Anda di halaman 1dari 10

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia memerlukan zat gizi untuk memperoleh energy guna

melakukan kegiatan fisik sehari-hari, untuk memelihara proses tubuh, dan

untuk tumbuh dan berkembang khususnya bagi yang masih dalam masa

pertumbuhan. Zat gizi yang dibutuhkan tersebut antara lain adalah protein dan

lemak (Alkatiri, 1996). Protein adalah salah satu zat gizi yang berperan dalam

pertumbuhan, pembentukan jaringan dan organ penting serta memiliki fungsi

pertahanan tubuh sedangkan lemak berfungsi sebagai sumber energy,

pembentuk struktur tubuh dan pelarut vitamin A,D,E,K (Kartasaportra, 2002).

Pada awal pertumbuhannya, manusia memperoleh protein dan lemak

tersebut dari Air Susu Ibu (ASI). Asi memiliki keistimewaan dibandingkan

susu lainnya, antara lain kebersihannya terjamin, suhu ASI sama dengan suhu

tubuh (Alkatiri, 1996), kaya akan sari-sari makanan yang mempercepat

pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem syaraf (prowerati, 2009).

Serta komposisi ASI sangat sesuai dengan pemcernaan, pertumbuhan, dan

perkembangan bayi. Tidak satupun makanan ataupun minuman yang dapat

menggantikan ASI secara mutlak (Matondang dkk, 2008).

ASI merupakan makanan pertama ideal yang seyoganya diberikan

pada bayi-bayi yang baru lahir terutama dalam 6 bulan pertama. Tetapi ada
2

saat dimana ASI tersebut tidak dapat diberikan atau tidak dapat mencukupi

kebutuhan bayi, maka dapat digantikan atau ditambah dengan susu formula

(Munasir dan Siregar, 2010).

Permasalahan saat ini yang menyebabkan tidak sedikit bayi tidak bias

disusui oleh ibunya antara lain adalah banyaknya ibu yang bekerja, ibu yang

kurang edukati mengenai pentingnya menyusui dan air susu tidak keluar

karena ibu mengalami stres mental serta penyakit fisik seperti malnutrisi.

Alternafit yang dilakukan adalah dengan memberikan susu formula sebagai

pengganti ASI (Muchtadi, 2010).

Penelitian yang dilakukan di Surabaya oleh Calyptra menyatakan

bahwa perbandingan kadar protein ASI, Susu sapi formula, susu kedelai

formula dan kadar lemak susu sapi formula berbeda signifikan dengan daily

intake, sedangkan kadar lemak ASI dan susu kedelai formula berbeda tidak

signifikan dengan daily intake menurut nutrient reference values for Australia

and new zaeland ( daily intake proten 1,17%, daily intake lemak 3,65%).

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka dilakukan penelitian dengan

menganalisis perbandingan kadar protein dan lemak pada ASI, dengan susu

formula baik yang terbuat dari susu sapi maupun susu kedelai. Persyaratan

yang digunakan adalah SNI 3141.1.2011 tentang susu segar untuk ASI, SNI

01-2970-2006 tentang susu sapi bubuk untuk susu sapi formula dan SNI 01-

3830-1995 tentang susu kedelai untuk susu kedelai formula.


3

B. Rumusan masalah

Dari uraian latar belakang diatas, dapat dibuat rumusan masalah

penelitian sebagai berikut Bagaimana cara membandingkan kadar protein

dan lemak pada ASI, dengan susu formula baik yang terbuat dari susu sapi

maupun susu kedelai

C. Tujuan penelitian

Untuk mengetahui kadar perbandingan protein dan lemak pada ASI,

dengan susu formula baik yang terbuat dari susu sapi maupun susu kedelai.

D. Manfaat penelitian

Sebagai bahan informasi kedepannya.


4

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis penelitian

Peneliatian ini menggunakan metode Eksperimen. Eksperimen itu

sendiri adalah observasi di bawah kondisi buatan (artificial condition) di

mana kondisi tersebut dibuat dan diatur oleh si peneliti. Sedangkan

penelitian eksperimental adalah penelitian yang dilakukan dengan

mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian serta adanya kontrol

(Moh. Nazir, 2005 : 63).

B. Tempat dan waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium kimia Politeknik kesehatan

kementerian kesehatan makassar.

Waktu penelitian meliputi penyusunan proposal, pengolahan data, dan

penulisan laporan akhir, dimulai sejak bulan Februari 2016 sampai selesai.

C. Objek penelitian

Objek penelitian adalah ASI Ekslusif dari seorang ibu dan susu formula

baik susu sapi maupun susu kedelai.

ASI dan susu formula sebagai obyek penelitian masing-masing adalah 5

ml ASI dan 5 gram susu formula. Protein pada susu ditetapkan

berdasarkan metode makro Kjeldahl,dan lemak pada susu ditetapkan

berdasarkan metode soxhlet.


5

D. Metode pengumpulan data

Data yang diperoleh adalah data primer, diambil langsung dari

penetapan kadar protein dan lemak pada ASI, susu sapi formula dan susu

kedelai formula.

E. Alat dan bahan

a. Alat yang digunakan

- Kompor

- labu Kjeldahl,

- buret 50 ml,

- statif,

- mortir,

- erlenmeyer 150 ml,

- beker glass,

- seperangkat alat destilasi dan alat destilasi soxhlet,

- corong

- tangkai panjang, dan

- gelas ukur 250 ml.

