Anda di halaman 1dari 71

KATA PENGANTAR

Dengan senantiasa memanjatkan Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha
Pengasih dan Penyayang, Konsultan Manajemen PT. Alam Mataram Sejahtera
Yogyakarta menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak terkait yang secara
langsung maupun tidak langsung berkontribusi dalam pelaksanaan pekerjaan Studi Kelayakan
BUMD Sektor Pertambangan. Dokumen Laporan Pendahuluan terdiri atas 4 (empat) Bab,
masing-masing:
BAB-1. Pendahuluan
BAB-2. Dasar Teori
BAB-3. Metode Kegiatan
Penyusunan, Presentasi dan Penyerahan Laporan Pendahuluan adalah salah satu syarat pokok
yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan ini, olah karena itu dengan
tersusun dan terlaksananya Presentasi Laporan Pendahuluan,
Pelaksaan Pekerjaan Studi Kelayakan BUMD Sektor Pertambangan diharapkan menjadi
acuan dan sumber referensi ilmiah dan legal bagi Pemda Daerah DIY dalam perencanaan,
pelaksanaan dan pengembangan sentra pertambangan.

Yogyakarta, Juni 2017


Konsultan Manajemen
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL i
HALAMAN JUDUL ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv

BAB I PENDAHULUAN 1-1


1.1. Latar Belakang 1-1
1.2. Maksud dan Tujuan Kegiatan 1-5
1.3. Lokasi Kegiatan 1-6
1.4. Lingkup Kegiatan 1-6
1.5. Hasil yang Diharakan (Output) 1-7
1.6. Dampak Kegiatan (Outcome) 1-8

BAB II Dasar Teori

1.1. Pengembangan Pertambangan 2-1


1.2. Potensi Pertambangan 2-3
1.3. Pembangunan dan Pengelolaan Pertambangan 2-5
1.4. Sarana & Prasarana serta Potensi Pertambangan DIY
2-6

BAB III METODE KEGIATAN 3-1


BAB I
PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pertambangan adalah rangkaian kegiatan dalam rangka upaya pencarian,
penambangan (penggalian), pengolahan, pemanfaatan dan penjualan bahan galian (mineral,
batubara, panas bumi, migas) .
Sektor pertambangan, khususnya pertambangan umum, menjadi isu yang menarik
khususnya setelah Orde Baru mulai mengusahakan sektor ini secara gencar. Pada awal Orde
Baru, pemerintahan saat itu memerlukan dana yang besar untuk kegiatan pembangunan, di satu
sisi tabungan pemerintah relatif kecil, sehingga untuk mengatasi permasalahan tersebut
pemerintah mengundang investor-investor asing untuk membuka kesempatan berusaha seluas-
luasnya di Indonesia.
Adanya kegiatan pertambangan ini mendorong pemerintah untuk mengaturnya dalam
undang-undang (UU). UU yang berkaitan dengan kegiatan pertambangan, UU No. 11/1967
tentang Pokok-pokok Pengusahaan Pertambangan. Dalam UU tersebut pemerintah memilih
mengembangkan pola Kontrak Karya (KK) untuk menarik investasi asing. Berdasarkan
ketentuan KK, investor bertindak sebagai kontraktor dan pemerintah sebagai prinsipal. Di
dalam bidang pertambangan tidak dikenal istilah konsesi, juga tidak ada hak kepemilikan atas
cadangan bahan galian yang ditemukan investor bila eksploitasi berhasil. Berdasarkan KK,
investor berfungsi sebagai kontraktor.
Pertambangan mempunyai beberapa karakteristik, yaitu (tidak dapat diperbarui),
mempunyai risiko relatif lebih tinggi, dan pengusahaannya mempunyai dampak lingkungan
baik fisik maupun sosial yang relatif lebih tinggi dibandingkan pengusahaan komoditi lain pada
umumnya. Karena sifatnya yang tidak dapat diperbarui tersebut pengusaha pertambangan
selalu mencari (cadangan terbukti) baru. Cadangan terbukti berkurang dengan produksi dan
bertambah dengan adanya penemuan.
Ada beberapa macam risiko di bidang pertambangan yaitu (eksplorasi) yang
berhubungan dengan ketidakpastian penemuan cadangan (produksi), risiko teknologi yang
berhubungan dengan ketidakpastian biaya, risiko pasar yang berhubungan dengan perubahan
harga, dan risiko kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan perubahan pajak dan harga
domestik. Risiko-risiko tersebut berhubungan dengan besaran-besaran yang mempengaruhi
keuntungan usaha yaitu produksi, harga, biaya dan pajak. Usaha yang mempunyai risiko lebih
tinggi menuntut pengembalian keuntungan (Rate of Return) yang lebih tinggi.
Sumber daya mineral dan batuan di DIY merupakan kekayaaan alam yang tidak dapat
diperbaharui sehingga pemanfaatannya harus direncanakan dan ditujukan untuk sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat. Sumber daya mineral dan batuan ini harus diperlakukan sebagai
modal pembangunan dengan kata lain harus dapat ditransformasi menjadi sumberdaya manusia
dan potensi ekonomi lain secara berkelanjutan.
Dalam rangka optimalisasi pemanfaatan sumber daya mineral dan batuan serta
peningkatan nilai tambah mineral dan batuan melalui kegiatan pengolahan diperlukan modal
dan manajemen dalam mengelola teknologi pengelolaannya. Bagi penambang rakyat menjual
hasil tambang dalam bentuk raw material lebih mudah dan segera dapat digunakan untuk
memenuhi kebutuhan. Untuk itu diperlukan peran BUMD untuk menjadi perintis kegiatan yang
beresiko tinggi dan kurang diminati masyarakat sehingga dapat mewujudkan upaya
peningkatan nilai tambah mineral dan batuan, memenuhi kebutuhan komoditas tambang
strategis, membangun pola kemitraan dengan pertambangan rakyat, atau mengikuti penawaran
devistasi saham pemegang IUP yang dimiliki asing. Dengan demikian di samping akan
meningkatkan keuntungan bagi penambang dan BUMD, penerimaan daerah juga akan
meningkat, namun kelestarian fungsi lingkungan dan konservasi sumber daya mineral terjaga
dengan baik.
Permasalahan terkait perlunya peningkatan peran BUMD pada sektor pertambangan
adalah masih sedikitnya BUMD di DIY yang bergerak di bidang pertambangan, belum
terbangunnya pola kemitraan dengan pertambangan rakyat, belum optimalnya peran BUMD
dalam mendukung kebijakan pemerintah daerah dalam bidang pembangunan, masih sedikitnya
kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB, belum optimalnya peran BUMD dalam
mendorong peran serta masyarakat dalam bidang usaha pertambangan, memenuhi barang dan
jasa bagi kepentingan penambang rakyat, dan merintis kegiatan peningkatan nilai tambah
komoditas tambang dari raw material menjadi bahan baku industri.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Dinas PUP-ESDM DIY akan melakukan
kegiatan Penyusunan Kelayakan Potensi Peningkatan Peran BUMD pada Sektor Pertambangan
sebagai bahan masukan pemerintah daerah dalam meningkatkan peran BUMD dalam upaya
peningkatan nilai tambah mineral dan batuan, memenuhi kebutuhan komoditas tambang
strategis, dan membangun pola kemitraan dengan pertambangan rakyat di wilayah DIY.
2. Maksud dan Tujuan
Maksud
Maksud dari Penyusunan Kelayakan Potensi Peningkatan Peran BUMD pada Sektor
Pertambangan ini adalah menginventarisasi, memetakan dan mengkaji kelayakan potensi peran
BUMD di DIY pada sektor pertambangan, khususnya dalam upaya peningkatan nilai tambah
mineral dan batuan, memenuhi kebutuhan komoditas tambang strategis, dan membangun pola
kemitraan dengan pertambangan rakyat di wilayah DIY
Tujuan
Tujuan Penyusunan Kelayakan Potensi Peningkatan Peran BUMD pada Sektor Pertambangan
ini adalah :
1. Mengetahui kondisi potensi dan permasalahan BUMD di DIY secara umum maupun
secara khusus pada sektor pertambangan.
2. Mengetahui kelayakan potensi peran BUMD dalam upaya peningkatan nilai tambah
mineral dan batuan, memenuhi kebutuhan komoditas tambang strategis, dan membangun
pola kemitraan dengan pertambangan rakyat di wilayah DIY.
3. Merumuskan langkah strategis, pola kerja dan skema pembiayaan untuk mendorong
BUMD berperan pada sektor pertambangan
4. Memberikan bahan pertimbangan pemerintah daerah dalam meningkatkan peran BUMD
dalam sektor pertambangan.
3. Sasaran
Untuk dapat terlaksananya kegiatan tersebut perlu disasar hal-hal sebagai berikut :
a. Tersedianya data-data yang dapat memberikan informasi kondisi potensi dan
permasalahan BUMD di DIY (provinsi/kabupaten) secara umum maupun secara khusus
pada sektor pertambangan.
b. Tersedianya data-data yang dapat memberikan informasi kondisi eksisting kegiatan
pertambangan (IUP/IPR), kondisi pengolahan mineral dan batuan di DIY dan
permasalahannya.
c. Tersedianya data-data yang dapat memberikan informasi kondisi upaya peningkatan nilai
tambah mineral dan batuan di DIY.
d. Tersedianya data-data yang dapat memberikan informasi kondisi ketersediaan dan
pemenuhan kebutuhan komoditas tambang strategis di DIY.
e. Tersedianya data-data yang dapat memberikan informasi kondisi pola kemitraan
pertambangan rakyat dengan stakeholder lain di wilayah DIY
f. Tersedianya data-data hasil koordinasi dan analisis untuk merumuskan program, langkah
strategis, pola kerja dan skema pembiayaan untuk mendorong BUMD berperan pada
sektor pertambangan.
g. Tersusunnya kelayakan potensi peran BUMD dalam upaya peningkatan nilai tambah
mineral dan batuan, memenuhi kebutuhan komoditas tambang strategis, dan membangun
pola kemitraan dengan pertambangan rakyat di wilayah DIY.
h. Saran dan rekomendasi dalam rangka meningkatkan peran BUMD dalam mendukung
kebijakan pemerintah daerah dalam bidang pembangunan serta meningkatkan kontribusi
sektor pertambangan terhadap PDRB.
4. Lokasi Kegiatan
Lokasi pekerjaan Penyusunan Kelayakan Potensi Peningkatan Peran BUMD pada
Sektor Pertambangan meliputi seluruh wilayah DIY.
2. DATA PENUNJANG
2.1. Data Dasar Data dasar yang dipakai, adalah :
a. Peta Dasar Digital yang dikeluarkan BAPPEDA Provinsi DIY
b. Peta Rupa Bumi Bakosurtanal skala 1 : 25.000
c. Peta Administrasi Daerah Penelitian Skala 1 : 50.000
d. Peta Wilayah Pertambangan Pulau Jawa dan Bali
e. Peta Kawasan Peruntukan Pertambangan DIY Skala 1 : 100.000
f. Peta eksisting kegiatan usaha pertambangan (IUP/IPR).
g. Peta RTRW Kabupaten / Provinsi.
h. Peta tata guna lahan.
2.2. Standar Teknis Standard Teknis yang dipakai, adalah :
1. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1453.K/29/MEM/2000 tentang
Pedoman Teknis Penyelenggaraan Tugas Pemerintah di Bidang Pertambangan Umum.
2. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 555.K/26/M.PE/1995 tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan Umum.
2.3. Studi-Studi Terdahulu
Adapun studi-studi terdahulu yang perlu diperhatikan adalah :
1. Laporan Akhir Penyusunan Grand Design Pelaksanaan Pengelolaan Pertambangan Tahun
2015.
2. Laporan Akhir Kajian Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral di DIY Tahun 2016
2.4. Referensi Hukum
a. Undang-Undang Nomor 3 tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 tahun
1955;
b. Undang-Undang Nomor 13 tahun 2013 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa
Yogyakarta;
c. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan.
d. Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;
e. Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
f. Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
g. Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
h. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara;
i. Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan;
j. Peraturan Pemerintah Nomor 23 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral dan Batubara;
k. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1453.K/29/MEM/2000 tentang
Pedoman Teknis Penyelenggaraan Tugas Pemerintah di Bidang Pertambangan Umum;
l. Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2008 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencana Pembangunan Daerah, Lembaga Teknis
Daerah, dan Satuan Polisi Pamong Praja Daerah Istimewa Yogyakarta;
m.Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 14 Tahun 2016 tentang Penetapan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun
Anggaran 2017;
n. Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 66 Tahun 2016 Tentang Standar
Harga Barang dan Jasa Daerah di Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta;
o. Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 88 Tahun 2016 tentang
Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta
Tahun Anggaran 2017;
p. Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 77 Tahun 2013 tentang Unit
layanan Pengadaan (ULP);
q. Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 60 Tahun 2015 tentang Rincian
Tugas dan Fungsi Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral
Daerah Istimewa Yogyakarta;
r. Peraturan Gubernur DIY Nomor 7 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Pergub
DIY Nomor 36 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Terpadu.
s. Peraturan Gubernur DIY Nomor 31 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pemberian Wilayah
Izin Usaha Pertambangan Mineral Logam, Mineral Bukan Logam dan Batuan.
t. Peraturan Gubernur DIY Nomor 46 Tahun 2015 tentang Pelaksanaan Kegiatan Izin
Usaha Per tambangan Mineral Logam, Mineral Bukan Logam dan Batuan.
u. Peraturan Gubernur DIY Nomor 110 Tahun 2015 tentang Pelaksanaan Kegiatan Izin
Pertambangan Rakyat.
v. Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 15/DPA/2017 tanggal 29
Desember 2016 tentang Pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Tahun
Anggaran 2017;
3. RUANG LINGKUP
3.1. Lingkup Kegiatan
a. Identifikasi data-data yang dapat memberikan informasi kondisi potensi dan
permasalahan BUMD di DIY (provinsi/kabupaten) secara umum maupun secara khusus
pada sektor pertambangan.
b. Identifikasi data-data yang dapat memberikan informasi kondisi eksisting kegiatan
pertambangan (IUP/IPR), kondisi pengolahan mineral dan batuan di DIY dan
permasalahannya.
c. Identifikasi data-data yang dapat memberikan informasi kondisi upaya peningkatan nilai
tambah mineral dan batuan di DIY.
d. Identifikasi data-data yang dapat memberikan informasi kondisi ketersediaan dan
pemenuhan kebutuhan komoditas tambang strategisdi DIY.
e. Identifikasi data-data yang dapat memberikan informasi kondisi pola kemitraan
pertambangan rakyat dengan stakeholder lain di wilayah DIY
f. Menyediakan data-data hasil koordinasi dan analisis untuk merumuskan program, langkah
strategis, pola kerja dan skema pembiayaan untuk mendorong BUMD berperan pada
sektor pertambangan.
g. Tersusunnya kelayakan potensi peran BUMD pada sektor pertambangan dalam upaya
peningkatan nilai tambah mineral dan batuan, memenuhi kebutuhan komoditas tambang
strategis, dan membangun pola kemitraan dengan pertambangan rakyat di wilayah DIY
h. Saran dan rekomendasi dalam rangka meningkatkan peran BUMD dalam mendukung
kebijakan pemerintah daerah dalam bidang pembangunan serta meningkatkan kontribusi
sektor pertambangan terhadap PDRB.
3.2. Keluaran
Keluaran/produk yang dihasilkan dari pelaksanaan pekerjaan ini : 1(satu) set
dokumen, dalam bentuk laporan tertulis yang berisi hasil penyusunan kelayakan potensi peran
BUMD pada sektor pertambangan dalam upaya peningkatan nilai tambah mineral dan batuan,
memenuhi kebutuhan komoditas tambang strategis, dan membangun pola kemitraan dengan
pertambangan rakyat di wilayah DIY, dengan dilengkapi :
1. Peta potensi peran BUMD pada sektor pertambangan dalam upaya peningkatan nilai
tambah mineral dan batuan, memenuhi kebutuhan komoditas tambang strategis, dan
membangun pola kemitraan dengan pertambangan rakyat di wilayah DIY.
2. Rumusan program, langkah strategis, pola kerja dan skema pembiayaan untuk
mendorong BUMD berperan pada sektor pertambangan.
3.3. Peralatan dan Material dari Penyedia Jasa Konsultansi
Penyedia jasa konsultansi harus menyediakan dan memelihara semua fasilitas dan
peralatan yang dipergunakan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan.
Peralatan yang harus disediakan oleh penyedia jasa konsultansi minimal :
a. Komputer /lap Top
b. Ploter/printer
c. GPS Handheld
d. Alat komunikasi
Material
Penyedia jasa berkewajiban untuk menyiapkan segala keperluan material yang
diperlukan dalam pekerjaan Penyusunan Kelayakan Potensi Peningkatan Peran BUMD pada
Sektor Pertambangan.
3.4. Jangka Waktu Penyelesaian Kegiatan
Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan adalah 120 (seratus dua puluh) hari kalender
sejak diterbitkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dan dilaksanakan pada Tahun
Anggaran 2017.
3.5.Kebutuhan Personil
No Posisi Kualifikasi Jumlah Orang Bulan
Tenaga Ahli
1 Ahli Madya Tambang Ahli Madya S1/S2/S3
Pertambangan ( Pengalaman 1 x 4 OB
9/5/1 tahun)
2 Ahli Madya Ekonomi Ahli Madya S1/S2/S3 1 x 4 OB
Ekonomi Pembangunan
3 Ahli Muda Hukum Ahli Muda Hukum S1/S2 1 x 4 OB
Hukum/Kebijakan Publik (
Pengalaman 5/1 tahun)
Tenaga Pendukung
1 Administrator Lulusan SLTA 1 x 4 OB
2 Operator Komputer Lulusan SLTA 1 x 4 OB
3 Surveyor Lulusan SLTA 4 x 3 OB

