dalam pemb.darah
selama 3 hari.
- Karena merasa sudah sehat Ny.S Vasokontriksi vascular
jarang lagi periksa ke dokter
meskipun hanya sekedar periksa. Tekanan darah meningkat
- Ny.S bekerja berdagang di pasar
dari pagi sampai hampir sore
sehingga kurang istirah
- Ny.S mengatakan jarang berolah
raga
- Ny.S tidak merokok
- Ny.S suka mengkonsumsi makanan
berlemak, seperti gorengan dan
bumbu santan.
- Tn.A mengatakan bahwa ibu sudah
biasa seperti ini.
DO:
- Ny.S tampak lemas dan berbaring
di tempat tidur.
- TD : 160/100mmH, N : 100x/m, S
: 36,50C , R: 20x/m

33
Diagnosa keperawatan:
1. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada Ny.S keluarga
Tn.A b.d kekurangefektifan keluarga dalam membantu memenuhi kebutuhan
nutrisi anggota keluarga yang sakit.
2. Hipertensi pada Ny.S keluarga Tn.A b.d ketidak mampuan keluarga dalam
mengenal karakteristik penyakit dan perawatannya.
B. Perencanaan
Untuk menentukan skala prioritas pemecahan masalah dalam rencana perawatan
keluarga Tn. A terlebih dahulu dibuat sistem skoring masalah kesehatan sbb :
1. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada Ny.S
keluarga Tn.A b.d kekurangefekktifan keluarga dalam membantu secara
parsial anggota keluarga yang sakit.
No Kriteria Perhitungan Skor Pembenahan
1. Sifat masalah 3/3 x 1 1 Masalah adalah keadaan
1.aktual (3) yang sudah terjadi dan perlu
di lakukan tindakan segera.
2. resiko tinggi (2)
3. potensial (1)
2. Kemungkinan masalah dapat 1/2x 2 1 Sumber-sumber yang ada
diubah : dan tindakan untuk me-
1.tinggi (2) mecahkan masalah dapat
dijangkau keluarga.
2. sedang (1)
3. rendah (0)
3. Potensi untuk mencegah 3/3 x 1 3/3 Masalah dapat dicegah untuk
masalah: tidak memper-buruk keadaan
1. Mudah (3) dapat dilakukan Ny.S dan
2. Cukup (2) keluarga dengan
3. Tidak dapat (1) memperbaiki perilaku hidup
sehat.
4. Menonjolnya masalah 2/2 x 1 1 Keluarga menyadari adanya
1. Masalah dirasakan dan perlu masalah tetapi tidak
penanganan segera. (2) didukung dengan
2. Masalah di rasakan, tidak pemahaman yang ade-kuat
perlu di tangani segera (1) tentang karakteristik penyakit
3. Masalah tidak dirasakan (0) .
Total skor 3 3/3

34
2. Hipertensi pada Ny.S keluarga Tn.A berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga
mengenal karakteristik penyakit dan perawatannya.
No Kriteria Perhitungan Skor Pembenahan
1. Sifat masalah 3/3 x 1 1 Adanya ancaman keseha-
1. Actual (3) tan tetapi tidak perlu
2. Resiko tinggi (2) ditangani segera.
3. Potensial (1)
2. Kemungkinan masalah 1/2 x 2 1 Membawa Ny.S ke
dapat diubah pelayanan kesehatan untuk
1. Tinggi (2) mendapatkan pengobatan
2. Sedang (1) dan perawatan.
3. Rendah (0)
3. Potensi untuk mence-gah 2/3 x 1 2/3 Pencegahan bias dilakukan
masalah dengan menjaga pola hidup
1. Mudah (3) dan pola makan.
2. Cukup (2)
3. Tidak dapat (1)
Menonjolnya masalah 2/2 x 1 1 Tn.A dan Ny.S bisa
4. menerima keadaan mereka
1. Masalah dirasakan
dan perlu penanganan saat ini meskipun belum
segera (2) stabil.
2. Masalah dirasakan,
tidak perlu di tangani
segera (2)
3. Masalah tidak di
rasakan (0)
Total Skor 3 2/3

35
RENCANA PERAWATAN KELUARGA Ny.S
TANGGAL 10 November 2013
No Diagnosis Tujuan Kriteria Evaluasi Rencana Intervensi
Keperawatan Umum Khusus Kriteria Standart
Keluarga
1 Gangguan Setelah di Setelah di lakukan Verbal : - Mengetahui 1. Memberitahu pasien dan keluarga betapa
pemenuhan nutrisi lakukan kunjungan sampai 1 hari Pasien dan tentang pentingnya untuk tetap menjaga kebutuhan
kurang dari tindakan selama 30 menit keluarga bisa pentingnya nutrisi nutrisi walau saat sakit.
kebutuhan tubuh diharapkan diharapkan pasien dan memahami bagi tubuh. 2. Memberitahu keluarga dan pasien tentang
pada Ny.S keluarga kebutuhan keluarga mampu materi yang - Mengetahui komposisi nutrisi yang seimbang.
Tn.A b.d nutrisinya memahami tentang di berikan. komposisi nutrisi 3. Memberitahu keluarga supaya lebih aktif
kekurangefektifan pasien pentingnya nutrisi. yang seimbang. dalam membantu Ny.S dalam pemenuhan
keluarga dalam terpenuhi kebutuhan nutrisinya nya secara parsial,
membantu secara perlahan-lahan sambil melatih pasien agar
memenuhi sembang mampu melaksanakannya secara mandiri.
kebutuhan nutrisi
keluarga yang
sakit.

