Anda di halaman 1dari 10

1.

Tetanus

Penyakit Tetanus merupakan penyakit yang disebabkan oleh


infeksi bakteri yang menghasilkan racun neurotoxin yang
menyerang saraf sehingga dapat membuat kontraksi otot yang
menyakitkan terutama otot rahang dan leher serta dapat
mempengaruhi otot-otot pernafasan sehingga dapat
mengancam jiwa.
Penyebab Penyakit Tetanus Seperti telah disinggung
sebelumnya bahwa penyebab penyakit tetanus adalah bakteri.
Bakteri penyebab tetanus adalah Clostridium tetani, yang
secara alami ditemukan di tanah, debu dan kotoran hewan.
Merupakan sejenis bakteri yang hanya dapat tumbuh dan
berkembang pada situasi lingkungan yang kurang oksigen
(anaerob). Ketika bakteri ini memasuki luka yang dalam
(miskin oksigen), spora bakteri dapat menghasilkan toksin
yang kuat, yang disebut tetanospasmin. Secara aktif toksin ini
akan mengganggu neuron motorik, yaitu saraf yang
mengendalikan pergerakan otot manusia. Efek racun pada
neuron motorik yaitu menyebabkan kekakuan otot dan kejang
yang menjadi tanda-tanda utama dan gejala tetanus.
Bersumber dari: Penyakit Tetanus Penyebab, Gejala, dan
Pengobatan | Mediskus
Pengobatan Penyakit Tetanus Karena belum adanya obat
tetanus yang cespleng, maka pengobatan terdiri dari perawatan
luka, obat untuk mengurangi gejala tetanus serta perawatan
suportif. Perawatan luka untuk mencegah tetanus Perawatan
luka yang dimaskud yaitu membersihkan luka dengan baik,
yaitu dilakukan dengan cara menghilangkan kotoran, benda
asing dan jaringan mati jika ada, terlebih pada luka yang
dalam dan kotor. Hal ini penting sebagai langkah awal untuk
mencegah pertumbuhan spora tetanus. Dalam sesi ini juga
diperlukan pemberian suntikan vaksin TT (Tetanus Toxoid)
untuk yang mengalami luka dalam dan/atau kotor, jika suntik
imunisasi TT terakhir lebih dari lima tahun yang lalu atau
tidak tahu kapan. Atau untuk jenis luka apapun yang
terkontaminasi dengan kotoran, kotoran hewan atau pupuk
kandang, jika suntik imunisasi TT terakhir lebih dari lima
tahun yang lalu atau tidak tahu kapan. Obat Tetanus
Antitoksin (Anti Tetanus Serum atau ATS). Saat ini tersedi
antitoksin tetanus, seperti tetanus immune globulin. Namun,
antitoksin ini hanya dapat menetralkan racun yang belum
terikat jaringan saraf. Antibiotik. Antibiotik diperlukan untuk
membunuh bakteri penyabab tetanus, baik diberikan secara
oral (diminum) atau dengan suntikan (umumnya). Vaksin.
Sekali mengalami tetanus tidak membuat seseorang kebal
terhadap serangan beriikutnya. Jadi, ia harus menerima vaksin
tetanus untuk mencegah infeksi tetanus di kemudian hari. Obat
penenang. Dokter umumnya menggunakan obat penenang
kuat untuk mnegndalikan kejang otot, contohnya diazepam.
Obat lain. Obat lain, seperti magnesium sulfat (MgSO4) dan
beta blockers tertentu, dapat digunakan untuk membantu
mengatur aktivitas otot tak sadar, seperti detak jantung dan
pernafasan. Terapi Suportif untuk Tetanus Pengobatan tetanus
sering membutuhkan waktu yang lama sehingga terkadang
membutuhkan perawatan intensif. Karena obat penenang dapat
menyebabkan pernapasan dangkal, maka sangat mungkin
perlu didukung sementara oleh alat bantu nafas (ventilator).
Bersumber dari: Penyakit Tetanus Penyebab, Gejala, dan
Pengobatan | Mediskus
2. Lepra

Kusta yang juga dikenal dengan nama lepra atau penyakit


Hansen adalah penyakit yang menyerang kulit, sistem saraf
perifer, selaput lendir pada saluran pernapasan atas, serta
mata. Sistem saraf yang diserang bisa menyebabkan
penderitanya mati rasa.

Kusta disebabkan oleh sejenis bakteri yang memerlukan waktu


6 bulan hingga 40 tahun untuk berkembang di dalam tubuh.
Tanda dan gejala kusta bisa saja muncul setelah bakteri
menginfeksi tubuh penderita selama 2 hingga 10 tahun.

Pengobatan Kusta

Mayoritas penderita kusta yang didiagnosis secara klinis akan


diberi kombinasi antibiotik sebagai langkah pengobatan
selama 6 bulan hingga 2 tahun. Dokter harus memastikan jenis
kusta serta tersedianya tenaga medis yang mengawasi
penderita untuk menentukan jenis, dosis antibiotik, serta
durasi pengobatan.

Pembedahan umumnya dilakukan sebagai proses lanjutan


setelah pengobatan antibiotik. Tujuan prosedur pembedahan
bagi penderita kusta meliputi:
Menormal
kan fungsi saraf yang rusak.
Memperbai
ki bentuk tubuh penderita yang cacat.
Mengemba
likan fungsi anggota tubuh.

Risiko komplikasi kusta dapat terjadi tergantung dari seberapa


cepat penyakit tersebut didiagnosis dan diobati secara efektif.
Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi jika kusta
terlambat diobati adalah:

Mati rasa
atau kebas. Kehilangan sensasi merasakan rasa sakit yang
bisa membuat orang berisiko cidera tanpa menyadari dan
rentan terhadap infeksi.
Kerusaka
n saraf permanen.
Otot
melemah.
Cacat
progresif. Contohnya kehilangan alis, cacat pada jari kaki,
tangan dan hidung.
3. Frabeisea

Frambusia atau patek merupakan jenis penyakit kulit yang


mudah menular, penyakit ini ditandai dengan timbulnya
bintil-bintil kecil pada kulit yang letaknya berdekatan.
Setelah matang, bintil-bintil tersebut merekah dan
mengeluarkan nanah. Jika mengering, menimbulkan kerak
dan membekas dan disertai dengan sakit kepala dan nyeri
pada sendi.

Pengobatan dapat
dilakukan dengan
penyuntikan
antibiotika
penicillin seperti
benzatin penisilin
dosis tunggal 2,4
juta Intra
muscular, pada
anak-anak
diberikan setengah
dosis dewasa. Jika
tidak tahan
penisillin dapat
diberikan 20-50
mg/kg BB selama
2-4 minggu
4. Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang
disebabkan oleh mikroorganisme spirochaeta, genus
leptospira. Secara sederhana, genus leptospira terdiri atas
dua spesies yaitu Leptospira interrogans yang patogen dan
Leptospira biflexa yang non-patogen atau saprofit. Namun,
dalam klinis dan epidemiologi, L.interrogans dibagi
menjadi beberapa serogrup berdasarkan perbedaan
serologis. Berdasarkan beberapa penelitian,
L.icterohaemorrhagica, L.canicola, dan L.pomona
merupakan serovar L.interrogans tersering yang
menginfeksi manusia. Leptospirosis tersebar di seluruh
dunia ,kecuali benua Antartika, dengan kejadian terbanyak
di daerah tropis. Daerah tropis mendukung pertumbuhan
leptospira dengan memberikan lingkungan optimal berupa
suhu hangat dan lembab, serta pH tanah dan air yang
netral. Menurut International Leptospirosis Society,
Indonesia menduduki peringkat ketiga di dunia untuk
mortalitas. Leptospirosis dapat dijumpai di Lampung,
Riau, Bengkulu, Sumatera Utara, Sumatera Barat, DKI
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, NTB,
Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat,
dan Kalimantan Timur.1
5. Pengobatan
6. Pengobatan suportif dapat dilakukan dengan observasi
ketat untuk mendeteksi dan mengatasi keadaan dehidrasi,
hipotensi, perdarahan, dan gagal ginjal seperti menjaga
keseimbangan cairan tubuh.1 Beberapa pasien
membutuhkan dialisis (akibat gagal ginjal) dan EKG
(akibat aritmia). Terapi antibiotik diberikan sebaiknya
sebelum hari ke-5 sejak gejala muncul karena terbukti
efikasi obat akan menurun drastis. Sampai saat ini,
penisilin masih menjadi pilihan utama. Pasien yang alergi
penisilin dapat menggunakan eritromisin.4 Pada 4-6 jam
pasca pemberian penisilin intravena, dapat muncul reaksi
Jarisch-Herxherimer, yaitu peningkatan gejala yang diduga
akibat pengeluaran toksin dari mikroorganisme yang mati.
Kemudian, pada kasus yang berat dapat diberikan
antibiotik berupa intravena benzil penisilin dan perawatan
di rumah sakit.1,4
7.
8. Tabel 2. Pengobatan dan kemoprofilaksis leptospirosis1

Indikas Regi Do
i men sis
Leptosp Doksi 2
irosis siklin 10
ringan 0
mg
Ampi 4x
silin 50
0-
75
0
mg
Amok 4
sisikli 50
n 0
mg
Leptosp Penisi 1,5
irosis lin G jut
sedang/ a
berat uni
t/6
ja
m
(IV
)
Ampi 1
silin gra
m/
6
ja
m
(IV
)
Amok 1
sisilin gra
m/
6
ja
m
(IV
)
Kemop Doksi 20
rofilaks siklin 0
is mg
/
mi
ng
gu

9.
10. Banyaknya hospes perantara dan jenis serotipe
menyulitkan pencegahan leptospirosis. Namun, bagi yang
berisiko tinggi, dapat menggunakan pakaian khusus yang
dapat melindungi dari kontak dari bahan yang
terkontaminasi. Dengan kata lain, hindari pajanan air
(khususnya di daerah endemik) dan hewan. Mengurangi
pajanan terhadap hewan piaraan dengan meletakkan
kandang di luar serta membersihkan cairan tubuh hewan
dengan disinfeksi. Selain itu, kemoprofilaksis juga
bermanfaat dalam mengurangi serangan leptospirosis. 1,3,4
11.
12.