Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

Kehamilan adalah proses fisiologi pada wanita dalam masa reproduksi. Dalam
perjalanannya, kehamilan sering terhenti oleh proses abortus, partus immatur maupun partus
prematurus. Proses reproduksi umumnya dipandang sebagai proses fisiologis, akan tetapi
kemungkinan timbulnya komplikasi pada kehamilan, persalinan dan nifas sedemikian besarnya
sehingga proses ini tidak dapat dibiarkan berlangsung sendiri tanpa perawatan dan perlindungan
yang memadai.1
Salah satu komplikasi terbanyak pada kehamilan ialah terjadinya perdarahan. Perdarahan
dapat terjadi pada setiap usia kehamilan. Pada kehamilan muda sering dikaitkan dengan kejadian
abortus. Perdarahan yang terjadi pada umur kehamilan yang lebih tua, terutama setelah melewati
trimester III disebut perdarahan antepartum.1
. Diperkirakan frekuensi abortus spontan berkisar 10-15% dari seluruh kejadian abortus.
Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% bila diperhitungkan mereka yang hamil sangat dini,
terlambat haid beberapa hari, sehingga wanita itu sendiri tidak mengetahui bahwa ia sudah
hamil. Di Indonesia, diperkirakan ada 5 juta kehamilan per tahun. Dengan demikian setiap tahun
500.000-750.000 abortus spontan, ini merupakan jumlah yang sangat besar.
Secara klinik dapat dibedakan antara abortus imminens, abortus insipiens, abortus
inkompletus, dan abortus kompletus. Dan dikenal pula missed abortion, abortus habitualis,
abortus infeksiosus, dan abortus septik. Abortus itu sendiri dapat mengancam nyawa seseorang
bila hasil konsepsi tersebut tidak di bersihkan secara tuntas. Hal ini dapat menyebabkan infeksi
yang dapat berakhir dengan sepsis. 1

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Abortus adalah penghentian atau pengakhiran kehamilan sebelum usia kehamilan
20 minggu, atau berat janin kurang dari 500 gram, sedangkan menurut WHO batasan usia
kehamilan adalah sebelum 22 minggu.1

2.2 ETIOLOGI
Penyebab abortus dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu penyebab fetal, penyebab
maternal dan penyebab paternal. Faktor patologis dari pihak semua (paternal) ini walaupun
berhubungan tetapi pengaruhnya sangat kecil terhadap kejadian abortus spontan.2,3
2.2.1 Faktor fetal
Sekitar delapan puluh persen kasus abortus spontan terjadi sebelum usia kehamilan 12
minggu, setengah di antaranya disebabkan oleh kelainan kromosom.3

Sembilan puluh lima persen kelainan kromosom pada abortus spontan disebabkan oleh
kegagalan gametogenesis maternal dan sisanya adalah kegagalan gametogenesis paternal.
Abnormalitas dapaat dimulai dari pembelahan meiosis dari gamet, pesan ganda pada saat
fertilisasi atau saat pembelahan dini mitosis. Keadaan abortus dengan kelainan kromosom ini
disebut abortus aneuploid, misalnya trisomi autosom atau monosomi. Abortus spontan biasanya

2
menunjukkan kelainan perkembangan zigot, embryo, fetus tahap awal, atau pada plasenta. Dari
1000 abortus spontan yang diteliti, ditemukan setengahnya menunjukkan tidak adanya embrio
atau disebut blighted ovum. Kelainan morfologi pertumbuhan terjadi pada 40% abortus spontan
sebelum usia gestasi 20 minggu. Setelah trimester pertama, tingkat abortus dan kelainan
kromosom berkurang.2,3

2.2.2 Faktor Maternal


Selain cacat kromosom dari pihak ibu, abortus juga dapat terjadi akibat adanya gangguan
kesehatan atau penyakit sistemik pada ibu.3

a. Infeksi
Berbagai macam infeksi dapat menyebabkan abortus pada manusia, tetapi hal ini tidak umum
terjadi. Dari hasil penelitian, infeksi yang diduga memiliki kaitan dengan abortus spontan
adalah Mycoplasma hominis, ureaplasma urealyticum, dan bakterial vaginosis.
b. Gangguan nutrisi yang berat
Defisiensi salah satu komponen nutrisi atau defisiensi sedang dari semua komponen nutrisi
bukan merupakan penyebab penting pada abortus.
c. Pacandu berat alkohol atau rokok
Merokok dihubungkan dengan peningkatan risiko abortus. Risiko abortus meningkat 1,2-1,4
kali lebih besar untuk setiap 10 batang rokok yang dikonsumsi setiap hari. Abortus spontan
berkaitan juga dengan konsumsi alkohol selama 8 minggu pertama kehamilan. Tingkat aborsi
spontan dua kali lebih tinggi pada wanita yang minum alkohol 2x/minggu dan tiga kali lebih
tinggi pada wanita yang mengkonsumsi alkohol setiap hari. Dalam suatu penelitian
didapatkan bahwa risiko abortus meningkat 1,3 kali untuk setiap gelas alkohol yang
dikonsumsi setiap hari. Sementara itu, kafein dosis rendah tidak mempunyai hubungan
dengan abortus. Akan tetapi pada wanita yang mengkonsumsi 5 cangkir (500mg kafein) kopi