Setelah di lakukan Perilaku: - Makan 3x sehari 1. Menjelaskan bagaimana pentingnya nutrisi


kunjungan sampai 1-2 Pasien porsi habis tanpa bagi tubuh dan sebagai penunjang
hari selama 30 menit mampu bantuan kesembuhan penyakit.
diharapkan pasien makan dan - Minum air putih 8 2. Memotivasi Ny.S untuk melakukan aktifitas
mampu makan 3x/hari minum gelas perhari tersebut.
porsi habis dan minum tanpa bantuan 3.Membantu keluarga supaya lebih aktif dalam
secara
8 gelas air / hari. membantu Ny.S dalam pemenuhan
seimbang
kebutuhan nutrisinya secara parsial, sampai
tujuan terpenuhi.

36
2. Hipertensi pada Setelah 1.Setelah dilakukan Verbal a. Pengertian 1. Berikan pengetahuan keluarga tentang
Ny.S keluarga dilakukan kunjungan 2-3 hari :Pasien dapat hipertensi karakteristik penyakit hipertensi dan
Tn.A berhubungan kunjungan selama 30 menit menyebutkan b. Penyebab : perawatannya.
dengan keperawata Keluarga dapat dengan jelas - Keturunan 2. Mendiskusikan bersama tentang karakteristik
ketidakmampuan n, keadaan mengenal ka- dan benar penyakit hipertensi dan perawatannya.
keluarga mengenal - Kelelahan
penyakit rakteristik pen-yakit 3. Memberikan bimbingan dengan ilustrasi
karakteristik Ny.S hipertensi - Kurang olah raga
menggunakan brosur dan sebagainya.
penyakit dan berangsur -Penyakit tekanan
perawatannya darah tinggi 4. Mendengarkan dengan seksama sanggahan
membaik
yang diajukan keluarga.
c.Menjawab
pertanyaan dengan5. Menanggapi pertanyaan dengan sabar.
baik dan benar. 6. Membimbing keluarga untuk mengulangi
penjelasan yang sudah diberikan.
7. Berikan pujian bila keluarga mampu
menjawab dengan baik dan benar.
2.Setelah dilakukan Verbal: Keputusan yang 1.Mendiskusikan alternatif untuk mengatasi
kunjungan 2-3 hari Pasien dibuat keluarga dan masalah yaitu :
selama 30menit memperhatik Ny.S sendiri - Pentingnya berobat teratur ke sarana
Keluarga dapat an dengan kesehatan.
membuat kepu-tusan baik - Pentingnya kerjasama dengan petugas
yang tepat tentang kesehatan.
upaya pengobatan
- Manfaat istirahat dan olah raga teratur
Ny.S ke sarana
kesehatan dan 2. Berikan dorongan kepada keluarga dan Ny.S
bersedia memberikan untuk membuat keputusan.
perawatan yang baik 3.Beri pujian terhadap keputusan yang baik dan
dan benar. benar sebaliknya beri koreksi atas keputusan
keliru

37
3. Pada akhir pertemuan Perilaku: -melakukan olah 1. Menjelaskan manfaat evaluasi sewaktu-
keluarga sepakat jika Pasien raga yang cukup waktu.
diadakan evaluasi melaksanakn -makan teratur 2. Menjelaskan bahwa diskusi akan dilanjutkan
sewaktu-waktu. apa yang -meluangkan waktu jika hasil evaluasi tidak sesuai dengan
sudah di untuk istirahat dan keputusan yang telah dibuat keluarga.
ajarkan refreshing.
dengan baik

