Anda di halaman 1dari 1

Aku memang bukan teman terbaiknya. Ia punya banyak sahabat-sahabat terbaik di dekatnya.

Sejak
mengenalnya enam tahun lalu, aku menyukainya. Percakapan kami tak pernah membosankan dan
kurasa selalu menyenangkan. Terkadang ia menghilang lama, mungkin sibuk dengan cerita-cintanya
yang aku dengar pasang surut bak air laut.

Beberapa menit lagi jam dua belas malam, aku kembali mengingatnya. Sementara di luar, angin
mengantar dingin, mungkin karena musim akan segera berganti. Belakangan cuaca sungguh tak
menyenangkan, beberapa kali flu menyerang, sedikit batuk-batuk. Mungkin aku butuh vitamin untuk
bertahan dan butuh cinta yang menguatkan.

Heiii... cinta kubilang? Aku tertawa tanpa suara. Di dalam cermin, bayanganku tertawa lebar,
menggodaku dengan jarinya membentuk daun cinta. Kami tertawa, lantas bayanganku mengedipkan
mata kirinya dan menghilang.

Suatu waktu percakapan kita jatuh dalam secangkir kopi. Setiap cecapnya terasa, melarutkan segala.
Menyala dalam padam lampu kamarku. Sambil sesekali tawa kita pecah bercampur tebalnya asap
tembakau.

Seperti jatuh cinta berkali-kali pada seseorang yang padanya pandanganku luruh. Diam-diam, dalam-
dalam. Ah, kembali aku melantur, maafkan aku. Baiknya kutulis lagi semacam puisi, tapi mungkin
bukan, entahlah. Aku tak peduli, bacalah saja, seperti ini;

Setiap senja menyimpan cerita, tak melulu cinta yang itu-itu saja.
Terang jingganya menawarkan banyak hal, kadang sekulum senyum kadang tiris gerimis
yang membuatku harus merapatkan jaket, dan memasukkan tanganku di saku sekedar
menemukan hangat.
Lalu senja kali ini kita menuang riuh percakapan di gelas-gelas tinggi berwarna biru.

Sebotol bir dingin. Sepiring kue cokelat bertabur kacang dari toko roti ujung jalan.
Pertemuan kita tak terlalu istimewa, di antara basah jalanan selepas hujan, kulihat engkau
sibuk menerka-nerka perasaanmu sendiri.

Sesekali melihat jam di pergelangan tangan atau mencari sesuatu entah apa, di ponsel yang
kau bilang baru dibeli seminggu yang lalu.

Sesekali senyummu mengembang, sedikit kaku, mungkin karena kau paksakan. Sayang, aku
tak meminta apa-apa, lepaskan beban di pundakmu, sederhanakan rasa. Cinta tak harus
serumit itu, kan?

Sekali lagi kau tersenyum, kali ini lebih tulus... Maka biarkan waktu membawa kita pada
sebuah realita, sekalipun itu luka.

Kepadamu yang jauh, rinduku bersauh.


Aku, yang masih saja memandangmu dari jauh dan menemuimu kadang kala.