3.6. Ketugasan Tenaga Ahli :


1. Team Leader (Ahli Madya Tambang), bertugas :
- Memimpin dan mengkoordinir seluruh kegiatan mulai dari persiapan, pelaksanaan hingga
pelaporan dan pekerjaan dinyatakan selesai.
- Menyiapkan rencana kerja konsultan serta mengontrol pelaksanaannya supaya tetap sesuai
dengan jadwal rencana kerja,
- Melakukan koordinasi/usulan kepada pengguna jasa dalam menyelesaikan masalah-
masalah yang ada/mungkin akan timbul dalam pelaksanaan pekerjaan, bertanggung jawab
atas mutu materi dan produk pelaksanaan pekerjaan.
- Melakukan koordinasi pengumpulan data dan informasi kondisi potensi dan permasalahan
BUMD di DIY (provinsi/kabupaten) secara umum maupun secara khusus pada sektor
pertambangan pertambangan serta analisis kelayakan potensi peran BUMD pada sektor
pertambangan.
- Mengevaluasi dan melaporkan kemajuan penyelesaian pekerjaan secara berkala, dan
melakukan presentasi dan diskusi laporan pendahuluan, laporan antara dan laporan akhir
serta sebelum penyerahan ke pemberi tugas.
- Bertanggung jawab penuh atas hasil pelaksanaan pekerjaan, baik dalam ketepatan waktu
maupun mutu secara teknis maupun non teknis (administrasi).
2. Ahli Madya Ekonomi, bertugas :
- Membantu team leader dalam merencanakan, melaksanakan dan menganalisa semua
kegiatan dalam Penyusunan Kelayakan Potensi Peningkatan Peran BUMD pada Sektor
Pertambangan yang terkait dengan aspek ekonomi, investasi, dan permasalahannya.
- Melakukan arahan pengumpulan data dan informasi terkait kondisi kelayakan potensi
peran BUMD pada sektor pertambangan.
- Melaksanakan kegiatan analisis data sesuai dengan keahliannya
- Menyusun laporan dan hasil pekerjaan sesuai dengan keahliannya.
3. Ahli Muda Hukum/Kebijakan Publik, bertugas :
- Membantu team leader dalam merencanakan, melaksanakan dan menganalisa semua
kegiatan dalam Penyusunan Kelayakan Potensi Peningkatan Peran BUMD pada Sektor
Pertambangan yang terkait dengan aspek hukum, kebijakan publik dan strategi
pelaksanaannya.
- Melaksanakan kegiatan analisis data sesuai dengan keahliannya
- Menyusun laporan dan hasil pekerjaan sesuai dengan keahliannya
4. Surveyor, bertugas :
- Membantu tenaga ahli dalam proses pengumpulan semua data pengukuran di lapangan dan
bertanggungjawab atas ketelitian hasil yang diperoleh.
- Membantu tenaga ahli dalam menganalisa data berdasarkan data pengukuran dan kondisi
lapangan.
3.7. Jadwal Tahapan Pelaksanaan Kegiatan

3.8.Laporan
3.8.1. Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan memuat tafsiran Term of Reference / Kerangka Acuan Kerja,
metodologi dan rencana kerja disertai kurva S, dan hasil orientasi lapangan.
Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 21 (dua puluh satu) hari kerja sejak
SPMK diterbitkan sebanyak 5 (lima) buku laporan
Sebelum menyerahkan Laporan Pendahuluan, penyedia mempresentasikan draft
Laporan Pendahuluan terlebih dahulu dalam sebuah rapat yang dihadiri oleh 20 orang.
3.8.2. Laporan Antara Laporan Antara memuat hasil sementara pelaksanaan kegiatan
Penyusunan Kelayakan Potensi Peningkatan Peran BUMD pada Sektor Pertambangan
yang berupa kompilasi data primer dan sekunder,pengolahan dan analisa data, kajian kelayakan
peran BUMD pada sektor Pertambangan, penggambaran peta tematik terkait, serta kesimpulan
dan rekomendasi sementara.
Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 90 (Sembilan puluh) hari kalender
sejak SPMK diterbitkan sebanyak 5 (lima) buku laporan.
Sebelum menyerahkan Laporan Antara, penyedia mempresentasikan draft Laporan
Antara terlebih dahulu dalam sebuah rapat yang dihadiri oleh 20 orang.
3.8.3. Rapat Koordinasi
Rapat Koordinasi dilaksanakan dengan mengundang instansi terkait dan stakeholders
pertambangan sejumlah 50 orang dan dilaksanakan digedung pemerintah. Penyedia
menyediakan konsumsi bagi peserta rapat koordinasi sejumlah 50 os.
3.8.4. Laporan Akhir Keluaran/produk yang dihasilkan dari pelaksanaan pekerjaan ini
:
1(satu) set dokumen, dalam bentuk laporan tertulis yang berisi hasil penyusunan
kelayakan potensi peran BUMD pada sektor pertambangan dalam upaya peningkatan nilai
tambah mineral dan batuan, memenuhi kebutuhan komoditas tambang strategis, dan
membangun pola kemitraan dengan pertambangan rakyat di wilayah DIY,dengan dilengkapi :
1. Peta potensi peran BUMD pada sektor pertambangan dalam upaya peningkatan nilai
tambah mineral dan batuan, memenuhi kebutuhan komoditas tambang strategis, dan
membangun pola kemitraan dengan pertambangan rakyat di wilayah DIY.
2. Rumusan program, langkah strategis, pola kerja dan skema pembiayaan untuk
mendorong BUMD berperan pada sektor pertambangan.
Sebelum penyerahan laporan akhir, pihak konsultan membuat draft laporan akhir
untuk dipresentasikan serta membuat executive summary sejumlah 20 eksemplar.
Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 120 (seratus dua puluh) hari kalender
sejak SPMK diterbitkan sebanyak 15 (lima belas) buku laporan dan soft copy dalam bentuk
compact disc.
Sistematika laporan akhir minimal :
Bab I. Pendahuluan
Bab II. Tinjauan Umum
Bab II. Kajian Lapangan
Bab III. Analisis
Bab IV. Kesimpulan dan Rekomendasi
Lampiran-lampiran.
Sebelum menyerahkan Laporan Akhir, penyedia mempresentasikan draft Laporan
Akhir terlebih dahulu dalam sebuah rapat yang dihadiri oleh 25 orang.
BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Kerangka Teori dan Literatur

2.1.1 Pengertian Pertambangan

Pengertian pertambangan sesuai dengan Undang-undang Mineral dan

Batubara (UU minerba) No.4 tahun 2009 Pasal 1 mengungkapkan yang

dimaksud dengan pertambangan adalah keseluruhan atau sebagian tahapan-

tahapan yang meliputi kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan

pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum,

eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan

pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang.

Menurut UU No.11 Tahun 1967, menyatakan bahwa bahan tambang

dapat dibedakan menjadi 3 golongan, yakni:

1. Golongan A sebagai bahan strategis

Bahan Golongan A merupakan barang yang penting bagi pertahanan,

keamanan dan strategis untuk menjamin perekonomian negara dan sebagian

besar hanya diizinkan untuk dimiliki oleh pihak pemerintah, contohnya:

minyak, uranium dan plutonium.

2. Golongan B sebagai bahan vital

Bahan Golongan B dapat menjamin hayat hidup orang banyak, contohnya:

emas, perak, besi dan tembaga.

15
3. Golongan C sebagai bahan tidak strategis dan tidak vital

Bahan Golongan C adalah bahan yang tidak dianggap secara langsung

mempengaruhi hayat hidup orang banyak, contohnya: garam, pasir, marmer,

batu kapur dan asbes.

2.1.1.1 Istilah dalam Pertambangan

Berikut adalah istilah yang digunakan dalam industri pertambangan

yang terkandung dalam UU minerba No.4 tahun 2009 Pasal 1:

A. Mineral adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam, yang

memiliki sifat fisik dan kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau

gabungannya yang membentuk batuan, baik dalam bentuk lepas atau

padu.

B. Batubara adalah endapan senyawa organik karbonan yang terbentuk

secara alamiah dari sisa tumbuh-tumbuhan.

C. Pertambangan Mineral adalah pertambangan kumpulan mineral yang

berupa bijih atau batuan, di luar panas bumi, minyak dan gas bumi, serta

air tanah.

D. Pertambangan Batubara adalah pertambangan endapan karbon yang

terdapat di dalam bumi, termasuk bitumen padat, gambut, dan batuan

aspal.

E. Usaha Pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan

mineral atau batubara yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan

umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan,

pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta

pascatambang.

16
F. Izin Usaha Pertambangan (IUP) adalah izin untuk melaksanakan usaha

pertambangan.

G. IUP Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan

tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan.

H. IUP Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai

pelaksanaan IUP Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan operasi

produksi.

I. Izin Pertambangan Rakyat (IPR) adalah izin untuk melaksanakan usaha

pertambangan dalam wilayah pertambangan rakyat dengan luas wilayah

dan investasi terbatas.

J. Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) adalah izin untuk

melaksanakan usaha pertambangan di wilayah izin usaha pertambangan

khusus.

K. IUPK Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan

tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan di

wilayah izin usaha pertambangan khusus.

L. IUPK Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai

pelaksanaan IUPK Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan

operasi produksi di wilayah izin usaha pertambangan khusus.

M. Penyelidikan Umum adalah tahapan kegiatan pertambangan untuk

mengetahui kondisi geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi.

N. Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk

memperoleh informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk,

17
dimensi, sebaran, kualitas dan sumber daya terukur dari bahan galian,

serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup.

O. Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk

memperoleh informasi secara rinci seluruh aspek yang berkaitan untuk

menentukan kelayakan ekonomis dan teknis usaha pertambangan,

termasuk analisis mengenai dampak lingkungan serta perencanaan pasca

tambang.

P. Operasi Produksi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan yang

meliputi konstruksi, penambangan, pengolahan, pemurnian, termasuk

pengangkutan dan penjualan, serta sarana pengendalian dampak

lingkungan sesuai dengan hasil studi kelayakan.

Q. Konstruksi adalah kegiatan usaha pertambangan untuk melakukan

pembangunan seluruh fasilitas operasi produksi, termasuk pengendalian

dampak lingkungan.

R. Penambangan adalah bagian kegiatan usaha pertambangan untuk

memproduksi mineral dan/atau batubara dan mineral ikutannya.

S. Pengolahan dan Pemurnian adalah kegiatan usaha pertambangan untuk

meningkatkan mutu mineral dan/atau batubara serta untuk

memanfaatkan dan memperoleh mineral ikutan.

T. Pengangkutan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk memindahkan

mineral dan/atau batubara dari daerah tambang dan atau tempat

pengolahan dan pemurnian sampai tempat penyerahan.

U. Penjualan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk menjual hasil

pertambangan mineral atau batubara.

18
V. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah kajian

mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang

direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses

pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau

kegiatan.

W. Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha

pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas

lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai

peruntukannya.