3
setiap hari menunjukkan tingkat abortus yang sedikit lebih tinggi. Pada yang mengkonsumsi
lebih dari 5 cangkir setiap hari, risiko berhubungan dengan jumlah kopi yang dikonsumsi
setiap hari. Radiasi juga dapat menyebabkan abortus pada dosis yang cukup. Akan tetapi,
jumlah dosis yang dapat menyebabkan abortus pada manusia tidak diketahui secara pasti.
Ketika alat kontrasepsi dalam rahim gagal mencegah kehamilan, risiko abortus, khususnya
abortus septik meningkat. Sementara itu, kontrasepsi oral atau zat spermisidal tidak berkaitan
dengan peningkatan risiko abortus.
d. Penyakit kronis atau menahun
Diabetes mellitus. Tingkat aborsi spontan dan malformasi kongenital major meningkat pada
wanita dengan diabetes bergantung insulin. Risiko berkaitan dengan derajat kontrol
metabolik pada trimester pertama. Selain itu pada seliac prue juga dapat menyebabkan
infertilitas pada suami atau istri dan abortus rekuren.
e. Gangguan hormonal
Terdapat hubungan antara defisiensi progesteron dan terjadinya abortus. Hormon progesteron
sangat berperan pada pembentukan desidua. Gangguan pembentukan desiuda akan
menganggu proses nutrisi embrio yang menyebabkan terhentinya proses biologiss sehingga
terjadi abortus. Selain trofoblas, kelenjar tiroid berperan dalam memelihara kehamilan.
Gangguan pada tiroid dapat mengakibatkan gangguan kehamilan normal.
f. Gangguan imunologis
Antibodi terhadap sperma pada segolongan wanita dapat mengakibatkan terjadinya gangguan
kehamilan. Apabila kehamilan dapat terjadi maka risiko abortus sangat tinggi.
Ketidaksesuaian golongan darah dapat menjadi penyebab abortus spontan.
g. Trauma fisis
Trauma mayor abdomen dapat menyebabkan abortus.
h. Anomali uterus dan serviks
Pada mioma yang besar dan multipel biasanya tidak menyebabkan abortus. Jika dihubungkan
dengan abortus, yang menentukan bukanlah ukurannya tetapi lokasinya. Mioma submukosa
lebih sering menyebabkan abortus daripada mioma intramural maupun mioma subserosa.
Kelainan serviks yang berperan pada terjadinya abortus adalah inkompetensi serviks.
2.2.3 Faktor paternal
Tidak banyak yang diketahui tentang faktor ayah dalam terjadinya keguguran. Yang jelas,
kelainan kromosom pada sperma dilaporkan berkaitan dengan abortus.2,3

2.3 PATOGENESIS

4
Sebelum terjadi ekspulsi embrio yang mati terlebih dahulu terjadi perdarahan ke desidua
basalis dan nekrosis pada jaringan di lapisan atas perdarahan. Perlahan-lahan embrio akan
dilepaskan dari tempat implantasinya sehingga material ini dianggap sebagai benda asing dalam
uterus. Uterus akan berkontraksi untuk mengeluarkan embrio yang mati tersebut dari dalam
kavum uteri.

2.4 KLASIFIKASI
Abortus dapat digolongkan atas dasar :
1. Abortus spontan
Abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis ataupun
medisianalis, semata-mata disebabkan oleh faktor alamiah.
a. Abortus Imminens
Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan 20 minggu dengan
berat badan janin 500gr, tanpa disertai dengan adanya pembukaan serviks ( dilatasi
serviks) dan atau tanpa disertai rasa mules-mules dan hasil konsepsi masih di dalam
uterus. Abortus imminens sifatnya adalah mengancam, tetapi masih ada kemungkinan
untuk mempertahankan hasil konsepsi.Abortus imminens ditegakan pada wanita yang
hamil dengan gejala perdarahan pervaginam yang timbul dalam waktu kehamilan
trimester pertama.
Pada beberapa wanita hamil dapat terjadi perdarahan sedikit pada saat haid yang
semestinya datang jika tida terjadi pembuahan.Hal ini biasanya disebabkan oleh
penembusan vili korialis kedalam desidua, pada saat implantasi ovum.Perdarahan
implantasi biasanya sedikit, warnanya merah, dan cepat berhenti, tidak disertai mules
mules.
Perdarahan pada abortus imminens lebih ringan , namun dapat menetap dalam
beberapa hari sampai dengan beberapa minggu. Hal ini akan mengakibatkan gangguan
terhadap hasil konsepsi berupa persalinan preterm, berat badan lahir rendah serta
kematian prenatal.

5
Sumber: Hanretty KP. Vaginal Bleeding in Pregnancy. In: Obstetrics Illustrated, 6th Edition.
London: Churchill-Livingstone, 2003. [e-book].

b. Abortus Insipiens
Abortus yang sedang berlangsung, dengan ostium sudah terbuka dan terdapat
dilatasi servik uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih ada didalam uterus.
Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih kuat, perdarahan bertambah.

Sumber: Hanretty KP. Vaginal Bleeding in Pregnancy. In: Obstetrics Illustrated, 6th Edition.
London: Churchill-Livingstone, 2003. [e-book].

c. Abortus kompletus
Abortus dengan hasil konsepsi dikeluarkan ( desidua dan fetus ), sehingga seluruh rahim
kosong.

