Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KEGIATAN PELATIHAN

GENERAL EMERGENCY LIFE SUPPORT (GELS)

BANDUNG, 17-23 OKTOBER 2016

OLEH:

dr Lili Hasanah

RUMAH SAKIT UNIVERSITAS ANDALAS


PADANG
OKTOBER
2016
BAB 1
PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Kegawatdaruratan adalah suatu keadaan yang menimpa seseorang yang dapat
menimbulkan proses ancaman jiwa dalam arti perlu pertolongan yang tepat, cermat dan
cepat bila tidak maka seseorang tersebut dapat meninggal atau menderita kecacatan.
Kegawatdaruratan ini sendiri dapat terjadi dimana saja, kapan saja dan pada siapa saja
baik pada keadaan sehari-hari maupun pada keadaan musibah massal dan bencana.
Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang
bermutu khususnya di bidang gawat darurat dalam memasuki era globalisasi dan pasar
bebas perlu mendapat perhatian dari unitunit pelayanan kesehatan termasuk institusi
Pendidikan Kedokteran dengan meningkatkan profesionalismepetugas kesehatan.
Prinsip pada penanganan penderita gawat darurat harus cepat,tepat dan harus
dilakukan segera oleh setiap orang yang pertama menemukan/mengetahui (orang awam,
perawat, para medis, dokter), baik didalam maupun diluar rumah sakit karena kejadian ini
dapat terjadi setiap saat dan menimpa siapa saja.Tindakangawat darurat harus sesuai
aspek legal Tenaga medis atau dokter yang membantu korban dalam situasi emergensi
harus menyadari konsekuensi hukum yang dapat terjadi sebagai akibat dari tindakan yang
mereka berikan. Untuk itu pengetahuan kegawatdaruratan dan keselamatan pasien
penting dipelajari dan dikuasai. Pengetahuan medis teknis yang harus diketahui adalah
mengenal ancaman kematian yang disebabkan oleh adanya gangguan jalan napas,
gangguan fungsi pernapasan/ventilasi dan gangguan sirkulasi darah dalam tubuh.

II. TUJUAN

1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sebagai tenaga kesehatan/medis


yang profesional sehingga dapat menangani kasus-kasus dengan kegawatdaruratan
medik.
2. Menunjang pelaksanaan pengembangan sistem penanggulangan gawat darurat
terpadu (SPGDT) yang terkoordinasi antar berbagai sektor dan program terkait
dari pra rumah sakit / rumah sakit serta antar rumah sakit.
3. Mempercepat waktu tanggap kegawatdaruratan untuk menghindari kematian
dan kecacatan yang seharusnya tidak perlu terjadi.
III. MANFAAT

Pelatihan pendidikan dan pelatihan gawat darurat gels ini akan memberikan manfaat
keterampilan dan pengetahuan dokter umum dalam menangani kasus kegawatdaruratan

IV. WAKTU DAN TEMPAT

Waktu

Pelatihan ini dilaksanakan dari tanggal 17-23 Oktober 2016, dengan kontrak
waktu pelatihan dimulai pukul 07.00 - Selesai

Tempat

Pelatihan ini dilaksanakan di RS Hasan Sadikin Bandung

V. PELAKSANAAN KEGIATAN
Senin, 17 Oktober 2016
Pembukaan dan pretest
Dinamika kelompok
Hak dan kewajiban dokter, pasien dan RS
Etik dan hukum kesehatan
Early management for trauma in UGD
Kegawatan pada bidang psikiatri
Dasar-dasar PPGD (survei primer dan ABCD)
Airway dan breathing problem dan management
Circulation problem dan management
Selasa, 18 oktober 2016
Prinsip resusitasi jantung paru
Problem in CPR
Jenis-jenis Syok dan penanganannya
Penanganan stroke
Dengue HF
Kegawatdaruratan pada penyakit dalam
Skill station I : airway breathing
Skill station II : circulation
Skill station III : RJP
Rabu, 19 Oktober 2016
Initial assesment trauma
Trauma abdomen
Cedera kepala
Trauma ekstremitas
Trauma tulang belakang
Trauma thoraks
Luka bakar dan tenggelam
Skill station IV : pelatihan animal lab
Skill station V : stabilisasi dan transportasi
Kamis, 20 Oktober 2016
Penilaian dan prinsip gawat darurat anak
Syok dan resusitasi cairan pada anak
Resusitasi pada neonatus
EKG dan aritmia algoritma PEA asistole VF VA
Sindroma koroner akut
Deferensi renjatan di ruang gawat darurat
Acute heart failure
Skill station VI : membaca kelainan EKG jantung dan megacode tes
Jumat, 21 Oktober 2016
Kegawatdaruratan bidang obgyn
Kedaruratan pada infeksi nifas
Perdarahan pada persalinan
Pre eklampsi / eklampsi
Kesulitan persalinan distosia bahu
Kesulitan persalinan ekstraksi vakum
Skill station VII : penanganan persalinan sulit dengan distosia bahu
Skill station IX : penanganan ektstraksi vakum
Sabtu, 22 Oktober 2016
Penanganan keracunan
Interpersonal komunikasi
Komunikasi dan transportasi pada bencana
Prinsip-prinsip penanganan bencana
Safe community SPGDT
Geomedic Mapping
Simulasi bencana di posko
Minggu, 23 Oktober 2016
Simulasi penanganan bencana di IGD
Simulasi penanganan bencana di Lap
Postest
Evaluasi hasil post test
penutupan

BAB 2
ISI DAN KEGIATAN PELATIHAN

2.1 Kegawatdaruratan Pada Penyakit Dalam

2.1.1 Penanganan Gagal Ginjal Akut

a) Atasi semua penyebab yang ada


b) Upayakan diuresis
c) Terapi konservatif
Atur asupan air, protein dan elektrolit
Nutrisi yang adekuat (karbohidrat dan lemak)
Monitor input dan output urin, berat badan, BUN, kreatinin, K, Na
d) Dialisis atas indikasi

2.1.2 Penatalaksanaan Krisis Hipertensi

Target : MAP turun 25 % (maksimal dalam 2 jam) kemudian menjadi 160/90 mmHg
dalam 2-6 jam
Anti hipertensi : vasodilator, clonidin drip, ca antagonis drip, nifedipin sublingual
2.1.3 Penatalaksanaan Gagal Nafas Akut (GNA)

1. Suplemen Oksigen
Nasal kanul
Ventury mask
Aerosol face mask
Reservoir face mask
2. Non invasive positif pressure ventilation
3. Intubasi trakeal dan ventilasi mekanik
4. Terapi farmakologis (beta 2 agonist, antikolinergik, kortikosteroid, teofilin, antibiotika)
5. Lain-lain : mukolitik, postural drainage, fisioterapi dada, nasotracheal suctioning,
batuk/nafas dalam

2.1.4 Penatalaksanaan Perdarahan Saluran Cerna

1. Bebaskan jalan nafas


2. Resusitasi dan monitoring hemodinamik
3. Bilas lambung dengan air es melalui NGT
4. Terapi empirik :
Penekanan asam lambung : antagonis H2 reseptor, inhibitor proton pump
Vasopresor
Antasida
Hormon intestinal
Sikralfat
Tindakan endoskopik
Arteriografi yaitu tindakan khusus untuk perdarahan pada ruptur varises esofagus,
gastritis erosiva, tukak peptik

2.1.5 Penatalaksanaan Syok

A. Syok Kardiogenik

1. Tekanan darah turun sedikit atau hampir normal, berikan dobutamin


2. Tekanan darah turun sekali berikan inotropik dan vasopressor seperti dopamin dosis
tinggi atau Nor adrenalin setelah stabil dapat ditambah dengan dobutamin untuk
menurunkan kebutuhan vasopressor

B. Syok hipovolemik

1. Apabila muntah/diare/dehidrasi, maka berikan cairan kristaloid seperti Nacl, RL dan


koloid seperti albumin, Hes
2. Perdarahan : transfusi PRC kehilangan darah 30-40% maka diganti dengan transfusi
1500-2000 cc
C. Syok distrubutif
1. Tamponade jantung : parasentesis
2. Penumothorak : WSD
3. Resusitasi cairan bila diperlukan
4. Diuretika merupakan kontraindikasi
5. Inotropik dan vasopresor hanya sedikit peranannya dan bersifat sementara

2.2 Kegawatdaruratan Anak


2.2.1 Penatalaksanaan syok sepsis pada anak
1. Tatalaksana syok sepsis dimulai dengan langkah ABC resusitasi, sampel darah
diambil untuk pemeriksaan kultur dan uji sensitifitas/resistensi, lalu diberikan
antibiotik dalam waktu satu jam setelah diagnosis ditegakkan
2. Resusitasi cairan dipakai larutan kristaloid isotonis (Nacl 0,9%, RL, RA) dosis 20
mL/kgBB diberikan secepatnya (5-10 menit).

2.2.2 Penatalaksanaan Gagal Nafas Akut


Tatalaksana gagal nafas akut di ruang gawat darurat terdiri dari :
Survei primer : lakukan pemeriksaan observasional dengan segitiga penilainan
anak
Prioritas pengobatan : lakukan langkah resusitasi ABC dan penilaian derajat
kesadaran
Survei sekunder : anamnesis dan pemeriksaan fisik singkat dikerjakan simultan
dan komprehensif bersamaan pada saat melakukan prioritas pengobatan

2.2.3 Penatalaksanaan Kejang Demam


2.2.4 Penatalaksanaan asfiksia neonatorum
2.3 Kegawatdaruratan Obstetri dan Ginekologi
A. Antepartum
1. Kehamilan Ektopik
Perbaiki keadaan umum
- Airway
- Transfusi
Terapi Definitif
- Operatif : Laparoskopi, laparatomi
- Medikal : Metrotrexate
-
2. Hipertensi dalam kehamilan
Anti kejang : MgSO4 20% dan 40%
Anti hipertensi
- Tekanan darah sistolik < 180 mmHg : oral medopa 3x250 mg
- Tekanan darah sistolik > 180 mmHg
Catapres drip 300 mikrogram dalam 500 cc larutan A2 10
tetes/menit dinaikkan 5 tetes/menit sampai tercapai MABP
Nifedipin 10 mg p.o dapat diulang setiap 30 menit
B. Intrapartum
1. Tali pusat menumbung
Rencanakan SC emergency
Pertahankan ibu dalam posisi miring kiri dan posisi trendelenburg
Usahakan tidak menyentuh tali pusat untuk menghindari terjadinya spasme
Usahakan agar bayi tidak banyak bergerak agar tali pusat tak terganggu
Tokolitik dapat dipergunakan untuk mengurangi his
2. Ruptur uteri
Resusitasi
SC
3. Distosia Bahu
McRoberts Manuver
Woods screw
C. Postpartum
1. Perdarahan post partum
Mobilisasi tenaga dan peralatan
Periksa TNRS, curigai adanya syok
Pastikan kontraksi uterus baik
Pijatan uterus keluarkan bekuan darah
Oksitosin 10 U IM
Pasang infus cairan Iv, pasang kateter, pantau cairan
Periksa kelengkapan plasenta, adanya robekan serviks, vagina , perineum
Bila perdarahan masih berlangsung, lakukan uji beku darah
2.4 Kegawatdaruratan Kardiologi
2.4.1 Penatalaksanaan Sindroma Koroner Akut

2.4.2 Penatalaksanaan Adult Cardiac Arrest


2.5 Penatalaksanaan Cedera Kepala
A. Penatalaksanaan cedera kepala ringan
Indikasi rawat/Observasi :
Pingsan > 15 menit
Post Traumatic Amnesia > 1 jam
Cedera Tembus
Pada observasi terdapat penurunan kesadaran
Sakit kepala bertambah berat
Fraktur tulang kepala
Otorrhea / rhinorea
Cedera penyerta
Ct Scan abnormal
Tidak ada keluarga yang menyertai bila pulang ke rumah
Tempat tinggal sangat jauh dari RS
Intoksikasi alkohol/obat-obatan

B. Cedera Kepala Sedang


Perhatikan jalan nafas
Setelah dirawat : observasi tanda tanda vital dan pemeriksaan neurologic periodic
Bila membaik : pasien dapat dipulangkan dan kontrol kembali setelah 1 minggu
Bila memburuk : CT Scan kepala Ulang, dapat berubah status menjadi cedera
kepala berat
C. Cedera Kepala Berat
Rawat intensif, cegah cedera otak sekunder
Penatalaksanaan ABCDE
Disability/status neurologis :
Posisi kepala head up 30
Hiperventilasi ringan PCO2 25-35 mmHg
Manitol 20% 1 gr/kgBB iv, bolus dalama 10 menit
Furosemid : 0,3-0,5 mg/KgBB Iv
Antikonvulsan
Reevaluasi

2.6 Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Psikiatri


Dalam menghadapi pasien dengan tingkah laku kekerasan dan menyerang perlu
dibedakan antara pasien psikotik dan non psikotik serta perlu ditelaah apakah faktor
organik yang mendasarinya.
Pasien yang gaduh gelisah dapat difiksasi sebelumnya beri penjelasan bahwa hal itu
untuk kebaikannya.
Bila disebabkan psikotik : CPZ 50-100 mg IM atau Haloperidol 5-10 mg IM atau
Olanzapine

BAB 3
KESIMPULAN

Kegawatdaruratan adalah suatu kondisi dimana seseorang membutuhkan pertolongan


dengan segera untuk mempertahankan hidup dan mengurangi resiko kematian dan kecacatan.
Jenis-jenis dari kegawatdaruratan yaitu ; (1) Gawatdarurat, (2) Gawat Tidak Darurat, (3) Tidak
gawat tapi darurat, (4) Tidak gawat darurat.
Ada banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang berada dalam kondisi gawat
darurat. Salah satunya adalah kecelakaan. Dalam penatalaksanaan kegawatdaruratan, kita harus
segera menilai keadaan pasien dengan segera. Kita bisa menggunakan sistem triase dalam
menghadapi kegawatdaruratan. Jadi, kita sebagai petugas kesehatan harus sigap dalam
menghadapi kegawatdaruratan untuk mencegah kematian dan kecacatan
Prinsip pada penanganan penderita gawat darurat harus cepat,tepat dan harus
dilakukan segera oleh setiap orang yang pertama menemukan/mengetahui (orang awam, perawat,
para medis, dokter), baik didalam maupun diluar rumah sakit karena kejadian ini dapat terjadi
setiap saat dan menimpa siapa saja

DOKUMENTASI KEGIATAN: