Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Letak sungsang merupakan keadaan dimana bokong janin atau kaki
berada di bagian bawah kavum uteri (rongga rahim). Sebagian besar selama
kehamilan, fetus (janin) yang sedang berkembang sangat bebas untuk bergerak
di dalam uterus. Antara umur kehamilan 32-36 minggu, fetus bertambah besar
sehingga pergerakannya terbatas.
Angka kematian ibu bersalin dan angka kematian perinatal merupakan
indikator yang paling peka untuk menilai keberhasilan program kesehatan ibu
dan anak. Malpresentasi dapat mengakibatkan timbulnya penyebab kematian
perinatal termasuk diantaranya adalah kelainan presentasi bokong, kejadian
hipoksia dan trauma lahir pada perinatal sering ditemui pada kasus persalinan
dengan malpresentasi yaitu pada presentasi bokong.
Lembaga kesehatan dunia World Health Organization (WHO)
memperkirakan diseluruh dunia setiap tahun lebih dari 585 ribu meninggal
pada saat hamil atau bersalin (Metropolitan, 2010) .
Dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007,
angka kematian ibu mencapai 228/100.000 kelahiran hidup. Sementara angka
kematian bayi 34 per 1000 kelahiran hidup dan terjadi penurunan
dibandingkan dengan data SDKI tahun 2003, yakni, 35 per 1000 kelahiran
hidup. (kompas, 2010)
Berdasarkan data di Departemen Kesehatan DKI Jakarta angka
kematian bayi yang semula 15,2 per 1000 kelahiran pada tahun 2007 turun
menjadi 13,7 per 1000 kelahiran pada tahun 2008.
Kejadian letak sungsang berkisar 2% sampai 3% bervariasi di berbagai
tempat. Sekalipun kejadiannya kecil tetapi mempunyai penyulit yang besar
dengan angka kematian sekitar 20 sampai 30% (Manuaba, 2010,p.491). Angka
kematian bayi pada persalinan letak sungsang lebih tinggi dibandingkan
dengan letak kepala.
Letak sungsang terjadi pada 25% dari persalinan yang terjadi sebelum
umur kehamilan 28 minggu, terjadi pada 7% persalinan yang terjadi pada
1
minggu ke 32 dan terjadi pada 1-3% persalinan yang terjadi pada kehamilan
aterm (Manuaba, 2010).
Berdasarkan masalah pada latar belakang di atas penulis melakukan
survey pendahuluan pada 3 bulan terakhir untuk melihat jumlah angka
kejadian ibu hamil dengan letak sungsang di Puskesmas Cengkareng dari
bulan Oktober sampai bulan Desember 2014 pada ibu hamil yang melakukan
pemeriksaan ANC terdapat 1303 ibu hamil lama dan baru, untuk ibu hamil
dengan letak sungsang dalam tiga bulan terakhir terdapat 7 kehamilan atau
sekitar 0,5%. Kebanyakakan terdapat pada trimester 2 dan trimester 3.
Dengan masih di temukannya ibu hamil letak sungsang di Puskesmas
Cengkareng, penulis tertarik untuk mengambil kasus ini yang akan di angkat
menjadi studi kasus.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melakukan asuhan kebidanan pada ibu hamil
dengan letak sungsang.

1.2.2 Tujuan Khusus


1. Mahasiswa mampu mengkaji data pada ibu hamil dengan letak
sungsang.
2. Mahasiswa mampu merumuskan masalah pada ibu hamil
dengan letak sungsang
3. Mahasiswa mampu mengetahui masalah potensial pada ibu
hamil dengan letak sungsang
4. Mahasiswa mengetahui tindakan segera yang harus dilakukan
pada Ibu hamil dengan letak sungsang.
5. Mahasiswa mampu merencanakan asuhan pada ibu hamil
dengan letak sungsang.
6. Mahasiswa mampu mengimplementasikan asuhan kebidanan
pada ibu hamil dengan letak sungsang
7. Mahasiswa mampu mengevaluasi asuhan yang di berikan pada
ibu hamil dengan letak sungsang.