X. Kegiatan pascatambang adalah kegiatan terencana, sistematis, dan

berlanjut setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatan usaha

pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi

sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan.

Y. Pemberdayaan Masyarakat adalah usaha untuk meningkatkan

kemampuan masyarakat, baik secara individual maupun kolektif, agar

menjadi lebih baik tingkat kehidupannya.

Z. Wilayah Pertambangan (WP) adalah wilayah yang memiliki potensi

mineral dan/atau batubara dan tidak terikat dengan batasan administrasi

pemerintahan yang merupakan bagian dari tata ruang nasional.

2.1.1.2 Karakteristik Industri Pertambangan Umum

Eksplorasi, pengembangan dan konstruksi, produksi, dan pengolahan

merupakan aktivitas yang dijalankan setiap perusahaan di dalam industri

pertambangan. Pada dasarnya dapat berbentuk kesatuan usaha terpadu

dimana perusahaan tersebut memiliki gabungan usaha dari keseluruhan

19
aktivitas penambangan atau dapat pula menjalankan bisnis dari salah

satu aktivitas. Non renewable serta ketidakpastian yang tinggi atas kelayakan

eksplorasi bahan galian tambang untuk dipasarkan, menjalankan setiap dan/

atau masing-masing aktivitas penambangan dibutuhkan tingkat modal yang

sangat besar dalam jangka panjang dengan resiko yang tinggi dan teknologi

yang canggih, Aktivitas Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang

wajib dijalankan sesuai perundangan yang berlaku mengenai lingkungan

hidup, dan adanya peraturan perundangan yang berlaku (UUD pasal 33 tahun

1945): segala bahan galian yang berada dalam wilayah hukum Indonesia

adalah kekayaan nasional Bangsa Indonesia yang dikuasai dan dipergunakan

oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat adalah 4 faktor

yang menjadikan industri pertambangan dengan karakteristik yang berbeda

dan spesial dengan industri lainnya (PSAK 33:4).

2.1.1.3 Tahapan dan Biaya dalam Setiap kegiatan Pertambangan

Berdasarkan UU no. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral

dan Batubara BAB 1 Pasal 1, tahapan kegiatan pertambangan yaitu:

1) Eksplorasi

Merupakan usaha dalam rangka mencari, menemukan, dan

mengevaluasi Cadangan Terbukti (taksiran cadangan) dalam suatu

Area of Interest yang secara teknis maupun ekonomis dapat

dipertanggungjawabkan kemungkinannya untuk diproduksi di masa

mendatang berdasarkan harga bahan galian tambang umum pada saat

taksiran tersebut dibuat dan biaya penambangannya. Pada suatu

20
wilayah tambang dalam jangka waktu tertentu seperti yang diatur

dalam peraturan perudangan yang berlaku.

Uraian Kegiatan:

a) Penyelidikan Umum. Penyelidikan umum merupakan

penyelidikan secara geologi umum atau geofisik yang dilakukan di

daratan, di perairan, dan/atau dari udara dengan maksud untuk

membuat peta geologi umum atau untuk menetapkan tanda-tanda

adanya bahan galian.

b) Perijinan dan Administrasi. Merupakan kegiatan pengurusan

ijin untuk melakukan kegiatan eksplorasi di suatu daerah tertentu,

antara lain meliputi pengurusan Hak Kuasa Pertambangan, Kontrak

Kerja Sama, Kontrak Karya, dan pembebasan tanah serta kegiatan

administrasi eksplorasi.

c) Geologi dan Geofisika. Kegiatan geologi meliputi pekerjaan

analisis foto udara dan pemetaan geologi permukaan tanah dengan

tujuan untuk memetakan penyebaran mineral Geofisika merupakan

suatu teknologi eksplorasi dengan menggunakan sifat-sifat fisik

batuan yang diselidiki untuk tujuan memperoleh data di bawah

permukaan tanah.

d) Pemboran Eksplorasi. Pemboran digunakan untuk

mengetahui data endapan di bawah permukaan tanah secara rinci.

Melalui pemeriksaan laboratorium atas contoh bor dapat diketahui

jenis dan kadar batuan. Hasil pemboran beberapa lubang dapat

21
dikorelasikan untuk batuan-batuan yang sejenis dan dapat pula

dihitung besarnya cadangan bahan galian tambang umum.

e) Evaluasi. Evaluasi merupakan kegiatan untuk mengkap

apakah suatu cadangan secara teknis layak untuk ditimbang dan

mempunyai nilai komersial. Kegiatan pada tahap ini meliputi

penentuan jumlah/ besarnya dan kadar cadangan, penganalisisan

dampak lingkungan, perijinan yang dibutuhkan, metode

penambangan, proses pengolahan, survei mengenai transportasi

prasarana yang dibutuhkan, anggaran yang dibutuhkan, serta nilai

pasar cadangan dan rencana produksi.

Tabel 2. 1 Jenis Biaya yang Termasuk di dalam Tahap Eksplorasi

No Perijinan dan Geologi dan Geofisika Pemboran Eksplorasi Evaluasi

Administrasi

1 Biaya perolehan Kuasa Biaya Side Looking Air Biaya persiapan lahan, Biaya

Pertambangan, Radar (SLAR), termasuk biaya pembuatan Evaluasi.

jalan masuk ke lokasi

pemboran,

2 Biaya pembebasan Biaya penyelidikan Biaya logistik selama

tanah/tanam tumbuh, seismik, dilaksanakannya pemboran,

3 Biaya perolehan Biaya penyelidikan Biaya pemboran, termasuk

Kontrak Kerja Sama, gravitasi, peralatan bor,

4 Biaya perolehan Biaya penyelidikan Biaya pengujian dan

Kontrak Karya, magnetik. perampungan.

5 Biaya administrasi

eksplorasi.

22
2) Pengembangan dan konstruksi

Pengembangan adalah setiap kegiatan yang dilakukan dalam rangka

mempersiapkan Cadangan Terbukti sampai siap diproduksi secara

komersial. Konstruksi adalah pembangunan fasilitas dan prasarana

untuk melaksanakan dan mendukung kegiatan produksi.

Uraian Kegiatan :

a) Kegiatan administrasi merupakan kegiatan pengurusan

perijinan dalam lingkup pertambangan umum guna mendukung

dimulainya pelaksanaan kegiatan pengembangan dan konstruksi.

b) Kegiatan teknis merupakan kegiatan rancang bangun dan

kegiatan fisik lapangan untuk memudahkan masuk ke tempat

cadangan bahan tambang dalam rangka persiapan kegiatan produksi

Tabel 2. 2 Jenis Biaya yang Termasuk di dalam


Tahap Pengembangan dan Konstruksi
No Biaya Pengembangan Biaya Konstruksi

1 Biaya pembukaan tambang, termasuk pengupasan lapisan Biaya pembuatan prasarana,

tanah (sebelum produksi),

2 Biaya pembersihan lahan (land clearing), Biaya pembuatan atau pengadaan

bangunan,

3 Biaya Administrasi : Biaya pembuatan atau pengadaan

mesin dan peralatan.

a Biaya pembebasan tanah,

b Biaya pengurusan perijinan dan Kuasa Pertambangan.

23
3) Produksi

Semua kegiatan mulai dari pengangkatan bahan galian dari Cadangan

Terbukti ke permukaan bumi sampai siap untuk dipasarkan,

dimanfaatkan, atau diolah lebih lanjut

Uraian Kegiatan :

Kegiatan produksi penambangan meliputi: pengupasan tanah

(stripping), pengambilan bahan galian, pencucian dan pemurnian,

serta pengangkutan bahan galian ke stasiun pengumpul.

a) Pengupasan lapisan tanah selama masa produksi meliputi

kegiatan penggaruan/ dorong, gali/ muat, dan pengangkutan tanah dari

lokasi penggalian ke lokasi penimbunan atau lokasi lainnya.

b) Pengambilan bahan galian dengan cara yang sesuai dengan

sifat dan karakteristik bahan galian tambang yang bersangkutan

seperti: penggalian, penyemprotan dengan air, penggunaan alat-alat

berat (bulidozer dan shovel), pengerukan dengan menggunakan kapal

keruk, dan peledakan.

c) Pencucian bahan galian adalah kegiatan untuk

membersihkan dan memisahkan bahan galian dengan mineral atau

bahan galian ikutan lainnya seperti: tanah, abu, lempung, pasir,

belerang, lumpur, atau mineral pengotor lainnya. Kegiatan pencucian

dilakukan dengan menggunakan air, bahan kimia (proses kimia), alat

pencuci (misalnya polong atau jig), atau saringan. Dalam kegiatan

pencucian termasuk pula proses penghancuran bahan galian yang

24
berukuran besar menjadi ukuran sesuai dengan yang ditetapkan,

sehingga layak dijual atau diolah lebih lanjut.

d) Pengangkutan bahan galian dari lokasi penambangan ke

stasiun pengumpul dilakukan dengan menggunakan peralatan seperti:

belt conveyor, lori pengangkut, dump truck, tongkang, atau kapal.

Tabel 2. 3 Jenis Biaya yang Termasuk di dalam Tahap Produksi

No Pengupasan Lapisan Tanah Pengambilan Pencucian Bahan Pengelolaan


(Stripping) selama Masa Bahan Galian Galian Lingkungan
Produksi Hidup
1 Biaya pengupasan tanah, Biaya penggalian, Biaya pembersihan dan Merupakan biaya
pemisahan bahan galian untuk
utama dari bahan galian pengelolaan
ikutannya, lingkungan
hidup.
2 Biaya penyediaan lahan untuk Biaya Biaya pembentukan
penimbunan tanah, penyemprotan, ukuran/besarnya bahan
galian sesuai dengan
yang ditetapkan
perusahaan.
3 Biaya penimbunan tanah hasil Biaya pengerukan,
pengupasan. atau biaya
peledakan,
4 Penimbunan bahan
galian.

4) Lingkungan hidup

Kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahluk

hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang

mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan

25
manusia, serta mahluk hidup lainnya. Dengan adanya kegiatan

penambangan pada suatu daerah tertentu, maka akan menimbulkan

dampak terhadap lingkungan hidup di sekitar lokasi penambangan,

meliputi tetapi tidak terbatas pada:

Pencemaran lingkungan, yaitu masuknya atau dimasukannya

mahluk hidup, zat, energi, dan komponen lain ke dalam lingkungan

dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau

proses alam, sehingga kualitas lingkungan sampai ke tingkat tertentu

yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat

berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.

Perusakan lingkungan, yaitu adanya tindakan yang menimbulkan

perubahan langsung atau tidak langsung terhadap perubahan sifat-sifat

dan atau hayati lingkungan yang mengakibatkan lingkungan itu

kurang berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan

berkesinambungan.

Sebagai usaha untuk mengurangi dan mengendalikan dampak negatif

kegiatan usaha penambangan, maka perlu dilakukan Pengelolaan

Lingkungan Hidup (PLH) yang meliputi upaya terpadu dalam

pemanfaatan, penataan, pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, dan

pengembangan lingkungan hidup.

26
Uraian Kegiatan :

Uraian kegiatan pengelolaan lingkungan hidup meliputi tetapi tidak

terbatas pada:

a) Penyusunan dokumen Analis Mengenai Dampak Lingkungan

(AMDAL)

Upaya pencegahan pencemaran sungai oleh air hasil penirisan

tambang, berupa pembuatan kolam pengendap lumpur di sekitar:

lokasi penggalian, dumping area, dan stockpile. Termasuk dalam

kegiatan ini adalah pengurasan lumpur dari kolam pengendap.

Pengaturan bentuk lahan (land scaping) disesuaikan dengan kondisi

topografi dan hidrologi setempat. Kegiatan ini meliputi:

1. Pengaturan bentuk lereng, dimaksudkan untuk mengurangi

kecepatan air permukaan, erosi, sedimentasi, dan longsor;

2. Pengaturan saluran pembuangan air, dimaksudkan untuk

mengatur air agar tidak mengalir pada tempat-tempat

tertentu, sehingga dapat mengurangi kerusakan lahan

akibat erosi.

b) Pengelolaan tanah pucuk (topsoil), yaitu kegiatan pengambilan

dan penyimpanan tanah pucuk dari lokasi tanah yang akan

ditambang dan ditimbun untuk dimanfaatkan kembali pada

kegiatan reklamasi bekas daerah timbunan yang telah selesai.

c) Revegetasi, yaitu penanaman kembali pada lahan bekas

tambang yang vegetasi awalnya telah rusak atau terganggu.

27
d) Pengendalian erosi, yaitu kegiatan berupa penanaman rumput,

pembuatan teras, pemberian batu pecah, pembuatan saluran

pengelak, dan lain-lain.

e) Pencegahan pencemaran akibat debu, antara lain kegiatan

berupa penyemprotan air di lokasi jalan produksi, loading

station, stockpile, dan tempat lainnya yang dapat

menimbulkan debu.

f) Pencegahan kelongsoran, yaitu kegiatan berupa pemantapan

lereng dengan melandaikannya, pembuatan slope dan tanggul

pengaman (dike).

g) Penelitian tanah dan tanaman untuk mendapatkan cara dan

teknik penanaman yang baik dan cocok.

h) Pemantauan kualitas air yang keluar dari kolam-kolam

pengendap, saluran pemukiman, dan sungai di sekitar lokasi

penambangan.

i) Pemantauan kualitas udara di lokasi kegiatan penambangan

dan pemukiman karyawan, serta penduduk sekitarnya.

j) Pemantauan kualitas tanah di dumping area.

k) Pemantauan luas lokasi vegetasi yang rusak dan yang telah

direvegetasi .

28
l) Pemantauan keberhasilan dari usaha pengendalian dan

pengelolaan lingkungan yang dilakukan.

m) Pemantauan laju erosi.

Jenis Biaya yang Termasuk dalam Tahap Pengelolaan Lingkungan

Hidup.

Biaya-biaya pengelolaan lingkungan hidup meliputi tetapi tidak

terbatas pada kegiatan-kegiatan tersebut di atas. Pada dasarnya biaya

ini merupakan biaya pengadaan prasarana Pengelolaan Lingkungan

Hidup (PLH), biaya yang timbul atas usaha mengurangi dan

mengendalikan dampak negatif kegiatan pertambangan, dan biaya

rutin lainnya. Untuk lebih jelasnya, tahapan diatas dapat dilihat secara

sistematis pada gambar di bawah ini:

PENYELIDIKAN
UMUM

EKSPLORASI
29

STUDY
2.1.2 Konsep Kerangka Kerja Laporan Keuangan

Laporan keuangan disusun untuk memberikan informasi yang berguna

mengenai aktiva, kewajiban, dan modal perusahaan bagi para pengguna

informasi akuntansi dalam mengevaluasi kekuatan dan kelemahan keuangan

30
perusahaan dan hasil operasional perusahaan lewat pelaporan keuangan yang

akan digunakan untuk mengambil keputusan.