38
C. EVALUASI
No Diagnosa Implementasi Evaluasi Waktu
1 Gangguan Tgl 11-11-2013 Jam 08.30- S: Tgl 11-11-
pemenuhan 09.00 - Keluarga menjawab salam 2013 Jam
nutrisi kurang - Mengucapkan salam - Tn.A mengatakan Ny.S 08.30-09.00
dari kebutuhan - Memvalidasi keadaan masih mual, pahit di mulut, Sampai
tubuh pada Ny.S keluarga dan belum bisa sepenuhnya Tgl. 12-11-
keluarga Tn.A - Mengingatkan kontrak menghabiskan porsi 2013 jam
b.d - Menjelaskan tujuan makannya. 08.30-09.00
kekurangefektif - Keluarga menyetujui
an keluarga TUK pertemuan saat ini selama
dalam 1. Memberitahu kepada 30 menit tentang
membantu pasien dan keluarga betapa pentingnya pemenuhan
memenuhi pentingnya menjaga nutrisi dan komposisi
kebutuhan keseimbangan nutrisi seimbangnya.
nutrisi keluarga walaupun saat sakit. - Keluarga mengatakan
yang sakit. 2. Memberitahu pasien dan sudah faham tentang proses
keluarga tentang komposisi membantu pemenuhan
nutrisi yang seimbang. nutrisi Ny.S.
3. Memberikan kesempatan O:
pada keluarga untuk - Keluarga kooperatif dan
bertanya dan mengulangi aktif saat dijelaskan.
penjelasan apa yang sudah - Keluarga mendengarkan
kita ajarkan. penjelasan yang diberikan.
4. Memberitahu keluarga - Keluarga membantu proses
untuk lebih aktif dalam pemenuhan kebutuhan
membantu pemenuhan nutrisi Ny.S sampai
kebutuhan nutrisi secara akhirnya bisa makan dan
parsial. minum.
5. Memberikan motivasi - Ny.S belum menghabiskan
pasien dan membantu seluruh porsi, tapi 2/3
anggota keluarga untuk porsi dan minum kurang
membantu Ny.S perlahan- lebih 5 gelas/hari.
lahan memenuhi kebutuhan A:
nutrisi sampai tujuan Masalah teratasi sebagian
tercapai. P:
Lanjutkan intervensi.

39
2 Hipertensi pada Tgl 11-11-2013 Jam 08.30- S: Tgl 13-11-
Ny.S keluarga 09.00 - Keluarga menjawab salam 2013 Jam
Tn.A - Mengucapkan salam - Tn.A mengatakan Ny.S 08.30-09.00
berhubungan - Memvalidasi keadaan masih sedikit pusing dan
dengan keluarga belum bisa sepenuhnya
ketidakmampua - Mengingatkan kontrak melakukan aktifitas.
n keluarga - Menjelaskan tujuan - Keluarga menyetujui
mengenal TUK pertemuan saat ini selama
karakteristik 1. Memberikan pendidikan 30 menit tentang
penyakit dan kesehatan tentang pentingnya aktifitas sehari-
perawatannya Hipertensi yang meliputi: hari.
- Pengertian hipertensi - Keluarga dan pasien
- Tanda dan gejala mengatakan belum
-Penyebab dan pencegahan sepenuhnya memahami apa
2. Memberikan masukan itu yang berkaitan dengan
/saran kepada keluarga hipertensi.
untuk membawa Ny.S - Keluarga sudah membawa
untuk berobat ke pelayan Ny.S ke dokter yang biasa
kesehatan sebagai di kunjungi.
keputusan yang baik. O:
3. Mengajukan kontrak - Keluarga kooperatif dan
waktu pada akhir aktif saat dijelaskan.
pertemuan untuk di - Keluarga mendengarkan
lakukan evaluasi keadaan penjelasan yang diberikan.
Ny.S dan keluarga. - Ny.S masih terlihat sedikit
lemas , tapi sudah agak
lebih baik.
- TD: 130/90mmHg
A:
Masalah teratasi sebagian
P:
Lanjutkan intervensi.

40
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah yang
abnormal dengan diastol > 90 mmHg dan sistol > 140 mmHg yang dipengaruhi oleh
banyak faktor risiko. Hipertensi dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu hipertensi primer
(essensial) dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer merupakan penyebab kematian
terbesar dengan presentase 90% dibandingkan dengan hipertensi sekunder dengan
presentase 10% karena penyebab dari langsung (etiologi) dari hipertensi primer tidak
diketahui dan penderita yang mengalami hipertensi primer tidak mengalami gejala
(asimtomatik). Terapi hipertensi dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu terapi medis
dan non-medis. Kontrol pada penderita hipertensi sangat diperlukan untuk mencegah
komplikasi lebih lanjut.

4.2 Saran
Untuk menurunkan resiko hipertensi, pasien yang menderita hipertensi hendaknya
melakukan terapi medis maupun non-medis secara kontinyu, melakukan pola gaya hidup
sehat seperti olahraga teratur, diet teratur sesuai dengan kebutuhan dan lain-lain.

41
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2000. Diagnosa Keperawatan Jilid 6. Jakarta : EGC.


Dep.Kes RI. 2006. Pedoman kegiatan perawat kesehatan masyarakat di Puskesmas.
Doenges, ME., Moorhouse, MF., Geissler, AC. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan
Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta :
EGC.
Effendy, Nasrul. 1998. Dasar- dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Edisi 2.
Jakarta: EGC.
Friedman, Bowden and Jones. 2003. Family Nursing ,Research, theory and practice.
Apletton
Guyton, AC. & Hall, JE. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.
Stanhope, M. and Lancaster, J., ( 1996 ), Community Health Nursing, St. Louis, Mosby .

42
43