- oven

- kertas saring

- tabung ekstraksi soxhlet,

- cawan

- timbangan analitik
6

b. bahan yang digunakan

- ASI Ekslusif

- Susu sapi formula

- Susu kedelai formula

- K2SO4

- CuSO4. 5H2O

- H2SO4 pekat

- Aqua destilata

- Serbuk Zn

- Es batu

- NaOH

- Batu didih

- Na2B4O7

- Pasir

F. Prosedur penelitian

1. Pembuatan larutan baku primer Na2B4O7

Di timbang seksama Na2B4O7 sebanyak 1,9837 g, dilarutkan secara

kualitatif dalam labu ukur dengan aqua destilata sampai 100,0 ml,

kemudian labu ditutup dan dikocok sampai homogen.

2. Pembakuan larutan HCl dengan larutan bakuprimer Na2B4O7

Dipipit larutan Na2B4O7 sebanyak 10,0 ml dimasukkan kedalam labu

Erlenmeyer ditambahkan indicator thosiro sebanyak 2-3 tetes.


7

Dititrasi dengan larutan HCl melalui buret sampai titik akhir titrasi.

Dicatat volume titran dilakukan percobaan sebanyak 3 kali.

3. Penetapan kadar protein metode semi makro kjeldahl

- Diukur seksama 1,0 ml atau di timbang seksama 1,0 g sampel

dimasukkan ke dalam labu kjeldahl

- Ditambahkan 10 g K2SO4; 0,1 g CuSO4.5H2O; dan 15 ml H2SO4

pekat dan digoyangkan pelan agar tercampur merata.

- Setelah itu didestruksi menggunakan api bebas dalam lemari asam,

mjula-mula dengan api kecil sampai berhenti berasap, kemudian

pemanasan dilanjutkan dengan api kecil sampai berhenti mendidih

dan cairan menjadi jernih kehijau-hijaua. Pemanasan ditambahkan

kurang lebih 10 menit. Api dipadamkan dan hasil destruksi

dibiarkan mendingin.

- Kemudian ditambahkan 100 ml air bebas mineral dan 1 g serbuk

Zn dalam labu kjeldahl, kemudian didinginkan dalam es batu.

- Ditambahkan perlahan-lahan larutan NaOH 50 % yang sudah

didinginkan dalam lemari es debanyak 50 m dan ditambahkan

beberapa butir batu didih

- Labu kjeldahl dihubungkan dengan segera pada alat destilasi.

- Labu kjeldahl dipanaskan perlahan-lahan sampai dua lapisan

cairan tercampur.
8

- Destilat ditampung dalam 150 ml larutan H3BO3 5% yang tlah

ditambahkan indicator thosiro (8tetes)

- Destilasi dihentikan bila volume yang tertampung telah mencapai

175 ml.

- Destilat yang diperoleh dititrasi dengan larutan HCl 0,1 N sampai

titik akhit titrasi

Perhitungan :

.14100%
%N= ()1000

%protein = %Nxfaktor

4. Penetapan kadar lemak metode ekstraksi langsung dengan alat soxhlet

a. Persiapan alat

Cawan yang digunakan harus kering dan bersih kemudian

ditimbang secara teliti dan tepat.

b. Persiapan bahan

Pasir dicuci bersih kemidian dikeringkan dengan menggunakan

lemari pengering dan disimpan pada eksikator

c. Cara kerja

- Ditimbang dengan seksama 2 g atau 2,0 ml sampel

- Dicampurkan dengan pasir halus yang sudah bebas lemak

sebanyak 8 gr dan dimasukkan kedalam thimble pada tabung

ekstraksi soxhlet
9

- Air pendingin dialirkan melalui kondensor.

- Tabung ekstraksi dipasang pada alat destilasi soxhlet. Ekstrasi

dilakukan dengan pelarut n-heksan secukupnya. Ekstraksi

dilakukan selama kurang lebih 6 jam dengan menggunakan tangas

air 100C.

- N-heksan yang mengandung ekstrak lemak dipindahkan kedalam

cawan yang bersih dan diketahui beratnya kmudian diuapkan

dengan penanyas air sampai agak pekat.

- Pengeringan dilanjutkan dalam oven 70 sampai berat konstan.

- Berat residu dalam cawan dinyatakan sebagai berat lemak.

Perhitungan

(1)
% lemak = 100%
2

Ket: W=bobot cawan dan lemak setelah ekstraksi

W1 =bobot cawan kosong

W2 =bobot sampel
10

DAFTAR PUSTAKA

Alkatiri, S. (1996). Penuntun hidup sehat menurut ilmu kesehatan modern. Surabaya:
Airlangga Universitas Press.
Australian Government, Departmen Of Health and Ageing, National Health and
Medikal Research Council. (2006). Nutrient Referencs Value for Australia
and New Zealand Including Recommended Dietari Intake. Ministry of Health,
29-35.
Calyptra (2013).Jurnal Ilmiyah Mahasiswa Surabaya Vol.2 No. 2. Perbandingan
Kadar Protein dan Lemak dalam ASI, Susu Sapi Formula dan Susu Kedelai
Formula. Surabaya.
Kartaapoetra, G. (2002). Korelasi Gizi, Kesehatan dan Produktivitas Kerja. Jakarta
Rineka Cipta.
Matondang, C.S., Munatsir, Z., & Sumadiono. (2008). Aspek Imunologo Air Susu Ibu
Buku Ajar Alergi Imunologi Anak. Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indoneia.
Muchtadi, D. (2010). Kedelai Komponen untuk kesehatan. Bandung : Penerbit
Alfabet.
Proverawati, K. (2009). Buku Ajar Gizi untuk Kebidanan. Yogyakarta : Penerbit
Nuha Medika.
Siregar SP. Imunitas humoral dalam : Dalam : Akib AAP, Munazir Z, Kurniati N.
Penyunting Buku Ajar Alergi Imunologi Anak. Jakarta FKUI. 2008