Anda di halaman 1dari 5

WORKSHOP IMGI : PERAN TEKNIK GEODESI DALAM

MENUNJANG PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI


INDONESIA
Oleh : Marianus Filipe Logo (Teknik Geodesi ITENAS Bandung)

Dengan jumlah pulau sebanyak 17.499 dan total luas daratan 1.919.440 km2 serta
luas lautnya sekitar 3.273.810 km2 menjadikan Indonesia sebagai negara maritim terbesar
di dunia dan hal ini menempatkan Indonesia pada posisi kedua negara dengan garis pantai
terpanjang di dunia setelah Kanada.Fakta-fakta ini tentunya menjadi tantangan besar bagi
pemerintah dan kita semua untuk dapat meningkatkan pembangunan infrastruktur di negeri
ini. Dalam perencanaan, survey dan pembangunan infrastruktur peran kita sebagai
geodet/surveyor sangat diperlukan. Sebagai seorang surveyor tentunya kita harus memiliiki
skill and knowledge yang mumpuni, untuk meningkatkan kedua hal ini pada 21 oktober
2016 lalu bertempat di Gedung Serba Guna Itenas Bandung IMGI telah melaksanakan
kegiatan workshop dengan tema Peran Teknik Geodesi dalam Menunjang Pembangunan
Infrastruktur di Indonesia. Topik yang dibahas dalam workshop ini antara lain (1)
Pentingnya sertifikasi profesi untuk meningkatkan kompetensi dan peran surveyor dalam
pembangunan infrastruktur, (2) Pemanfaatan teknologi Terestrial Laser Scanning (TLS)
dalam survey dan perencanaan pembangunan infrastruktur darat,(3) Pemanfaatan teknologi
pemetaan Airborne LiDAR untuk menunjang pembangunan infrastuktur darat dan pesisir.
Menjadi seorang
geodet/surveyor tidak
akan cukup jika hanya
bermodalkan gelar S.T.
dan ijazah. Kemampuan
kita di bidang survey dan
pemetaan perlu terus
dikembangkan serta
mendapat pengakuan
dari asosiasi profesi yang
dalam hal ini adalah
Bapak Harto Widodo sedang menjelaskan pentingnya sertifikasi
Ikatan Surveyor Indonesia
profesi serta hubungannya dengan pembangunan berkelanjutan di (ISI). Pada workshop ini
Indonesia. yang membahas topik ini

adalah Bapak Ir. Harto Widodo yang adalah Ketua Bidang Sertifikasi ISI Pusat. Beliau
menekankan pada manfaat yang akan kita dapatkan lolos/mendapatkan sertifikasi
kompotensi. Adapun manfaat tersebut antara lain: meningkatkan prospek karir,
meningktakan daya saing kerja di pasar regional (ASEAN) dan global, hal ini mungkin terjadi
karena ISI merupakan satu-satunya asosiasi surveyor yang diakui dan terdaftar dalam FIG
(Federation Internationale de Geometre/Asosiasi Surveyor Internasional). Adapun untuk
menjadi surveyor profesional (umum) ada beberapa bidang kemampuan dasar yang harus
dikuasai antara lain : fotogrametri, remote sensing(penginderaan jauh, GIS, terestris dan
kartografi. Selain surveyor profesional(umum) terdapat pula surveyor spesialis dengan
spesialisasi bidangnya adalah fotogrametri, GIS, dan kadaster dengan persyaratnnya adalah
telah memiliki sertifikat surveyor minimal 2 tahun. Kemudian untuk memperpanjang masa
sertifikasi profesi yang kita miliki ISI telah menerapkan sistem CPD (Continuing Proffesional
Development / pengembangan profesi berkelanjutan) dengan tujuan mempertahankan
kemampuan dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan. Dengan adanya
perhitungan poin CPD para surveyor diharapkan selalu pro aktif terhadap beragam kegiatan
akademis dan pelatihan - pelatihan yang dapat meningkatkan skill-nya. Dan tentunya
dengan adanya sertifikasi profesi ini seorang surveyor akan lebih kompeten, berdaya saing
tinggi dan siap secara profesional untuk menjadi bagian dari pembangunan infrastruktur di
Indonesia.

Selain kompetensi sebagai geodet yang harus selalu ditingkatkan, kita juga perlu
memiliki pengetahuan mengenai teknologi terbaru di bidang survey pemetaan. Teknologi
akan kita bahas kali ini adalah Terestrial Laser Scanning (TLS) yang digunakan untuk
mendukung pembangunan infrastruktur darat. Alat ini memanfaatkan gelombang
laser(Light amplification by stimulated emission of radiation) dimana laser dipancarkan dan
kemudian alat akan merekam dan memroses gelombang yang dipantulkan oleh objek.
Laser yang dipancarkan pada objek tidak secara
berlanjut dari titik ke titik (point by point)
melainkan dalam satu detik alat ini dapat
merekam ratusan hingga ribuan titik sehingga
hasil pemetaannya adalah sekumpulan titik
(point cloud) yang apabila ditampilkan dalam
software akan tampak objek atau wilayah yang
kita petakan lengkap dengan koordinatnya. Hal
ini tentunya lebih efisien dalam hal timing,
tingkat kerapatan data lebih tinggi sehingga
Bapak Bambang Gatot Nugroho (Narasumber hasil pengukurannya lebih detail, dan kualitas
Workshop) sedang menjelaskan cara kerja dan manfaat data yang dihasilkan lebih teliti karena memiliki
dari TLS dalam survey dan pengembangan jalan Tol. resolusi spasial yang jauh lebih tinggi dibanding
metode konvensional (pengukuran/survey

dengan menngunakan Theodolit T0,T2, dan Waterpas). Berbagai kelebihan ini tentunya
akan sangat membantu kita dalam surey,perencanaan, pengembangan dan pembangunan
infrastruktur darat. Infrastruktur darat yang menjadi prioritas utama saat ini adalah
pengembangan jalan tol, bahkan pemerintahan Presiden Jokowi menargetkan pada 2019
mendatang telah rampung dibangun 1.060 km jalan tol di berbagai daerah di Indonesia.
Proyek ini tentu akan membutuhkan banyak tenaga surveyor yang kompeten dan pastinya
teknologi survey yang digunakan adalah teknologi yang muktahir, beberapa proyek jalan tol
yang telah rampung menggunakan teknologi TLS untuk mendapatkan data lapangan yang
nantinya dikembangkan lebih lanjut untuk perencanaan pembangunan jalan tol. Karena
dengan TLS waktu yang diperlukan untuk survey detail situasi akan lebih cepat sehingga
target pemerintah untuk membangun 1.060 km jalan tol hingga 2019 nanti dapat tercapai.

Selain TLS teknologi survey pemetaan


yang juga menggunakan gelombang
laser adalah LIDAR (Light Detection and
Ranging) yang membadakan kedua alat
ini adalah wahana yang digunakan,
teknologi LIDAR menggunakan wahana
pesawat terbang dalam pengambilan
datanya--sehingga teknik pengambilan
data dengan LIDAR sering disebut
sebagai Aerial Mapping. Proses
pengambilan data pada LIDAR kurang
Bapak Dr. Budhy Soeksmantono ( Dosen dan anggota lebih sama dengan TLS yaitu
kelompok keahlian Inderaja dan sains informasi geografik ITB memancarkan laser dan kemudian
)sedang menjelaskan Pemanfaatan teknologi pemetaan merekam serta memroses data hasil
Airborne LiDAR untuk menunjang pembangunan infrastuktur
rekaman.
darat dan pesisir.
Dalam kaitanya dengan pembangunan infrastruktur darat dan pesisir yang relatif luas
teknologi ini sangat cocok diterapkan karena mampu mengambil data pada daerah survey
yang luas. Misalnya survey perencanaan pembangunan bandara, dikarenakan untuk
pembanguna bandara dibutuhkan wilayah yang cukup luas kita dapat menerapkan teknologi
ini untuk efisiensi biaya dan waktu survey. Data topografi yang diperoleh dapat
dikembangkan lebih lanjut untuk perencanaan dan analisis pembangunan bandara. Bertolak
ke wilayah pesisir, infrastruktur paling krusial yang harus dibangun adalah pelabuhan.
Survey batymetri hanya dapat dilakukan di daerah dengan kedalaman <70m hal ini
dikarenakan ketika berinteraksi dengan air sinar laser akan mengalami dua proses fisis yaitu
absorsi (penyerapan) dan scattering (penghamburan gelombang ke segala arah) untuk
menghindari hal tersebut energi gelombang yang dipancarkan harus ditingkatkan agar
masih ada gelombang yang menembus hingga dasar perairan sehingga topografi dasar
lautnya dapat tergambarkan, karena segala aktifitas di pelabuhan berkaitan dengan human
safety pengambilan datanya harus sedetail mungkin. Setelah mendapatkan data maka
langkah selanjutnya adalah perencanaan pembangunan pelabuahan yang mana pada proses
ini kita harus bekerja sama dengan disiplin ilmu lainnya seperti teknik sipil, teknik geofisika,
dan teknik arsitektur.

Prinsip kerja teknologi LIDAR kurang lebih dapat dijelaskan dalam gambar di atas.

Sebagai seorang surveyor kita memiliki tanggung jawab yang besar terhadap
pembangunan di negeri ini, untuk menjadi surveyor profesional yang siap mengabdi untuk
bangsa terlebih dahulu kita harus mapan dari segi keilmuan dan memiliki keahlian lebih di
bidang survey pemetaan. Karena persaingan kita hari-hari ini adalah dengan surveyor asing
(Singapura,Cina,Malaysia,dll) maka sebagai bukti bahwa kita kompeten di bidang survey dan
pemetaan kita perlu mengikuti sertifikasi profesi di bidang ini, dan ISI merupakan lembaga
sertifikasi yang legal dan tidak abal-abal dalam memberikan sertifiksai profesi. Kita harus
mampu bersaing dan tunjukan bahwa Indonesia memiliki banyak surveyor kompeten yang
siap bersaing.

Jika saya punya waktu 9 jam untuk menebang sebuah pohon, akan saya
alokasikan 6 jam pertama untuk menajamkan kampak. Abraham Lincoln

Sama halnya dengan kita, untuk dapat berkontribusi dalam pembangunan negeri ini kita
harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan dan kemampuan yang maksimal dalam bidang
keilmuan kita. JAYA GEODESI, JAYA INDONESIA!!!