1.3 Manfaat

2
Manfaat dari makalah ini adalah penulis mendapatkan pengetahuan
tambahan mengenai teori serta praktik asuhan yang diterapkan untuk kasus
ini. Serta untuk pembaca dapat mengingatkan kembali dan menambahkan
wawasan mengenai materi yang diterangkan didalam makalah ini.

1.4 Sistematika Penulisan


Makalah ini terdiri 5 Bab, dengan sistematika penulisan sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan terdiri dari latar belakang masalah tujuan penulisan,
manfaat dan sistematika penulisan.
BAB II : Tinjauan teori uraian tentang definisi, diagnosis, etiologi
klasifikasi dan penanganan pada persalinan dengan presentasi
bokong.
BAB III : Laporan kasus penerapan Asuhan Kebidanan pada ibu hamil di
PKC. Cengkareng.
BAB VI : Pembahasan membandingkan kesesuaian antara teori yang ada
dan praktik di klinik
BAB V : Penutup Kesimpulan dan saran
Daftar Pustaka

BAB II
TINJAUAN TEORI

1.1 Letak Sungsang


1.1.1 Definisi Sungsang
Presentasi bokong adalah janin letak memanjang dengan bagian
terendahnya bokong, kaki, atau kombinasi lainnya. Dengan insidensi 3-4
% dari seluruh kehamilan tunggal pada umur kehamilan cukup bulan (
37 minggu), presentasi bokong merupakan malpresentasi yang paling
sering dijumpai.

3
Sebelum umur kehamilan 28 minggu, kejadian presentasi bokong
berkisar antara 25 30 % dan sebagian besar akan berubah menjadi
presentasi kepala setelah umur kehamilan 34 minggu.
Dikenal beberapa jenis letak sungsang, yakni presentasi bokong,
presentasi bokong kaki sempurna, presentasi bokong kaki tidak sempurna
dan presentasi kaki. pada presentasi bokong akibat ekstensi kedua sendi
lutut, kedua kaki terangkat ke atas sehingga ujungnya setinggi bahu atau
kepala janin.
Dengan demikian pada pemeriksan dalam hanya dapat diraba
bokong. Pada presentasi bokong kaki sempurna disamping bokong dapat
diraba kedua kaki. pada presentasi bokong kaki tidak sempurna hanya
terdapat satu kaki disamping bokong sedangkan kaki yang lain terangkat
keatas (Sarwono, 2012).

1.1.2 Diagnosis Sungsang


Presentasi bokong dapat dikeahui melalui pemeriksaan palpasi
abdomen. Pada pemeriksaan luar, dibagian bawah uterus tidak dapat
diraba bagian yang keras dan bulat, yakni kepala teraba difundus uteri.
Kadangkadang bokong janin teraba bulat dan seolaholah memberikan
kesan kepala, tetapi bokong tidak dapat digerakan semudah kepala.
( Prawirohardjo, 2012).
Untuk memastikan apabila masih terdapat keraguan pada
pemeriksaan palpasi, dapat dilakukan pemeriksaan dalam vagina dan atau
pemeriksaan ultrasonografi.
Pemeriksaan yang hanya menunjukkan adanya presentasi bokong
saja belum cukup untuk membuat perkiraan besarnya risiko guna
pengambilan cara persalinan yang hendak dipilih. Taksiran berat janin,
jenis presentasi bokong, keadaan selaput ketuban, ukuran dan struktur
tulang panggul ibu, keadaan hiperektensi kepala janin, kemajuan
persalinan, pengalaman penolong dan ketersediaan fasilitas pelayanan
intensif neonatal merupakan hal-hal yang penting untuk diketahui.
(Prawirohardjo, 2012).

1.1.3 Etiologi Sungsang


Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin
terhadap ruangan dalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 4
minggu, jumlah air ketuban relatif lebih banyak, sehingga
memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian janin
dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala, letak sungsang atau
letak lintang.
Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan
jumlah air ketuban relatif berkurang. Karena bokong dengan dua tungkai
yang terlipat lebih besar dari pada kepala, maka bokong dipaksa untuk
menempati ruang yang lebih luas di fundus uteri, sedangkan kepala
diruang yang lebih kecil di segmen bawah uterus. Dengan demikian
dapat dimengerti mengapa pada kehamilan cukup bulan, janin sebagian
besar ditemukan dalam presentasi kepala (Prawirohardjo,2012).
Faktorfaktor lain yang memegang peranan penting dalam terjadinya
letak sungsang diantaranya adalah multiparitas, hamil kembar,
hidramnion, hidrosefalus, plasenta previa, dan panggul sempit. Kadang
kadang letak sungsang disebabkan oleh kelainan uterus dan kelainan
bentuk uterus. Plasenta yang terletak di daerah kornu fundus uteri dapat
pula menyebabkan letak sungsang, karena plasenta mengurangi luas
ruangan didaerah fundus. (Oxorn, 2010).

1.1.4 Klasifikasi Sungsang


Klasifikasi sungsang dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Letak Bokong (Frank Breech)
Yaitu letak bokong dengan kedua tungkai terangkat keatas. Angka
kejadian pada presentasi bokong ini sekitar 75%.
2. Letak Sungsang Sempurna (Complete Breech)
Yaitu letak bokong pada kedua kaki ada disamping bokong (letak
bokong kaki sempurna).
3. Letak Sungsang Tidak Sempurna (Incomplete Breech)
Yaitu letak sungsang dimana selain bokong bagian yang terendah
juga kaki atau lutut, terdiri dari:
a) Kedua kaki : Letak kaki sempurna, angka kejadian sebanyak
24%.
Satu kaki: Letak kaki tidak sempurna.
b) Kedua lutut: Letak lutut sempurna, angka kejadian sebanyak
1%.
Satu lutut: Letak lutut tidak sempurna.

5
Posisi bokong ditentukan oleh sacrum, terdiri dari empat posisi
yaitu: sacrum kiri depan, sacrum kanan depan, sacrum kiri
belakang, sacrum kanan belakang.

