Anda di halaman 1dari 34

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia saat
ini. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO) telah mencanangkan tuberkulosis
sebagaiGlobal Emergency. Laporan WHO tahun2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus
baru tuberkulosis pada tahun 2002, dimana 3,9 juta adalah kasusBTA (Basil Tahan Asam)
positif. Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis dan menurut
regionalWHO jumlah terbesar kasus TB terjadi di Asia tenggara yaitu 33 % dari seluruh kasus
TB di dunia, namun bila dilihatdari jumlah penduduk terdapat 182 kasus per 100.000 penduduk.
Di Afrika hampir 2 kali lebih besar dari Asiatenggara yaitu 350 per 100.000 pendduduk.
Diperkirakan angka kematian akibat TB adalah 8000 setiap hari dan 2 - 3 juta setiap tahun.
Laporan WHO tahun2004 menyebutkan bahwa jumlah terbesar kematian akibat TB terdapat di
Asia tenggara yaitu 625.000 orang atauangka mortaliti sebesar 39 orang per 100.000 penduduk.
Angka mortaliti tertinggi terdapat di Afrika yaitu 83 per100.000 penduduk, dimana prevalensi
HIV yang cukup tinggi mengakibatkan peningkatan cepat kasus TB yang muncul
Tuberkulosis atau TB atau TBCmerupakan suatu penyakit infeksi bakteri yang
disebabkanolehMycobacterium Tuberculosis, yang berbentuk batang gram positif dengan
ukuran panjang 1-4/Um dan tebal 0,3-0,6/Um.Penyakit ini memiliki prevalensi yang tinggi di
Indonesia. Prevalensi penyakit ini sangat terkait dengan tingkat ekonomi penduduk dan tingkat
pendidikan, dimana sering pada ekonomi menengah ke bawah dan pada penduduk dengan
tingkat pendidikan rendah yang kurang memahami tenatng penyakit TB. Selain itu tingkat
kebersihan individu dan orang disekelilingnya serta kepadatan penduduk menyebabkan
penularan penyakit ini sangat mudah dan cepat terutama kepada anak-anak.
Indonesia masih menempati urutan ke 3 di dunia untuk jumlah kasus TB setelah India
dan China. Setiap tahun terdapat 250.000 kasus baru TB dan sekitar 140.000 kematian akibat
TB. Di Indonesia tuberkulosis adalah pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan
merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung danpenyakit pernapasan akut
pada seluruh kalangan usia.
Tingginya prevalensi TB disebabkan TB ditularkan melalui udara (melalui percikan
dahak penderita TB). Ketika penderita TB batuk, bersin, berbicara atau meludah, mereka
memercikkan kuman TB atau basil ke udara. Seseorang dapat terpapar dengan TB hanya dengan
menghirup sejumlah kecil kuman TB. Penderita TB dengan status TB BTA (Basil Tahan Asam)
positif dapat menularkan sekurang-kurangnya kepada 10-15 orang lain setiap tahunnya.
Sepertiga dari populasi dunia sudah tertular dengan TB. Seseorang yang tertular dengan kuman
TB belum tentu menjadi sakit TB. Kuman TB dapat menjadi tidak aktif (dormant) selama
bertahun-tahun dengan membentuk suatu dinding sel berupa lapisan lilin yang tebal. Bila sistem
kekebalan tubuh seseorang menurun, kemungkinan menjadi sakit TB menjadi lebih besar.
Seseorang yang sakit TB dapat disembuhkan dengan minum obat secara lengkap dan teratur.

1.2 Tujuan Kegiatan

1.2.1 Mengidentifikasi masalah kesehatan pada keluarga yang menderita penyakit


tuberkulosis dan menentukan solusi.

1.2.2 Memberikan pengetahuan kepada pasien dan keluarga tentang penyakit


tuberkulosis, penyebab, cara penularan, cara pencegahan dan pentingnya
pengobatan pada penyakit tuberkulosis.

1.2.3 Sebagai salah satu tugas akhir dalam kepanitraan klinik Rotasi II di Puskesmas

1.3 Manfaat Kegiatan

1.3.1 Dapat menjadi masukan kepada masyarakat, petugas puskesmas dan khususnya
keluarga sebagai upaya untuk mencegah berkembangnya penyakit tuberkulosis di
masyarakat

1.3.2 Sebagai bahan pembelajaran dan menambah pengetahuan penulis dalam


menganalisa dan memberikan solusi pada permasalahan yang dihadapi oleh
keluarga binaan
1.4 Metode Kegiatan

Metode yang digunakan pada kegiatan ini adalah pembinaan langsung keluarga
binaan yang berobat ke puskesmas Lubuk buaya, keluarga dikunjungi beberapa kali
dalam 1 bulan. Pembinaan ini meliputi penatalaksanaan yang komprehensif yaitu
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif terhadap masalah TB Paru di keluarga
tersebut.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit infeksi bakteri menahun yang disebabkan oleh
Mycobakterium tuberculosis yang ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang
terinfeksi, sebagian besar kuman TB menyerang Paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh
lainnya termasuk meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe.

