Anda di halaman 1dari 8

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik Bahasan : Kesehatan Reproduksi Remaja


Sasaran : Remaja Padukuhan Dukuh desa Sabdodadi
Hari/Tanggal : Sabtu, 6 Mei 2017
Waktu : 08.00 10.00 WIB
Tempat : Masjid RT 01
Penyuluhan : Pernikahan Dini

A. TUJUAN
1. Tujuan Pembelajaran Umum
Remaja diharapkan mampu memahami kesehatan reproduksi.

2. Tujuan Pembelajaran Khusus


1) Memahami pengertian pernikahan dini
2) Memahami dampak pernikahan dini
3) Mengetahui cara pencegahan pernikahan dini

B. POKOK BAHASAN
1. Pengertian pernikahan dini
2. Dampak pernikahan dini
3. Pencegahan pernikahan dini

C. KEGIATAN PENYULUHAN
No Tahap Waktu Kegiatan Metode
Penyuluh Peserta
1. Pembukaan 5 menit - Memberikan - Menjawab Salam,sapa
salam salam
- Melakukan - Menjawab
persepsi pertanyaan
tentang
pernikahan
dini
2. Penyajian 30 - Menjelaskan - Mendengarkan Ceramah
Materi menit pengertian penjelasan Diskusi
dini - Mendengarkan
- Menjelaskan penjelasan
dampak - Mendengarkan
pernikahan penjelasan
dini - Melakukan
- Menjelaskan tanya jawab
pencegahan (diskusi)
pernikahan
dini
- Memberikan
kesempatan
tanya jawab
3. Penutup 5 menit -Menjelaskan - Menjawab salam Ceramah
kesimpulan penutup
-Memberikan
salam penitup
-Menutup
pertemuan

D. MEDIA
Menggunakan Power Point

E. EVALUASI
Remaja mampu memahami hasil presentase sehingga memberikan banyak
tanggapan dan respon yang baik mengenai pernikahan dini.

F. REFERENSI
Bimo Walgito. 1981. Pengantar Psikologi Umum, Edisi III. Yogyakarta: Yayasan
Penerbit Fak. Psikologi UGM.

https://www.bkkbn.go.id/detailpost/bkkbn-usia-pernikahan-ideal-21-25-tahun

Tri Rusmi Widayatun. 1999. Ilmu Perilaku. Infomedika


G. LAMPIRAN MATERI

KESEHATAN REPRODUKSI

1. Pengertian
Reproduksi adalah suatu proses kehidupan manusia yang menghasilkan keturunan. Untuk
itu sudah menjadi kodrat manusia untuk hamil dan menghasilkan keturunan. Kehamilan yang
baik adalah kehamilan yang tidak akan menimbulkan gangguan kesehatan jasmani yang tidak
akan menimbulkan gangguan jasmani dan rohani, untuk ibu maupun calon anak yang akan
dilahirkan.

2. Usia Reproduksi Sehat


Salah satu faktor yang penting dalam kehamilan adalah umur ibu waktu hamil yang baik untuk
keselamatan ibu dan janin adalah :

a. Umur 10-15 tahun dianggap seperti berbahaya untuk kehamilan sebab secara fisik, ibu
masih dalam tahap pertumbuhan organ-organ reproduksi, masih sangat muda dan belum
kuat sekali.
b. Umur 15-20 tahun masih sangat berbahaya meskipun lebih kurang resiko relatif lebih
secara psikologi dianggap masih belum cukup matang dan dewasa untuk menghadapi
kehamilan dan persalinan.
c. Umur 20-30 adalah kelompok umur paling baik untuk menghadapi secara fisik dan cukup
juga dari segi mental wanita nasehat sudah cukup dewasa. Dari penelitian-penelitian yang
ada menunjukkan bahwa resiko kehamilan baik ibu maupun bayi ternyata paling baik.
d. Umur 30-35 tahun ini dianggap sudah mulai berbahaya secara fisik dan sudah mulai
menurun apalagi jumlah keturunan sebelumnya lebih dari 3 kali ibu hamil pada usia muda
perkembangan fisiknya yang belum masih tidak dapat mencapai yang optimal sering
didapati bahwa terkadang panggul ibu belum berbentuk sempurna sehingga menimbulkan
kesulitan dalam proses persalinan karena adanya ketidak sesuaian antara kepala anak dan
panggul ibu.

3. Pengertian pernikahan dini


Pernikahan dini adalah pernikahan yang langsung pada usia kurang dari 20 tahun pernikahan
sebaiknya dilakukan pada usia 20 tahun untuk wanita dan pria 25 tahun karena pada saat itu
baik secara fisik maupun mental sudah siap menjalani bahtera rumah tangga.
4. Pengertian Kehamilan Resiko Tinggi.
Kehamilan usia dini memuat risiko yang tidak kalah berat. Pasalnya, emosional ibu belum
stabil dan ibu mudah tegang. Sementara kecacatan kelahiran bisa muncul akibat ketegangan saat
dalam kandungan, adanya rasa penolakan secara emosional ketika si ibu mengandung bayinya.
(Ubaydillah, 2000).
Risiko kehamilan pada ibu yang terlalu muda biasanya timbul karena mereka belum siap
secara psikis maupun fisik. Secara psikis, umumnya remaja belum siap menjadi ibu. Bisa saja
kehamilan terjadi karena "kecelakaan". Akibatnya, selain tidak ada persiapan, kehamilannya pun
tidak dipelihara dengan baik. Kondisi psikis yang tidak sehat ini dapat membuat kontraksi
selama proses persalinan tidak berjalan lancar sehingga kemungkinan operasi sesar lebih besar.
Risiko fisiknya pun tak kalah besar karena beberapa organ reproduksi remaja putri seperti rahim
belum cukup matang untuk menanggung beban kehamilan. Bagian panggul juga belum cukup
berkembang sehingga bisa mengakibatkan kelainan letak janin. Kemungkinan komplikasi
lainnya adalah terjadinya keracunan kehamilan/preeklamsia dan kelainan letak plasenta (plasenta
previa) yang dapat menyebabkan perdarahan selama persalinan. Risiko yang bisa terjadi.

DAMPAK PERNIKAHAN DINI


Dampak terhadap hukum
Adanya pelanggaran terhadap 3 Undang-undang di negara kita yaitu:
1. UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan
Pasal 7 (1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun
dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.
Pasal 6 (2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21
tahun harus mendapat izin kedua orang tua.
2. UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
Pasal 26 (1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:
a. mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak
b. menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya dan;
mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.
3. UU No.21 tahun 2007 tentang PTPPO
Patut ditengarai adanya penjualan/pemindah tanganan antara kyai dan orang tua anak
yang mengharapkan imbalan tertentu dari perkawinan tersebut.
Amanat Undang-undang tersebut di atas bertujuan melindungi anak, agar anak tetap
memperoleh haknya untuk hidup, tumbuh dan berkembang serta terlindungi dari perbuatan
kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.
Sungguh disayangkan apabila ada orang atau orang tua melanggar undang-undang
tersebut. Pemahaman tentang undang-undang tersebut harus dilakukan untuk melindungi
anak dari perbuatan salah oleh orang dewasa dan orang tua
B. Dampak biologis
Anak secara biologis alat-alat reproduksinya masih dalam proses menuju kematangan
sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya, apalagi jika
sampai hamil kemudian melahirkan. Jika dipaksakan justru akan terjadi trauma, perobekan yang
luas dan infeksi yang akan membahayakan organ reproduksinya sampai membahayakan jiwa
anak.

Patut dipertanyakan apakah hubungan seks yang demikian atas dasar kesetaraan dalam hak
reproduksi antara isteri dan suami atau adanya kekerasan seksual dan pemaksaan (penggagahan)
terhadap seorang anak.
Dokter spesialis obseteri dan ginekologi dr Deradjat Mucharram Sastraikarta Sp OG yang
berpraktek di klinik spesialis Tribrata Polri mengatakan pernikahan pada anak perempuan
berusia 9-12 tahun sangat tak lazim dan tidak pada tempatnya. Apa alasan ia menikah?
Sebaiknya jangan dulu berhubungan seks hingga anak itu matang fisik maupun psikologis.
Kematangan fisik seorang anak tidak sama dengan kematangan psikologisnya sehingga
meskipun anak tersebut memiliki badan bongsor dan sudah menstruasi, secara mental ia belum
siap untuk berhubungan seks.
Ia memanbahkan, kehamilan bisa saja terjadi pada anak usia 12 tahun. Namun psikologisnya
belum siap untuk mengandung dan melahirkan. Jika dilihat dari tinggi badan, wanita yang
memiliki tinggi dibawah 150 cm kemungkinan akan berpengaruh pada bayi yang dikandungnya.
Posisi bayi tidak akan lurus di dalam perut ibunya. Sel telur yang dimiliki anak juga diperkirakan
belum matang dan belum berkualitas sehingga bisa terjadi kelainan kromosom pada bayi.

