Anda di halaman 1dari 12

Nama : Riska Juniar

NPM : 1112013036
SKENARIO 1 BLOK 14 (drg.Bimo Rintoko Sp.Pros)

LOI. Memahami dan Menjelaskan Mengenai Sisitem Kesehatan Nasional & JKN
Definisi
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan
kesehatan yang memadukan berbagai upaya bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna
menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam kerangka mewujudkan
kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar 1945 (Depkes RI,
2004)

Program JKN, adalah suatu program pemerintah dan masyarakat dengan tujuan memberikan
kepastian jaminan kesehatan yang menyeluruh bagi setiap rakyat Indonesia agar penduduk
Indonesia dapat hidup sehat, produktif, dan sejahtera (UU No.40 Tahun 2004)

Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN) tidak menetapkan definisi atau
pengertian JKN dalam salah satu ayat atau pasalnya. Dengan merangkai beberapa pasal dan
ayat yang mengatur tentang program jaminan sosial, manfaat, tujuan dan tatalaksananya, dapat
dirumuskan pengertian Program JaminanKesehatan Nasional sebagaiberikut:
Program jaminan sosial yang menjamin biaya pemeliharaan kesehatan serta pemenuhan
kebutuhan dasar kesehatan yang diselenggarakan nasional secara bergotong-royong wajib oleh
seluruh penduduk Indonesia dengan membayar iuran berkala atau iurannya dibayari oleh
Pemerintah kepada badan penyelenggara jaminan sosial kesehatan nirlaba - BPJS Kesehatan.

Tujuan

Tujuan SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua komponen bangsa,
baik Pemerintah, Daerah, dan/atau masyarakat termasuk badan hukum, badan usaha, dan
lembaga swasta secara sinergis, berhasil guna dan berdaya guna, sehingga terwujud derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. ( Perpres 72, 2012)

Manfaat yang dijamin oleh Program JKN berupa pelayanan kesehatan perseorangan yang
komprehensif, mencakup pelayanan peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan
penyakit(preventif), pengobatan(kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) termasuk obat dan
bahan medis.Pemberian manfaat tersebut dengan menggunakan teknik layanan terkendali mutu
dan biaya (managed care)
Tambahan
Menurut pendapat Hodgetts dan Casio, jenis pelayanan kesehatan secara umum dapat
dibedakan atas dua, yaitu:

1. Pelayanan kedokteran

Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam kelompok pelayanan kedokteran (medical services)
ditandai dengan cara pengorganisasian yang dapat bersifat sendiri (solo practice) atau secara
bersama-sama dalam satu organisasi. Tujuan utamanya untuk menyembuhkan penyakit dan
memulihkan kesehatan, serta sasarannya terutama untuk perseorangan dan keluarga.

2. Pelayanan kesehatan masyarakat

Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam kelompok kesehatan masyarakat (public health
service) ditandai dengan cara pengorganisasian yang umumnya secara bersama-sama dalam
suatu organisasi.

Sistem Rujukan
Sistem rujukan adalah suatu sistem jaringan pelayanan kesehatan yang memungkinkan
terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas timbulnya masalah dari suatu
kasus atau masalah kesehatan masyarakat, baik secara vertikal maupun horizontal, kepada yang
lebih kompeten, terjangkau dan dilakukan secara rasional (Hatmoko, 2000)
Tujuan Rujukan
Sistem rujukan mempunyai tujuan umum dan khusus, antara lain :
1. Umum
Dihasilkannya pemerataan upaya pelayanan kesehatan yang didukung kualitas
pelayanan yang optimal dalam rangka memecahkan masalah kesehatan secara berdaya
guna dan berhasil guna.
2. Khusus
a. Menghasilkan upaya pelayanan kesehatan klinik yang bersifat kuratif dan
rehabilitatif secara berhasil guna dan berdaya guna.
b. Dihasilkannya upaya kesehatan masyarakat yang bersifat preveventif secara
berhasil guna dan berdaya guna.
Jenis Rujukan

Menurut Hatmoko (2000) jenis rujukan secara konseptual menyangkut hal-hal sebagai berikut:
1) Rujukan medik, meliputi
a. Konsultasi penderita untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan operatif
dan lain-lain.
b. Pengiriman bahan (specimen) unutuk pemeriksaan laboratorium yang lebih
lengkap.
c. Mendatangkan atau mengirim tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk mutu
pelayanan pengobatan
2) Rujukan kesehatan
Adalah rujukan yang menyangkut masalah kesehatan masyarakat yang bersifat
preventif dan promotif yang antara lain meliputi bantuan :
a. Survey epidemiologi dan pemberantasan penyakit atas kejadian luar biasa atau
terjangkitnya penyakit menular
b. Pemberian pangan atas terjadinya kelaparan di suatu wilayah
c. Pendidikan penyebab keracunan, bantuan teknologi penanggulangan kerancunan
dan bantuan obat-obatan atas terjadinya keracunan masal
d. Saran dan teknologi untuk penyediaan air bersih atas masalah kekurangan air bersih
bagi masyarakat umum
e. Pemeriksaan specimen air di laboratorium kesehatan dan lain-lain
Alur Rujukan

Dalam rangka pelaksanaan rujukan diperhatikan hal-hal yang menyangkut tingkat


kegawatan penderita, waktu dan jarak tempuh sarana yang dibutuhkan serta tingkat
kemampuan tempat rujukan.
Dalam kaitan ini alur rujukan untuk kasus gawat darurat dapat dilaksanakan sebagai berikut:
1. Dari kader
Kader dapat langsung merujuk ke :
a. Puskesmas pembantu atau pondok bersalin atau bidan di desa
b. Puskesmas atau puskesmas denga rawat inap
c. Rumah sakit pemerintah atau swasta
2. Dari posyandu
Dari posyandu dapat langsung merujuk ke :
a. Puskesmas pembantu atau
b. Pondok bersalin atau bidan desa atau puskesmas atau puskesmas dengan rawat
inap atau rumah sakit pemerintah yang terdekat
3. Dari puskesmas pembantu
Dapat langsung merujuk ke rumah sakit kelas D/C atau rumah sakit swata
4. Dari pondok bersalin
Dapat langsung ke rumah sakit kelas D/C atau rumah sakit swasta

Tipe tipe Rumah Sakit

Rumah sakit tipe A


Fasilitas : Pelayanan medis dasar (pelayanan kesehatan yang bersifat Umum dan
kesehatan gigi), spesialistik (bedah, pelayanan bedah, Penyakit dalam, kebidanan, dan
kandungan, kesehtan atau THT, kulit dan kelamin, jantung syaraf,gigi dan mulut, paru-
paru, orthopedic,jiwa, radiology anastesiologi (pembiusan), patologi anatomi dan
kesehatan).Dengan pendalaman tertentu dalam salah satu pelayanan spesialistik yang
luas, memiliki lebih dari 1000 kamar tidur
Rumah sakit tipe B
Fasilitas : Pelayanan medis dasar (pelayanan kesehatan yang bersifat umum dan
kesehatan gigi), spesialistik (bedah, pelayanan bedah, penyakit dalam, kebidanan dan
kandungan, kesehatan atau THT, kulit dan kelamin, jantung, syaraf, gigi dan mulut,
paru-paru, orthopedic, jiwa, radiology,anastesiology (pembiusan), patology anatomi,
dan kesehatan dengan pendalaman tertentu dalam salah satu pelayanan spesialistik),
yang terbatas memiliki kamar tidur
Rumah sakit tipe C
Adalah rumah sakit yang mapu memberikan pelayanan kedokeran spesialis
terbatas.Rumah sakit ini didirikan disetiap ibukota Kabupaten (Regency hospital) yang
menampung pelayanan rujukan dari puskesmas.
Fasilitas : Pelayanan medis dasar (pelayanan kesehatan yang bersifat umum dan
kesehatn gigi) memilki 100-500 kamar tidur
Rumah sakit tipe D
Adalah rumah sakit yang bersifat transisi dengan kemampuan hanya memberikan
pelayanan kedokteran umum dan gigi. Rumah sakit ini menampung rujukan yang
berasal dari puskesmas.
Fasilitas : Pelayanan dasar (pelayanan kesehatan yang bersifat umum dan gigi)
Rumah sakit tipe E
Adalah rumah sakit khusus (spesial hospital) yang menyalenggarakan hanya satu
macam pelayan kesehatan kedokteran saja. Saat ini banyak rumah sakit kelas ini
ditemukan misal, rumah sakit kusta, paru, jantung, kanker, ibu dan anak.
Fasilitas : Hanya memiliki fasilitas kesehatan di bidang tertentu.

LO II. Memahami dan Menjelaskan Sistem Pelayanan Kesehatan

Sistem Pelayanan Kesehatan


Sistem pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dalam meningkatkan derajat
kesehatan. Melalui system ini tujuan pembangunan kesehatan dapat tercapai dengan cara
efektif, efisien dan tepat sasaran. Keberhasilan sistem pelayanan kesehatan tergantung dari
berbagai komponen yang masuk dalam pelayanan diantara perawat dokter atau tim kesehatan
lain yang satu dengan yang lain saling menunjang. Sistem ini akan memberikan kualitas
pelayanan kesehatan yang efektif dengan melihat nilai-nilai yang ada di masyarakat. Dalam
pelayanan keperawatan yang merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan, para
perawat diharapkan juga dapat memberikan layanan secara berkualitas (Hidayat, 2008).

Teori Sistem
Teori tentang sistem akan memudahkan dalam memecahkan persoalan yang ada dalam
system. System tersebut terdiri dari subsistem yang membentuk sebuah system yang antara
satu dengan lainnya harus saling mempengaruhi (Hidayat, 2008).

Dalam teori sistem disebutkan bahwa sistem itu terbentuk dari subsistem yang saling
berhubungan dan saling mempengaruhi. Bagian tersebut terdiri dari input, proses, output,
dampak, umpan balik dan lingkungan yang kesemuanya saling berhubungan dan saling
mempengaruhi, sehingga dapat digambarkan sebagai berikut (Hidayat, 2008)
Tingkat Pelayanan Kesehatan
Melalui tingkat pelayanan kesehatan akan dapat diketahui kebutuhan dasar manusia
tentang kesehatan. Menurut Leavel dan Carlk dalam memberikan pelayanan kesehatan harus
memandang pada tingkat pelayanan kesehatan yang akan diberikan, diantara tingkat pelayanan
kesehatan adalah sebagai berikut (Hidayat, 2008):

1. Health Promotion (Promosi Kesehatan)


Merupakan tingkat pertama dalam memberikan pelayanan melalui peningkatan
kesehatan. Bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan agar masyarakat atau
sasarannya tidak terjadi gangguan kesehatan. Tingkat pelayanan ini meliputi
kebersihan perseorangan, perbaikan sanitasi lingkungan, layanan prenatal, layanan
lansia, dan semua kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan status kesehatan.

2. Spesific Protection (Perlindungan Khusus)


Perlindungan Khusus ini dilakukan dalam melindungi masyarakat dari bahaya yang
akan menyebabkan penurunan status kesehatan, atau bentuk perlindungan terhadap
penyakit-penyakit tertentu, ancaman kesehatan, yang termasuk dalam tingkat
pelayanan kesehatan ini adalah pemberian imunisasi yang digunakan untuk
perlindungan pada penyakit tertentu seperti imunisasi BCG, DPT, Hepatitis,
campak, dan lain-lain. Pelayanan perlindungan keselamatan kerja diamana
pelayanan kesehatan yang diberikan kepada seseorang yang bekerja di tempat risiko
kecelakaan tinggi seperti kerja dibagian produksi bahan kimia, bentuk perlindungan
khusus berupa pelayanan pemakaian alat pelindung diri dan lain sebagainya.

3. Early Diagnosis and Prompt Treatment (Diagnosis dini dan pengobatan segera)
Tingkat pelayanan kesehatan ini sudah masuk ke dalam tingkat dimulainya atau
timbulnya gejala dari suatu penyakit. Tingkat pelayanan ini dilaksanakan dalam
mencegah meluasnya penyakit yang lebih lanjut serta dampak dari timbulnya
penyakit sehingga tidak terjadi penyebaran. Bentuk tingkat pelayanan kesehatan ini
dapat berupa kegiatan dalam rangka survey pencarian kasus baik secara individu
maupun masyarakat, survey penyaringan kasus serta pencegahan terhadap
meluasnya kasus.
4. Disability Limitation ( Pembatasan Cacat )
Dilakukan untuk mencegah agar pasien atau masyarakat tidak mengalami dampak
kecacatan akibat penyakit yang ditimbulkan. Tingkat ini dilaksanakan pada kaus
atau penyakit yang mengalami potensi kecacatan. Bentuk kegiatan yang dapat
dilakukan dapat berupa perawatan untuk menghentikan penyakit, mencegah
komplikasi lebih lanjut, pemberian segala fasilitas untuk mengatasi kecacatan dan
mncegah kematian.

5. Rehabilitation ( Rehabilitasi )

Tingkat pelayanan ini dilaksanakan setelah pasien didiagnosis sembuh. Sering pada
tahap ini dijumpai pada fase pemulihan terhadap kecacatan sebagaimana program
latihan-latihan yang diberikan kepada pasien, kemudian memberikan fasilitas agar
pasien memiliki keyakinan kembali atau gairah hidup kembali ke masyarakat dan
masyarakat mau menerima dengan senang hati karena kesadaran yang dimilikinya.

Manfaat pelayanan kesehatan

Pelayanan kesehatan tingkat pertama, yaitu pelayanan kesehatan non spesialistik mencakup:
1. Administrasi pelayanan
2. Pelayanan promotif dan preventif
3. Pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi medis
4. Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun non operatif
5. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai
6. Transfusi darah sesuai kebutuhan medis
7. Pemeriksaan penunjang diagnosis laboratorium tingkat pertama
8. Rawat inap tingkat pertama sesuai indikasi
LO III. Memahami dan Menjelaskan Asurasi Kesehatan

Memahami dan menjelaskan definisi BPJS

Menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 101 Tahun 2012 tentang Penerima


Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 8, Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial yang selanjutnya disingkat BPJS adalah badan hukum
yang dibentuk untuk menyelenggarakan progam jaminan sosial (Anonymous, 2014).
Anonymous. 2014. Panduan resmi memperoleh jaminan kesehatan dari BPJS.
Jakarta, Visimedia

Peserta BPJS Kesehatan adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja
paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran, meliputi
(Anonymous, 2014):

1. Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI): fakir miskin dan orang
tidak mampu, dengan penetapan peserta sesuai ketentuan peraturan
perundang- undangan (Anonymous, 2014).
2. Bukan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (Non PBI), terdiri dari
(Anonymous, 2014):

Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya

a) Pegawai Negeri Sipil;


b) Anggota TNI;
c) Anggota Polri;
d) Pejabat Negara;
e) Pegawai Pemerintah non Pegawai Negeri;
f) Pegawai Swasta; dan
g) Pekerja yang tidak termasuk huruf a sd f yang menerima Upah.

Termasuk WNA yang bekerja di Indonesia paling singkat 6 (enam)


bulan (Anonymous, 2014).

Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya

a) Pekerja di luar hubungan kerja atau Pekerja mandiri; dan


b) Pekerja yang tidak termasuk huruf a yang bukan penerima Upah.

Termasuk WNA yang bekerja di Indonesia paling singkat 6 (enam)


bulan (Anonymous, 2014).

Bukan pekerja dan anggota keluarganya

a) Investor;
b) Pemberi Kerja;
c) Penerima Pensiun, terdiri dari (Anonymous, 2014) :

- Pegawai Negeri Sipil yang berhenti dengan hak pensiun;


- Anggota TNI dan Anggota Polri yang berhenti dengan hak
pensiun;
- Pejabat Negara yang berhenti dengan hak pensiun;
- Janda, duda, atau anak yatim piatu dari penerima pensiun yang
mendapat hak pensiun;
- Penerima pensiun lain; dan
- Janda, duda, atau anak yatim piatu dari penerima pensiun lain
yang mendapat hak pension (Anonymous, 2014).

d) Veteran;
e) Perintis Kemerdekaan;
f) Janda, duda, atau anak yatim piatu dari Veteran atau Perintis
Kemerdekaan; dan
g) Bukan Pekerja yang tidak termasuk huruf a sd e yang mampu
membayar iuran.

ANGGOTA KELUARGA YANG DITANGGUNG

1. Pekerja Penerima Upah :

Keluarga inti meliputi istri/suami dan anak yang sah (anak kandung,
anak tiri dan/atau anak angkat), sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang. Anak
kandung, anak tiri dari perkawinan yang sah, dan anak angkat yang sah,
dengan kriteria (Anonymous, 2014):

a. Tidak atau belum pernah menikah atau tidak mempunyai penghasilan


sendiri;
b. Belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun atau belum berusia 25 (dua
puluh lima) tahun yang masih melanjutkan pendidikan formal
(Anonymous, 2014).
2. Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja: Peserta dapat
mengikutsertakan anggota keluarga yang diinginkan (tidak terbatas)
(Anonymous, 2014).
3. Peserta dapat mengikutsertakan anggota keluarga tambahan, yang meliputi
anak ke-4 dan seterusnya, ayah, ibu dan mertua (Anonymous, 2014).
4. Peserta dapat mengikutsertakan anggota keluarga tambahan, yang meliputi
kerabat lain seperti Saudara kandung/ipar, asisten rumah tangga, dll
(Anonymous, 2014).

Anonymous. 2014. BPJS kesehatan. [Online]. Available at http://bpjs-


kesehatan.go.id/bpjs/index.php/pages/detail/2014/12. [28 Maret 2015]

LO 3. 2. Memahami dan menjelaskan manfaat BPJS

Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) BPJS Kesehatan meliputi


(Anonymous, 2014):

a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama, yaitu pelayanan kesehatan non


spesialistik mencakup (Anonymous, 2014):

1. Administrasi pelayanan
2. Pelayanan promotif dan preventif
3. Pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi medis
4. Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun non operatif
5. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai
6. Transfusi darah sesuai kebutuhan medis
7. Pemeriksaan penunjang diagnosis laboratorium tingkat pertama
8. Rawat inap tingkat pertama sesuai indikasi

b. Pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan, yaitu pelayanan kesehatan


mencakup (Anonymous, 2014):

1. Rawat jalan, meliputi (Anonymous, 2014):

a) Administrasi pelayanan
b) Pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi spesialistik oleh
dokter spesialis dan sub spesialis
c) Tindakan medis spesialistik sesuai dengan indikasi medis
d) Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai
e) Pelayanan alat kesehatan implant
f) Pelayanan penunjang diagnostic lanjutan sesuai dengan indikasi medis
g) Rehabilitasi medis
h) Pelayanan darah
i) Peayanan kedokteran forensic
j) Pelayanan jenazah di fasilitas kesehatan

2. Rawat Inap yang meliputi (Anonymous, 2014):

a) Perawatan inap non intensif


b) Perawatan inap di ruang intensif
c) Pelayanan kesehatan lain yang ditetapkan oleh Menteri.

Anonymous. 2014. BPJS kesehatan. [Online]. Available at http://bpjs-


kesehatan.go.id/bpjs/index.php/pages/detail/2014/12. [28 Maret 2015]

LO.3.3 Memahami dan menjelaskan prosedur pendaftaran BPJS


Prosedur pendaftaran peserta JKN BPJS kesehatan
A. Pendaftaran Bagi Penerima Bantuan Iuran / PBI

Pendataan Fakir Miskin dan Orang Tidak mampu yang menjadi peserta PBI dilakukan
oleh lembaga yang menyelenggarakan urusan Pemerintahan di bidang statistik (Badan Pusat
Statistik) yang diverifikasi dan divalidasi oleh Kementerian Sosial.

Selain peserta PBI yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat, juga terdapat penduduk yang
didaftarkan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan SK Gubernur/Bupati/Walikota bagi Pemda
yang mengintegrasikan program Jamkesda ke program JKN.

B. Pendafataran Bagi Peserta Pekerja Penerima Upah / PPU


1. Perusahaan / Badan usaha mendaftarkan seluruh karyawan beserta anggota keluarganya
ke Kantor BPJS Kesehatan dengan melampirkan:
a) Formulir Registrasi Badan Usaha / Badan Hukum Lainnya.
b) Data Migrasi karyawan dan anggota keluarganya sesuai format yang ditentukan
oleh BPJS Kesehatan.
2. Perusahaan / Badan Usaha menerima nomor Virtual Account (VA) untuk dilakukan
pembayaran ke Bank yang telah bekerja sama (BRI/Mandiri/BNI).
3. Bukti Pembayaran iuran diserahkan ke Kantor BPJS Kesehatan untuk dicetakkan kartu
JKN atau mencetak e-ID secara mandiri oleh Perusahaan / Badan Usaha.

C. Pendaftaran Bagi Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah / PBPU dan Bukan Pekerja
a) Pendaftaran PBPU dan Bukan Pekerja
1. Calon peserta mendaftar secara perorangan di Kantor BPJS Kesehatan.
2. Mendaftarkan seluruh anggota keluarga yang ada di Kartu Keluarga.
3. Mengisi formulir Daftar Isian Peserta (DIP) dengan melampirkan:
- Fotokopi Kartu Keluarga (KK)
- Fotokopi KTP/Paspor, masing-masing 1 lembar
- Fotokopi Buku Tabungan salah satu peserta yang ada didalam Kartu Keluarga
- Pasfoto 3 x 4, masing-masing sebanyak 1 lembar.
4. Setelah mendaftar, calon peserta memperoleh Nomor Virtual Account (VA).
5. Melakukan pembayaran iuran ke Bank yang bekerja sama (BRI/Mandiri/BNI).
6. Bukti pembayaran iuran diserahkan ke kantor BPJS Kesehatan untuk dicetakkan
kartu JKN.

Pendaftaran selain di Kantor BPJS Kesehatan, dapat melalui Website BPJS


Kesehatan pada situs berikut: http://daftar.bpjs-kesehatan.go.id/bpjs-online/