1.1.5 Cara Pertolongan Persalinan pada Letak sungsang


Cara atau teknik persalinan pada letak sungsung ada dua cara
yakni dengan cara :
1. Persalinan spontan yakni janin dilahirkan dengan kekuatan dan
tenaga ibu sendiri atau disebut dengan Bracht. Terdapat 2
keuntungan persalinan dengan cara Brach yakni tangan penolong
tidak masuk ke dalam jalan lahir, sehingga mengurangi bahaya
infeksi serta cara ini merupakan cara yang paling mendekati
persalinan fisiologik, sehingga mengurangi trauma pada janin.
Selain keuntungan terdapat pula kerugiannya yakni 5-10%
persalinan secara Bracht mengalami kegagalan, sehingga tidak
semua persalinan letak sungsang dapat dipimpin dengan cara
Brach, persalinan Brach biasanya mengalami kegagalan terutama
dalam panggul sempit, janin besar, jalan lahir kaku misalnya pada
primigravidaa, adanya lengan menjungkit atau menunjuk.
2. Prosedur Manual Aid yakni jika persalinan Bracht mengalami
kegagalan, misalnya bila terjadi kemacetan baik pada waktu
melahirkan bahu atau kepala. Dalam cara ini terdapat tiga tahapan
yakni :
a. Tahap pertama, lahirnya bokong sampai pusar yang dilahitkan
degan kekuatan tenaga ibu sendiri.
b. Tahap kedua, lahirnya bahu dan lengan yang memakai tenaga
penolong dengan cara atau teknik :
1. Klasik ( yang sering kali di sebut Deventer) prinsipnya
melahirkan bahu dan lengan secara klasik ini ialah
melahirkan lengan belakang lebih dahulu, karena
lengan belakang berada di rung yang lebih luas
(sacrum), baru kemudian melahirkan lengan depan yang
berada dibawah simpisis. Tetapi bila lengan depan sukar
dilahirkan, maka lengan depan diputar menjadi lengan
belakang, yaitu dengan memutar gelang bahu kea rah
6
belakang dan baru kemudian belakang ini dilahirkan
(Sarwono,2010. 109).
2. Mueller yakni prinsip melahirkan bahu dan lengan
deapan lebih dahulu dengan ekstraksi, baru kemudian
melahirkan bahu dan lengan depan lebih dahulu dengan
ekstrasi, baru kemudian melahirkan bahu dan lengan
belakang (Sarwono,2012.110).
3. Lovset yakni dengan prinsip memutar badan janin
dalam setengah lingkaran bolak balik sambil dilakukan
traksi curam ke bawah sehingga bahu yang sebelumnya
berada di belakang akhirnya lahir di bawah simfisis.
Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa adanya inklinasi
antara pintu atas panggul dengan sumbu panggul dan
bentuk lengkungan panggul yang mempunyai
lengkungan depan lebih pendek dari lengkungan di
belakang, sehingga setiap saat bahu belakang selalu
dalam posisi lebih rendah dari bahu depan.
4. Bickenbach yakni prinsip persalinan kombinasi antara
cara Mueller dengan cara Klasik.
c. Tahap Ketiga, lahirnya kepala . kepala dapat dilahirkan dengan
cara :
1. Mauriceau (Veit-Smellie), yakni tangan penolong yang
sesuai dengan muka janin dimasukan ke dalam jalan lahir.
jari tangan dimasukan ke dalan mulut dan jari telunjuk, dan
jari keempat mencengkram fosa kanina, sedang jari lain
mencengkram leher. Badan anak diletakan di atas lengan
bawah penolong, seolah olah janin menunggang kuda. Jari
telunjuk dan jari ketiga penolong yang lain mencengkram
leher janin dari arah punggung.
2. Cara Naujoks tehnik ini dilakukan bila kepala masih
tinggi, sehingga jari penolong tidak dapat dimasukan ke
dalam mulut janin. Kedua tangan penolong mencengkram
leher janin dari arah depan dan belakang. Kedua tangan
penolong menarik bahu curam ke bawah dan bersamaan
7
dengan itu seorang asisten mendorong kepala janin kea rah
bawah. Cara ini tidak dianjurkan karena menimbulkan
trauma yang berat pada sumsum tulang di daerah leher.
3. Cara cunam piper.

2.2 Lima Benang Merah


Dalam kebidanan terdapat asuhan 5 benang merah diantara yakni :
1. Pengambilan Keputusan Klinik
- Pengumpulan data
- Diagnosa
- Penatalaksanaan
- Evaluasi
2. Asuhan Sayang Ibu dan Bayi
- Panggil nama ibu
- Jelaskan sebelum dan sesudah memberikan asuhan
- Jelaskan proses persalinan pada ibu dan keluarga
- Anjurkan ibu bertanya
- Hargai privacy
3. Pencegahan Infeksi
- Minimalkan infeksi
- Menentukan resiko penularan penyakit yang mengancam
jiwa
4. Dokumentasi
- Tanggal dan waktu asuhan kebidanan
- Identitas penolong
- Paraf atau tanda tangan pada semua catatan
- Informasi berkaitan harus di tulis tepat, jelas dan dapat di
baca.
- Sistem pencatatan pasien harus terpelihara dan siap sedia.
5. Rujukan