Gambar 1. Lokasi Fokus Primer paling Sering pada Tuberkulosis

2.2 Epidemiologi
Hingga saat ini, tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia.
Mycobacterium tuberkulosis telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia. Pada Tahun 1993,
WHO mencanangkan kedaruratan global penyakit TB karena pada sebagian besar negara
didunia, penyakit TB tidak terkendali, ini disebabkan banyaknya penderita yang tidah berhasil
disembuhkan, terutama penderita menular (BTA positif). Pada tahun 1995 diperkirakan setiap
tahun terjadi sekitar 9 juta penderita baru TB dengan kematian 3 juta orang (WHO, Treatment of
Tuberculosis, Guidelines of National Programme 1997). Di negara-negara berkembang kematian
TB merupakan 25% dari seluruh kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Diperkirakan 95%
penderita TB berada di negara berkembang 75% penderita TB adalah kelompok usia produktif
(15- 50 tahun). Munculnya epidemi HIV/AIDS di dunia, diperkirakan penderita TB akan
meningkat. Kematian wanita karena TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan,
persalinan dan nifas (WHO).
Indonesia masih menempati urutan ke 3 di dunia untuk jumlah kasus TB setelah India
dan China. Setiap tahun terdapat 250.000 kasus baru TB dan sekitar 140.000 kematian akibat
TB. Di Indonesia tuberkulosis adalah pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan
merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung danpenyakit pernapasan akut
pada seluruh kalangan usia.
Survei prevalensi TB yang dilakukan di enam propinsi pada tahun 1983-1993
menunjukkan bahwa prevalensi TB di Indonesia berkisar antara 0,2 0,65%. Sedangkan
menurut laporan Penanggulangan TB Global yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2004,
angka insidensi TB pada tahun 2002 mencapai 555.000 kasus (256 kasus/100.000 penduduk),
dan 46% diantaranya diperkirakan merupakan kasus baru. Perkiraan prevalensi, insidensi dan
kematian akibat TB dilakukan berdasarkan analisis dari semua data yang tersedia, seperti
pelaporan kasus, prevalensi infeksi dan penyakit, lama waktu sakit, proporsi kasus BTA positif,
jumlah pasien yang mendapat pengobatan dan yang tidak mendapat pengobatan, prevalensi dan
insidens HIV, angka kematian dan demografi.
Beban TB di Indonesia masih sangat tinggi, khususnya mengenai kesembuhan yang ada.
TB adalah pembunuh nomor satu diantara penyakt menular dan merupakan peringkat ketiga
dalam daftar 10 penyakit pembunuh tertinggi di Indonesia, yang menyebabkan sekitar 88.000
kematian setiap tahunnya.
Secara Regional prevalensi TB BTA positif di Indonesia dikelompokan kedalam 3
wilayah, yaitu:
1. Wilayah Sumatera angka prevalensi TB adalah 160 per 100.000 penduduk
2. Wilayah Jawa dan Bali angka prevalensi TB adalah 110 per 100.000 penduduk
3. Wilayah Indonesia timur angka prevalensi TB adalah 210 per 100.000 penduduk

2.3 Etiologi
Penyakit tuberculosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis.Bakteri ini
berbentuk batang lurus atau sedikit melengkung, tdak berspora dan tidak berkapsul. Ukuran
panjang sekitar 1 4 m dan lebar 0,3 0,6 m. Mycobacterium terdiri dari lapisan lemak yang
cukup tinggi (60%). Penyusun utama dinding sel bakteri adalah asam mikolat, complex waxes,
trehalosa dimicolat dan mycobacterial sulfolipids yang berperan dalam virulensi. Unsur lain yang
terdapat pada dinding sel bakteri tersebut adalah polisakarida seperti arabinogalaktan dan
arabinomatan. Struktur dinding sel yang kompleks tersebut menyebabkan bakteri bersifat tahan
asam.

2.4 Patogenesis
a) Tuberkulosis Primer
Kuman tuberculosis yang masuk melalui saluran pernapasan akan bersarang di
jaringan paru sehingga akan terbentuk suatu saran pneumonia yang disebut sarang primer
atau afek primer. Sarang primer ini mungkin akan timbul dibagian mana saja dalam paru,
berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang primer akan kelihatan peradangan saluran
getah bening menuju hilus (limfangitis local). Peradangan tersebut diikuti oleh
pembesaran kelenjar getah bening di hilus (limfadenitis regional). Afek primer bersama
sama dengan limfangitis regional disebut dengan kompleks primer.
Kompleks primer ini akan mengalami salah satu dari dibawah ini:
1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas, antara lain: sarang Ghon, garis fibrotic,
sarang perkapuran di hilus.
3. Menyebar dengan cara:
Perkontinuitatum, meyebar ke sekitarnya
Penyebaran secara bronkogen, baik dari paru yang bersangkutan maupun ke paru
disebelahnya atau tertelan
Penyabaran secara hematogen dan limfogen. Penyebaran ini berkaitan dengan
daya tahan tubuh, jumlah dan virulensi kuman. Sarang yang ditimbulkan dapat
sembuh secara spontan, akan tetapi bila tidak terdapat imunitas yang adekuat,
penyebaran ini akan menimbulkan keadaan cukup gawat seperti tuberculosis
milier, meningitis tuberculosis. Penyebaran ini dapat menimbulkan tuberculosis
pada alat tubuh lainnya misalnya tulang, ginjal, adrenal, genital dan sebagainya.
b) Tubekulosis Post Primer
Tuberculosis post primer akan muncul bertahun tahun kemudian setelah
tuberculosis primer, biasanya terjadi pada usia 15 40 tahun. Tuberculosis post primer
dimulai dengan sarang dini yang umumnya terletak di segmen apical lobus superior
maupun lobus inferior. Sarang ini awalnya berbentuk suatu sarang pneumoni kecil, yang
akan mengikuti salah satu jalan sebagai berikut:
1. Diresorpsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat
2. Sarang tersebut akan meluas dan segera terjadi proses penyembuhan dengan
penyebukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan terjadi pengapuran dan akan sembuh
dalam bentuk pengapuran. Sarang tersebut dapat menjadi aktif kembali dengan
membentuk perkejuan dan menimbulkan kavitas bila jaringan keju dibatukkan
keluar.
3. Sarang pneumonia meluas, membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa). Kaviti akan
muncul dengan dibatukkannya jaringan keju keluar. Kaviti awalnya berdinding tipis,
kemudian dindingnya akan menjadi tebal (kaviti sklerotik).

2.5 Diagnosis
a) Gambaran klinis
Gambaran klinis tuberculosis dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu gejala local dan
gejala sistemik.
1. Gejala local respiratori antara lain:
Batuk batuk lebih dari 2 minggu
Batuk berdahak dengan kadang disertai darah
Sesak nafas
Nyeri dada
Gejala gejala diatas sangat bervariasi, mulai dari tidak aa gejala sampai gejala
yang cukup berat tergantung dari luas lesi
2. Gejala sistemik seperti:
Demam yang lebih dari sebulan
Malaise
Keringat malam walaupun sedang tidak beraktifitas
Anoreksia
Dan berat badan yang menurun dengan cepat

b) Pemeriksaan Fisik
Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas kelainan struktur
paru.Pada awal perkembangan penyakit umumnya sulit untuk ditemukan kelainan. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan:
Inspeksi :Gerakan dinding dada simetris, namun kadang terdapat retraksi rongga dada,
difragma dan mediatinum.
Palpasi : Fremitus biasanya meningkat
Perkusi :Tergantung dari beratnya TB, bias dari pekak sampai redup
Auskultasi :Suara nafas bronchial, amforik, suara nafas lemah, ronkhibasah

c) Pemeriksaan Bakteriologis
Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakan diagnosis, menilai keberhasilan
pengobatan, dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk penegakan
diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam
dua hari kunjungan yang berturutan berupa Sewaktu Pagi Sewaktu (SPS):
S (sewaktu) : dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama
kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan
dahak pagi pada hari kedua.
P (pagi) : dahak dikumpulkan dirumah pada agi hari kedua, segera setal bangun
tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK.
S (sewaktu) : dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan dahak
pagi.

Interpretasi pemeriksaan mikroskopik dibaca dalam skala IUATLD (International


Union Against Tuberkulosis and Lung Disease):
Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang disebut negative
Ditemukan 1 9 BTA dalam 100 lapang pandang hanya disebutkan dengan
jumlah kuman yang ditemukan
Ditemukan 10 99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut + (+1)
Ditemukan 1 10 BTA dalam 1 lapang pandang disebut ++ (+2)
Ditemukan > 10 BTA dalam 1 lapang pandang disebut +++ (+3)

d) Pemeriksaan Radiologis
Pada sebagian besar TB paru, diagnosis terutama ditegakan dengan pemeriksaan
dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. Namun pada kondisi
tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut:
Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPShasilnya BTA positif. Pada kasus ini
pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis TB paru BTA
positif
Ketiga specimen dahak hasilnya tetap negative setelah 3 spesimen dahak SPS pada
pemeriksaan sebelumnya hasilnya negative dan tidak ada perbaikan setelah
pemberian antibiotic non OAT.
Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan
penangan khusus (seperti: pneumotoraks, pleuritis eksudativa, efusi perikarditis atau
efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptosis berat (untuk menyingkirkan
bronkiektasis atau aspergiloma).
Gambaran radiologi yang dicurigai sebagai lesi aktif akan tampak bayangan
berawan di segmen apical dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus
bawah, ditemukan kavitas atau bayangan bercak milier. Pada lesi TB inaktif tampak
gambaran fibrotic, kalsifikasi dan penebalan pleura.
Alur Dignostik

Gambar 2. Algoritma dignostik TB Paru (Alternatif I)


Gambar 3. Algoritma dignostik TB Paru (Alternatif II)

2.6 Klasifikasi
a) Klasifikasi berdasarkan tubuh yang terkena
1. Tuberkulosis paru
Tuberculosis paru adalah tuberculosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru.
Tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.
2. Tuberkulosis ekstra paru
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput
otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit, usus,
ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain lain.

Gambar 4.Kalsifikasi Tuberkulosis

b) Klasifikasi berdasarkan pemeriksaan mikroskopik


1. Tuberkulosis paru BTA positif
Sekurang kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif
1 specimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukan
gambaran tuberculosis
1 specimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif
1 atau lebih spesimen dahak hasilnya BTA negative dan tidak ada perbaikan
setelah pemberian antibiotika non OAT
2. Tuberkulosis paru BTA negative
Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negative
Foto toraks abnormal menunjukan gambaran tuberkulosis
Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT
Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan
c) Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya
1. Kasus baru adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu)
2. Kasus kambuh (relaps) adalah pasien tuberculosis yang sebelunya pernah mendapat
pengobatan tuberculosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap,
didiagnosis kembali dengan BTA postif (apusan atau kultur)
3. Kasus setelah putus berobat (default) adalah pasien yang telah berobat dan putus
berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif
4. Kasus setelah gagal (failure) adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap
positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
5. Kasus pindahan (transfes in) adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang
memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.
6. Kasus lain adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam kasus
ini termasuk kasus kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif
setelah selesai pengobatan ulangan.

Gambar 5. Tipe Penderita TB Paru

2.7 Pengobatan
Paduan OAT
a. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
Pasien baru TB paru BTA positif.
Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
Pasien TB ekstra paru
Tabel 2.1.

Tabel 2.2.

b. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)


Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya:
Pasien kambuh
Pasien gagal
Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)
Tabel 2.3.

c. OAT Sisipan (HRZE)


Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang
diberikan selama sebulan (28 hari).
Tabel 2.4. Dosis KDT untuk sisipan

Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin)


dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas
karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama. Disamping itu dapat
juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua.

2. Pemantauan kemajuan pengobatan TB


Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua
kali (sewaktu dan pagi). Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut
negatif. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif, hasil pemeriksaan ulang dahak
tersebut dinyatakan positif.
Tabel 2.5. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Ulang Dahak

3. Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak


Pada semua anak, terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita
TB dengan BTA positif, perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. Bila hasil
evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5, kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH)
dengan dosis 5-10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan. Bila anak tersebut belum pernah mendapat
imunisasi BCG, imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai.
Tabel 2.6. Sistem scoring
Tabel 2.7. Efek samping OAT dan penatalaksanaannya

2.8 Komplikasi
Pada pasien tuberculosis dapat terjadi beberapa komplikasi baik sebelum pengobatan atau
dalam masa pengobatan maupun setelah selesai pengobatan.
Beberapa komplikasi yang akan timbul adalah:
1. Batuk darah
2. Pneumotoraks
3. Luluh paru (destroyed lung)
4. Gagal nafas
5. Gagal jantung
6. Efusi pleura
BAB 3

LAPORAN KASUS

STATUS PASIEN

1. Identitas Pasien
a. Nama/Kelamin/Umur : Tn. Ermansyah/ Laki-laki/ 42 tahun
b. Pekerjaan/pendidikan : SMA
c. Alamat : Parak Kopi
2. Latar Belakang sosial-ekonomi-demografi-lingkungan keluarga
a. Status Perkawinan : Menikah
b. Jumlah Anak :3
c. Status Ekonomi Keluarga : Kurang mampu, pendapatan
Rp. 1000.000/bulan, dirasakan kurang.
d. Kondisi Rumah :
- Rumah semi permanen, perkarangan tidak ada, luas bangunan 40 m2
- Listrik ada
- Sumber air : air PDAM
- Jamban tidak ada
- Sampah dibuang ke TPA
- Jumlah penghuni 5 orang, pasien, istri, dan tiga anaknya.
- Ruangan yang ada : kamar 1, ruang tamu, dapur merangkap kamar mandi
- Ventilasi kurang memadai
- Kesan : higiene baik, sanitasi kurang
e. Kondisi Lingkungan Keluarga
- Pasien tinggal di lingkungan yang cukup padat penduduk
3. Aspek Psikologis di keluarga
- Pasien tinggal bersama istri dan tiga orang anak kandung
- Hubungan dengan keluarga baik.
4. Riwayat Penyakit dahulu / Penyakit Keluarga
- Pasien belum pernah menderita keluhan seperti ini sebelumnya.
- Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan pasien.

5. Keluhan Utama
- Batuk berdarah sejak 2 minggu sebelum berobat ke Puskesmas

6. Riwayat Penyakit Sekarang


- Batuk berdarah sejak 2 minggu sebelum berobat ke Puskesmas. Awalnya pasien
mengalami batuk berdahak dirasakan sejak 1,5 bulan sebelum berobat ke
Puskesmas. Batuk berdahak semakin meningkat sejak 2 minggu yang lalu.
Konsistensi dahak kental, warna kuning kehijauan, pernah disertai bintik-bintik darah.
Batuk juga disertai sesak nafas dan demam.
- Sesak nafas dirasakan sejak 1 bulan sebelum berobat ke Puskesmas. Sesak nafas tidak
dirasakan terus menerus. Saat ini sesak menyebabkan aktifitas pasien terganggu,
hingga pasien berhenti bekerja. Sesak tidak dipengaruhi oleh cuaca, maupun
makanan.
- Demam dirasakan sejak 1 bulan yang sebelum berobat ke Puskesmas. Demam tidak
tinggi dan hilang timbul, tidak disertai menggigil.
- Keringat malam dirasakan sejak 1 bulan sebelum berobat ke Puskesmas.
- Badan terasa letih dan lesu sejak 1 bulan sebelum berobat ke Puskesmas.
- Riwayat penurunan berat badan disangkal.
- Buang air besar dan buang air kecil tidak ada keluhan.
- Riwayat kontak dengan pasien yang batuk-batuk lama disangkal.
- Pasien menghentikan kebiasaan merokok sejak 5 bulan yang lalu. Sebelumnya pasien
memiliki kebiasaan merokok 3-4 batang perhari.
- Pasien telah didiagnosa menderita TB paru dan telah mendapatkan pengobatan TB
selama lebih dari 3 bulan. Hasil pemeriksaan BTA sputum pada pemeriksaan pertama
adalah (+++). Pasien telah mendapatkan pengobatan intensif selama 2 bulan,
kemudian dilakukan pemeriksaan BTA sputum dengan hasil (+++). Pengobatan
pasien dilanjutkan dengan dosis sisipan selama 1 bulan, kemudian dilakukan
pemeriksaan BTA sputum dengan hasil (++). Sekarang pasien sedang menjalani
pengobatan fase lanjutan.

7. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : CMC
Tekanan Darah : 100/70 mmHg
Nadi : 94x/ menit
Nafas : 28x/menit
Suhu : 37,2 0C
BB : 50 kg
TB : 170 cm
IMT : 17,3 kg/m2 (underweight)
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Kulit : Turgor kulit baik
Leher : Pembesaran KGB tidak ada

Thoraks :
Jantung
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus kordis teraba 1 jari medial linea
midclavicularis sinistra RIC V

Perkusi : Batas jantung kanan linea sternalis dekstra,

Batas jantung kiri 1 jari medial linea

midclavicularis sinistra RIC V.

Batas jantung atas RIC II

Paru
Inspeksi : Simetris kiri dan kanan pada saat statis dan

dinamis

Retraksi epigastrium (+)

Funnel chest (+)

Palpasi : Fremitus kiri > kanan

Perkusi : redup pada kedua lapangan paru.