Menurut Financial Accounting Standard Board (FASB), Kerangka kerja

konseptual adalah suatu sistem koheren (sesuai dengan kaidah- kaidah berpikir logis) yang

terdiri dari tujuan dan konsep fundamental yang saling berhubungan, yang menjadi

landasan bagi penetapan standar yang konsisten dan penentuan sifat, fungsi, serta batas-

batas dari akuntansi keuangan dan laporan keuangan. Terdapat tiga tingkat tujuan dalam

laporan keuangan.

Tingkat Pertama: Tujuan Dasar

Tujuan pelaporan keuangan (objectives of financial reporting) adalah

untuk menyediakan informasi:

(1) yang bermanfaat bagi mereka yang memiliki pemahaman

memadai tentang aktivitas bisnis dan ekonomi untuk membuat

keputusan investasi serta kredit;

(2) untuk membantu investor yang ada dan potensial, kreditor yang

ada dan potensial, serta pemakai lainnya dalam menilai jumlah,

waktu, dan ketidakpastian arus kas masa depan; dan

(3) tentang sumber daya ekonomi, klaim terhadap sumber daya

tersebut, dan perubahan di dalamnya.

Tujuan dimulai dengan lebih banyak berfokus pada informasi yang

berguna bagi para investor dan kreditor dalam membuat keputusan. Tujuan

31
berfokus pada laporan keuangan yang menyediakan informasi yang berguna

untuk menilai prospek arus kas yang akan diterima entitas bisnis, yaitu arus

kas yang menjadi harapan investor dan kreditor. Pendekatan ini dikenal

sebagai kegunaan keputusan (decision usefulness).

Tingkat Kedua: Konsep-Konsep Konseptual

Tujuan (tingkat pertama) berhubungan dengan tujuan dan sasaran dari

akuntansi. Bagaimana tujuan dan sasaran ini diimplementasikan (tingkat

ketiga). Di antara kedua tingkat ini, diperlukan pondasi-pondasi konseptual

untuk menjelaskan karakteristik kualitatif dari informasi akuntansi dan

mendefinisikan unsur-unsur laporan keuangan.

a) Karakteristik Kualitatif dari Informasi Akuntansi

Pemilihan metode akuntansi yang tepat, jumlah dan jenis informasi

yang harus diungkapkan, serta format penyajiannya melibatkan penentuan

alternatif mana yang menyediakan informasi mengidentifikasikan

karakteristik kualitatif (qualitative characteristic) dari informasi akuntansi

yang membedakan informasi yang lebih baik (lebih berguna) dengan

informasi yang inferior (kurang berguna) bagi tujuan pelaporan keuangan.

Selain itu, FASB juga telah mengidentifikasikan kendala-kendala (biaya-

manfaat dan materialitas) sebagai bagian dari kerangka kerja konseptual.

b) Pengambilan Keputusan (Pemakai) dan Kemampuan Memahami

Agar informasi menjadi bermanfaat, harus ada hubungan antara para

pemakai ini dengan keputusan yang mereka buat. Kaitan ini, yaitu

32
kemampuan memahami (understandability), adalah kualitas informasi yang

memungkinkan pemakai merasakan signifikansi dari informasi tersebut.

Kualitas Primer: Relevansi dan Reliabilitas

Relevansi (relevance) dan reliabilitas (reliability) merupakan dua

kualitas primer yang membuat informasi akuntansi berguna untuk

pengambilan keputusan.

Relevan. Informasi akuntansi harus mampu membuat perbedaan

dalam sebuah keputusan. Jika tidak mempengaruhi keputusan, maka

informasi tersebut dikatakan tidak relevan terhadap keputusan yang diambil.

Informasi yang relevan akan membantu pemakai membuat prediksi tentang

hasil akhir dari kejadian masa lalu, masa kini, dan masa depan; yaitu,

memiliki nilai prediktif (predictive value). Informasi yang relevan juga

membantu pemakai menjustifikasi atau mengoreksi ekspektasi atau harapan

masa lalu; yaitu, memiliki nilai umpan balik (feedback value). Jadi, agar

relevan, informasi juga harus tersedia kepada pengambil keputusan sebelum

informasi tersebut kehilangan kapasitas untuk mempengaruhi keputusan yang

diambil; yaitu memiliki ketepatan waktu (timeliness). Agar relevan, informasi

harus memiliki nilai prediktif atau nilai umpan-balik, dan harus disajikan

secara tepat waktu.

Reliabilitas. Informasi akuntansi dianggap handal jika dapat

diverifikasi, disajikan secara tepat, serta bebas dari kesalahan dan bias.

Reliabilitas sangat diperlukan oleh individu-individu yang tidak memiliki

waktu atau keahlian untuk mengevaluasi isi factual dari informasi.


33
Daya-uji (verifiability) ditunjukkan ketika pengukur-pengukur

independen, dengan menggunakan metode pengukuran yang sama,

mendapatkan hasil yang serupa.

Ketepatan penyajian (representational faithfulness) berarti bahwa

angka-angka dan penjelasan dalam laporan keuangan mewakili apa yang

betul-betul ada dan terjadi.

Netralitas (neutrality) berarti bahwa informasi tidak dapat dipilih

untuk kepentingan sekelompok pemakai tertentu. Informasi yang disajikan

harus factual, benar, dan tidak bias

Kualitas Sekunder: Komparabilitas dan Konsistensi

Komparabilitas. Informasi dari berbagai perusahaan dipandang

memiliki komparabilitas jika telah diukur dan dilaporkan dengan cara yang

sama. Komparabilitas memungkinkan pemakai mengidentifikasi persamaan

dan perbedaan dalam peristiwa ekonomi antar perusahaan.

Konsistensi. Apabila sebuah entitas mengaplikasikan perlakuan

akuntansi yang sama untuk kejadian-kejadian yang serupa, dari periode ke

periode, maka entitas tersebut dianggap konsisten dalam menggunakan

standar akuntansi. Itu tidak berarti bahwa perusahaan tidak boleh beralih dari

34
satu metode akuntansi ke metode akuntansi lainnya. Perusahaan dapat

mengganti satu metode dengan metode lainnya, tetapi perusahaan harus dapat

menunjukkan bahwa metode yang baru lebih baik daripada metode

sebelumnya. Kemudian sifat dan pengaruh perubahan akuntansi, serta

alasannya, harus diungkapkan dalam laporan keuangan pada periode

terjadinya perubahan. Jika prinsip akuntansi telah berubah, maka auditor

harus memberitahukannya dalam paragraf penjelasan dari laporan audit.

Paragraf ini menjelaskan sifat perubahan dan meminta pembaca melihat

catatan atas laporan keuangan untuk pembahasan yang lebih rinci tentang

perubahan dimaksud.

Unsur Unsur Laporan Keuangan

Aktiva, Kewajiban, Ekuitas, Investasi Oleh Pemilik, Distribusi

Kepada Pemilik, Laba Komprehensif, Pendapatan, Beban, Keuntungan,

Kerugian.

Tingkat Ketiga: Konsep-Konsep Pengakuan dan Pengukuran

Tingkat ketiga dari kerangka kerja konseptual terdiri dari konsep-

konsep yang dipakai untuk mengimplementasikan tujuan dasar dari tingkat

pertama. Konsep-konsep ini menjelaskan bagaimana unsur-unsur serta

kejadian keuangan harus diakui, diukur, dan dilaporkan oleh perusahaan.

35
Asumsi-asumsi Dasar

1. Asumsi Entitas Ekonomi

Mengandung arti bahwa aktivitas ekonomi dapat diidentifikasi dengan unit

pertanggungjawaban tertentu.

2. Asumsi Kelangsungan Hidup

Sebagian besar metode akuntansi didasarkan atas asumsi kelangsungan hidup

(going concern assumption) yaitu perusahaan bisnis akan memiliki umur

yang panjang.

3. Asumsi Unit Moneter

Mengandung arti bahwa uang adalah denominator umum dari aktivitas

ekonomi dan merupakan dasar yang tepat bagi pengukuran dan analisis

akuntansi.

4. Asumsi Periodisitas

Menyiratkan bahwa aktivitas ekonomi sebuah perusahaan dapat dipisahkan

ke dalam periode waktu artifisial. Periode waktu ini bervariasi, tetapi yang

paling umum adalah secara bulanan, kuartalan, dan tahunan.

5. Dasar Akrual

Transaksi yang berpengaruh terhadap perubahan laporan keuangan

perusahaan dicatat pada saat terjadinya transaksi tersebut.

36
Gambar 2. 2 Konsep Kerangka Kerja Laporan keuangan

Sumber: Mackenzie, B., dkk. (2012). Interpretation and Application of


International Financial Reporting Standard. USA: John Wiley & Sons
Ltd.

2.1.2.1 Pengertian PSAK

Istilah PSAK tidak dapat dipungkiri lagi ketenarannya dikalangan

masyarakat terlebih lagi dikalangan para emiten go public. Pernyataan

Standar Akuntansi Keuangan merupakan kepanjangan dari PSAK, yang mana

pernyataan ini disusun, dibangun, dan dikembangkan serta terus dilakukan

pembaharuan sejak tahun 1994 oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Upaya

pembaharuan terhadap Standar Akuntansi Keuangan ini memiliki tujuan dan

harapan agar setiap perusahaan di Indonesia dapat menyajikan laporan

keuangannya secara sempurna dan menciptakan terjadinya laporan keuangan

37
yang dapat dipercaya, dapat diandalkan, relevan dan dapat diperbandingkan

dengan lebih memenuhi standar-standar akuntansi.

2.1.2.2 PSAK 33

PSAK 33 edisi tahun 1994 mengatur pencatatan akuntansi

pertambangan umum. Hal ini dimulai dari karakteristik akuntansi

pertambangan umum, ruang lingkup penerapan, jenis biaya dalam setiap

tahapan kegiatan pertambangan ; eksplorasi, pengembangan dan konstruksi,

produksi, dan pengelolaan lingkungan hidup. Perlakuan akuntansi atas

penyajian laporan keuangan dan pengungkapan biaya-biaya terkait dalam

setiap tahapan aktivitas pertambangan, serta tanggal efektif dimana PSAK

mulai berlaku.

2.1.2.3 PSAK 33 (revisi 2011)

Dalam rangka melakukan konvergensi PSAK kepada IFRS, DSAK

selaku badan yang menerbitkan PSAK terus melakukan perbaikan terhadap

PSAK saat ini dengan cara mengadopsi IAS/IFRS. Salah satu standar yang

dilakukan revisi adalah PSAK 33 (Revisi 2011) tentang Akuntansi

Pertambangan Umum. PSAK 33 ini telah disahkan oleh Dewan Standar

Akuntansi Keuangan (DSAK) pada tanggal 1 Februari 2011. Penyempitan

ruang lingkup PSAK 33 (revisi 2011) disebabkan oleh adopsi IFRS 6

Exploration for and Evaluation of Mineral Resources menjadi PSAK 64:

Eksplorasi dan Evaluasi Sumber Daya Mineral yang mengatur akuntansi

38
terkait dengan aktivitas eksplorasi dan perubahan SAK lain yang mengatur

akuntansi terkait dengan aktivitas pengembangan dan konstruksi.

2.1.2.3.1 Ruang Lingkup PSAK 33 (revisi 2011)

Ruang lingkup terkait dengan:

Aktivitas Pengupasan Lapisan Tanah

Aktivitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda,

daya, keadaan, dan mahluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan

perilakunya, yang memengaruhi kelangsungan perikehidupan dan

kesejahteraan manusia, serta mahluk hidup lainnya.

Biaya pengelolaan lingkungan hidup adalah biaya yang timbul atas

usaha mengurangi dan mengendalikan dampak negatif kegiatan

pertambangan, dan biaya rutin lainnya

Dengan adanya kegiatan penambangan pada suatu daerah tertentu,

maka akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup di sekitar lokasi

penambangan, meliputi tetapi tidak terbatas pada:

(a) Pencemaran lingkungan, yaitu masuknya atau dimasukannya mahluk

hidup, zat, energi, dan komponen lain ke dalam lingkungan dan/atau

berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam,

sehingga kualitas lingkungan sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan

39
lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan

peruntukannya.

(b) Perusakan lingkungan, yaitu adanya tindakan yang menimbulkan

perubahan langsung atau tidak langsung terhadap perubahan sifat-sifat

dan/atau hayati lingkungan yang mengakibatkan lingkungan itu kurang

berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkesinambungan.

Sebagai usaha untuk mengurangi dan mengendalikan dampak negatif

kegiatan usaha penambangan, maka perlu dilakukan pengelolaan lingkungan

hidup yang meliputi upaya terpadu dalam pemanfaatan, penataan,

pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, dan pengembangan lingkungan

hidup.

2.1.2.3.2 Pengakuan dan Pengukuran

1. Aktivitas Pengupasan Lapisan Tanah

Dalam pertambangan, stripping ratio atau strip ratio mengacu pada

rasio volume overburden (atau bahan limbah) yang diperlukan untuk

ditangani dalam rangka untuk mengambil beberapa volume bijih. Sebagai

contoh, rasio pengupasan 03:01 berarti bahwa penambangan satu meter kubik

bijih tambang akan membutuhkan tiga meter kubik limbah batuan. Rasio

pengupasan tanah biasanya dikurangi untuk menunjukkan volume

pembuangan sampah diperlukan untuk mengambil satu satuan volume bijih ,

misalnya, 2:1 sebagai lawan 04:02.

40
Bila dibandingkan dengan pertambangan permukaan, yang

membutuhkan pemindahan tanah sebelum ekstraksi bijih, operasi

penambangan bawah tanah cenderung memiliki rasio pengupasan yang lebih

rendah karena meningkatnya selektivitas.