2.3 Delapan Belas (18) penapisan dalam Asuhan Persalian Normal


Rujuk ibu, apabila didapat salah satu atau lebih penyulit seperti berikut :
1. Riwayat bedah sesar
2. Perdarahan pervaginam
3. Persalinan kurang bulan (usia kehamilan<37 minggu)
4. Ketuban pecah dengan mekonium yang kental
5. Ketuban pecah lama (>24 jam)
6. Ketuban pecah pada persalinan kurang bulan (<37 minggu)
7. Ikterus
8. Anemia berat
9. Tanda atau gejala infeksi
10. Preeklamsia atau hipertensi dalam kehamilan
11. Tinggi fundus 40 cm atau lebih
12. Gawat janin 8
13. Primipara dalam fase aktif persalinan dengan palpasi kepala janin
masih 5/5
14. Presentasi bukan belakang kepala
15. Presentasi ganda
16. Kehamilan gemelli
17. Tali pusat menumbung
18. Syok

2.3 Refokus Antenatal


Dalam melakukan pada ibu hamil terdapat asuhan refocus antenatal, seperti :
1. Deteksi dini
2. Promosi kesehatan
3. Persiapan persalinan
4. Persiapan kegawat daruratan

BAB III
TINJAUAN LAPANGAN

3.1 Profil Puskesmas Cengkareng


Pada tahun 1974 Puskesmas Cengkareng berdiri dan dibangun oleh
pemerintah daerah. Puskesmas cengkareng telah direnovasi oleh pemerintah
sebanyak 2 kalli, yaitu renofasi yang pertama pada tahun 1990 menjadi 3
lantai akan tetapi berbeda tata ruang bangunan.
Sarana dan prasarana puskesmas cengkareng memiliki luas tanah 8000
m2 dan luas bangunan 2500 m2, serta memiliki 3 buah ambulan dan 7 buah
sepeda motor
Tupoksi dinas kesehatan sebagai regulator. Suku dinas kesehatan
sebagai auditor dan puskesmas sebagai operator. Seluruh puskesmas di DKI
Jakarta telah tersertifikasi ISO 9001 2000. Puskesmas kecamatan
Cengkareng tersertifikasi pada bulan Mei 2007 untuk YanKes dasar. 9
Puskesmas di DKI Jakarta menjadi BPUD bertahap sejak oktober 2007.
Adapun visi dan misi puskesmas Kecamatan Cengkareng yaitu sebgai
berikut:

a. Visi :
Masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan

b. Misi :
1. Meningkatkan derajat kesehatan Masyarakat, melalui pemberdayaan
masyarakat, termasuk suasta dan masyarakat madani.
2. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya
upaya kesehatan yang pafripurna, merata, bermutu dan berkeadilan.
3. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan
menciptakan tatakelola kepemerintahan yang baik dan berkeadilan.

3.2 Gambaran Tentang KIA


Asuhan KIA merupakan singkatan dari asuhan kesehatan ibu dan anak
yang berada di lt.2 Puskesmas Cengkareng. Asuhan ini melayani
pemeriksaan ibu hamil baru, ibu hamil lama, serta imunisasi.
Untuk pemeriksaan ibu hamil yang baru melakukan pemeriksaan
pertyamakali di lakukan pada hari senin sampai dengan jumat, untuk ibu
hamil yang sudah melakukan pemeriksaan lanjutan atau kunjungan ulang di
lakukan pemeriksaan pada hari rabu,sedangkan untuk jadwal imunisasi di
lakukan pada hari senin dan jumat saja.