6
Sumber: DeCherney AH, Nathan L, Goodwin TM, et al. Spontaneous Abortion. In: Current Diagnosis and
Treatment in Obstetric and Gynecology. New York: McGraw-Hill, 2003. [e-book].

d. Abortus inkompletus
Ialah abortus dengan masih tersisanya sebagian hasil konsepsi, ditandai dengan
pembukaan serviks. Pada abortus yang terjadi pada usia kehamilan sebelum minggu ke
10, biasanya janin sudah keluar bersama-sama dengan plasenta, akan tetapi sesudah usia
kehamilan 10 minggu, pengeluaran janin dan plasenta akan terpisah. Gejala abortus
inkomplit berupa amenorea, sakit perut, dan mulas-mulas. Perdarahan bisa sedikit atau
banyak, sudah ada keluar fetus atau jaringan.

Sumber: Hanretty KP. Vaginal Bleeding in Pregnancy. In: Obstetrics Illustrated, 6th Edition.
London: Churchill-Livingstone, 2003. [e-book].

e. Missed Abortion
Keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada dalam rahim dan tidak
dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. Tudak diketahui dengan pasti tetapi diduga
pengaruh hormon progesteron. Pemakaian hormon progesteron pada abortus imminens
mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion.

7
f. Abortus habitualis (recurrent abortus)
Abortus habitualis adalah abortus yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut. Penyebab
abortus harus dapat dikenali segera agar dapat dilakukan pengobatan yang sesuai. Bila akibat
cacat kromosom, lakukan upaya-upaya investigasi genetika dan upayakan perbaikan dengan
metode yang tersedia. Bila disebabkan defisiensi hormonal, maka cari penyebab defisiensi dan
pilih hormon substitusi yang sesuai. Bila hal ini disebabkan inkompetensi servikal, maka lakukan
prosedur ligasi serviks dengan cara Shirodkar atau Mc Donald sebelum kehamilan berusia 12-14
minggu.
g. Abortus buatan/diinduksi (induced abortion)
Abortus yang terjadi akibat upaya-upaya tertentu untuk mengakhiri proses kehamilan.
Abortus buatan dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Abortus buatan terapeutik (abortus provokatus medisinalis)
Aborsi yang dilakukan pada wanita hamil atas indikasi terapeutik atau medis. Umumnya
indikasi tersebut berkaitan dengan ancaman keselamatan jiwa atau adanya gangguan
kesehatan yang berat pada ibu (dekompensatio kordis, tuberkulosis paru berat, status
asmatikus, diabetes mellitus tidak terkontrol, penyakit hati menahun, dan sebagainya). Pada
beberapa negara, indikasi untuk melakukan abortus provokatus berkaitan dengan adanya
kecatatan pada janin (misalnya talassemia, kelainan kromosom, sindrom Down, penyakit
retardasi mental) atau dari cara terjadinya suatu kehamilan (akibat perkosaan, hubungan
sedarah/incest). Pada beberapa badan peradilan di luar negeri atau negara modern dikenal
pula istilah terminasi kehamilan atas permintaan pasien (voluntary termination), yaitu
abortus yang dilakukan atas permintaan pasien, baik akibat adanya risiko terhadap kesehatan
ibu atau tekanan mental berat yang dialami ibu tersebut (misalnya kehamilan yang baru saja
diketahui setelah terjadinya perceraian, sulit menentukan ayah dari janin yang dikandungnya,
hamil bukan dengan pasangan yang sebenarnya atau pasangan tersebut tidak terikat dalam
ikatan pernikahan yang sah). 1,2

8
b. Abortus kriminalis (abortus provokatus kriminalis)
Aborsi yang dilakukan secara sengaja (melalui kesepakatan antara pasien dan pelaku aborsi)
dan bukan atas indikasi untuk menyelamatkan jiwa ibu, adanya kecacatan pada janin atau
gangguan mental yang berat.
h. Abortus septik
Abortus dengan komplikasi infeksi. Sepsis dapat terjadi akibat infeksi mikroorganisme
dari saluran genital bawah setelah abortus spontan atau aborsi yang tidak aman. Sepsis biasanya
terjadi bila hasil konsepsi masih tertinggal dan evakuasi ditunda. Sepsis merupakan komplikasi
tersering dari abortus tidak aman yang berhubungan dengan instrumentasi.1,3
i. Kehamilan Anembrionik (Blighted Ovum)
Blighted Ovum atau kehamilan anembrionik adalah kegagalan perkembangan embrio
sehingga hanya terdapat kantong kehamilan, dengan atau tanpa yolk sac.1, 4 Ada juga hipotesis
lain yang menyatakan fetal pole direabsorbsi sebelum diagnosis USG.4
Kelainan ini merupakan suatu kelainan yang baru terdeteksi setelah berkembangnya
ultrasonografi. Bila tidak dilakukan tindakan, kehamilan ini akan berkembang terus walaupun
tanpa adanya janin di dalamnya. Biasanya sampai sekitar 14-16 minggu akan terjadi abortus

9
spontan. Sebelum alat USG ditemukan, kelainan kehamilan ini mungkin banyak dianggap
sebagai abortus biasa.1
Diagnosis kehamilan anembrionik ditegakkan pada usia kehamilan 7-8 minggu bila pada
pemeriksaan USG didapatkan kantong gestasi tidak berkembang atau pada diameter 2,5 cm yang
tidak disertai adanya gambaran mudigah. Untuk itu, bila pada saat USG pertama kita
mendapatkan gambaran seperti itu perlu dilakukan evaluasi USG 2 minggu kemudian. Bila tetap
tidak dijumpai struktur mudigah atau kantong kuning telur dan diameter kantong gestasi sudah
mencapai 25 mm maka dapat dinyatakan sebagai kehamilan anembrionik.1
Pengelolaan kehamilan anembrionik dilakukan terminasi kehamilan dengan dilatasi dan
kuretase secara elektif.1

2.5 DIAGNOSIS
Manifestasi Klinis pada Beberapa Derajat Abortus
JENIS PERDARAHAN NYERI KELUAR TFU OUE TERAPI
ABORTUS PERUT JARINGAN
IMMINENS Segar ( merah), + - Sesuai usia Tertutup Pertahankan
Bercak-Sedang kehamilan kehamilan
INSIPIENS Sedang-Banyak ++ - Sesuai usia Terbuka Kuret
kehamilan
INKOMPLIT Banyak + + Sesuai usia Terbuka Kuret
kehamilan
KOMPLET Sedikit + + < usia Tertutup Konservatif
kehamilan

Perdarahan Serviks Uterus Gejala/tanda Diagnosis


Bercakhingga Tertutup Sesuai usia gestasi Kram perut bawah Abortus
sedang Uterus lunak imminens
Sedikit membesar Limbung atau pingsan Kehamilan
dari normal Nyeri perut bawah ektopik
Nyeri goyang porsio terganggu
Massa adneksa
Cairan bebas intra abdomen
Tertututp / Lebih kecil dari usia Sedikit/tanpa nyeri perut bawah Abortus
terbuka gestasi Riwayat ekspulsi hasil konsepsi komplit
Sedang hingga Terbuka Sesuai usia Kram atau nyeri perut bawah Abortus
masif/ banyak kehamilan Belum terjadi ekspulsi hasil insipiens
konsepsi
Kram atau nyeri perut bawah Abortus
Ekspulsi sebagian hasil konsepsi inkomplit

10
Terbuka Lunak dan lebih Mual/muntah Abortus
besar dari usia gestasi Kram perut bawah mola
Sindrom mirip preeklamsia
Tak ada janin, keluar jaringan
seperti anggur

2.5.1 Tanda dan Gejala


a. Nyeri suprapubik, uterine cramping, dan atau dengan nyeri punggung bawah.
b. Perdarahan pervaginam.
c. Dilatasi serviks.
d. Ekspulsi dari hasil konsepsi.
e. Hilangnya tanda-tanda kehamilan.
f. Kuantitatif -hCG tidak meningkat.
g. Abnormal USG.
(Kantong kehamilan yang kosong, fetus yang tidak terbentuk, tidak adanya pertumbuhan
fetus).

2.5.2 Laboratorium
Jika terjadi perdarahan yang signifikan, pasien dapat menjadi anemis. Hitung jenis sel
darah putih dan rasio sedimentasi meningkat walaupun tidak terdapat infeksi.7
2.5.3 Tes Kehamilan
Penurunan atau peningkatan abnormal dari -hCG adalah diagnosis dari kehamilan
abnormal, baik blighted ovum, abortus spontan atau kehamilan ektopik.7
2.5.4 Ultrasonografi
USG transvagina dapat membantu dalam mendokumentasikan kehamilan intrauterina
pada usia kehamilan 4-5 minggu. Denyut jantung janin seharusnya dapat terlihat pada embrio > 5
mm atau pada embrio kehamilan 5-6 minggu. USG berguna untuk menentukan kehamilan viable
atau miscarry.7
Embrio atau fetus tanpa denyut jantung disebut sebagai missed abortion sedangkan
kantong kehamilan yang abnormal tanpa adanya yolk sac ataupun embrio disebut sebagai
blighted ovum. Sebagian besar kehamilan gagal sebelum ibu mengeluhkan tandan atau gejala.7,8

11
2.6 TATALAKSANA
Langkah pertama dari serangkaian penatalaksanaan abortus adalah penilaian kondisi
klinis pasien. Penilaian ini masih berkaitan dengan upaya diagnosis dan memulai pertolongan
awal kegawatdaruratan. Dengan langkah ini, dapat dikenali berbagai komplikasi yang dapat
mengancam keselamatan pasien seperti syok, infeksi/sepsis, perdarahan hebat (masif) atau
taruma intraabdomen. Melalui pengenalan ini, dapat diambil langkah untuk mengatasi
komplikasi. Walaupun tanpa komplikasi, pada kasus abortus inkomplit dapat berubah menjadi
ancaman apabila terapi definitif (evakuasi sisa konsepsi) tidak segera dilaksanakan. Oleh karena
itu, penting sekali untuk membuat penilaian awal secara akurat (yang kemudian segera diikuti
dengan tindakan pengobatan) atau (apabila ada indikasi) melakukan stabilisasi pasien.4,5,6

12
Tata laksana definitif abortus bergantung pada derajat abortus dan meliputi prosedur
medikal dan surgikal.4,5
2.6.1 Abortus iminens
Pada umumnya tidak memerlukan terapi medikamentosa. 4 Beberapa sumber masih ada
yang mengharuskan tirah baring selama 24-48 jam, sumber lain menyebutkan tidak perlu
sampai tirah baring1,3 (ibu hanya dianjurkan untuk menghindari aktivitas fisik yang
berat4,5). Pasien sebaiknya tidak melakukan hubungan seksual untuk sementara. Bila
perdarahan berhenti, pemantauan dilanjutkan saat perawatan antenatal guna menilai
kembali jika terjadi perdarahan lagi. Bila perdarahan tidak berhenti, nilai kembali
viabilitas fetal (tes kehamilan atau USG). Perdarahan persisten dengan ukuran uterus
lebih besar dari perkiraan usia kehamilan mengindikasikan kehamilan kembar atau mola
hidatidosa. Tidak dianjurkan untuk memberikan terapi hormon (seperti estrogen atau
progestin) atau agen tokolitik (salbutamol atau indometasin) karena tidak dapat mencegah
terjadinya keguguran.5
2.6.2 Abortus insipiens
Bila usia kehamilan < 16 minggu, rencanakan untuk melakukan evakuasi isi uterus. Bila
evakuasi tidak memungkinkan untuk segera dilakukan:
a. Berikan ergometrin 0,2 mg IM (dapat diulang setelah 15 menit bila perlu) atau
misoprostol 400 g oral (dapat diulang sekali setelah 4 jam bila perlu).
b. Rencanakan evakuasi hasil konsepsi dari uterus sesegera mungkin.
Bila usia kehamilan > 16 minggu: Tunggu ekspulsi spontan dari hasil konsepsi,
kemudian evakuasi isi uterus untuk membersihkan sisa-sisa konsepsi yang masih
tertinggal. Jika memungkinkan, infus oksitosin 40 IU dalam 1 L cairan intravena
(salin normal atau Ringers Lactate) dengan kecepatan 40 tetes per menit guna
membantu terjadinya ekspulsi spontan hasil konsepsi. Setelah itu, melakukan
pemantauan ketat terhadap kondisi ibu pasca tindakan.5
2.6.3 Abortus inkomplit
Bila perdarahan ringan dan kehamilan < 16 minggu, dapat dilakukan pengeluaran hasil
konsepsi yang terjepit pada serviks dengan jari atau ring (sponge) forcep. Bila perdarahan
sedang-berat dan usia kehamilan < 16 minggu, dilakukan evakuasi hasil konsepsi dari
uterus dengan:
a. Aspirasi vakum manual merupakan metode yang lebih dianjurkan. Indikasi aspirasi
vakum manual pada kasus abortus: abortus insipien atau inkomplit < 16 minggu 5

13
(sumber lain menyebutkan batasan usia kehamilan < 12-14 minggu4). Menurut
beberapa hasil penelitian, aspirasi vakum menunjukkan risiko komplikasi (perdarahan
hebat, infeksi, trauma serviks, perforasi) yang lebih rendah dibandingkan kuret tajam.
Di samping itu, prosedur ini tidak memerlukan anestesi umum dan memiliki
efektivitas yang cukup baik (persentase evakuasi komplit rata-rata >98%). 4 Metode
kuretase tajam (dilatasi dan kuretase) hanya dilakukan bila aspirasi vakum manual
tidak tersedia.5
b. Bila evakuasi tidak memungkinkan untuk segera dilakukan, berikan ergometrin 0,2
mg IM (dapat diulang setelah 15 menit bila diperlukan) atau misoprostol 400 g oral
(dapat diulang setelah 4 jam bila diperlukan). Bila kehamilan > 16 minggu:
- Infus oksitosin 40 IU dalam 1 L cairan intravena (saline normal atau Ringers
Lactate) dengan kecepatan 40 tetes per menit sampai ekspulsi hasil konsepsi
terjadi.
- Bila perlu, dapat diberikan misoprostol 200 g per vaginam tiap 4 jam hingga
terjadi ekspulsi, dosis total tidak lebih dari 800 g.
- Mengevakuasi sisa hasil konsepsi yang tersisa dari uterus.
- Setelah itu, melakukan pemantauan ketat terhadap kondisi ibu pasca tindakan.5

2.6.4 Abortus komplit


Evakuasi hasil konsepsi dari uterus umumnya tidak diperlukan. Lakukan pemantauan
pada perdarahan yang berat.5

2.6.5 Prosedur Surgikal Terapi Definitif Abortus Inkomplit


a. Kuretase Digital 4

Sumber: Hanretty KP. Vaginal Bleeding in Pregnancy. In: Obstetrics Illustrated, 6 th Edition. London: Churchill-
Livingstone, 2003. [e-book].
b. Kuretase Tajam (Dilatasi dan Kuretase) 3,4,5

14
15
Sumber: Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL (Editors). Abortion. In: Williams Obstetrics, 23rd Edition. New
York: McGraw-Hill, 2010. [e-book].

c. Aspirasi Vakum Manual (Manual Vacum Aspiration atau AVM).3,4,5

Sumber: Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL (Editors). Abortion. In: Williams Obstetrics, 23rd Edition. New
York: McGraw-Hill, 2010. [e-book].

2.7 KOMPLIKASI 7
- Perdarahan.
- Sepsis.
Biasanya timbul oleh karena abortus diinduksi.

16
- Infeksi.
- Intrauterine synechia.
- Infertilitas.
- Perforasi.
Perforasi dinding uteri dapat terjadi saat D&C karena lunak dan batas luar yang samar dan dapat
disertai dengan cedera usus dan kandung kemih, perdarahan, infeksi dan pembentukan fistula.

17
BAB III
IKHTISAR KASUS

3.1 IDENTITAS
Nama Pasien : Ny. Muria Jayanti W
No RM : 1331885
Tempat tanggal lahir : Jakarta, 26 April 1985
Agama : Islam
Suku Bangsa : Betawi
Pendidikan : Tamat SMA
Pekerjaan : IRT
Alamat : Jl. Pinang Dalam II, No.21.RT 014/028. Pondok Labu. Cilandak
Datang ke VK RUSP Fatmawati tanggal 19 November 2014

3.2 ANAMNESA
Autoanamnesa tanggal pukul
A. Keluhan Utama :

Keluar darah disertai gumpalan lewat vagina sejak 6 jam SMRS (Rujukan dari
Puskesmas)

B. Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien mengaku sedang hamil 7 minggu, tes urin sudah dilakukan dan hasilnya (+)
hamil. HPHT akhir 25-9-2014, taksiran persalinan 2-6-2015 dan pasien memeriksa
kehamilan di bidan sebanyak 2x. Sudah pernah dilakukan pemeriksaan USG satu kali
dan dikatakan janin dalam keadaan baik. Pasien datang dengan keluhan keluar darah

18
bergumpal lewat vagina sejak 6 jam SMRS. Pasien juga mengeluhakan nyeri pada
bagian bawah perut dengan VAS 2-3 pada saat keluar darah. Pasien rujukan dari
Puskesmas dengan keluhan keluar darah dan lender sejak 1 minggu yang lalu.
Keluhan pusing(-),mual(-),demam(-), gigi berlobang (-), keputihan (-). Riwayat
terjatuh/terbentur dan senggama lima hari sebelum kejadian disangkal. BAB dan
BAK baik, tidak ada keluhan.

C. Riwayat Menstruasi :

Menarche : 10 tahun
Siklus : 28 hari
Lamanya : 8 hari
Banyaknya :3 pembalut
Dismenorea :-
HPHT : 25 september 2014
TP : 2-6-2014
D. Riwayat Perkawinan :Kawin 1 kali, umur perkawinan 22 tahun
E. Riwayat Kehamilan lalu :
Hamil Abortus/SC/ Kelamin BB Penolong Tempat Keadaan
Normal Lahir Sekarang

1. Normal Laki-laki 2800 g Bidan PKM Sehat


pasar
minggu
2. Hamil ini

F. Riwayat KB : Suntik
G. Riwayat Penyakit Sistemik :
DM(-), hipertensi(-), hipertiroid(-), jantung(-), asma(-)
H. Riwayat Penyakit Keluarga :
DM(-), hipertensi(-), hipertiroid(-), jantung(-), asma(-),TBC(-)
I. Riwayat Operasi :-

J. Riwayat Kebiasaan :

19
Merokok(-), alkohol(-), minum jamu(-), narkoba(-), stress (-)

3.3 PEMERIKSAAN FISIK


A. STATUS GENERALIS
KU/KS : Baik/CM
T: 120/80 Hg N : 84 x/mnt, regular, cukup S: 35,7 P:18x/mnt
Tb : 150 cm Bb : 38 Kg
Kepala
Rambut : hitam, tidak mudah rontok
Mata : CA-/-, SI -/-
THT : dalam batas normal
Leher
KGB : tidak teraba membesar
Kel. Tyroid : tidak teraba membesar
Toraks
Mammae : Simetris, hiperpigmentasi pada kedua areola,retraksi
puting tidak ada, benjolan -/-
Pulmo : Suara nafas vesikuler, rhonki-/-, wheezing -/-
Cor : S1S2 reguler, murmur(-), gallop(-)
Abdomen : NT (-), H/L ttm, Massa (-), Bu (+) N
Ekstremitas : akral hangat, edema-/-

B. STATUS OBSTETRIK
TFU : tidak di ukur
Kontraksi (-)
DJJ : tidak diukur

20
I : V/U tenang, perdarahan (+)
Io: Porsio licin, ositum terbuka, tampak jaringanintra OUE, fluxus (-), fluor (-),
tampak bekuan darah (+)
VT : uterus anterofleksi, OUE terbuka, nyeri goyang porsio (-), cavum douglasi
tidak menonjol.

3.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG


a. Laboratorium (19 November 2014)
Hb : 12.9 g/dl Ht : 38 % L : 6.0 ribu/ul
Tr : 307 ribu/ul Eri : 4.04 juta/ul
VER : 92.8 fl HER : 31.9 pg KHER : 34.4 g/dl RDW : 14.0%
GDS : 85 g/dl
b. Hasil USG (19 November 2014):

Uterus antefleksi, ukuran 10x 6.6 cm, tidak tampak cairan


Kesan : Sisa konsepsi pada G2P1 hamil 7 minggu.
D/ abortus inkomplit pada hamil 7 minggu

3.5 RESUME
Pasien nyonya berumur 29 tahun datang ke RS mengaku hamil 7 minggu. HPHT 25
September 2014, ANC di puskesmas, dengan keluhan keluar darah dari vagina sejak 6
jam SMRS. Dari pemeriksaan fisik dalam batas normal TD : 120/80 mmHg, Nadi : 84
x/menit, P ; 18 x/mnt, Suhu : 35,70 C, pemeriksaan obstreti VT: tertutup, Dari

21
pemeriksaan lab : Hb : 12,9 g/dl, Leukosit : 6,0 ribu/ul, dan pemeriksaan penunjang USG:
sisa konsepsi.

3.6 DIAGNOSIS
Abortus Inkomplit pada G2P1 hamil 7 minggu.

3.7 PENATALAKSANAAN
Rdx : Observasi KU, tanda vital, perdarahan, nyeri
Rtx : evakuasi sisa konsepsi dengan AVM
Laporaan Operasi
Macam operasi : AVM
Tanggal OP : 19-11-2014 lama OP : 30 menit
1. Pasien dalam posisi litotomi dengan diazepam dan SA
2. Aseptik dan antiseptik daerah genital dan sekitarnya
3. Kandung kemuh di kosongkan
4. Dipasang spekulum bawah dan atas kemudian dipasang tenakulum
5. Spekulum atas
6. Dilakukan sondase 10 cm, didapatkan uterus antefleksi
7. Dilakukan AVM
8. Didapatkan jaringan SCC PA
9. Perdarahan negative, diyakinkan tidak ada perdarahan, tindakan dihentikan.
10. Jaringan di masukan di toples dengan formalin 10 % dikirim ke bagian PA.

Tanggal 19 November 2014


Obsevasi 2 jam post kuret :
Jam Tekanan Nadi Pernapasan Suhu perdarahan kontrak TFU
darah si
0
00:45 120/80 86 x / mnt 20 x / mnt 36.3 C - Baik 2jari
mmHg bawah
pusat
0
01:00 120/80 86 x / mnt 20 x / mnt 36.3 C - Baik 2jari

22
mmHg bawah
pusat
01: 15 120/80 86 x / mnt 20 x / mnt 36.30 C - Baik 2jari
mmHg bawah
pusat
01: 30 120/80 86 x / mnt 20 x / mnt 36.30 C - Baik 2jari
mmHg bawah
pusat
0
02:00 120/80 86 x / mnt 20 x / mnt 36.3 C - Baik 2jari
mmHg bawah
pusat
0
02:30 120/80 86x/mnt 20x/mnt 36.3 C Baik 2jari
mmHg bawah
pusat

S : BAK spontan, lampias, perdarahan tidak aktif, nyeri jalan lahir (VAS 2)
O : KU : baik, compos mentis
Tanda Vital : TD : 120/80 mmHg. N : 86 x / mnt, R: 20 x / mnt S : afebris
Status Generalis : dalam batas normal
Status Obsttretri : kontraksi uterus baik. V/U : tenang, perdarahan (-)
A : P1A1 post kuretase a.i. abortus inkomplit pada G2P1 hamil 7 minggu
P : Rdx : observasi perdarahan di rumah ( pasien boleh pulang , kontrol kepoli 1 minggu)
Rth : Mobilisasi aktif
Higiene V/U
Diet TKTP
As. Mefenamat 3 x 500 mg
Hemobion 1x1 tab
Metergin 2 x 0,125 mg

3.8 PROGNOSIS
Ad vitam : bonam
Ad functionam : bonam
Ad sanationam : bonam

23
BAB IV
ANALISA KASUS

Pada kasus yang dialami Ny.M,29 tahun ditegakkan diagnosis sisa konsepsi pada
G2P1 hamil tujuh minggu. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesis
Pasien hamil tujuh minggu datang dengan keluhan utama keluar darah dari
vagina. Sebelum mencari tahu penyebab perdarahan, penting kita ketahui dahulu
pasien ini dalam kondisi hamil atau tidak.
Dari hasil anamnesis didapatkan bahwa pasien mengaku sedang hamil 12
minggu. Sudah tes urin dan hasilnya (+) hamil dan pernah di USG satu kali hasilnya
positif hamil. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pasien dalam kondisi hamil.
Kemudian barulah kita cari tahu asal penyebab perdarahan ini.
Perdarahan pada kehamilan muda (kurang dari 28 minggu) setidaknya memiliki
tiga penyebab yang cukup sering ditemukan, yaitu abortus, kehamilan ektopik, dan
penyakit trofoblas jinak (mola hidatidosa).
Sejak 6 jam SMRS keluar darah dari kemaluan. Saat datang ke IGD
Kebidanan RSF mengeluhkan darah masih keluar, berwarna merah segar,
menggumpal. Riwayat jatuh, senggama 5 hari yang lalu. Riwayat keputihan
disangkal. BAB dan BAK tidak dikeluhkan. . Ditanyakan adanya riwayat
jatuh/terbentur, untuk menyingkirkan adanya trauma dan faktor risiko lain sebagai
penyebab perdarahan, senggama 5 hari yang lalu dicurigaai salah satu penyebab
terjadinya perdarahan dikarenakan senggama memicu kontraksi uterus. Tidak
ditemukannya tiwayat keputihan yang gatal dan bebau, serta kelainan BAK dapat
digunakan untuk menyingkirkan adanya infeksi saluran kemih (ISK) dan genital.

24
Pasien mengeluh, nyeri perut bagian bawah. Adanya nyeri perut bagian
bawah menunjukkan kemungkinan adanya diagnosis banding berupa abortus,
kehamilan ektopik, atau mola hidatidosa.

2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan status generalis dalam keadaan normal. Pada
pemeriksaan status obstetrikus TFU tidak di ukur karena pembesaran perut belum bisa
diukur. pada pemeriksaan ginekologi, inspeksi ditemukan vulva dan uretra ditemukan
tenang, artinya kemungkinan perdarahan yang berasal dari genitalia eksterna sudah dapat
disingkirkan. Pada pemeriksaan inspekulo didapatkan porsio livide yang merupakan
salah satu tandap pasti kehamilan, yaitu tanda Chadwick, ositum tertutup, fluxus (-),
fluor (-), tampak bekuan darah (+). Pada pemeriksaan dalam didapatkan uterus
anterofleksi,OUE tertutup, nyeri goyang porsio (-),sehingga kemungkinan diagnosis
kehamilan ektopik juga dapat disingkirkan.
Dari hasil pemeriksaan fisik berupa OUE tertutup dan tidak ditemukan sisa
jaringan konsepsi maka diagnosis banding abortus dapat dikerucutkan menjadi abortus
imminens dan abortus komplit.

3. Pemeriksaan penunjang
Hasil laboratorium tidak ada kelainan dan pada pemeriksaan USG didapatkan
masih ada jaringan yang tertinggal di dalam kavum kuterus (sisa konsepsi), sehingga
jenis abortus yang paling memungkinkan adalah abortus inkomplit.selain itu USG, tidak
ditemukan adanya cairan bebas di kavum douglas, sehingga diagnosis kehamilan
ektopik dapat disingkirkan. Selain itu dari USG juga tidak didapatkan adanya gambaran
menyerupai gelembung yang merupakan gambaran yang khas ditemukan pada mola
hidatidosa, sehingga diagnosis mola hidatidosa dapat disingkirkan.
Setelah didiagnosis abortus inkomplit pada kehamilan dengan usia kehamilan
tujuh minggu, penting untuk segera dilakukan evakuasi sisa konsepsi untuk
menghentikan perdarahan. Metode evakuasi yang dapat dipilih ada dua macam yaitu
vakum manual (AMV) atau dengan kuretase tajam. Kemudian menjelaskan informed
consent bahwa masing-masing metode evakuasi memiliki kekurangan dan kelebihan.

25
Kemudian pasien memilih dan menyetujui menggunakan metode AVM dikarenakan nyeri
yang dirasakan lebih minimal dibandingkan kuretase tajam.
Setelah pasien selesai menjalani kuretase, diberikan antibiotik profilaksis untuk
mencegah kemungkinan timbulnya infeksi, asam mefenamat sebagai antiinflamasi dan
penghilang nyeri (analgesik), dan methergin untuk mengembalikan kontraksi uterus,
selain untuk mengembalikan uterus ke ukuran semula, juga untuk menghentikan
perdarahan.

26
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN

Pada kasus perdarahan pada masa kehamilan , dengan usia kehamilan dibawah 20
minggu. Selain dicurigai sebagai abortus perlu juga dipikirkan adanya KET dan mola
hodatidosa.
Pemahaman mengenai perdarahan pada kehamilan muda khususnya abortus dan jenis-
jenisnya, serta kemungkinan penyebabnya sangat menentukan dalam perencanaan,
penatalaksanaan, monitoring, dan evaluasi pada kasus abortus.

SARAN
Perawatan sebelum kelahiran yang rutin ( ANC ) dapat mengurangi terjadinya abortus.
Ditambah dengan riwayat abortus pada kehamilan sebelumnya.
Ibu yang mengalami abortus hendaknya diminta untuk menunda kehamilan berikut
sampai ia benar-benar pulih.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Sarwono, Prawirohardjo. Ilmu Kebidanan Edisi 4. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo. 2009. hal.459-474
2. Affandi B, Adriaanz G, Widohariadi, dkk. Paket Pelatihan Klinik: Asuhan Pasca Keguguran,
Edisi Kedua. Jakarta: JNPK-KR/POGI, 2002. hal.2-13
3. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL (Editors). Abortion. In: Williams Obstetrics, 23 rd
Edition. New York: McGraw-Hill, 2010. [e-book].
4. Hanretty KP. Vaginal Bleeding in Pregnancy. In: Obstetrics Illustrated, 6th Edition. London:
Churchill-Livingstone, 2003. [e-book].
5. Mathai M, Sanghvi H, Guidotti RJ. Vaginal Bleeding in Early Pregnancy. In; Managing
Complications in Pregnancy and Childbirth: A Guide for Midwives and Doctors. Geneva:
WHO, 2007. p. S-7 s.d S-17.

28