C. Dampak psikologis
Secara psikis anak juga belum siap dan mengerti tentang hubungan seks, sehingga akan
menimbulkan trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa anak yang sulit disembuhkan. Anak
akan murung dan menyesali hidupnya yang berakhir pada perkawinan yang dia sendiri tidak
mengerti atas putusan hidupnya. Selain itu, ikatan perkawinan akan menghilangkan hak anak
untuk memperoleh pendidikan (Wajar 9 tahun), hak bermain dan menikmati waktu luangnya
serta hak-hak lainnya yang melekat dalam diri anak.
Menurut psikolog dibidang psikologi anak Rudangta Ariani Sembiring Psi, mengatakan
sebenarnya banyak efek negatif dari pernikahan dini. Pada saat itu pengantinnya belum siap
untuk menghadapi tanggungjawab yang harus diemban seperti orang dewasa. Padahal kalau
menikah itu kedua belah pihak harus sudah cukup dewasa dan siap untuk menghadapi
permasalahan-permasalan baik ekonami, pasangan, maupun anak. Sementara itu mereka yang
menikah dini umumnya belum cukup mampu menyelesaikan permasalan secara matang.
Ditambahkan Rudangta, Sebenarnya kalau kematangan psikologis tidak ditentukan batasan
usia, karena ada juga yang sudah berumur tapi masih seperti anak kecil. Atau ada juga yang
masih muda tapi pikirannya sudah dewasa. Kondisi kematangan psikologis ibu menjadi hal
utama karena sangat berpengaruh terhadap pola asuh anak di kemudian hari. yang namanya
mendidik anak itu perlu pendewasaan diri untuk dapat memahami anak. Karena kalau masik
kenak-kanakan, maka mana bisa sang ibu mengayomi anaknya. Yang ada hanya akan merasa
terbebani karena satu sisi masih ingin menikmati masa muda dan di sisi lain dia harus mengurusi
keluarganya.

D.Dampak sosial
Fenomena sosial ini berkaitan dengan faktor sosial budaya dalam masyarakat patriarki yang
bias gender, yang menempatkan perempuan pada posisi yang rendah dan hanya dianggap
pelengkap seks laki-laki saja. Kondisi ini sangat bertentangan dengan ajaran agama apapun
termasuk agama Islam yang sangat menghormati perempuan (Rahmatan lil Alamin). Kondisi ini
hanya akan melestarikan budaya patriarki yang bias gender yang akan melahirkan kekerasan
terhadap perempuan.

2. Dampak Kehamilan Resiko Tinggi pada Usia Muda.


a. Keguguran.
Keguguran pada usia muda dapat terjadi secara tidak disengaja. misalnya : karena terkejut,
cemas, stres. Tetapi ada juga keguguran yang sengaja dilakukan oleh tenaga non profesional
sehingga dapat menimbulkan akibat efek samping yang serius seperti tingginya angka kematian
dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan kemandulan.
b. Persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR) dan kelainan bawaan.
Prematuritas terjadi karena kurang matangnya alat reproduksi
terutama rahim yang belum siap dalam suatu proses kehamilan, berat badan lahir rendah (BBLR)
juga dipengaruhi gizi saat hamil kurang dan juga umur ibu yang belum menginjak 20 tahun.
cacat bawaan dipengaruhi kurangnya pengetahuan ibu tentang kehamilan, pengetahuan akan
asupan gizi rendah, pemeriksaan kehamilan (ANC) kurang, keadaan psikologi ibu kurang stabil.
selain itu cacat bawaan juga di sebabkan karena keturunan (genetik) proses pengguguran sendiri
yang gagal, seperti dengan minum obat-obatan (gynecosit sytotec) atau dengan loncat-loncat dan
memijat perutnya sendiri.
Ibu yang hamil pada usia muda biasanya pengetahuannya akan gizi masih kurang, sehingga
akan berakibat kekurangan berbagai zat yang diperlukan saat pertumbuhan dengan demikian
akan mengakibatkan makin tingginya kelahiran prematur, berat badan lahir rendah dan cacat
bawaan.
c. Mudah terjadi infeksi.
Keadaan gizi buruk, tingkat sosial ekonomi rendah, dan stress memudahkan terjadi infeksi saat
hamil terlebih pada kala nifas.
d. Anemia kehamilan / kekurangan zat besi.
Penyebab anemia pada saat hamil di usia muda disebabkan kurang pengetahuan akan pentingnya
gizi pada saat hamil di usia muda.karena pada saat hamil mayoritas seorang ibu mengalami
anemia. tambahan zat besi dalam tubuh fungsinya untuk meningkatkan jumlah sel darah merah,
membentuk sel darah merah janin dan plasenta.lama kelamaan seorang yang kehilangan sel
darah merah akan menjadi anemis..
e. Keracunan Kehamilan (Gestosis).
Kombinasi keadaan alat reproduksi yang belum siap hamil dan anemia makin meningkatkan
terjadinya keracunan hamil dalam bentuk pre-eklampsia atau eklampsia. Pre-eklampsia dan
eklampsia memerlukan perhatian serius karena dapat menyebabkan kematian.
f. Kematian ibu yang tinggi.
Kematian ibu pada saat melahirkan banyak disebabkan karena perdarahan dan infeksi. Selain itu
angka kematian ibu karena gugur kandung juga cukup tinggi.yang kebanyakan dilakukan oleh
tenaga non profesional (dukun).
Adapun akibat resiko tinggi kehamilan usia dibawah 20 tahun antara lain:
a. Resiko bagi ibunya :
(1) Mengalami perdarahan.
Perdarahan pada saat melahirkan antara lain disebabkan karena otot rahim yang terlalu
lemah dalam proses involusi. selain itu juga disebabkan selaput ketuban stosel (bekuan darah
yang tertinggal didalam rahim).kemudian proses pembekuan darah yang lambat dan juga
dipengaruhi oleh adanya sobekan pada jalan lahir.
(2) Kemungkinan keguguran / abortus.
Pada saat hamil seorang ibu sangat memungkinkan terjadi keguguran. hal ini disebabkan
oleh faktor-faktor alamiah dan juga abortus yang disengaja, baik dengan obat-obatan maupun
memakai alat.
(3) Persalinan yang lama dan sulit.
Adalah persalinan yang disertai komplikasi ibu maupun janin.penyebab dari persalinan lama
sendiri dipengaruhi oleh kelainan letak janin, kelainan panggul, kelaina kekuatan his dan
mengejan serta pimpinan persalinan yang salahKematian ibu.Kematian pada saat melahirkan
yang disebabkan oleh perdarahan dan infeksi.

b. Dari bayinya :
(1) Kemungkinan lahir belum cukup usia kehamilan.
Adalah kelahiran prematur yang kurang dari 37 minggu (259 hari). hal ini terjadi karena
pada saat pertumbuhan janin zat yang diperlukan berkurang.
(2) Berat badan lahir rendah (BBLR).
Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan yang kurang dari 2.500 gram. kebanyakan hal ini
dipengaruhi kurangnya gizi saat hamil, umur ibu saat hamil kurang dari 20 tahun. dapat juga
dipengaruhi penyakit menahun yang diderita oleh ibu hamil.
(3) Cacat bawaan.
Merupakan kelainan pertumbuhan struktur organ janin sejak saat pertumbuhan.hal ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya kelainan genetik dan kromosom, infeksi, virus
rubela serta faktor gizi dan kelainan hormon.
(4) Kematian bayi
Kematian bayi yang masih berumur 7 hari pertama hidupnya atau kematian perinatal.yang
disebabkan berat badan kurang dari 2.500 gram, kehamilan kurang dari 37 minggu (259 hari),
kelahiran kongenital serta lahir dengan asfiksia.(Manuaba,1998).
Kehamilan usia dini memuat risiko yang tidak kalah berat. Pasalnya, emosional ibu belum stabil
dan ibu mudah tegang. Sementara kecacatan kelahiran bisa muncul akibat ketegangan saat dalam
kandungan, adanya rasa penolakan secara emosional ketika si ibu mengandung bayinya.