Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN OKSIGENASI

PADA PASIEN DENGAN CA. MAMMAE DI RUANG/UNIT MAWAR


RUMAH SAKIT TINGKAT III BALADHIKA HUSADA JEMBER

oleh

Auliya Hidayati, S.Kep


NIM 132311101001

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
JEMBER
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan berikut dibuat oleh:

Nama : Auliya Hidayati


NIM : 132311101001
Judul : Laporan Pendahuluan Gangguan Pemenuhan Oksigenasi Pada Pasien
dengan Ca Mammae Di Ruang/Unit Mawar Rumah Sakit Tingkat III
Baladhika Husada Jember

Telah diperiksa dan disahkan oleh pembimbing pada:

Hari :
Tanggal :

Jember,.............................2017

TIM PEMBIMBING

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

............................................. .............................................
NIP. ........................................ NIP. ........................................

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i


LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................. ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii
A. Definisi ........................................................................................................... 1
B. Epidemiologi ................................................................................................. 4
C. Etiologi .......................................................................................................... 5
D. Tanda dan Gejala ......................................................................................... 6
E. Patofisiologi dan Clinical Pathway .............................................................. 7
F. Penatalaksanaan Medis ................................................................................ 10
G. Penatalaksanaan Keperawatan ................................................................. 11
1. Pengkajian .................................................................................................. 11
2. Diagnosa Keperawatan yang sering muncul (PES) .................................... 12
3. Perencanaan/Nursing Care Plan ................................................................ 13
H. Daftar Pustaka ............................................................................................. 15

iii
1

A. Definisi Ca Mammae dan Oksigenasi


Kanker payudara bermula ketika sel-sel pada payudara mulai tumbuh tidak
terkendali. Sel-sel ini biasanya membentuk tumor yang seringkali dapat terlihat
pada x-ray atau dirasakan sebagai sebuah benjolan. Tumor tersebut adalah
malignan (kanker) apabila sel-sel tersebut dan tumbuh (menginvasi) pada
jaringan-jaringan disekitar atau menyebar (bermetastase) pada daerah yang jauh
pada tubuh. Kanker payudara terjadi hampir seluruhnya pada wanita, namun pria
juga dapat mengalaminya. Sel-sel pada hampir bagian tubuh mana saja dapat
menjadi kanker dan menyebar ke daerah lain di tubuh. Kanker payudara dapat
bermula dari bagian yang berbeda pada payudara. Sebagian besar kanker payudara
bermula dari saluran yang membawa susu menuju puting susu (ductal cancer).
Beberapa bermula dari kelenjar yang memproduksi air susu (lobular cancer).
Terdapat juga jenis-jenis lain kanker payudara yang lebih jarang terjadi (American
Cancer Society, 2016).
Kanker payudara dapat diklasifikasikan berdasarkan berdasarkan Sistem
Klasifikasi TNM American Joint Committee on Cancer (AJCC) (2010) dalam
Kemenkes RI (2017), untuk Kanker Payudara, yaitu:
Kategori T (Tumor)
TX Tumor primer tidak bisa diperiksa
T0 Tumor primer tidak terbukti
Tis Karsinoma in situ
Tis (DCIS) = ductal carcinoma in situ
Tis (LCIS) = lobular carcinoma in situ
Tis (Pagets) = Pagets disease pada puting payudara tanpa tumor
T1 Tumor 2 cm atau kurang pada dimensi terbesar
T1mic Mikroinvasi 0.1 cm atau kurang pada dimensi terbesar
Tumor lebih dari 0.1 cm tetapi tidak lebih dari 0.5 cm pada dimensi
T1a
terbesar
T1b Tumor lebih dari 0.5 cm tetapi tidak lebih dari 1 cm pada dimensi terbesar
T1c Tumor lebih dari 1 cm tetapi tidak lebih dari 2 cm pada dimensi terbesar
T2 Tumor lebih dari 2 cm tetapi tidak lebih dari 5 cm pada dimensi terbesar
T3 Tumor berukuran lebih dari 5 cm pada dimensi terbesar
T4 Tumor berukuran apapun dengan ekstensi langsung ke dinding dada / kulit
T4a Ekstensi ke dinding dada, tidak termasuk otot pectoralis
2

Edema (termasuk peau dorange) atau ulserasi kulit payudara atau satellite
T4b
skin nodules pada payudara yang sama
T4c Gabungan T4a dan T4b
T4d Inflammatory carcinoma
Kelenjar Getah Bening (KGB) regional (N)
Nx KGB regional tak dapat dinilai (mis.: sudah diangkat)
N0 Tak ada metastasis KGB regional
Metastasis pada KGB aksila ipsilateral level I dan II yang masih dapat
N1
digerakkan
pN1mi Mikrometastasis >0,2 mm < 2 mm
pN1a 1-3 KGB aksila
KGB mamaria interna dengan metastasis mikro melalui sentinel node
pN1b
biopsy tetapi tidak terlihat secara klinis
T1-3 KGB aksila dan KGB mamaria interna dengan metastasis mikro
pN1c
melalui sentinel node biopsy tetapi tidakterlihat secara klinis
Metastasis pada KGB aksila ipsilateral yang terfiksir atau matted, atau
N2 KGB mamaria interna yang terdekteksi secara klinis dan jika tidak terdapat
metastasis KGB aksila secara klinis.
Metastatis pada KGB aksila ipsilateral yang terfiksir satu sama lain
N2a
(matted) atau terfiksir pada struktur lain
pN2a 4-9 KGB aksila
Metastasis hanya pada KGB mamaria interna yang terdekteksi secara
N2b
klinis dan jika tidak terdapat metastasis KGB aksila secara klinis.
pN2b KGB mamaria interna, terlihat secara klinis tanpa KGB aksila
Metastatis pada KGB infraklavikula ipsilateral dengan atau tanpa
keterlibatan KGB aksila, atau pada KGB mamaria interna yang
N3 terdekteksi secara klinis dan jika terdapat metastasis KGB aksila secara
klinis; atau metastasis pada KGB supraklavikula ipsilateral dengan atau
tanpa keterlibatan KGB aksila atau mamaria interna.
N3a Metastasis pada KGB infraklavikula ipsilateral
pN3a >10 KGB aksila atau infraklavikula
N3b Metastasis pada KGB mamaria interna ipsilateral dan KGB aksila
KGB mamaria interna, terlihat secara klinis, dengan KGB aksila atau >3
pN3b KGB aksila dan mamaria interna dengan metastasis mikro melalui
sentinel node biopsy namun tidak terlihat secara klinis
N3c Metastasis pada KGB supraklavikula ipsilateral
pN3c KGB supraklavikula
Metastasis Jauh (M)
Mx Metastasis jauh tak dapat dinilai
3

M0 Tak ada metastasis jauh


M1 Terdapat Metastasis jauh

Pengelompokan Stadium
Stadium T N M
Stadium 0 Tis N0 M0
Stadium IA T1 N0 M0
Stadium IB T0 N1mic M0
T1 N1mic M0
Stadium IIA T0 N1 M0
T1 N1 M0
T2 N0 M0
Stadium IIB T2 N1 M0
T3 N0 M0
Stadium IIIA T0 N2 M0
T1 N2 M0
T2 N2 M0
T3 N1-N2 M0
Stadium IIIB T4 N1-N2 M0
Stadium IIIC Semua T N3 M0
Stadium IV Semua T Semua N M1

Kanker payudara dapat bermetastase pada organ sekitarnya seperti paru.