Auskultasi : Suara napas vesikular, rhonki +/+ pada kedua

apeks paru, wheezing -/-

Abdomen
Inspeksi : Perut tidak tampak membuncit
Palpasi : Hati dan lien tidak teraba, nyeri tekan ( - )
Perkusi : Timpani
Auskultasi : BU (+) N

Anggota gerak : Reflex fisiologis +/+

8. Pemeriksaan Anjuran :
- Pemeriksaan Laboratorium:
Pemeriksaan BTA sputum setiap bulan.
Kultur dan sensitivitas kuman.
- Pemeriksaan Radiologi : Rontgen Thorak 2 posisi (PA/LAT)

9. Diagnosis Kerja: TB paru dupleks suspek MDR Sekunder

10. Diagnosis Banding : -


11. Manajemen :
Preventif :
Istirahat dengan cukup setiap hari dan menghindari hal-hal yang menimbulkan
kelelahan fisik berlebihan
Makan makanan yang sehat dan bergizi seimbang, perbanyak mengonsumsi
sayur dan buah-buahan terutama buah yang mengandung vitamin C seperti
jeruk, tomat.
Menutup mulut dengan tangan, tisu, atau sapu tangan ketika batuk
Tidak menelan dahak
Tidak membuang dahak sembarangan, dahak sebaiknya dibuang ke lubang
WC atau bila tidak memungkinkan ditampung terlebih dahulu atau dibuang ke
tempat yang terkena cahaya matahari langsung
Memperbanyak minum air putih
Membuka jendela (serta pintu bila memungkinkan) setiap pagi sampai sore
hari untuk meningkatkan sirkulasi udara dan paparan cahaya matahari di
dalam rumah
Tidak memakai peralatan makan bersama dengan anggota keluarga lainnya
Hindari kontak terlalu dekat terutama dengan anak-anak
Menjemur bantal dan guling pasien setiap hari
Mengganti sprei pasien minimal sekali seminggu

Promotif :
Memberikan pengertian dan pengetahuan pada pasien maupun keluarga
mengenai penyakit, cara penularan, komplikasi dan pentingnya keteraturan
pengobatan serta evaluasi pengobatan.
Menunjuk PMO yaitu istri pasien untuk menunjang keberhasilan pengobatan.
Meminta pasien untuk menetapkan waktu harian minum obat untuk
mengurangi kemungkinan terlupa minum obat.
Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit yang dideritanya dapat
disembuhkan dengan minum obat secara teratur.
Menjelaskan bahwa pengobatan memerlukan waktu yang lama dan tidak
boleh putus obat serta tidak boleh menghentikan pengobatan sendiri walaupun
gejala sudah berkurang.
Menjelaskan kemungkinan yang dapat terjadi bila tidak teratur atau putus
minum obat.
Menjelaskan efek samping obat TB kepada pasien seperti BAK berwarna
kemerahan dan rasa kesemutan di tangan.
Kuratif :
Paket OAT kategori I (2RHZE/4H3R3)
Vitamin B6 sekali sehari
Rehabilitatif :
Kontrol teratur setiap bulan ke puskesmas untuk menilai efek terapi ataupun
efek samping obat.
Rekomendasi solusi sesuai dengan masalah kesehatan yang sudah diberikan:

1. Memotivasi istri pasien untuk mempertahankan fungsinya sebagai PMO.


2. Membuka jendela dan pintu rumah setiap pagi agar cahaya matahari masuk ke
dalam rumah dan sirkulasi udara lancar.
3. Menyarankan agar pasien tidak membuang dahak sembarangan.
4. Melakukan pemeriksaan sputum pada istri pasien
5. Melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan anak
6. Menyarankan kepada pasien untuk mengganti 1-2 seng atap tumah dengan seng
transparan.
7. Menyarankan agar anggota keluarga lebih banyak beraktivitas di luar rumah pada
siang hari.
8. Rencana pemberian kemoprofilaksis pada anak
9. Menyarankan kepada ibu untuk melakukan uji tuberculin kepada anaknya.

Outcome Intervensi Perilaku dan kebiasaan :


1. Istri pasien sudah ikut berperan sebagai PMO dan pasien sendiri juga sudah teratur
mengingat minum obatnya sendiri
2. Pasien sudah membuka jendela rumahnya setiap hari
3. Pasien tidak membuang dahak sembarangan, pasien membuang dahak pada wadah
(kaleng) tertutup untuk selanjutnya dibuang ke lubang WC dan disiram.
4. Istri pasien sudah dilakukan pemeriksaan sputum dan hasilnya negatif
5. Pasien belum mengganti atap rumahnya dengan seng transparan karena masalah
biaya.
6. Anak pasien belum diberikan profilaksis
7. Uji tuberculin belum dilakukan kepada ketiga anaknya karena pasien tidak
mempunyai asuransi kesehatan dan pasien takut jika biaya tuberculin di rumah sakit
mahal.
HOME VISIT I Tanggal 28 desember 2013
No Masalah Penilaian Solusi dan Rekomendasi
1 Pasien kontak dengan Pasien dan anak - - Menganjurkan agar pasien
anak balita anaknya tidur dalam satu untuk sementara tidur
kamar terpisah dengan anaknya