3.3 SOP ANC di KIA


Konsep Alur Pelayanan Antenatal Terpadu di Puskesmas

Pulang Rujuk RSU Rawat inap

10
Apotek
Ibu Loket Poli KIA Balai Malaria,
hamil Pengobatan TBC,HIV,IMS,
Anemia, KEK

Rujukan: Laboratori
Polindes, um
POSKESDE,
SBPS

3.4 Hasil Kegiatan


Selama mahasiswa melakukan praktik di Puskesmas Cengkarerng
mahasiswa sudah mencapai target seperti :
1. Mampu dan sudah mengidentifikasi jumlah kunjungan K1K4N1N4
2. Mampu dan sudah melaksanakan penyuluhan tentang kespro
3. Mampu dan sudah melaksanakan penyuluhan tentang kesehatan ibu
dan anak .
4. Mampu dan sudah melaksanakan pemeriksaan serta memberikan
imunisasi pada bayi dan anak
5. Mampu mengisi kohort ibu dan kohort bayi
6. Mampu dan sudah melaksanakan pencatatan PWS KIA
7. Mampu dan sudah melaksanakan pemantauan tumbuh kembang bayi
dan anak
8. Sudah mengikuti dan berperan serta dalam kegiatan pemberantasan
sarang nyamuk, serta pengelolaan penyakit masyarakat (pusling,
panti, pasar). 11
9. Setiap kegitan yang telah di ikuti oleh mahasiswa didokumentasikan
dalam buku laporan kegiatan.

3.5 Laporan Kasus

IDENTITAS

Nama Lengkap : Ny.W Nama Suami : Tn. I

Usia : 28 th Usia : 28 th

Pekerjaan : Karyawati Pekerjaan : Wiraswasta

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMP

Suku/Bangsa : Betawi Suku/Bangsa : Betawi

Alamat : Jl.B.Larangan Alamat : Jl. B. Larangan


RT 001/05 RT 001/05
Cengkareng Barat Cengkareng Barat

No. Telp :- No. Telp :-

07-01-2015 Pasien datang ditemani oleh suami ke Puskesmas Cengkareng,


dengan :
Jam 10.15
Keluhan Utama : sesak di perut bagian atas

Quick Check

- sakit kepala : tidak ada

- mual muntah : tidak ada

- nyeri ulu hati : tidak ada


12
- perdarahan pervaginam : tidak ada
S
- keluar air-air pervaginam : tidak ada

- keluar darah lendir : tidak ada

Riwayat kehamilan sekarang :

Pasien mengatakan ini kehamilan yang pertama. Ny. W


periksa kehamilannya teratur di Bd. M. Selama ANC
dikatakan normal. USG terakhir kesan letak sungsang.

HPHT : 21-04-2014 TP : 28-01-2015

Riwayat Psikososial :

Pasien dan suaminya merupakan pernikahan yang


pertama. Keduanya menginginkan kehamilannya dan
jenis kelamin yang diharapkan apa saja, Hubungan klien
dengan suami dan keluarganya cukup harmonis.

Riwayat Penyakit : tidak ada

Riwayat alergi obat : tidak ada

Riwayat Operasi : tidak ada

Riwayat Penyakit dalam keluarga : tidak ada

Riwayat Gemelli : tidak ada

Aktifitas sehari-hari : bekerja sebagai karyawati di sebuah


perusahaan

Pola Makan : teratur

Pola Hidrasi : minum air mineral 8 gelas.

Pola Istirahat : cukup


13
Pola eliminasi

BAB : 1x sehari

BAK : 6x sehari

Keadaan Umum : baik

Kesadaran : compos mentis

O Keadaan emosional : stabil

TD : 90/60 mmHg Nadi: 92 x/mnt

Suhu : 36,5 C RR : 22 x/mnt

Pemeriksaan Fisik

Palpasi abdomen : lemas

TFU : 30 cm.

Leopold I : teraba bulat, keras, tidak


melenting.

Leopold II : bagian kanan teraba keras,


panjang seperti papan, bagian kiri
teraba bagian-bagian kecil janin.

Leopold III : teraba tidak melenting, lunak,


kurang bulat.

Leopold IV : tidak dilakukan

His : (-)

TBJ klinis : 2790 gram

DJF : (+)150x/mnt

Pemeriksaan anogenital : tidak dilakukan


14
Pemeriksaan Inspekulo : tidak dilakukan

Pemeriksaan dalam : tidak dilakukan

Pemeriksaan Penunjang

Hasil laboratorium : HbSAg (-) Golongan darah O/


(+)

Hb 11,5 gr% VCT (-) VDRL


(-)

G1P0A0 hamil 37 minggu dengan Sungsang


A
Janin Tunggal Hidup Presentasi Bokong

Masalah Potensial : HPP, After coming head, Gawat janin,


Asfiksia

1. Memberitahukan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga.


P Bahwa keadaan ibu saat ini dalam batas normal, TD:
90/60mmHg, Nd: 92 x/menit, RR: 22 x/menit, Sh: 36,5C,
DJJ : 150x/menit. Tetapi letak janin tidak normal karena
presentasi janin yaitu bokong. Ibu dan keluarga mengerti
akan penjelasan yang diberikan.

2. Berikan reward kepada ibu karena pemenuhan kebutuhan


nutrisi dan hidrasinya sudah baik.

3. Berikan reward kepada ibu karena pemenuhan kebutuhan


istirahatnya sudah cukup baik.

4. Mengingatkan kembali informasi mengenai ASI ekslusif dan


IMD.

5. Berikan reward kepada ibu dan keluarga yang sudah


mempersiapkan persiapan persalinan dana dan transportasi.

6. Berikan informasi tentang pentingnya donor.


15
7. Melakukan kolaborasi dengan dokter umum untuk tindakan
selanjutnya, advice dokter rujuk ke RSUD Cengkareng.

8. Memberitahu kepada pasien dan keluarga bahwa ibu akan


dirujuk ke RS dikarenakan letak janin sungsang, juga ibu
harus mendapatkan penanganan lebih lanjut dengan fasilitas
yang lebih memadai dan mendapatkan pemantauan khusus.
Ibu dan keluarga mengerti.

9. Memberitahu kepada pasien bahwa akan dilakukan


pemeriksaan penunjang seperti USG, pasien dan keluarga
bersedia.

10. Mengingatkan tentang tanda-tanda bahaya.

11. Mengingatkan tentang tanda-tanda persalinan.

12. Mengingatkan untuk kunjungan ulang 1 minggu kemudian,


bila terdapat keluhan maka ibu diminta segera datang
sebelum tanggal kontrol ke RS yang lebih memadai.

13. Melakukan dokumentasi dalam melakukan setiap tindakan.

16
BAB IV
PEMBAHASAN

Dalam melakukan peraktek klinik di Puskesmas Kecamatan


Cengkareng selama 2 minggu di dapatkan kesenjangan antara teori dan
peraktek yang kita temukan. Seperti melakukan pemeriksaan Fisik pada ANC
tidak sesuai dengan teori yang di dapat karena kurang menerapkan
pemeriksaan fisik secara Head To Toe sebab jumlah pasien yang melakukan
kunjungan terlalu banyak sehingga SDM tidak mencukupi juga kurang
dilengkapi oleh fasilitas berupa kamar periksa untuk pasien khususnya untuk
pemeriksaan ANC.
Pada kasus Ny. W- Tn. I dengan G1P0A0 Hamil 37 minggu dengan
letak sungsang datang melalukan ANC di Puskesmas Cengkareng, Ny. W
merupakan pasien yang rutin melalukan ANC di Bd. M. pasien di rujuk ke
puskesmas atas indikasi letak sungsang. Pasien mengaku sudah melakukan
USG pada kehamilan 30 minggu, hasil USG bayi dalam posisi sungsang.
Pasien tidak mendapatkan hasil tanda bukti foto USG, hanya di beri tahu
hasilnya saja. Pasien di anjurkan oleh Bd. M untuk sering melakukan posisi
bersujud, berharap letak janin dapat berubah sebelum bagian terendah janin
memasuki jalan lahir. ini sesuai dengan teori pada Prawirohardjo, 2008, p611)
yang mengatakan pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu, jumlah air
ketuban relative lebih banyak sehingga memungkinkan janin bergerak dengan
leluasa. Dengan demikian janin dapat menempatkan diri dalam posisi kepala,
letak sungsang ataupun letak lintang.
Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan
jumlah air ketuban relatif berkurang. Karena bokong dengan kedua tungkai
yang terlipat lebih besar dari pada kepala, maka bokong dipaksa menempati
ruang yang lebih luas di fundus uteri, sedangkan kepala berada di ruangan yang
lebih kecil di segmen bawah uterus. Dengan demikian dapat dimengerti
17
mengapa pada kehamilan cukup bulan, frekuensi letak sungsang lebih tinggi
sedangkan pada kehamilan cukup bulan, janin sebagian besar ditemukan pada
persentasi kepala.
Pasien melakukan pemeriksaan rutin lanjutan di bd. M, pada saat usia
kehamilan 37 minggu hasil pemeriksaan yang di dapat adalah posisi janin
masih dalam keadaan sungsang dan pasien di anjurkan untuk periksa di
puskesmas cengkareng guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Di puskesmas dilakukan pemeriksaan ANC hasil yang di dapatkan
adalah janin masih dalam keadaan letak sungsang. Dari puskesmas diputuskan
pasien akan segera dirujuk karena pada pasien ini terdapat salah satu indikasi
dari 18 penapisan dalam asuhan persalinan normal , yaitu presentasi janin
bukan belakang kepala (Buku Asuhan Persalinan Normal 2008).
Untuk refocus antenatal care di puskesmas Cengkareng sudah berjalan
dengan baik. Pada pasien ini dilakukan deteksi dini dengan anamnesis ulang, di
lakukan pemeriksaan fisik seperti Leopold, dan pemeriksaan penunjang seperti
laboratorium, serta melihat hasil USG pada usia kehamilan 30 minggu,
memberikan informasi mengenai persiapan persalinan dan persiapan kegawat
daruratan agar membantu ibu lebih siap untuk menghadapi keduanya.
Selain dari refocus antenatal terdapat pula asuhan 5 benang merah yang
berjalan di puskesmas ini. Asuhan 5 benang merah pada kasus ini sesuai
dengan teori dimana pengambilan keputusan klinik di puskesmas cengkareng
sudah tepat yaitu pada pasien ini di tegakan diagnosa sungsang dan segera di
rujuk ke RSUD Cengkareng untuk penanganan lebih lanjut.

BAB V
PENUTUP

18
5.1 Kesimpulan
1. Dapat mengidentifikasi data tentang ibu hamil dengan letak sungsang,
2. Dapat menegakan mendiagnosa ibu hamil dengan letak sungsang yaitu
G1P0A0 Hamil 37 minggu dengan letak sungsang dan dapat memberikan
asuhan yang di berikan pada Ny. W.
3. Dapat menentukan masalah potensial pada ibu hamil dengan letak
sungsang yaitu After Coming Head dan dapat melakukan tindakan segera
pada Nya W yaitu melakukan kolaborasi dengan dokter untuk
mendapatkan penanganan lebih lanjut.
4. Dapat menyusun rencana, pelaksanaan dan evaluasi asuhan kebidanan
pada Ny. W dengan letak sungsang yaitu asuhan yang di berikan untuk
melakukan USG ulang serta persiapan untuk rujukan.
5. Dapat mendokumentasikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan
letak sungsang pada Ny. W dengan 7 langkah Varney.

5.2 Saran

5.2.1 Untuk Puskesmas


Diharapkan dalam melakukan pemeriksaan fisik ANC di poli KIA
secara Head To Toe jika waktu memungkinkan atau pasien tidak
terlalu banyak saat kunjungan.
5.2.2 Untuk Mahasiswa
Diharapkan mahasiswa mampu melakukan asuhan kebidanan pada
ibu hamil dengan letak sungsang, dan mahasiswa mampu ikut serta
dan aktif dalam segala kegiatan pelayanan di Puskesmas
Kecamatan Cengkareng terutama di poli KIA yang berhubungan
dengan pemeriksaan ANC.

19