Metastase tersebut dapat menimbulkan hipoksia jaringan. Hipoksia pada tempat
metastase tersebut diakibatkan karena adanya hambatan pembuluh darah oleh
kumpulan trombosis yang disebabkan oleh penyebaran sel-sel tumor utama
sehingga dibutuhkan adanya pemberian terapi oksigen (Rundqvist dan Johnson,
2013). Terapi oksigen merupakan salah satu terapi pernapasan dalam
mempertahankan oksigenasi (Asmadi, 2008). Tujuan dari terapi oksigen adalah
untuk memberikan transpor oksigen yang adekuat dalam darah sambil
menurunkan upaya bernapas dan mengurangi stress pada miokardium. Beberapa
metode pemberian oksigen menurut Tarwoto dan Wartonah tahun 2003, yaitu:
1. Low flow oxygen system
Menyediakan sebagian dari udara inspirasi total pasien. Pada umumnya sistem
ini lebih nyaman untuk pasien tetapi pemberiannya bervariasi menurut pola
4

pernapasan pasien. Alat bantu terapi oksigen dengan konsentrasi rendah yaitu
nasal kanul (1-6 L/menit) dan simple mask (5-8 L/menit).
2. High flow oxygen system
Menyediakan udara inspirasi total untuk pasien. Pemberian oksigen dilakukan
dengan konsisten, teratur, teliti dan tidak bervariasi dengan pola pernapasan
pasien. Alat bantu terapi oksigen dengan konsentrasi tinggi yaitu rebreathing
mask (8-12 L/menit) dan non-rebreathing mask.

B. Epidemiologi
Jumlah penderita kanker payudara di seluruh dunia terus mengalami
peningkatan, baik pada daerah dengan insiden tinggi di negara-negara bagian
barat maupun pada insiden rendah seperti di Asia. Satu laporan penelitian pada
tahun 1993 memperkirakan bahwa jumlah kasus baru di seluruh dunia pada tahun
1985 mencapai 720.000 orang yaitu 422.000 di negara maju dan 298.000 di
negara berkembang (Tim Penanggulangan & Pelayanan Kanker Payudara
Terpadu Paripurna RS. Kanker Dharmais, 2002). Di Amerika terdapat sekitar
92/100.000 wanita dengan mortalitas yang cukup tinggi yaitu 27/100.000 atau
18% dari kematian yang dijumpai pada wanita (Kemenkes RI, 2017).
Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker terbanyak di
Indonesia. Berdasarkan Pathological Based Registration di Indonesia, KDP
menempati urutan pertama dengan frekuensi relatif sebesar 18,6%. Diperkirakan
angka kejadian di Indonesia adalah 12/100.000 wanita. Penyakit ini juga dapat
diderita pada laki-laki dengan frekuensi sekitar 1%. Di Indonesia, lebih dari 80%
kasus ditemukan berada pada stadium yang lanjut, dimana upaya pengobatan sulit
dilakukan. Oleh karena itu perlu pemahaman tentang upaya pencegahan,
diagnosis dini, pengobatan kuratif maupun paliatif serta upaya rehabilitasi yang
baik, agar pelayanan pada penderita dapat dilakukan secara optimal (Kemenkes
RI, 2017).
5

C. Etiologi Ca Mammae dan Oksigenasi


Etiologi pasti dari kanker payudara masih belum jelas. Beberapa faktor
risiko menurut Kemenkes RI tahun 2017, yaitu:
1. Wanita lebih berisiko daripada laki-laki
2. Usia >50 tahun
3. Riwayat keluarga dan genetik (pembawa mutasi gen BRCA1, BRCA2, ATM
atau TP53 (p53))
4. Riwayat penyakit payudara sebelumnya (DCIS pada payudara yang sama,
LCIS, densitas tinggi pada mamografi)
5. Riwayat menstruasi dini (<12 tahun) atau menarche lambat (>55 tahun)
6. Riwayat reproduksi (tidak memiliki anak dan tidak menyusui)
7. Hormonal
8. Obesitas
9. Konsumsi alkohol
10. Riwayat radiasi dinding dada
11. Faktor lingkungan
Menurut Tim Penanggulangan & Pelayanan Kanker Payudara Terpadu
Paripurna RS. Kanker Dharmais (2002), sekitar 5-10% dari kanker terjadi akibat
adanya kelainan genetik yang diturunkan. Anggota keluarga dengan faktor genetik
ini memiliki risiko yang meningkat untuk timbulnya tipe kanker tertentu. Menurut
laporan penelitian Doll dan Peto (1981) dalam Tim Penanggulangan & Pelayanan
Kanker Payudara Terpadu Paripurna RS. Kanker Dharmais (2002), faktor risiko yang
banyak ditemukan yaitu:
1. Usia pertama haid <12 tahun
2. Usia pertama memiliki kehamilan a-term
3. Pemakaian obat-obatan dengan estrogen dosis tinggi
4. Obesitas
5. Riwayat tumor jinak payudara
6. Riwayat keluarga
6

Studi analitik faktor risiko pada kanker payudara menunjukkan adanya


peningkatan risiko hingga 50% pada wanita yang tidak memiliki anak (nullipara).
Risiko juga meningkat pada beberapa keadaan lain, seperti:
1. Menopouse lambat
2. Pengaruh radiasi
3. Obesitas
4. Aktivitas fisik rendah
5. Penggunaan estrogen untuk kontrasepsi
Etiologi yang dapat mempengaruhi oksigenasi menurut Potter dan Perry
tahun 2005 yaitu:
Proses Pengaruh Pada Oksigenasi
Anemia Menurunkan kapasitas darah yang membawa oksigen
Racun inhalasi Menurunkan kapasitas darah yang membawa oksigen
Obstruksi jalan Menghambat pengiriman oksigen yang diinsiprasi ke
napas alveoli
Tempat yang tinggi Menurunkan konsentrasi oksigen inspirator
Meningkatkan frekuensi metabolisme dan kebutuhan
Demam
oksigen di jaringan
Mencegah penurunan diafragma dan menurunkan
Pengaruh gerakan
diameter anteroposterior thoraks pada saat inspirasi,
dinding dada
menurunkan volume udara yang diinspirasi.
Adapun kondisi yang mempengaruhi gerakan dinding dada:
1. Kehamilan
Ketika fetus mengalami perkembangan selama kehamilan, maka uterus yang
berukuran besar akan mendorong isi abdomen ke atas diagfragma.
2. Obesitas
Klien yang obesitas akan mengalami penurunan volume paru. Hal ini
dikarenakan thorak dan abdomen bagian bawah yang berat.
3. Kelainan musculoskeletal
Kerusakan muskulosetal di region thorak menyebabkan penurunan
oksigenasi.
4. Konfigurasi structural yang abnormal.
5. Trauma.
7

6. Penyakit otot.
7. Penyakit system persarafan.
8. Pengaruh penyakit kronis.

D. Manifestasi Klinis Ca Mammae dan Oksigenasi


Tanda dan gejala kanker payudara menurut American Cancer Society
tahun 2016, yaitu:
1. Terdapat benjolan baru
2. Bengkak pada sebagian atau seluruh payudara (bahkan jika tidak ada benjolan
yang diarasakan)
3. Iritasi kulit atau lesung kulit
4. Nyeri pada payudara atau puting susu
5. Retraksi puting susu
6. Kemerahan, bersisik, atau penebalan puting susu atau kulit payudara
7. Discharge/keluarnya cairan dari puting susu (selain ASI)
Kemenkes RI (2017) membagi tanda adanya kanker payudara menjadi
dua, yaitu tanda primer dan tanda sekunder. Berikut tanda primer dan sekunder
kanker payudara:
1. Tanda primer:
a) Densitas yang meninggi pada tumor
b) Batas tumor yang tidak teratur oleh karena adanya proses infiltrasi ke
jaringan sekitarnta atau batas yang tidak jelas (komet sign)
c) Gambaran translusen di sekitar tumor
d) Gambaran stelata
e) Adanya mikrokalsifikasi sesuai criteria Egan (klasifikasi dengan lokasi di
parenkim payudara, ukuran kurang dari 0,5 mm, jumlah dari 5, dan
bentuk stelata)
f) Ukuran klinis tumor lebih besar dari radiologis
2. Tanda sekunder:
a) Retraksi kulit atau penebalan kulit
b) Bertambahnya vaskularisasi
8

c) Perubahan posisi putting


d) Kelenjar getah bening aksila (+)
e) Keadaan daerah tumor dan jaringan fibroglandular tidak teratur
f) Kepadatan jaringan sub areolar yang berbentuk utas
Tanda dan gejala dari gangguan oksigenasi yaitu adanya penurunan
tekanan inspirasi/ekspirasi. Penurunan ventilasi permenit, penggunaaan otot napas
tambahan untuk bernapas, pernapasan napas faring (napas cuping hidung),
dispnea, ortopnea, penyimpangan dada, napas pendek, napas dengan mulut,
ekspirasi memanjang, peningkatan diameter anterior-posterior, frekuensi napas
kurang, penurunan kapasitas vital menjadi tanda dan gejala adanya pola napas
yang tidak efektif sehingga menjadi gangguan oksigenasi (NANDA, 2014).

E. Patofisiologi dan Clinical Pathway


1. Patofisiologi
Kanker payudara atau carsinoma mammae berasal dari jaringan epitel dan
paling sering terjadi pada sistem duktal. Mula-mula terjadi hiperplasia sel-
sel dengan perkembangan sel-sel atopik. Sel-sel ini akan berlanjut menjadi
carsinoma insitu dan menginvasi stroma. Carsinoma membutuhkan waktu
selama 7 tahun untuk bertumbuh dari sel tunggal hingga menjadi massa
yang cukup besar untuk dapat diraba (kurang lebih berdiameter 1 cm). Pada
ukuran tersebut, kurang lebih seperempat dari carsinoma mammae telah
bermetastasis. Carsinoma mammae bermetastasis dengn penyebaran
langsung ke jaringan sekitarnya dan juga melalui saluran limfe dan aliran
darah (Price dan Wilson, 1995).
8

2. Clinical Pathway

Perubahan genetik Ketidakseimbangan hormon Lingkungan (radiasi, diet,


estrogen dan progesteron obesitas, alkohol)
Mutasi yang mempengaruhi
protoonkogen dan Mempengaruhi epitel Estrogen dalam
penekanan tomor di epitel payudara tubuh
payudara

Bakteri naik ke Reseptor hormon berinteraksi


sepanjang ureter dengan transforming growth faktor
dan pertumbuhan fibroblast

Mempengaruhi
mekanisme autokrin
perkembangan tumor

Carcinoma Mammae
9

Klien khawatir tentang


Penanganan Ca Carcinoma Mammae Ansietas
penyakitnya

Memerlukan O2 dan nutrisi Penyebaran melalui limfe


Infiltrasi pada
untuk perkembangan tumor dan pembuluh darah
membran basal

Aliran O2 ke Metastase ke Hiperplasia sel-sel


Hipermetabolisme Pembengkakan kelenjar
seluruh tubuh getah bening di aksila organ sekitar

Pemecahan sumber Tumor semakin


Mendesak membesar
energi berlebih Metabolisme Aliran limfe tersumbat Ke paru-paru
pembuluh darah
terutama protein anaeorob di ekstremitas atas
Infiltrasi tumor ke Mendesak ujung-
Perfusi disekitar
Albumin jaringan paru ujung saraf bebas
Produksi ATP Edema pada payudara
tangan
Berat badan Gangguan Ulkus Nyeri lebih dari 6
Intoleransi Aktivitas ekspansi paru bulan
Klien malu dengan
kondisinya
Ketidakseimbangan Defisit Perawatan Hiperventilasi Nyeri Kronis
Nutrisi Kurang dari Diri: Eliminasi
Kebutuhan Tubuh Gangguan Citra Tubuh Terbukanya
barrier tubuh Kerusakan
Ketidakefektifan Integritas Kulit
Fatigue Peningkatan kerja napas Pola Napas
Risiko Infeksi
10

F. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis menurut Kemenkes RI (2017) yang diterapkan di
Indonesia sesuai stadium kanker payudara, yaitu:
1. Kanker payudara stadium 0 (TIS/T0, N0M0)
Terapi definitif pada T0 bergantung pada pemeriksaan histopatologi. Lokasi
didasarkan pada hasil pemeriksaan radiologik.
2. Kanker payudara stadium dini/operabel (Stadium I dan II)
Dilakukan tindakan operasi:
a) Breast Conserving Therapy (BCT), tumor tidak boleh lebih dari 3 cm
b) Kemoterapi adjuvant
c) Radiasi
3. Kanker payudara locally advanced (lokal lanjut)
a) Operabel (III A)
1) Mastektomi simpel dan radiasi dengan kemoterapi adjuvant
dengan/tanpa hormonal, dengan/tanpa terapi target.
2) Mastektomi radikal modifikasi dan radiasi dengan kemoterapi adjuvant
dengan/tanpa hormonal, dengan/tanpa terapi target.
3) Kemoradiasi preoperasi dilanjutkan dengan atau tanpa BCT atau
mastektomi simpel, dengan/tanpa hormonal, dengan/tanpa terapi target.
b) Inoperabel (III B)
1) Radiasi preoperasi dengan/tanpa operasi, kemoterapi, hormonal terapi
2) Kemoterapi preoperasi/neoadjuvant, dengan/tanpa operasi, kemoterapi,
radiasi, terapi hormonal, dengan/tanpa terapi target
3) Kemoradiasi preoperasi/neoadjuvant, dengan/tanpa operasi,
dengan/tanpa kemoterapi, dengan/tanpa terapi target.
4. Kanker payudara stadium lanjut
a) Sifat terapi paliatif
b) Terapi sistemik merupakan terapi primer (kemoterapi dan terapi hormonal)
c) Terapi lokoregional (radiasi dan bedah) apabila diperlukan
d) Hospice home care
11

G. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Pengkajian
a) Identitas Klien
Usia : biasanya terjadi pada usia >35 tahun
Jenis Kelamin : wanita lebih berisiko daripada laki-laki
b) Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
Nyeri pada payudara kiri/kanan/bilateral
2) Riwayat Kesehatan Sekarang
Keadaan klien lemah, nyeri pada payudara, sesak napas, dan tampak
adanya benjolan pada payudara
3) Riwayat Kesehatan Terdahulu
Klien memiliki riwayat tumor pada payudara kiri/kanan/bilateral
4) Riwayat Kesehatan Keluarga
Adanya anggota keluarga dengan riwayat tumor mammae atau kanker
lainnya
c) Pengkajian Fokus
1) Payudara kanan atau kiri atau bilateral
2) Massa tumor:
a. Lokasi
b. Ukuran
c. Konsistensi
d. Bentuk dan batas tumor
e. Terfiksasi atau tidak ke kulit, m.pectoral atau dinding dada
f. Perubahan kulit (kemerahan, dimpling, edema/nodul satelit, peau de
orange, ulserasi)
g. Perubahan puting susu/nipple (tertarik, erosi, krusta, dischange)
3) Status kelenjar getah bening
a. Kgb aksila : jumlah, ukuran, konsistensi, terfiksir
terhadap sesama atau jaringan sekitar
12

b. Kgb infraklavikula : jumlah, ukuran, konsistensi, terfiksir


terhadap sesama atau jaringan sekitar
c. Kgb supraklavikula : jumlah, ukuran, konsistensi, terfiksir
terhadap sesama atau jaringan sekitar
4) Pemeriksaan pada daerah metastasis
a. Lokasi: tulang, hati, paru, otak
b. Bentuk
c. Keluhan
d) Pemeriksaan Penunjang
1) Biopsi payudara : memberikan diagnosa definitive terhadap massa
2) Foto thoraks : dilakukan untuk mengkaji adanya metastase
3) CT Scan dan MRI : untuk mendeteksi penyakit pada payudara
khususnya massa yang lebih besar, tumor kecil, payudara mengeras dan
sulit diperiksa dengan mammografi
4) Ultrasonografi : membantu dalam membedakan antara massa padat
5) Mammografi : memperlihatkan struktur internal payudara, dapat
untuk mendeteksi kanker yang tidak teraba atau tumor yang terjadi pada
tahap awal.

2. Diagnosa Keperawatan yang sering muncul (PES)


a. Ketidakefektifan pola napas (00032) berhubungan dengan hiperventilasi
b. Nyeri kronis (00133) berhubungan dengan infiltrasi tumor
c. Kerusakan integritas kulit (00046) berhubungan dengan gangguan sirkulasi
d. Defisit perawatan diri: eliminasi (000110) berhubungan dengan kelemahan
13

2. Perencanaan/Nursing Care Plan

Diagnosa
No. NOC NIC Rasional
Keperawatan
1. Ketidakefektifan Tujuan: 1. Observasi tanda-tanda vital 1. Mengetahui RR (RR normal 16-
pola napas (00032) Setelah dilakukan tindakan 2. Kaji frekuensi, kedalaman 20x/menit).
berhubungan keperawatan selama 3x24 jam, pernapasan, dan penggunaan 2. Identifikasi adanya
dengan klien menunjukkan pola napas otot bantu pernapasan dispnea/bradipnea/takipnea.
hiperventilasi efektif. 3. Auskultasi suara napas 3. Identifikasi adanya suara napas
Kriteria Hasil: 4. Atur posisi klien semi fowler tambahan seperti ronki dan mengi
1. RR dalam rentang normal (16- 5. Lakukan penghisapan lendir yang menandakan adanya obstruksi
20x/menit) pada jalan napas (suction) jalan napas/kegagalan pernapasan.
2. Tidak dispnea, bradipnea, dan 6. Jelaskan kepada klien dan 4. Ekspansi paru (mengurangi tekanan
takipnea keluarga terkait tujuan pada paru dan memudahkan
3. Tidak ada suara napas tindakan. pernapasan.
tambahan 7. Kolaborasi dengan tim tenaga 5. Mengurangi adanya sputum.
4. Tidak menggunakan kesehatan terkait pemberian 6. Klien dan keluarga terpapar informasi
pernapasan cuping hidung oksigen tambahan terkait tindakan yang akan dilakukan.
5. Tidak menggunakan otot bantu 8. Kolaborasi dengan tim tenaga 7. Memaksimalkan bernapas dan
pernapasan kesehatan terkait pemberian menurunkan kerja napas.
humidifikasi tambahan 8. Memberikan kelembaban pada
(nebulizer) membran mukosa dan membantu
9. Kolaborasi dengan tim tenaga pengenceran sekret.
kesehatan terkait tindakan 9. Memudahkan upaya pernapasan
fisioterapi dada dalam dan meningkatkan drainase
sekret dari paru ke bronkus.
14

2. Nyeri kronis Tujuan: 1. Kaji nyeri (PQRTS) 1. Mengetahui sumber dan skala nyeri
(00133) Setelah dilakukan tindakan 2. Observasi TTV klien.
berhubungan keperawatan selama 3x24 jam, 3. Atur posisi klien yang 2. Peningkatan frekuensi jantung atau
dengan infiltrasi nyeri klien dapat berkurang. nyaman TD menunjukkan bahwa klien
tumor Kriteria Hasil: 4. Ajarkan teknik relaksasi mengalami nyeri.
1. TTV normal (napas dalam) 3. Posisi yang nyaman dapat membuat
2. Skala nyeri berkurang 5. Ajarkan terapi dzikir/murottal klien lebih rileks dan mengurangi
3. Tidak tampak meringis al quran/musik klasik nyeri.
kesakitan 6. Kolaborasi dengan tim tenaga 4. Napas dalam dapat membuat klien
kesehatan terkait pemberian lebih rileks dan mengurangi nyeri.
analgesik 5. Dzikir dapat menjadi salah satu frasa
fokus (kata-kata yang menjadi titik
fokus perhatian) dalam proses
penyembuhan diri klien dari
kecemasan, ketakutan bahkan dari
keluhan fisik seperti nyeri
(Budiyanto, 2015).
6. Obat ini dapat digunakan untuk
mengurangi nyeri.
3. Kerusakan Tujuan: 1. Observasi tanda-tanda vital 1. Suhu yang meningkat merupakan
integritas kulit Setelah dilakukan tindakan 2. Kaji luka dan tanda-tanda salah satu tanda infeksi.
(00046) keperawatan, menunjukkan infeksi 2. Identifikasi apakah terdapat tanda-
berhubungan kesembuhan kerusakan integritas 3. Atur posisi klien tanda infeksi (dolor, kalor, tumor,
dengan gangguan kulit. 4. Lakukan rawat luka rubor, fungsio laesa).
sirkulasi Kriteria Hasil: 5. Jelaskan kepada klien dan 3. Menurunkan tekanan pada kulit dan
Tidak ada tanda infeksi keluarga terkait rawat luka meningkatkan sirkulasi perifer.
6. Kolaborasi dengan tim tenaga 4. Mencegah adanya infeksi dan
kesehatan terkait pemberian mempercepat kesembuhan luka.
15

obat topikal 5. Klien dan keluarga dapt terpapar


informasi terkait perawatan luka.
6. Obat topikal diperlukan untuk
mencegah adanya infeksi.
4. Defisit perawatan Tujuan: 1. Pertimbangkan budaya klien 1. Kebudayaan klien penting diketahui
diri: eliminasi Setelah dilakukan tindakan saat mempromosikan aktivitas agar penjelasan yang diberikan sesuai
(000110) keperawatan selama 3x24 jam, perawatan diri dengan budaya pasien dan tidak
berhubungan diharapkan klien dan keluarga 2. Pertimbangkan usia klien saat terjadi perbedaan persepsi.
dengan hambatan dapat melakukan perawatan diri mempromosikan aktivitas 2. Usia klien diperlukan utntuk
mobilitas fisik (eliminasi) pada klien. perawatan diri menyesuaikan materi atau penjelasan
Kriteria Hasil: 3. Lepaskan baju yang yang akan diberikan sehingga mudah
1. Mampu melakukan hygiene diperlukan sehingga bisa untuk dimengerti.
eliminasi secara lengkap melakukan eliminasi 3. Mempersiapkan klien sebelum
(mulai dari membuka pakaian 4. Beri privasi selama eliminasi melakukan eliminasi.
sebelum eliminasi hingga 5. Ganti pakaian klien setelah 4. Menjaga privasi klien penting
mengganti pakaian setelah eliminasi dilakukan agar klien nyaman selama
eliminasi) 6. Bersihkan alat-alat untuk proses eliminasi.
2. Mampi memanipulasi pakaian eliminasi 5. Menjaga kebersihan setelah
untuk eliminasi 7. Instruksikan klien atau melakukan eliminasi.
keluarga dalam rutinitas 6. Mencegah adanya sumber infeksi.
toileting 7. Agar dapat dilakukan setiap hari
8. Sediakan alat bantu (misal: secara mandiri atau dibantu oleh
kateter, pampers, dll) keluarga.
8. Memudahkan klien untuk eliminasi.
16

H. Daftar Pustaka

American Cancer Society. 2016. Breast Cancer Signs and Symptoms.


https://www.cancer.org/cancer/breast-cancer/about/breast-cancer-signs-
and-symptoms.html [Diakses pada 6 September 2017].
Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan
Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika.
Budiyanto, T., A.R. Marifah., dan P.I. Susanti. 2015. Pengaruh Terapi Dzikir
terhadap Intensitas Nyeri pada Pasien Post Operasi Ca Mammae di
RSUD Prof dr Margono Soekarjo Purwokerto. Jurnal Keperawatan
Maternitas. 3 (2). 90-96.
Kementerian Kesehatan RI. 2017. Panduan Penatalaksanaan Kanker Payudara.
http://kanker.kemkes.go.id/guidelines/PPKPayudara.pdf [Diakses pada 6
September 2017].
Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Volume 2. Jakarta:
EGC.
Price, SA dan Wilson, LM. 1995. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Jakarta: EGC.
Rundqvist, H., Johnson, RS. 2013. Tumour oxygenation: implications for breast
cancer prognosis. Journal of Internal Medicine. DOI:
10.1111/joim.12091.
Tarwoto dan Wartonah. 2003. KDM dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika.
Tim Penanggulangan & Pelayanan Kanker Payudara Terpadu Paripurna RS.
Kanker Dharmais. 2002. Penatalaksaan Kanker Payudara Terkini.
Jakarta: Pustaka Populer Obor.