2 Pemberian profilaksis - Belum dapat - Melakukan penilaian skor


kepada anak pasien dilakukan karena TB terlebih dahulu, jika
belum dilakukan. belum dilakukan didapatkan skor TB kurang
penilaian skor TB, dari 5 baru diberikan INH
terutama pemeriksaan profilaksis.
tuberculin dan rontgen
thorak.
- Tidak tersedianya INH
tunggal di puskesmas.
3. Belum dilakukan - Untuk skor TB Menganjurkan kepada pasien
penilaian skor tb pada sementara anak untuk mendaftar BPJS
anak pasien pasien tanpa
tuberculin dan rontgen
yaitu 4.
- Pasien belum
melakukan uji
tuberkulin ke RS
Karen pasien tidak
punya asuransi
kesehatan
4. Tidak ada kenaikan berat Berat badan pasien - Makan msakanan bergizi
badan pasien waktu pertama kali seimbang seperti tinggi
berobat ke puskesmas 50 kalori (nasi), tinggi protein
kg, berat badan pasien (ikan, daging, ayam, tahu,
sekarang masih 50 kg tempe), sayur dan buah
- Konsul gizi ke puskesmas
5. Pasien mengeluhkan - Pada pemeriksaan - Menjelaskan kepada
sesak nafas fisik: pasien kalau sesak
Frekuensi nafas: 42x/i nafas pasien tersebut
Paru: tidak ada pengaruh
I: simetris kiri=kanan obat tersebut dan
Per:sonor menganjurkan pasien
Pal:fremitus kiri kanan untuk tetap meminum
Aus:vesikuler,rk +/+, Wh obat tersebut
-/-
- Pasien sudah - Kontrol ke puskesmas
diberikan obat jika sesak tidak
aminofilin dari berkurang
puskesmas tapi
pasien tidak
meminumnya
karena merasa
semakin sesak
karena obat itu
6. Kamar pasien masih Pasien belum mampu Anjuran untuk membuka
gelap. mengganti 1-2 seng atap jendela kamar di siang hari
di kamarnya dengan seng
transparan.
HOME VISIT II tanggal 8 januari 2014

No Masalah Penilaian Solusi dan Rekomendasi


1. Pasien kontak dengan Pasien masih tidur - Tetap menganjurkan
anak balita sekamar dengan anaknya agar pasien tidur
terpisah dengan
karena hanya ada satu
anaknya
kamar di rumah - Menganjurkan pasien
tidur di ruang tamu.

2. Belum dilakukan Pasien belum mengurus Menganjurkan kepada pasien


penilaian skor tb dan BPJS karena masalah untuk melapor ke RT atau
Pemberian profilaksis biaya lurah untuk menanyakan
kepada anak pasien pendataan masayarakat tidak
mampu
3. Sudah ada sedikit - Pasien masih - Makan makanan bergizi
kenaikan berat badan belum konsul gizi seimbang seperti tinggi
pasien ke puskesmas kalori (nasi), tinggi protein
- Berat badan (ikan, daging, ayam, tahu,
pasien waktu tempe), sayur dan buah
pertama kali - Konsul gizi ke puskesmas
berobat ke
puskesmas 50 kg,
berat badan
pasien waktu
kunjungan I 50
kg, berat badan
sekarang 51 kg

4. Sesak nafas pasien sudah - TD : - Kontrol ke puskesmas


mulai berkurang tapi - Frekuensi nafas : jika sesak nafas
masih sesak jika 32x/i semakin berat
beraktivitas agak berat - Pasien sudah
meminum obat
yang diberikan
dari puskesmas

5. Kamar pasien sudah Pasien sudah membuka


mulai agak terang jendela kamarnya setiap
hari.
HOME VISIT III Tanggal 13 Januari 2014

No Masalah Penilaian Solusi dan Rekomendasi


1. Pasien kontak dengan - Pasien tidak - Menganjurkan pasien
balita mengikuti untuk tidur memakai
anjuran untuk masker.
tidur di ruang
tamu karena
pasien merasa
kedinginan dan
merasa batuk
semakin
bertambah
apabila terkena
udara dingin.
2. Belum dilakukan - Pasien berencana - Memberikan informasi
penilaian skor tb dan untuk tuberkulin kepada pasien tentang
Pemberian profilaksis ke RS dengan biaya untuk melakukan
kepada anak pasien biaya sendiri tuberculin di rs
- Anak ketiga - Menganjurkan untuk
pasien demam, membawa anaknya
batuk pilek sejak berobat ke puskesmas
3 hri ini.
3. Sudah ada sedikit - Berat badan - Makan makanan bergizi
kenaikan berat badan pasien waktu seimbang seperti tinggi
pasien tapi tidak ada pertama kali kalori (nasi), tinggi protein
kenaikan yang bermakna berobat ke (ikan, daging, ayam, tahu,
puskesmas 50 kg, tempe), sayur dan buah
berat badan
pasien waktu
kunjungan
pertama 50 kg,
kunjungan kedua
51 kg, berat
badan sekarang
51 kg
- Pasien besok
berencana mau
konsul gizi ke
puskesmas

4. Sesak nafas pasien sudah - TD :110/70 - Kontrol ke puskesmas


mulai berkurang tapi mmHg jika sesak nafas
masih sesak jika - Frekuensi nafas : semakin berat
beraktivitas agak berat 32x/i
- Pasien sudah
meminum obat
yang diberikan
dari puskesmas
HOME VISIT IV Tanggal 16 Januari 2014

No Masalah Penilaian Solusi dan Rekomendasi


1 Pasien kontak dengan Pasien tidak mengikuti
balita anjuran memakai masker
ketika tidur

2. Belum dilakukan - Anak Pasien - Menganjurkan untuk


penilaian skor tb dan belum sempat tes menghabiskan minum
Pemberian profilaksis mantoux ke RS obat antibiotik
kepada anak pasien - Anak pasien walaupun keluhan
sudah berobat ke sudah berkurang
puskesmas, diberi
obat batuk,
antibiotic dan
obat demam.
Keluhan batuk
dan sesak nafas
sudah mulai
berkurang.

3. Tidak ada kenaikan Berat - Berat badan - Makan makanan bergizi


badan pasien dari pasien sekarang seimbang seperti tinggi
sebelumnya masih 51 kg kalori (nasi), tinggi protein
(ikan, daging, ayam, tahu,
tempe), sayur dan buah

4. Pasien masih sesak nafas - Pada pemeriksaan - Menganjurkan untuk


jika beraktivitas agak fisik jantung dan pemeriksaan lebih
berat paru tidak ada lanjut ke rumah sakit
ditemukan
kelainan
DAFTAR PUSTAKA

1. Eddy, PS. Sejarah dan Epidemiologi Penyakit Tuberkulosis. Simposium


Tuberkulosis.Surabaya, Des. 1982 : 11-20.
2. Raviglione MC, Snider DE, Kochi Arata, Global Epidemiology of TuberculosisJAMA
1995 ; 273 : 220-26.
3. WHO.TB A Clinical manual for South East Asia. Geneva, 1997; 19-23.
4. Aditama T.Y. Tuberculosis Situation in Indonesia, Singapore, Brunei Darussalam andin
Philippines, Cermin Dunia Kedokteran 1993 ; 63 : 3 7.
5. Hudoyo, A. Penerapan Strategi DOTS bagi Penderita TB, Dalam Simposium
danSemiloka TB Terintegrasi. RSUP Persahabatan, Jakarta, 1999.
6. Broekmans, JF. Success is possible it best has to be fought for, World Health ForumAn
International Journal of Health Development. WHO, Geneva, 1997 ; 18 : 243 47.
7. Bing, K. Diagnostik dan klasifikasi tuberkulosis paru. RTD Diagnosis dan
PengobatanMutakhir Tuberkulosis Pam Semarang, Mei 1989 1-6.
8. Suryatenggara, W. Peranan pyrazinamide dalam pengobatan tuberkulosis
Yogyakarta1984 : 43-55. paru jangka pendek. Simposium Pengobatan Mutakhir
TuberkulosisParu Bandung, 57-63.
9. PDPI. Tuberkulosis Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia, Jakarta.2002.
10. Depkes RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta, 2007; 3-4.
11. Widodo, Eddy. Upaya Peningkatan Peran Masyarakat Dan Tenaga Kesehatan
DalamPemberantasan Tuberkulosis. IPB, Bogor. 2004.
12. Werdhani, Retno Asti. Patofisiologi, Diagnosis, Dan Klafisikasi
Tuberkulosis.Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Okupasi, Dan Keluarga FKUI.
2002