Semua faktor lainnya sama, pertambangan pada rasio pengupasan

tinggi kurang menguntungkan dibandingkan pertambangan pada rasio

pengupasan rendah karena banyak limbah harus dipindahkan (dengan biaya

per satuan volume) untuk volume setara menghasilkan pendapatan bijih. Jika

rasio yang terlalu tinggi mengingat harga tertentu bijih dan biaya yang terkait

pertambangan maka mungkin tidak ekonomis untuk melakukan

penambangan. Berdasarkan PSAK 33 (2011:33.2-3) dalam stripping

activities, biaya yang ditimbulkan pada awal kegiatan sebelum produksi

diakui sebagai aset (accrued expense) dalam rangka pengakuan di laporan

keuangan neraca, kriteria pengakuan pada standar akuntansi harus dipenuhi.

Biaya pengupasan tanah penutup dibedakan antara pengupasan tanah

awal untuk membuka tambang, yaitu :

 Pengupasan tanah yang dilakukan sebelum produksi dimulai,

 Pengupasan tanah lanjutan yang dilakukan selama masa produksi.

Biaya pengupasan tanah awal diakui sebagai aset (beban tangguhan),

sedangkan biaya pengupasan tanah lanjutan diakui sebagai beban. Sebelum

produksi dilaksanakan, dihitung terlebih dahulu rasio rata-rata tanah penutup

(average stripping ratio), yaitu perbandingan antara taksiran kuantitas lapisan

41
batuan/tanah penutup terhadap taksiran ketebalan bahan galian (seperti

batubara) yang juga dinyatakan dalam satuan unit kuantitas.

Biaya pengupasan tanah lanjutan pada dasarnya dibebankan

berdasarkan rasio rata-rata tanah penutup. Dalam keadaan di mana rasio

aktual tanah penutup (yaitu rasio antara kuantitas tanah/batuan yang dikupas

pada periode tertentu terhadap kuantitas bagian cadangan yang diproduksi

untuk periode yang sama) tidak berbeda jauh dengan rasio rata-ratanya, maka

biaya pengupasan tanah yang timbul pada periode tersebut seluruhnya dapat

dibebankan.

Dalam hal rasio aktual berbeda jauh dengan rasio rata-ratanya, maka

apabila rasio aktual lebih besar dari rasio rata-ratanya, kelebihan biaya

pengupasan diakui sebagai aset (beban tangguhan). Selanjutnya, aset tersebut

akan dibebankan pada periode di mana rasio aktual jauh lebih kecil dari rasio

rata-ratanya.

2. Aktivitas Pengelolaan Lingkungan Hidup

Berdasarkan PSAK 33 (2011:33.3), Provisi pengelolaan lingkungan

hidup harus diakui jika :

(a) Terdapat petunjuk yang kuat bahwa telah timbul kewajiban pada tanggal

pelaporan keuangan akibat kegiatan yang telah dilakukan;

(b) Terdapat dasar yang wajar untuk menghitung jumlah kewajiban yang

timbul.

42
Taksiran biaya untuk pengelolaan lingkungan hidup yang timbul

sebagai akibat kegiatan eksplorasi dan pengembangan diakui sebagai aset

(beban tangguhan). Taksiran biaya untuk pengelolaan lingkungan hidup yang

timbul sebagai akibat kegiatan produksi tambang diakui sebagai beban.

Pada tanggal pelaporan, jumlah provisi pengelolaan lingkungan hidup

harus dievaluasi kembali untuk menentukan apakah jumlah akrualnya telah

memadai. Jika jumlah pengeluaran pengelolaan lingkungan hidup yang

sesungguhnya terjadi pada tahun berjalan sehubungan dengan kegiatan

periode lalu lebih besar dari pada jumlah akrual yang telah dibentuk, maka

selisihnya dibebankan ke periode di mana kelebihan tersebut timbul.

2.1.2.3.3 Penyajian

Taksiran Provisi pengelolaan lingkungan hidup disajikan di laporan

posisi keuangan sebesar jumlah kewajiban yang telah ditangguhkan, setelah

dikurangi dengan jumlah pengeluaran yang sesungguhnya terjadi.

2.1.2.3.4 Pengungkapan

Berdasarkan PSAK 33(2011:33.4) entitas mengungkapkan, tetapi

tidak terbatas pada:

(a) Kebijakan akuntansi sehubungan dengan:

(i) Perlakuan akuntansi atas pembebanan biaya pengelolaan

lingkungan hidup;

43
(ii) Metode amortisasi atas biaya pengelolaan lingkungan hidup yang

ditangguhkan.

(b) Mutasi taksiran kewajiban provisi pengelolaan lingkungan hidup selama

tahun berjalan dengan menunjukkan:

(i) Saldo awal;

(ii) Penyisihan yang dibentuk;

(iii) Pengeluaran sesungguhnya;

(iv) Saldo akhir.

(c) Kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang telah dilaksanakan dan yang

sedang berjalan;

(d) Kewajiban bersyarat sehubungan dengan pengelolaan lingkungan hidup

dan kewajiban bersyarat lainnya sebagaimana diatur dalam Standar

Akuntansi Keuangan.

2.1.2.4 PSAK 64

Pengadopsian IFRS 6 Exploration for and Evaluation of Mineral

Resources memberikan dampak penyempitan atas PSAK 33 (revisi 2011)

mengenai Akuntansi Pertambangan Umum, karena dalam IFRS 6 tidak diatur

semua aktivitas dalam kegiatan pertambangan umum, dimana PSAK 64

mengatur aktivitas eksplorasi dan evaluasi sumber daya mineral. Terdapat pro

dan kontra atas pengadopsian IFRS 6 yang mana sebagai suatu standar yang

masih bersifat sementara dan masih terus dilakukan pengkajian oleh

44
International Accounting Standard Board untuk ditentukan apakah

perusahaan pertambangan membutuhkan standar akuntansi pertambangan

secara khusus atau tetap menggunakan standar akuntansi keuangan

pertambangan yang sudah ada.

PSAK 64 menyetujui pengadopsian IFRS 6 seperti yang tertera dalam

PSAK 64 (2011,64:vi-vii) dengan alasan sebagai berikut:

Adopsi IFRS 6 akan membuat laporan keuangan perusahaan

pertambangan nasional dapat dibandingkan dengan perusahaan luar negeri

mengingat secara umum perusahaan pertambangan nasional melakukan

aktivitas lintas negara dan hal ini terkait dengan program konvergensi SAK

dengan IFRS yang mana tidak terdapat alasan valid untuk menjustifikasi

bahwa tidak perlu mengadopsi IFRS 6. Pengaturan dalam IFRS 6 tidak

berbeda secara substantif dengan PSAK 29 dan PSAK 33. Hal ini hanya

perbedaan pendekatan yang digunakan dalam mencatat biaya eksplorasi dan

evaluasi sumber daya mineral yang dapat digambarkan dalam bagan berikut:

Gambar 2. 3 Pengakuan Biaya Eksplorasi dalam IFRS 6, PSAK 29 & PSAK 33

Sumber: PSAK 64(2011:64.vii).

45
Sehingga, hal ini dianggap tidak akan memberikan dampak yang

signifikan terhadap perlakuan akuntansi yang telah ada. Pengecualian yang

diatur dalam IFRS 6 merupakan hal yang tidak relevan untuk diadopsi ke

dalam PSAK 64 karena hal ini akan mengakibatkan tidak ada manfaatnya

mengadopsi IFRS 6 jika mengadopsi juga bagian yang dianggap

kontroversial. Hal tersebut bukan merupakan alasan valid untuk tidak

mengadopsi IFRS 6.

2.1.2.4.1 Pengakuan Aset Eksplorasi dan Evaluasi

Ketika mengembangkan kebijakan akuntansinya, entitas mengakui

aset eksplorasi dan evaluasi menggunakan PSAK 25 (revisi 2009): kebijakan

Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan (Par 10).

Dalam hal tidak ada PSAK yang secara spesifik berlaku untuk

transaksi, peristiwa atau kondisi lain, maka manajemen menggunakan

pertimbangannya dalam mengembangkan dan menerapkan suatu kebijakan

akuntansi yang menghasilkan informasi yang:

(a) relevan untuk kebutuhan pengambilan keputusan ekonomi pengguna; dan

(b) andal, dalam laporan keuangan yang:

(i) menyajikan secara jujur posisi keuangan, kinerja keuangan, dan

arus kas;

(ii) mencerminkan substansi ekonomi transaksi, peristiwa, atau

kondisi lainnya, dan bukan hanya bentuk hukum.

46
(iii) netral, yaitu bebas dari bias;
(iv) pertimbangan sehat; dan
(v) lengkap dalam semua hal yang material

2.1.2.4.2 Pengukuran Aset Eksplorasi dan Evaluasi

Pengukuran dalam kegiatan eksplorasi dapat dilakukan pada saat

pengakuan aset eksplorasi dan evaluasi yang diukur pada biaya perolehan dan

pengukuran setelah pengakuan dengan menerapkan salah satu model

revaluasi atas aset eksplorasi dan evaluasi dan menerapkannya secara

konsisten.

Dalam menentukan kebijakan akuntansi ini, entitas

mempertimbangkan tingkat pengeluaran yang dapat dikaitkan dengan

penemuan sumber daya mineral spesifik. Berdasarkan PSAK 64(2011:64.3),

berikut contoh pengeluaran yang dapat termasuk dalam pengukuran awal aset

eksplorasi dan evaluasi (tidak terbatas hanya pada daftar berikut):

(a) perolehan untuk eksplorasi;

(b) kajian topografi, geologi, geokimia, dan geofisika;

(c) pengeboran eksplorasi;

(d) parit;

(e) pengambilan contoh; dan

(f) aktivitas yang terkait dengan evaluasi kelayakan teknis dan kelangsungan

usaha komersial atas penambangan sumber daya mineral.

47
Pengeluaran yang terkait dengan pengembangan sumber daya mineral

tidak diakui sebagai aset eksplorasi dan evaluasi. Kerangka Dasar

Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan dan PSAK 19 (revisi 2010) :

Aset Tak berwujud memberikan panduan pengakuan aset yang timbul dari

pengembangan.

Suatu aset tidak berwujud yang timbul dari pengembangan (atau dari
tahap pengembangan pada suatu proyek internal) diakui jika, dan hanya jika,
entitas dapat menunjukkan semua hal berikut ini:
(a) Kelayakan teknis penyelesaian aset tidak berwujud tersebut
sehingga aset tersebut dapat digunakan atau dijual;
(b) niat untuk menyelesaikan aset tidak berwujud tersebut dan
menggunakannya atau menjualnya;
(c) kemampuan untuk menggunakan atau menjual aset tidak
berwujud tersebut;
(d) bagaimana aset tidak berwujud akan menghasilkan
kemungkinan besar manfaat ekonomis masa depan. Antara
lain entitas harus mampu menunjukkan adanya pasar bagi
keluaran aset tidak berwujud atau pasar atas aset tidak
berwujud itu sendiri, atau, jika aset tidak berwujud itu akan
digunakan secara internal, entitas harus mampu menunjukkan
kegunaan aset tidak berwujud tersebut;
(e) tersedianya sumber daya teknis, keuangan, dan sumber daya
lainnya untuk menyelesaikan pengembangan aset tidak
berwujud dan untuk menggunakan atau menjual aset tersebut;
dan
(f) kemampuan untuk mengukur secara andal pengeluaran yang
terkait dengan aset tidak bewujud selama pengembangannya
PSAK 19 revisi 2010 (par 56).

Entitas dapat mengubah kebijakan akuntansinya atas pengeluaran

ekplorasi dan evaluasi jika perubahan kebijakan tersebut dapat membuat

laporan keuangan menjadi lebih relevan bagi kebutuhan pengguna dalam

pengambilan keputusan dan andal, atau lebih andal dan relevan bagi

kebutuhan pengambilan keputusan. Entitas mempertimbangkan unsur relevan

dan keandalan dengan menggunakan kriteria dalam PSAK 25 (revisi 2009):

Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan.

48
2.1.2.4.3 Klasifikasi Aset Eksplorasi dan Evaluasi

Perusahaan pertambangan dapat mengklasifikasikan aset eksplorasi

dan evalusinya sebagai intangible asset misalnya hak pengeboran atau

tangible asset misalnya sarana dan drilling rigs. Sepanjang aset berwujud

yang digunakan dalam mengembangkan aset tidak berwujud, jumlah yang

mencerminkan penggunaan tersebut sebagai bagian dari biaya perolehan aset

tak berwujud. Namun demikian, penggunaan aset berwujud untuk

mengembangkan suatu aset tidak berwujud tidak mengubah aset berwujud

menjadi aset tidak berwujud. Suatu aset tidak diklasifikasikan sebagai aset

eksplorasi dan evaluasi ketika kelayakan teknis dan kelangsungan usaha

komersial atas penambangan sumber daya mineral dapat dibuktikan. Aset

eksplorasi dan evaluasi diuji penurunan nilainya, dan setiap rugi penurunan

nilai diakui, sebelum direklasifikasi.

2.1.3 Perbedaan PSAK 33 (1994) dan PSAK 33 (revisi 2011)

Terdapat perbedaan ruang lingkup dalam pengaturan aktivitas

pertambangan antara PSAK 33 (1994) dengan PSAK 33 (revisi 2011), yang

dapat dilihat dari tabel berikut :

49
Tabel 2. 4 Perbedaan PSAK 33 (1994) dan PSAK 33 (revisi 2011)

No Perihal PSAK 33 (1994) PSAK 33 (Revisi 2011)

1 Ruang Lingkup Eksplorasi Pengupasan lapisan tanah

Pengembangan dan Konstruksi


Pengelolaan lingkungan hidup
Produksi
Pengelolaan lingkungan hidup
Biaya eksplorasi diakui sebagai
2 Eksplorasi beban, kecuali: Tidak diatur
Dalam PSAK 64, biaya
Belum terdapat cadangan, izin masih eksplorasi (dan evaluasi) diakui
berlaku, dan kegiatan eksplorasi sebagai aset. Biaya tersebut
signifikan masih dilakukan. tidak termasuk biaya perizinan.
Terdapat cadangan terbukti dan izin
masih berlaku.
Biaya ekplorasi mencakup biaya
perizinan
Pengembangan Biaya pengembangan diakui sebagai
3 dan Konstruksi aset (biaya yang ditangguhkan) Tidak diatur
Dalam PSAK 64, perlakuan atas
biaya pengembangan merujuk
pada KDPPLK dan PSAK 19 :
Biaya konstruksi diakui sebagai aset Aset Tak berwujud
tetap.

Biaya konstruksi diatur di


PSAK lain, misalnya PSAK 16 :
Aset tetap
Biaya pengupasan lapisan tanah awal Biaya pengupasan lapisan tanah
diakui sebagai aset (beban awal diakui sebagai aset (beban
4 Produksi tangguhan) tangguhan)
Biaya pengupasan lapisan tanah
Biaya pengupasan lapisan tanah selanjutnya diakui sebagai
selanjutnya diakui sebagai beban. beban.
Biaya produksi diakui sebagai
persediaan.
Biaya pengelolaan lingkungan hidup
Pengelolaan dalam aktivitas produksi diakui
5 lingkungan hidup sebagai beban. Sama
Biaya pengelolaan lingkungan hidup
dalam aktivitas eksplorasi dan
pengembangan diakui sebagai aset
(beban tangguhan)
Sumber: PSAK 33(2011:33.vii-viii)

50
2.1.4 Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai akuntansi pertambangan di Indonesia belum

terlalu banyak jumlahnya. Beberapa penelitian banyak ditemukan di negara

lain terlebih mengenai pembahasan akuntansi pertambangan yang berkaitan

dengan IFRS (International Financial Accounting Standards). Beberapa

penelitian terdahulu ini digunakan sebagai sumber dari penelitian ini ataupun

sebagai bahan pendukung untuk melengkapi penelitian ini.

Dalam jurnal berjudul International Oil and Gas Accounting -

Accounting for Activities from the Extraction Process of Mineral Resources

Under Us Gaap vis--vis IFRS: Theory and Implementation Practice,

Mazijk, Rogier van. (2010) membahas perbedaan besar yang berdampak pada

laporan laba rugi dan ekuitas pemegang saham pada perusahaan oil and gas

yang menerapkan US GAAP dengan yang menerapkan IFRS. Perbedaan

antara US GAAP dan IFRS dengan pertimbangan untuk implementasi

praktek, dalam tahap pre-exploration US GAAP menyediakan lebih banyak

kesempatan untuk mengkapitalisasi beban atas keuntungan di masa depan

yang tidak tentu, membuat IFRS lebih konservatif. Dalam tahap eksplorasi

dan evaluasi terdapat perbedaan substantial antara IFRS dan FC.

51
BAB III
PENDAHULUAN

3. METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN


3.1. Kerangka Pendekatan Teori
Dasar kebijakan publik di bidang pertambangan adalah UUD 1945 pasal 33 ayat 3
yang menyatakan bahwa: bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Dalam era desentralisasi saat ini maka kegiatan pertambangan tidak terpisahkan lagi
dengan pengambilan kebijakan di tingkat daerah sehingga:
Pertama. Pemerintah pusat hendaknya memberikan kewenangan yang lebih besar
kepada daerah untuk mengelola kegiatan pertambangan yang melibatkan sebanyak mungkin
peran serta masyarakat local.
Kedua. Apabila risikonya tidak besar serta teknologinya dikuasai dan
permasalahannya hanya modal, maka dana dapat dikumpulkan melalui beberapa cara, yaitu:
1. sebagian pendapatan pemerintah dari sektor pertambangan umum yang sudah memberikan
keuntungan banyak (misal: batu bara). Pendapatan tersebut dapat digunakan untuk
eksplorasi dan investasi pada sektor-sektor pertambangan lainnya.
2. Membentuk Badan Usaha Milik Daerah yang bertugas mengelola kekayaan mineral di
daerah tersebut seoptimal mungkin dengan memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan.
Ketiga aspek lingkungan baik fisik maupun sosial harus dipertimbangkan dalam setiap
kontrak pertambangan dan pengusaha pertambangan harus menyediakan biaya untuk
mengatasi permasalahan lingkungan tersebut.
Ketiga, Menurut ahli ekonomi Kaldor dan Hicks suatu tindakan dikatakan bermanfaat
apabila golongan yang memperoleh manfaat dari usahanya dapat memberi kompensasi bagi
golongan yang menderita kerugian akibat usaha tersebut sehingga posisi golongan kedua
tersebut paling jelek sama seperti sebelum adanya usaha tersebut dan golongan pertama masih
untung. Golongan kedua tersebut dapat berupa alam maupun masyarakat. Jadi, tidak adil bila
ada suatu usaha yang kemudian menyebabkan lingkungan menjadi lebih rusak atau masyarakat
menjadi lebih menderita dibandingkan keadaan sebelum adanya usaha tersebut.
Peran pemerintah daerah akan menjadi lebih besar dalam penanganan dampak
lingkungan pertambangan ini, sehingga penguatan institusi di tataran lokal akan menjadi
semakin signifikan.
Keempat, sumberdaya alam sebagai sumber untuk kegiatan pertambangan dan energi
dimanfaatkan dari sistem ekologi oleh karena itu syarat mendasar yang harus dipatuhi adalah
tidak melanggar daya dukung ekosistem. Untuk dapat memanfaatkan sebanyak-banyakinya
sumber daya alam yang terkandung di bumi Indonesia, konsep eko-efisiensi harus menjadi
acuan utama yaitu memanfaatkan sebanyak-banyaknya dan membuang atau memboroskan
sesedikit mungkin yang juga berarti meminimumkan limbah. Dapat disimpulkan bahwa eko-
efisiensi sekaligus akan meningkatkan efisiensi ekonomi. Untuk itu ekonomi lingkungan perlu
diperhitungkan dalam setiap aktifitas pertambangan.
Pendekatan Kemitraan
Tantangan masa depan yang dihadapi bangsa Indonesia termasuk sektor
pertambangan harus dihadapi bersama melalui pendekatan kemitraan (partnership) yang
berdasarkan hubungan yang fair dan equitable, artinya pemerataan tanggung jawab dan tugas.
Sebagai suatu contoh nyata dalam sektor pertambangan adalah kemitraan dalam
menentukan reklamasi lokasi tambang. Dalam menangani reklamasi ini maka perlu dipikirkan
kebutuhan dari masyarakat sekitar lokasi tambang, sehingga masyarakat sekitar dapat berdiri
sendiri dan tidak selalu bergantung dengan perkembangan ekonomi yang disebabkan oleh
operasi tambang. Untuk itu dalam masalah reklamasi ini maka Departemen Energi &
Sumberdaya Mineral, Departemen Kehutanan dan perusahaan harus berkonsultasi dengan
masyarakat sekitar untuk menentukan reklamasi yang terbaik.
Apabila dilihat dari masalah pemerataan, maka kemitraan ini perlu dikonsultasikan
dengan masyarakat sekitar oleh pemda. Hal ini untuk menghindari adanya rasa dirugikan
setelah penambangan berjalan. Pemerintah Daerah perlu mengantisipasi masalah ini sebab
jangan sampai perusahaan pertambangan merasa bahwa Pemerintah Daerah tidak melakukan
upaya untuk pembangunan didaerah lokasi pertambangan. Perlu juga diperjelas mengenai hak-
hak dan kewajiban dari masyarakat setempat, terutama yang berhubungan dengan masalah
hukum adat. Karena keragaman dari masyarakat adat di Indonesia, maka perlu dikaji kembali
melalui studi yang intensif tentang struktur masyarakat adat. Hal ini perlu dilakukan untuk
menghindari rasa tidak percaya dari masing-masing stakeholders.
Ada beberapa fase yang harus dilalui oleh perusahaan sebelum melakukan eksploitasi.
Saat proses tersebut di lalui oleh perusahaan, maka saat itu pula beredar mitos-mitos
pertambangan di masyarakat yaitu :
1. Pertambangan adalah industri padat modal dan risiko tinggi
2. Pertambangan adalah industri yang menyejahterakan rakyat
3. Pertambangan adalah penyumbang devisa negara yang besar
4. Pertambangan adalah industri yang banyak menyediakan lapangan kerja
5. Pertambangan adalah industri yang bertanggungjawab
Fakta-Fakta Pertambangan:
1. Tahapan Penyelidikan Umum
Lahirkan Pro dan Kontra yang memicu benih perpecahan di masyarakat
Beredar janji-jani surga seperti masyarakat akan sejahtera, jalan di perbakiki, listrik
terang benderang, menjadi kota ramai dll, sehingga gaya hidup masyarakat mulai
berubah
Beredar informasi yang simpang siur dan membingungkan
2. Tahapan Eksplorasi
Konflik antar pemilik kepentingan mulai terbuka. Pada posisi ini biasanya Pemerintah
mulai menujukan keberpihakan pada perusahaan.
Informasi yang semakin simpang siur semakin meresahan masayatakat.
Bujuk rayu, intimidasi, hingga teror dan ancaman makin meningkat
3. Tahapan Eksploitasi
Dimulainya Penghancuran gunung, hutan, sungai dan laut.
Dimulainya proses pembuangan limbah Tailing yang akan meracuni sumber air dan
pangan.
Dimulainya kerja-kerja akademisi dan konsultan bayaran untuk membuktikan bahwa
tidak ada pencemaran
Meningkatnya konflik antar masyarakat dan masyarakat dengan pejabat Negara
Penguasaan sumberdaya alam, pencemaran lingkungan dan proses pemiskinan
Meningkatnya pelanggaran Hak Asasi Manusia, kasus korupsi dan suap
Meningkatnya kasus asusila karena akan terbukanya fasilitasi judi dan tempat
prostitusi
Limbah Tailing dan Batuan akan menjadi masalah dari hulu hingga hilir.
4. Tahapan Tutup Tambang
Makin terpuruknya ekonomi lokal dan menigkatnya jumlah pengangguran
Terbatasnya waktu pantauan kualitas lingkungan
Terbentuknya danau-danau asam dan beracun yang akan terus ada dalam jangka
waktu yang panjang
Tidak pulihnya ekosistem yang dirusak oleh perusahaan tambangan
APBD banyak terkuras untuk menutupi protes rakyat sementara perusahaan telah
pergi meninggalkan berbagai masalah.
Adapun yang perlu diwaspadai jika konsep pengelolaan menggunakan konsep
Tambang Rakyat adalah:
1. Tambang Rakyat selalu menjadi jalan masuk untuk tambang skala besar
2. Tambang Rakyat berpotensi menjadi daerah tak bertuan
3. Tambang Rakyat mengundang konflik horizontal
4. Tambang Rakyat mengundang keterlibatan cukong, pedagang merkuri, pedagang emas dan
aparat
Masalah Lingkungan Dalam Pembangunan Pertambangan/Energi
Menurut jenis yang dihasilkan di Indonesia terdapat antara lain pertambangan minyak
dan gas bumi ; logam logam mineral antara lain seperti timah putih, emas, nikel, tembaga,
mangan, air raksa, besi, belerang, dan lain-lain dan bahan bahan organik seperti batubara,
batu-batu berharga seperti intan, dan lain- lain.
Pembangunan dan pengelolaan pertambangan perlu diserasikan dengan bidang energi
dan bahan bakar serta dengan pengolahan wilayah, disertai dengan peningkatan pengawasan
yang menyeluruh.
Pengembangan dan pemanfaatan energi perlu secara bijaksana baik itu untuk
keperluan ekspor maupun penggunaan sendiri di dalam negeri serta kemampuan penyediaan
energi secara strategis dalam jangka panjang. Sebab minyak bumi sumber utama pemakaian
energi yang penggunaannya terus meningkat, sedangkan jumlah persediaannya terbatas.
Karena itu perlu adanya pengembangan sumber-sumber energi lainnya seperti batu bara, tenaga
air, tenaga air, tenaga panas bumi, tenaga matahari, tenaga nuklir, dan sebagainya.
Pencemaran lingkungan sebagai akibat pengelolaan pertambangan umumnya
disebabkan oleh faktor kimia, faktor fisik, faktor biologis. Pencemaran lingkungan ini biasanya
lebih daripada diluar pertambangan. Keadaan tanah, air dan udara setempat di tambang
mempunyai pengarhu yang timbal balik dengan lingkunganya. Sebagai contoh misalnya
pencemaran lingkungan oleh CO sangat dipengaruhi oleh keaneka ragaman udara, pencemaran
oleh tekanan panas tergantung keadaan suhu, kelembaban dan aliran udara setempat.
Suatu pertambangan yang lokasinya jauh dari masyarakat atau daerah industri bila
dilihat dari sudut pencemaran lingkungan lebih menguntungkan daripada bila berada dekat
dengan permukiman masyarakat umum atau daerah industri. Selain itu jenis suatu tambang
juga menentukan jenis dan bahaya yang bisa timbul pada lingkungan. Akibat pencemaran
pertambangan batu bara akan berbeda dengan pencemaran pertambangan mangan atau
pertambangan gas dan minyak bumi. Keracunan mangan akibat menghirup debu mangan akan
menimbulkan gejala sukar tidur, nyeri dan kejang kejang otot, ada gerakan tubuh diluar
kesadaran, kadang-kadang ada gangguan bicara dan impotensi.
Melihat ruang lingkup pembangunan pertambangan yang sangat luas, yaitu mulai dari
pemetaan, eksplorasi, eksploitasi sumber energi dan mineral serta penelitian deposit bahan
galian, pengolahan hasil tambang dan mungkin sampai penggunaan bahan tambang yang
mengakibatkan gangguan pad lingkungan, maka perlua adanya perhatian dan pengendalian
terhadap bahaya pencemaran lingkungan dan perubahan keseimbangan ekosistem, agar sektor
yang sangat vital untuk pembangunan ini dapat dipertahankan kelestariannya.
Dalam pertambangan dan pengolahan minyak bumi misalnya mulai eksplorasi,
eksploitasi, produksi, pemurnian, pengolahan, pengangkutan, serta kemudian menjualnyatidak
lepas dari bahaya seperti bahaya kebakaran, pengotoran terhadap lingkungan oleh bahan-bahan
minyak yang mengakibatkan kerusakan flora dan fauna, pencemaran akibat penggunaan
bahan-bahan kimia dan keluarnya gas-gas/ uap-uap ke udara pada proses pemurnian dan
pengolahan.
Dalam rangka menghindari terjadinya kecelakaan pencemaran lingkungan dan
gangguan keseimbangan ekosistem baik itu berada di lingkungan pertambangan ataupun
berada diluar lingkungan pertambangan, maka perlu adanya pengawasan lingkungan terhadap
:
1. Cara pengolahan pembangunan dan pertambangan.
2. Kecelakaan pertambangan.
3. Penyehatan lingkungan pertambangan.
4. Pencemaran dan penyakit-penyakit yang mungkin timbul.
Cara Pengolahan Pembangunan Pertambangan
Sumber daya bumi di bidang pertambangan harus dikembangkan semaksimal
mungkin untuk tercapainya pembangunan. Dan untuk ini perlu adanya survey dan evaluasi
yang terintegrasi dari para alhi agar menimbulkan keuntungan yang besar dengan sedikit
kerugian baik secara ekonomi maupun secara ekologis.
Penggunaan ekologis dalam pembangunan pertambangan sangat perlu dalam rangka
meningkatkan mutu hasil pertambangan dan untuk memperhitungkan sebelumnya pengaruh
aktivitas pembangunan pertambangan pada sumber daya dan proses alam lingkungan yang
lebih luas.
Segala pengaruh sekunder pada ekosistem baik local maupun secara lebih luas perlu
dipertimbangkan dalam proses perencanaan pembangunan pertambangan, dan sedapatnya
evaluasi sehingga segala kerusakan akibat pembangunan pertambangan ini dapat dihindari atau
dikurangi, sebab melindungi ekosistem lebih mudah daripada memperbaikinya.
Dalam pemanfaatan sumber daya pertambangan yang dapat diganti perencanaan,
pengolahan dan penggunaanya harus hati-hati seefisien mungkin. Harus tetap diingat bahwa
generasi mendatang harus tetap dapat menikmati hasil pembangunan pertambangan ini.
Kecelakaan Di Pertambangan
Usaha pertambangan adalah suatu usaha yang penuh dengan bahaya. Kecelakaan-
kecelakaan yang sering terjadi, terutama pada tambang-tambang yang lokasinya jauh dari
tanah. Kecelakaan baik itu jatuh, tertimpa benda-benda, ledakan-ledakan maupun akibat
pencemaran atau keracunan oleh bahan tambang. Oleh karena itu tindakan tindakan
penyelamatan sangatlah diperlukan, misalnya memakai pakaian pelindung saat bekerja dalam
pertambangan seperti topi pelindung, but, baju kerja, dan lain lain.
Contoh sederhana karena kecelakaan kerja adalah terjadinya lumpur lapindo yang
terdapat di Porong, sidoarjo. Tragedi semburan lumpur lapindo yang terjadi beberapa tahun
silam, setidaknya menjadi bukti adanya kelalaian pekerja tambang minyak yang lupa menutup
bekas lubang untuk mengambil minyak bumi. Semburan di Porong, sidoarjo bukan fenomena
baru di kawasan Jawa Timur. Fenomena yang sama terjadi di Mojokerto, Surabaya, Gunung
Anyar, Rungkut, Purwodadi, jawa Tengah.
Bila melihat empat lokasi tersebut, Porong ternyata berada pada jalur gunung api
purba. Gunung api ini mati jutaan tahun yang lalu dan tertimbun lapisan batuan dengan
kedalaman beberapa kilometer dibawah permukaan tanah saat ini. Tinjauan aspek geologi dan
penelitian sempel material lumpur di laboratorium yang dilakukan Tim Ahli Ikatan Ahli
Geologi Indonesia (IAGI) sejak juni hingga pertengahan juli menunjukkan, material yang
dikeluarkan ke permukaan bumi memang berasal dari produk gunung berap purba.
Penyehatan Lingkungan Pertambangan
Program Lingkungan Sehat bertujuan untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup
yang lebih sehat melalui pengembangan system kesehatan kewilayahan untuk menggerakkan
pembangunan lintas sektor berwawasan kesehatan
Adapun kegiatan pokok untuk mencapai tujuan tersebut meliputi:
(1). Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Dasar
(2) Pemeliharaan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan
(3) Pengendalian dampak risiko lingkungan
(4) Pengembangan wilayah sehat.
Pencapaian tujuan penyehatan lingkungan merupakan akumulasi berbagai
pelaksanaan kegiatan dari berbagai lintas sektor, peran swasta dan masyarakat dimana
pengelolaan kesehatan lingkungan merupakan penanganan yang paling kompleks, kegiatan
tersebut sangat berkaitan antara satu dengan yang lainnya yaitu dari hulu berbagai lintas sector
ikut serta berperan (Perindustrian, KLH, Pertanian, PU dll) baik kebijakan dan pembangunan
fisik dan Departemen Kesehatan sendiri terfokus kepada hilirnya yaitu pengelolaan dampak
kesehatan.
Seperti yang dikatakan bahwa dimana ada suatu aktivitas pasti disitu ada kerusakan
lingkungan. Dan kerusakan lingkungan di pertambangan adalah;
1. Pembukaan lahan secara luas
Dalam masalah ini biasanya investor membuka lahan besar-besaran,ini menimbulkan
pembabatan hutan di area tersebut. Di takutkan apabila area ini terjadi longsor banyak
memakan korban jiwa.
2. Menipisnya SDA yang tidak bisa diperbarui.
Hasil petambangan merupakan Sumber Daya yang Tidak Dapat diperbarui lagi. Ini menjadi
kendala untuk masa-masa yang akan datang. Dan bagi penerus atau cicit-cicitnya.
3. Masyarakat dipinggir area pertambangan menjadi risih.
Biasanya pertambangan membutuhkan alat-alat besar yang dapat memecahkan telinga. Dan
biasanya kendaraan berlalu-lalang melewati jalanan warga. Dan terkadang warga menjadi
kesal.
4. Pembuangan limbah pertambangan yang tidak sesuai tempatnya.
Dari sepenggetahuan saya bahwa ke banyakan pertambangan banyak membuang limbahnya
tidak sesuai tempatnya. Biasanya mereka membuangnya di kali,sungai,ataupun laut.
Limbah tersebut tak jarang dari sedikit tempat pertambangan belum di filter. Hal ini
mengakibatkan rusaknya di sector perairan.
5. Pencemaran udara atau polusi udara.
Di saat pertambangan memerlukan api untuk meleburkan bahan mentah,biasanya
penambang tidak memperhatikan asap yang di buang ke udara. Hal ini mengakibatkan
rusaknya ozon.
4.2. Feasibility Studi BUMD
a. Tujuan dan Persyaratan Pendirian BUMD
Tujuan pendirian Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) adalah untuk: (i) memberikan
manfaat bagi perkembangan perekonomian Daerah pada umumnya; (ii) menyelenggarakan
kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu bagi pemenuhan
hajat hidup masyarakat sesuai kondisi, karakteristik dan potensi Daerah yang bersangkutan
berdasarkan tata kelola perusahaan yang baik; dan (iii) memperoleh laba dan/atau keuntungan.
Berdasarkan kategori sasarannya BUMD dapat dibedakan dua golongan, yaitu perusahaan
daerah untuk melayani kepentingan umum dan perusahaan daerah untuk tujuan peningkatan
penerimaan daerah dalam PADnya. BUMD dapat bergerak dalam berbagai bidang usaha,
yaitu jasa keuangan dan perbankan (BPD dan Bank Pasar), jasa air bersih (PDAM) dan
berbagai jasa dan usaha produktif lainnya pada industri, perdagangan dan perhotelan,
pertanian-perkebunan, perparkiran, percetakan, dan lain-lain.
Peran BUMD dapat optimal dan dapat mengembangkan perekonomian daerah jika
pengelolaan BUMD dapat memenuhi persyaratan-persyaratan pengelolaan secara professional
baik dalam pembinaan pengurusan dan dalam pengawasannya. Prinsip-prinsip tata-kelola
perusahaan yang baik (good corporate governance) merupakan prinsip yang harus dijadikan
dasar dalam pengelolaan BUMD. Untuk itu BUMD paling sedikit harus memenuhi unsure-
unsur pengelolaan:
1) tata cara penyertaan modal;
2) organ dan kepegawaian;
3) tata cara evaluasi;
4) tata kelola perusahaan yang baik;
5) perencanaan, pelaporan, pembinaan, pengawasan;
6) kerjasama;
7) penggunaan laba;
8) penugasan Pemerintah Daerah;
9) pinjaman;
10) satuan pengawas intern, komite audit dan komite lainnya;
11) penilaian tingkat kesehatan, restrukturisasi, privatisasi;
12) perubahan bentuk hukum;
13) kepailitan; dan
14) penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan.

b. Aspek Kegiatan usaha

Beberapa kegiatan usaha yang dapat menjadi peluang pasar yang dapat dilakukan
BUMD Pertambangan :

Pengadaan, pengolahan, penyimpanan, dan pemasaran hasil tambang


Menyediakan sarana produksi pertambangan dan teknologi dan Sarana pengolahan hasil
tambang
Menunda penjualan (tunda jual) untuk mengatasi merosotnya harga hasil tambang rakyat
pada saat harga anjlok yang sangat merugikan petambang

c. Studi Kelayakan Organisasi dan Sumber Daya Manusia Pada BUMD

Dalam kondisi perekonomian saat ini pendirian BUMD yang melaksanakan kegiatan
pengelolaan pertambangan dimungkinkan serta dapat diandalkan untuk menambah sumber
pendapatan daerah. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dimana sumber Pendapatan Asli
Daerah dapat diperoleh antara lain dari hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan.

Badan Usaha Milik Daerah dipimpin oleh suatu Direksi. Anggota Direksi diangkat
dan diberhentikan oleh Kepala Daerah, setelah mendengar pertimbangan DPRD untuk waktu
maksimal empat tahun. Tugas Direksi adalah :
Menentukan kebijaksanaan dalam pimpinan perusahaan.
Mengurus dan menguasai kekayaan Perusahaan Daerah.
Mewakili perusahaan daerah di dalam dan di luar pengadilan.
Mengirim laporan-laporan kepada Kepala Daerah.
Mengangkat dan memberhentikan pegawai Perusahaan Daerah sesuai dengan peraturan
kepegawaian yang disetujui oleh Kepala Daerah.

Dengan pendirian BUMD diharapkan dapat ikut berperan dalam menghasikan barang
dan / atau jasa yang diperlukan dalam rangka mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran
masyarakat daerah sekaligus sebagai upaya ekstensifikasi pendapatan daerah maupun untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat. Pada sisi lain BUMD juga diposisikan, sebagai badan usaha
yang diupayakan untuk tetap mandiri dan untuk mendapatkan laba sehingga dapat menunjang
kelangsungan usaha BUMD untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah otonom.

Pendirian BUMD untuk mengelola Pertambangan di Propinsi DIY dapat diwujudkan


jika BUMD tersebut bertujuan untuk mengelola pertambangan daerah di Propinsi DIY,
mengefisienkan manajemen pertambangan, meringankan biaya transportasi, selain itu juga
bertujuan untuk mempercepat proses pembangunan daerah dan membantu meningkatkan
kesejahteraan masyarkat di Propinsi DIY. BUMD juga dapat dijadikan mitra masyarakat
dalam menyukseskan pembangunan sebagaimana nafas dari prinsip perekonomian nasional.

BUMD yang didirikan untuk mengelola pertambangan diharapkan dapat menjadi


badan usaha yang mandiri sehingga dapat memperoleh laba yang dapat menunjang
kelangsungan usaha BUMD untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu
pengelolaan BUMD membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang professional, dengan
mengedepankan prinsip keterbukaan, profesionalisme dan akuntabilitas dengan berorientasi
pada kepentingan umum sekaligus bisnis. Meskipun BUMD merupakan badan usaha yang
dianggap sebagai milik Pemda, diharapkan manajemen pengelolaannya, termasuk
pengelolaan SDM nya tidak didasarkan pada kontruksi pola pikir yang birokratis. Apalagi,
kadang-kadang SDM-nya diambil dari birokrasi. Sementara pola pikir birokrasi sangat berbeda
dengan dunia bisnis.

Permasalahan yang dapat menghambat berkembangnya BUMD adalah institusi


BUMD yang diperlakukan sama dengan institusi pemerintah. Padahal, BUMD bukanlah
institusi pemerintah. Implikasinya, berbagai kewajiban yang melekat pada pemerintah, melekat
pula pada BUMD. Sebagai contoh, BUMD masih harus mengikuti ketentuan pengadaan barang
yang diberlakukan di pemerintahan, yang semestinya tidak perlu karena BUMD adalah
perusahaan.
d. Studi Kelayakan Teknis
Secara teknis operasional BUMD untuk pertambangan di Propinsi DIY perlu
memperhitungkan faktor-faktor personalia, pembelanjaan, produksi, pemasaran, dan
pengorganisasian.
Personalia, setiap badan usaha memerlukan pegawai untuk melaksanakan seluruh
kegiatan operasi perusahaan. Untuk mendapatkan orang yang sesuai dengan
pekerjaannya, BUMD dapat melakukan kegiatan personalia yang meliputi penarikan,
penempatan, pelatihan, dan pemberhentian pegawai. Bagian personalia menentukan upah
atau gaji para pegawai sesuai dengan pekerjaan/jabatan masing-masing.
Pembelanjaan, kegiatan perusahaan dibelanjai dengan sejumlah uang tertentu. Dalam
masalah pembelanjaan ini, pertimbangan yang diperlukan adalah tujuan, kebijakan, dan
prosedur pembelanjaan perusahaan. Hal yang perlu dipertimbangkan secara teknis adalah
dalam menetapkan sumber, penggunaan, pengawasan, pengaturan, dan pengandalian
dana.
Produksi, kesinambungan perusahaan dapat terlaksana apabila perusahaan mampu
menghasilkan barang dan jasa secara terus-menerus. Pengertian menghasilkan di sini
adalah menciptakan dan meningkatkan daya guna barang/jasa itu, setiap perusahaan
berusaha menggunakan cara-cara yang terbaik sehingga dapat meminimumkan biaya,
dan pada gilirannya dapat menjualnya dengan harga yang murah dibandingkan dengan
barang sejenis yang dihasilkan oleh perusahaan lainnya.
Pemasaran adalah semua kegiatan usaha yang berhubungan dengan arus penyerahan
barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Penyerahan barang meliputi kegiatan yang
berkaitan dengan pemindahan kepemilikan barang, cara-cara penjualan, penentuan
harga, promosi yang efektif, dan penentuan saluran distribusi yang digunakan oleh
perusahaan BUMD yang melaksanakan pertambangan di DIY secara teknis relatif tidak
akan mengalami kendala teknis oleh karena ketersediaan material, tenaga kerja,
transportasi, lokasi bisnis, teknologi yang dibutuhkan, di DIY mudah didapatkan.
Dukungan dari Perguruan Tinggi, ketersediaan sarana transportasi serta kondisi wilayah
yang mudah dijangkau sangat memungkinkan pengembangan BUMD untuk mengelola
pertambangan daerah.

e. Studi Kelayakan Finansial

BUMD merupakan perusahaan daerah yang didirikan oleh pemerintah daerah yang
modalnya sebagian besar / seluruhnya adalah milik pemerintah daerah. Tujuan pendirian
perusahaan daerah untuk pengembangan dan pembangunan potensi ekonomi di daerah yang
bersangkutan. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya ketentuan bahwa setiap penyertaan
modal yang dilakukan Pemda harus dilakukan melalui Peraturan Daerah (Perda). Kewajiban
ini diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah. Dalam Pasal 75 dinyatakan Penyertaan modal pemerintah daerah dapat dilaksanakan
apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam
peraturan daerah tentang penyertaan modal daerah berkenaan.
Dalam Undang-Undang Nomor: 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah pasal
332 ayat (1) disebutkan bahwa Sumber Modal BUMD terdiri atas: penyertaan modal Daerah;
pinjaman; hibah; dan sumber modal lainnya (kapitalisasi cadangan; keuntungan revaluasi aset;
dan agio saham). Penyertaan modal Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 332 ayat (1)
tersebut ditetapkan dengan Perda. Penyertaan modal Daerah dapat dilakukan untuk
pembentukan BUMD dan penambahan modal BUMD. Penyertaan modal Daerah pada BUMD
dapat berupa uang dan barang milik Daerah.
Permasalahan keuangan BUMD yang dapat terjadi adalah minimnya permodalan
akibat kurangnya perhatian dari pemilik (dalam hal ini pemerintah daerah/Pemda). Potensi
permasalahan lain yang akan dihadapi adalah BUMD juga masih harus menjalani pemeriksaan
atas laporan keuangan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) karena alasan keuangan negara.
Padahal, sebagai perseroan terbatas (PT), BUMD juga diperiksa kantor akuntan publik (KAP)
yang independen.disisi lain pemeriksaan laporan keuangan oleh BPK ini, sudah tak berlaku
lagi di BUMN. Permasalahan lain adalah tidak adanya equal treatment bagi BUMD (yaitu
sebagai perusahaan yang dituntut harus laba), menyebabkan BUMD tidak dapat bersaing
secara seimbang dengan BUMN dan swasta yang lebih lincah

f. Aspek Risiko Usaha

Beberapa risiko usaha BUMD pertambangan antara lain :

1. Resiko yang dapat menghambat berkembangnya BUMD adalah institusi BUMD yang
diperlakukan sama dengan institusi pemerintah. Padahal, BUMD bukanlah institusi
pemerintah. Implikasinya, berbagai kewajiban yang melekat pada pemerintah, melekat
pula pada BUMD. Sebagai contoh, BUMD masih harus mengikuti ketentuan pengadaan
barang yang diberlakukan di pemerintahan, yang semestinya tidak perlu karena BUMD
adalah perusahaan.

2. Risko keuangan BUMD yang dapat terjadi adalah minimnya permodalan akibat kurangnya
perhatian dari pemilik (dalam hal ini pemerintah daerah/Pemda). Potensi permasalahan
lain yang akan dihadapi adalah BUMD juga masih harus menjalani pemeriksaan atas
laporan keuangan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) karena alasan keuangan negara.
Padahal, sebagai perseroan terbatas (PT), BUMD juga diperiksa kantor akuntan publik
(KAP) yang independen.disisi lain pemeriksaan laporan keuangan oleh BPK ini, sudah tak
berlaku lagi di BUMN.

3. Risiko lain adalah tidak adanya equal treatment bagi BUMD (yaitu sebagai perusahaan
yang dituntut harus laba), menyebabkan BUMD tidak dapat bersaing secara seimbang
dengan BUMN dan swasta yang lebih lincah

g. Aspek Kelayakan Usaha

1. Arus kas (cash flow) operasional


Analisis perhitungan tentang arus kas masuk dan arus kas keluar atau setara kas dalam
periode tertentu yang berjangka pendek melalui pengelolaan keuangan cadangan pangan.
Secara keuangan berdasarkan analisis perhitungan cash flow yaitu analisis arus kas masuk
dan arus kas keluar dalam satu periode.

2. Kelayakan usaha

Untuk mengetahui kelayakan suatu usaha (feasibility study) maka perlu memperhitungkan
nilai investasi yang dikeluarkan untuk menjalankan usaha.

Payback Period (PP)


Payback Period merupakan periode waktu yang dibutuhkan, agar cash flow yang
dihasilkan telah sama besar dengan investasi yang dikeluarkan. Investor tentunya
menginginkan payback period yang sesingkat-singkatnya, terutama bila dikaitkan
dengan resiko ketidakpastian berusaha yang selalu ada di masa depan

Net Present Value (NPV)


NPV didefinisikan sebagai nilai dari usaha yang bersangkutan yang diperoleh
berdasarkan selisih antara cash flow yang dihasilkan terhadap investasi yang
dikeluarkan. NPV yang layak adalah NPV yang positif, dimana ini berarti cash flow
yang dihasilkan melebihi jumlah yang diinvestasikan. NPV memperhatikan baik
aliran kas netto (Net Cash Flow) yang memperhitungkan time value money yaitu
dengan adanya tingkat return (suku bunga) yang ditetapkan dengan asumsi tidak ada
perubahan return selama konsesi
h. Dampak/Fungsi Sosial Pendirian BUMD
Fungsi Sosial adalah kegiatan perusahaan secara langsung atau tidak langsung yang
dapat dinikmati hasilnya oleh masyarakat. Fungsi Sosial pendirian BUMD pengelola
pertambangan di Propinsi DIY antara lain :
Penyediaan Lapangan Kerja, semakin maju BUMD maka akan semakin mampu
menyerap tenaga kerja. Semakin meningkat pula upah atau kesejahteraan para
karyawannya. Tingkat kemakmuran bersama dapat tercapai.
Perbaikan Kualitas Lingkungan, BUMD dapat berperan serta menjaga dan
melestarikan lingkungan hidup, agar masyarakat di lingkungannya dapat hidup sehat
dan dapat terhindar dari bencana alam di kemudian hari.

i. Studi Kelayakan Hukum

Pada era otonomi daerah saat ini setiap daerah melakukan upaya-upaya terobosan dan
usaha-usaha untuk meningkatkan sumber pendapatan daerah dengan tanpa membebani
masyarakat, tetapi membuka peluang usaha yang berbasiskan ekonomi daerah yang selaras
dengan potensi daerah. Upaya peningkatan pendapatan daerah tersebut didasarkan atas Pasal
157 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Pasal 6 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah, Pandapatan Asli Daerah bersumber dari Pajak Daerah,
Retribusi Daerah, Hasil Pengeloaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan, dan Lain-lain
Pendapatan Asli Daerah yang sah.

Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) memiliki karakteristik yang sama dengan Badan
Usaha Milik Negara (BUMN). Secara legal, BUMN dan BUMD sama-sama merupakan bagian
dari keuangan negara (berdasarkan UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara).

Penyertaan modal dari pemerintah daerah pada BUMD harus dilakukan melalui
Peraturan Daerah (Perda). Kewajiban ini diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor
58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Dalam Pasal 75 dinyatakan Penyertaan
modal pemerintah daerah dapat dilaksanakan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun
anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal daerah
berkenaan. Hal ini sesuai dengan peraturan yang lebih tinggi (undang-undang/UU), yaitu
Pasal 41 UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara yang menyatakan bahwa Penyertaan
modal pemerintah daerah pada perusahaan negara/daerah/swasta ditetapkan dengan peraturan
daerah. Mengacu pada UU ini, memang sudah tepat bila setiap penyertaan modal Pemda ke
BUMD harus melalui Perda (yang berarti harus mendapat persetujuan DPRD).

4.3.Metode Analisis Kajian


Untuk dapat memberikan hasil yang optimal dalam Penyusunan Kelayakan Potensi
Peningkatan Peran BUMD Pada Sektor Pertambangan maka diperlukan beberapa persyaratan
dalam pelaksanaan antara lain :
Data :
Data sekunder yang berasal dari sumber/informasi SKPD dan stakeholder
terkait yang dapat dipertanggungjawabkan.
Data primer hasil survey dan pengamatan lapangan yang diperlukan.
Pengumpulan data lapangan harus memenuhi persyaratan berikut :
- Sumber dan metode perolehan data. dideskripsikan dengan jelas.
- Dilengkapi dengan waktu dan nama surveyor.
Analisis :
Dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif untuk digunakan sebagai penentu Acuan
kebijakan Pemerintah DIY dalam rangka pengelolaan BUMD pertambangan untuk
jangka pendek, menengah dan jangka Panjang.
Data-data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis dengan Metode SWOT untuk
merumuskan secara kualitatif dan holistik baik lingkungan internal maupun eksternal
dari obyek yang sedang diamati. Dalam lingkup internal, analisis akan menjelaskan
secara rinci aspek-aspek yang menjadi kelemahan (weakness) dan kekuatan usaha
(strength). Sementara itu, dalam lingkup eksternal analisis ini akan menjelaskan secara
rinci mengenai aspek peluang (opportunity) dan kendala/ancaman/tantangan (threat)
usaha yang akan dihadapi. Gambar dibawah menjelaskan diagram analisis SWOT
Gambar 1. Diagram Analisis SWOT

sumber : Rangkuti (2008)

SWOT terdiri dari empat tahapan utama, yaitu mengidentifikasi (identifying),


mengkaji ulang (reviewing), membuat kesimpulan (concluding), dan membuat
perencanaan (planning). Hasil analisis SWOT tidak dapat langsung
diimplementasikan, tetapi harus melalui beberapa tahapan terlebih dahulu, yaitu
analisis, penilaian ulang (reassessment), evaluasi, dan pelaksanaan. Elemen-elemen
dalam analisis SWOT adalah:

1). Faktor Internal

a. Strengths (kekuatan), yaitu segala sumberdaya kebun teh yang dapat dimanfaatkan
secara efektif untuk mencapai tujuan.
b. Weakness (kelemahan), yaitu segala keterbatasan, kesalahan, maupun kekurangan
Pengelolaan BUMD pertambangan yang dapat menghalangi pencapaian suatu tujuan.
2). Faktor Eksternal
a. Opportunities (peluang), yaitu berbagai situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang
dapat memberikan keuntungan dan manfaat dalam usaha pengembangan BUMD
Pertambangan di DIY
b. Threats (ancaman), yaitu berbagai situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang dapat
merugikan dan bahkan membahayakan usaha BUMD pertambangan di DIY
Beberapa langkah yang harus dilakukan dalam analisis SWOT adalah:
1). mengidentifikasi berbagai isu dan permasalahan yang terkait dengan
pengembangan BUMD Pertambangan di DIY
2). melakukan analisis internal, yaitu dengan mengklasifikasi berbagai isu dan
permasalahan yang dapat berpotensi menjadi kekuatan dan kelemahan BUMD
Pertambangan di DIY
3). melakukan analisis eksternal, yaitu dengan mengklasifikasi berbagai isu dan
permasalahan yang dapat berpotensi menjadi peluang dan ancaman bagi
pengembangan BUMD Pertambangan di di DIY
4). penilaian (scoring), yaitu memberikan bobot masing-masing faktor berdasarkan
besarnya pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap usaha pengembangan BUMD
Pertambangan di DIY, range nilai antara 0-100%;

Tabel Kategori Skor SWOT


Skor SWOT (%) Intepretasi
90-100 Sangat tinggi
80-89 Cukup tinggi
70-79 Tinggi
60-69 Terdapat Beberapa Elemen yang baik
50-59 Cukup
40-49 Hanya ada satu/dua elemen yang baik
30-39 Sangat Rendah
20-29 Cukup Rendah
0-19 Rendah

5). Membuat implikasi yang tepat berdasarkan hasil penilaian (scoring)


Tabel Formulasi Strategi Hasil Analisis SWOT

Sumber: Flavel and Williams, 1996 (dalam Rangkuti)

6). Merumuskan berbagai tujuan yang akan dicapai Pengembangan BUMD


pertambangan di DIY

7) Menyusun berbagai strategi yang mungkin dilakukan untuk mencapai tujuan


Pengembangan BUMD Pertambangan di DIY.

4.4. Stuktur Organisasi Pelaksana


Struktur Organisasi Pelaksana
Manajemen pelaksanaan pekerjaan merupakan sebuah sistem pengaturan kerja yang
digunakan untuk mengatur dan menyelesaikan pekerjaan. Untuk mengatur manajemen tersebut
perlu dibuat struktur organisasi yang jelas, yang akan menjelaskan mekanisme kerja dan
hubungan kerja masing-masing komponen di dalamnya. Dalam bab ini akan dijelaskan
mengenai organisari pelaksanaan pekerjaan.
Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan
Untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan sukses, penyedia jasa harus
mempunyai organisasi pelaksanaan pekerjaan yang efisien, efektif, dan produktif. Oleh karena
itu perlu disusun struktur organisasi dan skema mekanine kerja, baik dalam sistem penyedia
jasa maupun antara pengguna jasa dengan penyedia jasa. Struktur organisasi dan skema
hubungan kerja antara pengguna jasa dan penyedia jasa disajikan pada Gambar dibawah.
Efektifitas dan efisiensi dalam hubungan kerja antara pihak pengguna jasa dan pihak
penyedia jasa secara tidak langsung sangat mempengaruhi hasil akhir pekerjaan tersebut. Oleh
karena itu koordinasi melalui tata laksana struktur organisasi antara pengguna jasa dan
penyedia jasa adalah sangat penting.
Hubungan kerja tersebut dijelaskan sebagai berikut: penyedia jasa dalam hal ini adalah
Tim Ahli akan bertanggung jawab penuh terhadap hasil-hasil pekerjaan, sedang pengguna jasa
memberikan informasi dan petunjuk-petunjuk yang berguna untuk pekerjaan yang
bersangkutan. Penyedia jasa dalam hal ini masing-masing personil/staf ahli mempunyai tugas
dan tanggung jawab sesuai dengan disiplin ilmunya.

Direktur PT Almas PPK

Tim Teknis
yang ditunjuk oleh Pejabat
Ketua Tim Pembuat Komitmen
Ahli Madya Tambang (Team Leader)
Ahli Madya Ekonomi Ahli Muda Hukum/
Pembangunan Kebijakan Publik

Tenaga Penunjang

Gambar Struktur Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan